Double chapter Update sama yang chapter II ^^

Review please...

Naruto punya Masashi Kishimoto

Happy Reading

-Kediaman Akatsuki

"Gue balik ke Konoha sebentar," kata lelaki yang wajahnya mirip Sasuke keriputan. Dimasukannya krim anti keriput nggak manjur kedalam sakunya sebagai satu-satunya bekal di perjalanan.

"Yakin?" tanya Pein, yang sekarang sudah kembali cool dan di hormati pasca kejadian Naruto Shippuden the Movie 6 kemarin. "Gue males nyari partner kerja si Kisame nih," kata Pein.

"Pake aja bonekanya si Sasori," kata Itachi.

Sasori cepat-cepat memeluk boneka-bonekanya, naik kepunggung Deidara, dan memaksa Deidara membuat burung tanah liat agar mereka berdua + boneka Sasori bisa memulai kehidupan baru yang aman, damai dan tentram tanpa Itachi yang ingin mencuri bonekanya.

"Apaan sih, un?" kata pria berwujud wanita yang lagi kena PMS ini. "Kasihin aja napa boneka lo ke si Kisame, un?"

Sasori terdiam sejenak sebelum kemudian berusaha memasukan upilnya ke mulut ditangan kanan Deidara. "Dei! Lo kan partner gue! Kok lo malah ngebelain si siluman ikan sih!" cetus Sasori sambil menunjuk hidung Kisame.

Kisame cemberut, jadi makin serem.

"Ya lo mikir aja kali, un, jangan maruk napa! Masa lo mau ngebiarin si hantu ikan sendirian aja? Tau saking jeleknya dia jadi nggak ada cewek yang mau! Seenggaknya buktiin ke si Kisame kalo sekalipun kita nggak sudi jadi istrinya kita masih sudi jadi temennya, un!" kata Deidara.

Kisame makin cemberut. Sekarang bukan cuma serem, tapi horror.

"Udah, udah," kata Konan, takut terjadi pertengkaran.

"Iya! Dengerin tuh mama kalian! Papa (?) udah capek nih ngurusin si Itachi, jangan bikin ribut lagi deh," kata Pein santai.

Tiba-tiba mukanya digelepok pake segepok kertas origami putih. "Kapan gue jadi bride lo?"

"Iye, dia nggak pantes dijadiin ibu! Yang pantes jadi ibu rumah tangga Akatsuki tuh cuma gue, karena gue bisa ngatur keuangan keluarga (?) ini dengan benar," kata Kakuzu dibalik cadarnya. Konan yang merasa tersindir meliriknya tajam.

"Heh," kata Hidan menghina. "Cuma gue yang bisa jadi ibu! Karena cuma gue yang bisa ngajarin kalian jadi anak yang beriman dan taat beribadah!"

"Nggak bisa! Cuma Deidara-Senpai yang bisa jadi ibu! Buktinya dia udah jadi Ibu Tobi sejak Tobi datang kesini. Tobi sayang Deidara-Senpai ^^" kata seseorang yang sudah pasti bernama Tobi. Deidara mencibir.

"Enak aja lo! Gue cowok tau! Dasar Tobi anak nakal!" kata Deidara. Dibalik topengnya yang mirip lolipop itu, Tobi mulai membuat puppy eyes.

"Yang cocok untuk menjadi ibu itu Itachi," kata Zetsu putih tiba-tiba. Semua menoleh.

"Nggak ah! Itachi itu nggak keibuan sama sekali!" kata Kisame, nyaris memprotes.

"Dia cocok, dia begitu tenang," kata Zetsu hitam. "Sampai-sampai tidak ada seorangpun dari kalian yang menyadari kepergiannya ke Konoha."

Semua terdiam.


-Rumah Orochimaru

"Oro-chan!" seru Sasuke didepan gerbang sebuah mansion dengan banyak ornamen ular. Tidak ada jawaban. "Oro-chan!" Sasuke memanggil lagi.

Gerbang terbuka secara otomatis, aura seram khas phedophile ular mulai menguar memenuhi atmosfir sekitar Sasuke. Tapi karena sudah biasa, Sasuke tidak merasa gentar sama sekali. Dia melangkah masuk, lurus terus. Melalui banyak eksperimen-eksperimen aneh. Sampai kemudian menemukan seorang pria ular berkulit pucat.

"Ada apa Sasuke?" kata pria tersebut.

"Gue mau minta lo nge-edo-tensei kakek buyut gue," pinta Sasuke.

"Hmmm," pria yang ternyata bernama Orochimaru itu bergumam, menimbang-nimbang.
"Berani bayar apa lo Sasuke?" tanya Orochimaru.

Sasuke terdiam sebentar. Berani bayar apa ya? Aduh bingung… "Lo maunya apa?" Sasuke balik bertanya setelah sekian lama berpikir.

Tiba-tiba Orochimaru mulai tertawa tidak karuan. Serem. Sasuke yang sok berani bahkan langsung merinding. "KABUTO! KABUTO!" Sasuke teriak-teriak manggil maid nya Orochimaru.

Pria berambut putih dengan sigap datang. Pakaiannya benar-benar ala maid, pake gaun item putih gitu. "Ada apa Sas?"

"Itu si Oro-chan! Kenapa ketawa-ketiwi gitu? Lo udah ngasih dia obat belom?" tanya Sasuke panik. Orochimaru menggenggam bahunya, masih sambil tertawa. Rasanya Sasuke mau pingsan. Tapi sayang, dia terlalu gengsi buat pingsan sekarang.

"Tenang Sas… Gue udah minum obat kok! Khukukukukuku!" kata Orochimaru, evil laughnya makin menjadi-jadi.

"Ter… Terus kenapa lo ketawa ketiwi gitu!?" kata Sasuke makin merinding.

Orochimaru berhenti tertawa. Kabuto dan Sasuke ikut diem, bingung. Dalam hatinya Kabuto mulai mempertimbangkan apakah benar dia sudah memberi tuannya obat. Rasanya sih sudah… Tapi…

"Kabuto," kata Oro-chan tenang. Kabuto langsung posisi siap.

"Iya Tuan Orochimaru," katanya.

"Lo tau kan gue punya mimpi buka Salon?" kata Orochimaru pada Kabuto.

Kabuto mengangguk pelan. Sasuke langsung sweatdrop. Orochimaru? Salon? Apa ini semua gara-gara kebiasaan Orochimaru mencatok rambut dan memakai make-up khas ular menor di wajahnya? Nggak mungkin. Selama ini Sasuke yang gay dan selalu pake hairspray aroma strawberry buat rambutnya yang aneh itu aja nggak sampe kepikiran buat buka Salon. (kalo kepikiran buka Skin care mah pernah)

Kemudian pria yang dipanggil Oro-chan itu menatap kepada Sasuke. "Sekarang lo tau kan apa ultimate dreamnya gue? Buka salon. Tapi berhubung gue nggak punya tempat, lo harus nyewain tempat paling stategis di kompleks Uchiha yang kosong itu ke gue secara gratis sampe gue mampu beli ruko di kawasan strategis Konoha," kata Orochimaru.

Tiba-tiba saja Itachi yang sedang dalam perjalanan ke Konohagakure merasakan sesuatu yang membuatnya merinding. Entah kenapa sekarang dia benar-benar ingin meminta maaf pada keluarga mereka atas pembantaian habis-habisan yang membuat kosong mansion Uchiha.

Sasuke ber-eh. Nyewain kediaman Uchiha buat Salon? Mau dibawa kemana nama klannya tersebut? "Eh! Gue kasih tau ya Oro-chan, nggak enak buka usaha di Kompleks Uchiha, nggak strategis! Di pojokan desa gitu," kata Sasuke, masih pura-pura-cool sekalipun pikirannya udah ancur.

"Masa-masa awal berbisnis kan emang pahit, Sas," kata Kabuto, membela tuan Orochimaru yang selama ini selalu dipatuhinya. Sasuke melempar death glare-nya kearah Kabuto. Kabuto menelan ludah, tapi sekarang dia udah nggak bisa apa-apa.

"Iya tuh Sas, gue nggak keberatan," kata Orochimaru.

Sasuke menghela nafas kesal. Dalam pikirannya dia mencari-cari alasan agar Orochimaru tidak membuka salon di kediaman keluarganya sebelum mereka meninggal dunia. Tapi sayang tidak ketemu-ketemu.

"Mau nggak nih," kata Orochimaru mulai bosan. "Kalo nggak deal sampe hitungan ketiga gue batalin deh edo…"

"EHHH! JANGAN DONG!" kata Sasuke panik. "Oke, lo boleh pake kediaman keluarga gue! Tapi jangan nyampah ya!"

Orochimaru menyeringai. "YAY! Jadilah Uchiha's salon and spa gue!" kata Orochimaru girang sebelum memeluk Kabuto.

"Selamat ya tuan," Kabuto menyemangatinya. Sesaat Sasuke ikut bahagia untuk kedua temannya tersebut. Tapi kemudian dia mulai sadar.

YAY! Jadilah UCHIHA's salon and spa gue!"

…Uchiha's salon and spa…

"Wait, Oro, lo mau pake trademark Uchiha?" tanya Sasuke, mulai tak setuju.

"Kenapa?" kata Oro dengan nada mengancam. "Mau gue batalin Edo tenseinya?"

Glekk! Kalo sampe gue batalin… Nggak! Gue nggak bisa batalin ini! batin Sasuke dalam hati.

Sedangkan disisi lain Itachi menghentikan perjalanannya ke Konoha dan memetik beberapa bunga liar di antara batang pohon. "Gue rasa sesampainya disana gue harus cepet-cepet minta maaf (ziarah) ke Kaa-san sama Tou-san. Siapa tau gue udah salah dalam ngebesarin si Sasuke."

-di Makam/Kuburan/Pemakaman *coret yang tidak diperlukan (?)

Sasuke dan Orochimaru sampai di pemakaman. "Yang mana makamnya Sas?" tanya Orochimaru. Sasuke melempar tatapannya ke seluruh makam.

"Gue nggak tau," kata Sasuke watados. "Gimana kalo lo bangkitin aja semua orang dimakam ini terus ntar kita tidurin lagi yang bukan Madara."

"Nggak efektif banget, buang-buang cakra ah ogah," kata Orochimaru. "Gimana kalo kita cari aja makamnya satu-satu?"

"Eh? Ogah! Makam Uchiha tuh banyak banget, gimana kalo makam si Madara ternyat…"

"Sasuke?!" sebuah suara bariton dari belakang menginterupsi perkataannya. JRENG!

Disanalah berdiri seorang lelaki yang mukanya mirip Sasuke keriputan, berambut indah, dan kece. Tidak lain tidak bukan orang itu adalah Uchiha Itachi.

"Oh… Hai Nii-san," kata Sasuke flat, kemudian berpaling pada Orochimaru lagi. "Gimana kalo makam si Madara ternyata yang paling akhir yang kita cek?"

"Sasuke!" Itachi manggil lagi. Sasuke dan sahabat ularnya berdecih bersamaan.

"Apa sih Nii-san?" kata Sasuke dengan sabar.

"Lo nggak kaget? Nggak mau ngebunuh gue karena dendam lo itu?" tanya Itachi, bingung. Seingatnya terakhir kali ketemu Sasuke maki-maki dia gitu. Sasuke menggeleng.

"Gue lagi sibuk," kata Sasuke, kembali lagi kepada Orochimaru.

"Sasuke!" Itachi memanggil lagi.

"Aniki lo nyebelin banget sih!" kata Orochimaru.

"Iya nih bikin malu aja," kata Sasuke.

Itachi melangkah mendekati Sasuke sambil menatap tajam kearah Orochimaru. "Kenapa kamu bisa temenan sama siluman ini!?" tanya Itachi murka. Dia, bagaimanapun adalah sosok baik yang tidak tega kalau adiknya harus ditemani manusia setengah hewan kemana-mana. Itachi paham benar bagaimana menderitanya hidup seperti itu, berhubung Kisame juga mirip siluman ikan.

"Oh… Dulu ceritanya waktu ada ujian chuunin gue dikasih curse-mark ini sama Oro-chan," Sasuke berhenti sebentar sambil menunjuk kearah curse-mark di lehernya. "Awalnya sih katanya dia mau ngambil body gue yang indah ini. Jadi selain ngasih curse-mark dia juga ngedeketin gue. Eh, nggak nyangka kita jadi temenan," cerita Sasuke panjang lebar. Orochimaru mengangguk.

Itachi menggeram kesal. "Bukan itu maksud gue, dasar baka! Maksudnya kenapa… Kenapa harus dia! Dia itu kriminal! Lo nggak boleh punya hubungan sama kriminal!"

Sasuke memutar mata. "Nii-san, gue tuh udah terlanjur punya hubungan darah sama kriminal kelas Internasional, yaitu elo! Kenapa gue nggak boleh punya hubungan pertemanan sama kriminal?"

Itachi diem. Ngerasa tersinggung setengah mati disamakan dengan Orochimaru. Dia kan keluar desa demi kebaikan desa juga! Masa' disamain sama makhluk ini sih?

Tapi apa boleh dikata. Nggak ada seorangpun yang boleh tau tentang kebaikan hatinya yang menyerupai malaikat ini. Jadi mau nggak mau Itachi nggak bisa jawab apa-apa.

"Emang kalian lagi ngapain di makam berdua? Lagi ritual sakral pengambilan tubuh Sasuke, hah?" kata Itachi sinis. Sasuke menggeleng. "Terus ngapain?"

"Kita mau ngebangkitin lagi si Madara," kata Sasuke.

Cetar! Cetar membahana memasuki jantung Itachi! Madara lo bilang? Salah satu ninja terkuat itu? Never! Never!

"Buat apa?" Itachi dengan coolnya menyembunyikan perasaan cetar yang melanda hatinya. Semua ini harus diselesaikan tanpa membuat dirinya terlihat urakan. Itachi selalu jual mahal, terhormat, dan dibanggakan klannya.

Sasuke kemudian menjelaskan apa yang terjadi.

"APA?!" kata Itachi shock mendengar kenyataan bahwa adiknya tersayang ternyata gay. Sakit hatinya karena gagal punya keponakan.

"Ya, jadi gue mau ngebangkitin si Madara buat dimintain tips ngedeketin gebetan gitu," kata Sasuke. Sejenak Itachi teriam.

Kalo gue ngebiarin si Sasuke ngebangkitin si Madara, gawat! Bisa perang dunia keempat nih. Tapi kalo gue ngebiarin si Naruto sama cewek Hyuga itu pasti Sasuke sedih. Aduh… Gimana nih! batin Itachi bingung.

Ketiga manusia tersebut kemudian terdiam dalam heningnya makam. Pemandangan yang sedari tadi tidak disadari mulai tampak. Angin berdesir, bulan purnama terang bercahaya, serigala mengaum, dan sembilan bayangan manusia berjubah hitam.

Lho?

"ITACHI-SAN! TOBI DAN SEMUANYA DATANG!" kata sebuah suara dari belakang. Sembilan sosok ninja hebat tersebutpun berdiri di belakang Itachi. Dari kiri ke kanan mulai dari sang leader Pein, pacarnya, Konan, disusul dengan Hidan, Kakuzu, Tobi, Deidara, Sasori, Zetsu, dan Kisame…

KISAME

Tiba-tiba Itachi mendapat ide dengan nama temannya tersebut. "Eh, Sas, lo nggak usah ngebangkitin si Madara! Cukup gue aja!"

"Heh," kata Sasuke. "Mana lo ngerti perasaan seorang homo kayak gue!"

Ke sembilan anggota Akatsuki (termasuk Tobi, sekarang dia sudah tidak bisa pura-pura imut lagi, terlalu kaget) yang baru datang terbatuk-batuk kaget. Ganteng-ganteng homo.

"Kata siapa? Gue kan juga homo," kata Itachi berbohong. Semua Akatsuki yang lain langsung muntah darah. Sok bijak, sok cool, sok kalem… HOMO?! "Nih gue pacaran sama si Kisame! Iyakan say?" Itachi menatap Kisame genit.

Jantung semua orang melompat keluar. JIJIK BANGET! Sampai-sampai Sasuke yang homo aja jijik. Itachi sendiri juga jijik. Tapi emang udah wataknya Itachi buat ngorbanin dirinya sendir buat kepetingan umat. *Author nangis sambil guling-guling dilantai*

Melihat semua Akatsuki lainnya menatapnya dengan tatapan nggak percaya, Kisame langsung ingin memprotes besar-besaran perkataan Itachi. Tapi kemudian Itachi menatapnya dengan mangenkyo yang menyeramkan. Karena tidak mau memulai pertengkaran antar anggotanya, Pein yang merasa mulai mengerti keadaan maju dan mulai membantu Itachi.

"Ya! Bener tuh, dia homo! Gue ngeliat SMS (?) mereka kemaren!" kata Pein. Yang lain makin menatap kedua orang itu ilfeel. Kisame merasa benar-benar di dzhalimi sekarang.

"Yap! Jadi lo nggak butuh bantuan si Madara lagi!" kata Itachi. Kemudian Sasuke-pun menatap kakaknya tak percaya. Tatapannya mulai terharu.

"NII-SAN MEMANG SELALU MENGERTI SASUKEEEHHHHH!"