Feminim ㅡ3
EXO
Kim Jongin x Oh Sehun
Warning! Perubahan nama, genderswitch pula. AAAHH MIANHAE! Typos, alur membosankan, humor krispi.
Happy Reading! RnR~!
ㅡo00oㅡ
Sehun memandang sebal plus geregetan terhadap Jongin yang saat ini bercakap-cakap dengan akrab bersama ibunya. Sehun menyesal menyuruh Jongin tetap diruang tamu. Kalau begini caranya, lebih baik ia suruh Jongin dikamarnya saja. Lalu ia tinggal ganti baju dikamar mandi deh.
"Ibu." Sahut Sehun, memecahkan keakraban antara ibunya dan Jongin.
"Oh, Sehun sudah siap rupanya. Dan... Hm, Sehun. Kau mengerikan." Ujar ibunya, terdengar mengejek. Sehun diam saja, cuek. Masa bodo. Inilah gayanya. Lagipula, gaya premannya ini akan hilang untuk dua hari kedepan.
Sehun duduk disebelah ibunya. "Ibu, boleh aku minta uang? Untuk jaga-jaga saja. Aku bawa uangku sendiri kok." Kata Sehun, membujuk. Yah walaupun wajahnya tidak mendukung.
Ibunya beranjak ke kamarnya. Mungkin mengambil dompetnya. Setelah memastikan ibunya benar-benar pergi, ia segera duduk disebelah kiri Jongin. Tangan kanannya ia rangkul kebahu Jongin. Dan perlahan, menjepit leher Jongin. Ya, begitulah cara Sehun mencekik Jongin.
Jongin bukannya merasa kesakitan, ia malah menyenderkan kepalanya ke bahu Sehun yang membuat Sehun reflek mendorong Jongin dan memukulnya, tanpa ampun. Sakit beneran.
"Hitam! Sialan! Menyebalkan! Ugh! Rasakan ini!" Sehun memukul bahu dan punggung Jongin. Yang dipukul hanya tertawa. Sehun memiliki tempramen yang buruk. Cepat marah, tapi malah jadi lucu.
"Sehunnie? Wah! Sehunnie mau kencan dengan Jongin hyung, heh?"
Sehun mematung dalam posisi-mari-memukul-Jongin. Itu suara adiknya. Park Jimin. Mari kibarkan bendera putih, Sehun.
"Tidak! Dapat darimana kau kata-kata kencan heh?!"
"Aku juga sering kencan kelesh." Kata Jimin. Tangannya membenarkan snapback yang bertengger di kepalanya.
"Anak ingusan sok-sokan kencan. Jijik."
Sehun duduk dan melipat tangannya. Sedangkan Jongin terkekeh. Kakak-adik bersaudara itu tidak pernah akur. Ya, akur dalam masalah jalan-jalan doang sih.
"Jimin-ah! Sini!"
Jongin menepuk-nepuk pahanya, menyuruh Jimin duduk dipangkuannya. Jimin dengan senang hati segera menuju Jongin.
"Jadi, hyung mau kencan dengan kucing garong menyeramkan itu?"
Tubuh Jimin melengkung, menghindari cubitan Sehun dipinggangnya. Jongin terkekeh. "Tidak. Hanya memberikan ia sedikit hukuman."
"Hukuman? Kenapa nggak dihukum diranjang saja hyung?"
Jimin meletakkan telunjuknya di sudut bibirnya. Matanya menatap langit-langit. Jongin dan Sehun tadinya mematung, tidak mengerti maksudnya. Secepat mungkin Sehun sadar akan perkataan adiknya tadi. Astaga, adiknya mesum sekali?
"SEMBARANGAN! AWAS KAU PARK JIMIN!"
Sehun bangkit dan mengejar Jimin yang sudah berlari terlebih dahulu. Jongin masih diam mematung. Dia baru ngeh akan perkataan Jimin. Ia tidak menyangka anak SMP sekarang mesumnya tidak jauh beda dengan anak SMA.
'Ya, aku akan menghukumnya diranjang, nanti setelah ijab qobul.' Batin Jongin, ngelantur.
Ibu SehunㅡBaekhyun- datang dan duduk disofa sebrang Jongin. Ibu Sehun duduk sangat sopan dan menawan. Berbeda dengan Sehun yang blangsakan.
"Hah, maafkan Sehun ya, Jongin. Aku sendiri sampai pusing gimana caranya biar mereka nggak berantem, minimal sehari aja. Hah." Desah Ibu Sehun. Jongin terkekeh kecil.
"Tidak apa-apa. Kakakku dan adikku juga sering kayak gitu, kok."
"Ergh! Rasakan ini! Hah! Dapat kata-kata darimanakau?!"
Ibu Sehun dan Jongin menoleh kearah Sehun yang sedang mengomel. Tangan kanannya ia gunakan untuk menjewer Jimin, sedangkan tangan satunya untuk menekan kuat pipi Jimin hingga bibir adiknya itu maju beberapa senti. Tentu saja omongan Jimin tidak terdengar jelas.
"Sehun-ah, sudahlah lepaskan Jimin. Kau tak kasian dengannya?" Tanya ibunya.
"Tidak sama sekali. Hah." Jawab Sehun cuek, kesal.
Baekhyun menggeleng-gelengkan kepalanya. Jari lentiknya mengambil beberapa lembar lima puluh ribu won dan memberikannya pada Sehun, dan Jongin. Sehun sebetulnya terkejut. Hanya saja, ia malas berbicara kali ini. Pikirannya lelah karena perkataan Park-menyebalkan-Jimin yang kurang ajar, blangsakan, dan tidak waras.
"Ibu. Sehun berangkat dulu."
"Ajhumma, Jongin pinjam Sehun dulu ya. Annyeong!"
"Hati-hati Sehun-ah~ Jangan galak dengan Jongin! Dan Jongin! Tolong jaga anak itu dengan baik!"
"Ye! / Iya ajhumma!"
ㅡo00oㅡ
Saat ini, Jongin dan Sehun berada disebuah toko baju gaun dan berbagai peralatan pesta lainnya. Jongin tidak terlalu senang sebenarnya, karena Sehun terlihat tidak tertarik sama sekali dengan gaun-gaun yang terpajang indah disana.
"Oh ayolah, Hun. Pilih satu saja, yang paling kau suka."
Sehun memandang gaun-gaun itu. Hampir semua warna gaun disana Sehun suka. Tapi ia tidak suka modelnya. Ada yang rok pendek dan panjang. Ia berfikir jauh sekali. Jika ia mengenakan rok pendek, pasti kalau duduk, mungkin.. Ehm.. Pakaian dalamnya akan terlihat. Tapi kalau rok panjang? Ia akan susah berjalan. Apalagi berlari. No way! Lagipula...
Harganya terlalu mahal.
Lebih baik ia membeli sepuluh cheese burger daripada membeli gaun yang mahal dan hanya dikenakan pada waktu-waktu tertentu.
"Aku ingin jeans, kaus biru muda panjang, dan sneakers kuning." Jawab Sehun ngelantur. "Aku juga mau snapback." Katanya. Jongin menepok dahinya. Asli. Mengajak seorang perempuan tomboi ketempat seperti ini benar-benar memalukan. Kalau tahu gini, lebih baik ia belikan saja baju apapun untuk Sehun. Menyebalkan.
"Sehun, serius dikit kek!"
"Baiklah-baiklah. Biarkan aku memilih dulu."
Sehun kembali mengitari gaun-gaun indah itu. Memperhatikan satu-satu diantara gaun-gaun itu. Matanya menangkap satu gaun yang mungkin akan cocok dengannya.
"Jongin, aku mau yang ini."
Senyum Jongin mengembang. Kali ini, Sehun benar-benar memilih gaun?! Peningkatan!
Ia menghampiri tempat Sehun berdiri. Tangannya menunjuk gaun yangㅡ
glek!
Jongin menelan ludahnya sendiri. Ini gaun yang sangat indah. Gaun tanpa lengan dengan warna ungu tua yang sejenis dengan warna dirambut Sehun. Rok yang hanya sebatas lutut plus berenda persis gaun princess sleeping beautyㅡatau yang terkenal dengan sebutan princess Aurora. Oh, jangan lupa pita bunga yang melingkari bagian pinggangnya.
Jongin. Asli. Kaget. Ia tidak menyangka Sehun memiliki selera sebagus ini.
"Baiklah, ayo membicarakannya."
Jongin menggenggam tangan kecil Sehun dan menariknya menuju para desainerㅡsebenarnya karyawan sih, hehe. Membicarakan ukuran dan lain-lain sebagainya.
"Menurut saya, untuk yang berkulit seperti dia bagus mengenakan gaun merah marun." Ujar salah satu karyawan disitu sambil mengambil stok berwarna merahnya. Sehun menggeleng kuat.
"Aku mau yang warna ungu!" Ucapan Sehun terdengar memaksa. Jongin bingung tentu saja. Menurutnya, warna merah juga akan bagus jika dikenakan Sehun. Tapi, Sehun mau warna ungu. Pffh.
Jongin mendecak. Pakai warna apapun juga, Sehun bakal tetap cantik.
"Baiklah, yang warna ungu saja." Kata Jongin final.
ㅡo00oㅡ
Sehun dan Jongin tampak berdebat. Sehun ingin sepatu tanpa hak berwarna silver, sedangkan Jongin memilih heels hitam berhak tak lebih dari lima sentimeter dengan model seperti sepatu boots, berbulu halus seperti bulu ayam.
"Ayolah Jongin, aku tidak ingin keseleo hanya gara-gara pakai sepatu kayak gini!"
"Hey! Hak sepatu ini tidak lebih dari lima senti, idiot! Kau tak akan keseleo!"
Jongin mulai kesal dengan Sehun. Tapi, bagaimanapun ia harus sabar menghadapi orang sejenis Sehun. Demi mendapatkan penampilan feminim Sehun, Jongin harus bersabar dengan kekuatan ekstra. Semangat Jongin!
Sehun menghela nafasnya lelah. Ia tidak terlalu suka sepatu silver bak sepatu balet pilihannya. Tapi ia tak ingin pakai sepatu hak. Sehun berfikir. Ia tidak boleh egois. Lagipula, ini bayarannya untuk Jongin. Jadi, ia harus menurut apa kata Jongin.
"Baiklah aku pilih yang kau pilih, Jongin." Kata Sehun final. Jongin terkejut. Sehun mengalah? Sungguh?
"Sehun, kau marah?" Tanya Jongin, takut. Sehun menggeleng dan tersenyum manis. "Anniya. Kupikir, tak ada salahnya mengenakan sepatu itu. Itung-itung pengalaman pake heels. Hehe." Kata Sehun, setengah jujur. Jongin tersenyum tipis. Sehun sudah berfikir lebih dewasa lagi.
"Chogiyo, tolong berikan aku stok sepatu seperti ini ukuran tiga puluh tujuh."
Sehun menyenderkan kepalanya ke bahu Jongin. Ia merasa begitu mengantuk sekarang. Padahal, mereka baru mendapat dua benda untuk sabtu nanti. Sebegitu cerewetkahnya Sehun hingga waktu mereka habis cuma-cuma?
"Sekarang kemana?" Tanya Sehun. Jongin melirik arlojinya. 16:45. Ya, setidaknya mereka sampai rumah sebelum jam tujuh.
"Ke tempat aksesoris?"
ㅡo00oㅡ
Tidak sesuai harapan. Padahal, Jongin berharap Sehun memilih kalung dan gelang atau bahkan cincin. Mungkin juga nail polish. Atau bando kucing? Bando berbentuk mahkota? Ya minimal jepit rambut berwarna ungu lah ya. Tapi? Sehun malah mengambil banyak ikat rambut dan snapback. Jongin rela-rela saja sih membayarnya. Masalahnya, benda tujuan mereka belum Sehun pilih.
"Park Sehun..." Panggil Jongin sebal.
"Ya? Oh Jongin, lihatlah. Ikat rambut ini keren sekali!"
"Sehun. Aku akan membelikan semua ikat rambut dan snapbackmu itu asalkan kau memilih aksesori rambutmu, idiot."
Sehun terdiam. Ia baru ingat tujuan utamanya. Sehun menghela nafas sekaligus mencibir. Ia mulai mencari benda tujuannya. Inginnya ia pakai jepit rambut saja. Nggak ribet.
"Jongin, bantu aku memilih jepit rambut ini!"
Jongin tersenyum lagi. Sehun tumben ya, nurut?
"Menurutku yang ini bagus."
"Oh! Bagaimana dengan bando yang itu?"
Sehun menunjuk kearah bando yang digantung dengan rapih. Bando hitam polos dengan bunga ungu besar dibagian kanannya. Jongin mengangguk. Ini pilihan yang sangat bagus.
"Jongin, makan dulu yuk?"
tbcㅡ.
Halo. Sudah di update kelanjutannya. Aku tau ini masih pendek. Biarin ya? Plis, gapapa kan?
Aku sudah menerapkan SKS terhadap semua fic-ku. Jadi sesuai mood ngetiknya. Biar sekali ketik selesai. Jadi hasilnya bakal nyambung/? Ya semoga saja/?
Bagaimana? Dilanjutkah?
Ditunggu reviewnyaaa! Aku senang loh dapat review banyak. Yang guest banjirin kotak review aja biar aku semangat/? Wkwkwk. Kbye.
21 May 2014, suyanq~
