All warnings for smexy time. Implicit yet try to not imagine it while you're fasting. Tee hee.
Schwärmerei
-III-
.
.
.
Beberapa dari mereka memutuskan untuk kembali bertugas meski nuansa tahun baru masih menyelimuti pedesaan di Irlandia. Hanji termenung seolah memikirkan alasan terlogis yang berusaha dilisankan olehnya pada Armin dan Sasha. Si gadis berambut coklat itu memeluk Hanji seolah matahari takkan lagi terbit di esok hari meski bekas remahan scone mengotori mantel bulu musangnya. Setelah menepuk-nepuk puncak kepala Sasha, barulah ia benar-benar melepaskan diri dari wanita teraneh sejagad raya itu walau isak tangis kecil nampak di sudut kedua mata miliknya.
Conny menarik tangan Sasha dan membawanya menjauhi pusat keramaian dan nyaris menabrak tubuh Jean yang baru memunculkan diri dari koridor sembari menguap lebar. Mentari memang belum terlihat jelas di perbatasan horizon dan semuanya harus terbangun pagi-pagi buta saat kabar Hanji dan Erwin akan pulang ke London menggaduh bagai bom atom di siang bolong. Sasha, tentu saja, adalah gadis pertama yang meributkan kepergian keduanya dan bergerak bagai toa berjalan di bilik anak-anak lainnya. Eren adalah satu-satunya anak yang memilih untuk tetap mengurung diri di dalam kamar. Mendengkur nyaman di balik selimut.
Pukul lima pagi dan enam dari tujuh remaja yatim piatu yang berhasil diterbangkan Levi di kamp-kamp pengungsian seluruh penjuru Jerman menuju Inggris menunggu di depan pintu gerbang saat Hanji dan Erwin menaiki kereta yang ditarik oleh kuda-kuda berkulit coklat. Sepintas, wanita berkacamata itu mengangguk berulang kali seolah meminta kepada remaja muda itu berhenti menangisi apapun yang mereka tangisi. Setelah menutup pintu kartel, Hanji nyaris meremukkan jemari sang suami ketika tangis raungnya menjadi-jadi bagai induk naga yang kehilangan telurnya. Detik berikutnya, hanya suara tapak kuda yang kian tersamarkan oleh butiran salju. Keenamnya menanti hingga bayangan kuda-kuda itu menghilang ditelan kabut.
"Well, karena kalian semua sudah bangun, bagaimana kalau kita membuat waffle untuk sarapan pagi, hm?"
Kehilangan dua orang yang selalu mengisi hari-hari suram ketujuh remaja tak beribu bapak itu tidak memungkiri adanya pihak lain yang akan menggantikan kemudian. Sosok mungil Petra muncul tepat di belakang Jean saat pemuda itu berbalik dengan tangan menutup mulut. Sekretaris sekaligus salah satu wanita kepercayaan Levi itu tiba semalam lalu di antara badai salju. Rambut dan mantelnya dipenuhi dengan benda putih nan beku. Ia hampir mengalami serangan frostbite jika saja saat itu Eren tidak cepat-cepat memerintahkan yang lain untuk mengumpulkan selimut sementara ia menjerang air panas. Kedatangan Petra disambut tanya oleh semuanya. Namun, dengan dalih keletihan, wanita berhati lembut itu tidak menegaskan apapun sebagai alasan.
Sasha yang awalnya berwajah kusut berubah penuh binar saat mendengar saran wanita berambut coklat madu itu. Marco dan Conny bertukar pandang dan berlari menyamakan langkah dengan dua orang di depannya.
"Breakfast! Breakfast!" teriaknya, mengikuti Petra menuju dapur. Mikasa dan Armin menggeleng-gelengkan kepala.
"Che, untung saja aku setahun lebih tua darinya. Yang artinya, tidak akan mungkin berada satu kelas dengannya. Hah." Komentar Jean membisik-bisik diantara kuping Armin dan Mikasa. Si gadis dengan syal merah di seputar lehernya hanya berdehem pendek, namun Armin melipat tangan di dada. Setelah menutup pintu dan menguncinya kembali, Mikasa melangkah duluan dan meninggalkan kekasihnya yang sedari tadi hanya misuh-misuh tidak jelas. Armin ikut-ikutan berlalu dan mengambil arah sebaliknya—washroom. Tidak suka dengan respon Mikasa, Jean semakin melipat wajah, "hei, kau dengar aku tidak?" Mikasa berdehem sekali lagi. Jean merengut frustasi.
Keduanya tiba di puncak tangga meski bilik masing-masing berada di arah yang saling berseberangan. Jean masih setia di belakang Mikasa hingga gadis itu berhenti saat memutari gagang pintu berbentuk bole emas.
"Apa? Kau mau tidur denganku?" tanya Mikasa tanpa ekspresi berarti. Benar-benar wajah sedatar alas teflon. Belum lagi dengan sikapnya yang terkadang tidak menunjukkan sisi feminisme yang utuh. Nada pertanyaan gadis berambut pendek sebahu itu jelas-jelas bertanggung jawab terhadap semburat merah bagai buah plum masak di muka Jean. Ia melanjutkan, "menjawab pertanyaanmu barusan—I always listen to you, Jean. Dan, aku punya jawaban yang bagus."
"Eh?"
"Kalau kau tinggal kelas nanti, peluang bisa satu kelas dengan Sasha akan bertambah limapuluh persen."
Nyaris, Jean tersedak oleh air liurnya sendiri jika saja kebanggaannya sebagai seorang pria sedang tidak memukul kepala coklat miliknya. Persoalan bersilat lidah dengan Mikasa selalu berakhir dengan kerunyaman. Karena itu, pemuda ini menegakkan kupingnya baik-baik saat bedebam pintu yang bukannya berbentuk derit mungkin saja akan menampar wajahnya. Si gadis serupa Zena The Warrior itu menghantam kekasihnya dengan kenyataan.
Pagi itu pun diakhiri dengan selai stroberi disertai karamel madu di atas adonan waffle yang lembut.
Eren membersihkan sisa-sisa butiran salju bercampur tanah di tongkat pemukul baseball-nya selagi menunggu Armin selesai dengan rutinitas hariannya di dalam restroom. Tak ada respon balik saat berteriak untuk menanyakan sudah sejauh mana si pemuda pirang membersihkan tubuh pasca melakukan aktivitas membuang kalori bersama yang lainnya di tengah-tengah lapangan berbalut selimut putih. Jean tampak tak ikut bagian dan nyata-nyata berada di dalam arena anggar seorang diri. Mikasa bertindak sebagai catcher dan terlihat terlalu gagah untuk ukuran gadis bertopi. Anak-anak rambutnya tersembunyi apik di dalam mangkuk putih itu. Sasha menjadi pitcher terakhir yang membawa kemenangan bagi Conny cs. Eren, di sisi lain, memedulikan kesenangan dibandingkan kekalahan. Semuanya tertawa girang seolah esok hari tak lagi menyapa.
Kesibukan Eren terhenti saat sebuah kepala menyelinap di samping pintu kamar yang terbuka.
"Ah, Petra."
Yang dipanggil Petra tersenyum dan memunculkan seluruh bagian anatomis tubuhnya. Celemek bergambar boneka beruang mini menggantung di lehernya. Sepiring waffle yang masih hangat mengganggu rongga hidung Eren.
"Late breakfast?" tawar si gadis. Menimbang-nimbang, Eren tentu memilih opsi yang paling nyata.
"Ok."
Keduanya bergabung bersama di meja kecil berbentuk setengah lingkaran. Sebuah pot bunga yang terbuat dari mika baru saja diisi oleh Petra dengan anyelir kuning. Hanya sebatang namun mewangi semerbak bagai kembang artifisial. Lagi, buih-buih yang berasal dari liang penciuman Eren menangkap aroma yang tak kalah menarik dibanding objek pengisi perutnya. Benar, selepas bangun, ia tak menyinggahi ruang sarapan dan melompat mulus ke pusat keributan di pagi buta itu. Saat yang lainnya masih dibuat geger oleh kepergian Hanji dan Erwin, pemuda bermata turquoise ini sibuk menyiapkan satuan miliknya untuk pertandingan baseball mini di lapangan outdoor. Salju yang tak lagi seseram seperti semalam menguntungkan anak-anak itu.
Segelas susu terhidangkan tepat di depan pengamatan Eren yang terfokus sepenuhnya pada anyelir kuning. Sembari menenggak seperempat dari isi cangkir, Petra memulai percakapan sehari-hari.
"Kuharap badai salju lekas berakhir."
"Kenapa?" pertanyaan yang lekas meluncur dari bibir Eren. Ketimbang menjawab, Petra hanya tersenyum dengan tangan menyangga dagu.
Bukannya kata-kata, gadis manis berambut sebahu di depannya mengalihkan perhatian dan memerhatikan sejumput sinar yang memendar dari balik jendela kecil berbentuk lingkaran. Dari luar sana, matahari seolah melukiskan sinarnya di antara hamparan kanvas putih. Eren memasukkan sendok waffle terakhirnya dengan buru-buru, mengikuti arah pandang Petra, lalu menaikkan alis. Ada tanya di antara tegukan final susu domba di genggamannya.
Senyum, lagi, kini dengan sedikit tawa mengumbar bagai jawaban tepat. Petra menegakkan tubuhnya sementara melepas tali celemek. Memutar tubuh dan memberi punggung untuk Eren. Suaranya kian mengecil.
"So that Jack could catch the last golden egg for the princess. And, the giants will live happily."
Jika Jack yang dimaksud Petra adalah pria setinggi seratus enam puluh senti yang kini keberadaannya masih begitu misterius, maka di saat itulah Eren memahami satu hal. Percakapan tengah malam yang pernah berlangsung singkat dahulu berakhir dengan resolusi satu sisi bagi Levi. Si bocah tak tahu apa-apa ini hanya terdiam di ranjang berdecit sembari menunggu ucapan selamat tidur atau lullaby agar hatinya kembali tenang. Sebaliknya, Levi selalu dan selalu menyembunyikan banyak rahasia di balik kata-katanya. Seperti mimpi buruk berulang yang menghantuinya. Raksasa, titan, tembok tinggi—berputar-putar di dunia kecilnya. Membingungkan dan terlalu memusingkan.
Hingga, Eren menyadari bentuk pertanyaan yang ingin dilisankannya pada Petra.
"Petra."
"Hm?"
"Kenapa—kau tak segera kembali ke Munich? Bukannya, kau akan aman jika berada di sana? Kenapa kau lebih memilih berada di sini—bersama 'kami'?"
"Um, kurasa karena masih ada banyak hal yang bisa kulakukan di sini? Haha." Jawabnya penuh canda. Detik kemudian, raut keseriusan mengganti kerutan samar di wajahnya. "Setiap orang memiliki alasannya sendiri, Eren. Sulit untukku menjelaskannya secara detil padamu—err, intinya aku sangat senang dengan suasana ini. Sangat ramai, penuh keceriaan, dan um tidak seperti rumahku yang terlalu sepi. Aku benci sesuatu yang selalu diam—just like death people."
Huh?
"Tidak apa-apa jika harus mengorbankan sesuatu yang paling berharga sekalipun. Sebab, bagiku, yang kini tepat berada di hadapanku adalah sesuatu yang akan selalu mengingatkanku pada hidup. Karena untuk itulah aku berada di sini, bersama kalian. Aku yakin, Auro dan lainnya juga akan menjawab hal yang sama." Spontan, Eren mendapatkan tatapan sayu nan berkabut di kelopak berlian Petra. Kedua alis gelapnya kian mengkerut penuh tanya. "A-ah, sorry! A-apa aku berbicara sesuatu yang aneh? Haha. Akhir-akhir ini aku memang suka mengatakan hal yang tidak wajar. Hahaha. Lupakan, lupakan. Lupakan saja, ok, Eren?"
Sembari mengibas-ngibaskan jemari di depan wajah, Petra tertawa dengan penuh prasangka. Sesekali di antara senyumnya, ia akan melirik pada Eren, mengamati raut wajah bocah remaja itu yang cukup statis—tidak terganggu dengan pernyataan gadis berparas manis tersebut. Eren berusaha memahami walau logikanya yang tak cukup terasah hanya bisa menduga-duga. Sedikit diketahuinya dari gadis berambut pirang ini. Tak lama setelah Levi dan Hanji menghadiahi sebuah rumah baru di London untuk Eren cilik, ia pun memunculkan diri dan memperkenalkan sebuah nama dengan sejumput senyum. Meski hujan berawan membasahi kota London, Eren kecil masih mendapatkan secercah cahaya mentari dari senyuman gadis di hadapannya. Dengan topi beludrunya, Petra membawa Eren ke banyak kisah dan dimensi waktu melalui dongeng-dongeng luar biasa. Dikisahkan bak dalang yang sesungguhnya. Menjadi storyteller pernah hinggap dalam seribu cita-cita si gadis, meski pada akhirnya ia terpaksa 'melarikan diri' ke Inggris tanpa perlindungan dari siapapun. Hingga, sebuah panggung teater mempertemukannya pada Levi.
Boleh dibilang, tanpa Levi, Petra hanyalah permata yang terbuang sia-sia. Layaknya boneka tanpa jiwa.
"Ya. Aku—juga sangat senang berada di sini. Begitu pula denganmu, Petra."
Tanpa malu-malu, Petra membalas jawaban Eren yang hal yang selalu melekat erat di bibirnya. Senyuman penuh kebenaran. Bukan kepalsuan yang selama ini menghantui bocah itu. Tiada hal terbaik yang mampu diterimanya sebagai manusia selain kehangatan tangan-tangan manusia lain yang tanpa imbalan bersedia menariknya dari kegelapan. Mengingat masa lalu, Eren patut berterima kasih pada sebuah sosok yang hingga saat ini entah di mana keberadaannya.
"Then, aku harus menyelesaikan pekerjaanku dulu. Berkas-berkas pemberian Levi masih menumpuk di mejanya. Haha. Have a joy day, Eren!"
Melambaikan tangan dan dilanjutkan dengan bunyi derit kursi kayu yang didudukinya. Dapur mini dengan meja makan itu kini kembali sunyi. Sebaliknya, Eren hanya menatap kosong pada jendela yang semakin bersinar terang.
'Sudah berapa banyak orang yang berhasil kau selamatkan dari kegelapan, Vater?'
"Checkmate."
"Argh! So damn annoying!"
"Jean—language please."
"Urgh, yes. Sorry, Mikasa."
Tepat di hadapan perapian yang menjadi sumber kehangatan di malam bersalju itu, Jean dan Eren menaruhkan sekotak Turkish Delight pemberian Hanji melalui pertandingan catur. Bisa ditebak tentu saja siapa yang akan keluar sebagai pemenangnya. Mendengar Jean mengumpat kasar, Mikasa yang sedari tadi nampak menenggelamkan diri dalam buaian novel misteri karangan Sir Arthur Conan Doyle tiba-tiba saja mengeluarkan suara. Di sisi lain, Sasha yang berdiri tepat di belakang sang victory terdengar membuat suara-suara aneh. Benar saja, gadis kelaparan ini setengah mati mengincar Turkish Delight yang kini dimiliki Eren sepenuhnya.
"Err, you can have it, Sasha. Here."
"Rweaaaallllly?" tanya si gadis berbinar-binar meski di dalam mulutnya sendiri sudah ada roti gandum yang berusaha dikunyahnya susah payah. Conny pun tak segan memukul kepala gadis aneh itu dan menyisakan tangis yang sangat dibuat-buat. Dengan membabi buta, Sasha merobek-robek loyang berbungkus pita merah cerah dan berisikan kembang gula bercita rasa tinggi. Sebagai konon katanya satu-satunya yang mampu mengendalikan sifat liar Sasha terhadap makanan enak, Conny mengawasi penuh si gadis selama mengunyah permen manis itu.
"Jadi, setelah Turkish Delight kalian gunakan sebagai alat taruhan, yang berikutnya adalah mini figur Godzilla pemberian Komandan Pixis pada Eren, huh? Eren, sungguh, sebaiknya kau berhenti melakukan hal itu. Karena, Jean pasti takkan memiliki kesempatan untuk memperbaiki grammar-nya dengan benar hingga kapanpun juga." ujar Mikasa tanpa menoleh dari bacaannya. Spontan, Jean yang merasa diusik segera menoleh. Namun, mengetahui yang mengucapkan kata-kata itu adalah Mikasa, pemuda ini hanya tertunduk diam.
Eren mendengus pelan. Akibatnya, Jean menghadiahi telunjuknya ke arah Eren, "fine! Kau mau yang lebih ekstrem, huh? Besok, lapangan hockey, you and me."
"Huh? Tapi, salju di luar sana sangat gila, Jane." Armin baru saja memunculkan diri entah dari mana. Pemuda pirang itu tampak sibuk dengan teleskop baru yang didapatkannya sebagai buah tangan selama menjalani ekspedisi pencarian rasi bintang baru di Kepulauan Karibia bersama Hanji dan Erwin. "Aku bahkan tak berhasil mendapatkan rasi bintang Sirius malam ini padahal seharusnya ia tampak jelas di saat-saat sekarang. Aku yakin malam ini akan ada badai salju dan besok seluruh daratan akan ditutupi oleh benda putih itu." Lanjutnya seraya meletakkan teleskopnya di samping perapian.
"Aaarrghh!" teriak Jane penuh kegusaran. "So, I'm done here! Aku mau kembali ke kamar! Good night everyone! And this is exactly not for you, Eren." tuntutnya dengan alis berkerut. Eren memutar bola matanya dengan bosan.
"Ah, Jane—" panggil Mikasa. Ia lalu menurunkan novel tebal di atas pangkuannya dan menyunggingkan senyum ke arah pemuda itu.
"What?!"
Si gadis berambut pendek sebahu ini melompat dari sofa satu orang yang didudukinya dan berlari kecil ke arah Jane. Tanpa awal dan akhir, sekonyong-konyong ia mendaratkan kecupan ringan di pipi pemuda itu, "have a sweet drem, then."
"A-ah, y-y-ya tentu. Umm. Bye. You too, 'kay?"
Di saat seperti inilah, Conny akan benar-benar berbicara sebagai remaja dewasa, "mereka berdua itu… sejak kapan mulai menjadi sepasang kekasih yang benar-benar menjijikkan, huh?"
"Haha. Setidaknya kau perlu menemukan seorang kekasih sebelum benar-benar mengucapkan kata-kata itu, Conny." ucap Armin tanpa beban. Detik kemudian, pemuda botak bernama Conny itu melirik ke arah Sasha dan bergidik ngeri. Gadis pemakan segalanya itu tidak memedulikan tatapan merendahkan dari Conny.
"Jeez, yang jelas bukan dia, Armin." ungkap si bocah botak seraya melayangkan ibu jarinya pada Sasha. Gadis itu hanya melotot sebentar ke arah dua remaja yang sibuk dengan percakapannya sebelum kembali menikmati kudapan di pangkuannya. "Hei, Sasha. Pastikan kau menyikat gigi-gigimu itu dengan benar. Adult with caries are not cool." Mendengar Conny berbicara seperti seorang Ayah pada anaknya, Armin tertawa kecil.
"Aye, aye, Sir!" jawab Sasha dengan membentuk pose seperti anak buah kapal pada kaptennya. Kemudian, ada jeda lama. Hanya bunyi plastik bergemeresek yang berasal dari tangan Sasha memenuhi seisi ruangan. Tiba-tiba, si gadis memecah kesunyian itu. "Umm, memangnya apa boleh kita saling menyukai satu sama lain? Erm, maksudku, kita semua bersaudara, bukan?" tanyanya dengan nada polos. Tatapan yang lain segera tertuju pada Mikasa dan Jean yang entah sedang membicarakan masalah apa di ujung pintu. Di lain pihak, Eren mengamati keduanya tanpa minat dan mendesah panjang.
Armin bersuara terlebih dahulu, "secara moralitas iya tapi tidak secara hukum, Sasha." Singkat namun jelas. Marco mengangguk berulang kali sebelum menyibukkan diri bersama pena-penanya kembali. Conny bergumam panjang. Detik berikutnya tak ada lagi yang bersuara hingga Eren berdiri dari posisi duduknya dan mendahului yang lain tuk kembali ke ruang istirahat. "Sudah mau tidur, Eren?" tanya Armin.
"Yeah. Pintu kamar tidak terkunci, Armin. Masuk saja kalau sudah mau tidur, ok?"
"Roger. Aku harus menyelesaikan peta rasi bintang ini dulu. Mungkin aku akan menyusulmu agak larut malam ini." lanjutnya. Eren mengangguk mahfum.
Pemuda bermata turquoise itu melewati Jean dan Mikasa tanpa pesan. Gadis berambut segelap opal itu melambaikan tangan pada Eren, namun dibalas dengan senyum lemas dari si pemuda. Jean mencibir dan sesekali menyumpahserapah hal-hal yang buruk. Akan tetapi, tatapan maut Mikasa mampu membunuhnya dalam sekali tebasan. Bayangan Eren kian mengecil di balik pintu dan menit-menit berikutnya hanya ada keributan yang bercampur bisu.
Eren melewati koridor-koridor kediaman milik Levi dalam diam. Kedua tangan tersembunyi dalam saku celana safarinya. Ia memutuskan akan lebih baik untuk segera menyingkir dari dua sejoli yang sedang dimabuk asmara itu secepat yang bisa dilakukannya. Bukan kecemburuan yang terasa membakar dalam lambungnya, melainkan pada realita lain perihal dirinya dan orang itu. Kemudian, kata-kata Armin masih terngiang-ngiang dalam liang pendengarannya.
'—secara moralitas iya tapi tidak secara hukum.'
Benar. Secara moral, mereka adalah saudara sekandung. Tetapi, tidak secara hukum negara maupun agama. Bahkan, tak satupun dari mereka berasal dari orang tua yang sama. Jadi, tentu tak ada yang salah dengan menjalin hubungan romantisme antara satu dengan yang lainnya. Bila hal yang sama berlaku jua pada kasus Eren, bolehkah ia menggantungkan sedikit harapan? Sekecil apapun asa itu, ia berharap jika dunia tak sekejam yang diperkirakannya. Bahwa, mematikan sebuah perasaan yang tumbuh perlahan-lahan semenjak ia masih begitu muda hingga menjadi remaja dewasa seperti saat ini hanya akan menyakiti dua pihak sekaligus.
Eren berbelok dan menemui koridor yang lebih sempit dan remang. Pencahayaannya semakin merendah tiap kali ia bertemu lorong baru. Lampu gantung kristal terkena sapuan angin sehingga memberi efek suara-suara denting kaca. Pemuda itu berhenti sebentar saat menemukan aroma salju yang bergabung dengan mint segar. Eren selalu tahu pemilik aroma mint itu. Secepat mungkin, ia berbalik arah dan berlari. Instingnya berkata agar ia memilih koridor yang seharusnya tidak boleh dilewatinya saat malam—koridor menuju bilik Levi. Sejak kedatangannya untuk pertama kali di kediaman ini, Levi memberi aturan ketat pada siapapun untuk tidak menginjakkan kaki di koridor ini saat malam hari. Eren tak pernah tahu apa alasannya dan mungkin saja ia akan mendapatkan jawabannya malam ini juga.
Rasa penasaran membayar lelah yang terjadi akibat berlari dengan kecepatan penuh. Keringat membasahi pjyama tidurnya. Sembari mengatur nafas, Eren mulai melangkah perlahan-lahan ke arah koridor sepi yang baru dilewatinya itu. Rasa dingin tak wajar mulai menyelimuti dirinya. Namun, bukan ketakutan semacam ini yang akan mematikan niatnya. Pada akhirnya, Eren tiba di pertengahan koridor dan menyipitkan bening turquoise-nya. Ada seseorang yang tampak menahan kesakitan.
'Le-vi?'
"Vater!"
Teriakan Eren menggema di seluruh penjuru koridor. Tak ayal, ia berlari mendekati sosok yang tertunduk sembari menahan rasa sakit di dadanya. Levi segera tersungkur saat Eren tepat tiba di sampingnya dan berusaha mengangkat tubuhnya yang basah oleh keringat. Bekas jatuhan salju masih terlihat di pundak mantelnya.
"E-ren?"
Deru nafas pria yang enambelas tahun lebih tua dari Eren itu tampak tak stabil. Pendek dan cepat disertai air wajah yang memucat pasi. Tetes-tetes keringat terjatuh dari pelipisnya. Refleks, Eren merengkuh sang Vater dalam pelukan—hal pertama yang terpikirkan dalam benaknya. Usahanya tuk menghangatkan tubuh Levi yang terasa beku bagai dimasukkan dalam balok es kaca selama berhari-hari tak sia-sia. Sedikit demi sedikit, kulit seputih mayat kian berubah merah hangat. Buru-buru Eren memutar gagang aluminium pintu yang diketahuinya adalah kamar si pesakit.
Setelah menemukan tombol lampu, tersorot jelas bagaimana Levi yang baru saja melewati banyak malam tanpa istirahat yang cukup. Tanpa meminta persetujuan si empunya bilik, Eren melepas satu per satu pakaian yang membungkus tubuh Levi dan menyisakan dalaman kemeja putih serta celana panjang yang telah basah oleh keringat. Menggulung lengan kemudian berlari ke arah bathtub, dengan sigap Eren menyalakan pancuran air dan menghangatkannya. Sembari menunggu air memenuhi isi tub, sesekali bening turquoise Eren melirik ke arah sang Vater.
"Ok, it's warm enough." bisiknya. Ia beralih pada Levi yang sibuk meneguk sebotol brendy dari balik mantelnya. Kesal, Eren menarik tangan kurus pria itu dan terpaksa menelanjanginya tanpa ampun. Keputusannya membuahkan hasil. Levi sukses merendamkan diri dalam tub berisikan air hangat dalam diam. Hanya suara yang berasal dari pemanas ruangan dan tetesan air yang menemani keduanya. Eren menunggu seraya bersandar pada dinding di sisi luar kamar berendam Levi. Menghela nafas panjang, melipat tangan di dada, dan mencuridengar bunyi kecipak air dari arah dalam. Turquoise beningnya berlabuh tepat di bawah kakinya.
Sepi. Diam. Ada jeda yang begitu panjang.
"Hei, Eren."—hingga Levi mengakhiri kevakuman itu. "Will you come here? For a moment?"
Pemuda itu terhenyak dari lamunannya dan menoleh. Sedikit-sedikit ia mengamati dari sudut mata dan mendapatkan Levi yang tengah menyandarkan kepala di sandaran tub pribadinya. Eren meneguk ludah. Tak pernah terbayang dalam mimpi kecilnya ia diberi kesempatan tuk memandangi tubuh sang Vater tanpa berbalut sejumputpun kain plus berendam santai di dalam bathtub-nya. Takut-takut, pemuda itu hanya berhenti dalam posisi menengok tanpa mengubah langkah.
"Ma-may I?"
"Tsk. Just come here."
Perintah Levi seolah menjadi ultimatum yang sulit untuk dihiraukan. Meski dalam kebingungan, Eren berusaha membuat langkah statis. Nyaris ia terjatuh saat kaki kirinya tepat menginjak sebuah sabun batangan yang terjatuh saat ia buru-buru menyiapkan air hangat dalam tub Levi. Keseimbangan motorisnya sudah jauh lebih baik semenjak ia terbangun dari tidur lamanya. Eren memberi jarak lima langkah dari tepi kolam putih milik sang Vater, tetapi tatapan Levi yang semakin sinis dan menusuk membuat si pemuda melangkah lagi. Lagi, lagi—lagi. Hingga ia tepat berada di samping sang pria.
Eren kembali meneguk ludah. Membiarkan detik dalam jam mengisi kevakuman di antara keduanya. Lalu, melayangkan pandangan penuh tanya teruntuk yang memberi perintah. Levi menyeringai.
"Kau pasti bertanya-tanya dari mana saja aku selama ini," Pertanyaan pembuka yang sama sekali tidak disukai Eren. Spontan, pemuda itu menegakkan lehernya dan menatap tajam pada Levi, "lalu, kenapa aku berakhir dengan kondisi menyedihkan seperti ini."
Tiktok. Tiktok.
"…"
"Eren?
"Nein."—Tidak. Ketegasan Eren terlihat saat ia meremukkan buku-buku jemarinya dalam genggaman.
"Oh. I see. Jadi—"
Crassh.
Sisa-sisa air yang melekat di tubuh Levi membuat hujan buatan tepat di atas tub. Ia menegakkan posisi tubuhnya agar berdiri sejajar dengan pemuda berjiwa baja itu. Tak peduli sekalipun ia tidak mengenakan selembar kain hanya untuk menutupi bagian intim tubuhnya. Seraya mengibaskan anak-anak rambut yang terjatuh karena basah, tatapan obsidian Levi memancarkan banyak emosi. Eren bergeming dan memusatkan fokusnya pada kedua obsidian lelah sang Vater. Mata saling berbicara.
"—kau tak lagi mempedulikan Vater-mu ini, huh?"
"…"
"Tell me, Eren. Since when you have kept this odd 'feeling' on me?"
Dua kelereng bening turquoise Eren membulat maksimal. Gigi-geriginya bergemeretuk kuat. Naas, tubuhnya bergetar hebat. Perlahan demi perlahan arah kedua turquoise itu tertuju ke bawah—ke arah lantai marmer yang semakin basah oleh jatuhan air tub. Suara-suara sumbang jam, tetesan air, dan deru nafas memberi efek pening di kepala Eren. Ia bingung. Ia tak paham. Ia—sungguh tak mengira pertanyaan itu akan meluncur santai dari bibir—
—orang yang dicintainya dengan teramat tulus.
"Katakan sejujurnya, Eren." Ada nada pemaksaan yang terbalut dingin. Semakin jelas Levi mendapatkan pemandangan menyakitkan dari getaran-getaran kuat di tubuh Eren. Jelas pemuda itu terbungkus oleh tebalnya lembaran kain rajutan, namun sama sekali tak bisa menjaga suhu tubuhnya yang menguar.
"A-a-aku—ti-ti—"
—aku tidak bisa menjawabnya, Vater. Aku merasa sangat hina. A-aku bukan manusia. Kau adalah Ayahku. Aku menyayangimu—sangat menyayangimu. Kau memperlihatkan kepadaku sebuah dunia yang tak pernah kulihat sebelumnya. Kau memberiku hidup yang tak pernah kukira sebelumnya. Kau—kau menumbuhkan rasa cinta yang sangat kuat di jiwaku yang telah mati.
Vater, maafkan aku.
Aku—
"Tell me, Eren!"
Langkah tegas. Peduli setan pada karma Tuhan. Pria itu hanya ingin membuka tabir tersembunyi yang sejak lama terpupuk di jiwa rapuh Eren.
Levi menarik paksa kerah pyjama Eren.
The darkness.
Mengecup dalam bibirnya yang lembab. Membuat suara-suara basah oleh saliva.
It's gone.
Dua tubuh dan jiwa saling berhubungan. Melebur menjadi satu.
It's lift up.
Merasakan radiasi kehangatan yang nyata.
By the wings of angel.
Melepaskan benih-benih cinta.
And, now the light.
Dalam kesemuan badai salju.
Has came—
Malam itu akan mengakhiri keambiguitas rasa yang tumbuh di antara dua anak manusia. Eren dan Levi. Keduanya hanya menikmati pahitnya buah terlarang milik Tuhan atas provokasi iblis.
—to us.
.
.
.
To Be Continued
Dictionary :
Schwärmerei berarti passion. Sesuatu yang membara di jiwa.
A/N :
Chapter edited (7/9/2013) with long story related Petra. How I love this girl. ;~;
Chapter yang lebih panjang dan more action akan segera datang. Tinggal menunggu dua chapter lagi dan kita akan menemui kata fin.
Until next time we meet,
Leon.
