horeeee update,,, maaf lama updatenya ya, haduhh baru sempet,,
ini balesan review tanpa akun, kalo yang pke akun udah lyra bls langsung ya
Nong : iya makasih reviewnya
zeemee : masih dramione koq cuma di seling sedikit, dan maaf krena lyra ga bisa rubah ceritanya,, hahaha, makasih udah nyempetin review,,
Adelia malfoy : iya sev disini emang ooc bgt xD hahah abis mu gmn lagi ya wakkss
VicaJoy1 : yes akhirnya ada juga yang suka everus dan draco di pairing ma hermione,, iya cinta segitiga,, hahaha makasih udah review
oke selsai bales review review, langsung aja kita masuk ke ceritanya
Disclaimer | semua tokoh Harry Potter hanya milik Momy J.K Rowling
Harry Potter
Warning ; sangat Occ, Au, dan banyak keanehan yang di buat oleh author, dan semua kekurangan hanya milik author.
Happy Reading
Chapter 3: Mystery.
Hermione membuka matanya dengan malas hari ini, tentu saja ini hari sabtu, perkuliahan libur dan ia pun libur bekerja hari ini, rasanya ia terlalu enggan untuk bangkit dari kasurnya pagi ini, ia mulai membuka matanya hazelnya dan menatap jam di nakas samping kasurnya, jam menunjukan pukul 6 pagi saat itu. Hermione memutuskan untuk menutup mata nya lagi dan mulai menikmati liburannya hingga tiba-tiba ketukan pintu dari luar terpaksa membuatnya bangkit dari persemayamannya. "Damn.." Hermione mngumpat karena kesal.
"Siapa yang bertamu sepagi ini" katanya kesal. Kemudian ia mulai bangkit dan membuka pintu dengan wajah yang masih mengantuk dan rambut coklatnya yang sudah tidak karuan.
"Malfoy?" kata Hermione bingung.
"Granger aku ingin bicara." katanya.
"Tidak ada lagi yang harus kita bicarakan sebaiknya kau pergi atau aku panggil keamanan!" kata Hermione mengancam, kemudian menutup pintu. Tetapi Draco menahannya dan mencoba masuk kedalam rumah Hermione.
"Kumohon Granger." kata Draco masih merusaha menahan pintu yang kini telah di paksa menutup oleh Hermione. Akhirnya dengan berat hati ia membiarkan sang Malfoy muda masuk.
"Apa yang ingin kau katakan?" kata Hermione kesal. Tanpa basa basi Draco memeluk Hermione, Hermione yang kaget meronta dan berusaha melepaskan diri dari pelukan Draco.
"apa yang kau lakukan?" kata Hermione mulai panik.
"Tenanglah Mione." Kata Draco lirih. Hermione membeku begitu Draco memanggilnya dengan nama kecilnya.
"Kau harus dengar penjelasan ku" kata Draco yang masih memeluk Hermione.
"Katakan" kata Hermione dingin tanpa membalas pelukan Draco.
"Dulu aku pergi karena ada satu alasan yang tidak mungkin aku katakana padamu saat ini, tapi suatu saat pasti aku katakan, tapi aku mohon maafkan aku, aku tidak berharap kau dapat bersikap seperti dulu kepadaku, tapi aku mohon maafkanlah aku" kata Draco
"Hanya itu?" kata Hermione tetap dingin. Draco melepaskan pelukannya untuk menatap mata Hermione, dan betapa sakit hatinya melihat sorot mata Hermione begitu dingin terhadapnya.
"Aku mengerti." kata Draco lirih dan berlalu pergi meninggalkan Hermione sendiri yang masih membeku.
"Tidak semudah itu Malfoy." kata Hermione membatin.
Hermione memutuskan untuk berjalan-jalan untuk melupakan semua kepenatan dalam hati dan pikirannya. Pagi ini lumayan ramai untuk pagi yang cerah di akhir minggu, Hermione berjalan menyusuri terotoar dan memperhatikan toko-toko yang baru akan di buka oleh pemiliknya, ia juga melihat beberapa orang sedang berjogging ria di akhir minggu ini. Yah ini memang ini memang minggu yang cerah dan tak jarang pada anak-anak berlarian bersama orangtuanya di taman dekat tempat tinggal Hermione. Dia menghentikan aktivitas berjalannya dan mulai duduk di bangku taman terdekat, ia mulai memperhatikan seorang ibu dan anak perempuannya yang sedang asik bermain. Taman ini memang di lengkapi dengan banyak wahana sederhana sepeti ayunan dan seluncuran untuk anak-anak bermain di saat saat seperti ini. Ia terus memperhatikan kedua ibu dan anak itu, mengingatkan akan ibunya, Hermione merindukan orang tuanya. Tanpa di sadari air matanya sudah mengalir di pipinya yang mulus.
"Air mata sangat tidak cocok untukmu." kata Severus. Hermione tersentak sadar dari lamunannya tentang orangtuanya.
"Profesor?" Hermione mulai bingung, mengapa selalu ada pria ini di saat ia sedang merasa sepi.
"Severus…" kata Snape singkat.
"Ah ya, apa yang kau lakukan disini?" kata Hermione.
"Kebetulan yang tak terduga bukan." Kata Severus santai. "aku sedang jalan-jalan" kata Severus lagi. Hermione hanya mengangguk.
"Apa yang kau tangisi?" kata Severus.
"Aku hanya rindu pada orangtuaku." kata Hermione. Entah mengapa Hermione mulai merasa nyaman dengan keberadaan Professor yang satu ini di dekatnya, seolah ia bisa menumpahkan semuanya di hadapannya. Snape hanya mengangguk dengan pernyataan Hermione.
"Mau kopi?" tawar Severus sambil menunjuk Café di sebrang jalan.
"Boleh." Kata Hermione bangkit dari duduknya. Merekapun berjalan beriringan menuju Café tersebut.
Di dalam café mereka mulai bercakap-cakap dan Hermione marasa benar-benar sangat nyaman dengan dosennya yang satu ini, selain mereka nyambung dalam segala hal Snape pun dapat memuaskan Hermione dengan pengetahuan yang ia miliki, Hermione memang sangat haus akan pengetahuan dan ilmu.
"Mione aku ingin ke toilet sebentar" kata Severus. Hermione hanya menganguk.
Hermione Pov
Astaga apa ini, mengapa aku merasa sangat nyaman berbincang dengan severus, tapi jika di pikir dia memang lebih dewasa dari semua teman-temannya, dan ternyata Severus pun tak seketus dan sedingin yang ia pikir selama ini, dia hanya ketus bila berada di area kampus, mungkin saja itu image yang ia berikan agar dirinya lebih di hormati oleh mahasiswanya. Dan dia lumayan tampan aku rasa, emm biar ku tebak umurnya… sekitar 30 sampai 35 tahun aku rasa, apa yang aku pikirkan? Aku mulai melantur kemana-mana. Tapi memang benar bila sedang bersama Severus aku bisa melupakan dan meluapkan semua yang aku rasakan, seolah semua bebanku terangkat jika sedang bersamanya.
Normal Pov
"Maaf agak lama" kata Severus yang baru kembali dari toilet
"Tidak apa, err Severus, sudah hampir waktu makan siang, apa kau mau makan siang di rumahku?" tawar Hermione.
"Baiklah" kata Severus menerima tawaran Hermione.
"Oke, kita ke minimarket dekat sini dulu aku ingin membeli beberapa bahan makanan tambahan," kata Hermione
"Apa yang akan kau masak?" tanya Severus.
"Tidak mewah, hanya pasta dan salad aku rasa." kata Hermione malu-malu.
"Baiklah aku akan membatumu" kata Severus.
Severus memang orang yang jarang tersenyum di depan orang lain, tapi entah mengapa jika di depan Hermione dia bisa ramah dan tersenyum walau kadang memang sifat sinisme tidak bisa hilang tapi Hermione menikmati saat-saat bersama dengan Severus. Sejak saat itu mereka menjadi sangat akrab satu sama lain dan tak jarang mereka bertemu atau sengaja janjian untuk bertemu walau hanya untuk ngobrol-ngobrol ringan. Disisi lain Draco yang sedang terpuruk saat ini mulai jarang datang ke cafenya. Dan itu membuat Hermione sedikit bisa bernapas lega. Waktu seolah berjalan sangat cepat Hermione menuntaskan Studynya dengan singkat atas bantuan Severus yang memberitahunya ada kelas akselerasi baginya karena ia yakin Hermione sanggup untuk menyingkat semua pelajaran dengan mudah. Akhirnya Hermione pun mengundurkan diri dari Café Draco dan mulia focus untuk mengejar kelas aksalarasi yang Snape katakan, dan benar saja Hermione berhasil menyingkat 2 tahun lebih cepat studynya. hingga suatu hari selepas masa wisuda, Hermione yang saat ini mulai merintis menjadi dokter di sebuah rumah sakit negeri di kota ia tinggal saat ini Severus mengutarakan perasaannya.
Di teras rumah Hermione Severus dan Hermione sedang duduk berdua sambil menatap langit.
"Mione…" panggil Severus. Hermione hanya menoleh dengan panggilan Severus.
"Aku mencintaimu" kata Severus to the poin. Hermione terbelalak dengan perkataan Snape barusan.
"Apa… apa yang kau katakana Sev?" kata Hermione terkejut
"Menikahlah denganku," kata Snape mengeluarkan sebuah kotak dari sakunya dan memberikannya pada Hermione.
"Aku tau ini terlalu cepat, tapi aku sangat yakin denganmu, aku yakin dengan perasaanku." kata Severus. Hermione mulai menimbang-nimbang atas lamaran Severus, hingga akhirnya ia menerima lamaran dari sorang Severus Snape. Mereka mulai mepersiapkan pesta pernikahan mereka yang akan berlangsung sebentar lagi, Hermione yang tipe mandiri bersikaras menyiapkan segala sesuatunya sendiri dengan sesempurna mungkin di sela-sela waktunya yang sibuk sebagai dokter. Hingga tiba hari dimana Theo mendatangi Hermione di rumah sakit tempat Hermione sekarang bekerja.
"Bisa kita bicara?" Kata Theo to the poin.
"Saat ini saya sedang bekerja, bisa tunggu setengah jam lagi?" kata Hermione sopan. Theo hanya menganguk. Dalam hati Hermione mulai bertanya-tanya siapa orang itu sebenarnya.
Setengah jam kemudian…
"Ada apa?" tanya Hermione menghampiri meja tempat Theo duduk.
"Benar kau Hermione Granger?" tanya Theo.
"Ya, dan anda siapa?" tanya Hermione.
"Saya Theo.. Theodore Nott, teman dan sahabat Draco." Kata Theo tanpa aling-aling.
"Ada apa?" kata Hermione yang wajahnya mulai mengeras mendengar nama Draco di sebut.
"Apa kau tau saat ini Draco sedang terpuruk, dia sudah berbulan-bulan menyibukan diri dengan pekerjaannya dan dia bahkan sudah seminggu ini mengurung diri di kamar dan menolak memakan dan meminum apapun." kata Theo.
"Lalu apa hubungannya denganku?" kata Hermione dingin.
"Kau bilang apa hubungannya? Tentu saja dia seperti itu karena kau." Kata Theo mulai kesal.
"Mungkin itu sepadan untuknya." Kata Hermione lebih dingin.
"Apa benar kau Hermione Granger dia katanya sangat Draco cintai itu, hah… ternyata hanya gadis egois yang tidak bisa memaafkan kesalahan orang lain." Kata Theo sarkatis.
DEG….
Hati Hermione mencelos mendengar perkataan Theo barusan.
"Apa kau tau apa alas an Draco meninggalkan mu saat itu? dia harus memilih antara kau dan keluarganya. Jika kau berada di posisinya maka siapa yang akan kau pilih? Saat itupun Draco sudah menentang untuk tidak ikut pindah bersama keluarganya Karena ia tidak rela melepasmu, akan tetapi beban dan tanggung jawabnya sebagia Malfoy,, penerus kerajaan bisnis Malfoy copperation maka mengharuskannya ikut bersama keluarganya. Dia berkali-kali ingin mengirimi kau surat, email atau meneleponmu tapi ia tak kuasa menangkis rasa takutnya yang ia dengar kau menjadi sangat terpuruk karena kepergiannya, dan karena –karena ayah dari Draco sangat menentang hubungan kalian." kata Theo panjang lebar. Hermione hanya tercengan mendengar semua perkataan Theo barusan hatinya terasa tercabik, kepalanya berdenyut keras, dan pandangannya mulai kabur hingga akhirnya kegelapan menguasainya. Hermione pingsan saat itu juga. Theo sangat panik dengan respon yang ia dapat dari Hermione dan langsung mangangkat Hermione untuk membawanya ke ruang perawatan.
Sejam kemudian Hermione sadar, Theo menjaganya dengan wajah sangat cemas.
"maafkan aku." Kata Theo parau. Hermione hanya tersenyum lemah melihat kehawatiran diwajah Theo.
"Theo.. boleh aku memagil mu Theo?" tanya Hermione lemah. Theo menganguk.
"Aku tahu kau melakukan ini karena kau sangat perduli dengan kondisi Draco. Tapi jika kau katakan sekarang pun semua sudah tidak bisa di ubah, lusa aku akan menikah" kata Hermione bangkit dari kasur tempatnya berbaring.
CETAR….
Seperti ada kilat yang menyambar dalam kepala Theo begitu mendengar Hermione akan menikah. Apakah ini yang membuat Draco seminggu ini mengunci dirinya dikamar? Pikiran Theo menerawang dan mulai mencerna apa yang Hermione katakan, bahwa dia akan menikah lusa. Ada rasa kecewa di hati Theo sebelumnya ia berharap Hermione akan pergi bersamanya untuk menemui Draco dan membujuknya tapi kenyataannya yang ia dapat sekarang adalah Hermione yang akan menikah.
"Hermione… bisakah aku meminta satuhal padamu!" kata Theo. Hermione mengangguk.
"Tolong temui Draco dan berikan dia kesempatan untuk berbicara denganmu." Kata Theo. Hermione menghela nafas dan mulai berpikir dan menimbang untuk melakukan hal ini atau tidak, tapi hatinya sudah kokoh saat ini dia akan menikah dengan Severus lusa dan mungkin tidak ada salahnya untuk menemui Draco.
"Baiklah" kata Hermione. Theo dan Hermione pergi meninggalkan rumah sakit dan menuju tempat Draco berada. Akhirnya mereka tiba di kediaman Draco yang biasa di sebut Malfoy manor, Bangunan seperti kastil itu berdiri kokoh di kelilingingi taman yang luas dan indah, dan saat ini memang sedang musim semi dimana bunga akan bermekaran dengan indahnya. Di tengan taman luas itu berdiri sebuah bangunan yang sangat besar dan mewah bentuk bangunan yang menyerupai kastil-kastil pada abad pertengahan. Dengan desain yang sangat mewah, memiliki bayak tiang dan lorong tentu saja. Dan kekaguman Hermione belum berakhir sampai disitu, matanya lebih terbelalak melihat isi dari bangunan itu, banyak barang-barang antik dan mahal dari seluruh dunia, mungkin itu adalah benda-benda yang di dapatkan dari leluhur sang Malfoy yang termasyur itu. Hermione danTheo memasuki sebuah ruangan yang membawa pada sebuat lorong panjang dimana ujung lorong ini terdapat sebuat pintu dengan desain minimalis tapi tetap terlihat mewah di lengkapi dengan ukiran-ukiran rumit hasil karya sang pemahat yang memiliki tangan-tanagan ahli dalam bidangnya. Begitu sampai di ujung lorong Theo segera mengetuk pintu kamar Draco.
TOK TOk TOK…
"Draco coba kau lihat siapa yang datang mengunjungimu" kata Theo.
"Pergilah Theo aku tak ingin menemui siapapun saat ini." Kata Draco dari dalam.
"Draco…" kata Hermione berusaha memanggil.
DEG…
Suara ini, suara yang sangat ia rindukan, suara yang selalu ia tunggu selama betahun-tahun lamanya. Draco segera berlari ke pintu dan membukanya dengan cepat. Di depan pintu ia melihat sosok Hermione yang sangat ia rindukan, mata hazelnya yang hangat, rambut coklatnya yang selalu sulit untuk di atur dan terlihat berantakan. Draco menghambur dan segera memeluk Hermione seolah takut ia akan lari lagi, lari seperti sebelumnya.
"Maaf… maafkan aku Mione maafkan aku…" kata Draco parau. Betapa terkejutnya Hermione melihat penampilan Draco yang berantakan.
"Hei… apa ini" kata Hermione melepaskan pelukan Draco dan menangkupkan tangannya di kedua pipi Draco.
"Apakah ini Draco Malfoy sang Casanova yang aku kenal heh?" kata Hermione tersenyum hangat. Draco hanya mengangguk dan airmatanya mulai menggenang di pelupuk matanya.
"Dengar Draco… kau tidak boleh seperti ini, kau harus melanjutkan hidupmu Draco, aku sudah memaafkanmu saat ini dan kau tidak perlu merasa bersalah atas yang kau lakukan dulu, saat ini semuanya telah berbeda, kau seorang yang diharapkan banyak orang dan aku hanya orang biasa yang akan menikah sebentar lagi Draco.. aku mohon jangan seperti ini, dan… dan aku tau ayahmu sangat menentang hubungan kita, jika saat ini aku nekat menjalaninya denganmu aku hanya akan jadi penghancur dari keluargamu, jadi aku mohon Draco bangkitlah dan mulai jalani lagi hidupmu secara normal." kata Hermione. Draco hanya terdiam airmata yang sejak tadi di tahannya akhirnya jatuh juga mengalir di pipi pucatnya yang kini telah di tumbuhi anak rambut yang cukup lebat, dia hanya diam dan menatap Hermione dengan pandangan kosong. Hingga akhirnya di jatuh dalam kegelapan. Draco pingsan, Theo segera membantu Hermione untuk mengangkat tubuh sang Malfoy muda ke kasurnya.
"Ia tak apa Theo hanya dehidrasi dan kekurangan energy karena tak ada makanan dan minuman yang masuk ketubuhnya seminggu ini." Kata Hermione setelah mengecek kondisi Draco.
"Berikan obat ini setelah dia sadar, aku sudah memasang infus di tubuhnya dan memberikan sedikit obat penenang agar ia dapat istirahat." Kata Hermione lagi. Theo masih diam.
"Aku permisi dulu Theo, aku tau dia akan bangkit dan dia akan kuat dan selalu ada kau dan sahabat-sahabatnya yang perhatian dan menyayanginya, aku yakin dia akan bangkit." Kata Hermione tersenyum tipis. Hermionepun pergi meninggalkan Malfoy manor dan bergegas kembali ke rumah.
Di rumah Hermione melihat Severus sudah menunggunya.
"Hei Dear, dari mana saja kau?" kata Severus begitu Hermione memasuki rumah.
"Mengunjungi teman lama." Kata Hermione. Severus menghampirinya dan mengecup lembut kening Hermione.
"Kau terlihat lelah, jangan paksakan dirimu untuk ini semua dear." Kata Severus
"Aku baik Sev, jangan cemaskan dan melarangku melukan ini dan itu, kau tau aku ingin acara kita ini sempurna dan tidak terlupakan" kata Hermione. Severus hanya memutar bolamatanya tanda dia telah lelah memperingatkan calon istrinya ini.
"Yah, Hermione Granger dan segala kekeras kepalaannya." Kata Severus mendengus. Mendengar hal itu Hermione hanya terkekeh pelan.
TBC….
gimana gimana chapter ini, udah panjang kah ? haduhh menguras otak,, hahahah
makasih yang udah review di chap sebelumnya semoga kalian suka chap ini, tetep tinggalkan jejak kalian ya,,
happy lucky
lyra
