"Halo?"

"Kau baik-baik saja? Dimana kau sekarang?"

Hinata mengernyit bingung, "Aku baik-baik saja, maaf ini siapa?"

"Syukurlah, kau dimana sekarang?"

"Tunggu, ini siapa?" Tanya Hinata khawatir.

Terdengar suara helaan napas dari ujung sana. Selama 3 detik berikutnya masih tidak ada jawaban. Hinata pun masih setia menunggu. Hingga akhirnya ia terbelalak kaget mendengar jawaban dari si penelpon.

"Ini aku, Naruto Uzumaki."

.

.

-A Piece of Cake-

Chapter 3

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Story : Asli dari otak saya sendiri yang datang secara tiba-tiba.

Pairing : Naruto x Hinata

Genre : Romance

Rated : T

Warning !

Amatiran, Newbie, Typo sana sini, Abal, Bertele-tele ? Alur kecepetan ? POV yang berubah sendiri ? Ide pasaran? (maybe)

Enjoy~

While listening to : Baek Ah Yeon – A Lot Like Love 🎵

Hinata menatap pantulan dirinya dengan mata sendu. Ditatapnya cermin itu dan mengarah tepat ke pantulan mata nya sendiri. Ia menghela napas pelan lalu mengangguk mantap dan mulai berjalan ke arah pintu sambil mengambil jaket yang tersampir di belakang pintu lalu berjalan keluar apartemen.

"Temui aku di taman dekat rumahmu. Jam 8 malam tepat."

.

.

.

Hinata mengedarkan pandangannya ke sekeliling taman. Meski sudah jam 8 malam taman itu masih memperlihatkan beberapa orang yang hanya terdiri dari beberapa remaja muda mudi yang terlihat asik dengan kesibukannya masing-masing. Setelah dirasa tidak menemukan siapa yang ia cari, Hinatapun melangkah ke arah kursi yang memang disediakan di taman tersebut lalu mulai duduk, menunggu.

1 jam berlalu, dan Hinata masih setia menunggu. Sementara sekelilingnya mulai terlihat sepi. Para remaja itu sudah pergi dan sekarang hanya menyisakan dirinya seorang di sana.

Diangkatnya handphone lavender itu lalu memperlihatkan tampilan SMS dengan tujuan pesan ke kontak yang bertuliskan Naruto Uzumaki. Hinata sudah berkali-kali meyakinkan diri agar tidak mencoba menghubungi orang yang di tunggunya itu, namun sejak 10 menit yang lalu tangan Hinata sudah gatal untuk tidak melakukannya hingga akhirnya memutuskan untuk mengirim pesan kepada pemuda itu. Alhasil Hinata masih belum juga mengirim pesan apapun, dia hanya terpaku menatap layar ponselnya.

Hinata mendesah keras lalu mulai berdiri hendak meninggalkan taman itu. Namun langkahnya terhenti begitu merasakan pusing yang sangat hebat dikepalanya. Reflek tangan kanannya memegang kepalanya yang masih berdenging keras dan tubuhnya mulai limbung. Matanya terpejam kuat mencoba menahan rasa sakit dikepalanya, dan sebuah memori kecil datang seolah berputar di dalam otaknya ..

"Onee-chan baik sekali."

"Ahaha trimakasih. Nah sekarang pulanglah, jangan lupa membagi kuenya untuk saudara-saudaramu juga ya?"

"Siap onee-chan. Bye-bye."

Hinata tersenyum manis lalu melambaikan tangannya kepada gadis kecil yang berlari kecil sambil melambaikan tangannya itu.

"Lucu sekali." Gumam Hinata.

"Ah! Aku harus ambil kue lagi untuk Naruto-kun!"

Hinata pun berbalik lalu akan mulai menyebrang menuju cafe tempatnya bekerja itu. Namun baru lima langkah sebuah teriakan terdengar begitu keras di telinga Hinata. Dan dalam sekejap semuanya menjadi gelap.

Hinata mendesah keras, kepalanya terasa begitu ngilu hingga sesaat sebelum benar-benar hilang kesadaran, ia mendengar namanya dipanggil dengan keras-

"Hinata!"

-dan akhirnya kesadarannya benar-benar hilang.

.

.

.

.

1 jam sebelumnya

Naruto menatap kesal Sasuke Uchiha yang notabenya adalah ketua dari K-Five sekaligus sahabatnya itu.

"Aku harus pergi Sasuke." Ucap Naruto untuk ketiga kalinya.

"Tidak bisa, kau harus ikut latihan." Balas Sasuke santai sambil membolak-balik kertas di depannya.

"Sudah kukatakan ini penting! Aku ada janji!" Kata Naruto sambil menekankan kata penting dan janji lalu mulai meninggikan suaranya, kesal.

Sasuke menaruh kertas yang tadi sempat diperhatikannya ke atas meja lalu menatap ke arah Naruto.

"Kau akan menemui gadis itu lagi?" Sasuke kini terlihat lebih serius mengucapkannya sambil menatap Naruto, namun nada bicaranya masih terlihat santai.

Naruto menaikkan salah satu alisnya, tetapi tetap diam karena merasa sudah pasti temannya ini mengetahui apa maksud Naruto untuk pulang lebih awal hari ini dan meminta ijin untuk bolos latihan.

Sasuke mendengus pelan melihat respon Naruto yang hanya diam itu. "Setiap hari kau hanya mengawasinya. Untuk apa? Kau stalker Naruto." Ucap Sasuke dengan nada meremehkan dan menekankan kata stalker.

"Aku bukan stalker. Kau lihat hari ini bahkan aku membuat janji dengannya. Aku akan mengakui semuanya."

"Dan kau yakin itu keputusan terbaikmu?" Tanya Sasuke seakan-akan mengetahui apa yang dimaksud Naruto dengan mengakui semuanya.

"Y-ya." Jawab Naruto pelan.

"Kau tahu resikonya kan?" Tanya Sasuke lagi, memastikan.

Naruto hanya diam, namun kali ini ekspresinya terlihat ambigu. Antara yakin dan ragu-ragu.

"Lihat! Hentikan saja, lagipula itu tidak ada gunanya Naruto. Kalau kau memang tertarik dengannya berkenalan seperti biasa saja."

"Tidak bisa! Aku harus mengatakan yang sebenarnya, sudahlah Sasuke ijinkan aku pergi sekarang." Mohon Naruto sambil menangkupkan kedua tanganya.

"Naruto!"

Sontak Naruto dan Sasuke pun menengok ke arah suara.

"Tsunade-sama?" Ucap Naruto melihat orang yang memanggilnya yang ternyata adalah Tsunade manager dari K-Five.

"Berlatih 30 menit lalu kuijinkan kau pergi." Ucap Tsunade lalu berjalan keluar meninggalkan ruangan.

Naruto mengernyit heran lalu menengok ke arah Sasuke yang juga terlihat bingung.

.

.

.

Naruto berlari cepat, setelah memarkirkan mobilnya di tempat parkir khusus dekat taman ia langsung berlari mengelilingi taman tak lupa dengan mengenakan topi agar idetintasnya tidak mudah diketahui oleh pengunjung taman. Namun sepertinya itu tidak perlu dipermasalahkan karena taman sudah sepi.

"Apa dia sudah pergi?" Ucap Naruto masih melihat sekeliling taman mencari gadis indigo yang sudah menjadi pusat pemikiran Naruto 1 tahun belakangan ini.

Hingga pandangannya pun berhenti di bagian pojok kanan taman yang memperlihatkan seorang gadis yang sedang duduk di kursi taman sambil memegang sebuah handphone.

Senyum Narutopun mengembang mengetahui bahwa gadis itu belum pergi dan masih menunggunya lalu mulai berjalan cepat dengan sedikit berlari ke arah gadis itu. Namun baru 5 langkah ia berjalan gadis itu terlihat berdiri sambil memegang kepala dan tubuhnya yang terlihat limbung itu. Naruto yang menyadari bahwa gadis itu akan jatuh pingsan pun segera berlari ke arah si gadis-

"Hinata!" Teriak Naruto

-Lalu gadis itupun jatuh tepat disaat Naruto berhasil menggapainya dan berada dalam dekapan Naruto dengan tidak sadarkan diri.

.

.

.

.

.

"Enghh.." Hinata mengerang pelan sambil mencoba membuka matanya dengan pelan.

"A-akh!" Pekiknya sambil memegang kepalanya yang terasa berdenyut itu. Hingga tiba-tiba ia merasakan tangan kanannya dipegang oleh seseorang.

"Berbaring saja dulu."

Hinata pun menurut karena merasakan kepalanya yang masih pusing lalu mulai berbaring kembali setelah tadi sempat mencoba bangun dari tidurnya. Tersadar bahwa suara yang baru saja didengarnya adalah suara laki-laki, Hinatapun segera bangun kembali lalu menengok ke sumber suara.

"Si-siapa kau!?" Teriak Hinata ketakutan.

"Hinata, tenang. Ini aku." Ucap laki-laki di samping kanan Hinata.

Mata Hinata menyipit mencoba menormalkan pandangannya yang tadi masih sedikit kabur. Hingga akhirnya terlihat jelas siapa laki-laki di depannya itu.

"Naru-to . . -san?" Ucap Hinata pelan.

Laki-laki didepannya – Naruto pun tersenyum mengetahui bahwa Hinata mengenalinya.

"Ya, ini aku." Ucap Naruto sambil tersenyum.

"A-apa? Bagaimana? Tunggu ini dimana?" Kata Hinata lalu mulai melihat ke sekeliling. Hinata mengernyit heran menyadari bahwa ia berada di apartemen nya sendiri. Lalu kembali mengarahkan pandangannya ke Naruto, meminta penjelasan.

"Kau tadi pingsan di taman. Jadi aku membawamu ke apartemenmu. Oh ya ini kuncinya." Jelas Naruto sambil mengulurkan sebuah kunci yang setahu Hinata itu memang kunci apartemennya.

"Darimana-"

"Ada di tasmu." Jawab Naruto cepat menyadari apa yang akan ditanyakan Hinata.

"Ah – aku tidak mengambil apa-apa kok. Tenang saja, kau nanti bisa cek sendiri." Lanjut Naruto.

Hinata masih tidak mengerti. Bagaimana Naruto tahu apartemennya ? Namun kemudian Hinata hanya menghela napas pelan, lalu mengangguk mengerti. Setelah itu mereka hanya terdiam sibuk dengan pikiran masing-masing. Merasa canggung, Naruto pun mencoba membuka suara.

"Maaf."

Sebelah alis Hinata terangkat tidak mengerti. "Ya?"

"Untuk semuanya." Lanjut Naruto sambil menatap intens ke mata Hinata.

"Aku tidak mengerti." Ucap Hinata pelan, masih dengan ekspresi bingung.

Naruto yang baru sadar akan apa yang terjadipun langsung gelapan lalu mencoba mencairkan suasana.

"A-Ah, maksudku maaf aku terlambat." Kata Naruto gelagapan.

"Oh iya, tidak apa-apa." Jawab Hinata sambil tersenyum.

Mereka pun kembali terdiam.

"Jadi ada apa?"

"Eh?"

"Kenapa meminta bertemu? Dan bagaimana bisa dapat nomor teleponku?"

Naruto hanya diam namun menatap Hinata mencoba mencari sesuatu hal yang ditakutinya selama ini jika bertemu langsung dengan Hinata. Lalu kemudian menghela napas pelan.

"Kau mengenalku?" Tanya Naruto.

Hinata tersenyum geli, "Tentu saja, kau anggota K-Five yang memberiku syal merah."

Naruto tersenyum kecil mendengar jawaban Hinata.

"Maksudku sebelum itu apa kita pernah bertemu?"

Hinata terlihat berpikir lalu menggelengkan kepala, "Tidak. Itu pertama kali kita bertemu."

Sedetik kemudian Naruto berdiri lalu menarik Hinata ke dalam pelukannya. Sontak Hinata kaget mendapat perlakuan seperti itu. Dan ia sempat memekik pelan, dan badannya kaku karena terkejut juga takut.

Naruto menenggelamkan kepalanya ke sisi kepala Hinata dan menghirup dalam-dalam wangi parfum yang tercium di hidung nya, lavender. Selama 1 menit posisi mereka masih seperti itu, Hinata yang badannya masih lemah hanya bisa pasrah berada dipelukan Naruto. Tentu saja jantung nya berdebar keras, ini pertama kali Hinata dipeluk oleh seorang laki-laki. Tak lupa semburat merah yang mulai bertengger di kedua pipinya apalagi begitu merasakan nafas Naruto yang menerjang di lehernya.

DEG

DEG

DEG

"Na-Naruto-san? " Ucap Hinata akhirnya setelah mencoba menahan rasa malu.

Namun Naruto tidak menghiraukan panggilan Hinata dan masih memeluk Hinata, bahkan mengencangkan pelukannya.

Hingga 1 menit kemudian pelukannya merenggang dan Narutopun melepas pelukannya tapi kedua tangannya yang masih di biarkan memegang kedua tangan Hinata.

Sambil menatap Hinata lembut, Naruto tersenyum.

.

"Hinata, aku menyukaimu."

.

.

Dan seketika Hinata merasa nafasnya tercekat.

.

.

"dan . . maafkan aku."

.

.

.

To Be Continued

Spesial Thanks to :

Jessica Ritanomega : Ahaha gomen, ada maksud tersendiri kenapa bersambung dibagian itu. Hehehe.

dindra510 : Siap gan :v

anirahani : Insyaallah. Asal kuota dan koneksi mengijinkan. Huahahaha #KetawaGaje

Bill Arr : Sip sip, ikutin terus ceritanya yaaa

Guest : Iya ini lanjut kok

Inuzuka Rina : Domo Arigato, ini udah lanjut hehehe

Vallkeyria : Saya aja yang nulis penasaran :'v, hm . . darimana ya. Naruto mungkin stalker yang handal :v

nawaha : ahaha Thank you, Siap !

Naela Ira : Habis lebaran :v ini udah lanjut.

Kazumi-chan : Jangan panggil senpai atuh *Blushing

GUEST : Siap bos :)

Amanda651, Avra Elliosa, Hagoromo604, Namikaze632, NataHiru, Rehan773, Sandal784, ShirouAmachi, afika chia, anirahani, cheeseburgerslayers, endahs442, jujumi chan, 17, thessaaths, burger keju, didiksaputra, endahmaulana428, oshrj94, thirty30, tonyfa77, tsukihime4869

Thank you for reading, and following this story.

Hope you like it. ^^

And

Selamat Hari Raya Idul Fitri 2017

1 Syawal 1438 H

Minal aidzin walfaidzin

Mohon maaf lahir dan bathin.

Salam

Incasey

Review Plis?