The Prince and The Prince
Author: Kai Natsuyou
Rating: PG-13 (untuk chapter ini)
Disclaimer: Takeshi Konomi
Genre: Romance, Drama
Summary: Pangeran Gakuto bertemu dengan seseorang yang aneh… Tapi lebih anehnya lagi, ia tidak bisa menghilangkan sosok orang aneh itu dari pikirannya… Dirty Pair AU.
Chapter III : 'Friend'
Ini mungkin adalah hari terindah dalam hidup Gakuto. Sebelumnya, ia tidak pernah merasa... begitu bebas, begitu lepas, begitu menjadi dirinya sendiri. Mungkin, sang boneka sudah lelah menjadi pajangan yang tak diizinkan melakukan apapun. Ia telah memecahkan kaca etalase yang menjadi penghalangnya dengan dunia luar yang selama ini diimpikannya.
Ia dan Yuushi berjalan di tengah-tengah kota dengan bebas, tanpa pengawal, tanpa pandangan orang-orang yang mengetahui dirinya adalah pangeran. Mereka mengunjungi taman, toko-toko di pinggir jalan, menonton seniman jalanan, mengunjungi berbagai tempat yang sebelumnya tak bisa Gakuto kunjungi. Belum pernah, belum pernah seumur hidupnya Gakuto merasa sebahagia hari ini.
Namun Gakuto tahu, bahwa kebahagiaan yang dia rasakan hari ini harus berakhir dengan tenggelamnya sang surya, dan ia harus kembali menjadi 'Pangeran Gakuto' yang terkungkung dalam sangkar emasnya.
"Yuushi-san," bisik Gakuto, dan ia tersenyum dengan senyum yang ceria, "terima kasih atas yang telah kau lakukan hari ini. Aku merasa sangat senang! Aku belum pernah merasa sebebas hari ini sebelumnya. Terima kasih, ya."
Yuushi membalas senyum Gakuto dengan senyum anehnya seperti biasa. "Terima kasih kembali. Kurasa kau tidak perlu seperti itu, karena aku melakukan ini juga untuk diriku sendiri."
Mereka tertawa berbarengan. Lalu dengan berat hati, melangkahkan kaki mereka untuk kembali ke istana.
kkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkk
"Pangeran Gakuto!! Kau tahu kalau kau sudah menimbulkan keributan besar di seantero istana??" Semburan kemarahan Hiyoshi langsung menyambut kepulangan mereka. Gakuto hanya menatap takut-takut pada Hiyoshi sambil nyengir. "Eh... maafkan aku, Hiyoshi..." bisiknya.
"Maafkanlah dia. Semua ini adalah ide saya, jadi jangan marahi dia," bela Yuushi sambil maju ke depan Gakuto. Hiyoshi menatap tajam pada Yuushi. "Yuushi-sama, tolong jangan pengaruhi Gakuto-sama dengan hal-hal seperti itu. Saya tidak peduli pendidikan apa yang anda terima, tapi jangan memberi pengaruh jelek pada pangeran kami," jawab Hiyoshi tajam. Yuushi menunduk dan membisikkan "maaf", seperti anak kecil yang ketahuan memecahkan kaca jendela saat sedang bermain bola.
Kali ini Gakuto yang melangkah ke depan Yuushi dan membentangkan tangannya, seolah-olah melindungi Yuushi. "Hiyoshi! Apa-apaan itu? Ini bukan salahnya! Aku yang setuju, jadi ini juga salahku! Lagipula, bukannya kau sendiri yang bilang untuk tidak berkata kasar padanya? Tapi sekarang kau sendiri yang--"
"Itu dan ini hal yang berbeda, Pangeran Gakuto," potong Hiyoshi dingin. "Memang norma dan kesopanan sangat penting untuk menjaga hubungan, tapi tidak untuk hal seperti ini. Memang anda sering kabur dari jam pelajaran anda, tapi ini pertama kalinya anda kabur ke luar istana seperti ini, dan itu sudah membuat geger seluruh istana. Karena ini pertama kalinya terjadi, jadi untuk saat ini masih bisa ditolerir, tapi ingat," ia menatap Yuushi dengan tajam, "jangan sampai ada yang kedua kali." Yuushi tersenyum lemah dan mengangguk. Hiyoshi menoleh pada Gakuto.
"Nah, kurasa, sudah saatnya kalian beristirahat. Yuushi-sama, kurasa pengawal anda yang bernama Taki sedang menunggu anda dengan cemas," katanya, sambil melirik pada Yuushi. Yuushi mengucapkan 'iya' dengan pelan, dan meninggalkan mereka menuju 'kamar'nya.
"Nah, Pangeran Gakuto, saya akan mengantar anda menuju kamar anda."
Tanpa komando kedua, Gakuto menurut dan mengikuti Hiyoshi di belakangnya. "Ano... Hiyoshi?" ia bertanya takut-takut saat mereka sedang menyusuri lorong lantai dua menuju kamara Gakuto. "Ya?"
"Apakah ayahanda sudah mengetahui soal aku menghilang?"
Hiyoshi memperlambat langkahnya. "Ya, beliau sudah mendengarnya."
"Dan ia sudah tahu kalau aku sudah kembali?" tanya Gakuto lagi. Hiyoshi mengangguk pelan. Kali ini, Hiyoshi berhenti dan menatap Gakuto dengan tatapan sedih. "Beliau sibuk, Pangeran." hanya itu yang bisa dikatakannya. Gakuto menggigit bibirnya. "Iya, aku tahu," jawabnya sekenanya, dan memepercepat langkahnya, melewati Hiyoshi.
Ia sudah tahu. Ayahandanya selalu sibuk, sibuk dengan urusan negara dan sebagainya. Bukannya Gakuto tidak paham, tapi tidak inginkah ia menemui anak satu-satunya yang menghilang seharian tanpa diketahui ke mana? Tidakkah ia khawatir pada Gakuto? Kenapa harus Hiyoshi yang memarahinya atas tindakannya, bukan ayahnya sendiri?
Kalau saja bukan karena ibundanya, Gakuto tidak akan tahan dengan semua ini.
Ya, ibundanya. Ibunda Gakuto, Ratu Yukimura sudah meninggal saat Gakuto masih berusia delapan tahun. Gakuto masih ingat, ibundanya selalu tersenyum kepada siapapun. Meskipun ayahnya hampir tidak punya waktu untuk mereka berdua, ibundanya tidak pernah mengeluh. Ia selalu mengatakan pada Gakuto agar Gakuto memaklumi ayahnya, karena bagaimanapun, ayahnya adalah raja, pemimpin negeri itu, dan mereka tidak boleh egois mengharapkan ayahanda selalu bersama-sama mereka. Tapi Gakuto tahu, ibundanyalah yang paling kesepian dibanding siapapun. Gakuto tahu, ibundanya sangat, sangat mencintai ayahanda. Gakuto tahu, tengah malam, ibundanya sering menangis karena kesepian. Kalau Gakuto menghampirinya, ibundanya selalu berusaha menutupi kesedihannya dengan berbagai alasan, dan ia akan membelai lembut kepala Gakuto dan mengatakan semuanya baik-baik saja.
Tapi Gakuto tahu, semuanya tidak baik-baik saja. Bahkan saat ibundanya sakit, Ayahanda jarang sekali menjenguknya, hampir tidak pernah. Bahkan saat... ibundanya meninggal, ayahanda yang saat itu sedang berkunjung ke negara lain, tidak berusaha untuk menemui istrinya di saat terakhirnya. Ia baru kembali dua hari setelah pemakamannya.
Gakuto ingat, sebelum meninggal, ibundanya berpesan untuk jangan pernah mengecewakan ayahandanya. Dengan suara yang begitu lemah dan wajah yang sangat pucat, ia masih berusaha untuk tersenyum, menenangkan Gakuto kecil yang menangis tersedu-sedu di sisi tempat tidur sang ibunda menjelang nafas terakhirnya. Bahkan ia menutup matanya dengan senyum kecil tetap tersungging di bibirnya, dan Gakuto ingat, bahwa ia terlihat sangat cantik, begitu cantik, hingga ia tak percaya bahwa sang ibunda sudah pergi meninggalkannya.
Gakuto ingat, bahkan sang ayah pun tak pernah terlihat mengunjungi makam ibundanya setelah kembali. Gakuto benar-benar sangat, sangat membenci ayahnya saat itu, tapi ia teringat pesan terakhir ibundanya, dan ia tak ingin ibunda kecewa melihatnya.
Karena itulah, ia tak pernah bisa membantah 'titah' ayahnya.
Padahal, Gakuto tahu, ibundanya memiliki kecantikan yang luar biasa, dan sudah banyak pangeran dari berbagai negeri yang melamarnya. Namun ayahandanya sekarang-lah, Atobe Keigo, satu-satunya pangeran yang lamarannya diterima oleh sang bunda. Kenapa ia harus menerimanya? Padahal tahu kalau sang ayah adalah pria yang sangat dingin? Padahal tahu kalau ia akan hidup menderita karenanya? Padahal kalau ia menerima lamaran pangeran lain, mungkin... mungkin saja, ia akan lebih bahagia.
Gakuto dan Hiyoshi tiba di depan pintu kamar Gakuto. "jya, Hiyoshi, aku mau istirahat, sampai besok, yah," ucap Gakuto lemah sambil membuka kenop pintunya. Hiyoshi maklum dengan atmosfer kelam yang tiba-tiba melanda Gakuto, dan memilih untuk menjawab dengan anggukan kecil dan mengucapkan selamat malam sebelum Gakuto menutup pintunya.
Gakuto menghempaskan tubuhnya ke atas tempat tidur dan menatap langit-langit dengan tatapan menerawang. Padahal, hari ini ia sangat bahagia, tapi perasaan itu langsung lenyap begitu ia mengingat ibundanya. Gakuto melirik pada foto di atas meja di samping tempat tidurnya. Di foto itu, sang ibunda sedang tersenyum bahagia, dengan Gakuto kecil yang masih berusia tiga tahun dalam gendongannya, dan ayahandanya berdiri di sampingnya, tersenyum, dengan senyum yang berbeda dengan yang Gakuto ingat. Dalam foto itu, sang ayahanda tersenyum dengan senyum yang... tulus. Gakuto tidak percaya ayahandanya bisa tersenyum seperti itu, tapi dari foto itulah Gakuto megetahui, kalau mungkin, ayahnya pun mencintai ibunda. Tapi Gakuto tidak pernah melihat ayahandanya tersenyum seperti dalam foto itu, tidak pernah.
Gakuto merasa kelopak matanya mulai terasa berat. Banyak yang terjadi hari ini, dan ia sudah merasa lelah. Dan dengan perlahan, matanya mulai tertutup...
aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa
Esok paginya, Gakuto dan Yuushi dipanggil oeh sang raja untuk menghadap. Gakuto mengernyitkan alisnya, bertanya-tanya dalam hatinya, ada perlu apa? Apa mungkin soal kemarin? Apakah ayahandanya akan memarahinya? Gakuto merasa bulu kuduknya merinding. Tapi Yuushi tersenyum padanya, seolah-olah mengetahui kegundahan hati Gakuto, dan berbisik lembut, 'tenanglah. Semua akan baik-baik saja.'
Mereka pun menghadap Atobe ke ruangannya. Dalam ruang kerjanya, sang ayahanda dikelilingi oleh tumpukan dokumen yang siap dibaca dan ditandatangani, sementara beberapa lembar dokumen di tangannya sedang dibacanya dengan cermat. Saat mendengar suara pintu diketuk, dan terdengar suara Gakuto, ia tersenyum dan menyuruhnya masuk.
Gakuto dan Yuushi memasuki ruangan, wajah Gakuto terlihat tegang dan kaku, sementara ekspresi Yuushi lebih tenang, namun Atobe bisa melihat kalau ia pun tidak kalah tegang dari Gakuto.
"A... ada perlu apa ayahanda memanggil kami?" tanya Gakuto terbata-bata, seolah-olah lidahnya terikat. Atobe terkekeh. Putera mahkotanya itu tidak pernah berubah.
"Kenapa kalian terlihat takut?" sebaris kalimat itulah yang pertama meluncur dari bibirnya. Gakuto tersentak. "Kalian tidak perlu terlihat takut seperti itu. Apakah kalian takut aku akan memarahi kalian karena peristiwa kaburnya kalian kemarin?"
Bola mata Gakuto terlihat membesar, dan ia menatap Atobe yang balik menatapnya dengan tatapan tajam, namun senyum aristokratnya tidak lepas dari bibirnya yang tipis. Terlihat salah tingkah, ia mengalihkan perhatiannya da menatap karpet seolah-olah itu adalah obyek yang sangat menarik, bibirnya terkunci, enggan mengatakan apa-apa.
"Memang, bohong kalau aku tidak ingin menegur kalian. Perbuatan kalian kemarin sangat riskan, kalian tidak tahu bahaya apa yang bisa menimpa kalian dengan tindakan ceroboh kalian tersebut. Aku tahu, sebagai pangeran yang selalu terkungkung dalam istana, kalian ingin mencicipi sedikit rasa yang berbeda dengan yang biasa kalian rasakan."
Gakuto terdiam, namun kali ini ia cukup berani untuk memandang wajah ayahandanya lagi. Raut wajahnya terlihat serius, senyumnya menghilang dari bibirnya.
"Tapi," lanjut Atobe, "perlu kalian ketahui yang kalian lakukan kemarin sangat ceroboh. Aku juga pernah berpikir ingin kabur waktu aku kecil, tap aku lebih berpikiran matang-matang sebelum melakukannya. Untuk kali ini, aku akan memaafkan kalian. Namun perlu kuingatkan bahwa tidak akan ada kesempatan kedua, kalian paham?" kali ini senyum kembali menghiasi bibirnya, namun dengan senyum yang cukup memberikan tekanan pada Gakuto, dan Gakuto yakin ia benar-benar akan berpikir dua kali sebelum melakukan tindakan semacamnya. Ia mengangguk kecil, tanda bahwa ia paham dengan yang disampaikan oleh Atobe.
"Kalau lain kali kalian ingin jalan-jalan keluar istana," tambahnya, "kalian boleh memakai baju biasa, dan tentu saja tetap akan diikuti beberapa pengawal, tapi mereka akan diperintahkan untuk tidak bertindak berlebihan dan memakai pakaian biasa juga, dengan begitu kalain tidak akan terlihat mencolok. Yah, kesempatan ini tak akan sering-sering kuberikan, tapi jangan meminta lebih dari ini. Dan, kalian akan diizinkan mengunjungi beberapa tempat yang sebelumnya tidak dizinkan untuk kalian kunjungi," ia melirik pada Gakuto, "tapi tetap, jangan mengunjungi tempat-tempat tersebut terlalu sering. Paham?" Gakuto tertegun.
"Gakuto," bisiknya, namun tetap dengan suara yang jelas terdengar, "apakah kunjungan Yuushi-kun mengganggumu?"
Gakuto tersentak, tidak menyangka ayahandanya akan bertanya hal seperti itu. Ia melirik pada Yuushi, yang sekarang tersenyum padanya. Gakuto kembali menoleh pada Atobe dan menggeleng. "Tdak, ayahanda. Aku senang bisa mendapatkan seorang teman," jawabnya mantap. Atobe mengangguk kecil, dan kembali pada dokumen-dokumennya, seolah-olah tidak peduli apaapun jawaban yang diberikan Gakuto. Ia memberi isyarat bahwa pembicaraan sudah selesai dan mereka boleh keluar dari ruangannya. Gakuto dan Yuushi berjalan melewati pintu dan menghela nafas lega setelah pintu yang memisahkan mereka dengan Atobe tersebut tertutup.
"Ayah yang baik, ya," kata Yuushi pelan sambil tersenyum. Gakuto menatap Yuushi dengan tatapan tidak percaya. "Kau menyindir, ya?"
Yuushi menggeleng, dan tersenyum, "aku serius," jawabnya, dan berlalu melewati Gakuto. Gakuto tidak bergeming. Tidak lama, Yuushi menoleh dan berkata, "Kamu mau diam saja di situ?"
Gakuto tersentak dan menyusul sosok Yuushi. Ia mengingat kata-kata yang barusan disampaikannya pada ayahandanya. 'aku senang bisa mendapatkan seorang teman'.
Ia sendiri tidak tahu kenapa ia mengatakan hal seperti itu. Gakuto akui, kesan pertama Yuushi baginya benar-benar jauh dari 'baik', tapi sejak peristiwa 'kabur' waktu itu, entah kenapa, ada sisi lain darinya yang baru ia ketahui. Benar, mungkin, Yuushi adalah orang pertama yang bisa disebutnya teman. Ia tersenyum. Benar juga kata Yuushi. Setidaknya, ayahanda sudah memberinya seorang 'teman'.
Dan ia pun menyusul Yuushi yang sudah jauh meninggalkannya.
To Be Continued
Yeah, chapter terpanjang dari tiga chapter sejauh ini. Hehe, sori yang ga suka sosk 'Yukimura' sebagi ibu Gakuto yang sudah meninggal, soalnya ku ga bisa dapet karakter laen yang imagenya cocok.
Tadinya aku sempat membuat Atobe terlalu lembut di sini, tapi nggak jadi, karena kesan Atibe di sini adalah ayah yang agak angkuh. Sebenarnya ia perhatian sama Gakuto walau Gakuto nggak nyadar, tapi aku juga ngga mau nunjukin 'kepedulian' Atobe tersebut terlalu gamblang. Oh ya, aku juga memutuskan Atobe ngga bakal pake 'ore-sama' di sini soalnya agak kampungan XD ;;dibachok rame2 sama fans Atobe;;
Terkahir tapi bukan yang paling akhri, thanks dah baca smapai sejauh ini. Buat yang baca, jangan segan-segan tekan tombol 'GO' di bawah itu, oke? review pendek juga ngga apa-apa, tapi review bener2 ambil andil besar dalam pembuatan fic ini. Thanks udah baca yah!
