Sore itu seperti biasa Hinata menyiram bunga lavender di rumah kaca. Kegiatan yang ia lakukan memang sama, namun ada yang berbeda sekarang. Tidak seperti dulu…
"Yo, Hinata."
"H-Hai'!" Hinata berbalik dan bersin sangat kuat, hingga sedikit ingus tertempel di wajah Uzumaki Naruto. Tanpa sengaja juga air dari penyiram tanaman terarah ke wajah Naruto sehingga ingus di wajahnya tadi hilang.
'Ini seperti mengatakan wajahku harus dibersihkan dengan ingus…' batin Naruto dengan wajah sweatdropped.
"G-gomen'nasai." Kata Hinata pelan. Naruto tertawa sambil mengelap sapu tangan yang sengaja ia bawa dari rumah. Dari rumah! Tentu saja…
'Dengan mengetahui kebiasaan Hinata yang selalu mendzahalimi wajahku, maka sapu tangan ini berguna untuk membersihkan wajah akibat perbuatan cewek itu,' Naruto mengacungkan jempolnya bangga.
"U-Uzumaki-san, itu…itu adalah lap kotor berbekas minyak."
"EH, KOK AKU BISA SALAH AMBIL?! INI KAN LAP KOMPOR KAA-CHAN!"
Ya…hal yang berbeda bagi Hinata sekarang adalah adanya sosok Uzumaki Naruto di klub berkebun.
Dia kini tidak lagi sendirian di klub tersebut.
LAVENDER
BY ICHA REN
Sebuah fic Romance-Humor untuk NaruHina
Rate: T
Warning: Yang pastinya Typo dan bahasa tidak baku
Please Review and Happy Read^_^
Chapter 3: Berkebun itu sama dengan cabut bulu ketiak, jika tidak berenang dengan kaki satu maka ada tangan di badan (Maddog: JUDUL MACAM APA INI?! APA YANG NGETIK SI STONER STANLEY?!, Stoner Stanley: Lu kira gue ngetik pake baygon apa?)
Bagai flash, pagi itu Naruto berlari cepat menuju kelasnya dan langsung melompat bak sun go kong di depan meja Sasuke. Tentu saja tujuan Naruto datang ke sekolah pagi itu adalah untuk,
"SAS, MINTA PR KEMARIN! AKU BELUM NGERJAIN SATU SOAL PUN."
Sasuke melirik ke belakang, memberi tanda bahwa PR-nya sedang dipinjam Hidan.
"Hidaaan! Kau ternyata belum ngerjain PR dari Anko-sensei?!"
"Ini karena diriku selalu berdoa kepada Jashin-sama setiap malam."
"Bilang saja kau memang malas mengerjakannya…" kata Naruto dengan wajah aku tahu kebiasaanmu pemuja sesat "Yang terpenting, jangan lama menyalin PR-nya dari buku Sasuke!"
"Tenang…jika kau berdoa kepada Jashin-sama pagi ini, maka PR-mu akan selesai dengan sendirinya."
"Ngomong ga jelas sekali lagi, gue tabok juga pakai majalah bokep pesanan Jiraiya-sensei." Kata Naruto dengan perempatan yang muncul di keningnya.
"SASYUKYEE! ANIKI MINTA PR KEMARIN! ANIKI BELUM MENGERJAKAN SECUIL SOAL PUN!" Itachi tiba-tiba muncul di kelas Sasuke lalu melompat ke arah cowok chicken-butt hairstyle itu dengan penuh hasrat. Sasuke mengaktifkan Mangenkyou Sharingan-nya dan membakar sang kakak dengan Amaterasu. Saking kesalnya, Sasuke lupa bahwa dia tidak sedang di Anime Sailor Moon (?) eh salah, di Anime Naruto.
"Mana mungkin Bakaniki, kau kan sudah kelas 3…" Sasuke yang sedang dipeluk oleh kakaknya semakin emosi ketika pipi Itachi bergesekan dengan pipinya. Para cewek di kelas memegang kamera dan ada lope-lope di kedua mata mereka.
"Kyaaaa Yaoi Incest, pasti seru nih."
"Yang Seme pasti Itachi ya."
"S-Sasuke-kun jadi Uke Tsundere tuh."
"Wah, Itachi-nii harus bersaing dengan Orochimaru untuk mendapatkan Sasuke."
"Tetapi Sasukenya lebih sayang Orochi daripada kakaknya."
"WOY SIAPA YANG NGOMONG SEMBARANGAN TADI!" teriak Sasuke gak terima karena dirinya dipasang-pasangkan dengan pembawa gaje Berita Tv Orochilaknatmaru. Bukan dirinya homo, tetapi masih mending dia dipasangkan dengan abangnya karena sesama Uchiha. Nah ini dipasangkan sama orang yang suka baca berita sambil kayang dan pakai rok mini, padahal bulu kakinya seperti hutan belantara Amazon. AMIT-AMIT! Teriak Sasuke di dalam hatinya.
Sementara Naruto dan Hidan mengulum menahan tawa, karena dua suara terakhir adalah suara mereka.
"Ada apa kau ke sini, Bakaniki?" tanya Sasuke sambil berusaha melepaskan pelukan erat Itachi.
Itachi melepas pelukannya dan memasang wajah serius. Dia melipat kedua tangannya di depan dada.
"Kau mau menggantikan Aniki menjadi pameran utama pria di klub drama minggu depan-"
"Tidak mau!" tolak Sasuke. Muncul setetes keringat di kening Itachi. 'Langsung ditolak!' batinnya dengan wajah sweatdropped.
"Baiklah. Tetapi minggu depan ada pertemuan Uchiha di rumah Kakek Madara. Tou-san dan Kaa-san sedang ada urusan bisnis super penting di Tokyo. Harus ada perwakilan satu orang dari keluarga kita dalam pertemuan Uchiha sejagat itu, kau mau menggantikan Aniki-mu untuk hadir di kediaman Kakek Madara?"
Sasuke membayangkan orang tua keriput dengan rambut panjang dan suka membawa sabit grim reaper itu. Jujur saja dia agak kurang menyukai dedemit Uchiha tersebut. Kakek Madara merupakan pemimpin Keluarga Uchiha se-Jepang. Selain kurang suka, Sasuke juga sedikit ngeri dengan Uchiha tua tersebut.
"Baik, aku yang akan menggantikanmu." Jawab Sasuke segera. Itachi kembali memeluk adiknya hingga Sasuke hampir tewas kehabisan nafas.
"Bye Bye Saskay." Kata Itachi sambil meninggalkan kelas dengan cara melambaikan tangan.
"NAMAKU CACU-EH SASUKE!" teriak Sasuke murka sehingga keceplosan bilang huruf "S" menjadi "C".
"Anikimu gokil juga ya Sas?" kata Hidan sambil menyerahkan PR Sasuke kepada Naruto.
"DIA SATU GENK DENGANMU UBAN LAKNAT!"
Sementara Naruto, dia menyalin PR Sasuke dengan kecepatan tinggi.
.
.
.
Bunyi bel istirahat menjadi suara surga bagi para murid KHS. Naruto yang lupa membawa bekal pagi ini karena terburu-buru untuk menyalin PR segera berjalan menuju kantin. Setelah membeli Roti Yakisoba, tanpa sengaja dia melihat Hinata yang menaiki tangga menuju atap sekolah. Naruto menaikkan alis kanannya sambil mengunyah roti dengan lahap.
"Yo Hinata-"
"Uzumaki-san!" Hinata berbalik dan hampir menjatuhkan bekalnya jika saja Naruto tidak memegang kedua tangannya. Jantung Hinata berdebar ketika kedua tangannya dipegang langsung oleh cowok yang baru dikenalnya.
"Ha-hat…"
"Jangan bersin! Oke oke…aku akan melepaskan tanganmu perlahan-lahan…" Naruto melepas pegangannya di kedua tangan Hinata dan mundur perlahan "Tenang…tahan napas," Naruto tersenyum melihat Hinata yang menutup mata, menarik napas dan menghembuskannya dengan tenang "Keluarkan. Yak yak sedikit lagi. Sedikit lagi…" kata Uzumaki itu seperti menuntun seorang wanita yang sedang melahirkan.
"Tenang…oke, santai Hinata." Naruto tersenyum puas ketika Hinata membuka matanya dengan wajah yang lebih santai, walaupun di kedua pipinya masih muncul warna kemerahan.
"Bagus, jika kau bersin maka bento-mu pasti terkena juga, jadinya-"
"HATSYUUUU!" Hinata bersin dengan sangat keras dan sedikit semburan bersin itu mengenai wajah serta Roti Yakisoba Naruto.
'Bento-nya memang selamat, tetapi wajah dan makan siangku akhirnya menjadi korban…'
Sabar ya Nar!
Akhirnya kedua siswa-siswi itu duduk di atap sekolah sambil Naruto nebeng menyantap bekal Hinata. Hinata makan dalam diam, menundukkan kepala dan tidak berani menoleh ke arah Naruto sedikitpun.
"Kau selalu makan sendirian di sini?"
Hinata menganggukkan kepala. Naruto mengambil seekor udang goreng dan melahapnya.
"Aku lihat kau berteman dengan si gadis pinky, siapa namanya?"
"Ji-jidat-chan."
"Eh Jidat?!"
"Bu-Bukaaaan!" Hinata mengangkat kepalanya dan memasang wajah cemas yang imut. Ada sedikit air mata di kedua mata indahnya. Jiwa "S" Hinata sedikit kelepasan "Namanya Sakura-chan, Haruno Sakura-chan."
"Hmmm…Sakura ya." Naruto memandang datar ke depan "Jadi ke mana Sakura temanmu itu?"
"Kami biasanya makan bento sama-sama di kelas. Tetapi ketika klub Voli memanggilnya karena sesuatu yang penting, aku lebih suka memakan bento di sini."
Naruto menoleh ke arah Hinata dan memandang gadis itu dengan tatapan penuh pemikiran. Kepalanya berpikir hingga berasap. Tidak sampai begitu juga kali-_-
Naruto berdiri lalu menepuk-nepuk pantat celananya.
"Ah, sore ini ada kegiatan klub Berkebun ya Hinata?"
Hinata sedikit terkejut dengan pertanyaan Naruto dan mengangkat kepalanya. Dia memandang Naruto sejenak lalu menganggukkan kepala.
"Hanya menyiram bunga, Uzumaki-san."
"Hehehe, walaupun menyiram, itu namanya kegiatan klub kan?" Naruto berjalan menuju pintu tangga yang menghubungkan atap sekolah dengan lantai tingkat tiga "Aku pergi dulu, ada sesuatu yang harus aku lakukan. Oh ya, karena kita satu klub, panggil saja aku Naruto."
Mata Hinata melebar. Dia memandang ke arah Naruto dan Uzumaki itu sudah berjalan menuruni tangga. Hinata memandang bento-nya. Jika dia makan sendirian pasti bento itu masih tersisa, bento-nya akan habis jika dia memakannya bersama Sakura.
Sekarang Bento itu juga kosong melompong, menandakan dirinya dan Naruto memakan bento itu bersama-sama seperti seorang teman.
"Na-Naruto ya…" gumam Hinata sambil tersenyum simpul.
.
.
.
Urusan yang Naruto maksud adalah memberikan majalan vokep kepada Dewa Vokep paling TerMezum dan Berhasil loloz dari Cydukan Police, sang Jiraiya-sensei. Jiraiya sebenarnya tidak bangga dengan julukan itu tapi mau bagaimana lagi, itu adalah keahliannya, bukan hanya keahlian, tetapi bakat!
"Bagaimana?"
"Edisi Unlimited. Aku harus membuat akun palsu di bank, melakukan inflamasi serta menegakkan Undang-Undang Dasar untuk membeli majalah ini." Jawab Naruto. Tidak juga segitunya kali Nar…
"Apa Oliver Khan bertemu dengan Presiden Zaire tadi pagi?" tanya Jiraya tidak nyambung.
"Karena motor David Harley ikut balapan F1 di MotoGp." Jawab Naruto makin tidak nyambung. Keduanya segera berganti topik ketika tahu Tsunade sudah berdiri di samping mereka dengan wajah penuh curiga. Untung saja Jiraiya dengan cepat memasukkan majalah bokep unlimited dari Naruto ke dalam celananya, celana dalam malah! Keamanan level 100 by Jiraiya.
"Apa yang kalian bicarakan?!" tanya Tsunade dengan nada penuh kecurigaan. Naruto dan Jiraiya saling berpandangan dan menjulurkan lidahnya sok imut.
"Tehee.." kata keduanya dengan nada imut.
GUBRAK! "Tidaaak nyambuuung!" teriak Tsunade sambil menghantam kepala Naruto dan Jiraiya ke meja. Sama saja kena tabok sang Kepsek. Setelah itu Tsunade memberikan surat persetujuan mengikuti klub kepada Naruto. Informasi sedikit, untuk masuk ke sebuah klub di KHS, ada 3 langkah utama yang harus dilakukan siswa-siswi di KHS. Pertama mengambil form pendaftaran dari OSIS, kedua menyerahkan Form pendaftaran kepada Kepsek, yang terakhir mendapatkan surat persetujuan dari Kepsek dan menunjukkan surat persetujuan itu kepada Ketua Klub. Naruto mengambil surat persetujuan tersebut dan mengucapkan terima kasih.
"Oh ya Naruto, kenapa kau ingin masuk ke Klub Berkebun? Aku lihat anggota yang ada di Klub itu hanya Hyuuga Hinata."
Naruto menggulung surat persetujuan tersebut lalu memasukkannya ke celana, celana dalam malah! Keamanan level 1000 by Naruto. Tsunade berjingit terkejut dengan kelakukan Naruto.
"Tidak ada alasan khusus, hanya saja aku kasihan melihat seorang wanita menyiram bunga sendirian." Ucap Uzumaki itu dengan efek cahaya ala Manga Shoujo, bulu mata Naruto tiba-tiba lentik dan wajahnya berubah menjadi Pangeran dari Negeri Dongeng.
'Tidak cocok…' batin Tsunade dan Jiraiya karena Naruto mengatakannya sambil berusaha memasukkan gulungan surat persetujuan itu ke celana belakangnya. "Nyangkut eh…eh…Jiraiya-sensei, bagaimana caramu memasukkan buku vokep itu ke celana dalammu tadi-" mata Naruto melebar kaget. Tolol! Celaka…
Dia kelepasan…
"Naruto…" Jiraiya menepuk pundak anak muridnya dan tersenyum sedih "Hidup itu indah ya…"
Dan kepala Jiraiya terbenam di lantai ruangan saat itu juga.
Tsunade mengepalkan tangannya dengan murka. Perempatan muncul di dadanya. Saat dia menoleh ke arah Naruto, berandalan kuning itu sudah hilang. Wajah Tsunade terlihat berpikir, dan yang dipikirkannya adalah kata-kata Naruto tadi.
.
.
.
Bel pulang sekolah berbunyi. Saat itu Hinata dan Sakura baru keluar dari kelas 2-3. Bagi murid-murid, pulang sekolah merupakan waktu yang menyenangkan setelah istirahat. Murid-murid yang ingin beristirahat akan langsung pulang ke rumah, sedangkan murid yang masih mempunyai kegiatan klub pasti lebih dulu ke ruangan klub-nya.
"Ne ne Hinata, setelah ini kau ada kegiatan?" tanya Sakura dengan nada bersemangat. Hinata yang sedang memeluk buku memandang ke atas dan berpikir, sangat imut.
"Aku…aku harus ke rumah kaca dulu untuk menyiram bunga-bunga di sana."
"Wah, boleh aku ikut?"
"Tidak boleh jidat-chan."
"Heee…" Sakura memasang wajah tak percaya "Sudah menolakku, kau mengejekku lagi Hinata. Dasar Sadis."
Hinata tertawa kecil. Dia menggelengkan kepalanya "Tentu saja kau boleh ikut, Sakura-"
"Sakuraaaaaaaaaa!"
Sakura dan Hinata menoleh ke depan ketika Deidara, anak kelas 2-2, melompat ke arah mereka bak sun go kong. (Sun go kong: Owe lagi owe lagi…). Di belakang Dei berlari Sasori (yang bertubuh cebol) dengan kecepatan tinggi.
"DEIDARAAAAAA!" Sasori sampai di depan Dei dan siap menabok kepala pirang junior-nya tersebut "DAN JANGAN DESKRIPSIKAN AKU DENGAN CEBOL, NARATOR SIALAN! AKU MASIH STANDAR UNTUK UKURAN ORANG ASIA!" kata Sasori sambil menunjuk ke arah kamera, eh kamera?
"Sakuraaaa, tolong akuuuu!" kata Dei sambil memegang bahu Sakura dan mengguncang-guncangnya hingga gadis pinky itu mabuk. Hinata yang melihat Sakura kesusahan, jiwa "S"nya tiba-tiba menggelora.
"Te-tenang Dei-chan. Ada apa? Moou, lepaskan aku dulu!" Sakura berusaha menjauhkan tubuhnya dari Dei, tetapi Deidara tetap mengguncangnya dengan panik.
"LEPASKAN AKU SHANNAROO!" teriak Sakura sambil menabok kepala Dei dengan gaya smash pemain voli. Sasori memasang wajah Poker. Setidaknya ada yang menabok kepala Deidara walaupun bukan dirinya.
"Ada apa?! Ceritakan dengan benar!" kata Sakura sambil melipat kedua tangannya, raut wajah cewek berambut merah muda itu terlihat kesal. Ada rona merah kekesalan di pipinya.
"Kakekku Oonoki meminta tolong untuk membersihkan kuil di Iwa sebagai persiapan Festival Bunga Sakura minggu depan. Ji-jika aku menolaknya, maka kakek cebol itu bilang akan menghantuiku selamanya jika ia mati hiii~, tolong aku Sakura. Minggu depan ada drama panggung kami dan aku menjadi pameran wanitanya, hari itu bertepatan dengan hari aku membersihkan kuil. A-aku minta tolong kau menggantikanku."
"Hanya ancaman seperti itu bisa membuatmu takut?!" Sakura menunjuk wajah Dei tidak terima. Deidara mengangguk sedih. Di kedua pipinya mengalir air terjun.
"Dan aku paling tidak terima dia menyamakan tinggiku dengan tinggi kakek cebolnya." Kata Sasori dengan suara datar.
"KARENA ITU KAU MARAH?!" teriak Sakura lagi sambil memegang kepala pinky-nya.
"To-tolonglah Sakura…hari ini ada latihan tetapi aku harus pulang ke rumah untuk menyiapkan barang kuil di Iwa," Dei menangkupkan kedua telapak tangannya, tanda memohon belas kasihan. Sakura dan Dei adalah sahabat sejak kecil. Sebelum bertemu Hinata di KHS, Sakura selalu nempel dengan Deidara karena belum ada orang yang ia kenal di sekolah ini. Maklum, Sakura dulunya berasal dari Kota Iwa. Setelah kenal Hinata dan Dei masuk ke genk absurd bernama Akatsuki, interaksi keduanya menjadi lebih jarang.
"Hai' hai'…aku akan membantumu…" Sakura mengibaskan tangannya dengan malas. Mata Dei berbinar.
"Hontou?"
"Yaa…"
"Benarkah? Benar? Benar benar?"
"Sekali lagi kau bertanya, aku berubah pikiran!"
"Whoaaaaa, arigatou Sakuraaa! Akan kutraktir kau makan crepes besoknya!" kata Deidara sambil mengguncang Sakura lagi. Sakura menabok Dei lagi karena guncangannya membuat kepala Sakura pusing.
Sasori menghela napas dan menggeleng kepala pelan. "Haruno Sakura, jika kau bersedia mengganti Deidara…klub kami sangat senang. Namun kau harus bersedia mengikuti latihan rutin agar pertunjukan kita minggu depan dapat berjalan dengan baik. Sepulang sekolah ada latihan ketiga, kau harus mengikutinya. Tidak keberatan bukan?"
Sakura melirik ke arah Hinata dengan rasa tak nyaman. Hinata yang memandang kecewa ke bawah segera memasang senyuman.
"Tidak apa-apa Ji-eh Sakura-chan. Aku baik-baik saja kok…"
Sakura memasang wajah sedih "Maafkan aku Hinata. Aku akan segera ke rumah kaca jika kau belum pulang dari sana."
"Ya. Aku tahu kau memang suka membantu, jadinya gadis sepertimu tidak dapat menolak permintaan orang lain. Apa kau "M"?"
"Hinata…" setetes keringat muncul di kening Sakura "…Pembicaraanmu agak menyimpang."
Hinata berjalan melewati ketiganya dan melambaikan tangan "A-aku ke rumah kaca dulu ya. Bunga-bunga di sana tidak bisa menunggu lebih lama. Ja-jaa…"
"Siapa dia?" tanya Sasori sambil melipat kedua tangannya. Sakura memandang punggung Hinata dengan pikiran bahwa dia harus cepat menyelesaikan latihan hari ini.
"Temanku." Jawab Sakura.
.
.
.
Hinata menyiram bunga-bunga lavendernya dalam diam. Dia merasa kesepian lagi. Sakura selalu dibutuhkan orang lain sehingga dirinya berada dalam kesendirian. Hanya Sakura yang mau repot-repot berteman dengannya. Banyak sekali teman-teman sekelas yang mengacau dirinya, apalagi para wanita-wanita sialan itu! Para gadis di kelasnya suka mengacau, membuat onar, mengganggu loker sepatunya bahkan suka menyembunyikan barangnya! Hinata sebenarnya ingin menyiksa mereka dengan cambuk jika di KHS diperbolehkan membawa cambuk. Ya tapi tak mungkin sih…
Hinata menghela napas dan memandang tanaman lavender tersebut. ada ketenangan ketika dia melihat bunga berbau harum itu.
"Jadi cewek pemalu dan aneh ini suka berada di sini sepulang sekolah ya?"
Hinata menoleh ke belakang. Dia sedikit terkejut tiga cewek yang selalu mengganggunya di kelas beada di rumah kaca.
"Ooy Hyuuga. Kenapa?! Jangan memandang kami seperti itu…kau pikir siapa hee?!"
"Hey, lihat bunga ini. Cantik…" salah seorang dari tiga cewek itu memegang bunga lavender Hinata. Mata Hinata sedikit melebar.
"Ja-Jangan sentuh!"
"Hee?! Apaa?! Kau memerintahku?!" cewek yang memegang bunga lavender tadi langsung menjambak rambut Hinata "Kenapa nada suaramu terdengar memerintah, cewek aneh?!"
'Jika saja jiwa "S"-ku lebih berani untuk keluar. Ji-jika saja Sakura-chan ada di sini untuk menghajar mereka…' Hinata berusaha memandang tajam cewek yang menjambak rambutnya.
"Ooy, apa-apaan tatapanmu itu?!" kata cewek lainnya. Dia dan kedua temannya mengerubungi Hinata "Kau sedikit menakutkan ya? Hahahahaha…" ketiganya tertawa.
"Lavender yang kau rawat memang cantik, sayang yang merawatnya begitu jelek! Akan kami bandingkan bahwa bunga ini lebih bagus daripada dirimu Hyuuga Hina-"
"Oy, lepaskan."
Ketiganya langsung menoleh kaget ke belakang ketika mendengar suara cowok yang menyuruh mereka melepaskan Hinata. Uzumaki Naruto berdiri tegak dengan kedua tangan yang dimasukkan ke saku celananya. Mata birunya menatap tiga cewek itu dengan hina.
"I-itu Uzumaki Naruto!"
"Berandalan sekolah yang sering keluar masuk ruangan guru BK!"
'Padahal aku sering keluar-masuk karena pesanan majalah vokep Jiraiya-sensei…' batin Naruto yantg tidak terima salah satu teriakkan para gadis tersebut.
"A-ayo…" kata cewek satunya dan ketiganya berlari meninggalkan Naruto dan Hinata. Uzumaki berambut pirang itu menghela napas dan menanyakan keadaan Hinata.
"Kau tidak apa-apa kan?"
Hinata menganggukkan kepala.
"Hmmm…untung saja mereka tidak merusak bungamu-ttebayo. Kau harus lebih aktif." Naruto mengambil alat penyiram bunga dan menyiram bunga lavender di hadapannya "Kau sering bermasalah dengan mereka di kelas?"
Hinata kembali menganggukkan kepala. Naruto menaikkan alisnya dan fokus untuk menyiram bunga lavender tersebut.
"Ji-jika ada Sakura-chan, mereka tidak berani mengacau."
"Hm?" Naruto melirik ke arah Hinata. Sakura-chan ya…si gadis pinky. "Kau harus lebih berani berbicara, jika kau diam seperti rumput yang salto belakang (?) seperti tadi, lebih baik kau tidak menjadi manusia saja."
Hinata sedikit kaget dengan perkataan Naruto. Dipandangnya Uzumaki berambut pirang itu. Walaupun kurang mengerti di bagian Rumput Yang Salto Belakang, tetapi Hinata merasa Naruto mengetuk sedikit hatinya.
"A-arigatou atas nasihatnya."
Naruto tidak menjawab. Matanya fokus kepada bunga lavender yang ia siram. Semalam Naruto sudah membaca semua buku tentang bercocok tanam, bunga, tumbuhan, biologi, etnobotani, hingga sedikit buku vokep untuk menguasai ilmu perkebunan. Hasilnya memuaskan, Naruto sedikit mengerti kenapa lavender yang sudah berbunga harus rutin disiram.
Karena fokus ke lavendernya, tanpa Naruto sadari wajah gadis bermata amethyst di sampingnya sedikit memerah.
Keduanya menyiram serta merawat semua tanaman yang ada di rumah kaca hampir selama sejam lebih. Di sana Naruto banyak dapat ilmu tambahan tentang penanaman tumbuhan, perkebunan maupun perawatan tanaman dari Hinata. Naruto tak menyangka Hinata jago di bidang ini walaupun suka bersin-bersin tak jelas.
"Dari mana kau tahu bahwa bunga matahari yang besar ini adalah bunga steril?!" tanya Naruto penuh rasa penasaran.
"Ya…aku mempelajarinya dari Tou-sama. Tou-sama punya dua perusahaan yang diurusnya. Satu adalah perusahaan tekstil dan satunya lagi perusahaan pertanian. Selain berdagang, Tou-sama sangat jago bercocok tanam."
"Pasti bangga mempunyai ayah seperti itu," kata Naruto sambil membayangkan ayahnya yang sering tersenyum gaje dan berkata "Hidup itu indah."
Hinata terdiam dan menundukkan kepalanya. Tangannya yang sedang menekan-nekan tanah pada pot untuk tanaman kumis kucing muda berhenti sejenak. Naruto memiringkan kepalanya karena melihat kesedihan di wajah gadis Hyuuga tersebut.
"Ada apa Hinata?"
Hinata menggelengkan kepalanya dan langsung tersenyum.
"Ti-tidak apa-apa…Hatsyuuuu!" tanpa sengaja Hinata bersin di samping Naruto karena wajah cowok itu terlalu dekat. Naruto memasang wajah sweatdropped lagi karena ada ingus yang menempel di dahinya.
.
.
.
Di Panggung Klub Drama, di Gedung Selatan KHS
Sakura sedikit muak dengan salah satu scene di naskah drama ini. Pameran utama pria memegang pipi pameran utama wanita (Sakura) kemudian pameran utama pria melingkarkan tangan kirinya ke pinggang pameran utama wanita (Sakura). Wajah keduanya mendekat dan saling bertatapan dengan intens.
'Pasti yang menuli naskah si ketua klub ini,' Sakura memandang tajam Pein. Siapa tidak kenal Pein? Ketua klub drama, pemimpin genk madesu Akatsuki dan salah satu berandalan seperti Naruto. Kata "Hentai bin Mesum" juga melekat pada cowok berpierching ini. Sakura berjalan mendekati Pein karena ada pertanyaan yang ingin ia ajukan.
"Pein-san,"
"Oh Haruno-san…apa ada scene yang tidak kau mengerti?"
Sakura menunjuk naskah drama dan bertanya "Siapa yang menjadi pameran utama pria-nya?!"
Pein memasang wajah terkejut kemudian tersenyum "Ooh…yang memerankannya adalah-"
"Maaf aku terlambat, Aniki-ku memberi nasihat panjang lebar supaya serius menjadi pameran utama pria di drama minggu depan. Latihan belum dimulai kan?"
Sakura jelas kaget mendengar suara cowok yang dikenalnya. Dia menoleh dengan kaku ke belakang.
"Ya, kami menunggumu Sasuke…" ucap Kisame yang berjalan di samping Sasuke dengan seringaian hiu menakutkan.
"Yap. Pameran utama pria kita baru datang," kata Pein dengan nada senang "Nah…ini yang akan menjadi lawan main-mu, Haruno-san. Dia menggantikan abangnya Itachi. Kau tahu kan Duta KHS yang terkenal, yakni Uchiha Sasuke?"
Tidak.
Tidak.
"TIDAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAK!" teriak Sakura sehingga membuat Deidara yang sedang memasukkan bajunya untuk pergi ke kuil merasa ditimpa dosa besar.
"Ah…masa bodoh." Kata Dei lalu memasukkan pakaiannya lagi ke koper.
TBC
Poor Cakura.
Bagaimana bagaimana, adegan NaruHina-nya masih kurang kah? Pasti masih kurang. Lagipula perasaan Naru ke Hinata sepertinya belum ada dan Hinata baru 'terketuk' sedikit hatinya karena kebaikan Naruto. Kenapa Naruto mau masuk klub berkebum? Ya karakter Naruto seperti badboy yang sebenarnya memiliki hati baik gitu? Kurang lebih seperti Yamada-kun di Anime Yamada-kun dan 7 penyihir, si Yamada kan dikenal preman sekolah, tetapi jika ada sesuatu yang ia anggap buruk terhadap orang lain, maka dia akan membantunya.
Makasih masukan dari Riku-san ya, gaya nulis Icha memang begitu mwehehehe (ni anak dibilangin bukan merasa salah tapi ngeyel), yah…Icha agak kurangin dikit selipan-selipan dari Authornya agar Readers dapat membaca dengan nyaman, tetapi jika ada beberapa scene yang masih diselipin note author, itu murni untuk humor.
Untuk request Aoda-san akan Icha buat chapter depan kali, terutama permintaan Fanservice Orochi, uowowowow…akan Icha tampilkan spesial untuk anda hahahaha
Yap, untuk Lavender memang sedikit lebih "Kalem" karena Icha merasa sudah lebih dewasa dari 3 tahun yang lalu (HUAHAHAHAH, SOK DEWASA LU CHA!) Hyahahaha, mungkin karena masih baru atau apa ya…tetapi Icha harap fic ini tetap menghibur kok. Jadi rencana Icha memang mau buat fic ini menjadi cerita Romance-Comedy Daily Life School. Yaa tahu kan genre tersebut, tapi pasti tujuannya adalah "Matahari itu harus memekarkan Lavender dengan indah" (Mengacungkan jempol bersama Boruto)
Ditunggu ya reviewnya, dan…Ciao!
