This Fic I Dedicated For My Readers. All of You

The Hunters

Nurama Nurmala©2012

Adventure, Fantasy

Warning : OOC, Typo(s), AU

Inspirational Thing : One Piece, Hunter x Hunter

The Hunters in 3rd Episode is Totally Reserved


Episode sebelumnya…

Min memandang Ken tanpa berkedip. Setelah itu ia mengambil anak panah Ken, dan menyayatkannya pada tangannya sendiri. "Minumlah," ia menyodorkan tangannya pada Ken. "Kalau darahku bisa menyelamatkan kalian, aku mohon, minumlah."

Tanpa kata-kata, Ken dan Bakama beringsut mendekati Min. Lalu secara bergantian menghisap darah Min dalam diam.

SRRAAAAKKKKKK!

Seketika, hutan dan seisinya menjerit—serempak; angin berembus dengan ganas, dedaunan menggila, binatang mengaum ke arah bulan, air tiba-tiba mengalir cepat dan membentuk pusaran, dan tanah bergetar dasyat.

Ken dan Bakama… kini berlutut di hadapan Min.

"Perjanjian… telah dibuat," Ken berucap.

"Kami akan mengabdikan seluruh hidup kami kepada Tuan kami," kali ini berganti Ken yang mengikrarkan janji.

Jantung Min berdegup cepat sekali. Tak mengerti mengapa Ken dan Bakama bisa pulih begitu cepat, tak mengerti mengapa tangan birunya yang terkena racun kini telah ternetralkan, tak mengerti dengan semua yang sedang terjadi.

"Kami adalah Guard Anda."


The Hunters

3rd Episode

"Jadi monster banteng dan badak itu bisa terlihat oleh manusia lainnya?" Ken mengangguk menanggapi pertanyaan Min. "Aku kira… cuma aku yang bisa melihatnya, sama seperti aku melihat kalian," ia menggaruk pelipisnya pelan.

Untuk menghormati kematian Zack yang sengaja dikorbankan untuknya, maka Min, Ken dan Bakama mengumpulkan bebatuan sungai dan beberapa kuntum bunga dari hutan. Mereka melakukannya semalaman; memberikan diri sendiri waktu, untuk melepaskan Zack.

Saat semuanya selesai, mereka mendoakan Zack sejenak, lalu membuat api unggun tak jauh dari makam Zack berada.

"Monster yang telah mengikat perjanjian dengan seseorang dari dunia manusia, tubuhnya akan terlihat oleh mata manusia biasa dan mereka akan bisa keluar pada siang hari, tak ubahnya seperti manusia biasa."

"Oh…" Min mengangguk paham. "Ah!" ia memekik kaget. "Benar juga, kedua monster itu bisa keluar pada siang hari dan membantu kakek tua itu bertempur," kali ini Bakama yang mengangguk. "Jadi… saat ini kalian adalah Guard-ku?"

"Ya."

"Apa perjanjian ini bisa batal?"

"Bisa," Min kaget juga mendengar jawaban Ken yang to the point.

"Bagaimana caranya?" tanya Min penasaran. Kedua maniknya bergerak-gerak lincah.

Srrreeettt!

Jari telunjuk Ken melayang menuju Min, "Dengan membunuhmu."

"A-apa?"

"Kalau kau terbunuh, dengan sendirinya, tubuh kami akan menjadi api, dan kami juga akan mati. Maka seketika itu juga perjanjian kita batal."

GLEK!

Min hanya bisa terdiam mendengar penjelasan Ken; gugup.

"Dengan kata lain… kalian akan menyertaiku sampai aku mati?" Ken memejamkan iris emasnya, lalu mengangguk takzim.

"Kami juga hanya melayani satu pimpinan saja," kali ini Bakama yang berbicara. "dari sekarang sampai kami mati, Tuan kami hanya kau, Min si manusia."

Iris merah itu kini menatap golekan api dengan pandangan serius. Menurut apa yang disampaikan Ken, U-Know telah dibawa pergi oleh pak Tua Shaggy—yang entah dibawa kemana. Satu-satunya yang ingin ia lakukan sekarang adalah menyelamatkan U-Know, lalu hidup bersama-sama lagi. Hanya itu.

"Ken, Bakama," suara kecilnya kini begetar penuh ambisi. "Kalian bilang, kalian akan selalu menyertaiku 'kan?"

Ken dan Bakama saling berpandangan, lalu tak lama mereka pun memberi jawaban. "Ya."

"Jika aku menempuh bahaya, apa kalian tak keberatan?"

"Kami akan melindungi Tuan kami."

"Jika aku berbuat bodoh, kalian akan kesal?"

"Kami akan mengikutimu kemanapun kau pergi."

"Dan jika aku… ingin pergi menyelamatkan U-Know…" ia sedikit memberi jeda. "kalian akan ikut?"

Sejenak Ken dan Bakama kembali saling berpandangan dengan tatapan heran. Lalu, tak lama kemudian, mereka berdua pun menyungging senyum. "Tentu kami akan ikut!"


The Hunters

3rd Episode

Sepuluh tahun kemudian….

"Kau tidak bisa menyelamatkan U-Know dengan dirimu yang sekarang, Min."

"Ya, kau hanya akan membayahakan dirimu sendiri."

"Di luaran sana, banyak sekali manusia-manusia keji bertebaran. Dan yang menjadikan hal itu sangat menyebalkan adalah kenyataan bahwa mereka itu sangat kuat."

"Kau melihat sendiri, bahwa Zack yang sangat kuat pun tak bisa mengalahkan Old Man : Shaggy the Shadow dan Mondas Ishilk. Kau… harus lebih kuat dari mereka!"

"Hahahaha… sudah sepuluh tahun sejak kita mengatakan hal itu pada Min."

"Ya," Ken mananggapi. "Dan tak kusangka, perkembangannya malah menjadi sejauh ini."

Mereka berdua; Ken dan Bakama tengah terduduk di bawah sebuah pohon yang sangat besar. Bakama kembali menenggak sake yang ada di botolnya entah untuk yang keberapa puluh kali hari ini, sedangkan Ken mengedarkan iris emasnya menuju surat kabar yang baru saja ia dapatkan pagi ini dari Scova Village.

Angin masih berembus damai, riak air bermain secara beraturan dan dedaunan bermanja-manja pada setiap bisikan angin dan terpaan sinar matahari.

Tep…

Tep…

Tep…

Dari kejauhan, tiba-tiba terdengar suara jejak kaki perlahan.

"Ah, dia sudah kembali rupanya," racau Bakama di tengah tenggakkannya yang sudah tak terhitung. Ken segera mengalihkan pandangannya ke arah pemuda yang baru saja datang dari balik hutan menuju mereka yang menunggu di bibir danau.

"Tumben kau kembali secepat ini, Min."

Sosok berambut panjang sepanjang paha itu pun memamerkan gigi-gigi putihnya. "Ihihihi… mereka semua langsung mengaku kalah."

Sosok itu pun beranjak dari tempatnya berdiri menuju pohon tempat beruang dan elang raksasa itu berteduh. "Apa di surat kabar yang kau bawa ada berita tentang U-Know, Ken?" Ken menoleh kepada Min, lalu menyodorkan surat kabar yang baru saja ia baca.

Sudah sepuluh tahun lamanya Min menahan pertemuan dengan U-Know, itu semua karena permintaan Ken. Ken minta agar Min melatih diri dulu agar siap menghadapi keganasan dunia luar. Lalu, ketika ia telah siap, maka ia boleh mencari U-Know. Dan Min menyanggupinya. Ia tahu konsekuensinya, ia tidak takut, ia hanya tidak ingin mati konyol karena tidak mempersiapkan apa-apa untuk petualangannya.

Namun, ada sebuah kejadian lain yang membuat ketiga orang itu tersentak kaget. Yaitu… Ken yang pada awalnya hanya ingin mengentaskan keingintahuannya (Ken adalah seekor burung elang yang senang mengikuti perkembangan dunia dari membaca surat kabar), malah menemukan berita tentang U-Know di surat kabar yang diterbitkan pemerintah secara resmi.

Saat U-Know muncul di surat kabar, usianya barulah mencapai 14 tahun. Ia diberitakan telah menjadi Bounty Hunter (sebuah profesi di mana Hunter memburu Hunter lain yang telah memiliki harga buruan) dan berhasil menangkap seorang Poisson Hunter (Hunter yang memburu racun-racun berbahaya termasuk limbah kimiawi dari perusahaan pemerintah) yang berharga 5.000.000 Luey; Assopha ga Shamir. Saat membaca surat kabar tersebut… Ken langsung tahu bahwa U-Know telah bebas dari Pak Tua Shaggy.

Min yang baru 10 tahun saat itu bingung dengan berita yang dibacanya.

Maksudnya, jika U-Know telah berhasil lolos dari Pak Tua Shaggy, kenapa U-Know tidak lekas kembali ke pulau Crova? Ke desa Momoko? Ke tempat Min berada?

Kebingungan itu lalu dijawab oleh Ken.

Pulau Crova; tempat desa Momoko berada ternyata dilindungi oleh sebuah medan kekuatan yang berasal dari dunia monster; Retrieve the Death. Mantra itu melindungi pulau dan menolak semua pihak yang ingin memasuki pulau Crova. Jika ia manusia, maka manusia itu akan langsung meledak di perbatasan pulau, yaitu setengah kilometer dari pantai Crova. Satu-satunya yang bisa memasuki pulau adalah dengan membuka gerbangnya lewat dua titik; udara dan utara pulau oleh minimal dua monster yang punya kekuatan besar. Namun, monster-monster itu pun tidak akan hidup lama setelah menginjakkan kakinya di Crova. Empat jam keberadaannya di pulau Crova akan membuat mereka mati dengan luka biru lebam di seluruh tubuh mereka.

Jadi, jawaban dari kebingungan Min adalah… bukan U-Know yang tak ingin kembali. Namun U-Know yang tak bisa kembali.

Bakama menambahkan, mungkin alasan U-Know menjadi Bounty Hunter adalah untuk mencari tahu jalan masuk ke pulau Crova dan juga salah satu cara bertahan hidup di dunia yang berbahaya.

Ya, kalau dipikir-pikir, memang itulah satu-satunya jalan agar U-Know bisa kembali. Dengan mencari seorang Hunter lain yang punya akses atau informasi dengan dunia monster, lalu menggunakan monster milik seorang Grogocontrol dan menerobos pertahanan pulau ini agar bisa menemui Min.

Tapi… bagaimanakah reaksi Min saat mendengar itu?

Dia…

Menangis.

"Aku sangat bersyukur bahwa U-Know baik-baik saja… aku sangat bersyukur, ia baik-baik saja," itulah yang ia katakan selama seharian penuh sambil memeluk surat kabar erat-erat di dadanya. Sedangkan saat itu mukanya bengkak dan tangannya penuh sayatan benda tajam. Ia tengah melakukan latihan bersama Bakama kala itu.

Dan ketika Ken bertanya mengenai apa yang akan dilakukan Min setelah mengetahui keadaan U-Know, dengan mata berbinar penuh harapan dan dengan surat kabar yang masih erat dalam dekapannya ia berkata, "Kalau U-Know tidak bisa menemui kita, kita saja yang pergi menemui dia!"

Ken dan Bakama… kembali saling berpandangan, lalu menukar senyum maklum. Ya, memang seperti itulah Min kita.

"Oi, Min," panggilan dari suara berat itu membuyarkan lamunan Ken. "Dengan rambut sepanjang itu, kau jadi seperti anak perempuan saja, kau tidak ingin memotongnya?"

"Ini?" Min memegangi rambut hitam lurusnya yang tertiup semilir angin dari selatan, lalu ia kembali melayangkan tawa pertentangan. "Ini adalah sebuah tanda," ia lalu mengulum senyum.

Ya, setelah kepergian Zack dan menghilangnya U-Know, Min tidak pernah memotong rambutnya lagi. Selama sepuluh tahun. Itu menjadi semacam pengingat, tentang sudah berapa lama peristiwa itu terjadi, dan sudah berapa lama Min menunggu di pulau Crova.

"Di tambah tubuhmu yang pendek, kau makin mirip wanita Min," tawa Bakama langsung menggelegar setelah melontarkan celotehan itu. Namun Min kita yang baik hati, malah ikut tertawa dengan Bakama.

"Kau juga, dengan tubuh sebesar ini kau malah mirip beruang raksasa, hahaha…."

"Bodoh, aku memang beruang raksasa! Hahaha…" Ken tersenyum memandang dua orang bodoh yang tengah bertukar canda.


The Hunters

3rd Episode

"Kau sudah siap, Min?" Min mengangguk pasti. Hari ini, ia akan pergi meninggalkan pulau Crova.

Sepuluh tahun yang lalu, ada sekelompok Hunter yang membantai penduduk Momoko Village, namun, berkat perjuangan Min dan U-Know, beberapa anak yang saat itu seharusnya mati malah terselamatkan. Dan berkat pengorbanan Zack; seseorang yang asing di antara mereka, maka nyawa penduduk Momoko yang tersisa mendapatkan pengampunan dari si pembantai.

Setelah kejadian itu Min jadi semakin dekat dengan para penduduk Momoko Village, terlebih ketika mereka mengetahui bahwa U-Know; satu-satunya orang yang sangat dekat dengan Min telah diculik oleh para Hunter, mereka jadi menyayangi Min seperti anak dan saudara mereka sendiri.

"Sudah sepuluh tahun ya, Ken, Bakama," seorang kakek tua memisahkan diri dari kumpulan penduduk yang hendak mengantarkan kepergian Min. Ken dan Bakama lantas menoleh ke arah pria tua itu. Dia adalah Georgeus Shakky, kepala desa Momoko. "Kalian sudah menjadi bagian dari desa ini, sangat disayangkan kalian akan pergi dari pulau ini," ya, wujud Ken dan Bakama memang sudah bisa diekspos oleh mata orang-orang awam setelah melakukan perjanjian dengan Min. Di tengah suasana haru yang melingkupi desa itu sepuluh tahun yang lalu, Min tiba-tiba kembali ke desa dengan dikawal dua makhluk raksasa di samping kiri dan kanannya. Separuh dari penduduk yang selamat langsung masuk ke rumah dan menutup rapat-rapat pintu rumah mereka, sedangkan segelintir orang yang berani mengokang senjata dan mengajak mereka bicara.

Menanggapi reaksi penduduk yang dilimbungi perasaan bingung, Min hanya tersenyum dan memperkenalkan Ken dan Bakama sebagai temannya. Temannya. Teman? Ken dan Bakama awalnya tersentak ketika mendengar penuturan Min tentang diri mereka. Selama ini mereka dikenal dengan sebutan monster, alat perang, makhluk menjijikan, makhluk menyeramkan dan sebuah ancaman. Namun, anak 6 tahun yang masih polos itu malah memperkenalkan dua senjata bertempur itu sebagai teman?

Min kita memang baik.

Senyum haru selalu tertuju padamu, Min yang tersayang.

"Ya, kami akan sangat merindukan desa ini," dengan tawanya yang khas, Bakama menanggapi ucapan kepala desa dengan sebuah kalimat ringan, namun tentu sarat akan makna.

"Kami juga akan sangat merindukan kalian…" seorang anak kecil berlari mendekati Bakama lalu memeluk sebelah kakinya yang tetap kebesaran dengan erat.

"Chris…" dengan tangan kanannya yang berukuran 10 kali lipat dari tangan orang dewasa, Bakama mengeratkan pelukannya pada gadis mungil itu. "Kau harus jaga diri baik-baik," Chris mengangguk, lalu larut dalam tangis. Min hanya bisa melihat adegan itu.

"Kau tidak sedih Min?" Min menggelengkan kepalanya; menjawab pertanyaan Ken.

"Setiap pertemuan, pasti memiliki perpisahan. Dan aku yakin tidak semua perpisahan itu buruk. Perpisahan adalah awal… dimana perjuangan akan dimulai," Ken menyunggingkan sebuah senyum bangga mendengar penuturan Min.

"Bagus. Pemimpin kami, haruslah orang yang kuat pendiriannya seperti itu," Min mengangguk, lalu menyeringai lebar. Sementara Bakama yang notabene lebih akrab dengan para penduduk melebihi Ken sedang berpamitan kepada para penduduk Momoko satu per satu, Ken berbicara pelan kepada Min sambil merogoh kantung di balik baju jirah silver-nya. "Aku ingin memberikanmu sesuatu," Min menatap Ken dengan tatapan penasaran.

"Apa?" Ken pun menyodorkan sebuah kalung berwarna senada dengan baju jirahnya; yaitu perak. "Kalung ini…."

"Ya, itu kalung Zack," Min tertegun memandang kalung yang sekarang berada dalam telutan jemari tangannya. "Sebelum kami mengubur mayat Zack, aku mengambilnya," kembali, Min hanya terdiam. "Itu disebut Zoid, sebuah alat pengangkut Guard. Di dunia manusia, Zoid lebih dikenal dengan sebutan weapon untuk para Grogocontrol."

"EEEHHH?"

"Kalau kami berjalan di belakangmu, memang apa yang akan orang pikirkan tentangmu?"

"Um…" Min terlihat berpikir. "Aku seperti orang aneh."

"Hhhh…" Ken mengembuskan napas berat setelah mendengar perkataan Min. "Kau terlalu polos, Min."

"Memangnya kenapa? Beritahu aku Ken."

Ken kembali mengalihkan atensinya kepada sang pemuda berambut hitam panjang dan bermata merah padam; Min. "Kalau Hunter; atau dalam hal ini orang yang berkaitan dengan Hunter melihatmu dikawal oleh kami berdua, maka identitasmu sebagai Grogocontrol akan ketahuan. Dan dari yang aku baca dari surat kabar, pemerintah kali ini telah menggalakkan sebuah sistem yang menentang Grogocontrol," Min mendengarkan dengan seksama. "Meskipun seseorang tidak melakukan apa-apa, meski tidak membahayakan pemerintah, namun jika ia adalah seorang Grogocontrol, maka kepalanya… dihargai 20.000.000 Luey."

"Eeeeeeeehhhhhhhhh?"

"Dengan membuka identitasmu di dunia luar, maka orang-orang akan berbondong-bondong datang untuk menangkapmu."

GLEK!

"Karena itulah… kau memerlukan Zoid ini," atensi merah Min kini kembali menjarah kalung perak di genggamannya. "Untuk mengidentifikasi pemilik baru Zoid, kamu harus melumuri bandul kalung itu dengan darahmu sendiri."

Min menatap kalung itu sejenak, lalu tanpa ragu merentangkan jari telunjuknya ke udara. Setelah itu ia menyentuh tangan kirinya dengan telunjuk itu lalu menarik garis vertikal dengan mudah. Seketika… darah segar keluar dari luka lurus membentang yang disebabkan oleh jari telunjuk Min.

Min tak membuang waktu, ia segera mengais kembali kalung yang ia simpan di atas tasnya, lalu menggenggamnya erat dengan tangan kiri yang masih berlumuran darah. "Seperti ini?"

Ken mengangguk. "Setelah itu, cium bandul kalung itu dengan bibirmu," Min melaksanakan apa yang disuruh oleh Ken. Sebuah kecupan lembut, mendarat di permukaan bandul yang sekarang berlumuran darah. Sontak, semua darah Min yang menutupi bandul itu kini terserap ke dalam kalung.

"Kini Zoidmu sudah bisa digunakan," Min menatap Zoid-nya dengan tatapan tak percaya. "Setiap Zoid biasanya dibuat untuk menampung dua monster saja. Kau lihat bandul bulat yang dikelilingi empat sulur perak ini?"

"Iya."

"Jika kau menggunakan kombinasi, putar sulur satu ke arah kiri 2 cm dan sulur empat ke bawah 3 cm, maka gerbang pertama; tempat monster buas akan terbuka. Itu adalah gerbang untuk Bakama," Min mengangguk mendengarkan. "Jika kau putar sulur tiga dengan sudut 360 derajat, maka gerbang untuk monster angin, yaitu aku akan terbuka."

"Hm."

"Cara memanggil kami masuk dan mengeluarkan kami sama. Kau mengerti?"

"Iya."

Ken mangangguk, lalu mengelus rambut panjang Min perlahan. Iris emasnya kini terlihat mendayu, digerus oleh pemandangan langit yang sangat cerah dan gerombolan burung yang tengah terbang dalam kelompok. Paruh emas Ken pun akhirnya kembali berucap, "Sepertinya…" Ken mendongakkan kepalanya ke arah langit. "Guard Zack adalah seorang monster angina, Yul," Min menatap Ken intens. Dadanya kembali bergemuruh cepat. "Aku rasa… Yul mungkin adalah seekor naga angin. Klan terkuat, dari semua monster angin."

DEG!

"Ken…" nada suara Min kini berubah drastis. Tidak seceria sebelumnya, tidak bersemangat seperti sebelumnya. "Katamu, kalau pimpinannya mati, maka… Guard-nya pun…."

"Ya, Yul sudah mati," bulir-bulir air mata mulai menyesaki sudut mata Min.

"Aku sudah selesai berpamitan," Bakama tiba-tiba mendekat menuju Min dan Ken. "Kalian sedang apa?" Min menggeleng tegas, lalu mengusap air mata yang hendak jatuh itu.

"Tidak sedang apa-apa, Bakama."

Bakama menautkan alisnya; aneh memandang Min. Namun perasaan itu segera ia tepis, toh ia bisa bertanya pada Ken nanti. "Oi, Ken. Apa kau sudah menjelaskan cara memakai Zoid pada Min?" Ken mengangguk.

"Sudah."

"Hahaha… bagus! Min," Min menoleh dengan cepat ke arah Bakama. "Kita akan keluar dari pulau ini dengan menaiki Ken. Masukan aku pada Zoid agar tak menambah beban Ken."

"Um!" tanpa ragu Min langsung melingkarkan kalung peninggalan Zack itu di lehernya, lalu memutar sulur perak itu sesuai dengan intruksi yang diberikan Ken. Seketika, sebuah cahaya cokelat keluar dari kalung dan membalut tubuh Bakama. Bakama yang sadar akan segera terpanggil langsung menghadap ke arah penduduk Momoko, lalu melambaikan tangannya. Sedetik kemudian, ia lenyap dari pandangan.

Semua mata, terkesima. Termasuk Min sendiri.

"Ee-eh? Ba-Bakama sudah berada di dalam sini?" Min berteriak tak percaya.

"Ya," Ken mengangguk lalu berbalik membelakangi Min. Tak membuang waktu, Ken segera merentangkan keempat sayapnya. "Ayo kita pergi, Min."

"Um!" Min kembali mengangguk, lalu memandang wajah penduduk Momoko dengan haru. Banyak di antara mereka tersedu dan menangis, namun banyak juga yang gembira melihat Min yang bersemangat menyongsong keingiannya untuk bertemu dengan sang kakak.

"MIN, SEMOGA KAU BISA CEPAT BERTEMU DENGAN U-KNOW!" beberapa dari mereka berteriak, sementara yang lainnya meneriakkan agar Min selalu menjaga diri baik-baik. Di tengah teriakkan perpisahan itu, Ken segera mengepakkan sayapnya. Perlahan… kakinya pun beranjak meninggalkan tanah pijakan.

"BAIKLAH SEMUANYA, JAGA DIRI KALIAN BAIK-BAAAAIIIIIKKKKK!" dengan semangat Min melambai-lambaikan tangannya ke arah para penduduk Momoko yang sudah mulai tak terlihat dari atas. Ken, Bakama dan Min, sudah mulai meninggalkan pulau Crova.


The Hunters

3rd Episode

"WWUUUUAAAHHHH! Ini pertama kalinya aku terbang setinggi ini!" Min merentangkan kedua tangannya sambil berdiri di punggung Ken. "Kita sudah benar-benar keluar dari desa Momoko ya?"

"Begitulah."

"Kita akan kemana Ken?"

"Ke D'Grey City, tempat pertama U-Know menampakkan dirinya."

"Ah, mungkin di sana ada informasi mengenai U-Know ya? Dia 'kan menangkap Poisson Hunter itu di sana."

"Iya."

"WHUUUAAAHHH!" Min kembali berteriak dengan gembira. "Tak kusangka… dunia ini ternyata LUAS SEKALLLIIIIIIIII!"

"Hehehe…" Ken hanya terkekeh mendengar teriakan Min.

Ya, ini adalah kali pertama Min meninggalkan pulau Crova. Selama tujuh belas tahun ini, Min hidup terkekang di pulau Crova, tanpa pernah melihat dunia luar sekali pun. Sebenarnya dengan dihancurkannya daerah Retrieve the Death oleh Pak Tua Shaggy, pulau Crova seharusnya bisa diakses oleh dunia luar. Namun, tak seperti yang mereka duga, mantra Retrieve the Death yang melindungi pulau Crova ternyata memiliki proses healing dan memperbaiki kerusakan mantra selama setengah tahun. Ken dan Bakama yakin, mantra itu dibuat bukan oleh monster sembarangan. Karena Retrieve the Death yang biasanya tidak akan bisa memperbaiki diri sendiri setelah dihancurkan. Yang memasang mantra pelindung di pulau Crova masih menjadi sebuah misteri.

"Whuuuaaahhh! Pulau apa itu? Ke-kenapa besar sekali pulaunya?" Min terbelalak kaget ketika melihat sebuah pulau yang berukuran beratus-ratus kali lipat lebih besar dari pulau Crova.

"Ini adalah Vesta island. Ada lebih dari 20 desa dan 40 kota besar di sini. D'Grey City adalah salah satu kota besar yang berada di utara pulau."

"BHHUUUAAAHH! Aku tak percaya ini! BESAR SEKAAALLLIIIII!"

"Hehehehe… kita akan mendarat di bukit pantai Cassele. Di sana cukup sepi, tak akan ada orang yang melihat kita turun."

"Oke!"

Setelah mendapat persetujuan dari Min, Ken segera menuju sebuah wilayah di sebelah utara pantai Cassele lalu mengepakkan sayapnya perlahan.

Tep!

"Kita sudah sampai."

"Um!"

"Sebelum ada orang yang melihat, kau bisa memasukkanku pada Zoid sekarang," Min kembali mengangguk, lalu memutar sulur empat dengan lingkaran penuh. Seketika, cahaya putih menyelimuti tubuh Ken, dan lambat laun, tubuh Ken pun mulai tersedot masuk ke dalam Zoid.

Min ingat dengan apa yang dikatakan Ken dalam perjalanan tadi. Ada dua hal yang disampaikan oleh Ken. Yang pertama… jangan sampai ada orang yang tahu bahwa kalung yang dikenakan Min adalah sebuah Zoid. Zoid adalah benda langka di dunia manusia. Rantai yang digunakan sebagai tali adalah rantai dari batu laut dunia monster, yang untuk mendapatkan batu itu seseorang harus bertarung dengan monster laut raksasa sebesar gunung. Dan bandul itu, berasal dari ginjal seorang monster setia, abdi kerajaan iblis merah yang telah meninggal beberapa ratus tahun yang lalu. Jika Zoid dikenakan harga dengan harga dunia manusia, maka harga sebuah Zoid adalah… 200.000.000 Luey. Angka itu sangat mencengangkan, dimana biaya untuk makan sehari-hari hanyalah 10 luey, dan jika kau mau membeli sebuah kondominium megah, kau hanya perlu mengeluarkan 1.500.000 luey. Bayangkan, siapa yang tidak akan tergiur setelah melihat seseorang berjalan-jalan dengan Zoid di tubuh mereka? Pemilik Zoid itu, pasti akan segera celaka.

Lalu hal penting yang kedua adalah… Min harus bertanya di berbagai pusat informasi mengenai Hunter untuk menanyakan tentang U-Know. Biasanya di sebuah kota dan desa dilengkapi dengan sarana pusat informasi Hunter. Jadi seharunya tidak terlalu sulit untuk menemukan informasi mengenai U-Know.

"APA? Harga informasi untuk Bounty Hunter U-Know adalah 1.000.000 luey?" Min terkaget-kaget sendiri setelah mendengar petugas pusat informasi itu bertanya (U-Know adalah seorang Bounty Hunter/Pemburu Hunter lain dengan nama 'Bounty Hunter U-Know').

"Kenapa terkejut? Seseorang dengan harga buronan 100.000.000 Luey tentunya memiliki informasi yang sangat berharga. Itu bayaran yang setimpal," petugas itu berkilah dengan mudah sementara tangan kirinya mengibas-ngibas pelan.

Min sudah berjalan selama dua hari untuk sampai ke pusat informasi Hunter terdekat. Bekal makanan yang diberikan penduduk desa Momoko pun sudah menipis, hanya tinggal beberapa puluh ribu luey; yang belum sekalipun digunakan berada di kantung celananya.

"Ta-tapi… aku tidak punya uang sebanyak itu…"

"Hhhh…" petugas wanita itu mendesah perlahan. "Untuk apa kau memerlukan informasi mengenai U-Know? Hm?"

"A-aku…" Min tidak boleh bilang bahwa ia adalah adik dari U-Know, Ken bisa marah dan dirinya juga bisa celaka.

"Hhh… pulanglah dan belajar. Kau ini masih sekolah 'kan?"

"…" Min terdiam mendengar ocehan wanita yang lebih tua sepuluh tahun darinya itu, lalu berjalan pelan tak tentu arah menuju sebuah gang sempit di kawasan yang jarang dilewati penduduk.

Di tempat sepi dan gelap itu, ia mengeluarkan Ken dan Bakama.

"Mahal sekali! Kenapa untuk mengetahui informasi tentang kakaknya sendiri saja Min harus membayar sedemikian mahal?" Bakama bersungut-sungut kesal, sementara Ken menopang dagu—tengah berpikir.

"Memang aku sudah mengira bahwa dalam mendapatkan akses informasi, kita akan mengeluarkan biaya. Tapi tak pernah kusangka bahwa biaya yang diperlukan sebesar itu."

"Iya… U-Know sudah menjadi orang yang sangat hebat sekarang."

"Hm…" mereka bertiga kompak terdiam.

"Min," Min menoleh perlahan; menanggapi panggilan Ken. "Apa kau ingat, berapa jumlah Hunter yang datang ke desa Momoko sepuluh tahun yang lalu?"

"E-eh?"

"Berapa?" Ken mempertegas pertanyaannya.

"Aku tidak tahu… soalnya banyak sekali."

"Nah, kau sudah sadar 'kan?" Min tak mengerti dengan perkataan Ken, begitu juga Bakama.

"Apa sih yang mau kau sampaikan?" Bakama menyolot tak sabar.

"Hm… dimana-mana akan kau temui, bahwa Hunter selalu bergerak dalam kelompok, walau ada juga Hunter yang beraksi sendirian. Namun pengaruh dari Hunter yang beraksi sendirian tak bisa dibandingkan dengan Hunter yang beraksi dalam kelompok. Seperti halnya Easy Wing, kelompok Hunter yang dibentuk oleh Zack."

"Lalu?" Min masih terperangah tak mengerti.

"Aku pikir, kita bisa saja bergerak sendirian, namun sepertinya, kita membutuhkan bantuan."

"Bantuan?"

"Ya," Ken memandang Min dengan sorot mata tajam—serius. "Setidaknya, kau butuh Informan Hunter, Poisson Hunter, dan Treasure Hunter. Kau… harus membentuk kelompok Hunter-mu sendiri."

BRRAAAAKKK!

Tiba-tiba, terdengar sebuah suara dari luar gang. Itu adalah suara bantingan pintu yang disusul oleh jatuhnya seseorang.

"KURANG AJAR! AKU ADALAH ZACK THE SILVER HEAD, AKU ADALAH SEORANG GROGOCONTROL! BERANI-BERANINYA KAU MELEMPARKANKU KELUAR RESTORAN!"

"Zack?" Min berucap bingung sementara Ken dan Bakama saling berpandangan tak mengerti. Dengan cepat Min memanggil kembali Ken dan Bakama ke dalam Zoid-nya, lalu bergegas melesak masuk menerobos pagar betis manusia yang ramai melihat peristiwa tersebut.

Seorang pria dengan rambut perak terduduk dengan raut muka kesal menatap seorang pria bertubuh tinggi tegap menenteng sebuah pedang hitam di pinggangnya.

"KAU TIDAK TAHU SIAPA ZACK? ZACK ADALAH GROGOCONTROL YANG MEMILIKI BOUNTY SEHARGA 423.000.000 LUEY! YA ITU AKU! KAU AKAN MATI JIKA AKU MEMANGGIL MONSTERKU!"

BRUUUUKKK!

Namun orang tinggi yang ia ancam rupanya tidak gentar, ia malah melayangkan tendangan ke pundaknya yang menyebabkan tersungkurnya tubuh itu ke tanah. Beberapa orang yang melihat kejadian itu menjerit seketika.

"Zack?" Min menautkan alisnya. "Orang itu tidak terlihat seperti Zack," bisiknya di tengah kerumunan orang yang masih ramai melihat kejadian itu.

"Aku tidak peduli kau itu Zack the Silver Head atau siapa. Tapi aku tidak akan memaafkanmu yang sudah menumpahkan sake di hadapanku," ucap lelaki tegap itu penuh penekanan. "Hunter dengan Bounty 423.000.000 Luey, heh? Bagus juga. Akan kubawa kau ke pemerintah dan akan kutukar kau dengan uang!" ia melayangkan pandangan sengit dengan smirk menghias bibirnya tipis.

DEG!

"He-hei… bukannya itu Siwon the Guardian of Honour dengan Bounty 7.500.000 Luey?"

"Eh?"

"I-itu Siwon the Guardian of Honour yang selalu beraksi seorang diri?"

"Mustahil…."

Bisik-bisik samar kini mulai terdengar jelas memberitahukan secuil jati diri dari pemuda bertubuh tinggi tegap yang tengah mengintimadasi Sang Zack the Silver Head palsu di depannya.

"He…" iris merah itu kini berbinar penuh kekaguman. "Bounty Hunter, Siwon the Guardian of Honour?" Min lalu mengembangkan senyum yang lebar. "Menarik sekali~"

To be Continue :D


Special Thanks to :

BunyyMin25 , Kiri Devil , Yukihyemi , Leeyasmin, Who I Am, i

Thanks for advice and atention.

That's my pleasure.