Disclaimer : I do not own Naruto.
Warning : OOC, change in trait
Untuk Hiburan.
Nasty Temper
The next encounter
Ino agak kehilangan keeleganannya jika sudah bersinggungan dengan apapun tentang pemuda bernama Sai.
"Sudah kubilang kan, aku tidak ingin menikah dengannya." protes seorang gadis bersurai blonde.
Lagi-lagi ia sedang disidang oleh kedua orang tuanya.
"Tapi kau tidak bisa main kabur-kaburan begitu saja, Ino." tegas ayahnya.
"Mana ada seorang lady yang lari dari pernikahannya, apalagi loncat lewat jendela dari lantai dua." Tambah ibunya.
"Kalau aku tidak kabur, memang ayah dan ibu akan mendengar keluhanku?" ucap putri sulung keluarga Yamanaka itu lagi.
Sang ayah mendesah panjang. "Sudah kuputuskan, kau akan dikirim ke sekolah kepribadian."
Ino menaikan alis. Sementara disamping si ayah, ibunya melebarkan mata dan bergumam, "Itu bukan kesepakatan kita, dear."
Inoichi, nama ayah gadis itu, menggeleng. "Aku sudah menyerah, kali ini Ino benar-benar kelewatan."
"Barangkali ayah lupa, aku sudah lulus dari sekolah itu bertahun-tahun lalu dengan nilai A++." ceplos Ino.
"Pokoknya kau akan dikirim ke sana, lagi." ucap Inoichi, menekankan.
"Well, itu lebih baik daripada disuruh terus-terusan menikah. Aku mulai bosan." ujar Ino, santai.
Guratan jengkel mulai bertengger di kening si ayah. "Anak ini . ."
Tidak biasanya Ino menjawab ucapan ayah ibunya seperti ini. Biasanya ia lebih memilih untuk banyak diam dan menjawab seperlunya, bersikap formal. Hanya saja, Ino jadi agak kehilangan keeleganannya jika sudah bersinggungan dengan apapun tentang pemuda bernama Sai.
Si ibu menghela napas, "Ino, dengarkan ibu, sayang. Keluarga Shimura bukanlah keluarga konglomerat biasa. Mereka adalah poros bisnis di negara ini. Setelah kejadian ini, Shimura'grup pasti akan memutuskan kerjasama dengan keluarga kita, dan itu akan berpengaruh besar terhadap bisnis ayahmu. Kau harus tahu posisimu saat ini, nak."
"Aku paham bu, karenanya aku akan bertanggung jawab untuk menyampaikan permintaan maaf kepada Tuan Danzo yang sebesar-besarnya." Jeda sejenak, "bahwa aku tidak bisa menikahi cucunya."
"Nak Sai, Ino. Kau harus meminta maaf padanya!" ayahnya menyela.
"Ya, ya, dia juga." Ino membuang napas.
Tak apalah, lagipula ini akan jadi kali terakhir Ino harus berjumpa dengan pemuda itu.
Ibunya mendesah lagi. "Ibu harap hal ini bisa terselesaikan meski hanya dengan permintaan maaf."
"Kau seharusnya melihat ekspresi bingung Tuan Danzo saat mendengar kau kabur. Ayah benar-benar sudah tidak punya muka untuk menemui beliau." Ayahnya mendesah panjang. "Sudah bagus mereka tidak melaporkanmu ke polisi. Kau sebaiknya bersiap-siap Ino." tekan ayahnya.
Kali ini Ino hanya diam, percuma saja bersua lagi. Memangnya kejahatan besar apa yang telah dia lakukan sampai harus dilaporkan ke polisi segala?
Dirinya kan tidak jadi bunuh diri.
. . .
Pagi hari di kediaman Yamanaka.
Ino memutuskan untuk pergi mengunjungi salah satu butik dan flower shop miliknya. Gadis itu lebih memilih untuk pergi seharian dari rumah, telah jengah mendengar rutukan kedua orangtuanya.
Saat langkah membawa Ino mencapai mulut ruang tamu, gadis itu segera mambeku saat ia melihat suatu pemandangan yang tidak terduga. Ino langsung menahan langkahnya.
Gadis itu mengernyit ketika melihat pemuda berkulit pucat tengah bercengkrama bersama ayahnya di ruang tamu kediaman mereka.
Ada apa pemuda itu datang kesini?
Perlahan, Ino mengedarkan manik birunya menjelajahi sekeliling ruang tamu, tak ada orang lain disana. Perasaannya langsung berubah tidak enak.
"Benar, Kakek menghendaki untuk berbicara langsung dengan Nona Yamanaka mengenai masalah ini." Perkataan pemuda itu sempat terdengar oleh gendang telinga Ino.
Si gadis berjengit.
Ino secara refleks segera memutar tubuhnya, hendak melangkah kembali ke kedalaman rumahnya. Namun pergerakan gadis itu segera dihentikan oleh panggilan sang Ayah. "Ino."
Rupanya, mereka sempat mendeteksi kehadiran Ino sebelum si gadis sempat menyembunyikan diri.
Ino kembali memutar badannya.
"Nak Sai ingin berbicara denganmu." Ucap ayahnya lagi.
Gadis itu menaikan pelipisnya. Sejenak ia melirik ke arah Sai yang tengah tersenyum tipis padanya.
Gaah. Senyum palsu itu membuat si gadis gerah.
Ino tidak mempunyai pilihan lain selain mulai melenggang ke arah mereka.
Saat Ino menghampiri, sang ayah mulai beranjak dari duduknya. Inoichi hendak pergi meninggalkan tamu dan puterinya, namun ia berhenti sejenak tepat di depan Ino sambil melemparkan tatapan tajam ke manik aquamarine gadis itu, "Awas saja jika kau berulah lagi." bisik si ayah dengan nada galak.
Ino hanya mengangkat bahu.
Dengan anggun si gadis mulai mengambil duduk. Ia mengangkat dagunya perlahan, menemui tatapan manik onyx si pemuda.
"Jadi, apa maksud kedatanganmu kesini, tuan?"
Sai mulai membuka mulutnya, "Nona," Sai memperhatikan gadis itu sejenak, lalu kembali membuat senyum. "Kau benar-benar telah sangat mengejutkanku di acara prosesi pernikahan kita tempo hari. Sejujurnya, aku tak sempat berpikir seorang lady bisa melakukannya."
Ino pura-pura tertawa. "Telah kukatakan sebelumnya bukan, bersama denganmu memberi cukup kesulitan untukku."
Si pemuda memiringkan kepala, menekan tatapannya. "Karenanya, kau lebih memilih meloncat ke luar dari jendela."
Ino tak menyanggah pernyataan itu, alih-alih hanya diam sambil menyipitkan pandangannya pada si pemuda.
Sai menarik ujung bibirnya, tersenyum lebih dalam. "Tetapi, seharusnya kau menyadari bahwa tindakan tersebut akan membuat posisimu menjadi lebih sulit."
Ujung pelipis si gadis terasa berkedut. Apa saat ini Sai sedang menyinggung mengenai keadaan hubungan bisnis yang terjalin antara kedua keluarga itu?
"Tentu saja aku aku paham akan hal tersebut. Silahkan jika kau ingin mengajukan tuntutan kepada keluarga kami atas apa yang terjadi di acara pernikahan itu, tuan. Namun aku akan lebih menghargai jika kau bisa memisahkan antara persoalan pribadi dengan hubungan bisnis."
Sai hanya balas memandang si gadis. "Apa maksudmu?"
Ino membuang napas. "Aku akan bertanggung jawab secara pribadi atas apapun yang kau tuduhkan nanti."
Jeda lima detik saat Sai hanya memandang si gadis. Nampaknya pemuda itu tidak tahu dengan apa yang sedang di bicarakan Ino saat ini.
"Sepertinya kau salah paham, nona." ucap si pemuda pada akhirnya.
Gadis itu menaikan pelipisnya.
"Aku datang ke sini untuk mendiskusikan mengenai hari pengganti untuk pernikahan kita." jelas si pemuda dengan tenang.
Kini Ino yang balik bertanya. "Apa maksudmu?"
"Aku berencana untuk tetap meneruskan perjodohan ini." jawab Sai, dengan santai menyenderkan punggungnya ke sandaran sofa.
Ino tersedak. Apa ia tak salah dengar?
"Akan lebih sulit bagi kita berdua, jika harus kembali menyiapkan pernikahan ini dari awal, bukan?" ujar Sai. "Kakek akan kembali menyusun ulang pertemuan-pertemuan membosankan dalam acara perjodohan ini."
"K-kenapa dilanjutkan?" suara Ino mulai bergetar.
Setelah semua kekacauan yang terjadi, apa ada masalah dengan otak pemuda ini?
"Kenapa?" Sai tertawa. "Tentu saja karena aku suka sekali lady kasar sepertimu. Melihatmu berani bersikap arogan begitu sangatlah menyenangkan."
Ukh. Guratan jengkel berkedut-kedut di kening nona itu.
Ino menggigil, pemuda ini sungguh berbahaya. Apa tindakannya salah, karena telah bermain-main dengan api dan malah menyulut api itu semakin besar?
"Aku sungguh tidak merasa tersanjung dengan pujianmu." Sahut si gadis, agak menaikan nada bicaranya.
X X X
"Ino. Kau tidak punya pilihan lain. Selain kau telah mencoreng harga diri keluarga kita, kau sudah mempermalukan Nak Sai, juga kerugian materi yang kau sebabkan sangat besar."
.
.
"Namun alih-alih mengajukan tuntutan untuk menyudutkan kita, dengan rendah hati mereka malah memberimu kesempatan kedua."
.
.
Telinga Yamanaka Ino terus mendengungkan kalimat-kalimat itu. Tuan dan nyonya Yamanaka sepertinya memang hobi menyudutkan puteri semata-wayangnya sendiri.
Ino telah berpakaian rapi sekarang, ia hendak menemui pimpinan Shimura'grup untuk memenuhi undangan tuan direktur itu. Si gadis tidak mengetahui apa yang akan dihadapinya, karena itu ia telah menyiapkan diri untuk apapun yang akan dikatakan Tuan Danzo padanya. Ia curiga, pasti kakek itu telah merencanakan sesuatu. Tidak mungkin ia akan memberikan sambutan hangat untuk kedua kalinya, pada gadis yang telah mempermalukan nama baik dirinya dan cucunya. Bermacam-macam pikiran negatif berseliweran di benak gadis itu.
Ino tiba di gedung utama perusahaan Shimura. Gedung pencakar langit berdinding kaca itu memiliki 40 lantai. Dipuncak gedung tersemat serangkaian huruf bertuliskan Anbu Root.
Seorang wanita paruh baya berpakaian formal menyambut Ino tepat setelah si gadis turun dari mobil Maybach Landaulet hitam yang ditumpanginya. Wanita itu memandu Ino untuk memasuki sebuah lift pribadi, dan langsung mengantarkan si gadis menuju ruangan lantai 38 untuk menemui Direktur Shimura.
Sesampainya di dalam ruangan, percakapan pun dilangsungkan.
"Aku sungguh menyukai gadis yang penuh semangat seperti dirimu. Kau pasti bisa menjadi pendamping yang cocok untuk Sai." Tuan Danzo berkata dengan ekspresi serius.
Ucapan kakek pimpinan perusahaan Shimura itu membuat Ino agak terperanjat.
Apa-apaan dengan keluarga ini?
"Aku tertawa puas sekali saat mendengar kau kabur meloncati balkon lantai dua. Tak pernah kubayangkan ada gadis yang berani melakukan itu." Ucap si kakek, kini disertai tawa.
Ino hanya melongo.
Kakek itu kembali memandang Ino lekat-lekat. Si gadis menegakkan punggungnya. "Apa yang tidak kau sukai dari cucuku, Nak? Bukankah dia tampan, keren dan seksi? Selain itu, dia adalah pewaris tunggal Shimura'grup. Kudengar gadis-gadis biasanya mengerumuninya seperti semut."
Danzo melemparkan tatapan bertanya, Tapi kenapa kau malah menghindari Sai seperti itu?
Ino hanya berkedip beberapa kali. Tampan dan keren? Seksi? Dari luar sih iya, tapi tuan muda itu punya masalah dengan kepribadiannya.
"Ehem."
Si kakek berdehem, menunggu jawaban yang tak kunjung dikeluarkan si gadis. Membuat lamunan gadis bermata biru itu pecah.
Ino kembali menata sikapnya, "Maafkan saya jika membuat Anda kecewa, Tuan. Namun antara saya dan cucu Anda sama sekali tidak bisa menemukan kecocokan."
Si kakek menyender santai di kursinya. "Jika kau tersinggung dengan ucapannya, Nak, kuharap kau bisa sedikit maklum. Kecocokan bisa didapatkan setelah kalian tinggal bersama nanti."
Dahi Ino mengernyit.
"Anak itu hanya sedikit kurang gaul dan antisosial. Yah, dia memang agak kaku dan tidak bisa bersosialisasi dengan baik diluar hal yang berhubungan dengan pekerjaan." Jeda sejenak, "Apalagi hal-hal yang berhubungan dengan wanita." Tekan kakek itu. "Tapi lama-lama kau akan terbiasa."
Tidak bisa bersosialisasi dengan baik, apanya? Sai tampak jago memporak-porandakan hati wanita. Sindiran pedas itu . . .
"Saya sungguh menyesal atas kekacauan yang saya timbulkan di acara pernikahan, tetapi semua itu saya lakukan secara sadar. Mohon pengertian Anda, karena saya tidak bisa melanjutkan perjodohan ini. " Sahut Ino, sedikit membungkukan badan. "Saya benar-benar meminta maaf, atas nama pribadi dan keluarga."
Danzo memandang Ino dengan kagum. Tak banyak orang yang mampu bersikap berani seperti itu dihadapannya.
"Jika kau sudah memahami kesalahanmu itu, pastikan kau tidak akan mengulanginya lagi di masa mendatang, Nak." Ucap Danzo sambil mengangkat satu tangan untuk meminta tongkat kayunya dari bodyguard yang berdiri dibelakang kursinya.
Ino mendongak, kembali meluruskan duduknya.
Dua pengawal mulai membantu si kakek untuk berdiri. "Karenanya, aku tidak ingin terjadi kesalahan lagi di acara pernikahan kalian berikutnya." Tegas si kakek sambil melemparkan senyum perpisahan ke arah Ino.
Ugh. Gadis itu meringis dalam hati.
"Ngomong-ngomong, Sai ada di ruangannya. Kau bisa menemuinya disana." Kakek itu menoleh lagi ke arah Ino tepat sebelum ia pergi meninggalkan ruangan itu. "Aku akan mengatur jadwal kencan kalian untuk hari ini."
Kalimat terakhir tersebut lebih terdengar seperti perintah.
. . .
Sai telah selesai memimpin sebuah rapat beberapa saat lalu. Setelah pekerjaannya beres, pemuda itu selalu menghabiskan waktu dengan mengurung diri di dalam ruangan pribadinya.
Lantai 40.
Ino diberitahu bahwa Sai bisa tinggal di ruangannya itu dalam jangaka waktu yang lama. Tak seorang pun pernah diizinkan memasuki ruangan tersebut tanpa perintah si pemuda. Tentu saja selain Direktur Shimura sendiri yang bebas keluar masuk.
Jadi, pemuda itu benar-benar antisosial, huh?
Ino bisa memasuki ruangan pemuda tersebut atas izin kakeknya. Ia melewati pintu otomatis ruangan menggunakan free pass card yang telah disiapkan sebelumnya.
Well, satu lantai penuh sebagai ruang pribadi. Pemuda itu tentu bisa melakukan banyak hal disana. Tapi, tentu saja tidak akan ada cukup ruang untuk mereka berdua.
Ino melenggang masuk. Pintu utama ruangan itu terbuka, menampilkan sebuah ruangan kosong berisi sofa dan rak pajangan tinggi. Sebuah partisi kaca diletakan diantara ruangan kecil tersebut dengan ruangan berikutnya. Ino melangkah lebih jauh ke dalam ruangan itu. Terdapat sebuah meja kerja disana, lengkap dengan seperangkat komputer dan televisi LCD gantung. Dibelakangnya berdiri dua buah rak yang diiisi dengan buku-buku tebal. Ino mengedarkan manik birunya ke seluruh ruangan.
Ia masih belum melihat sosok pucat si pemuda.
Ino terus berjalan menyusuri ruangan-ruangan di lantai 40 tersebut. Dinding kaca stopsol merefleksikan cahaya mentari masuk ke sepenjuru ruangan. Pemandangan yang ditampilkan dari puncak tertinggi gedung itu, . begitu indah.
Si gadis menahan langkahnya saat ia melihat keberadaan sebuah pintu kayu berukiran dua sosok singa purba di masing-masing daun kayunya. Perlahan gadis itu membuka pintu yang ternyata tidak terkunci, menampilkan ruangan dengan pencahayaan lebih minim. Ino melangkah masuk.
Gadis bermanik biru itu terpesona dengan apa yang ia lihat.
Lukisan.
Bingkai-bingkai kanvas tersemat di dinding. Sebagian tergeletak di lantai dan sofa, sebagian lagi masih tersemat di tripodnya. Dalam keremangan, Ino masih bisa melihat berbagai citra tertoreh diatas media gambar tersebut.
Melangkah lebih jauh, si gadis menemukan meja dan rak yang penuh terisi oleh cat air, kuas, kertas minyak, pensil dan berbagai alat gambar lain berserakan tercampur satu sama lain. Kain-kain putih berisi coretan kuas menutupi beberapa bingkai. Tirai besar berwarna coklat menutupi hampir seluruh dinding kaca ruangan tersebut, kecuali beberapa helai gorden yang dibiarkan tersingkap.
Di penghujung ruangan Ino melihat sosok pemuda yang dicarinya tengah duduk menghadap ke sebuah stand frame. Sambil menorehkan kuas ke kanvas putih yang sudah sebagian terisi, Sai melekatkan pandangan pada apapun yang tengah dikerjakannya itu.
Baru kali ini Ino melihat pemuda itu terlihat begitu fokus, dan serius. Ekspresinya nampak alami. Raut mukanya melembut, hampir seperti sedang mencurahkan emosinya ke dalam kanvas putih di depannya.
Padahal satu-satunya ekspresi pemuda itu yang hanya pernah dilihat si gadis, adalah senyum buatan yang selalu terukir di bibirnya.
Ino tetap memandang Sai dari kejauhan untuk 10 detik selanjutnya.
"Ehem."
Akhirnya gadis itu berdehem, membuat Sai langsung menolehkan kepalanya.
Manik hitam milik Sai melebar perlahan saat menangkap sosok gadis itu, "Nona Yamanaka?"
.
.
.
To be continued . . .
Terimakasih sudah membaca, menyukai, mengikuti dan mereview cerita ini ya.
Kutunggu terus komentar dari kalian hehe.
Updated : 25/03/2016
