Justice: Ten Little Niggers
Naruto by Masashi Kishimoto
Summary: Kalian tahu Ten Little Niggers? Atau And Then There Were None? Karya terbesar Queen of Crime Agatha Christie yang menceritakan 10 orang diundang ke Pulau Negro dan mereka semua akhirnya dibunuh dengan catatan: Pembunuhnya Tidak Diketahui, Cerita Detektif tanpa Detektif. Hinata, Novelis Misteri paling terkenal di Jepang dan penggemar Christie diundang ke sebuah Pulau bersama 9 orang lainnya, tentu dengan pengadilan tertinggi dan sajak penghakiman itu sendiri.
Pair: NaruHina dalam balutan misteri hm?
Rate: M for Murders and little bit Gore.
Author: Icha Ren
Warning: AU, Gaje, Mistery maybe abal-abal dll.
Cerita ini terjadi pada tahun 1990, Bulan Januari
-Dapatkah kau menebak pelakunya berdasarkan petunjuk aslinya karya Agatha Christe?-
Sepuluh Anak Negro makan malam; Seorang tersedak, tinggal Sembilan.
Sembilan Anak Negro bergadang jauh malam; Seorang ketiduran, tinggal Delapan.
Delapan Anak Negro berkeliling Devon; Seorang tak mau pulang, tinggal Tujuh.
Tujuh Anak Negro mengapak kayu; Seorang terkapak, tinggal Enam.
Enam Anak Negro bermain sarang lebah; Seorang tersengat tinggal Lima.
Lima Anak Negro ke pengadilan; Seorang ke kedutaan, tinggal Empat.
Empat Anak Negro pergi ke laut; Seorang dimakan Ikan Herring Merah, tinggal tiga.
Tiga Anak Negro pergi ke kebun binatang, Seorang diterkam beruang, tinggal dua.
Dua Anak Negro duduk berjemur, Seorang hangus, tinggal satu.
Seorang Anak Negro yang sendirian, Menggantung diri habislah sudah.
Bab 3. Suara Pengadilan
1
Jiraiya sedikit terkejut melihat Hakim Sasuke turun dari tangga dengan langkah-langkah tegap. Seorang yang taat hukum ternyata taat kepada waktu juga. Sasuke mendekati Jiraiya sambil mengelus jas hitamnya.
"Tuan Jiraiya, mengenai Owen ini…apa dia memang tak datang hari ini?"
"Saya tidak tahu tuan. Tugas yang diberikan kepada kami hanya memastikan 8 tamu tetap nyaman sebelum keluarga Owen datang."
"Mungkin besok pagi?"
"Bisa jadi. Satu-satunya transport ke sini adalah perahu motor Tuan Kiba. Bisa jadi besok pagi Tuan Kiba datang membawa rombongan keluarga Owen."
'Menarik…' Sasuke tidak dapat menahan seringaiannya sehingga Jiraiya sekilas melihat serigala yang mendapatkan dombanya. Serigala di padang penggembala.
"Tuan Jiraiya, saya ingin ke ruang baca untuk menemui Tuan Sarutobi Hiruzen di sana. Jika makan malam sudah siap…" Sasuke menunjuk gong "Pastikan itu berbunyi."
Jiraiya tersenyum mendengar candaan Sasuke. Sungguh candaan yang dihiasi penghinaan.
"Tentu saja tuan…"
2
Naruto bertemu Hinata di depan tangga. Pria bersurai kuning itu terlihat tidak rapi memasang dasinya. Maklum, Naruto tidak suka memakai pakaian seperti jas, kemeja dan dasi. Dia bukan korporat, dia perwira. Sejak kecil dirinya dikenal anak ceroboh yang suka menendang pantat teman-temannya.
"Nona Hyuuga Hinata, kau terlihat cantik malam ini." Puji Naruto dengan sentuhan kejujuran. Hinata sedikit tersipu, menambah daya tarik wanita novelis tersebut.
Hinata memakai dress hitam dengan hiasan bunga pada pinggangnya. Rambutnya yang terurai membuat dia tampak seperti seorang putri.
"Te-terima kasih, Tuan Menma."
"Ternyata penulis di balik novel misteri adalah wanita yang pandai berdandan."
Hinata mengangguk. Dia memandang dasi Naruto yang terlihat berantakan.
"A-ano…dasi itu,"
"Ah dasi ini." Naruto tahu pasti dia akan dikomentari soal benda-keparat-ini, tetapi dia telah menyiapkan 3 alasan untuk menepisnya.
"Dasi ini me-"
"Bi-biar saya bantu benarkan."
Naruto sedikit terkejut dengan tindakan Hinata. Wanita itu membenarkan dasinya sambil menundukkan kepala. Naruto merasa wajah Hinata menjadi sedikit lebih merah.
"Tampaknya ada teman kita yang sedang bersenang-senang di sini."
Naruto dan Hinata tersentak kaget. Di tangga sedang berjalan Yamanaka Ino yang terlihat begitu glamour. Di belakangnya sang seniman Sai tersenyum aneh. Naruto menyengir untuk menyelamatkan keadaan.
"Anda adalah…"
"Saya Yamanaka Ino, ini Shimura Sai."
"Uzumaki Menma." Naruto menyalami tangan Ino. Terasa halus. Kemudian menyalami tangan Sai. Terasa kesan senimannya.
"Sa-saya,"
"Saya tahu anda. Nona Hyuuga Hinata kan?"
"I-iya." Hinata tidak dapat menahan kegugupannya. Keempatnya bercakap-cakap hingga sampai ke ruang makan. Ada 8 kursi di meja makan panjang tersebut. Empat di sisi kiri, empat di sisi kanan. Naruto dan Hinata duduk berdampingan di sisi kanan, sementara Sai dan Ino duduk berdampingan di sisi kiri. Naruto memandang Sai yang duduk di hadapannya. Dia baru tahu kalau seniman itu sering menampilkan senyuman yang aneh.
Dokter Sakura muncul dari pintu ruang makan dengan sikap yang sedikit tergesa-gesa. Mau dilihat dari sisi manapun, wanita bersurai merah jambu itu benar-benar terlihat cantik dan cerdas. Dokter Sakura duduk di samping Hinata dan menyapa semuanya yang ada di meja makan dengan sapaan singkat. Ino dan Sai segera menyalami tangan Sakura. Suatu basa-basi perkenalan.
Jiraiya memukul gong, menandakan pukul 8 malam. Makan malam sudah siap. Hakim Sasuke dan Mantan Perdana Menteri Hiruzen masih berbicara ketika keduanya memasuki ruang makan. Naruto melambaikan tangan kepada sang hakim, tidak peduli dengan tatapan membunuh pejabat hukum tersebut.
"Duduk di sini,Tuan Hakim. Mungkin kau bisa cocok berbicara dengan Dokter Sakura."
Sasuke duduk di samping Sakura dengan mata yang tak berkedip memandang Naruto. Dia mengumpat di dalam hati.
'Tuan Uchiha, menggodamu mungkin akan menjadi permainan yang menarik.' Batin Naruto sambil terkikik. Sasuke mendengus pelan. Dia memandang satu kursi kosong di samping Hiruzen. Ada satu tamu lagi yang belum muncul. Sementara Jiraiya dan Tsunade dengan cepat mengantarkan 8 mangkok kecil es serut dengan berbagai macam buah di sana. Ino mengatupkan kedua tangannya dan tidak henti-hentinya memuji es serut Tsunade.
"Tuan Jiraiya, sepertinya ada satu tamu kita yang pendengarannya sedikit terganggu." Ucap Sasuke dengan nada dingin. Semuanya memandang terkejut ke arah Sasuke.
"Bisa kau panggilkan orang itu?" tanya Sasuke sambil memandang Jiraiya yang terlihat sedikit kebingungan.
"Orangnya sudah di sini."
Semuanya serempak menoleh ke belakang. Sasuke tersenyum tipis melihat Direktur Tokyo News berdiri tegak di depan pintu dengan jas peraknya yang megah. Mata Gaara bertemu mata Sasuke. Borjouis bertemu Serigala. Gaara berjalan dengan langkah tenang dan duduk di samping Hiruzen dengan kedua tangan terlipat di depan dada.
Naruto memandang tajam Gaara. Dia pernah dengar isu bahwa Direktur Tokyo News adalah orang yang menyeramkan, tetapi melihat sosoknya langsung membuat bulu kuduk perwira polisi itu sedikit merinding.
3
Souffle Lobster Nona Tsunade begitu nikmat. Gurih, lembut dan meleleh di lidah.
Makanan penutupnya adalah sebuah puding nanas keju yang begitu menggairahkan lidah. Cawan-cawan para tamu diisi wine yang dituangkan Jiraiya dengan elegan. Ketika makan malam itu hampir selesai, semua orang saling berbicara dengan suara segar. Terlihat bahagia. Itu sedikit membuktikan teori Karl Marx soal perut dan makanan adalah faktor pemicu perang menjadi benar.
Tuan Hiruzen terlihat sedikit mabuk dan mulai berbicara tentang bobroknya Negeri Sakura karena industri porno. Ino mendengarkan Pak Tua itu dengan penuh minat. Sementara Sai mengobrol dengan Naruto dan Hinata soal masalah pencurian lukisan karya Van Gogh di museum seni Perancis dua bulan yang lalu. Sai membahas tentang pantas tidaknya lukisan Van Gogh dicuri dari sudut pandang seniman, sedangkan Hinata menambahkan pencurian itu dengan teknik pencurian. Naruto sekali-kali berpendapat, karena dia berhati-hati dengan identitas aslinya.
Hakim Sasuke dan Dokter Sakura terlihat cocok. Mereka berbicara tentang bukti forensik mayat dan kepantasannya untuk dibawa sebagai bukti kuat pengadilan. Sasuke terpukau dengan kecerdasan Sakura. Walaupun tidak berada di ranahnya, Sakura dapat mengimbangi bahasan teori hukum yang Sasuke paparkan. Gaara hanya terdiam sambil menegak wine-nya yang terasa panas di kerongkongan.
"Ngomong-ngomong, 10 patung hitam itu terlihat menarik."
Semuanya berhenti ketika mendengar suara Gaara. Hinata memandang senang ke arah 10 patung tersebut. Sebenarnya ia ingin menyinggungnya dari tadi, tetapi karena kegugupannya membuat ia mengurungkan niat.
"Ini seperti patung permainan." Ucap Naruto "Tuan Hakim, tolong ambilkan satu."
Sasuke menatap nyalang Naruto "Kau menyuruhku, Tuan Menma?"
"Kau keberatan?"
Sasuke dan Naruto saling berpandangan. Sang hakim yang masih menjunjung kehormatan gelarnya mengambil patung itu dan meminta tolong kepada Hinata untuk memberikannya kepada Naruto. Dia tidak sudi memberi langsung kepada pria pirang tersebut.
"Ini terbuat dari bahan kaca. Jika kau menjatuhkannya dari atas meja ini. Pash! Benda ini akan pecah." Naruto meletakkan patung itu di pinggiran meja "Properti Owen yang menarik."
"Menurut saya bunyinya tidak pash, Tuan Menma…tetapi Prang!"
"Terima kasih atas pembenarannya, Nona Ino yang baik."
Semuanya tertawa kecuali Sasuke dan Gaara. Tuan Hiruzen dengan suara parau-nya menunjuk patung hitam tersebut.
"Ini mengingatkanku akan sajak 10 anak Negro yang pernah diceritakan temanku dari Belgia. Ini seperti permainan lagu menakuti-nakuti anak-anak Inggris."
"Sajaknya ada di kamar saya, Tuan Hiruzen." Ucap Hinata dengan dada yang berdebar. Entah kenapa dia merasa senang sekali.
"Saya ada."
"Saya ada."
Semuanya mengatakan hal tersebut dengan nada penuh semangat. Saat Jiraiya lewat, Naruto menanyakan soal patung tersebut dan Jiraiya mengatakan bahwa Mr. Owen menginstruksikan untuk meletakkan 10 patung kaca hitam di tengah meja.
Naruto mengembalikan satu patung kaca tadi ke tengah meja sementara Tuan Hiruzen mencoba mengingat sajak-sajak tersebut. Mereka tertawa ketika Hiruzen melupakan kalimat sajak atau salah menyebutnya. Hinata dan Sakura terdengar membenarkan sehingga yang lainnya menganggap dua wanita itu benar-benar menghapal sajak tersebut.
Jiraiya masuk ke dapur sambil mengacungkan jempol kepada istrinya. Kerja bagus. Sisa sesi terakhir yakni kopi. Tsunade sedang memasak air ketika Jiraiya memandang jam tangannya, kemudian membuka lipatan kertas dari kantong pelayan.
"Sudah siap Jiraiya?"
"Ya. Teruskan kopinya Tsunade."
"Roger."
Jiraiya berjalan melewati ruang makan. Saat itu yang melihat pergerakan Jiraiya hanya Hinata dan Sasuke, karena keduanya yang tahu jalan cerita Novel tersebut. Keduanya menebak bahwa Jiraiya pasti ingin memutar suara tanpa perikemanusiaan tersebut.
"A-ano…"
"Bagaimana dengan twinkle-winkle?!"
Suara Hinata kalah dengan suara ribut di ruang makan. Sementara Uchiha Sasuke tidak dapat menahan senyumannya. Ketika Jiraiya kembali balik ke dapur untuk mengantarkan nampan berisi 8 cangkir kopi, suara tajam, menyayat dan penuh nada menghakimi itu menembus setiap dinding di sana,
"Ladies and Gentlemans, harap tenang!"
Semuanya terdiam. Hinata langsung berdiri dengan dada berdebar. Kedua tangannya bergetar. Naruto dapat melihat getaran hebat tersebut.
"Anda semua bertanggung jawab atas tuduhan berikut:
Hyuuga Hinata, anda bertanggung jawab atas hilangnya Hyuuga Hanabi tanggal 1 Maret 1989
Inspektur Uzumaki Naruto, anda bertanggung jawab atas penembakan terhadap seorang anak kecil bernama Udon tanggal 20 Agustus 1982
Hakim Uchiha Sasuke, anda melakukan siasat licik untuk membunuh kakak anda, Uchiha Itachi lewat jalur pengadilan yang dilaksanakan tanggal 12 Juni 1981
Dokter Haruno Sakura, kesalahan anda menyebabkan kematian pada Rock Lee pada tanggal 11 Februari 1985
Mantan Perdana Menteri Sarutobi Hiruzen, anda bersalah atas kematian Shiranui Genma tanggal 17 April 1983
Yamanakan Ino, anda bersalah dan bertanggung jawab atas kematian rekan anda, sesama model, Mitarashi Anko saat pergelaran Fashion di Paris pada tanggal 28 Oktober 1984
Shimura Sai, anda bertanggung jawab atas kematian ayah anda, Shimura Danzo pada tanggal 25 September 1982
Gaara, anda menyebabkan kematian pada Baki lewat kekuatan media cetak anda, hal itu terjadi ketika Koran anda membawa berita kejam di tanggal 12 November 1984
Tuan Jiraiya dan Nona Tsunade, anda bersalah atas kematian Nawaki pada tanggal 18 Desember 1980
Terdakwa, apakah anda ingin mengajukan pembelaan?
4
Suara itu berhenti.
Keheningan yang mencekam tercipta, kemudian suara barang jatuh terdengar di sana. Naruto menoleh kaget ke arah Jiraiya yang langsung duduk dan mengambil satu persatu cangkir kopi yang tergeletak di lantai. Untung saja lantai ruang makan ini dilapisi permadani tebal. Tangan Jiraiya terlihat bergetar sehingga Naruto berinisiatif membantu orang tua berambut putih tersebut.
"Jiraiya!" Tsunade muncul dari balik dapur dengan wajah pucat. Jiraiya berteriak parau
"Tenangkan dirimu Tsunade!"
"Apa-apaan ini?! Suara siapa itu?! Suara tak bermartabat siapa itu?!" Ino terlihat histeris sehingga Sai merangkul bahunya untuk menenangkan.
"Dari mana itu berasal?" tanya Sai cepat. Gaara berdiri tegak dan menunjuk ke arah luar pintu makan.
"Mungkin Tuan Jiraiya bisa menunjukkannya." Ucap Gaara. Naruto yang selesai membantu Jiraiya meletakkan 8 cangkir kopi di nampan dan meminta Tsunade untuk membawakan nampan itu ke dapur.
"Tuan Jiraiya, tunjukkan kami apa yang sebenarnya kau mainkan?" tanya Naruto dengan suara tajam. Jiraiya bergegar ketakutan.
"Sa-saya tidak tahu tuan. Tetapi saya rasa, saya tahu asal suara tersebut."
"Kalau begitu tunjukkan kepada kami." Ucap Hiruzen dengan nada bergetar menahan marah. Wajah tuanya memerah. Hinata yang berdiri paling belakang di antara rombongan melihat Hakim Sasuke masih duduk di kursinya dengan senyuman aneh yang terpasang di wajah.
"Tu-Tuan Sasuke, Anda tidak ikut?" tanya Hinata dengan nada gugup.
"Haruskah aku ikut dengan kekacauan rendahan seperti ini?" Sasuke berdiri tegak. Ketika itu terdengar suara pintu dibuka keras di ujung gang ruangan.
"A-apa maksud anda?" tanya Hinata dengan nada ketakutan.
"Bukankah ini menarik, Nona Hyuuga Hinata?" tanya Sasuke dengan seringaian lebar "10 domba kecil ketakutan setelah aib mereka disebutkan. 10 dosa dari 10 orang, pertanyaannya…siapakah diantara 10 orang itu yang menjadi hakimnya? Siapakah diantara 10 domba itu yang menjadi serigalanya?" Sasuke berjalan melewati Hinata dengan langkah-langkah tegap "Aku akan menangkap serigala itu, karena aku adalah sang penggembala."
Di depan ruang pemutar piringan hitam tersebut, Naruto berdiri paling depan dengan napas sedikit menderu. Dia menghentikan pemutar gramophone lalu mengambil piringan tersebut. Ada label 'Music Ways' di tengah piringan tersebut. Ujung gramophone menyatu dengan speaker di dinding kanan ruangan, sehingga suaranya akan menggema di dinding rumah. Naruto menyerahkan piringan hitam itu kepada Jiraiya.
"Kau perlu menjelaskan soal ini." Kata sang inspektur dengan nada kesal.
"Tidak perlu dijelaskan. Ada yang ingin bermain-main dengan nyawa kita."
Semuanya memandang Sasuke yang baru datang. Di belakangnya ada Hinata yang berjalan sambil menundukkan kepala.
"Apa maksudmu?" tanya Naruto dengan suara tajam.
"Sebelum itu, aku ingin meminta penjelasan darimu, Tuan Men-ma." Sasuke menekan kata Menma di ucapannya "Aku mendengar dengan serius setiap kalimat di suara tak berperikemanusiaan tadi dan aku tidak mendengar nama Uzumaki Menma ada di sana. Yang kudengar adalah nama Uzumaki Naruto. Atau kau mau menjelaskan kepada kami kenapa namamu bisa berubah dari Menma menjadi Naruto, Dobe?" Sasuke maju selangkah mendekati Naruto.
"Kau menipu kami hah?!" Ino maju sambil menunjuk wajah Naruto "Siapa kau?! Pasti kau pelaku fitnah itu?!"
"Tenang Ino, tenang…" kata Sai sambil merangkul bahu wanita tersebut "Tuan Menma, bisa jelaskan hal ini terlebih dahulu?"
Naruto memandang semua orang yang ada di sana. Dia tidak peduli lagi dengan permohonan Mr-fucking-Owen. Ada masalah lebih besar yang harus diselesaikan.
"Namaku Uzumaki Naruto," Naruto mengacungkan tanda pengenalnya dengan bangga "Seorang perwira polisi Tokyo. Aku datang ke sini atas permintaan Mr. Owen."
"Permintaan apa itu?" tanya Gaara.
"Aku adalah seorang detektif polisi. Owen memintaku menguak sebuah rahasia yang disimpan 9 tamu lainnya. Aneh dia menyebutnya 9, karena tamu resmi keluarga Owen hanya delapan orang-termasuk diriku-, menurut anda semua, apa aku perlu dicurigai dengan alasan tersebut?"
"Merahasiakan identitasmu ya?" tanya Sasuke dengan nada sedikit mengejek. Naruto memandang tak suka wajah Tuan Hakim.
"Mr. Owen meminta langsung lewat surat. Lagipula menurutku itu ide yang bagus."
"Misteri pertama sudah terbongkar," ucap Sasuke dengan wajah berpuas diri "Sekarang Jiraiya, kini giliranmu menjelaskan tentang piringan hitam ini?"
Jiraiya terlihat gugup. Padahal beberapa jam yang lalu ia terlihat elegan dan sigap. Dia menunjukkan sebuah kertas yang sering dilipat.
"Lihat instruksi ini Tuan-tuan dan Nona-nona, Mr. Owen menyuruh saya memutar piringan ini saat sesi minum kopi. Jika saya tahu isi dari kaset ini adalah tuduhan palsu yang mengerikan, sumpah Demi Tuhan saya tidak mau memutarnya!"
"Menarik." Gaara berjalan menjauhi kerumunan sambil memegang dagunya. Dia menatap wajah para tamu satu persatu "Saya rasa kita tidak perlu berdiri di sini hingga esok pagi. Bisa kita diskusikan tentang masalah ini di ruang santai?"
Ide bagus. Saya setuju. Suara-suara itu memenuhi gang. Suara bulat, satu suara. Mereka berjalan seperti segerombolan domba menuju ruang santai. Ada dua kursi beludru, dua bangku beludru panjang. Satu kursi goyang. Sebuah meja panjang hitam diantara dua bangku beludru panjang. Pemadani berwarna merah.
Hiruzen menghisap cerutunya dengan gugup di dekat jendela ruang santai yang terbuka. Angin sepoi-sepoi masuk ke ruangan lewat jendela tersebut. Naruto berjalan bolak-balik sambil sesekali mengacak rambutnya. Dokter Sakura memeriksa Ino yang masih terlihat histeris. Hanya Sasuke dan Gaara yang terlihat tenang di ruangan tersebut.
Tsunade masuk ke ruangan santai bersama Jiraiya. Sasuke tersenyum puas. Dia melipat kedua tangannya di depan dada, menyilangkan kaki dan mendongakkan kepala. Bagai suara sang pengadil, Sasuke membuat ruang santai itu seperti ruang pengadilan.
"Untuk yang pertama, bisa kita jelaskan soal Owen sialan ini?" tanya sang Hakim. Semua mengangguk setuju. Naruto berhenti mondar-mandir lalu menatap Jiraiya.
"Seperti yang kau katakan, Tuan Jiraiya…Mr. Owen dan keluarganya tidak akan datang malam ini karena jadwal keberangkatan perahu motor Tuan Kiba adalah pagi dan sore hari."
"Yang anda katakan benar, tuan…"
"Jadi bisa kita asumsikan orang-orang dengan nama keluarga Owen itu akan datang besok pagi." Naruto memandang cepat ke arah Sasuke "Penjelasan pertama soal Owen mungkin bisa kita dapatkan dari Tuan Jiraiya. Setuju Pak Hakim?"
"Lanjutkan." Sasuke tersenyum. Naruto tidak sebodoh wajahnya.
Jiraiya menjelaskannya dengan hati-hati.
"Seperti yang kami katakan, Mr. Owen mengontrak kami lewat sebuah agency pelayan yang ada di kota Tokyo. Nama pemilik agency itu adalah Tuan Suigetsu. Beliau memberikan kami uang gaji selama satu bulan dari Keluarga Owen beserta surat tugas dan surat instruksi. Tsunade sudah membawa slip buktinya," Jiraiya meminta sesuatu kepada Tsunade. Istrinya menyerahkan selembar kertas.
"Ini adalah slip bukti bahwa Suigetsu Corp. Agency menjadi media antara Mr. Owen dan kami." Jiraiya menyerahkannya kepada Hakim Sasuke. Sang hakim membacanya sekilas, lalu menganggukkan kepala.
"Orang ini misterius. Dia menghubungi Tuan Jiraiya dan Nyonya Tsunade lewat surat. Dia juga menghubungi Tuan Kiba lewat surat," Sai memegang dagunya dan sesekali mengusap ujung dagu tersebut "Bukankah Owen terlihat ingin menyembunyikan jati dirinya. Kalau begitu, tuduhan yang ia buat bertujuan untuk apa? Aku sangsi mengatakan ini hanya sebuah lelucon."
"Lelucon kotor." Tambah Dokter Sakura. Ino mengangguk untuk membenarkan.
"Sebenarnya ada beberapa hal menarik yang ingin aku katakan kepada kalian, mungkin hanya aku dan Nona Hinata saja yang tahu."
Semuanya memandang Sasuke dengan wajah curiga. Mata mereka beralih ke Hinata. Sang novelis memandang 8 orang lainnya dengan tatapan cemas.
"Tetapi kita harus menjelaskan masalah ini satu persatu. Tujuan para tamu untuk datang ke sini, tujuan kalian diundang Mr. Owen itu apa? Apakah ada buktinya?" Sasuke memiringkan kepalanya. Dia benar-benar terlihat seperti pria yang menikmati tontonan Baseball di TV "Tuan Jiraiya, Nyonya Tsunade dan Tuan Naruto sudah menjelaskan alasan kedatangan mereka ke Pulau Sajak. Aku akan menjelaskan alasanku datang ke pulau ini. Isi surat yang dikirimkan kepadaku mengatakan bahwa ada teman lama yang bisa diajak berbicara. U.N Owen menulis bahwa ia adalah teman dari ayah Henshin Saji, seorang anak yang dibunuh dengan kejam oleh keluarga Okigawa. Nah, dia mengundangku sebagai tamu kehormatannya. Tentu saja mendengar hal tersebut membuatku susah untuk menolak undangannya karena status hakim terhormat yang kusandang. Selain biaya yang dibayarkan, aku juga ingin liburan," Sasuke mengeluarkan sebuah amplop dari kantong jasnya.
"Gajah selalu siap." Katanya dengan suara dingin. Naruto memeriksa surat itu dan menganggukkan kepala.
"Tuan Hakim, alasan anda sangat lemah sekali. Hanya karena anda tamu kehormatan dan anda adalah hakim terhormat, anda mau datang menerima undangannya…" suara Dokter Sakura memecah pemikiran setiap orang yang ada di sana "…Maaf saya berkata seperti ini, tetapi gaya anda yang langsung mengeluarkan surat dan anda yang memberi arahan bahwa kita harus menyebut alasan untuk datang ke Pulau Sajak serta bukti alasannya membuat seolah-olah anda telah tahu hal ini akan terjadi. Bukankah itu membuat anda seperti sang pelaku yang telah siap segalanya?"
Semuanya memandang curiga ke arah hakim. Sasuke senang dengan wajah penuh curiga tersebut. Dia memandang Hyuuga Hinata yang terlihat gugup sambil memainkan dua jari telunjuk. Sasuke mendengus pelan.
"Anda tidak terdengar seperti seorang Dokter, Nona Sakura…"Sasuke mendekatkan wajahnya dengan wajah sang dokter "…Anda terdengar seperti seorang detektif amatir. Mari kita dengar alasan tamu lainnya, setelah itu aku, dan mungkin Nona Hinata akan menjelaskan sesuatu yang menarik di Pulau ini. Sesuatu yang menarik itu-lah yang menjadi salah satu alasan terkuatku ingin datang ke pulau ini."
"Hakim yang hebat." Gaara terkekeh. Kekehannya terdengar seperti tawa monster "Boleh kita dengar alasan selanjutnya? Atau Nona Sakura yang sedang berdebat dengan Tuan Hakim bisa menjelaskan kenapa ia bisa diundang ke pulau ini?"
Sakura memundurkan kepalanya. Dia memandang kesal ke arah Sasuke.
"Utari Nakata Owen meminta tolong kepada saya untuk mengobati penyakit istrinya. Dia menulis di surat bahwa ia mengenal saya di Rumah Sakit Suna. Jujur saya tidak mengenali nama aneh itu, Utari Nakata Owen-nama Jepang macam apa itu?-, tetapi karena dia menyebut penyakit istrinya yang cukup rumit, saya berusaha menolongnya dan tidak menolak undangan ini."
"Anda terdengar seperti dewi…" Sai tersenyum "Tetapi penyakit apa yang diderita Nyonya Owen sampai-sampai anda tidak bisa menolaknya?"
"Jawab itu, Dewi Musim Semi." Kata Sasuke dengan nada penuh ejekan.
Sakura menoleh tak terima ke arah Sasuke "Itu adalah rahasia pasien. Kami para dokter punya kode etik tersendiri."
"Maaf, Dokter Sakura…anda bisa menunjukkan surat dari Owen yang tertuju kepada anda?" Naruto meminta surat itu dengan sopan, Sakura menggelengkan kepala.
"Saya tidak membawanya."
"Menarik." Ucap Gaara kembali, membuat Naruto menatapnya dengan curiga.
"Aku datang ke Pulau Sajak karena Mr. Owen mengatakan bahwa ia juga mengundang Direktur dari Tokyo TV. Tentu saja aku percaya karena dari teman-teman pers di stasiun tv tersebut, Direktur mereka sedang liburan." Gaara menyembunyikan alasan ia datang ke Pulau Sajak "Surat dari Mr. Owen tidak kubawa, terserah kalian untuk mempercayai atau tidak alasanku tadi."
Sungguh bourjois yang percaya diri…batin hampir semua yang ada di situ. Sai menjelaskan alasannya dengan benar. Dia sendiri terkejut bahwa dari 8 tamu yang diundang, tidak ada yang terlihat seperti seorang seniman.
"Anda mendapatkan surat dari Yanazaka Gallery? Galeri seni baru yang dimiliki oleh seorang kaya misterius itu?" Sakura bertanya dengan nada tak percaya "Kenapa anda tidak memeriksa ke Yanazaka Gallery langsung, Tuan Sai?"
Sai menggosok ujung dagunya "Saya tidak memiliki kontak orang-orang di sana. Lagipula Yanazaka Gallery adalah galeri seni baru, tentu saja belum terlalu eksis di dunia seni. Nama fenomenalnya muncul karena isu tentang pemiliknya saja, seorang milyader! Bayangkan…"
Ino menjelaskan dengan benar semua isi surat yang ia terima, walaupun suaranya masih dilingkupi ketakutan. Dia diundang karena Owen mengenal Shar Harbit. Ino tidak menjelaskan tentang dua alasan lainnya. Ia rasa tidak perlu.
Hiruzen Sarutobi menjelaskan bahwa Mr. Owen ini adalah teman lamanya. Wajar bagi orang tua itu mudah tertipu. Dirinya sudah tua. Sarutobi hanya yakin bahwa ia memiliki teman dengan nama keluarga Owen di inggris, namun ia tidak ingat apakah nama depannya diawali huruf U.
Semua memandang ke arah Hinata yang dari tadi belum berbicara. Dengan gugup Hinata menjelaskan soal undangan pesta. Adanya para penggemar Christie dan Conan Doyle menjadi alasan terkuat Hinata datang ke Pulau Sajak. Saat Hinata menjelaskan isi pesta tersebut adalah perdebatan soal buku-buku Christie Vs Doyle, Sasuke langsung menyambarnya dengan kalimat cepat.
"Kita sampai di penghujung." Sasuke berdiri, berjalan seperti yang tercerdas di sana.
"Nona Hinata, anda mau menjelaskan soal Ten Little Niggers kepada mereka semua?"
Hinata memandang kaget ke arah Sasuke. Hakim Sasuke terkekeh.
"Jika anda senang membaca cerita misteri, nama Agatha Christie pasti tidak asing bagi anda. Ia dijuluki Queen of Crime, maestro penulis cerita misteri yang memakai tipuan naratif. Karya-karya besarnya adalah Pembunuhan Roger Ackyrod, Pembunuhan di Kereta Orient, Pembunuhan A. B. C, dan…" Sasuke berhenti sejenak, dia senang melihat wajah penasaran Naruto "…Sepuluh Anak Negro."
"Judul yang terakhir berkisah tentang 10 orang yang datang ke Pulau Negro. 8 tamu dan 2 pelayan. Secara mengejutkan, dosa dari 10 orang di pulau tersebut dibongkar. Mereka dibacakan tuduhan-tuduhan lewat piringan hitam. Lalu, satu persatu dari mereka dibunuh. Pelakunya tidak diketahui, yang pasti si Owen ini adalah pelakunya. Namun sayang, Owen hanya sebuah entitas, hanya sebuah nama. Pelaku yang sebenarnya adalah salah satu dari 10 orang tersebut. Bagaimana akhir ceritanya?" Sasuke melirik ke arah Hinata, seperti menyuruh Novelis Misteri tersebut meneruskan penjelasannya. Hinata mengucapkannya dengan gugup.
"Se-semua orang di Pulau itu…te-tewas."
Semuanya terkejut. Suara penuh kericuhan terjadi di Ruang Santai.
"Apa hubungannya dengan kita-"
"Tenangkan diri anda, Tuan Inspektur." Sasuke berdiri tegak, wajahnya penuh aura bersemangat.
"Kalian pasti tahu sajak-sajak yang tertempel di kamar kita. Nah, Owen membunuh 9 orang lainnya menggunakan prinsip sajak-sajak tersebut. Pelaku memiliki metode sendiri dalam kegiatan pembantaiannya."
"Siapa pelakunya?" tanya Gaara ketus. Sasuke melirik sejenak ke arah Gaara sebelum kembali melihat wajah pucat Naruto.
"Di akhir cerita, pelakunya adalah sang Hakim yang menjadi korban kelima. Pelaku berpura-pura mati dan bekerja sama dengan seorang Dokter di dalam cerita. Setelah 9 orang lainnya tewas, si hakim bunuh diri dengan menembakkan pistol ke kepalanya. Jadilah maha karya hebat di pulau tersebut," Sasuke mengangkat kedua tangannya "Lagipula itu hanya cerita…"
"Ce-cerita apanya?! Sekarang kita mengalaminya sesuai dengan apa yang diceritakan?!"
Nada suara Ino penuh kemarahan "Hakim? Anda bilang pelakunya hakim. Ja-jangan-jangan memang anda pelakunya Hakim Sasuke. Anda juga terlihat seperti…seperti seorang PSIKOPAT!"
"Jangan menuduh sembarangan, Nona Ino. Jika aku ingin membunuh kalian, aku tidak akan menggunakan cerita yang persis dengan di buku Christie. Jika aku menggunakannya, pasti akan ketahuan berdasarkan referensi cerita. Kita hanya tahu satu hal," Sasuke menunjuk keningnya.
"Pelaku yang sebenarnya ada di antara kita, dan dia benar-benar orang yang berbahaya. Orang gila. Psikopat. Dia menggunakan cerita Christie untuk membantai kita semua."
Semua saling berpandangan. Bulu kuduk mereka berdiri. Di dalam hati mereka berkata, aku tidak menyangka jika si ini atau si ini adalah pelakunya, atau hati mereka berkata dari 10 orang ini, siapa si Owen mengerikan itu
Tetapi sang pelaku tentu saja berkata di dalam hatinya,
Siapkan diri kalian, karena pembalasan keadilan akan datang membawa nyawa kalian semua!
Bab 3. END
Challenge (revisi): Barangsiapa yang bisa menebak pembunuhnya, maka tidak dihadiahi apapun, hanya untuk menarik minat Readers untuk berpikir. Tebakan pembunuh itu disertai alasan dan bukti kenapa dia bisa menjadi pembunuh. Penulis akan bermain adil dengan menggambarkan kejadian-kejadian serta menghubungkan setiap cerita dari 10 orang tersebut. Pembaca juga bisa menebak pelaku melalui cerita asli karya Agatha Christie yang berjudul Ten Litte Niggers atau And Then There Were None.
Clue: Tuan Hakim berkilah bahwa jika dirinya si pelaku, ia tidak akan membantai 9 tamu lainnya menggunakan cerita seperti di Buku Christie. Gaara menyembunyikan alasannya datang ke Pulau Sajak, sementara Ino tidak menjelaskan semua alasannya untuk datang ke Pulau Negro.
Clue2: Hakim Sasuke sendiri mengataka bahwa korban kelima adalah pelaku pembunuhan, serta pelaku di cerita adalah seorang hakim.
-Tebakan dari Reviews: Sasuke (sesuai cerita), Jiraiya (karena paling memahami Pulau Sajak), Gaara (seolah-olah memiliki darah Psikopat. Kata Psikopat pada Gaara ada di Bab/chap 2). Sai (tebakan). Sarutobi H (tebakan).
Jawaban Pertanyaan: Satu. Mirip Ten Little Niggers? Jawab: Ten Little Niggers menjadi rujukan bagi 10 orang tersebut untuk menebak sang Pelaku. Dua. Chap berapa pelaku diungkap? Belum diketahui
