Act X. Vanishing

Apa yang terjadi di kemudian hari akan menjadi misteri yang dinantikan.

Draco memandang majikannya dari kejauhan, berdiri di tempat teduh dengan pakaian serba hitam sementara gadis itu bercengkerama dengan dua sahabat barunya—tertawa di bawah sinar mentari yang menyengat. Si vampir menyipitkan kedua matanya sembari memasang kacamata hitamnya. Menyakukan tangan dan melenggang pergi.

Untuk beberapa kali yang bisa dihitung dengan jari, Draco menyelinap pergi tanpa memberi tahu Hermione terlebih dahulu. Apakah Hermione merasakan kepergiannya atau tidak, hal itu juga adalah suatu misteri yang tidak pernah mereka bicarakan. Gadis itu mungkin mengerti bahwa ia tidak sepenuhnya memegang hidup sang vampir walaupun vampir itu mengikat hidupnya pada Hermione.

Huh. Draco punya banyak rahasia. Tambahan, dia juga tahu semua rahasia Hermione biarpun gadis itu tak mengucapkan sepatah katapun—well, selama ini Draco hidup di dalam bayangannya, jadi yah, tidak mudah menyembunyikan rahasia darinya.

Hermione memejamkan matanya, merasakan ikatan batin yang terulur. Sepertinya Draco pergi jauh. Hermione mengedarkan pandangannya. Hanya ada para murid yang tidak sabar menunggu kereta untuk segera pulang ke rumah masing-masing dan pohon-pohon yang menjulang tinggi. Tidak ada sosok vampir yang kelihatan—atau versi remaja yang pernah diperlihatkannya dulu.

Bukan hal yang perlu diributkan, karena Draco selalu kembali padanya.

Act XI. Visiting Home

Alur kehidupan murid-murid Hogwarts mengingatkannya tentang masa-masa yang telah berlalu. Berabad-abad berdiam di dalam kenangan. Sesuatu yang tidak bisa dikembalikan lagi. Hanya dirasakan untuk memberikan kerinduan yang mendalam. Draco mendongak dan menatap.

Rumput-rumput liar tumbuh subur, merubah taman indah menjadi semak belukar biasa yang memerlukan kerja keras untuk dibersihkan. Tanaman-tanaman menjalar telah merambati dinding, memeluk kaca jendela, bahkan sampai di balkon. Lumut-lumut dan cat yang terkelupas mewarnai tembok manor.

Draco menghela nafas.

Sepertinya Peri Rumah sudah meninggalkan manor atau—

Draco merapatkan bibir.

Atau mereka tidak merasa perlu untuk membersihkan halaman luar manor.

Draco menghembuskan nafas, tersenyum tipis. Dengan langkah panjang menyusuri jalan utama menuju teras. Menggerakkan jari telunjuknya sedikit dan pintu mendadak terbuka dengan kekuatan gaib.

Iris kelabu mengintip dari balik kacamata hitamnya, menyeringai.

"Aku pulang."

Berbeda dengan kekacauan di luar, pemandangan di dalam manor tampak bersih, perabotan mengilap dan tak ada debu yang menumpuk. Seseorang jelas merawatnya, tetapi tidak ada sambutan saat akhirnya sang tuan rumah mengumumkan kedatangannya. Draco sudah menduga hal itu. Karena Flecker yang lamban selalu mengulur-ulur waktu untuk muncul dan menjawabnya.

"Selamat datang, Tuan."

Nah, itu dia. Tua, keriput, dan mata sayu. Draco sebaiknya memperkerjakan Peri Rumah baru sebelum Flecker mati dimakan usia. Draco tersenyum lebar, melepas topi hitamnya.

"Kau terlihat makin muda, Flecker." Iris kelabunya berkilat, mencemooh.

"Dan Anda sama sekali tidak berubah, Tuan Draco, masih bermulut pedas seperti saat terakhir kali Anda mengatakan hal itu pada saya," balas Flecker, tak terpengaruh. Raut wajahnya tampak melunak dan santai saat majikannya menekuk kepala ke belakang dan tertawa keras. Kecuali Anda sepertinya sudah tidak bosan lagi seperti dulu.

XII. Talk with Flecker

Flecker menjentikkan jarinya dan secangkir teh dan kudapan muncul secara magis di atas meja di samping sofa. Draco menghempaskan badan di sofa itu, menyilangkan kakinya yang panjang.

"Flecker," mulai sang vampir albino, menyatukan kedua tangannya di atas lutut, "Aku tidak bermaksud mengusirmu, tapi kalau kau membiarkan halaman manorku menjadi lahan pakan kambing, aku akan terpaksa memberimu kaos kaki. Tentu saja yang warna ungu. Aku masih ingat kedua bola matamu yang berukuran 1/3 bludger itu bersinar tiap melihat tirai ungu di ruang belajarku."

Flecker, Peri Rumah yang telah lanjut usia, hanya mengedipkan matanya dengan lambat. Dalam hati, Draco merasa kasihan karena indra pendengaran Flecker sepertinya makin tidak bisa diandalkan.

"Saya suka tirai di ruang belajar Anda, Tuan Draco."

Draco diam sejenak. Memandangnya tenang. "Apa kau akan pergi jika kuberikan tirai itu padamu?"

"Tidak perlu ditanyakan lagi. Peraturan kami Anda tahu semuanya."

"Apa kau mau menerimanya?" tanya Draco, "Flecker?"

Waktu itu gerimis turun walaupun langit sangat cerah dan berwarna biru. Ah, pikir Draco, menoleh ke jendela besar yang dbingkai oleh tirai emerald yang cantik. Musim gugur sudah datang. Flecker yang lamban belum menjawab pertanyaannya, namun rasanya Draco sudah bisa menduga-duga jawaban Peri Rumah itu akan seperti apa.

"Tuan, saya mungkin menyukai tirai itu, tapi lebih suka mengurus seluruh isi manor ini."

Flecker bisa melihat kedutan di bibir majikannya walaupun pria itu tidak menoleh ke arahnya. Draco tertawa kecil.

"Sudah kuduga," katanya.

Seulas senyum menghiasi wajah Flecker yang dipenuhi garis-garis usia dan pengalaman. "Saya akan selalu ada di sini saat Anda memutuskan untuk berkunjung," ia menambahkan, "atau pulang, Tuan Draco."

"Hm," balas sang vampir butir-butir air yang hinggap di kaca jendela. Pohon-pohon yang bergoyang di kejauhan. Sepintas pemandangan itu berubah ketika ia mengingat anak-anak yang berlalu-lalang seraya menarik koper masing-masing. Tertawa dan berbicara tentang liburan dan keluarga.

Tanpa sadar, Draco Malfoy menghembuskan nafas berat.

XIII. In for a secret

Hermione Granger duduk bersila di atas tempat tidurnya, menggarisbawahi beberapa paragraf yang ingin ia pelajari sebelum masuk sekolah nanti. Bibir merah muda mengembangkan senyum tatkala mengingat pengalaman menegangkan (well, itu pendapat Harry dan Ron) yang ia alami bersama kedua sahabat barunya. Banyak misteri yang harus dipecahkan sebenarnya. Siapa Voldemort? Kemana Quirrell? Dimana Hermione bisa mendapatkan Fluffy no. 2? dan lain-lain.

Dan siapa yang mengira bahwa semua misteri utama –tentang Voldemort— berpusat pada Harry dan tanda petir di dahinya. Kasihan sekali Harry. Hermione tidak yakin bahwa hidup Harry akan tenang tanpa masalah. Lihat saja, baru tahun pertama tapi sudah tersandung masalah Voldemort!?

Garis bibirnya melengkung naik.

Ini menarik.

Hermione tidak sabar untuk melihat apa yang akan terjadi ke depannya.

"Dear," suara familiar berbisik di telinganya saat tanpa suara si empunya muncul di sampingnya dan mendekatkan wajah, "jangan menyembunyikan sesuatu yang menarik hanya untuk dirimu saja. Bagi rasa ketertarikanmu itu denganku, Hermione."

Hermione tidak menoleh, senyuman kecil tertarik makin lebar. Gadis itu mengangkat wajah dari bukunya dan berkata dengan mata berkilat seolah perasaan di hatinya bergejolak penuh ekstasi.

"Tidakkah kau setuju denganku, Draco?" ujarnya, menahan getaran bahagia di tiap kata, "Hogwarts, Harry, dan Voldemort akan memberikanku pertunjukan yang menyenangkan!"

Tergelak, gadis itu lantas membungkam mulutnya sendiri. Tawanya teredam sementara bahunya bergetar hebat.

Draco hanya diam. Sepasang iris merah memandang gadis itu dengan penuh rasa sayang.