Sinar matahari pagi menembus masuk dari pintu kaca itu membuat Sehun membuka matanya perlahan-lahan. Sehun menguap sekali, ia sangat menikmati tidurnya. Mungkin karena hatinya senang, jadi tidur pun terasa tenang.
Sehun melihat ke kiri, Luhan tidak ada disana. Kemana dia? Tanya Sehun pada dirinya sendiri. Sehun merubah posisinya menjadi duduk di tempat tidur. Ia merenggangkan tubuhnya sebentar sebelum beranjak bangun dari tempat tidur. Sehun baru saja hendak berjalan ke arah balkon, ketika sesuatu membuatnya terhenti.
Seseorang berdiri di balkon, membelakangi Sehun. Siapa lagi kalau bukan Luhan?
Sehun terpaku melihat Luhan disana, saat Luhan menoleh ke samping, rambutnya tertiup angin, wajahnya disinari oleh mentari pagi, Luhan terlihat sangat ... cantik.
Tanpa sadar Sehun menahan nafasnya beberapa detik, lalu akhirnya ia tersadar dari lamunannya. Astaga Sehun, apa yang kau fikirkan?
Sehun berjalan mendekat ke arah Luhan lalu berdiri disampingnya. Luhan yang menyadari kehadiran Sehun segera menoleh, "Oh, sudah bangun ya. Selamat pagi!" sapa Luhan dengan senyumnya yang tanpa sadar membuat Sehun ikut tersenyum.
"Pagi," jawab Sehun. "Kau sudah bangun daritadi?"
"Ya. Kau tidur nyenyak sekali sampai baru bangun jam segini."
Sehun terkekeh, "Kau tidak melakukan apapun saat aku tidur kan?"
"Yah! Bicara apa kau ini." sahut Luhan langsung dengan nada meninggi.
Sehun tertawa, "Yaa, siapa tahu."
"Aku tidak melakukan apapun padamu saat kau tidur. Itu karena aku tidak gay, okay?"
"Benarkah? Lalu kenapa kau gugup saat aku mendekatimu kemarin?"
"Aku hanya takut padamu. Aku takut kau lah yang gay." jawab Luhan dengan nada se-serius mungkin.
Sehun mengangguk-anggukan kepalanya dengan wajah meledek, "Ya, ya, kau memang cantik seperti yeoja. Jadi tidak aneh jika aku suka padamu."
"YAH!" Luhan sudah ingin mencekik Sehun saat itu juga tapi Sehun sontak menghindar dari Luhan. "Bercanda! Bercanda!" teriak Sehun berusaha menenangkan Luhan.
Luhan mempoutskan bibirnya sambil menatap Sehun tajam, sementara Sehun tersenyum lima jari kepadanya. "Daripada bertengkar, bagaimana kalau jalan-jalan lagi?" gumam Sehun menawarkan.
Luhan hanya bisa menghela nafas. Entah kekuatan macam apa yang dimiliki oleh Sehun, tapi Luhan selalu saja menurut dengan apa yang dikatakannya. Luhan juga tidak tau ada apa dengan dirinya. Apa ini yang dinamakan rasa kasihan?
"Jangan melamun. Cepatlah mandi!" ujar Sehun sambil mendorong bahu Luhan pelan. "Ish, kau ini! Sabar sedikit!" omel Luhan.
Sehun terkekeh lagi, "Atau mungkin kau ingin mandi denganku?" ledek Sehun.
Kemudian sepasang sendal hotel mendarat tepat di kepala Sehun.
"Sudah siap?" Tanya Sehun sambil menggemblok tasnya. Luhan menangguk, "Ya!"
Mereka berdua segera keluar dari kamar dan berjalan menuju ke Play Hill. Menurut kabar yang beredar, di pulau ini ada sebuah taman bermain yang sangat asyik. Jadi Sehun dan Luhan memutuskan untuk pergi kesana sekarang.
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih selama 15 menit. Mereka berdua akhirnya sampai. Sehun hampir tidak bisa berkedip melihat pemandangan didepannya. Sebuah taman bermain yang luas terlihat jelas di depannya.
Luhan juga tidak kalah kagumnya, matanya berbinar-binar melihat pemandangan di depannya. "Ayo masuk!" ajak Luhan semangat sambil menarik tangan Sehun. Sehun hanya pasrah, membiarkan Luhan menarik tangannya.
Mereka berdua langsung mencoba beberapa permainan-permainan kecil. Seperti menembak bebek, memasukan gelang ke sebuah tiang, memukul sebuah tombol dengan palu yang besar, dan banyak lagi.
"Luhan! Kemarilah!" kali ini Sehun yang menarik tangan Luhan dengan semangat.
"Apa sehun?"
"Lihat!" ujar Sehun sambil menunjuk ke arah sebuah wahana. Roller Coaster. Luhan menelan ludah ketika melihat wahana itu, "A-apa?" tanyanya gugup.
"Kita harus mencoba permainan itu!"
Luhan sontak melepaskan genggaman tangan Sehun di lengannya, "Tidak mau!" teriaknya.
Sehun mengangkat alis heran, "Kau takut huh?"
Luhan menggeleng, "T-tidak.."
"Lalu? Ayolah cepat! Itu terlihat seru!"
"Tidak! Kalau kau mau naik, naiklah sendiri!"
Sehun terkekeh pelan, sebenarnya ia bisa melihat dengan jelas kalau Luhan memang takut. Wajah Luhan menatap roller coaster itu dengan ngeri dan sesekali wajahnya berubah cemas.
"Ayolah Luhan, itu tidak seburuk yang kau bayangkan!" bujuk Sehun sambil menarik tangan Luhan, namun Luhan segera menghindar dan menggeleng, "Tidak! Pokoknya aku tidak mau!"
"tsk. Jelas sekali kau ini gay."
"YAH! JANGAN ASAL BICARA!" Teriak Luhan keras. Membuat beberapa orang di sekitarnya terkejut, tapi Luhan tidak perduli.
"Kalau begitu naiklah! Kalau kau tidak mau, aku akan memanggilmu Gay seumur hidupmu." ancam Sehun.
Luhan menatap Sehun dengan sebal. Sial, anak ini benar-benar menyebalkan. gerutu Luhan.
"Sepertinya kau berubah fikiran sekarang? Kalau begitu, ayo!" ajak Sehun semangat dan menarik tangan Luhan. Luhan hanya pasrah, tidak tau harus apa lagi.
Kurang dari lima menit kemudian, Sehun dan Luhan sudah duduk di roller coaster. Sehun memasang safety beltnya sambil tersenyum senang sementara Luhan memasang safety beltnya dengan tangan bergetar.
Sehun yang melihat ketakutan Luhan rasanya ingin tertawa terbahak-bahak. Tapi tentu saja ia tetap menahannya. Sehun tidak ingin di tendang dari apartement Luhan.
Pengaman sudah dipasang dengan lengkap, kurang lebih lima detik lagi roller coaster itu akan meluncur. Keringat dingin mengucur dari dahi Luhan. Sungguh, sejak Luhan kecil, ia tidak pernah naik yang seperti ini. Ia sangat takut. Tapi apa daya, sekarang ia hanya berdoa dalam hati semoga saja ia akan baik-baik saja.
Roller coaster itu perlahan berjalan, jantung Luhan berdebar kencang saat roller coaster itu mulai menanjaki lintasan itu. Kini roller coaster itu berada di atas, Luhan menutup matanya.
1..2..3
Wuushhhh
Roller coaster itu meluncur bebas dari atas, meluncuri lintasan yang berkelok-kelok.
"WHOOOOO YEAAAHHH HAHA INI KEREEENN!" Teriak Sehun semangat. Ia sangat menikmati wahana itu.
Sementara Luhan?
"HUWAAAAA TUHAAAN TOLONG AKUUU! AKU AKAN MATI DISINI HUAAAAA AKU INGIN TURUUUN!" Teriak Luhan histeris.
Sehun menoleh ke arah Luhan yang menutup matanya sambil berteriak histeris, Sehun tertawa pelan. Menurutnya wajah Luhan terlihat sangat lucu. Sehun meraih tangan Luhan yang mencengkram pengaman itu lalu menggenggamnya erat.
"Aku disini, jangan khawatir, kau akan baik-baik saja." bisik Sehun.
Luhan tidak mendengar sepatah kata pun dari Sehun. Yang ia tahu hanya Sehun menggenggam tangannya. Rasanya jantung Luhan berdetak dua kali lebih kencang dari roller coaster yang ia naiki saat ini.
Lima menit kemudian, Roller Coaster itu terhenti. Sehun melepaskan genggaman tangannya lalu keluar dari roller coaster itu.
Tangan Luhan melemas, ia menghela nafas lega. Terima kasih tuhan, aku masih hidup. Gumam Luhan dalam hati.
"Hey, ayo. Kau mau disana terus dan naik lagi?" tanya Sehun sambil mengulurkan tangannya pada Luhan.
Luhan melirik Sehun tajam, "Tidak!" bentaknya. Lalu meraih tangan Sehun dan beranjak dari roller coaster itu. Sehun hanya tertawa melihat reaksi Luhan. Walau terkadang galak, Luhan tetap terlihat manis.
"Roller coaster itu, tidak terlalu buruk kan?" tanya Sehun. Luhan memutar bola matanya, "Aku hampir mati, kau tau."
Sehun terkekeh pelan lalu meminum jusnya. Mereka berdua sedang berada di sebuah restoran kecil sekarang. Lelah setelah bermain-main, mereka memilih untuk mengisi perut mereka terlebih dahulu.
"Jadi, setelah ini kemana?" tanya Luhan sebelum menyuapkan sepotong daging ke mulutnya.
Sehun mengangkat bahu, "Entahlah, ada ide?"
Luhan baru saja hendak menjawab, ketika tiba-tiba ponselnya berdering tanda ada panggilan masuk.
"Sebentar." gumam Luhan sambil merogoh sakunya.
Sehun mengangguk, lalu fokus terhadap makanannya.
"Hallo?"
"Luhan!" teriak Xiumin diujung sana.
"Xiumin!" teriak Luhan senang. Sehun melirik Luhan yang tersenyum cerah itu, Xiumin ya? Oh, sahabatnya. gumam Sehun dalam hatinya.
"Bagaimana kabarmu?" tanya Xiumin.
"Aku baik-baik saja, ada apa?"
"Sehun tidak berbuat apa-apa padamu kan?"
Luhan melirik ke arah Sehun, Sehun langsung mengangkat alisnya, "Apa?" tanyanya. Luhan hanya menggeleng, lalu kembali berbicara pada Xiumin. "Tidak, dia anak baik."
Sehun tertawa pelan. Membicarakanku, eh?
"Baguslah. Ohya, ngomong-ngomong... sepertinya kau harus kembali secepatnya."
"Memang kenapa?"
"Kyungsoo sakit. Ia izin tiga hari. Akhir-akhir ini bar juga sedang ramai. Jadi kurasa, kau harus kembali secepatnya."
Luhan terdiam sejenak, baru dua hari berlalu, ini bukanlah bagian dari rencananya. apa Sehun sudah baik-baik saja?
"Luhan? kau masih disana?"
"O-oh, Ya! ya! Aku disini. Baiklah, aku akan pulang sore ini."
Sehun yang mendengar Luhan berbicara sperti itu langsung mengerutkan dahinya bingung. Kenapa tiba-tiba pulang? fikirnya.
Ketika Luhan selesai berbicara dengan Xiumin, Sehun segera menanyakan hal itu padanya.
"Oh, itu. Bar kekurangan pekerja, salah satu pekerja sakit dan izin selama tiga hari, padahal bar sedang ramai akhir-akhir ini. Jadi aku harus pulang, bagaimana?"
Sehun menghela nafas pelan, well, sebenarnya ia tidak keberatan akan hal itu. Sehun tau ia tidak boleh egois, biar bagaimanapun Luhan punya kewajiban atas pekerjaannya. Ia hanya khawatir akan satu hal, Apa semuanya akan baik-baik saja saat kembali nanti?
"Baiklah, jadi kita pulang sore ini?" tanya Sehun. Luhan mengangguk, "Ya."
Sehun ikut mengangguk, lalu kembali memakan makanannya.
"Sehun," panggil Luhan tiba-tiba. Sehun menoleh, "Ya?"
"Kau... sudah baik-baik saja?"
Sehun tersenyum, "Bahkan sejak pertama kali bertemu denganmu, aku sudah merasa lebih baik."
Xiumin menghela nafas pelan lalu meletakan ponselnya di meja. Ia tidak tahu harus bagaimana, tapi yang jelas ia merasa sedikit bersalah karena telah berbohong pada Luhan.
Sebenarnya Kyungsoo izin karena memang Xiumin yang memberikan izin padanya untuk berlibur selama tiga hari. Xiumin melakukan ini untuk membuat Luhan kembali secepatnya. Ia tidak ingin Luhan terlalu lama berduaan dengan Sehun.
Namja yang tidak jelas asal-usulnya bisa dengan mudahnya mencuri perhatian Luhan. Tapi kenapa Xiumin tidak? Xiumin dan Luhan sudah bersama-sama sejak lama, tapi kenapa Luhan tidak pernah berubah terhadap Xiumin? Luhan selalu tersenyum seperti biasa pada Xiumin, berbicara seperti biasa, bercanda seperti biasa. Luhan melakukan hal yang sama kepada orang lain. Kenapa Luhan tidak pernah menganggap Xiumin spesial? Itu lah yang ada difikiran Xiumin.
"Kenapa kau tidak pernah sadar kalau aku menyukaimu?" tanya Xiumin sambil menatap foto Luhan di layar ponselnya.
Sehun menghempaskan tubuhnya di sofa, perjalanan pulang justru terasa lebih melelahkan baginya. Liburan yang seharusnya mencapai satu minggu itu tiba-tiba saja dipersingkat jadi dua hari, sangat mengecewakan.
"Mandi dulu, baru tidur. Eh, kau juga belum makan kan?" gumam Luhan sambil meletakan ranselnya di sofa yang lain.
"Kau mau langsung kerja?" Sehun melihat jam tangannya, "Ini baru jam empat sore, bar buka jam berapa?"
"Jam lima. Dan ya, aku akan masuk mulai malam ini." jawab Luhan sambil berjalan ke arah dapur.
"Hey, kau serius? Kenapa tidak besok saja? Memangnya kau tidak lelah?" tanya Sehun sambil bangkit dari sofa dan menghampiri Luhan di dapur.
Luhan mengambil beberapa jelly dari kulkas lalu membukanya, "Tidak, Aku baik-baik saja." jawab Luhan, lalu memakan jelly cup dengan sendok.
Sehun tertawa, "Hey,"
Luhan menaikan alisnya menatap Sehun dengan sendok yang masih ditahannya di dalam mulutnya, "hm?"
"Kau bilang orang dewasa tidak makan jelly?" ledek Sehun.
Luhan terdiam sejenak. Oh astaga. Ia baru tersadar kalau ia memakan jelly milik Sehun sekarang. Luhan, kau termakan omongan sendiri. Gumamnya pada dirinya sendiri.
"Ini... enak." gumam Luhan polos sambil menggigit sendoknya.
Sehun tersenyum melihat tingkah Luhan yang menurutnya sangat imut itu. "Benar, kan? Lain kali kau harus mencobanya sebelum berkomentar." ujar Sehun.
Luhan hanya memutar bola matanya lalu melanjutkan memakan jellynya.
Ting tong
Tiba- tiba terdengar suara bel apartement Luhan.
"Biar aku yang buka," gumam Sehun, lalu segera berjalan menuju pintu dan membukakan pintu tersebut.
"LU—oh, hey." Xiumin yang tadinya semangat ingin menyapa Luhan seketika terdiam ketike melihat yang membukakan pintunya adalah Sehun.
"Masuklah, Luhan didalam." Kata Sehun sambil membuka pintu lebar-lebar. Xiumin melangkah masuk dan segera mencari-cari keberadaan Luhan.
"Di dapur." Gumam Sehun sambil melangkah kembali dari arah pintu.
Xiumin segera melangkah ke dapur. "Luluuu!"
Selanjutnya yang terdengar oleh Sehun hanyalah tawa dan canda dari arah dapur.
"Bagaimana kabarmu?"
"Wah kau semakin kurus."
"Pulau itu indah?"
"Hahaha pasti kau hampir menangis saat naik roller coaster itu!"
Sehun menghela nafas, sudah setengah jam Luhan dan Xiumin mengobrol berdua didapur. Sehun ingin bergabung, tapi ia tidak ingin mengganggu momen dua sahabat itu. Sehun juga punya sahabat, Park Chanyeol. Tapi Sehun rasa ia tidak sedekat itu dengan Chanyeol.
Sehun akhirnya berjalan ke dapur, dilihatnya Xiumin dan Luhan sedang duduk di meja makan sambil mengobrol.
"ehem."
Luhan dan Xiumin menoleh, "Oh, Sehun! Sudah bangun rupanya? Kemarilah!"
Sehun menaikan alisnya bingung, "Aku tidak tidur."
"Benarkah?"
"Kukira tadi kau tertidur di sofa itu." Sela Xiumin.
"Oh.." jawab Sehun singkat sambil duduk di sebelah Luhan. "Ngomong-ngomong, aku lapar."
Luhan mengangguk setuju, "Oh, ya. Aku juga. Bagaimana kalau pesan makanan saja?"
"Aku yang traktir."
"Aku yang traktir."
Gumam Xiumin dan Sehun bersamaan. Luhan yang melihat pemandangan itu seketika tertawa. Sementara Xiumin dan Sehun sendiri saling bertatapan sinis.
"Kalian terlalu baik, Aku saja yang traktir kali ini, okay?" gumam Luhan menengahi. "Pesan apa?"
"Tteokbokki?" usul Xiumin. Luhan menggeleng, "Aku sudah makan itu kemarin."
"Bagaimana kalau pasta? Seperti spaghetti?" Kali ini Sehun yang mengusulkan. Luhan mengangguk semangat, "Ya! Ya! Aku setuju! Kau setuju kan, xiu?"
Xiumin hanya mengangguk. Dalam hati megutuk Oh Sehun sialan itu, ia merasa kalah darinya.
"Baiklah, kalau begitu aku ambil pon-"
"Pakai punyaku saja," potong Sehun sambil menyodorkan ponselnya pada Luhan. Luhan tersenyum lalu mengambil ponsel itu, "Terima kasih."
Xiumin bersumpah ia ingin menonjok wajah Sehun saat itu juga. Sehun seperti penghalang hubungannya dengan Luhan. Anak itu bertingkah seperti dia lah yang lebih tau tentang Luhan di banding Xiumin.
Sementara Sehun, ia hanya bersikap santai. Dari sikap yang ditunjukan oleh Xiumin padanya, sepertinya Sehun bisa menebak kalau Xiumin tidak suka sahabatnya di dekati oleh Sehun. Atau kemungkinan yang lain, Xiumin menyukai Luhan. Yap, Teruslah berspekulasi, Oh Sehun.
Malam itu suasana di apartement Luhan tidak terlalu baik. Makan malam antara Sehun, Xiumin, dan Luhan diwarnai obrolan yang … aneh.
Sehun dan Luhan terus menceritakan soal liburan mereka, sementara Xiumin dan Luhan selalu membicarakan masa-masa sekolah mereka dulu. Ada saatnya Xiumin yang diam, dan ada saatnya Sehun yang diam. Luhan menyadari ke anehan itu, tapi ia tetap positive thinking. Tidak mungkin sesuatu yang buruk terjadi antara Xiumin dan Sehun saat pertemuan mereka yang pertama, bukan? Fikir Luhan.
29 Maret 2011
Sudah dua minggu lamanya Sehun tinggal di apartement Luhan, Sehun tidak sedikitpun berfikir ia ingin meninggalkan apartement itu. Sehun mulai terbiasa dengan kehidupannya di apartement Luhan. Bagaimana ia selalu membuat sarapan setiap 4 kali seminggu, bagaimana ia selalu merapihkan apartement Luhan, bagaimana ia selalu menyapa Luhan ketika ia pulang kerja, dan bagaimana ia menikmati wajah Luhan saat Luhan tertidur. (Sehun diam-diam menyusup kedalam kamar Luhan setiap malam hanya untuk memandangi wajah damai Luhan saat ia tertidur.)
Dan kabar baiknya, Sehun sudah tidak pernah memikirkan Krystal, ia tidak pernah mengingat-ngingat atau mengungkit-ungkit kenangannya di masa lalu dengan Krystal. Dan menurut Sehun, itu adalah perkembangan yang bagus.
Hari ini Kris tiba-tiba saja menghubungi Sehun, ia ingin bertemu dengan Sehun katanya. Sehun setuju untuk bertemu di sebuah restoran, dan sekarang, Sehun sudah duduk di salah satu meja kosong di pojok restoran sambil meminum kopinya.
Tiba-tiba seseorang menepuk pundaknya dari belakang, membuat Sehun tersedak minumannya. "Hey," Sehun baru saja hendak mengomel, tapi tiba-tiba ia melihat seseorang yang sudah sangat dikenalnya. Ya, hyungnya itulah yang menjadi tersangka.
"Hey adikku sayang." Gumam Kris sambil duduk di depan Sehun.
"Ish, kau ini. Kenapa kau ingin menemuiku huh?"
"Ya! Begitukah caramu berbicara dengan hyungmu?"
Sehun memutar bola matanya, "Astaga, sudahlah, aku tidak punya banyak waktu."
"Dimana kau tinggal sekarang? Ayah dan Ibu menghawatirkanmu."
"Oh, soal itu. Aku tinggal di apartement temanku. Katakan pada mereka kalau aku masih hidup, tidak perlu khawatir."
"Ya, kukira kau akan bunuh diri karena Krystal."
"Jangan sebut namanya. Aku malas mendengarnya."
Kris terkekeh pelan, "Baiklah, Ganti topic. Kau terlihat kurusan."
"Dan tetap tampan." Sambung Sehun.
"Terserah. Dan ngomong-ngomong, kau sudah tidak galau lagi karena Krys- maksudku, you-know-who."
Sehun menggeleng, "Tidak."
"Bagaimana bisa?"
Sehun berfikir sejenak lalu tiba-tiba otaknya memikirkan Luhan. Dan bibirnya melengkungkan sebuah senyuman yang membuatnya terlihat seperti orang gila.
"Luhan." Gumam Sehun pelan.
Kris menaikan alisnya, "Excuse me? Bisa tolong kau ulang? Aku tidak dengar."
"Luhan," Ulang Sehun. "Kurasa dia yang membuatku seperti hidup kembali."
"Siapa itu Luhan?"
Sehun terdiam sejenak, siapa Luhan? Baiklah, Siapa itu Luhan bagi Sehun? Teman? Sahabat? Atau mungkin…Orang yang sudah Sehun anggap sebagai Hyung? Atau mungkin lagi…
"Orang yang kusukai?"
Kris membulatkan matanya, "Apa?! Kau sudah dapat yeoja baru?!"
Sehun terdiam lagi. Yeoja? Astaga, Luhan bahkan bukan yeoja! Lalu, bagaimana Sehun bisa menyukai Luhan? Apakah Sehun ….. gay?
"Hey, jawab aku! Jangan-jangan Luhan itu namja ya?" gurau Kris.
Sehun menatap Hyungnya itu dengan tatapan serius. Membuat Kris terdiam, sorot mata Sehun seolah-olah menjawab pertanyaan gurauan Kris tadi.
"Astaga Sehun, Kau serius?!"
TBC.
ASIK ASIK YEHET. AKHIRNYA BISA CEPET UPDATE. WUSSHHHH. SEMOGA CHAP INI GA MENGECEWAKAN YAAA :3
Keep waiting for the next chap. And thanks for fav-ing, following, and did review this story. LAFYAAAAA MUAH
