AFTER A YEAR HE LEFT ME

FanFiction SENGOKU BASARA © CAPCOM

Is this a fate? I don't know…

Is Aniki really take me away? From him…

I'm sorry, maybe I can't together with you from now on…

But I will always be at your side…forever…


Jarinya bergetar hebat. Giginya mengigit bibirnya dengan keras, hingga tersayat kecil. Keringat dingin tak kunjung berhenti untuk mengalir. Jantungnya berdegup hebat seperti orang habis berlari berpuluh-puluh kilometer, dan napasnya terengah-engah.

Yukimura berdiri kaku didepan ruang gawat darurat Rumah Sakit. Bibirnya tak berhenti mengucapkan puluhan doa kepada Kami-sama, ia berharap sahabat terbaiknya itu akan segera sadar dan bisa bersamanya lagi.

"Sorachi-dono…" Sesekali Yukimura memanggil Sorachi dengan suara bergetar.

Tak lama berselang, keluarga Sorachi datang menuju Rumah Sakit tersebut. Ayah, ibu, Rena, dan Saica, semuanya datang. Mereka melihat Yukimura dengan tatapan heran.

Sesaat seorang dokter keluar dari ruang gawat darurat itu. Semua mata langsung tertuju padanya, terlebih Yukimura. Yukimura langsung berlari mendekati dokter itu dengan tatapan deathglare.

"Dokter, bagaimana—bagaimana keadaan Sorachi-dono?" Tanyanya dengan panik. Ibu Yukimura berusaha menenangkan Yukimura, namun ia tetap saja panik.

"Maafkan aku, nak…" Dokter itu angkat bicara. "Saya tidak bisa menyelamatkannya. Luka di otaknya sungguh parah. Ia tidak mungkin hidup lama. Kalaupun iya, dengan cara operasi sekalipun, ia akan lumpuh total selamanya…" Ujarnya dengan nada lirih.

Hati Yukimura serasa ditusuk ribuan jarum. Ia pun menarik kerah baju dokter itu.

"Kalau lumpuh kaki saja tidak apa-apa, kan, dok?! Selamatkan dia, kumohon…" Pintanya dengan sangat, namun dokter itu menggeleng lemas.

"Bukan hanya lumpuh kaki, ia tidak akan bisa bicara, berjalan, mengunyah, dan melakukan aktifitas normal kembali…selamanya…" .

"Ap—" Yukimura terbata lalu terdiam.

"Saat ini ia sudah sadar, namun kondisinya sangat lemah. Ia bisa bicara sedikit…silahkan kalau kalian mau bicara padanya…permisi.." Ujar dokter itu seraya pergi.

"Sanada-chan..kau temui dia duluan…" Ujar Rena.

"Tap—tapi, kalian 'kan keluarganya?" Yukimura berpaling.

"Tidak. Kau yang harus menemuinya dulu…" Saica mulai angkat bicara.

Yukimura mengangguk. Ia pun segera masuk kedalam ruangan itu.

Disana, Sorachi terbaring dengan jarum infuse dimana-mana. Alat untuk melihat pola detak jantungnya, bergerak perlahan dan nampak pelan. Yukimura pun berada disamping Sorachi sekarang.

Dengan kepala dibalut perban, Sorachi masih dapat bernapas, walau napasnya terdengar putus-putus dan memburu. Kepalanya bergerak perlahan kearah kiri, lalu melihat Yukimura yang berdiri disampingnya.

Yukimura tidak percaya apa yang ia lihat. Mata wanita yang tampak ceria dan membara, kini hanya menatap kosong. Tidak ada tatapan cerah dan mengejek seperti yang ia lihat biasanya. Yukimura pun menggenggam tangan Sorachi.

"Yuki..Yukimura…." Panggilnya pelan.

"Ya, ya, Sorachi-dono, aku disini…" Yukimura mulai nampak panik.

"Kau…selamat…." Seulas senyum tipis mengembang diwajahnya. Senyum yang biasanya.

"Tapi kau tidak, Sorachi-dono…" Yukimura menggenggam tangan Sorachi lebih kuat. Kesedihannya tidak bisa ia tutupi.

"Kalau aku…tidak usah dikhawatirkan…" Ujar Sorachi lagi.

"Yuki…" Panggil Sorachi lembut. Yukimura mendekatkan kepalanya kearah Sorachi.

Kecupan hangat mendarat dikeningnya. Yukimura lantas saja tergagap lalu mundur beberapa senti dari Sorachi. Ia hanya tersneyum tipis.

"Itu…dari Date-sensei…." Sorachi bicara lagi. Lalu Sorachi bangkit kembali dan menatap kearah Yukimura.

Kecupan lain mendarat dipipi lelaki berbandana merah ini. Yukimura kembali tergagap dan menjauhkan wajahnya dari Sorachi.

"Dan itu…dariku…" Ujar Sorachi lagi. Ia lalu tidur lagi di tempat tidur.

Padangan Sorachi mendadak kabur. Alat untuk melihat pola jantung itu mendadak berbunyi juga. Garis-garis semerawut itu bergerak semakin kebawah, dan kebawah. Lantas saja Yukimura panik.

"Sorachi-dono! Bertahanlah…." Yukimura menggoyang-goyangkan tubuhnya.

"Yuki…dengar…" Sorachi berbicara dengan nada terbata.

"Aku…berterima kasih kau sudah menjadi sahabatku…walaupun kadang aku sering menjahilimu…dan segalanya. Tapi sepertinya…takdir tidak memperbolehkan kita terus bersama…." .

Yukimura terpelanjat. Napas Sorachi semakin memburu.

Please, a little longer…, I want to talk to him for the last time…

"…nampaknya Aniki akan menjemputku…aku bisa bayangan dirinya dimataku…" Sorachi mulai menitikkan air mata, begitu juga dengan Yukimura.

"Sorachi-dono…aku tidak ingin kau pergi…kau adalah sahabatku…" Ujar Yukimura dengan nada bergetar.

Senyum Sorachi kembali terkembang ditengah air matanya yang jatuh. Ia pun berusaha menggerakkan tangannya.

Memeluk Yukimura.

"Yuki…aku…aku ingin mengatakan sesuatu…" Sorachi berkata lagi. Membuat telinga Yukimura panas.

"…" Sorachi sempat terdiam. Lalu ia melihat tatapan Yukimura.

"Apa kau…senang…?"

"Tidak, aku tidak senang Sorachi-dono pergi!" Yukimura memeluk Sorachi dengan eratnya. Sorachi hanya diam didalam pelukan lelaki ini.

Rasanya hangat. Punggung Yukimura lebar, ya, gumam Sorachi dalam hatinya. Ia merasa, Yukimura sudah dewasa. Seulas senyum kembali terlihat diwajah putih pucatnya. Lalu ia meminta Yukimura melepaskan pelukannya.

"Sudah..cukup…Yuki…Aniki sudah menunggu…" Sorachi mengelus pipi Yukimura. Yukimura semakin sedih. Air matanya mengalir dengan deras.

"Terima kasih dan…aku…mencintaimu…" Sorachi pun menutup matanya perlahan.

Yes, you can take me now. Bye, Yukimura...

NIIIIIITTTTT

Garis yang terlihat sekarang datar. Datar dan datar terus. Tidak ada tanda pergerakan. Yukimura hanya menatap kosong wajah Sorachi. Wajah yang damai. Senyum abadi terkembang diwajahnya, senyum terakhir yang bisa dilihat Yukimura.

Hati Yukimura terasa hancur berkeping-keping…

Ah, Yuki-chan cengeng! Masa segitu saja nangis..?!

Kenapa dia yang harus pergi…kenapa tidak aku…?

Eh, kau pernah mencoba Everlasting Pudding itu? Nampaknya enak…

Kalau saja dia tidak menyelamatkanku…

Kalau kau menang, aku akan mentraktirmu Chocolate Pudding. Tapi jika gagal, kau harus mentraktirku Everlasiting Pudding…

Aku ingin terus melihat senyumannya…terus…

Aku…mencintaimu….

"Ya, aku juga…mencintai Sorachi-dono…, sial, kenapa aku baru menyadarinya sekarang…?" Yukimura tersenyum pahit. Penyesalan dalam merasuki hatinya.

Aku bahkan tidak bisa menyatakannya padanya…


Sudah setahun berlalu sejak insiden itu, musim semi yang indah menyambut tahun ini dengan anggunnya. Lelaki ini hanya duduk termenung sendiri dibawah rimbunnya pohon sakura yang tengah berbunga.

Kini disampingnya, terdapat dua makam. Yang satu, milik guru tercintanya, Masamune Date. Dan yang ada disebelahnya…

Makam wanita yang pernah ia cintai.

Yukimura menatap kosong kelopak sakura yang berguguran terkena angin. Warna pink peach yang indah menghiasi langit tahun baru.

"Yuki…" Sebuah suara membuyarkan lamunan Yukimura.

Seorang wanita dengan gaun serba putih, dengan rambut kecoklatan yang tersibak terkena angin, mata merah itu, dan senyum hangat yang khas, berdiri tak jauh darinya.

Senyum itu. Senyum yang sangat ia rindukan.

Yukimura hanya bisa tersenyum melihat 'halusinasi' itu, wajar saja, walaupun ia berlari mengejarnya sampai ke ujung dunia sekalipun, ia tidak akan bisa bersama wanita itu lagi

"Yuki!" Panggilnya lagi.

"Kita mungkin akan bertemu lagi, Yuki…, namun aku sendiri ragu…" Tukas wanita itu seraya berbalik.

Yukimura melihat bayangan wanita itu makin buram, lalu menghilang.

"Yah, mungkin…." Yukimura mendesah.

Hangatnya musim semi menemani lelaki ini melewati sisa hidupnya, menyongsong hari-hari esok yang masih misterius…

Bersamanya.

You always be at my side for a long time…

I feel nice…

But now, you're not here anymore…

But I know, you will always be with me…

Forever.. .


Walau aku tahu aku tidak akan memilikimu…

Ini pun sudah cukup.. .


_THE END_


Akhirnya selesai juga FF ini \ ;) /

RnR please!