Naruto, dkk punya Masashi Kishimoto

Gaahina

Romance

Story pure for Jhino

A/N:

Cerita biasa ini merupakan request uri cingu, Ungu Violet. Semoga violet menyukainya. ^_^.

WARNING: Cerita ini merupakan cerita fantasy dan OOC (sesuai kebutuhan cerita). If you don't like, don't read! Go away guys (by lav).

HAPPY READING

Sebuah pohon dengan buah berwarna-warni menjadi pemandangan indah yang ditemukan Hinata dan Pangeran Gaara setelah lelah berjalan selama sepuluh menit ke arah selatan. Buah-buah itu terlihat ranum dan menggoda. Pangeran Gaara dan Hinata sampai menelan ludah mengamati.

"Apa menurutmu buah-buah itu tidak beracun untuk dimakan?" Hinata bertanya dengan pandangan fokus ke setiap buah-buah itu. Benaknya membayangkan betapa buah-buah itu luar biasa nikmat dan mengenyangkan.

"Kurasa tidak. Apa kau mau aku mengambilnya beberapa untuk kita?" Hinata langsung mengangguk antusias. Tanpa menunggu, Pangeran Gaara bergegas melepas tas persenjataannya dan memanjat pohon tinggi itu dengan cepat. Hinata mengamatinya dari bawah dengan tatapan lapar yang tidak tertahan. Tangannya bertepuk riang dan mengangguk senang tiap kali Pangeran Gaara menunjukkan buah yang benar-benar matang padanya. Sampai-sampai Hinata tidak sadar kakinya menginjak akar sebuah pohon seukuran tubuhnya yang berdiri di belakangnya entah sejak kapan. Hinata berbalik saat merasa rambutnya ditarik-tarik. Namun yang didapatinya hanya udara kosong dan sebuah pohon yang tepat berada di hadapannya.

Hinata berbalik lagi, namun sekali lagi rambutnya ditarik kasar. Kali ini benar-benar sakit. Karena geram, Hinata mengangkat sebuah tombak sambil berseru lantang. "Jangan menjahiliku seenaknya, Makhluk asing! Tunjukkan dirimu, kalau berani!' tantangnya. Sebuah pohon yang tadi berdiri di belakang Hinata terkekeh terkulum. Dia menunggu Hinata berbalik. Dan tepat ketika Hinata berbalik, sepasang mata buas dari pohon itu membuka lebar, diiringi tawa yang membuat Hinata terkejut. Hinata hendak berteriak, tapi sebuah sulur pohon yang enath dari mana membekap mulutnya. Hinata melawan dengan menggunakan tombak dan menghunuskannya ke sulur itu, namun hanya lumpuh beberapa detik, karena selanjutnya justru tubuh Hinata yang dibelit dengan kasar. Hinata menjerit sebelum kerongkongannya dijerat sulur lain.

Dari atas pohon, Pangeran Gaara mendengar jeritan Hinata. Dengan cepat dia menuruni setiap dahan, bahkan masih sekitar dua meter jaraknya dengan tanah, Pangeran Gaara memilih melompat untuk mendarat cepat. Matanya terbelalak maksimal melihat Hinata yang ditawan sebuah pohon hidup yang memiliki wajah. Tubuh Hinata dibelit beberapa sulur dari beberapa arah. Pangeran Gaara lantas mengambil persenjatannya dan siap melemparkan anak panah ke arah pohon hidup tersebut.

"Tahan panahmu, Manusia, atau kau ingin melihat gadismu ini mati kucekik?"

Panahan yang siap diluncurkan Pangeran Gaara terpaksa luruh. Dia tidak mungkin tetap menghunuskan panah jika nyawa Hinata yang jadi taruhan. Pohon hidup itu tersenyum meremehkan melihat Pangeran Gaara yang menurunkan senjata.

"Turunkan gadis itu!" titah keras Pangeran Gaara hanya disahuti sebuah kekehan mengejek dari sang pohon. "Siapa kau berani memerintahku, Manusia? Tidak ada yang berani menitahku dengan menjijikkan seperti itu," sahut sang pohon dengan wajah menyebalkan. Pangeran Gaara menggeram pelan menahan marah. "Jika kau ingin buah-buah ini, ambilah! Tapi turunkan temanku dan jangan sakiti dia!"

"Aku tidak butuh buah-buah yang sudah tersentuh tangan manusia perusak sepertimu. Seenaknya saja kau mencuri makananku tanpa permisi. Sadar manusia pencuri!"

Kedua tangan Pangeran Gaara mengepal kencang di sisi tubuhnya. Seenaknya saja makhluk jelek itu menghinanya! Dia tidak tahu siapa yang sedang dihadapinya saat ini.

"Terserah apa katamu, Pohon Tua! Aku tidak ada urusan denganmu. Turunkan temanku atau aku—"

"Serahkan persenjataanmu atau temanmu akan mati di tanganku."

Sebelah alis Pangeran Gaara terangkat dengan gaya ironis. Senyumnya miring mengejek. Berani sekali Pohon jelek itu menantangnya. Dari ekor matanya, dia menatap Hinata yang megap-megap kekurangan udara. Sial! Jika dia tidak bergerak cepat, Hinata bisa benar-benar mati!

Pangeran Gaara melirik ke sekitarnya dengan siaga. Dia tidak mungkin menyerahkan persenjataannya begitu saja. Tapi dia juga tidak mungkin membiarkan Hinata mati dicekik sulur-sulur sialan itu! Dalam hati Pangeran Gaara menggeram kesal! Dia melirik sana-sini tapi tidak menemukan apapun.

Setelah berpikir cukup lama, akhirnya Pangeran Gaara melepas tas peresenjataannya. Hinata yang melihatnya membelalakan mata dan menggeleng melarang. "Ja-mmpht—ngahh serr—ahkah—"

Pangeran Gaara menangkap raut wajah Hinata dan malah balik menatapnya dengan sorot penuh strategi. Dari matanya, Pangeran Gaara seperti memberitahu sesuatu sampai membuat Hinata mengangguk seolah mengerti. Pangeran Gaara merunduk meletakkan tasnya. Sang Pohon tertawa sombong penuh kemenangan. Namun, dia lengah di detik yang sama. Dan seketika tawanya tercekat ketika dengan cepat Pangeran Gaara menebas sulur-sulur yang membelit tubuh Hinata, hingga tubuh Hinata jatuh berdebum. Dengan gerakan cepat, Hinata melepas belitan sulur itu dan menyiapkan panahnya. Dia memanah sulur-sulur yang siap menarik tubuh Pangeran Gaara dari berbagai arah. Puluhan akar rambat liar yang hidup menyerangnya tiada henti. Tidak, tidak. Kalau begini, mereka berdua kalah jumlah. Mereka bisa mati kalau tidak melarikan diri. Tetapi, melihat Pangeran Gaara yang terkepung puluhan akar dan sulur pohon Tua itu, memaksa Hinata melakukan sesuatu.

Tatapan Hinata tersebar brutal. Dia mencari sesuatu untuk bisa menciptakan api. Ya, dia butuh api. Dan tatapannya berubah cerah ketika dua buah batu teronggok tidak jauh darinya. Hinata menurunkan beberapa anak panahnya. Dia menggosok-gosokkan batu itu satu sama lain dengan ujung anak panah diantaranya. Hinata terus menggosokan kedua batu itu hingga akhirnya sebuah percikan api lantas membakar ujung anak panahnya yang terbuat dari kayu kering. Hinata langsung berdiri tegak dan mengarahkan busurnya dengan pandangan lurus.

"Gaara! Merunduuukk!"

Pangeran Gaara yang diserang dari segala arah langsung berbalik mendengar Hinata menyerukkan namanya. Tubuhnya merunduk seketika melihat anak panah dengan ujung api melesat cepat ke arahnya. Dan sebuah teriakan terdengar begitu anak panah api itu terhunus lurus ke pusat pohon hidup menyebalkan itu. Akar dan sulur pohon yang tadi mengepungnya satu persatu jatuh mati. Batang tubuh pohon tua itu dengan cepat terbakar. Teriakan pohon itu begitu memilukan, sampai kemudian tumbang dalam hening.

Hinata tersenyum puas dengan napas tersengal. Bidikannya tepat sasaran dan tepat waktu. Dengan segera dia menarik Pangeran Gaara yang terseok menjauhi pohon yang terbakar itu.

"Aku tidak tahu kalau kau seorang pemanah yang hebat," kata Pangeran Gaara di tengah sengalan napas. Hinata tersenyum sombong. "Kuanggap itu sebuah pujian," sahut Hinata. Keduanya menepi dan mengatur napas dipinggiran rawa yang dirimbuni pepohonan. Hinata membasuh wajahnya yang lelah sambil meminumnya sedikit. Pangeran Gaara melemparkan buah hasil memanjatnya yang masih tersisa beberapa. "Setidaknya kita butuh tenaga untuk melanjutkan perjalanan," kata Pangeran Gaara. Hinata mengangguk dan memakan buah itu dengan lahap.

"Terima kasih sudah menolongku," cetus Hinata tiba-tiba, memecah keheningan. Pangera Gaara mendengus pendek, "Walau sebenarnya aku malas mengatakannya, tapi terima kasih juga sudah menolongku dari akar-akar menyebalkan tadi," sahutnya.

"Kita satu sama kalau begitu," cengir Hinata tulus. Melihatnya, membuat Pangeran Gaara ikut tresenyum, meski disembunyikan. Hening meraja beberapa detik, sampai selanjutnya Hinata bangkit dan berkata penuh semangat, "Matahari semakin condong ke barat. Kita hrus cepat meneruskan perjalanan. Ayo!" ajaknya. Pangeran Gaara ikut bangkit, namun sebelah tangannya dengan cepat menahan lengan Hinata. Hinata menatapnya dengan kening berkerut. "Ada apa?" tanya Hinata. Pangeran Gaara tersenyum samar sambil menghela napas. "Dengarkan aku sekali lagi," mulainya. Sebelah alis Hinata naik, "Bukankah sejak penyerangan nyamuk-nyamuk itu aku selalu mendengarkanmu?"

Pangeran Gaara menagngguk. "Kali ini aku serius," katanya. Wajahnya memang terlihat benar-benar serius. Mau tidak mau Hinata mengangguk, "Katakanlah…"

"Setelah apa yang tadi kita hadapi, aku tidak yakin rintangan ke depan akan semakin mudah. Jadi—" tatapan Pangeran Gaara terarah lurus, membuat Hinata seolah terperangkap di dalamnya. "—berjanjilah satu hal padaku. Jika terjadi sesuatu padaku nanti dan tidak ada cara lain kecuali meninggalkan aku, maka kau harus meninggalkan aku dan meneruskan perjalanan ini. Jika aku terluka parah dan hanya bisa menyusahkanmu, maka tinggalkan aku di tempat yang layak. Jangan mengasihani aku yang hanya menjadi beban dalam perjalanan. Setidaknya, berapa besar rintangan yang akan kita hadapi, salah satu dari kita harus tetap hidup dan menemukan Iluvatar. Baik aku ataupun kau, berusahalah untuk tetap hidup. Kau mengerti perkataanku, kan?"

Hinata menangkap semua perkataan Pangeran Gaara dengan benar dan dia paham. Tetapi, ada yang lebih membuatnya terpaku ketimbang setiap kata yang diucapkan laki-laki itu. Entahlah. Tapi Hinata menemukan sebuah kepercayaan dalam mata jade yang kini menatapnya dalam.

"Ya, aku paham. Aku mempercayaimu, kalau kau mau tahu. Dan, selama kau juga bisa mempercayaiku, aku yakin kita berdua akan baik-baik saja. Kau lihat apa yang kita lakukan tadi, bukan? Selama kita selalu ada untuk masing-masing, saling membantu dan saling percaya, kita pasti bisa melewati perjalanan ini, apapun rintangannya," balas Hinata tidak kalah serius. Dari matanya, Pangeran Gaara juga bisa menemukan sebuah kepercayaan dan tekad yang kuat. Ya. Saat ini, hidupnya ada di tangan Hinata, dan hidup Hinata berada di tangannya. Mereka hanya harus terus bersama, maka semua akan baik-baik saja. Itu saja.

"Gadis pintar," komentar Pangeran Gaara dengan sebelah tangan mengacak rambut Hinata. Untuk sedetik Hinata terpaku. Matanya hanya mampu mengikuti gerak Pangeran Gaara yang berjalan pelan mendahuluinya.

"Sampai kapan kau mau terus diam di situ, heh? Ayo, hari hampir siang!"

Seruan Pangeran Gaara meluluhlantakkan lamunan Hinata. Sebelah tangannya mengusap dadanya yang mendadak berdebar. Oh, tidak, tidak. Hinata pasti sudah gila kalau sempat memikirkan bahwa Pangeran Gaara itu tampan. Tanpa mau berlama-lama, Hinata buru-buru menyusul Pangeran Gaara dengan sedikit berlari.

Suasana hutan semakin hening di pedalaman. Deru angin semakin sulit didengar dan dirasakan. Pohon-pohon nyaris tak bergoyang sedikitpun. Keadaan seperti ini membuat Pangeran Gaara menaruh curiga. Selembut apapun angin berembus, setidaknya sehelai daun pasti bisa dibuatnya bergoyang. Tapi ini…

Langkah Pangeran Gaara terhenti seketika, membuat Hinata nyaris menabraknya. Alis Hinata naik sebelah melihat gelagat aneh yang ditunjukkan Pangeran Gaara. Laki-laki itu terus menatap sekelilingnya dengan sorot tajam. Padahal tidak ada apapun yang terasa aneh bagi Hinata. Karena penasaran, Hinata mendekat dan bertanya pelan, "Ada apa? Wajahmu kelihatan aneh," katanya.

"Aku hanya merasa suasana di sekitar kita terlalu tenang, dan ini cukup aneh. Setenang apapun keadaan, pasti angin mampu menggerakkan sesuatu, tapi saat ini tidak."

Benar. Hinata mengitari keadaan dan apa yang dikatakan Pangeran Gaara benar adanya. Keadaan di sekitar mereka terlalu tenang dan… seolah tidak ada kehidupan lain. Hinata menelan ludah. Apakah akan ada bahaya lagi? pikirnya.

"Tetap tenang dan jangan bergerak sedikitpun," komando Pangeran Gaara. Hinata mengangguk. Dia tetap diam di posisi dan sibuk mengamati Pangeran Gaara yang kini menebar tatapan ke segala arah, seolah mencari sesuatu. Hinata sempat ingin bertanya ketika Pangeran Gaara mengambil sebuah batang pohon kering cukup besar yang teronggok tidak jauh darinya dan melemparkannya pelan pada tanah lembab di depan mereka.

"Kita lihat siapa yang sedang menonton kita diam-diam," desis Pangeran Gaara, lalu melemparkan batang kering itu. Untuk beberapa detik tidak ada pergerakkan apa-apa, bahkan keadaan terasa lebih tenang. Namun, detik selanjutnya, tanah yang dipijak mereka bergetar. Pangeran Gaara dengan cepat menarik Hinata menjauh.

Tanah itu terus bergetar dan menyembul-nyembul seperti ingin mengeluarkan sesuatu. Dan kemudian terdengar bunyi gedubrak ketika dengan serempak empat tumbuhan Venus Flytrap raksasa berwarna hijau muncul dari dalam tanah dengan ketinggian tiga meter. Venus Flytrap itu hidup dan bergerak buas. Bunga yang menjadi pusatnya terlihat menyeramkan dengan serbuk sari yang tampak seperti gigi tajam yang dikelilingi lobus penuh lendir yang siap memangsa daging jenis apapun.

Hinata dan Pangeran Gaara terperangah melihat bunga raksasa itu. Bagaimanapun bunga-bunga itu tumbuh tidak normal. Biasanya Venus Flytrap hanya tumbuh sebatas betis manusia, walau tidak indah, tapi bunga itu cukup enak dipandang. Tetapi ini?

Batang tubuh bunga-bunga itu bergerak-gerak layaknya ular. Kepalanya mengelilingi ke sana-kemari. Pangeran Gaara mengisyaratkan Hinata untuk tidak mengeluarkan suara apapun. "Kau lihat? Mereka tidak punya mata dan hanya mengandalkan indera pendengeran. Selama kita tidak bergerak dengan suara keras, kita bisa selamat," bisik Pangeran Gaara. Hinata mengangguk paham dan mulai mundur teratur mengikuti Pangeran Gaara. Keduanya berjalan dengan penuh hati-hati. Sampai sebuah ranting tidak sengaja terinjak oleh Hinata. Pangeran Gaara melotot kesal dan Hinata mengumpati dirinya kesal. Mereka terus berjalan mundur menjauh. Namun sayangnya, suara itu cukup ampuh memancing pergerakan hebat dari Venus Flytrap. Mereka langsung bergerak liar ke segala arah, mengejar deru langkah Hinata dan Pangeran Gaara yang berusaha bersembunyi.

"Oh, sial! Mereka mengejar kita!" seru Pangeran Gaara.

"Apa yang harus kita lakukan sekarang?" sahut Hinata tidak kalah panik. Pangeran Gaara menatap brutal, tapi tidak ada apapun yang bisa dijadikannya senjata. Sementara bunga-bunga raksasa itu terus bergerak liar mengelilingi Hinata dan Pangeran Gaara. Tubuh mereka menelusup ke dalam tanah dan keluar dengan menyemburkan lendir berbau busuk. Pangeran Gaara dan Hinata berhenti berlari. Sekuat apapun mereka melarikan diri, langkah kaki mereka tidak sepadan dengan pergerakan merambat bunga-bunga menyeramkan itu.

"Kenapa kau berhenti?" Hinata memunggungi Pangeran Gaara yang sama memunggunginya. Napas mereka tersengal bersahutan.

"Kita tidak akan bisa lolos meskipun terbang. Apa kau tidak lihat, mereka merambat secepat rambatan cahaya. Kita tetap bisa tertangkap. Satu-satunya cara adalah menghadapi mereka," cetus Pangeran Gaara. Hinata melotot tidak percaya, "Apa kau gila? Lihat tinggi mereka! Di depan mereka kita seperti semut!" sahut Hinata setengah kesal. Baru saja napasnya agak teratur setelah menghadapi pohon hidup menyebalkan, dan sekarang dia harus bertarung lagi dengan empat bunga raksasa? Astaga!

"Ukuran tubuh kita bisa menjadi senjata. Kau ingat apa yang kukatakan tadi? Mereka hanya bergerak mengikuti suara, selama kita tidak mengeluarkan bunyi apapun, mereka bisa tenang. Sekarang, apa kau bisa mengarahkan anak panahmu pada bunga sebelah sana?" Pangeran Gaara menunjuk salah satu Venus Flytrap di sebelah kirinya, "Kita akan membuat mereka saling menyerang satu sama lain, kau paham?"

Hinata mengangguk tanpa berkomentar. Panahnya diarahkan sesuai permintaan Pangeran Gaara. Dan begitu anak panahnya terlepas, jeritan memilukan bunga yang terkena panahannya terdengar. Detik itu juga bunga lain yang mendengarnya lantas menyerangnya dan memuncratkan serbuk sari berbentuk jarum tajam.

"Kerja bagus," puji Pangeran Gaara. "Sekarang bunga yang itu," titahnya lagi. Hinata mengarahkan lagi busurnya pada bunga lain dan melesatkan anak panah. Kejadian yang sama dialami bunga itu. Dia mati membiru terkena racun mematikan yang terdapat dalam serbuk bunga. Tersisa dua bunga yang kini berdiri menjulang di hadapan Pangeran Gaara dan Hinata.

"Aku harus memanah yang mana dulu?" tanya Hinata, Pangeran Gaara mengangkat tangannya, mengisyaratkan agar Hinata tenang dulu. "Kita tunggu sebentar," kata Pangeran Gaara. Matanya siaga ke sekeliling. "Posisi kita terancam karena berada di tengah. Akan lebih baik kalau kita menyingkir," bisiknya.

"Tapi bagaimana?" desak Hinata. Sekali lagi Pangeran Gaara tampak berpikir, kemudian menyuruh Hinata bergerak perlahan untuk menjauh. "Bergeraklah tanpa menimbulkan suara ke arah sana. Kau harus melakukannya dengan sangat pelan-pelan, oke? Setelah itu, tunggu aba-aba dariku dan baru lesakkan panahmu. Kau mengerti?"

"Ya, aku mengerti."

Hinata mengikuti arahan Pangeran Gaara. Tubuhnya benar-benar melangkah sepelan mungkin. Kakinya sampai berjinjit agar tidak menimbulkan suara. Pangeran Gaara mengikuti gerakan Hinata. Kakinya ikut berjinjit pelan tanpa suara. Tapi naasnya, sebentar lagi tubuhnya sampai diposisi Hinata, sebuah akar berhasil menyandungnya. Pangeran Gaara jatuh dan mengerang. Saat itu juga bunga-bunga itu bergerak ke arah Pangeran Gaara dengan cepat. Mata Hinata melotot melihatnya.

"Oh, sial! Dasar Pangeran Bodoh!" umpatnya dan tanpa menunggu aba-aba, Hinata melesakkan anak panahnya ke arah dua bunga raksasa itu bergantian. "Bergeraklah yang cepat, Gaara!" seru Hinata mengomando. Pangeran Gaara bergerak cepat merangkak. Kakinya lumayan nyeri akibat tersandung. Dia menoleh ke belakang dan matanya membelalak saat melihat pergerakan satu bunga yang hendak menerkam Hinata. Tanpa memperdulikan nyeri kakinya, Pangeran Gaara bangkit dan berlari ke arah Hinata yang sibuk menghalau serangan bunga-bunga itu.

"Hinata, AWAAASS!"

Pangeran Gaara mendorong tubuh Hinata sekuat mungkin sampai tubuh Hinata terlempar beberapa langkah menubruk pohon. Hinata mengerang kesakitan. Dia berusaha bangkit tapi kakinya sakit luar biasa.

"Waaaaa! Aaarrrggg!"

Teriakan Pangeran Gaara menyadarkan Hinata. Tubuhnya terbangun tertatih dengan tatapan membola. Bunga raksasa yang tadi mau menerkamnya, kini malah menerkam Pangeran Gaara. Sebelah kaki laki-laki itu ditariknya ke atas hingga tubuhnya tergantung dengan posisi kepala di bawah dan semua persenjataannya jatuh. Sementara bunga yang satunya berdiri di hadapan Hinata seperti ular. Hinata menggeram. Dia murka. Tenpa tedeng aling-aling, puluhan anak panah dilesakkannya ke arah bunga di depannya. Bunga itu sempat terdengar mengerang, namun tetap bisa bangkit.

"Jangan panah tubuhnya, tapi panah dimana serbuk sarinya berkumpul. Di sana titik kelemahan mereka!"

"Bodoh kau, Gaara! Harusnya kau bilang dari tadi!"

Hinata terus melesakkan panah-panahnya tapi tidak ada satupun yang berhasil menumbangkan bunga sialan itu. Geram dan kesal menjadi satu. Hinata mengambil pedang milik Pangeran Gaara yang terjatuh dan berlari ke arah bunga di depannya. "Kau salah kalau berpikir bisa membunuhku, Bunga Sialan!" Hinata berlari kencang ke arah batang tubuh bunga itu dan berdiri di belakangnya. Kepala bunga itu mengikuti dan—memang dasar bunga bodoh—dia malah menerkam batang tubuhnya sendiri hingga puluhan serbuk sari beracun menempel di sana. Bunga itu akhirnya tumbang. Hinata mendengus jengkel melihatnya.

"Huwaaaa!"

Teriakan Pangeran Gaara menarik fokus Hinata ke arahnya. Pangeran Gaara terlihat kesakitan karena bunga jelek itu mengombang-ambingkan tubuhnya seperti cacing. Hinata tidak tahan melihatnya. Dia segera menaiki sebuah pohon dengan tinggi yang sama dengan bunga itu.

"Huwaaa—waaaa!"

"Berhenti berteriak, Gaara Bodoh!" seru Hinata yang tengah memanjat.

"Bagaimana aku tidak berteriak! Dia menggigit kakiku! Dan itu sakit sekali!"

Hinata tidak menyahut. Dia terus memanjat ke atas sampai dahan paling tinggi. "Sebaiknya kau cari tempat pendaratan yang empuk, Gaara!" teriaknya sebelum ide gila dalam pikirannya dia lakukan.

"Aku tidak butuh tempat pendaratan empuk! Cepat bunuh saja makhluk jelek ini!"

Tepat setelah itu, Hinata melompat ke tubuh bagian atas bunga itu. Dengan tatapan bengis, dia menghujamkan pedang Pangeran Gaara ke arah leher bunga itu, dan sebuah tebasan dilayangkannya tepat di tengah pusat kepala hingga bunga itu terbelah dua dan jatuh dengan gaya lambat.

Bunyi gedubrak mengiringi setelahnya dan erangan Pangeran Gaara menyusul tidak lama. Hinata melompat turun dari tubuh besar bunga itu diringi napas yang tersengal hebat. Keringat membanjirinya dimana-mana.

Tidak ubahnya dengan Hinata, Pangeran Gaara pun mandi keringat dimana-mana. Matanya terpejam merasakan pendaratan yang jauh dari kata lembut. Sekuat tenaga dia bangkit dengan rasa nyeri sekujur tubuh. Sebisa mungkin dia menarik kakinya yang terkena gigitan bunga itu dan bersandar disebuah pohon besar. Hinata membantunya susah payah.

"Kau baik-baik saja?"

Pangeran Gaara menanggapi pertanyaan Hinata dengan dengusan pendek. "Sepertinya tidak. Lihat kakiku," katanya. Hinata melirik kaki Pangeran Gaara dan matanya membulat seketika. Sebelah kaki Pangeran Gaara membiru dan bengkak parah. Di semua jari sampai mata kaki terdapat jarum beracun yang merupakan serbuk sari milik Venus Flytrap. "Astaga, kakimu!"

"Kurasa aku bisa mengatakan kalau aku tidak baik-baik saja saat ini."

Hinata meringis kasihan melihatnya. Dia mencoba mencabut jarum-jarum itu tapi dihentikan Pangeran Gaara. "Jangan dicabut dengan tangan telanjang. Gunakan sesuatu agar tanganmu tidak ikut terkena racun," kata Pangeran Gaara. Hinata memetik beberapa helai daun dari tumbuhan di dekatnya dan mulai mencabuti jarum-jarum itu. Sesekali Pangeran Gaara berjengit sakit dan meringis. Bagaimanapun, rasanya tidak bisa dibilang enak, malah benar-benar menyiksa.

Selesai mencabuti jarum racun dari kaki Pangeran Gaara, Hinata terdiam sebentar, mengatur napasnya. Matanya mengamati Pangeran Gaara yang terkapar mengatur napas dengan mata terpejam. Peluh membanjiri sekitar pelipis dan dahinya. "Kau serius baik-baik saja?" tanya Hinata, Pangeran Gaara mendengus pendek, "Untuk sekarang mungkin iya, tapi tidak tahu kalau nanti. Kakiku terasa kebas dan mati rasa."

"Apa racun itu berbahaya dan mematikan?"

"Entahlah, aku tidak tahu. Racun itu mematikan atau tidak, hanya aku yang bisa memastikannya. Kalau beberapa jam lagi kau masih melihatku bernyawa, itu artinya racun itu tidak semematikan yang kau pikirkan," jawab Pangeran Gaara. Hinata menarik napas mendengarnya. Tatapannya berpendar ke segala arah. "Kalau dipikir-pikir, kenapa semua makhluk yang kita temui selalu ingin membunuh kita? Bukankah kita tidak mengganggu mereka? Kenapa mereka seolah tidak suka dengan kehadiran kita?"

"Mungkin karena Iluvatar," sahut Pangeran Gaara. "Kau ingat apa yang dikatakan gajah mungil itu? Iluvatar bukanlah kitab sembarangan. Segala permintaan bisa dikabulkannya, apapun itu. Mungkin itu alasannya kenapa semua makhluk di sini ingin membunuh kita."

"Tapi kita tidak mengganggu mereka sama sekali, kan? Kenapa mereka malah ingin menghabisi kita?"

"Kau bodoh atau apa, sih? Coba sekarang pikirkan. Apa yang akan kau lakukan jika mengetahui ada orang yang mengincar dan ingin merebut benda berharga yang kau idamkan?"

"Tentu saja menghalanginya, Gaara Bodoh!"

"Nah, itu kau tahu jawabannya," seloroh Pangeran Gaara sebal. Suaranya agak parau dan sesak. Lalu terbatuk hebat. Hinata mengerutkan dahi menatap Pangeran Gaara. Wajah laki-laki itu tidak semerah tadi. Saat ini wajahnya pucat pasi, seolah darahnya tersedot habis sesuatu. Keringatnya pun bertambah banyak dan napasnya terembus pendek-pendek. Hinata beringsut lebih dekat dan memeriksa suhu tubuhnya. Matanya melotot begitu punggung tangannya menyentuh kening Pangeran Gaara. "Astaga! Gaara, suhu badanmu tinggi sekali! Badanmu seperti bara!"

"Aku tidak apa-apa, kau berlebihan sekali," cibir Pangeran Gaara. Matanya terpejam-terbuka.

"Aku serius! Coba katakan padaku, apa yang kau rasakan sekarang? Ayo, katakan, Gaara!"

"Aku hanya merasa kepalaku terasa berat dan aku sangat mengantuk. Tapi aku juga kehausan. Kerongkonganku terasa kering."

"Kau keracunan. Ya, pasti ini efek yang ditimbulkan akibat jarum beracun tadi," gumam Hinata pelan. Kening Pangeran Gaara berlipat, "Apa? Apa yang kau katakan? Aku tidak mendengarmu," sahut Pangeran Gaara.

"Kau keracunan!" suara Hinata meninggi, tapi reaksi Pangeran Gaara tetap sama; seperti orang yang tidak mendengar apa-apa. "Bicara yang benar, Hinata! Aku sama sekali tidak bisa mendengar suaramu!"

Kali ini Hinata yang keheranan melihat Pangeran Gaara. Tanpa aba-aba dia berteriak lantang sampai suaranya menggaung. Tapi reaksi Pangeran Gaara benar-benar seperti orang tuli. Tidak, tidak. Jangan katakan kalau laki-laki di depannya ini juga mengalami cacat pendengaran akibat jarum racun itu? Hinata menggeleng tidak percaya. Tubuhnya terduduk lemas tak bertenaga. Pangeran Gaara yang melihatnya kebingungan. "Hei, kenapa wajahmu lesu begitu? Yang kelelahan di sini bukan hanya dirimu," cetus Pangeran Gaara. Hinata tidak bereaksi apa-apa. Matanya menatap keadaan Pangeran Gaara dengan sorot sedih.

Kenapa cobaan seperti tidak lelah menghantui mereka?

Tiba-tiba, Hinata berjengit. Dengan gerakan serampangan, dia mencoba membangunkan Pangeran Gaara dan menyuruhnya berdiri. Sekuat tenaga dia mencoba. Tapi, tubuh Pangeran Gaara benar-benar lemah tak bertenaga, bahkan menggerakkan kaki saja dia tidak mampu. Tubuhnya nyaris berdiri tapi ambruk lagi dan lagi. Melihat keadaannya begitu lemah, Pangeran Gaara terperangah sendiri. Kaki kirinya benar-benar tidak bisa digerakkan, bahkan terasa mati. Hinata tidak kehabisan akal. Dia terus saja menarik Pangeran Gaara untuk berdiri dan berdiri, meski sekali lagi tubuhnya harus ikut ambruk. Hinata tidak ingin atau yang sebenarnya tidak kuat menatap wajah Pangeran Gaara, jadi dia hanya terus memapah tubuh laki-laki itu dan menyangganya agar bisa berdiri tegak. Tapi sekali lagi, usahanya sia-sia.

Mengetahui keadaannya saat ini, Pangeran Gaara tergagu seketika. Seluruh tenaganya seolah tersedot dan dia sama sekali tidak bisa bergerak. Sorot matanya kosong setelah terkejut beberapa detik. Dia lumpuh. Ya, dia tahu keadaannya, dia tidak bodoh. Itu semua karena racun dari Venus Flytrap.

"Bangun, Gaara! Berdiri! Gerakkan kakimu!"

Teriakan Hinata hanya dibalas tatapan kosong Pangeran Gaara. Sepasang mata jade menatap wajah Hinata dan hatinya kembali mencelos saat tidak ada suara apapun yang bisa ditangkapnya ketika Hinata bicara, selain gerakkan bibir plump itu. Pangeran Gaara kembali jatuh. Sudah lumpuh, dia juga kehilangan indera pendengarannya. Tidak kah itu menyedihkan?

"Gaara, bangun! Gerakkan kakimu dan berdirilah dengan benar! Gaara! Kau dengar aku, kan?! Gaara!"

Sekali lagi, jeritan Hinata hanya dibalas tatapan hampa Pangeran Gaara. Berapa kalipun Hinata berteriak, Pangeran Gaara tidak akan mendengarnya.

"Turunkan aku."

Dua kata itu meluncur datar dan dingin. Pangeran Gaara mengatakannya dengan pandangan ke depan yang terlihat menyedihkan. Hinata yang melihatnya menarik napas dan pelan-pelan kembali mendudukan tubuh Pangeran Gaara. Setelahnya tidak ada yang bicara sepatah katapun. Hinata diam menunggu, sementara Pangeran Gaara merasa tidak punya kata yang harus diucapkan. Dia sudah terlalu banyak mendapatkan kejutan hari ini dan berkali-kali jatuh. Tapi jatuhnya kali ini benar-benar sulit diterima.

Senyap menyelinap beberapa menit, hingga kemudian deruan angin yang bermain ligat secara perlahan. Daun-daun bergoyang seolah tertawa melihat keadaan dua manusia itu yang kini diliputi kepiluan masing-masing. Tidak ada yang bicara. Tidak ada yang berniat memecah kehampaan yang sekarang melingkup. Bahkan setelah matahari perlahan merangkak ke barat, tidak ada suara apapun dari Hinata dan Pangeran Gaara. Diam. Dan hanya diam.

TBC.