TWINS

Cast: Eunhyuk & Donghae (Twins brother) Jungsoo/Leeteuk (Eunhae's brother)

Genre: Family

Warning: typo(s), absurd, alur acak, mendramatisir, no like? Don't read! Pls get out #smirk

NB: Eunhae dichapter ini masih cadel -tidak bisa melafalkan huruf 'R'. Hope u enjoyed guys/? #Senyummanis

.

.

.

CHAPTER 3

.

.

.

03 Februari 2003 07.00 KST

Hari ini adalah hari pertama Eunhyuk dan Donghae masuk sekolah. Meskipun mereka baru akan memasuki usia 3 tahun, namun anak kembar tersebut tidak sabar ingin bersekolah seperti hyungnya.

Setelah siap dan selesai sarapan Leeteuk mengajak dongsaeng kembarnya berangkat ke sekolah. "Kajja, kita berangkat."

"Appa, palliwa." Ucap sang bungsu Donghae yang tak sabar menunggu Appa mereka.

"Ne, arraseo. Anak appa tidak sabar ingin bersekolah rupanya."

"Ne, Hyukkie tidak sabal ingin beltemu teman balu." Ucap Eunhyuk riang yang masih belum bisa melafalkan huruf 'R' tersebut.

"Ne, Hae juga tidak sabal ingin punya teman balu." Ucap Donghae tak kalah antusias.

"Ugh, Hae-ya ikut-ikutan aja." Eunhyuk menjulurkan lidahnya kepada adik sekaligus kembarannya itu. Rupanya Donghae tidak menghiraukan ucapan Eunhyuk, dirinya langsung berlari menuju mobil yang terparkir di garasi rumah mereka.

"Hyukkie, nanti disekolah kau harus menjaga Donghae, arrachi?" ucap sang Appa.

"Waeyo?" Eunhyuk pun heran.

"Kau ini hyungnya Donghae, tentu kau harus menjaganya. Buktikan kalau kau ini anak Appa yang hebat, ne?"

"NE!" ucap Eunhyuk dengan lantang.

"Bagus." Sang Appa mengelus lembut surai hitam Eunhyuk.

.

.

Disebuah sekolah setingkat Playgroup tampak ramai oleh anak kecil dibawah 5 tahun. Jangan lupa, orang tua yang menggandeng ataupun menggendong anak mereka menemani masuk ke dalam kelas masing-masing.

Terutama Eunhyuk dan Donghae yang diantar oleh Appa nya dan Leeteuk menuju kelas mereka.

"Nah, kalian jangan nakal, eoh?" ucap sang Appa. Donghae tampak ceria melihat dikelasnya banyak teman baru. Eunhyuk yang sedari tadi menggandeng tangan Donghae pun mulai melepas tautan tangan mereka.

"Ne, appa." Eunhyuk mengganggukkan kepalanya dan dihadiahi senyum manis oleh Appa dan Hyungnya.

"Jangan dulu pulang sebelum hyung menjemput, arrachi?" Leeteuk berjongkok untuk menyamakan posisinya pada Donghae dan Eunhyuk. Donghae tersenyum lalu memeluk hyungnya itu. Manjanya.

"Ne, hyungie" ucap Donghae dalam pelukan Leeteuk.

"Hae-ya harus selalu bersama Hyukkie, ne? jangan lari-lari nanti jatuh." Sambung hyung malaikat tanpa sayapnya itu. Donghae mengganggukkan kepalanya lagi.

"JJa, Appa dan Hyung harus pergi. Songsaenim sudah datang. Annyeong Hyukkie, Hae-ya." Leeteuk melambaikan tangannya sembari keluar kelas. Sang Appa hanya mengulas senyum melihat tingkah ketiga anaknya yang saling menyayangi itu.

"Annyeong yeorobun." Ucap Songsaenim berwajah cantik dengan make up natural itu. Dan dijawab serempak oleh penghuni kelas yang masih batita itu.

Tak lama..

"Nah, sekarang coba kalian berdua maju ke depan." Ucap Songsaenim cantik itu pada Eunhyuk dan Donghae.

"Kami beldua songsaenim?" ucap Eunhyuk terkejut, karna tiba-tiba dirinya dan Donghae ditunjuk untuk maju kedepan kelas.

"Ne. kajja, perkenalkan nama kalian." Songsaenim yang bername-tag 'Kim Heechul' itu sengaja memanggil mereka karna sedari tadi mereka saling berdekatan dan tampak 'lengket' seperti lem.

"Umm.. Lee Hyukjae imnida, tapi Appa, eomma, Teukkie hyung dan Donghae seling memanggilku Eunhyuk." Eunhyuk tampak gugup dan menggenggam tangan Donghae dengan gemetar.

"Nah, sekarang siapa yang berada disampingmu?" songsaenim pun menatap Donghae.

"Ini dongsaengku sekaligus kembalanku, songsaenim. Namanya Lee Donghae." Eunhyuk pun memperkenalkan Donghae, karna rupanya Donghae tampak malu-malu kucing. "Ne, Lee Donghae imnida."

"Jadi kalian kembar, hm?" Tanya songsaenim sembari memberi sebuah senyum yang begitu manis kepada mreka.

"Ne, Heechul Songsaem." Eunhyuk pun membalas dengan senyuman.

"Anak pintar. Kalian boleh duduk kembali." Setelah memperkenalkan diri, mereka pun segera kembali ke tempat duduk semula.

Meski keduanya baru akan menginjak 3 tahun, namun dari usia dini mereka sudah diajarkan tentang huruf dan angka oleh orang tua dan hyung mereka.

.

.

.

Matahari tampak bersinar sangat terik siang hari ini. Tampak dua orang -anak kembar tengah menunggu hyungnya di depan sekolahnya.

"Hyungieeee…" rengek Donghae yang nampaknya sudah lelah menunggu Leeteuk menjemput mereka.

"Sabal, Hae-ya. Aku juga sama lelahnya." Eunhyuk pun merengut. Bagaimana tidak, hampir setengah jam dirinya dan Donghae menunggu Leeteuk hyung ditambah kembaranya yang sudah merengek.

"Kenapa Teukkie hyung lama sekali sih? Aku kan ngantuk ingin tidulllllllll" Donghae menghentakkan kakinya kesal. Bulir-bulir keringat sudah nampak didahi Donghae.

"Huh. Aku juga lapal ingin makan, Hae-ya." Eunhyuk dan Donghae kini menampakkan wajah lelah sekaligus kesal. Hyungnya lama sekali. Mereka mulai menggerutu didalam hati.

Karna Leeteuk tidak kunjung datang Eunhyuk berinisiatif mengajak Donghae membeli es krim di sebuah kedai dekat dengan sekolahnya. Dengan ide brilliantnya itu, Donghae bersorak senang. Lantas mereka pun melangkahkan kaki lebar-lebar menuju tempat yang menyuguhkan beraneka ragam es krim tersebut.

.

.

.

Kesal. Satu kata yang dapat mewakili perasaannya saat ini. Bagaimana tidak, seharusnya satu jam yang lalu dirinya sudah pulang, tapi nyatanya baru detik ini dirinya keluar dari gerbang sekolahnya. Songsaenim yang lusa lalu tidak masuk dikelasnya, memberikan pelajaran tambahan hari ini. Tentu saja dengan berbagai protes yang dilontarkan oleh seluruh siswa. Terlebih lagi dongsaeng kembarnya pasti menunggunya.

Leeteuk pun melangkahkan kakinya menuju halte dekat sekolahnya.

"Semoga mereka tidak pergi kemana-kemana. Dan tetap menungguku." Batin Leeteuk.

Gelisah. Rasanya 5 menit berada di dalam bus seperti setahun. Leeteuk tidak bisa tenang karna dongsaengnya yang masih kecil pasti sedih menunggu dirinya yang tak kunjung datang.

Setelah menempuh 15menit perjalanan menuju sekolah Eunhyuk dan Donghae, akhirnya Leeteuk sampai. Raut wajah Leeteuk tampak cemas, bangunan sekolah yang ia lihat tampak sudah sepi. Dan tidak ada tanda-tanda dongsaengnya berada.

Leeteuk mulai masuk ke dalam sekolah tempat Eunhyuk dan Donghae bersekolah. Dirinya bertanya pada seorang security yang berjaga.

"Permisi. Apa masih ada anak-anak yang belajar dikelas, ahjussi?" Meski Leeteuk belum genap 7 tahun, tapi dirinya sudah menjadi sosok yang dewasa dan mandiri. Itu sebabnya Appa dan eommanya sangat bangga pada pribadi Leeteuk –anak sulung mereka.

"Semua sudah pulang satu jam yang lalu, nak." Leeteuk pun bertambah cemas. Sekali lagi ia pun menanyakan hal yang sama. Tapi, penjaga sekolah itu tetap memberikan jawaban yang sama pula.

Leeteuk melangkahkan kakinya dengan kasar mengelilingi daerah dekat sekolah dongsaengnya. Gelisah, cemas, sedih. Semua menjadi satu.

Leeteuk hanyalah seorang bocah berusia 7 tahun, mengetahui dongsaengnya menghilang dari pengawasan orang dewasa membuat dirinya ingin menangis.

Dengan mata memerah menahan tangis ditambah bulir keringat yang sudah membasahi wajah dan tubuhnya, Leeteuk tetap menyusuri jalanan dan gang-gang kecil. matanya dengan sigap mencari kesana kemari. Namun, hasilnya nihil.

Dongsaengnya tidak ia temukan, padahal Leeteuk sudah mencari hingga cukup jauh dari sekolah.

Berbagai macam pertanyaan memenuhi pikiran Leeteuk. "Bagaimana ini? Kemana Eunhyukkie dan Donghae?"

Leeteuk akhirnya terduduk pada sebuah bangku didekat taman kota. Tidak disangka, dirinya sudah mencari sejauh ini namun kedua dongsaeng kecilnya belum ia temukan juga.

"Apa jadinya jika Eomma dan Appa sampai tau? Mereka pasti akan sangat khawatir." Monolog Leeteuk. "Aku bukan hyung yang baik… hiks…" Akhirnya pertahanan Leeteuk runtuh juga. Air mata yang sedari tadi ia tahan jatuh ke pipinya.

"Eunhyukkie… hiks.. hiks… Donghae-ya" Bahu Leeteuk bergetar hebat, menandakan pemiliknya sedang menangis.

.

.

.

"Hyuuuunggg…" bocah berumur 3 tahun itu tiba-tiba berteriak, dan membuat saudara kembar yang berada disampingnya terkejut.

Eunhyuk yang dikejutkan oleh Donghae pun melayangkan protes. "Ya! Donghae-ya! Kenapa kau belteliak, eoh?"

"Hyuuunnggg.. Teukkie hyung.." seakan mengerti maksud Donghae, Eunhyuk pun menggandeng tangan Donghae dan lari menuju sekolah mereka kembali.

"Aish.. pasti Teukkie hyung mencali kita Donghae-ya." Donghae menganggukkan kepalanya. "Apa kita akan dimalahi oleh Teukkie hyung?" Eunhyuk yang mendengar pertanyaan yang dilontarkan Donghae hanya bisa mengerjapkan matanya lucu.

"Dimalahi?"

Donghae menganggukkan kepalanya. "Eum.. Pasti Teukkie hyung mencali kita, Hyukkie. Ottokhae?"

"Ini semua gala-gala kamu" sambung Donghae.

Eunhyuk pun terkejut atas pernyataan Donghae yang barusan dilontarkan kepadanya. "MWOO?! Kenapa kau menyalahkanku?!"

"Kalna kau yang mengajakku ke kedai ice cleam tadi. Jika tidak pasti Teukkie hyung sudah mengajak kita pulang." Donghae pun sepertinya menyalahi kembarannya itu.

"Ya! Aku kan hanya mengajakmu supaya kamu tidak plotes telus! Kenapa jadi malah malah padaku?! Dasal manja!" Tanpa disadari Eunhyuk sedikit meninggikan volume suaranya saat ini. Terlebih lagi raut muka keduanya seperti kesal dan keduanya pun saling menyalahi.

"Aku tidak manja, Hyukkie jelekkkk!" Teriak Donghae dengan wajah memerah. Rupanya sebentar lagi ia akan menangis.

"Kau yang jelek ikan bauuuu!" Eunhyuk yang sudah terlanjur kesal itu pun membalas ejekan Donghae dengan ejekan kembali.

"AKU TIDAK JELEK DAN TIDAK BAUUU! " Donghae benar-benar marah pada kembarannya. Dia berpikir ini semua salah Eunhyuk, yang berawal dari ajakan membeli ice cream padanya dan sekarang kembarannya itu mengejek dirinya. Sungguh menyebalkan.

Kini Donghae berjalan cepat meninggalkan Eunhyuk. Matanya nampak berkaca-kaca.

"Teukkie hyuuungg.. hiks..." Isakan kecil mulai terdengar. Donghae berlari agar cepat sampai ke sekolahnya, dan segera bertemu Leeteuk hyung yang menjemputnya.

Namun, Donghae tidak tahu jika Leeteuk berada cukup jauh dari sekolahnya.

.

.

.

"Yeobo, kenapa mereka belum pulang juga?" Yeoja dengan berpakaian santai itu tampak cemas.

"Sebentar lagi mereka pulang chagiya." Sang suami yang mengerti dengan 'sifat keibuan' sang istri yang sangat 'pengertian' itu pun hanya bisa tersenyum menenangkan.

"Mungkin mereka sedang berjalan-jalan sebentar." Sambung Lee Donghwa pada sang istri.

"Andai aku tidak ke rumah Eomma tadi, pasti aku sudah menjemput mereka." Senyuman sang suami nampaknya tidak melunturkan rasa cemasnya yang begitu besar. Bagaimana tidak, saat dirinya pulang ke rumah, ia tidak menemukan anak-anaknya yang seharusnya sudah pulang sekitar sejam yang lalu.

"Eommonim kan sedang sakit, jadi kita sebagai anaknya harus merawatnya bukan? Terlebih lagi tadi eommonim sangat senang kau datang menjenguknya. Dan kau lihat tadi, wajah eommonim sangat cerah saat kau datang." Donghwa mengelus surai rambut sang istri .

Akhirnya Park Minri menganggukkan kepalanya. Perkataan sang suami benar, dirinya hanya merasakan cemas yang berlebih.

"Jja, kita makan dulu. Kau pasti sudah lapar." Donghwa merangkul pundak sang istri mengajaknya menuju ke ruang makan.

Meski raut cemas Minri tidak secemas sebelumnya, namun jauh dari lubuk hatinya yang paling dalam, rasa cemas itu tidak hilang. Dirinya sangat mengkhawatirkan anak-anaknya.

.

.

"Hae-ya! Ya! Kau jangan lali-lali (lari-lari) begituuuu !" Sedari tadi Eunhyuk mengikuti langkah kembarannya Donghae.

"Hae-ya! Kau malah, eoh?"

"Mianhaeyoooo.."

"Ya! Lee Donghae! Kenapa kau meninggalkanku?" Berbagai pertanyaan Eunhyuk layangkan kepada Donghae. Namun rupanya Donghae sangat marah padanya, karna panggilan yang dilontarkan Eunhyuk tidak membuatnya berhenti maupun menoleh ke belakang barang sedetik pun.

Hingga pada akhirnya Donghae berhenti berlari setelah mendengar suara isakan dari Eunhyuk.

"Hae-ya... hiks... Teukie hyuuuung.. hiks.. hiks.. hiks.." Mata merah dan air mata yang membanjiri wajahnya terlebih pipinya, membuat yang melihatnya seakan larut dalam kesedihan pula . Dari bawah lubang hidung pun membentuk semacam aliran sungai yang mengalir seiring pecahnya tangisan sang bocah -oke kalimat ini boleh tidak dibaca-

"Hyukkie.. hiks.." Donghae pun menghampiri dan langsung memeluk sang kembaran Eunhyuk.

"Hiks.. hiks.. hyuk..hyukkie.. hiks"

"Hae... hiks.. Dong.. Hae-ya.. hiks"

Oh betapa romantisnya mereka. Jika ada sutradara atau produser film yang lewat di depan mereka, pasti mereka akan diangkat menjadi artis sinetron papan atas seperti artis sinetron yang sering Eunhyuk lihat -oke bunuh author.

.

.

"Donghae-ya! Hyukkie!" Leeteuk berlari cepat menghampiri dongsaeng kembarnya saat matanya melihat keduanya tengah berpelukan didepan sebuah minimarket.

"Ya! Kalian kemana saja,eoh? Hyung mencari kalian sedari tadi" mata merahnya masih terlihat. Namun air matanya sudah berhenti, dan kini hatinya merasa sangat lega. Akhirnya dirinya menemukan dongsaeng kembarnya.

"Teukie hyuuuunggg" ucap Eunhyuk dan Donghae bersamaan. Donghae langsung berhampur kepelukan hyung yang sedari tadi ia khawatirkan itu. Begitu pun Eunhyuk, dirinya memeluk erat tubuh Leeteuk.

"Kalian membuatku khawatir!" Leeteuk pun membalas pelukan mereka.

.

.

.

TBC

.

.

A/N:

Hellooooowww. saya kembali update ff gaje iniiii kkkk. Masih adakah yang menunggu ff ini?

Nemuin typo atau kalimat yg anehkah? Maaf saya ngetiknya di hp #pelukdongek

Ah ya ff ini sebenernya ff biasa aja, dengan konflik yang sangattt ringan.

Terima kasih atas readers yang sudah menyempatkan membaca ff gaje ini. Terimakasih sudah mereview, itu membuat saya semangat buat ngetik ff ini kkkk. terima kasih jg buat Siders xP

Kalau mau request jg bolehkok..

Kalau mau kenal saya bisa PM atau add fb saya "Filo-Hip Elfishy" #senyummanis

Maaf belum bisa bales reviewnyaaa #bow

Harap review yaaaa, karna chapter ini lebih panjang dr chapter sebelumnyaa ..

-Filo Hip-