Review reply!

nameless: Uwaahh…! Maaf, maaf… baru kali ini aku bales reviewmu ya? Maaf, maafff…. Tapi, thanks banget udah mau review! Anonym juga nggak masalah kok! Makasih juga udah mau review di yang versi Inggris. Yang itu sepi banget reviewnya sih… sampe sedih… hahaha… XD Oh ya, maaf juga karena aku belum bisa menuhin request'mu tentang ibu tiri Rukia. I just can't change the plot. Hahaha… gomen ne… T.T

Nana naa: Thanks udah review… Perinya bukan momo. Sayang sekali… hahahaha… XD Jawabannya ada di chapter ini! Selamat membaca dan jangan lupa review lagi ya. Hahahaha… :p

Thank you banget reviewnya, minna-san! Di fic inggris adanya yang tanya: Kenapa kok Rangiku yang jadi ibu tiri Rukia, padahal mereka berteman baik. Oke, kujawab sekarang. Habis, aku bête sama Rangiku yang kayaknya lebih mendukung Orihime sama Ichigo. Memang nggak langsung sih, tapi buat aku tetep aja Rangiku itu pendukung Ichihime, walaupun nggak fanatik. Jadi, kupikir dia cocok jadi ibu tiri Rukia. Begitulahhh… hahahaha… XD

.


.

Extraordinary Fairytale

By: Shinku Amakusa a.k.a Shia

Disc: Bleach is Tite Kubo's, not mine

Warning: OOC, AU, mistypo, etc, etc

.

.


Chapter 3 ~ The fairies

"'Ya, aku mengerti.' apanya! Aaaahh! Aku benar-benar kesaalll! Aku bahkan tidak bilang kalau aku ingin menghadiri pesta bodoh itu!" Rukia memukul-mukul bantalnya dengan kesal.

Ia meraih boneka chappynya yang sudah tua. Itu adalah hadiah terakhir dari almarhum ayahnya yang sangat menyayanginya. Rukia sangat menyayangi boneka itu, bukan hanya karena dia adalah seorang chappy-mania, tapi karena itu adalah hadiah dari ayah yang sangat disayanginya.

"Mereka tidak perlu bereaksi berlebihan seperti itu kan? Aku juga tidak mungkin memakan surat undangannya atau apa. Haaah… Mereka benar-benar terlalu posesif. Lagipula, bukan aku yang seharusnya mereka khawatirkan. Para putri dari kerajaan lain pasti lebih cantik dan menarik, juga akan ada di sana untuk memperebutkan hal yang sama. Ini benar-benar bodoh."

Rukia melanjutkan sesi curhatnya dengan boneka chappy di tangannya sambil berguling-guling di atas kasurnya yang juga sudah tua. Kedua saudara tiri dan ibu tirinya sedang sibuk berdandan, jadi mereka tidak ada waktu untuk menyuruh-nyuruh Rukia ini dan itu.

"Haah… mereka pikir mereka itu siapa? Silakan saja menikah dengan pangeran dan pindah ke istana. Aku juga akan hidup dengan tenang dan damai selamanya tanpa kalian! Ya kan, chappy?" Rukia kembali bertanya kepada boneka dengan mata yang sudah lepas satu itu.

Tentu saja boneka itu tidak menjawab. Rukia menghela nafas panjang dan mengembalikan boneka itu ke tempatnya. Mansion terasa sangat hening malam ini. Mereka pasti sudah pergi ke pesta dansa, pikir Rukia. Ia memandang ke luar jendela dan memperhatikan bulan yang sedang bersinar dengan indahnya.

"Oooh… jangan memasang wajah yang bersedih seperti itu…"

Suara yang tiba-tiba mengusik keheningan malam itu membuat Rukia melompat kaget. Ia segera bangun dengan terburu-buru dan menoleh ke kanan kiri, mencari sang sumber suara.

"Eh?" Rukia mengerjapkan matanya ketika ia melihat seorang pria dalam balutan busana putih dengan sebuah tongkat di tangannya. Sepertinya bukan tongkat biasa kalau melihat dari cahaya aneh yang keluar dari tongkat itu.

"Sayang sekali kau malah terkurung di ruangan tua ini daripada di istana…" pria itu tersenyum.

"Si, si, siapa kamu? A, apa yang kau lakukan di sini?" jerit Rukia hati-hati dan segera memasang fighting modenya.

"Jangan takut, Rukia-chan. Aku kemari untuk membantumu."

"Dari mana kau tahu namaku? Dan… kau belum menjawab pertanyaanku! Siapa kamu?"

"Aku Urahara Kisuke. Aku akan menolongmu, Rukia-chan."

"Urahara? Apa kau semacam ibu peri dan sebagainya?"

"Bisa dibilang. Tapi karena aku pria, jadi cocoknya ayah peri, kan?" Urahara tertawa kecil dan Rukia memandangnya dengan tatapan datar.

'Tidak meyakinkan…' gumam Rukia dalam hati. "Dan… kenapa kau mau menolongku? Aku sama sekali tidak butuh pertolongan apa-apa sekarang."

Urahara memandangnya heran dan bingung. "Bukankah kau ingin pergi ke pesta dansa di istana?" tanyanya heran.

Rukia menggeleng. "Tidak. Aku tidak tertarik dengan hal seperti itu." Dia mengangkat bahunya tidak peduli. Sekarang gantian Urahara yang memandangnya dengan mulut menganga heran.

"Apa? Tapi… kau seharusnya pergi ke pesta.."

"Ha? Seharusnya?"

"Ya, memang begitu jalan ceritanya."

"Cerita apa?" Rukia menaikkan alisnya.

"Oh, lupakan. Ngomong-ngomong, kau harus pergi ke istana, Rukia-chan."

"Tidak mau."

Jawaban Rukia yang tegas dan langsung itu membuat Urahara mulai panik.

"Ayolaah… Kau tidak ingin bertemu dengan pangeran?"

"Tidak. Aku bahkan tidak penasaran tentang dia. Lagipula, aku tidak punya pakaian yang bisa dipakai ke sana."

"Jangan khawatir!"

Lagi-lagi suara asing mendadak bergabung dalam pembicaraan mereka berdua. Rukia kembali menoleh ke kanan kiri depan belakang untuk mencari sumber suara itu.

"Aku akan membuatkan gaun yang paling indah untukmu!" Seorang pria dengan kacamata muncul di samping Urahara.

"Siapa kamu? Sebenarnya bagaimana kalian bisa masuk ke kamarku sih?" bentak Rukia.

"Aku Ishida Uryuu, perancang busana. Aku masuk ke sini dengan cara yang sama dengan Urahara-san." Dia membetulkan kacamata dengan jari telunjuknya.

"Haaaah?" Rukia memandang mereka berdua heran. Semuanya terasa tidak masuk akal. "Lalu, apa yang kalian berdua lakukan di sini?"

"Seperti yang sudah kami bilang sebelumnya, kami di sini untuk membantumu pergi ke istana." Urahara menjelaskan.

"Tapi aku tidak mau pergi ke sana."

"Kau harus pergi." Ishida menggumam.

"Kenapa harus?" Rukia memandangnya kesal.

"Hei, ayolah… Ayo pergi ke pesta!"

"Di sana akan banyak pangeran tampan dan kau bisa mendapatkan satu. Menarik sekali, kan?" Urahara dan Ishida berusaha melancarkan jurus persuasinya.

"Bukankah aku sudah bilang tidak? Dan sekali tidak tetap tidak! Titik!" Rukia menghembuskan nafas kesal dan melipat kedua tangannya di depan dada. "Huh, kalian ini keras kepala sekali!"

Kedua peri itu saling bertukar pandang dengan heran. Cinderella satu ini benar-benar merepotkan.

'Bagaimana ini, Urahara-san? Kita harus membawa gadis ini ke istana…' Ishida berbisik. 'Atau kita akan dapat masalah nanti.'

Urahara mengedarkan pandangannya ke sekeliling kamar Rukia dan melihat sesuatu. Tiba-tiba sebuah lampu menyala di kepalanya. 'Jangan khawatir! Aku punya ide!'

Rukia melirik sedikit ketika melihat Urahara mengeluarkan sesuatu dari saku pakaiannya. Itu terlihat seperti…

'Ponsel? Bagaimana bisa seorang peri jadi ikutan gaul dan kaya seperti ini?' Rukia sweatdropped.

"Uwaaahh!" Rukia kembali terkejut ketika sebuah sinar terang memenuhi kamarnya (lagi). Ia menutup matanya dengan kedua tangan untuk menghindari cahaya yang begitu terang itu.

"Rukia,"

Kali ini Rukia membuka matanya dan ia sama sekali tidak bisa bergerak ketika melihat sosok yang sekarang berdiri di hadapannya. Ia tidak ingat pernah bertemu dengan orang ini, tapi entah kenapa Rukia merasa ia tidak bisa melawannya.

"Si, siapa ya…?" tanya Rukia.

"Kuchiki Byakuya."

"Eeto… dan… kenapa…"

"Dia salah satu temanku, Rukia-chan." Urahara menjelaskan.

"Peri?" tanya Rukia.

Byakuya mengangguk sekali.

"Aku tidak menyangka akan muncul begitu banyak peri di dalam cerita ini…" gumam Rukia pelan.

"Kau pikir salah siapa, hah?" Ishida juga menggumam. "Kalau kau setuju untuk pergi ke pesta sejak tadi, kami tidak perlu datang ramai-ramai ke sini."

"Tapi, aku kan sudah bilang kalau aku tidak mau?"

"Rukia," Suara itu membuat bulu kuduk Rukia berdiri. Perlahan ia menoleh dan memandang pemilik suara itu. "Kau harus pergi ke pesta."

"Ta, tapi… Aku tidak mau…" Rukia tidak tahu kenapa suaranya jadi agak gemetar. Peri-Byakuya ini benar-benar mengintimidasi secara tidak langsung.

Byakuya memasukkan tangannya ke dalam saku. "Kau tidak ingin ini?" tanyanya sambil mengeluarkan sesuatu dari sana.

Mata Rukia membelalak lebar begitu menyadari barang itu. Ia memandangi barang di tangan Byakuya itu dengan tatapan 'aku-mauuu'.

"Itu… itu… Chappy Spesial edisi terbatas yang sangat langka dan susah sekali didapatkan! Ba… bagaimana… kau…"

"Jadi, kau mau ini?" tanya Byakuya.

Rukia segera mengangguk tanpa berpikir.

"Barang ini untukmu,"

"Benarkah?" Rukia memandangnya dengan mata berbinar-binar. "Ariga—"

"hanya kalau kau datang ke pesta dansa." Byakuya menyelesaikan kalimatnya.

"Apa?" tanya Rukia heran.

"Kita buat perjanjian: Aku akan memberikan barang ini padamu kalau kau pergi ke pesta dansa dan berdansa dengan seseorang yang berambut orange dan memakai tuxedo hitam. Bagaimana?"

Rukia terlihat ragu untuk sesaat. Ia berpikir keras dengan kening berkerut dan alis bertaut.

'Ini adalah kesempatan sekali seumur hidup. Tidak mungkin ada orang yang menawariku Chappy spesial edisi terbatas lagi untuk yang kedua kalinya dengan gratis. Apalagi, aku hanya perlu pergi ke istana dan berdansa sebentar dengan orang yang mereka sebutkan. Kenapa aku harus menolak? Apapun demi Chappy!' Rukia tersenyum pada dirinya sendiri.

"Oke." Rukia memutuskan. Ishida dan Urahara saling bertukar pandang dan tersenyum puas sekaligus lega.

'Memanggil Byakuya kemari memang paling ampuh!' pikir mereka.

"Kalau begitu, saatnya memberimu sihir." Ishida mengangkat tangannya dan mengarahkannya ke Rukia.

"Eh? A, apa yang kau—"

Rukia tidak sempat menyelesaikan kata-katanya ketika lagi-lagi cahaya yang menyilaukan memenuhi ruangannya. Ia tidak bisa melihat apapun dalam cahaya yang begitu terang itu. Beberapa saat kemudian, Rukia mendapati dirinya mengenakan sebuah gaun putih yang begitu cantik, lengkap dengan bunga yang menghiasi rambutnya dan sepasang sepatu kaca yang indah.

Urahara membawakan cermin dan Rukia terdiam melihat perubahan pada dirinya. Gaun yang dikenakannya benar-benar putih seperti salju, begitu elegan dan mengagumkan, berbeda sekali dengan apa yang dikenakannya beberapa saat yang lalu. Dengan renda dan beberapa aksesoris di sana sini membuat penampilannya terlihat begitu mewah. Kalung yang menghiasi lehernya yang jenjang dan putih, sarung tangan yang selembut sutera, serta rambutnya yang tertata dengan rapi dihiasi sebuah bunga mawar putih yang begitu cantik.

"Sempurna!" Urahara mengangguk mantap dan tersenyum.

"Wow… Ini benar-benar keren!" Rukia berputar-putar di depan cermin dan melihat pantulan dirinya. "Kau benar-benar hebat!"

"Tentu saja." Ishida tersenyum bangga.

"Jangan lupa. Kau harus kembali ketika jam menunjukkan pukul 12 malam karena sihirnya akan menghilang. Kami akan menjemputmu di luar istana." Byakuya mengingatkan.

Rukia hanya mengangguk tanda mengerti.

"Kalau begitu, ayo kita berangkat! Kau bisa terlambat ke pesta, tuan putri." Urahara mengulurkan tangannya ke arah Rukia.

Rukia kembali mengangguk. "Oh ya, bagaimana kita pergi ke istana?"

"Dengan ini." Byakuya mengangkat tongkatnya dan tiba-tiba muncul sebuah kereta yang indah di hadapan mereka.

"Wow…" lagi-lagi Rukia terkagum-kagum. "Tapi… mana kudanya?"

"Tidak ada."

"Hah? Jadi, barang ini percuma?" tanya Rukia heran.

"Tidak, kita pakai itu." Urahara menunjuk ke sesuatu yang ada di depan kereta itu.

Sekali lagi, Rukia sweatdropped ketika menyadari apa yang ditunjuk oleh Urahara barusan.

"Seekor… kucing?"

Meoow

.

Tbc

.


AN: Ya ampunnnn… percakapannya panjang banget yaa? Aku merasa kalau chapter ini panjaaanggg… sekali dan isinya cuma percakapan antara Rukia dan para peri. Hahahaha… XD Tapi, semoga nggak garing-garing banget dan beda sama Cinderella versi aslinya. Gimana? Aku memenuhi janji kan? Hahahaha… XD Mohon maaf karena update lama (nggak secepat yang sebelumnya, tapi tetep cepet kan? Hahahaha... XD). Tapi, update berikutnya kayaknya bakal lebih lama lagi. Salahkan sekolah yang nggak pernah berhenti kasih tugas ini itu. Wkwkwkwk… :p

Maaf, maaf… Ichiruki-nya masiiihhh belum muncul. Tapi tenang aja! Di chapter berikutnya aku jamin ada Ichiruki-nya kok! Makanya, terus baca dan ikuti kisah Cinderella ini ya! Jangan lupa kasih review, oke? Makasih banget buat semua yang udah bersedia review di chapter-chapter sebelumnya… Review reply udah aku kirim ke inbox masing-masing. :) Buat yang anonym, review replynya ada di atas.

Maaf AN terlalu panjang. Hehehe… habisnya aku kesel banget sama Kubo yang bikin Ichigo sama Rukia pisah! Cepet balikin Rukia ke Ichigo dooonggg! Ada yang udah liat endingnya Bleach anime yang ke 26? Duuhh… tambah pingin nangis aja. Kubooo! Give our Rukia backkk! Let her back to the story plot! *demo* (maaf curcol)

Last but not least, Arigatou gozaimasu and…ja matta!