The Virgin and The Playboy (One Night Stand series #2)

HunSoo Version

Disclaimer : cerita ini milik Kate Richards. Gw nulis ulang/remake dari blog READNOVELSBLOG dot WordPress dot COM. Semua karakter yang ada di FF ini semua milik Tuhan YME, orang tua, keluarga, agensi, fans dll. Gw hanya pinjem nama mereka. Kalo pengen baca versi asli yang sudah di translate bisa baca di blog yang udah gw tulis sebelumnya. Ganti tulisan (dot) dengan tanda (.)/titik.

*

Warn!OOC, GENDERSWITCH

*

HAPPY READING

*

*

*

*

DON'T LIKE DON'T READ

WARN! NC SCENE

*

*

*

*

_

Sehun terkejut mendengar ketukan di pintu penthouse. Teman kencannya seharusnya memiliki kunci sendiri, jadi ketika ia membuka pintu ia mengharapkan untuk melihat petugas hotel, atau mungkin petugas layanan kamar dengan minuman yang ia telah pesan. Namun sebaliknya, ia menghadapi wanita yang sangat mungil, sangat meyakinkan dan dengan tangan terangkat seolah ingin mengetuk lagi. Dia mengamati sosok gadis dihadapannya yang memikat, feminin, rambutnya cokelat bergelombang di sekitar wajah dengan rona merah muda di pipi, dan mata biru lebar menatap penasaran kearahnya.

"Kupikir kau bukan dari bagian house keeping, benar kan?" Sebuah kerut terbentuk antara alis lurusnya.

"Bukan, kau ingin aku menjadi petugas house keeping?" Gadis mungil itu menjorokkan dagu kearahnya dan menjatuhkan tangan yang masih tergantung di udara.

"Sama sekali tidak," katanya, melihat ke atas dan ke bawah lorong. "Aku telah memesan beberapa handuk tambahan…" Dia terhenti, dan hening sesaat ketika mereka saling memandang. Saat sang gadis tidak mengatakan apa-apa, dia tersenyum dan berkata, "Aku Sehun dan kau adalah…?"

"Kyungsoo." Dia berbicara begitu pelan sehingga Sehun harus mendekat untuk mendengarnya.

Kyungsoo tidak berlagak seperti seseorang yang tidak mempunyai rasa malu untuk mendaftarkan diri untuk kencan semalam dengan seseorang yang asing. "Hanya untuk memastikan—apakah Madame Evangeline yang mengirimmu?" Kyungsoo memandang ke atas dan bertemu dengan mata Sehun. "Ya. Bolehkah aku masuk?"

"Tentu saja, silahkan." Sehun melangkah mundur untuk membiarkan gadis itu lewat, mengikutinya dengan matanya saat Kyungsoo menjatuhkan tasnya di rak kopor di dekat pintu dan berjalan ke jendela.

Kyungsoo menatap keluar jendela, membelakangi Sehun. "Tidakkah kau mendapatkan kunci juga?"

Berdiri di antara tirai, Kyungsoo mengangkat kunci untuk diperlihatkan pada Sehun. "Yep. Aku hanya merasa lucu menggunakannya ketika kau sudah di sini". Sehun bergabung dibelakangnya dan ikut melihat keluar jendela melalui bahu Kyungsoo. Kyungsoo membeku saat Sehun berdiri begitu dekat di belakangnya. Itu adalah kejutan.

Garis-garis lampu yang ada di bawah semuanya berkedip, keindahan lampu- lampu neon. Aroma samar bunga dari rambut Kyungsoo yang lembut menarik perhatian Sehun kembali ke kamar dan pada perempuan yang sangat diinginkannya yang kini berada didepannya.

Bagus.

Sehun mengangkat tangan untuk menyentuh dan kemudian berhenti, mengejutkan dirinya sendiri karena keragu-raguannya. "Aku suka lampu-lampu di sini."

Ketika Kyungsoo berbalik untuk menatapnya, Sehun mengerti mengapa dia menarik dirinya kembali.

Kyungsoo benar-benar berbeda dari wanita lain yang menghabiskan akhir pekan dengannya. Dan itu bukan hanya karena lekuk lembut payudara alaminya, atau makeup yang minim di wajahnya yang cantik. Ada sedikit gemetar di bibir bawahnya yang penuh saat Kyungsoo berdiri di bawah pengawasan Sehun . Seluruh tubuh Kyungsoo membuat Sehun sulit bernapas, dan untuk sekali dalam kehidupan playboy-nya yang liar, ia tidak tahu harus berkata apa. Atau bagaimana untuk memulai.

Kyungsoo tertegun. Dia tidak pernah membayangkan bahwa Madame akan mengirimkannya seorang pria yang membuatnya meneteskan air liur karena pria ini layak menjadi model cover sebuah majalah. Dia tinggi, gelap dan tampan dan semua tertulis diseluruh tubuhnya dalam huruf besar berukuran dua inci. Entah karna berjemur atau memang warna kulit alami Sehun adalah emas pucat dengan sedikit nuansa lebih muda dari mata emasnya dan jauh lebih muda warnanya dari warna rambutnya yang sewarna kayu mahoni. Apakah ada warna itu dalam krayon? Mungkin dalam krayon berisi enam puluh empat warna itu ada.

Tatapan mata Kyungsoo turun ke bawah; dia mungkin harus berpikir tentang six-pack di depannya. Bahkan lebih rendah, warna merah merayap kepipinya lagi ketika ia memandang gundukan dalam celana panjang Sehun yang sangat pas dengan tubuhnya. Sejak kapan celana menjadi begitu… menarik mata untuk di lihat? Kyungsoo bahkan belum pernah melakukan hubungan seks satu kali, namun, ia sekarang terfokus pada aset yang ada di bawah pinggang setiap pria di Las Vegas! Keraguan menyerangnya, dan ia memaksa matanya metutup. Benar-benar terlambat untuk mundur sekarang; jika dia mundur sekarang, maka dia tidak akan pernah mencoba lagi. Citra dirinya sebagai perawan tua layu, tertinggal di rak, tidak akan pernah memiliki keberanian untuk tidur dengan pria mana pun tercetak pada kelopak matanya yang tertutup dan hal itu membuatnya bergidik.

Mata Kyungsoo perlahan-lahan kembali naik dan naik, memandangi dada yang bidang dan dagu indah, bibir penuh dan menuju mata emasnya. Pria di lobi tadi memang tampan, tapi Sehun lebih lagi, dia seperti mendapatkan jackpot. Madame benar-benar ahli.

Kyungsoo tidak mungkin bisa menemukan pria yang lebih seksi jika dia membentuknya dari kotak mimpinya. Impian seorang perawan.

"Apa yang kau pikirkan?"

"Aku… itu, aku berpikir kau sangat tampan." Dia mengembuskan napas.

Bagus.

"Terima kasih." Suara Sehun merendah, mengirimkan kegembiraan menuju tepat keintinya. Apa yang Sehun pikirkan tentang diri Kyungsoo? Tubuh Kyungsoo terlalu berlekuk untuk mengikuti selera fashion, tapi sedikit pujian pastilah menyenangkan.

Hening cukup lama ketika mereka berdiri saling berhadapan. Jarak yang terentang hanya kurang dari satu kaki yang memisahkan mereka secara fisik, dan penghalang antara mereka dengan mudah bisa diseberangi. Akhirnya, Kyungsoo tidak tahan lagi, ia melangkah mendekat lalu berjinjit untuk ciuman lembut di bibir Sehun. Hal itu jelas memecahkan kebekuan.

Sehun merengkuhkan lengannya di tubuh Kyungsoo dan menarik pinggulnya rapat, membungkuk untuk melanjutkan ciuman ke tingkat berikutnya. Kyungsoo tidak awam dengan ciuman-dia tentu saja pernah berkencan sebelumnya. Dan Kyungsoo cukup pengalaman untuk mengetahui bahwa Sehun luar biasa berbakat. Kyungsoo melingkarkan lengannya di leher Sehun dan menyerahkan keraguannya terakhirnya.

Bibir Sehun tegas dan mendesak. Ketika Kyungsoo membuka bibirnya, Sehun mengambil kesempatan untuk menjarah mulutnya. Dunia Kyungsoo seakan digoncang hanya dengan ciuman itu, gigitan kecil Sehun di bibir bawahnya, ujung lidah Sehun menggoda dan membelai miliknya sampai lututnya terasa lemas dan memberikan sensasi yang memabukkan. Sehun memeluk Kyungsoo erat, dan tangannya meluncur ke bawah untuk menangkup bokongnya, jari-jari yang kuat menggali melalui rok sutranya dan mengangkatnya sedikit sehingga Kyungsoo kembali berjinjit, dan bahkan semakin kehilangan keseimbangan.

Sehun mundur, menurunkan Julia, dan menatapnya, mata kuning gelap keemasan nampak begitu tajam dan berasap dengan nafsu. Sebelum Kyungsoo bertanya-tanya apa yang mungkin akan dilakukan selanjutnya, terdengar ketukan di pintu diikuti oleh suara mengumumkan, "Layanan kamar."

Ketika Sehun melepaskan pelukan Kyungsoo, Kyungsoo meremas kedua tangan di jendela dibelakangnya dan melihat Sehun beranjak ke pintu dan mempersilakan pelayan dengan nampan minuman dan piring dengan penutup perak masuk. Srhun bercakap-cakap sejenak dengan pria itu, suaranya terdengar santai dan seperti halnya mereka sedang duduk di ruangan berbeda yang bersebrangan untuk membicarakan cuaca. Kyungsoo kecewa sampai ia melihat bahu Sehun bergoyang saat Sehun menarik napas dalam-dalam sebelum kembali padanya. Sehun memiliki kontrol diri yang besar, tapi dia tidak, terima kasih Tuhan, Sehun tidak terpengaruh oleh ciuman mereka.

Ketika Sehun berbalik ke arah Kyungsoo, ia menarik kemejanya di atas kepalanya. Senyum kebanggaan terlihat saat Sehun melemparkan kemejanya ke sudut, menghilangkan kesan tenang yang baru saja ia tunjukkan. Tapi sebelum Kyungsoo bisa melanjutkan khayalannya, Sehun menurunkan tangannya ke sabuk kulitnya. Kyungsoo merasa seperti tikus yang bermain dengan ular. Terpaku. Masih diam, ia melonggarkan kepala sabuk berwarna perak, menariknya keluar melalui lubangnya, dan kemudian mulai membuka kancing celana jinsnya. Mark pindah ke tempat tidur, ia duduk untuk melepas sepatu boot kulit hitam, berhenti sejenak, dan memiringkan kepalanya ke samping, lalu melepaskan satu sepatu boot dari tangannya.

"Apakah kau tidak akan melepaskan pakaianmu?"

"Oh, ya, tentu saja." Kyungsoo tersenyum dan mencoba untuk terlihat percaya diri, tapi kehangatan yang ia rasakan sebelumnya berubah menjadi ketakutan. Ketika dia mendaftar untuk kencan semalam, dia tidak benar-benar jujur.

Dalam mengisi dokumen, ia menuliskan bahwa tingkat pengalaman seksualnya adalah "sedang". Kyungsoo takut teman kencannya akan menolaknya, dan kemungkinan seorang perawan itu tidak memenuhi syarat untuk kebijakan kencan semalam.

Sehun tidak tahu apa yang ia hadapi, tapi bahkan dengan ketidak-pengalamannya, Kyungsoo mengharapkan rayuan yang lebih dari ini. Kyungsoo menyipitkan matanya, mengawasi Sehun.

Entah Sehun tahu atau tidak, itu adalah pengalaman pertama kali Kyungsoo dan dia tidak mau terburu-buru. Jika Sehun tidak memiliki perasaan untuk membuat pertemuan ini spesial, maka Kyungsoo akan menjadikannya spesial.

Kyungsoo berusaha tersenyum berharap senyumnya nampak sensual diwajahnya. Apa yang sebenarnya Sehun harapkan? Oh, ya. Apakah Kyungsoo akan menanggalkan pakaian. Tahun-tahun penuh fantasi menghilang, ribuan novel roman yang sudah Kyungsoo lahap luntur saat Kyungsoo melihat kenyataannya.

"Aku berharap kau akan melakukannya untukku, Sehun." Kyungsoo mengedipkan bulu matanya, klise? Biarlah.

Kilatan di mata Sehun menyiratkan ketertarikan pada rencana Kyungsoo.

Dia berpaling dari Sehun untuk menunjukkan deretan kancing di sepanjang punggung gaun biru indigo sepanjang lutut yang ia kenakan. "Tolong? Aku tidak bisa menjangkau mereka semua."

Mulut Sehun kering. Dia berdiri dengan cepat dan mengambil satu langkah ke arah Kyungsoo, dan tersandung oleh salah satu boot yang dia masih pakai. Sambil melompat-lompat dengan bertumpu pada satu kakinya, ia berhasil mencabut bootnya itu dan menjatuhkannya ke lantai, tak menghentikan langkah majunya.

Sehun pernah membuka beberapa kancing pada beberapa gaun sebelumnya, meskipun ia tidak mengingat banyak. Dia menaruh tangannya pada pinggul Kyungsoo dan memutarnya agar Kyungsoo menatapnya. Tangan Sehun meraih punggungnya, dan ia menyelipkan tangan untuk membuka satu demi satu kancing kecil. Matanya terfokus untuk menggodanya, ia membungkuk untuk menekan bibirnya pada denyut yang ada dileher mulus Kyungsoo, menghirup lembut, parfum bunga dan aromanya, mempertajam aroma yang hanya dimiliki Kyungsoo.

Ketika ia membuka kancing di pinggang, Sehun melangkah mundur dan menyelipkan gaun itu turun dari bahu Kyungsoo, mempertontonkan bra renda putihnya dengan kait di depan, kemudian memperlihatkan kehalusan perut mulusnya. Sangat feminin, Sehun meletakkan tangannya di kelembutan di atas bulatan di sana, kulitnya sehalus sutra dan berlekuk yang membuat nafasnya tersengal, ini melampaui dari apa yang ia harapkan.

Minggu demi minggu, Sehun pergi berkencan dengan wanita-wanita seksi dari klub. Mereka semua cantik, dan memiliki perut benar-benar datar, rata, diperoleh melalui kelaparan dan rutinitas latihan yang ketat. Sehun membelai perut Kyungsoo, ia mengusap perutnya dengan lapar mata. Wanita-wanita sebelumnya nampak mirip satu dengan lainnya, tapi perut Kyungsoo membuatnya tidak merasakan apapun kecuali nafsu yang tidak pernah ia ketahui sebelumnya.

Sehun menarik Kyungsoo mendekat lagi, melingkarkan lengan dipinggulnya dan membuka kancing terakhir. Dengan cepat, gaun itu meluncur turun dan jatuh ke lantai. Kyungsoo menatap gaunnya yang terlepas, dan ketika kedua matanya kembali naik, Kyungsoo bergidik, hanya melihat cara Sehun menatapnya.

Bisakah Kyungsoo melihat rasa laparnya? Tangannya masih di sisi tubuhnya, dan mata Kyungsoo bertemu dengan tatapan Sehun, Kyungsoo masih berdiri hanya dengan bra dan celana dalam berenda putih mungil. Payudaranya melengkung di atas puncak lekuk bra. Apakah putingnya merah muda atau lebih berwarna gelap, atau mungkin berwarna seperti karang—Sehun ingin mencari tahu. Sekarang.

Dia melangkah mundur dan menyelesaikan membuka kancing celana jinsnya, mendorong mereka ke lantai dan melangkah keluar dari celana jeansnya. Sehun mengenakan celana pendek ketat—yang menurut begitu banyak wanita nampak seksi. Apakah begitu juga menurut Kyungsoo? Mereka berdiri begitu dekat, tapi sekali lagi akal sehat telah meninggalkan dirinya.

Sehun tidak pernah ragu-ragu dalam kamar tidur. Dia tidur dengan wanita yang berbeda setiap minggu. Jarak satu inchi memisahkan mereka, dan Sehun meraih gadis itu, tapi sesuatu di wajah Kyungsoo menghentikannya. Matanya lebar dan penuh nya, bibir bawah bergetar sedikit. Begitu juga tangan Kyungsoo, ketika ia mengangkatnya ke pipinya.

"Kau kedinginan?" tanya Sehun. "Suhu AC diatur cukup rendah, biarkan aku menaikkan suhunya."

"Tidak," Kyungsoo memindahkan tangannya dari wajahnya sendiri dan meletakkannya pada lengan Sehun.

"Aku tidak kedinginan." Wajahnya mendongak menatap Sehun, dan Sehun membungkuk untuk menangkap bibirnya, menikmati kelembutan mereka, dan aroma memabukkan saat ia bergerak untuk memperkecil jarak antara mereka. Mark melepas kaitan bagian depan bra dan Sehun ke bawah tubuh mereka ketika payudara Kyungsoo tumpah keluar. Memuaskan rasa ingin tahunya.

"Indah." Sehun meluncur tangan di bawah mereka dan menangkupkan mereka dalam telapak tangannya.

Rasa penuh dan kenyal dari payudara Kyungsoo membuat Sehun terlena, dan dia meremas bagian bawah kedua payudara Kyungsoo dengan ibu jarinya. Karena lemak tubuh gadis-gadis di klub sangat rendah sebagian besar mereka memakai implant payudara agar memiliki payudara besar. Tapi payudara Kyungsoo penuh, sehalus sutra seratus persen alami. Putingnya berwarna merah gelap seperti mawar membuat Sehun sulit menahan air liurnya.

Sehun menatap kembali wajah Kyungsoo, ia melihat matanya menjadi sayu. Sangat sensual, begitu erotis. Kejantanannya mendorong celana boxernya, sehingga celananya semakin ketat.

Sehun melangkah mundur dan meraih tangan Kyungsoo, menariknya ke arah tempat tidur dan mengajaknya duduk di tepi tempat tidur. Dia menciumnya lagi, lembut, mengangkat kaki Kyungsoo ke atas kasur dan meletakkan bantal lembut di bawah kepalanya.

"Kyungsoo? Apakah kau merasa nyaman?"

"Hmmm?" Kyungsoo menatap Sehun, tetapi kelopak matanya setengah tertutup dan napasnya terdengar halus. "Oh, ya, sangat nyaman."

Kyungsoo mengangkat tangan dan meletakannya di lengan Sehun, kuku jemari Kyungsoo bermain dipergelangan tangan Sehun.

Sehun duduk di tempat tidur dan memperhatikan teman kencan semalamnya.

Kyungsoo tampak seperti lukisan renaissance, semua warna yang indah di campur bersama-sama. Rambut kecokelaan dengan highlight tembaganya yang membuatnya memantulkan cahaya dalam kabut emas, kulitnya seputih krim.

Dibandingkan dengan selimut hotel berwarna indigo, mata Kyungsoo tampak lebih biru dan kulitnya lebih pucat. Dia lebih hidup dan lebih elegan daripada apapun yang pernah Sehun lihat sebelumnya. Dan untuk satu malam, Kyungsoo adalah miliknya.

Dia mengisi tangannya dengan payudara Kyungsoo, menyukai kelembutan kedua payudara di telapak tangannya.

Dia tidak pernah menyadari betapa dia tidak menyukai kerasnya payudara silikon sampai sekarang. Kyungsoo adalah gadis yang sebenarnya.

-o0o-

Kyungsoo SEORANG PERAWAN, menggelinjang merasakan antara bernafsu dan kengerian pada setiap sentuhan Sehun. Tangannya mengirimkan sensasi baru yang berlomba didalam tubuhnya. Dia memang pernah bertelanjang dada sebelumnya dengan seorang pria. Tapi ada sesuatu tentang cara Sehun menyentuh dan menatapnya yang membuat hatinya berdegup dan mulutnya kering.

Mungkin itu disebabkan karena Kyungsoo berencana untuk tidur dengannya. Tidak ada bagian yang dilarang untuk di pegang— Kyungsoo menginginkan semuanya. Dan dia tidak memberitahu Madame karena dia tidak ingin menghadapi orang iseng yang sedang mencari perawan untuk menambah koleksi wanita untuk ditaklukan. Tidak, Kyungsoo ingin malam menyenangkan dimana dirinya diperlakukan seperti seorang wanita.

Kyungsoo menyandarkan kepalanya di bantal lembut dan memungkinkan Sehun untuk memimpin. Sehun merangkak naik disampingnya, anggun, seperti kucing hutan, dan berbaring disampingnya, telanjang. Kyungsoo bisa melihat celana dalamnya di lantai di samping tempat tidur. Dia menjulurkan lehernya untuk mencoba untuk melihat kebawah Sehun untuk melihatnya tetapi sudutnya salah.

Beberapa menit lagi, aku akan selesai dengan omong kosong keperawanan. Kyungsoo memejamkan matanya erat, rasa takut lebih membanjir daripada hasratnya, menunggu langkah Sehun berikutnya.

"Lihatlah aku," kata Sehun, dan Kyungsoo membukanya matanya lagi.

"Biru seperti laut Karibia." Kyungsoo terjebak dalam tatapan emas kecokelatan mata Sehun, memperhatikan panjangnya bulu mata Sehun dan dia bisa melihat di pipinya. Jari-jari Kyungsoo menyusuri kekerasan tulang pipi Sehun, dan ia mengusap telapak tangannya diwajahnya, menyukai gelitik bulu-bulu kecil yang tumbuh di wajah Sehun. Kyungsoo bertanya-tanya bagaimana rasanya bulu-bulu itu menyentuh bibirnya, dan Kyungsoo mengangkat kepalanya untuk mencari tahu.

Pipi Sehun yang kasar terasa nikmat, dan Kyungsoo mengusap bibirnya bolak-balik, menikmati sensasinya. Mengapa ia tidak pernah mengambil kesempatan sebelumnya untuk menjelajahi pria-pria yang pernah berkencan denganya? Pasti dia akan kehilangan keperawanannya bertahun-tahun yang lalu. Atau mungkin perasaan itu hanya ada pada Sehun?

Aroma tubuh Sehun tercium di hidung Kyungsoo, liar dan panas, seperti kayu manis dan cendana, dan jantan.

Sehun memutar kepalanya dan menciumnya lagi. Bibir sedikit terbuka, mereka menghembuskan napas masing-masing, lambat, manis, memabukkan. Ujung lidahnya membelai bibir Kyungsoo dan gadis itu mendesah sebelumnya dengan takut-takut menjulurkan lidahnya sendiri untuk menyentuh lidah Sehun, terpaut dalam tarian, rumit nan erotis. Kyungsoo menggeliat, merasa rentan ketika kedua belah kakinya terbuka dan terjepit diantaranya paha berotot.

Sehun meraih payudaranya lagi dan mulai meremas lembut keduanya, berbicara lembut.

"Kyungsoo, kau memiliki kulit yang lembut, dan putingmu begitu keras. Aku ingin menjilatnya, menggigit keduanya, membuatmu menjerit."

Kyungsoo semakin menggelinjangkan tubuhnya dan kelembaban semakin terasa dibagian bawahnya. Kyungsoo mulai merasa ada titik tempat basah di bawah tempat tidurnya.

"Haruskah aku melakukan itu, Kyungsoo yang cantik? Apakah kau ingin aku menggigit putingmu? Apakah kau akan memohon padaku untuk melakukannya?"

"Oh, ya. Aku ingin kau melakukannya" Kyungsoo menyorongkan dadanya ke arah Sehun, kata-kata Sehun telah menyeka ketakutannya dan menggantikannya dengan nafsu.

"Apa yang kau ingin aku lakukan, Kyungsoo? Katakan padaku." Sehun memindahkan mulutnya ke daun telinga Kyungsoo, menggigit-gigit kecil dengan giginya yang tajam.

"Apakah ini? Haruskah aku menggunakan gigiku pada putingmu juga?"

"Ya, ya," kata Kyungsoo, gemetar.

"Ya apa?"

"Cium aku, gigit aku, jilati payudaraku, kumohon. Aku ingin mulutmu padaku."

"Di bagian mana?" Sehun menjilat ringan di cuping telinga Kyungsoo dan dia merasakan sengatan listrik sampai ke jari-jari kakinya.

"Seluruhnya, jilat aku dimana saja."

Sehun melepaskan pegangannya dan perlahan-lahan menjilat leher Kyungsoo, membuatnya ingin menjerit. "Yang harus kau lakukan adalah memintanya."

Kyungsoo bermaksud membuka mulutnya untuk menanggapi pernyataan sombong Sehun, tapi langsung menutupnya ketika Sehun meniupkan udara dingin diputingnya yang menegang. Darahnya mengalir deras melalui pembuluh darahnya, dan dia merasa begitu hidup, dia hampir lupa bahwa dia bukan wanita nakal seperti yang saat ini dia tunjukkan kepada Sehun.

Seperti ucapan Sehun, ia membasuh putingnya dengan lidah panasnya, satu per satu, sambil mencubit ringan puting lainnya dengan ujung jarinya. Jari-jari Kyungsoo tersangkut di rambut Sehun, kepala Kyungsoo terlemparkan kembali ke bantal dan matanya memejam rapat. Sehun menjilat perlahan, mengambil setiap detik yang terasa lama untuk membuat setiap lingkaran di sekitar putingnya, dan kepasrahan manis menunggu di setiap bagian dari areola yang di sentuh oleh Sehun dengan lidah kasarnya hampir melebihi dari apa yang bisa Kyungsoo tanggung.

Tiba-tiba, Sehun mundur dan mendongak kearahnya dari bawah bulu matanya, membakar diri Kyungsoo dengan tatapannya, sebelum menjatuhkan kepalanya kembali dan menghisap putingnya ke dalam mulutnya, menggigit-gigit ringan, cukup untuk memberi sedikit rasa sakit dan kenikmatan yang berbaur yang membuat Kyungsoo berteriak.

"Sehun, oh Tuhan, di mana kau belajar melakukan itu?" Ucapan konyol pertanyaannya terasa memukulnya ketika Sehun tertawa. Getaran bibir Sehun sementara putingnya masih berada di giginya mengirim Kyungsoo menuju batas. Kyungsoo merasakan orgasmenya, jemarinya menancap di kulit kepala Sehun dan merasakan kontraksi otot di seluruh tubuhnya hingga ke jari-jari kakinya. Gelombang terus berlanjut, meninggalkan tubuhnya dengan lemas dan terengah-engah.

Sehun meliat ke arah wajah Kyungsoo.

"Apakah kau selalu orgasme ketika seseorang mengapit putingmu seperti ini."

Dia pindah mulutnya ke puting lainnya dan menghisap ke dalam mulutnya, menggigit keras saat ini, memutar di antara giginya.

"Tidak, aku—tidak pernah." Kyungsoo tidak pernah mengalami orgasme dengan seorang pria, sebelumnya. Sambil mengisap puncaknya semakin jauh ke dalam mulutnya, kelembaban antara kedua kaki Kyungsoo mengalir ke pahanya.

"Apakah itu tidak biasa?"

Tangan Kyungsoo meninggalkan rambut Sehun dan menyusuri bahunya yang bidang. Kulit Sehun terasa hangat, dan Kyungsoo mendapati diriya ingin menggali jari-jarinya ke dalam otot-otot tegang di dasar lehernya.

Sehun melepaskan bibirnya dari puting Kyungsoo dan mendorong dirinya pada sikunya. "Apakah kau serius?"

Kyungsoo menarik napas gemetar. Jangan berkata jujur, Kyungsoo. Sehun mungkin tidak menginginkanmu jika dia tahu betapa tidak berpengalamannya dirimu.

"Ya—tidak, kukira tidak. Aku hanya tahu itu tidak pernah terjadi kepadaku sebelumnya."

"Aku juga." Terpikat senyum lebar dan binar di mata Sehun, dan Kyungsoo mengulurkan tangan ke pipi Sehun, membimbing Sehun untuk menciumnya. Sehun berguling ke kanan, membawa Kyungsoo bersamanya sehingga Kyungsoo berada di atas Sehun mengangkangi pinggulnya dan sangat sadar ereksinya menekan di persimpangan pahanya.

TBC.