Disclaimer: Kuroko no Basuke bukan milikku, tapi milik Fujimaki Tadatoshi
Warning: Slash, AU, OOC, typo, etc
Rating: T
Genre: Adventure, Supernatural, Drama
THE EMPEROR
By
Sky
Kuroko memejamkan kedua matanya, pasrah dengan apa yang nantinya akan terjadi di tangan makhluk cantik tapi mengerikan in, ia tidak tahu harus melakukan perlawanan seperti apa lagi, semua yang ia lakukan tidak ada gunanya karena monster berwujud wanita dengan tato lily hitam di pipinya tersebut jauh lebih kuat dari Kuroko, terlebih lagi dia bukanlah manusia pada umumnya. Anak itu meringis pelan, peluhnya terasa begitu dingin ketika beberapa tetes darinya mengalir ke belakang punggungnya, membasahi kaos tipis yang ia kenakan saat itu. Taring dari wanita itu menimbulkan luka gores yang memancing keluarnya darah pada leher sebelah kanannya, perih dan sakit yang ia rasakan ketika sang monster mencengkeramnya dengan begitu erat sementara ia menggesekkan taring yang tajam itu pada leher mulus Kuroko. Kelihatannya nasib Kuroko akan berakhir di sini, pada usianya yang keduabelas tahun ini.
Bibir bagian bawahnya berdarah karena gigitan giginya semakin erat, anak berparas manis itu melakukannya untuk menahan rasa sakit ketika kedua benda tajam milik penyerangnya menusuk lehernya, mengambil sampel darah mudanya sedikit demi sedikit. Harapan Kuroko pupus, tidak ada yang akan menolongnya sekarang, bahkan kalaupun ada itu juga mustahil sebab yang menahannya ini bukanlah manusia normal, melainkan monster yang menghisap darahnya. Kaos biru berlapis jaket berwarna senada itu berubah warna menjadi merah pada bagian lehernya, darah Kuroko keluar semakin deras dan bisa ia rasakan kepalanya menjadi sangat ringan, seakan-akan dunia berputar di sekitarnya.
Okaa-san… Otou-san.. aku akan menyusul kalian berdua, Pikir Kuroko dengan sedih. Kesadarannya semakin menipis seketika darahnya terambil secara paksa dan banyak. Di balik kesadarannya yang mau menghilang, Kuroko mendengarkan sebuah suara yang samar-samar dan ia merasakan cengkeraman pada tubuh kecilnya pun terlepas, membebaskannya dari monster yang berniat menghabisi nyawanya dengan cara tersadis, namun dikarenakan energinya yang telah habis itu membuat anak laki-laki berambut biru langit tersebut jatuh menghantam lantai kereta api yang berjalan dengan sangat kerasnya. Kuroko mengaduh pelan, tapi rasa sakit di punggungnya tidak terlalu terasa dibandingkan lehernya.
"Akkh… berani-beraninya kau menggangguku, bocah sialan!" Suara wanita itu terdengar begitu marah, tapi Kuroko tidak tahu pasti mengapa ia begitu marah. Apa karena seseorang mengganggu acara makan malamnya?
Anak itu masih berada dalam ambang sadar dan tidak sadar, rasanya begitu lelah sampai-sampai ia tidak tahu tengah berada di mana ia sekarang. Meskipun begitu, Kuroko merasakan otaknya meneriakinya untuk tidak tidur sekarang, sebab bila ia tidur maka ia yakin dirinya tidak akan bisa kembali dan ia akan pergi untuk selama-lamanya, menyusul kedua orangtuanya ke tempat di mana mereka berdua tengah berada sekarang. Godaan itu sangat berat untuk dilawan, kedengarannya begitu memikat dan hampir saja Kuroko terjatuh ke dalam daya pikatnya kalau saja ia tidak ingat dengan kondisi neneknya, wanita tua itu pasti akan sedih kalau Kuroko tinggal sendirian. Kuroko berdoa dalam hati agar neneknya tidak kenapa-kenapa.
Merasa menemukan kekuatan dalam dirinya, Kuroko mencoba untuk membukan kedua kelopak matanya, memperlihatkan sepasang bola mata berwarna biru langit yang terlihat begitu lelah. Ia bertumpu pada siku kanannya dan mencoba untuk mendudukkan dirinya, setelah berhasil barulah anak itu menatap ke depan untuk melihat apa yang terjadi. Kedua matanya melihat warna merah, merah yang sangat cantik dan menyala layaknya api abadi. Hangat, itulah yang terbesit di otak remaja berambut biru langit tersebut.
Seorang anak laki-laki yang mungkin seusia dengan Kuroko tengah berdiri di ambang pintu gerbong kereta, ia tidak bisa melihat begitu jelas bagaimana wajah anak itu selain karena ia tengah kelelahan dan hampir kehilangan kesadaran juga dikarenakan anak itu mengenakan sebuah topi yang bayang-bayangnya bisa menyembunyikan wajahnya. Tapi yang mencolok dari anak itu adalah sebuah api berwarna merah darah yang dipegang olehnya, api itu membentuk sebuah tali yang mengikat erat leher wanita dengan erat, Kuroko bisa mendengar erangan penuh kesakitan yang wanita itu keluarkan dari mulutnya.
Apakah aku bermimpi? Tanya Kuroko dalam hati, sedikit tidak percaya dengan apa yang ia lihat dengan mata kepala sendiri.
Setelah beranjak dari tempat duduknya di gerbong kereta api, Seijuurou berlari dengan cepat menuju sumber energi yang sangat ia kenal itu. Ia yakin yang menyerang kereta api yang ditumpanginya ini adalah salah satu dari anggota Black Lily, tapi yang menjadi pertanyaannya adalah apa yang dilakukan mereka di tempat seperti ini? Apa mereka kelaparan dan memutuskan berburu untuk memenuhi perut mereka? Beberapa pertanyaan muncul di benak Seijuurou, tapi apapun jawabannya itu ia sama sekali tidak gentar.
Mereka sangat sial karena kereta yang menjadi sasaran terdapat aku sebagai penumpangnya, batin Seijuurou dengan seringai tipis menghiasi wajah tampannya. Seijuurou melambaikan tangan kirinya untuk beberapa saat, ia berkonsentrasi dan menyebarkan sensor sihirnya untuk merasakan di mana keberadaan 'mangsa'nya tersebut. Tiba-tiba sebuah bunyi yang lumayan keras terdengar dari balik pintu yang ada di hadapannya, targetnya ia temukan juga.
Kedua mata heterokromnya bisa menerka kalau di balik pintu yang tertutup itu terdapat dua orang yang masih sadarkan diri, satu di antara mereka adalah anggota dari Black Lily bila dirasakan dari sensor sihirnya sementara satunya adalah manusia yang kira-kira menjadi mangsa dari target Seijuurou. Dengan tangan kanannya, Seijuurou menggapai gerendel pintu dan menekannya sampai terbuka.
Sebuah pemandangan yang menakjubkan namun dalam artian terbalik menantinya di balik pintu yang terbuka. Para penumpang kereta tidak sadarkan diri, keadaannya kacau dan di ujung gerbong itu ia melihat seorang wanita yang memiliki tanda 'mereka' tengah mencengkeram seorang anak kecil berambut biru langit pada lehernya. Dari tempatnya berdiri Seijuurou bisa melihat wanita tersebut menarik paksa jiwa dari tubuh kecil sang remaja, dan entah kenapa anak berambut biru langit tersebut kelihatan sangat familier, apa Seijuurou pernah melihatnya di suatu tempat?
Aku yakin pernah melihatnya di suatu tempat, tapi untuk saat ini hal seperti itu tidak penting, kata remaja berambut merah menyala dalam hati. Kedua mata heterokromnya menyipit dari balik kacamata tipis yang ia kenakan, ia tidak bisa diam saja menyaksikan salah satu pion Black Lily menghabisi nyawa seorang manusia yang tidak bersalah seperti ini. Mungkin tidak elit rasanya seorang raja harus berhadapan dengan pion lawan, tapi layaknya sebuah permainan bidak catur, peraturan sudah terpasang dengan papan caturnya adalah kereta ini membuat Seijuurou harus turun tangan.
Dengan ekspresi yang tenang atau dingin lebih tepatnya, Seijuurou memanggil sihir api yang merupakan salah satu dari elemen utamanya. Sebuah nyala api yang sangat membara muncul dari udara kosong di hadapannya, warna api yang Seijuurou panggil tidak seperti api pada umumnya, benda itu berwarna merah seperti warna rambutnya. Tanpa ragu-ragu, Seijuurou menekan sihir yang ada dalam tubuhnya sekecil mungkin, membuat api tersebut menjadi kecil dan dengan gerakan cepat remaja bersurai merah layaknya darah tersebut menggenggam nyala api yang membara dan memanipulasi bentuknya. Dihentakkannya kaki kirinya ke belakang sementara tangan kanannya yang menggenggam nyala api menengadah ke atas, Seijuurou menggumamkan sesuatu yang mirip dengan bahasa Latin kuno serta kemudian dilemparkannya benda itu menuju ke arah pion Black Lily yang tengah menikmati darah dari korbannya.
Ajaib, benda itu berubah menjadi rantai kuat yang terbentuk dari api dan langsung saja ujung rantai api milik Seijuurou mengikat leher sang wanita dengan sangat erat, membuat wanita itu terkejut sampai ia menjatuhkana tubuh korbannya. Seringai tipis muncul di wajah tampan Seijuurou, apinya sangat panas dan dalam hitungan detik kalau ia mau bisa saja Seijuurou memanggang sang pion tanpa basa-basi, tapi ia tidak akan melakukan itu untuk saat ini.
"Akkh… berani-beraninya kau menggangguku, bocah sialan!" Suara wanita itu menggema, ia tersadar kalau benda yang melilit lehernya berasal dari seorang anak yang berdiri di ambang pintu gerbong kereta api. Apapun itu yang mengikatnya membuat tubuhnya memanas, layaknya terbakar oleh api neraka.
Seijuurou melihat lawannya yang menyadari keberadaannya dan saat ini ia tengah meronta, mencoba mencakar api yang membara itu untuk melepaskan dirinya dari jeratan sang Emperor. Hal yang dilakukan wanita itu sangat mustahil untuk terjadi, sekali ia terjatuh pada jeratan sang Emperor maka kematianlah yang bisa membebaskannya.
Wanita itu melemparkan sebuah bola hitam yang berasal dari energinya, benda itu berputar dengan cepat di udara sebelum memencar ke penjuru arah untuk mengepung Seijuurou. Gerakan itu sudah Seijuurou duga sebelumnya, sehingga ia bisa menghindarinya tanpa melepas ikatannya. Malahan sebuah benda yang mirip api muncul di sebelah kiri sang Emperor sebelum menelan sihir penyerang yang dikeluarkan wanita tersebut, membuat keduanya lenyap seketika dari pandangan mata.
"Black Magic? Itu bagus, tapi butuh 1000 tahun lagi bila kau ingin membunuhku." Gumam Seijuurou dengan suara dingin.
Tanpa mengatakan apa-apa lagi, Seijuurou menyeringai kecil dengan kilatan mata berbahayanya terlihat dari balik kacamata tipis itu. Ia mencengkeram rantai api sihirnya dengan erat sebelum menariknya dengan paksa, membuat wanita yang lehernya masih terbelit tersebut ikut ke arah Seijuurou berada. Kedua mata wanita itu terbuka sangat lebar saat tubuhnya terangkat lalu terseret begitu mudahnya di udara, ia melihat remaja bertopi itu menarik rantainya, melemparkannya ke udara lalu mengepalkan buku-buku jari tangannya di ujung rantai satunya. Seperti melempar sebuah frisby, remaja itu melemparkan targetnya ke dinding gerbong dengan keras sebelum memanipulasi api-apinya lagi hingga berubah menjadi benda yang mirip sarang laba-laba dan memerangkap sang wanita di sana.
"AAAKKKHH! LEPASKAN AKU, SIALAN! KAU AKAN MENYESAL TELAH MEMPERLAKUKANKU SEPERTI INI!" Wanita itu berteriak histeris ketika menyadari tubuhnya tidak bisa bergerak, terperangkap di dinding dengan rantai yang menyala dan terasa sangat panas melilit tubuhnya. "KAU TIDAK TAHU SIAPA AKU! AKU ADALAH…"
"Pion dari Black Lily, aku tahu itu." Kalimat Seijuurou memotong perkataan wanita itu, bahkan ekspresi keterkejutan yang terlukis di wajah sang pion pun dapat diprediksikan oleh Seijuurou.
Seringai yang ada di wajah Seijuurou berkembang lagi, menjadi lebih lebar dari sebelumnya dengan mata yang masih sama dinginnya seperti tadi. "Tidak kusangka kalian aktif lagi setelah apa yang terjadi dua tahun yang lalu." Kata Seijuurou, ia menatap wanita itu dengan kedua tangannya terlipat di depan dadanya.
"BERANI-BERANINYA KAU MENYEBUT KAMI DENGAN NADA KURANG AJAR SEPERTI ITU, BOCAH!" Wanita yang merupakan pion dari organisasi yang dulunya pernah GOM hancurkan dulu berteriak lagi, kedua matanya mendelik penuh amarah. Apakah ia tidak tahu kalau berteriak seperti itu malah membuat Seijuurou semakin terhibur? Ia pun melanjutkan lagi. "KALAU AKU LEPAS DARI SINI KAU AKAN KUCINCANG DAN AKAN KUMAKAN JIWAMU?!"
Sebuah alis elegan milik Seijuurou terangkat, penasaran dengan perkataan wanita tersebut. "Kata-katamu sungguh tidak sopan untuk ukuran seorang wanita." Sahut Seijuurou. "Tapi aku tidak terkejut lagi kalau itu yang mereka ajarkan padamu. Nah… menyerang sebuah kendaraan umum milik manusia tentu tidak akan kau lakukan tanpa ada alasan, apakah kau bersedia untuk memberitahuku apa tujuanmu… tidak… tapi tujuan kalian?"
Wanita yang masih terikat dan tidak berdaya itu memberikan glare tajam pada sosok remaja berambut merah menyala tersebut. "SAMPAI MATI PUN AKU TIDAK AKAN MENGATAKANNYA!"
"Keras kepala sekali, Nona." Seijuurou menggelengkan kepalanya. Dengan santai ia menarik kacamata yang ia kenakan lalu memasukkannnya ke dalam saku mantelnya, kali ini kedua mata heterokrom yang tajam tersebut menatap langsung sosok sang pion, membuatnya berhenti meronta. Rasa gemetar dan ngeri kini menghampiri tubuh wanita itu, rasanya seperti ia melihat dewa kematian sendiri ketika kedua matanya bertemu dengan sepasang mata heterokrom milik Seijuurou.
Tajam dan dingin, seolah-olah si pemilik mata itu tahu akan semuanya dari orang yang dipandangnya. Seijuurou mengangkat tangan kanannya ke depan, ia tersenyum sinis dengan mata yang masih tidak menunjukkan emosi apapun.
"Baiklah kalau itu maumu, Nona, aku akan jadi orang yang tidak sopan kalau tidak mengabulkan permintaanmu. Sampaikan salamku pada pemimpin lamamu kalau kau bertemu dengannya." Kata Seijuurou dengan santai.
Kedua mata wanita itu terbelalak semakin lebar saat anak itu mengatakan "pemimpin lamamu", namun yang paling membuatnya terkejut adalah sebuah mahkota kecil berbentuk cincin berwarna putih dengan mata ruby kecil mengelilingi pangkal ibu jari remaja itu. Ia teringat akan kalimat ketuanya, hanya ada satu orang yang memiliki cincin seperti itu dan orang yang dimaksud adalah seorang hunter yang sangat berbahaya. Orang itu merupakan pemimpin dari grup melegenda Generation of Miracles yang memiliki nama The Emperor.
"Terlambat, Nona, sekarang saatnya aku mengirimmu ke dunia selanjutnya." Kata Seijuurou, membuyarkan lamunan lawannya. Ia mengontrol sihirnya untuk sekali lagi dengan mudah tanpa harus mengeluarkan Eternal untuk menyelesaikan langkah terakhir. "Atas nama The Emperor, aku memerintahkanmu untuk membebaskan jiwa ini sesuai perjanjian kuno! Lepaskan!"
Kalimat yang diucapkan dengan bahasa Latin Kuno oleh Seijuurou itu membuat telapak tangan kanannya diselimuti oleh cahaya berwarna kemerahan, di samping itu tubuh sang pion juga ikut diselimuti oleh warna yang sama.
"TIDAKKK!" Teriak wanita itu untuk terakhir kali sebelum tubuhnya hancur membentuk serpihan cahaya berwarna merah darah.
Rantai api yang tadinya digunakan untuk mengikat tubuh sang pion juga ikut menghilang saat Seijuurou menjentikkan jari kirinya. Seijuurou merasa seharusnya ia mengeluarkan Eternal untuk menghabisi nyawa sang pion tanpa harus menggunakan sihir pemurninya, tentu saja hal itu akan jauh lebih sederhana daripada menggunakan sihir namun entah mengapa instingnya mengatakan kalau Seijuurou harus menyembunyikan senjatanya untuk beberapa saat. Senjata dan elemennya itu sangat identik dengan identitas Seijuurou yang sebenarnya, dan mungkin karena itulah seminimal mungkin Seijuurou menggunakan sihir hunter yang dikuasainya.
"Ini merepotkan." Gumamnya kecil pada dirinya sendiri sebelum mengambil nafas pelan.
Kedua mata heterokrom Seijuurou beralih dari tempat semula menuju ke arah korban yang kelihatannya mau kehilangan kesadarannya. Seijuurou menghampiri anak bersurai biru langit tersebut, dari dekat ia bisa melihat bagaimana ekspresi anak tersebut begitu datar meskipun ia kehilangan begitu banyak darah. Berlutut di hadapan remaja berambut biru langit tersebut, Seijuurou menyentuh luka yang menganga dan terselimuti oleh darah di leher anak itu.
"Jangan takut, aku tidak akan menyakitimu." Kata Seijuurou pelan saat ia merasakan tubuh anak itu berjengit, mencoba menghindar dari sentuhan sang hunter.
Kondisinya terlihat begitu buruk, Seijuurou melihat kulit anak berambut biru langit tersebut semakin pucat karena kehilangan banyak darah. Kedua matanya sedikit terpejam, bahkan untuk membuka matanya saja kentara sekali ia begitu kesusahan, tapi harus Seijuurou hargai usaha anak itu untuk terus terjaga meski kondisi tubuhnya tidak memungkinkan. Tangan Seijuurou yang terjulur ke arah anak itu menggapai puncak kepalanya, diacaknya rambut itu untuk sesaat sebelum menyilakan beberapa helai poni dari matanya. Seijuurou bisa merasakan tubuhnya membeku di tempat dengan pemandangan yang ada di hadapannya, ia pikir anak berambut biru itu sangat familier dan pernah ia lihat di suatu tempat, tapi siapa sangka kalau korban dari Black Lily ini tidak lain dan tidak bukan adalah 'tunangan'nya sendiri.
Mungkin ini yang dinamakan sebagai kebetulan yang tidak terduga, pikir Seijuurou dalam hati. Anak ini adalah Kuroko Tetsuya, benar-benar sebuah kebetulan mereka bisa bertemu dalam keadaan seperti ini. Kuroko menatap Seijuurou dengan tatapan sayu, bibirnya yang pucat mencoba untuk mengatakan sesuatu namun tidak satupun suara yang terdengar karena suara yang Kuroko keluarkan terlalu lemah. Seijuurou hanya senang Kuroko tidak berjengit lagi seperti tadi ketika kali pertama ia menyentuhnya, dibelainya rambut biru langit itu dengan perlahan, merasakan betapa lembutnya rambut Kuroko, tapi bukan berarti ia menerima kehadiran Kuroko sebagai tunangannya meskipun ia melakukan hal seperti itu.
"N-ne-nenek…" Suara kecil Kuroko terdengar begitu lirih, membuat alis kanan Seijuurou terangkat. Ia mengamati remaja yang terlihat lebih muda dari dirinya itu dalam diam.
Mengikuti ke arah tatapan Kuroko berada, Seijuurou melihat seorang wanita tua terbaring di dekat para korban pingsan lainnya. Wanita tua itu mungkin nenek Kuroko yang dimaksud.
"Beliau nenekmu?" tanya Seijuurou dengan nada sopan bercampur kalem di dalamnya, ia melihat Kuroko menganggukkan kepalanya. Kelihatannya anak ini lebih mencemaskan keadaan nenekknya ketimbang keadaannya sendiri, padahal Kuroko terluka lebih parah daripada sang wanita tua.
Melihat tatapan memelas milik Kuroko dengan balutan ekspresi datarnya, akhirnya mau tidak mau membuat Seijuurou menganggukkan kepalanya kecil, ia akan menolong mereka berdua. Dalam lubuk hati terdalam Seijuurou melihat pekerjaan ini sangat merepotkan, meskipun ia seorang hunter yang dijuluki sang raja tapi melakukan pekerjaan kotor seperti ini tidak pernah ia lakukan, Seijuurou selalu menyerahkan hal seperti ini kepada Midorima.
"Bisakah kau berdiri?" tanya Seijuurou lagi, dipegangnya lengat Kuroko dengan lembut sebelum membantunya berdiri dari posisi terduduknya.
Belum saja Kuroko menjawab pertanyaan itu, remaja berambut merah darah yang juga seorang penolongnya langsung membantu Kuroko berdiri dan mendudukkannya di salah satu bangku gerbong kereta. Kuroko mencoba menahan ngilu sakit yang menjalari tubuhnya, terutama bagian kepala dan punggunnya yang tadi sempat menghantam lantai begitu keras, hal ini tentu tidak luput dari pandangan Seijuurou meski ekspresi Kuroko sangat minim. Sang hunter tersebut mengambil sapu tangan berwarna putih dari dalam saku celananya dan diberikannya benda itu kepada Kuroko, tanpa menyuarakan secara keras ia memberi perintah kepada anak berambut biru langit tersebut untuk membersihkan darah yang mengalir di kening maupun lehernya menggunakan sapu tangan tersebut.
"Terima kasih….."Kuroko menghentikan kalimatnya, ia memandang Seijuurou dengan dua pasang bola mata biru langitnya yang besar tersebut, ekspresi yang datar namun sangat menawan itu mengingatkan Seijuurou pada seekor anak anjing yang tersesat.
"Akashi Seijuurou, itu namaku." Balas Seijuurou, ia balik menatap Kuroko dengan tatapan yang tidak bisa terbaca artinya, membuat Kuroko menengadahkan kepalanya untuk beberapa saat sebelum mengangguk.
"Namaku Kuroko Tetsuya. Terima kasih telah membantuku, Akashi-kun." Kata Kuroko lagi.
Seijuurou menggelengkan kepalanya sebelum beranjak dari samping Kuroko, ia berjalan menuju arah Nenek Kuroko yang masih tidak sadarkan diri di dekat pintu gerbong kereta. Dengan perlahan, Seijuurou memapah sang wanita tua itu sehingga posisi tubuhnya bisa berada di dekat Kuroko.
Diliriknya Kuroko sekali lagi, remaja berambut biru langit tersebut sibuk mengobati neneknya setelah ia membersihkan darah di kening dan lehernya sendiri. Kuroko terlihat begitu tenang, bahkan sangat tenang untuk ukuran orang yang baru saja lolos dari maut. Seijuurou yakin kalau Kuroko adalah orang lain, pasti ia akan ketakutan setengah mati atau mungkin memaksa Seijuurou untuk menjelaskan apa yang terjadi, melihat Seijuurou menolong Kuroko dengan cara yang tak biasa. Bahkan kalau dirinya pun berada dalam sepatu Kuroko, pasti Seijuurou akan memerintahkan orang yang menolongnya tersebut untuk menjelaskan apa yang terjadi, dari awal sampai akhir dan ia tidak peduli dengan cara apa ia melakukannya. Akashi Seijuurou adalah seorang Akashi, dan semua perintah maupun perkataannya adalah absolute.
"Bagaimana kepalamu? Apa masih terasa pusing?" tanya Seijuurou, kedua mata heterokromnya masih belum berpaling pada sosok kecil seorang remaja bernama Kuroko Tetsuya.
"Tidak, sekarang sudah lebih baik." Jawab Kuroko, ia sedikit berbohong dengan kalimatnya sendiri, tapi ia yakin remaja bermata heterokrom itu tidak akan tahu sebab ia menggunakan ekspresi datarnya seperti biasa.
Mata Seijuurou menyipit untuk beberapa saat setelah ia mendengar jawaban dari Kuroko, ia tahu kalau Kuroko berbohong padanya, entah apa yang dipikirkan anak itu hingga ia berani berbohong di hadapan Seijuurou, tapi untuk beberapa saat Seijuurou tidak menanggapinya. Tidak, remaja berambut merah darah tersebut lebih memutuskan untuk mencondongkan badannya ke depan lalu menyentuh bekas gigitan wanita tadi di leher Kuroko. Sebuah seringai kecil muncul di bibir Seijuurou saat ia melakukannya Kuroko langsung berjengit sedikit dengan diikuti oleh desisan tidak nyaman, bekas gigitan tersebut terlihat begitu jelas di permukaan kulit berwarna putih milik Kuroko.
"Hmm… Kau termasuk orang yang sangat beruntung, Tetsuya, tidak banyak manusia yang selamat dari cengkeraman mereka. Untung saja aku ada di kereta ini, jadi jiwamu masih selamat meskipun itu nyaris terambil sepenuhnya." Gumam Seijuurou, ia menghiraukan tatapan ketidakpercayaan yang Kuroko lempat padanya.
Kuroko mengerjap-ngerjapkan kedua matanya, "Akashi-kun memanggilku dengan nama kecilku." Kata Kuroko.
"Di sini aku mengatakan kalau kau beruntung dan hal yang ingin kau bahas malah aku yang menggunakan nama kecilmu." Sahut Seijuurou, ia merasa terhibur sekali dengan apa yang dilakukan Kuroko. "Aku terbiasa memanggil orang dengan nama kecil mereka, apa kau tidak suka aku memanggilmu Tetsuya?"
"Tidak, Akashi-kun. Aku suka." Kata Kuroko setelah ia menggelengkan kepalanya pelan.
"Bagus kalau begitu."
Keduanya terdiam untuk beberapa saat, sama sekali tidak mengeluarkan suara sedikipun bahkan dalam tatapan keduanya yang saling bertemu itu mereka mencoba untuk melihat apa yang dipikirkan satu sama lainnya. Dua menit pun berlalu, dan sepertinya tidak ada tanda-tanda dari keduanya akan ada yang angkat bicara, rasanya begitu aneh dan tidak nyaman untuk beberapa saat.
Menarik, ekspresi anak itu tidak berubah sedikit pun meski ia berada dalam keadaan yang tidak biasa, pikir Seijuurou. Ia tahu kalau suasananya tidak nyaman untuk kedua belah pihak, ia juga tahu kalau Kuroko penasaran dengan apa yang terjadi dan mengapa wanita tadi menyerangnya tanpa alasan yang jelas, selain itu Seijuurou juga yakin Kuroko menyaksikan semuanya termasuk pertarungan singkat yang Seijuurou lakukan. Tapi satu hal yang menarik, Kuroko Tetsuya tidak menanyakan hal itu pada Seijuurou dan hal ini membuat sebuah pemikiran kalau apa yang terjadi sudah sering terjadi pada hidupnya, atau Kuroko memang tidak peduli lagi. Hal ini membuat Seijuurou tertarik, tapi ia tidak menampilkannya pada ekspresi wajahnya.
Meski Seijuurou masih belum mengakui Kuroko sebagai tunangannya apalagi yang bersangkutan kelihatan sekali tidak tahu akan masalah ini, tapi remaja beriris heterokrom itu sudah menganggap kalau Kuroko Tetsuya adalah orang yang menarik.
"Sebentar lagi kita akan sampai di stasiun, setibanya di sana aku akan mengantar kalian ke klinik terdekat untuk mengurus luka kalian." Ujar Seijuurou.
"Ano.. Akashi-kun tidak perlu repot-repot. Akashi-kun sudah menyelamatkanku dan penumpang lainnya, jadi aku tidak mau merepotkan Akashi-kun lebih…" Kalimat dari mulut Kuroko terpotong saat sebuah jari telunjuk menempel pada bibirnya.
Kuroko terkejut bukan main tentunya, dan ketika ia melihat ke arah penyelamatnya ia menemukan Seijuurou memberinya tatapan yang mengesankan. Merasa ia telaha melakukan hal yang bodoh, Kuroko mencoba untuk membuang pandangannya dari Seijuurou, ia tidak ingin Seijuurou menganggapnya aneh. Dalam hati Kuroko meruntuk kulitnya yang putih, saat ini pasti pipinya telah merona merah meski ekspresinya tetap tidak berubah.
"Wajahmu memerah, apa kau sakit?" tanya Seijuurou, ia mencoba untuk menahan senyum supaya tidak muncul di wajahnya. Ketika ia melihat Kuroko menggeleng pelan tanpa memandang matanya, Seijuurou menyeringai dalam hati dan itupun semakin lebar. Siapa sangka Kuroko yang minim ekpresi itu sangat menarik untuk digoda, dan melihatnya pun membuat Seijuurou semakin ingin melihat bagaimana reaksi remaja berambut biru langit tersebut, dan tanpa mengatakan apapun lagi Seijuurou mengempelkan telapak tangan kanannya di dahi Kuroko.
"Tidak panas." Gumamnya dengan suara kalem, membuat orang yang mendapat perlakuannya kini semakin memerah wajahnya.
Kuroko tidak berani menatap ke depan, ia takut akan menemukan sesuatu yang tidak mengenakkan. Tatapan Akashi-kun sangat tajam, pikir Kuroko sembari ia menepis tangan Seijuurou yang menempel di dahinya dengan pelan.
"Aku baik-baik saja, Akashi-kun. Akashi-kun tidak perlu cemas." Gumam Kuroko dengan suara lirih.
"Hm. Sakit atau tidak, kau harus mematuhi perintahkan." Seijuurou mengatakan kalimat itu setelah ia melepaskan tempelan tangannya pada tubuh Kuroko, kali ini ia memilih untuk memasukkan tangannya ke dalam saku celananya. "Karena perintahkan adalah absolute! Dan ketika aku mengatakan kalau kau harus pergi ke klinik setelah kereta tiba, maka kau harus melakukan itu."
Kalimat perintah itu membuat Kuroko akhirnya melihat Seijuurou. Kedua mata Kuroko mengisyaratkan kalau ia tidak percaya dengan apa yang dikatakan Seijuurou, seseorang yang baru ia kenal tidak lebih dari 15 menit yang lalu langsung memberinya perintah. Ingin sekali Kuroko memprotesnya, tapi nada yang Seijuurou gunakan mampu membungkam mulut Kuroko seketika, bahkan ia pun tidak menggerakkan satu jarinya ke arah remaja yang lebih muda itu.
"Baiklah, Akashi-kun, aku mengerti." Jawab Kuroko, ia terlihat begitu pasrah.
Mendengar kalimat itu membuat seringai muncul di wajah seorang Akashi Seijuurou, ia senang karena remaja manis ini mau mendengarkan perintahnya tanpa protes sedikit pun. Seijuurou memberikan anggukan singkat kepada Kuroko yang masih duduk di sana.
Hm.. Anak yang baik, tapi aku masih penasaran dengan mengapa Okaa-sama memilih anak ini sebagai 'tunanganku', tapi aku tidak akan mengakuinya sebelum aku menemukan kebenaran, pikir Seijuuro Remaja berambut merah darah tersebut mengambil tempat di depan Kuroko, bahkan ketika penumpang lainnya sadar ia pun masih belum beranjak dari tempatnya. Para penumpang lainnya tidak sadar dengan apa yang terjadi 15 menit yang lalu, mereka mengira mereka tertidur sehingga mereka memutuskan untuk tidak ambil pusing, tentunya hal ini juga dipengaruhi oleh sihir yang Seijuurou lakukan beberapa saat yang lalu untuk menghapus ingatan mereka mengenai kejadian tadi.
Di saat seperti ini aku sangat bersyukur dilahirkan dengan memiliki sihir. Berbicara mengenai serangan tadi, aku tidak mengira kalau Black Lily akan bangkit lagi setelah pemimpin mereka aku bunuh. Ini sangat aneh dan perlu penyelidikan lebih lanjut lagi. Tunggu..…..
Seijuurou mengambil ponsel merah miliknya dari dalam saku celananya lalu mengaktifkan ponselnya dari keadaan matinya. Ibu jari tangan kirinya mengetikkan beberapa huruf untuk merangkai kalimat.
To: Midorima Shintarou
Subject: Misi
Shintarou, aku ingin informasi tentang keluarga Haizaki. Apapun itu segera kirim ke email-ku
Setelah menulis email kepada Midorima dan mengirimnya, Seijuurou juga menulis sebuah email kepada seorang lagi sebelum ia menutup ponselnya lalu memasukkannya ke dalam sakunya lagi. Baik Kuroko dan Seijuurou tidak mengutarakan apapun lagi, mereka terlalu larut dalam pikirannya masing-masing. Perjalanan kereta api tersebut terasa begitu singkat, dan lima menit kemudian mereka tiba di stasiun Tokyo.
"Seijuurou, putraku sayang…. Sebagai seorang hunter, kau harus bisa mengontrol emosimu dengan baik. Kau harus menempatkan dirimu setenang mungkin, tapi… meskipun begitu Okaa-sama tidak ingin kau menjadi seseorang yang tidak memiliki perasaan. Okaa-sama ingin Seijuurou tetap menjadi Seijuurou, tidak berubah sedikit pun."
AN: Terima kasih sudah membaca
Author: Sky
