CHAPTER 3 UPDATE NOW ! setelah 3 hari Deadline membuat Fic yang mengejar saya ini (?) akhirnya selesai juga. Mulai Sekarang, Rumor -Tangga Tujuh Belas- kini terkuak !

kira-kira seperti apa Rumor -Tangga Tujuh Belas- itu ?! Mari ikuti saya !


Title : Let Go Of Me !

Fiction By Jessy Jasmine

Disclaimer : Yana Toboso

Genre : Romance, Mystery

Rated : T

Warning : Shounen-Ai

"Ayo kesini ! aku tidak akan melakukan hal yang aneh-aneh." Ucap Sebastian.

"ti-tidak…" ucap Ciel pelan. "Ah…" kaki Ciel terpeleset di tangga dan ia pun terjatuh ke ruangan gelap itu.

"CIEL !" teriak Sebastian. Tetapi ketika Sebastian mencoba mendekati lorong itu, sebuah hawa mengerikan menyelimuti lorong yang menuju kebawah itu. "gawat…" gumam Sebastian dan ia pun berlari untuk memberitahu Alois.

[-]

Chapter 3 : Tangga Tujuh Belas

[ Sebelumnya – Di sisi Alois dan William - ]

"TIDAK !" pekik Ciel yang berada di luar kamar bersama Sebastian kemudian suara derap langkah kaki yang tengah berlari terdengar. Alois yang mendengarnya segera menggebuk-gebuk pintu yang tak bersalah itu.

"CIEL ! APA YANG TERJADI !? CIEL !" teriak Alois seraya memukul pintu kamarnya yang tengah terkunci –di kunci dari luar oleh Sebastian-.

"Ada apa ?" tanya William.

"Entahlah ! Sebastian sialan ! apa yang ia lakukan kepada Ciel ?!" ujar Alois.

Kemudian William mendekati pintu ruang kamar Alois dan Ciel.

"ini… terkunci ?" tanya William.

"iya. Di kunci dari luar oleh temanmu itu, Mr. Michaelis !" gerutu Alois.

"bukankah seharusnya kalian memegang kunci kamar kalian sendiri ?" tanya William kemudian.

Hening sejenak hingga akhirnya Alois berteriak kegirangan.

"BENAR JUGA !" pekiknya senang. Kemudian ia langsung merogoh laci miliknya dan Alois. Belum sempat Alois menemukan kunci ruangannya, pintu yang sedari tadi di kunci itu kemudian terbuka. Kalian pasti tahu siapa yang membukanya.

"Ini Gawat !" ujar Sebastian yang terengah-engah.

"Sebastian, ada apa ?! dimana Ciel ?!" Tanya Alois.

"dan juga, kenapa kau harus berlari dengan teruru-buru seperti itu ?" tanya William.

"Ciel…" kata-kata Sebastian menggantung karena ia tengah mencari udara untuk bernapas.

"Ciel kenapa ?!" tanya Alois yang mulai panik.

"Ciel Jatuh Ke Tangga Tujuh Belas !" jelas Sebastian dengan tatapan Histeris (?).

"APA !" Pekik Alois dan William berbarengan. Kemudian Alois dan William saling bertatapan satu sama lain.

"jadi… kau sudah tahu rumor itu ?" tanya William.

"tentu saja… kau pikir siapa yang sudah memecahkan rumor pertama, huh ?" ujar Alois yang akhirnya membuat petir diantara mereka berdua.

"hei, kalian… pikirkanlah keadaan sekarang dulu." Ucap Sebastian mencoba melerai kedua makhluk dihadapannya itu.

"Baiklah, ayo kita kesana !" ujar Alois yang di sertai anggukan dari Sebastian dan William.

"Apanya yang 'Baiklah, Ayo kita kesana.' ?" tanya Claude yang tiba-tiba berdiri di belakang Sebastian.

"CLAUDE !" Pekik mereka bertiga. (tunggu…. Sebastian memekik ?)

"jangan bilang kalian buat masalah lagi… terutama kau, Alois Trancy. Dan juga Sebastian Michaelis. Terlebih lagi… William, sedang apa kau disini ?" tanya Claude.

"aku hanya memberikan sebuah informasi kepada Trancy dan Phantomhive." Jelas William.

"jadi… masalah apa yang sedang kalian bicarakan ini ?" tanya Claude.

"Ciel-UPH !" William dengan cepat membungkam mulut Alois. "Tunggu ! Apa yang-" batin Alois.

"ada apa dengan Ciel ?" tanya Claude yang mulai curiga.

"sebenarnya… Ciel…" kata-kata Sebastian menggantung.

"apa ?" tanya Claude lagi.

"Ciel jatuh ke Tangga Tujuh Belas !" teriak Alois setelah sedikit menyingkirkan tangan William yang membungkam mulutnya.

"hoo… kalian berani membuat masalah lagi rupanya… terutama, Sebastian Michaelis." Ujar Claude menatap tajam ketiga orang yang tengah membeku di tempat mereka masing-masing.

"aku tahu aku salah…" ucap Sebastian kemudian.

"Tunggu ! APA YANG KAU PERBUAT KEPADA CIEL !?" Bentak Alois begitu menyadari keajadian sebelumnya.

"itu bukan urusanmu…" jawab Sebastian.

"jadi kau sudah menyelesaikan 'urusan pribadi'-mu itu dengan si Phantomhive ?" tanya Claude yang melirik kearah Sebastian.

"sebenarnya gagal karena ia sudah kabur duluan sebelum menyelesaikan 'masalah' itu." jawab Sebastian.

"Hei… Masalah apa yang sebenarnya Kalian Bicarakan ?! apa hubungannya dengan Ciel-ku ?!" Tanya Alois yang meronta karena masih dalam genggaman William.

"itu masalah 'para Senior' bukan 'para Junior' seperti kau dan Phantomhive." Jelas William.

"Hei,Ciel kan juga Junior ! lalu masalah para Senior apa yang melibatkan Ciel sang Junior, hah ?!" tukas Alois kesal.

"Ciel Phantomhive adalah pengecualian." Ujar Sebastian dan pada akhirnya William melepaskan Alois.

"Jadi, kita pergi sekarang ?" tanya Claude.

"Ya." Dan kemudian mereka berempat pergi menuju Tangga Tujuh Belas.


Di Sisi Ciel, diruangan yang gelap gulita itu ia tengah dalam posisi telungkup karena jatuhnya tadi.

"uugh…sakit…" ucap Ciel yang bangun dari jatuhnya dan mengusap kepalanya yang sakit. "tempat apa ini ? aku tidak bisa melihat apapun." Ujarnya.

Kemudian muncul cahaya dari berbagai tempat. Sebuah obor di setiap sisi membentuk jalan lurus. Sebuah lorong yang tidak di ketahui ujungnya itu berada tepat di depan Ciel. Ciel hanya kmenatapnya dengan perasaan takut dan penasaran. Ia telah melupakan rasa sakit yang sedari tadi ia rasakan akibat jatuh.

Ciel seperti tersihir, tanpa pikir panjang, ia bangkit dan berjalan menyusuri lorong tanpa ujung itu. Apakah yang nanti ia akan temui ?


"ini dia…" ucap Alois begitu mereka sampai tepat di depan lorong dengan tangga yang menuju ruang bawah tanah itu.

"ku dengar, lorong ini punya puisi. Kau mengetahui isi puisinya, Alois ?" tanya William.

"ya, tapi katanya kita harus membacanya sambil melewati satu per satu anak tangga ini." Jelas Alois.

"karena kau mengetahui isi puisi itu, kau harus berjalan di depan kami." Jelas Claude.

"huh, kau takut ?" tanya Alois.

"sayang sekali, Aku tidak takut kepada kematian." Ujar Claude.

"Baiklah ! Maju !" ucap Alois begitu ia bersiap menginjak satu per satu anak tangga itu. tetapi begitu Sebastian ingin menginjak anak tangga pertama, Alois menghentikannya.

"Sebastian, Jangan injak Anak tangga pertama !" peringatnya.

"apakah puisi itu berbunyi seperti itu ?" tanya Sebastian.

"um… ada, di puisi terakhir yang berbunyi… Ah !" Alois langsung cepat-cepat membungkam mulutnya.

"haah… hampir saja." Ucap William.

"huh ? ada apa sih ?" tanya Sebastian.

"puisi ini harus di ucapkan seraya bersiap-siap menginjak anak tangga." Jelas Alois. "dan… ada kabar kalau kita harus memberi tahu jumlah orang yang akan memasuki ruangan ini kepada ruangan gelap ini." Jelas Alois.

"benar-benar penggemar misteri." Puji William.

"mari kita lanjutkan." Ucap Claude.

"Baik. Wahai Tangga Tujuh Belas, Kami Berempat akan bersiap memasuki ruangan ini dengan Lagu Yang telah Kau berikan kepada kami." Ucap Alois kepada ruangan itu dan ucapannya menggema.

"tidak terjadi apapun." Ucap Sebastian.

"khe khe… tentu saja, kan tidak ada penjaganya." Ujar Alois.

"Rumor gila." Gumam Sebastian.

"Mari-Mari kita memasuki Ruangan Tangga Tujuh Belas… Langkah pertama kita mulai dengan Anak Tangga Kedua…" ucap Alois yang mulai membacakan puisi Tangga Tujuh Belas itu.

Dan mereka pun berjalan melompati Anak tangga pertama dan berdiri di Anak tangga kedua.

"Lalala teruslah berjalan hingga anak tangga keenam… disana kau menemui sepasang boneka yang akan menatapmu…" Lanjut Alois.

Mereka pun terus berjalan seraya menghitung jumlah Anak tangga yang mereka lewati.

"dengar, jangan lihat mata boneka itu." jelas William.

Kembali dengan terus berjalan hingga mereka tepat berada di depan anak tangga keenam. Tidak ada boneka disana.

"tidak ada boneka." Ucap Sebastian yang kemudian melangkah di Anak tangga keenam.

PCIIT Sebastian menginjak sesuatu yang berbunyi. Suara itu sangat lazim bagi mereka. Ya, benar. Sebastian menginjak Boneka yang disebutkan. Ia tak mengangkat kakinya dan mulai berkeringat dingin.

"Tutup mata hingga puisi selanjutnya dan kita kembali berjalan melewati anak tangga keenam." Jelas Claude.

Mereka akhirnya terus berjalan meski setiap mereka menginjak Anak tangga keenam terdengar bunyi boneka terinjak. Entah itu di tengah, sisi kiri, ataupun sisi kanan. Akhirnya mereka berhasil dan berhenti di anak tangga ketujuh.

"apakah kalian mengantuk ? Isabella siap menyanyikan Lullaby ( Lagu nina bobo ) untuk kalian di tangga ke delapan hingga sepuluh…" lanjut Alois.

"tutup kuping !" peringat Claude. Dan kembali dengan keberhasilan dalam melewati Anak tangga ke delapan hingga ke sepuluh.

"Berhenti sampai di Tangga ke dua puluh… atau kalian akan mendapatkan mimpi buruk… selalu ikuti naluri kalian atau mati." Dan itulah Akhir dari puisi Tangga Tujuh belas.

"jadi… kita sampai di dasarnya ?" tanya Sebastian.

"Ya. Dan kita harus mengikuti lorong itu." jelas Alois yang kemudian mengambil langkah pertama menyusuri lorong itu yang diikuti oleh Sebastian, Claude, dan William.

Mereka berjalan cukup lama dan jauh. Tetapi mereka tidak pantang menyerah. Setiap merekaa melewati lorong itu, bermunculan ruangan yang mengarah ke berbeda arah. Lorong itu lurus tanpa belok sekali pun, tetapi banyak ruangan disana.

"Ah…" William menghentikan langkahnya begitu melihat suatu ruangan dengan suatu cahaya yang tidak ia ketahui.

Seperti tersihir, William langsung memasuki ruangan itu dan seakan ingin mengambil cahaya itu. cahaya itu terasa sangat hangat dan mengagumkan. Ia terus berjalan dan tanpa ia ketahui sesuatu menunggunya di langkah selanjutnya.


Claude merasa Aneh. Tidak ada suara langkah kaki William di belakangnya. Nalurinya mengatakan bahwa ia harus melihat kebelakang. Tetapi ada hal lain yang mengganjalnya. Di belakangnya terasa sangat dingin dan menakutkan. Ia harus mengikuti nalurinya atau instingnya ?

Ia menetapkan mengikuti nalurinya. Claude kemudian menoleh kebelakang dan benar kata nalurinya, William menghilang. William menghilang 2 menit sebelumnya, itu artinya William bisa saja terkena perangkap atau malah tersihir.

"dasar bodoh." Batin Claude yang kemudian berlari menuju ke tempat dimana jejak William menghilang.

Claude terus berlari hingga akhirnya ia melihat William yang tengah berjalan kedalam suatu ruangan. Dengan Cepat Claude memasuki ruangan itu dan menarik William.

"DASAR BODOH ! William, sadarlah !" ujar Claude mencoba menyadarkan William yang tengah tak sadarkan diri dan terasa di kendalikan oleh sesuatu. Tanpa pikir panjang memukul wajah William dan hal itu berhasil.

"Akh ! Claude, kenapa kau memukulku ?!" bentak William begitu ia tersadar.

"seharusnya kau tanya dirimu sendiri ?!" tukas Claude.

"lho, ini dimana ?" tanya William.

"ini adalah salah satu ruang yang kau masuki begitu kau di kendalikan dan lihat !" ujar Claude seraya menunjuk kearah lantai di hadapan mereka. Sebuah lubang besar dengan dasarnya yang sudah disiapi benda tajam.

"bagaimana kalau kita kembali ?" tanya Claude yang kemudian bangkit dari duduknya, begitu juga dengan William.

"ya, mungkin kau benar." Jawab William. Kemudian mereka meninggalkan ruangan itu dan segera mengejar Alois dan Sebastian yang sudah berjalan duluan.


Sementara itu, di sisi Alois dan Sebastian. Mereka tengah meributkan sesuatu yang sebenarnya tidak penting dibicarakan pada saat itu.

"Jadi… sedekat apa hubunganmu dengan Ciel ?" tanya Sebastian seraya melirik tajam Alois.

"hoo, jadi kau ingin mengetahui hal itu ?" tanya Alois dengan nada meledek.

"Ya." Jawab Sebastian dengan nada menekan dan sebal.

"jadi… hubunganku dengan Ciel itu memang sangat dekat. Saking dekatnya, Ciel sampai tidak bisa berpisah dariku." Ujar Alois.

"dasar tukang bohong." Batin Sebastian dengan agak meledek.

"dan hubungan kami di mulai pada saat itu… Sebulan yang lalu…" dan Alois pun bercerita panjang lebar.


Flashback

"Jadi… Ciel Phantomhive, apa kau punya alasan yang tepat karena selalu menjauhi pergaulan ?" tanya Alois. Ciel hanya diam tanpa menjawab pertanyaan. "Ayolah Ciel, Jawab pertanyaanku…" ucap Alois.

"sudah cukup, Alois Trancy. Kau membuatku muak." Ucapnya kemudian seraya menoleh kearah Alois.

Ciel menatap Alois tajam tetapi Alois hanya merasa biasa saja.

"jangan bertatapan galak begitu ! lagi pula Ciel, kita ini teman sekamar. Tentu saja harus berbagi cerita." Jelas Alois.

"bodoh." Ucap Ciel yang kemudian berjalan meninggalkan Alois.

"Ciel tunggu !" panggil Alois.

Alois berlari menyusul Ciel, tetapi begitu ia sudah akan menangkap Ciel –yang sedang berjalan- langkah mereka berhenti karena terdengar sesuatu di ruang klub pedang.

"Alois, bukankah itu Elizabeth ?" tanya Ciel.

"Ah, benar juga ! ia bercita-cita agar dapat melindungimu !" Jelas alois dengan nada meledek.

"huh, terserah dia saja." Jawab Ciel ketus yang kemudian meninggalkan Alois –lagi-.

"Ciel ! bisa tidak kau menungguku ?! jangan selalu jalan duluan dong !" gerutu Alois.

"memangnya kau siapaku ?" tanya Ciel ketus.

"kau adalah teman sekamarku, Ci~el." Jelas Alois dengan nada sedikit menggoda saat menyebutkan nama Ciel.

"…lalu ?" Ciel malah balik bertanya.

"hm… bagaimana kalau kita taruhan ?" usul Alois.

"taruhan ?" akhirnya Ciel menoleh kearah Alois.

Dengan tatapan iseng, Alois langsung merebut buku catatan yang Ciel pegang.

"HEI ! Apa yang kau lakukan ?!" bentak Ciel begitu Alois merebut buku miliknya.

"Kalau begitu, TANGKAP INI !" kemudian Alois melempar buku catatan Ciel ke balik semak-semak.

"Ah ! bukuku !" ucap Ciel.

"jadi… taruhannya adalah… siapa yang kira-kira akan menemukan buku catatan itu duluan ya ?" tanya Alois dengan nada menggoda.

"urgh…" Ciel menggerutu sebentar hingga akhirnya ia berlari menuju semak-semak.

"sungguh kasihan…" ucap Alois yang kemudian berjalan santai menuju ke kamarnya.

Hari sudah menjelang Sore, tetapi Ciel belum juga kembali ke kamarnya.

"ya ampun… Ciel, kemana anak itu pergi ? lagi pula… itu bukan bukunya… bukunya ada padaku." Gumam Alois sambil memegangi buku catatan Alois.

Intinya, Alois sempat menukar buku catatan Ciel dengan buku kosong miliknya yang sudah kotor, rusak dan kusam. Tentu saja Alois tidak mengira bahwa Ciel benar-benar mencari buku catatan palsu-nya.

"memangnya buku ini seberapa-Pluk !" Sebuah kertas kecil terjatuh ke pangkuan Alois. Selembar foto Ciel dengan kedua orang tuanya – Vincent dan Rachel Phantomhive-. Kini Alois mengerti kenapa Ciel begitu merawat buku catatannya. Dengan cepat Alois berlari ketempat terakhirnya bersama Ciel.

Kini hari sudah sangat gelap dan Alois masih terus berlari menuju ke tempat ia meninggalkan Ciel. Disaat bersamaan Rintik-rintik hujan pun turun.

"CIEL !" teriak Alois memanggil Ciel di tengah hujan yang makin deras. "tidak mungkin… jangan-jangan… CIEL ! JAWAB AKU ! CIEL !" panggil Alois lagi.

"Alois…" suara yang terdengar kecil itu akhirnya sampai ke kuping Alois.

"Suara ini !" batin Alois. "CIEL ! kau dimana ?!" panggil Alois.

Kemudian Alois berlari ke semak-semak dimana ia melempar buku palsu Ciel.

"Ciel !" panggil Alois lagi. Kemudian ia melihat sesosok yang tampak sangat familiar baginya. "CIEL !" Alois langsung berlari ke sosok itu.

sosok yang kecil dan lemah tengah terkapar di tanah yang basah, Ciel Phantomhive.

"Ciel ! Sadarlah ! Ciel !" Alois kemudian mengangkat sedikit tubuh Ciel. Memangku kan kepalanya ke pangkuannya.

"Alois… Trancy…" ucap Ciel dengan suara yang kecil.

"Ciel, badanmu sangat panas. Aku akan membawamu ke kamar !" ujar Alois yang kemudian menggendong Ciel di punggungnya.

"Alo…is…" ucap Ciel pelan.

"Sabar ya, Ciel !" ucap Alois yang kemudian berlari ke kamar mereka.

"jadi… jelaskan." Ucap William.

[ Note : William adalah kakak kelas Ciel dan Alois sekaligus teman Sebastian dan Claude. Waktu upacara penerimaan murid baru, Alois dan Ciel (yang sudah menjadi teman sekamar) bertabrakan dengan William. Semenjak hari itu, William sering bertemu dengan Alois dan Ciel. Kemudian berakhir dengan pertemanan yang dekat. ]

"sebenarnya… itu karena keisenganku… Ciel jadi seperti ini…" jelas Alois.

"Dengar ya. Mempermainkan orang lain itu tidak baik ! lihat akibat ulahmu ! Ciel jadi demam begini." Jelas William dengan tegas.

"Ma-Maafkan Aku !" ucap Alois kemudian.

"huh, kalau begitu… aku permisi dulu." Ucap William yang kemudian meninggalkan Alois dan Ciel.

Tubuh Ciel sedang lemah dan badannya sangat panas. Entah kenapa Alois bisa merasakan bahwa Ciel menjadi susah sekali bernapas.

"A..lois…" panggil Ciel.

"Ciel ! kau baik saja ?! haah… untunglah…" ujar Alois lega.

"Alois… soal taruhan itu… Maaf, aku sudah kalah." Ujar Ciel. Mata Alois terbelalak. Disaat kondisi Ciel tengah terancam bahaya, ia masih bisa memikirkan soal taruhan bodoh yang di buat oleh Alois.

"sungguh menarik." Batin Alois.

"dan juga… semua sudah berakhir…" lanjut Ciel seraya menutup matanya dengan tangan kanannya.

"tidak berakhir kok ! Lihat ! ini buku Catatanmu, aku menemukannya duluan !" ujar Alois senang. Ciel terbelalak. Buku berharga yang ia pikir sudah lenyap kini masih terlihat seperti biasanya.

"terima kasih, Alois." Ujar Ciel. Dan kata-kata Ciel telah membuat Alois ber-Blushing-ria.

"A-hahaha…" tawa Alois sedikit hambar. "dan karena kau sudah K.A.L.A.H. kau harus mengikuti apa yang ku mau ! Ciel…" Jelas Alois.

Ciel menatap sebal Alois, tetapi ia juga telah mengakui kekalahannya. Terlebih, buku berharganya selamat.

"Baiklah… Sesuka-mu saja."Jawab Alois seraya berbalik kearah berlawanan. Dan tanpa Ciel ketahui, Alois tengah tersenyum jahil kepada Ciel.

"Sesuka-mu itu berarti 'apa saja', ya-kaan…" batin Alois jahil.

Flashback End


Alois yang sedari tadi menjelaskan tengah senyam-senyum sendiri mengingat kejadian tentang 'Taruhan' itu. kalau Sebastian ? ya ampun, kalian pasti tahu. Sebastian tengah menatap sebal Alois yang membohongi Ciel. Terlebih, Ciel tersendiri percaya. Tentu saja karena Alois tidak memberitahu kalau buku yang di lemparnya bukan buku Catatan Ciel, melainkan bukunya.

"tch… dasar curang." Batin Sebastian kesal dan mengalihkan pandangannya.

Mereka masih berjalan dan hanya BERDUA saja. –tentu itu karena William yang tersihir dan Claude yang tengah mencari William kemudian menyadarkannya. Tetapi, dimana mereka berada sekarang ?-

"Ah ! Sebastian, lihat !" ujar Alois menunjuk sebuah ruangan tanpa cahaya sedikit pun.

"kau siap untuk masuk ?" tanya Sebastian. Alois sempat menulan ludah dan kemudian menjawab.

"Ya." Jawab Alois.

Kemudian mereka berjalan –meski sedikit gugup- kedalam ruangan yang gelat pekat itu.

"SAKIT !" jerit Alois begitu ia merasa sesuatu seperti menggigit kakinya.

"Alois, kau kenapa ? Apa yang ter- Ouch !" kini giliran Sebastian yang merasakan sesuatu menggigit kakinya.

"Apa-apaan ini ?! aku tidak bisa bergerak !" ujar Alois di kegelapan itu.

"Aku juga ! sebenarnya apa yang mengunci kaki kita sekarang ?!" tanya Sebastian.

Kemudian dari sisi-sisi ruangan, obor yang tadinya mati kini menyala dengan sendirinya. Dan kini Alois dan Sebastian dapat kembali melihat.

"u-UWAAH !" pekik Alois begitu mendapati banyak sekali ular di kakinya. Begitu juga dengan Sebastian, tetapi ia lebih sedikit tenang –sehingga ia tidak perlu berteriak-.

"tenanglah, Alois. Kalau kau banyak meronta, ular itu bisa menganggapmu sebagai ancaman bagi mereka." Jelas Sebastian dan akhirnya Alois pun membatu di tempat.

Alois sangat membenci ular. Karena di masa lalunya, ia pernah di gigit ular hingga demam 2 minggu.

"Wah, Wah… selamat datang, kalian berdua." Kemudian seseorang keluar dari salah satu ruangan di ruangan yang cukup besar itu. sosok kelabu yang tampak familiar bagi mereka.

"CIEL !" ucap Alois senang. " Untunglah kau selamat ! aku kira kau-" kata-kata Alois terpotong.

"Alois, dia bukanlah Ciel yang kita kenal ! Ciel… Ciel tengah di kendalikan oleh sesuatu !" jelas Sebastian yang langsung menyadari hanya dengan melihat mata Ciel. (Sebastian, aku tahu kamu suka banget sama mata Ciel, tapi gak segitunya juga kali…)

"Apa Maksudmu, Sebastian ?! sudah jelas itu adalah Ciel ! Ciel ya Ciel, tidak ada yang lain !" tukas Alois.

"dasar keras kepala !" balas Sebastian.

"Wah wah… kelihatannya ada tontonan menarik nih…" ujar Ciel –yang tengah dikendalikan- seraya duduk di sebuah patung besar memisahkan dua ruangan. (Entah kenapa sikap Ciel jadi mirip Lau… mau tahu kenapa ? tunggu saja !/ Readers : Ganggu ! #bakar Author)

"Kau Yang Aneh, Sebastian !" balas Alois.

"Apakah kau buta ?! lihat !" Sebastian menunjuk ke ular di dekat Ciel. " Mereka menjauhi Ciel ! bukankah itu aneh ?!" tanya Sebastian.

"lalu siapa yang berada di depan mata kita sekarang ?! sudah jelas itu Ciel !" Bentak Alois.

"Sudah cukup basa-basi nya… lebih baik ku akhiri saja." Ujar Ciel mendekati Sebastian terlebih dahulu sambil membawa pedang yang tidak tahu berasal darimana.

"JANGAN KERAS KEPALA, TRANCY ! Ciel ! Ciel tengah di pengaruhi ! ia di rasuki sesuatu !" jelas Sebastian. Kemudian Ciel yang berada di dekat Sebastian segera mengayunkan pedangnya, tetapi Sebastian bisa menghindar dengan cepat.

"LALU APA YANG AKAN KAU LAKUKAN, SEBASTIAN ?! KAU AKAN MELUKAI CIEL MESKI IA MENCOBA MENYERANGMU ?!" bentak Alois kesal. Alois bukannya tidak mengerti, ia hanya sedang khawatir dan panik. Kemudian Ciel berjalan kearah Alois.

"Lenyaplah…" ucap Ciel kembali mengayunkan pedangnya.

"CIEL, SADARLAH !" teriak Alois sambil menutup matanya.

TRAANG kini pedang yang Ciel ayunkan berhenti di udara. Ternyata seseorang sudah menghentikan serangannya.

"hoo… akhirnya kau datang, William." Ucap Ciel sambil tersenyum sinis.

"Ci..el.." ucap William yang kemudian menangkis serangan Ciel.

"William !" ucap Alois terkejut dan kagum.

"maaf karena kami terlambat." Ujar Claude yang sudah berada di samping Sebastian.

"jadi, jelaskan." Ucap William.

"Ciel tengah di kendalikan sesuatu." Jelas Sebastian. Kemudian Alois melirik Sebastian kesal.

"hoo, kau selamat, Michaelis ?" tanya Alois yang pura-pura baru saja tersadar bahwa Sebastian dapat menghindar dari serangan Ciel.

"dan kau juga, bocah Trancy yang keras kepala." Balas Sebastian. (lah, kenapa Sebastian sama Alois jadi berantem ?)

"sudah kalian berdua. Bisa-bisanya bertengkar disaat seperti ini." Ujar Claude agak kesal dengan tingkah Alois dan Sebastian.

"tch…" kemudian Ciel yang tadinya terpental cukup jauh kembali menyerang William. Meski begitu, William cukup susah bergerak dikarena-kan ribuan ular yang berada di penjuru ruangan ini.

"AYO WILLIAM !" sorak Alois menyemangati William yang kalau dibilang cukup dalam keadaan kritis. Dan untuk kesekian kalinya, William berhasil menangkis serangan dari Ciel.

"Jangan menyemangatiku disaat begini, Bodoh ! Memalukan !" gerutu William seraya bertarung dengan Ciel.

Setelah beberapa serangan berhasil di tangkis oleh William, akhirnya Ciel –yang di kendalikan- berhenti menyerang dan membuat raut wajah kecewa bercampur jahil.

"sungguh tidak ada gunanya…" ucap Ciel seraya menjatuhkan pedangnya. Kemudian Sebastian, Claude, Alois, dan William bertatapan bingung tetapi siaga dan waspada.

"kali ini apa yang ia rencanakan ?" batin William.

"bagaimana… kalau kita buat acara ini menjadi lebih menarik ?" ucap Ciel dengan tatapan menantang sambil tersenyum.

Kemudian Ciel terjatuh tidak sadarkan diri. Dan bersamaan dengan itu, ular-ular yang sedari tadi menjauhi Ciel kini merayap menuju kearahnya seakan ingin melahapnya. Keempat orang yang menyadari itu langsung terkejut, dan Sebastianlah yang mengambil langkah pertama menyelamatkan Ciel.

Sebastian berlari secepat yang ia bisa sebelum para ular yang kelaparan itu. kemudian ia melompati ular-ular itu dan berdiri di samping Ciel dan mengangkat tubuh kecil dan lemah itu kemudian membawanya pergi.

Sebastian kemudian membawa Ciel menuju tempat Alois, William dan Claude. Disaat bersamaan, Ciel tersadar dan menatap lemah Sebastian.

"Se…bastian…" ucap lemah Ciel.

"Bertahanlah." Ujar Sebastian.

Kemudian alih pandang Ciel menjadi menuju ke sebuah patung iblis dengan dua mata permata ruby red yang tengah bersinar terang. Lalu akhirnya Sebastian dan Ciel sampai di tempat ketiga orang yang menunggunya itu.

"Ah ! Ciel !" ujar senang Alois seraya memeluk Ciel yang masih dalam gendongan –ala bridal style- Sebastian.

"A..lois…" ucap lemah Ciel.

"iya, Ciel. Aku disini." ujar Alois.

"tidak…. Tapi… patung iblis itu-Uhuk uhuk !" Ciel kemudian terbatuk.

"CIEL !" ucap Alois khawatir.

"maksudmu… patung iblis besar yang berada di sana ?" tanya Claude yang kemudian menunjuk kepada patung batu iblis besar yang berada di antara dua ruangan.

"hancurkan… matanya…" jelas Ciel.

"permata ruby itu… William, pegang Ciel." Ujar Sebastian.

"Sebastian." Ucap Claude.

"Ya." Jawab Sebastian. Kemudian mereka berlari diatas ular-ular itu dan menuju kearah patung besar itu.

"Sebastian, Ambil !" ujar Claude seraya melempar sebuah pedang kearah Sebastian.

"terima kasih !" ucap Sebastian setelah menerima pedang itu. kemudian Sebastian telah bersiap untuk menghancurkan batu Ruby Red yang menjadi mata sebelah kanan patung itu, sementara Claude di sisi kirinya.

"HIYAA !" keduanya kemudian mengayunkan pedang itu yang kemudian menghancurkan batu ruby yang menjadi permata patung itu. Setelah hancur, sebuah getaran dahsyat terjadi.

"Huwaa ! Gempa !" ujar Alois.

"Kalian ! Ayo keluar dari tempat ini !" jelas William yang kemudian berlari membawa Ciel di gendongannya bersama Alois, diikuti oleh Sebastian dan Claude yang mengekor.

Mereka terus berlari hingga sampai di tangga tujuh belas.

"ALOIS, BACAKAN PUISINYA !" ujar William.

"lalala, mari kita berjalan dari anak tangga dua puluh hingga delapan belas…" Alois mulai membacakan puisi itu dan mereka mulai menaiki tangga. "Uwaah !" Alois berteriak begitu menoleh kebelakang. Seluruh lantai tiba-tiba langsung runtuh dan segera mendekati kearah mereka

"ALOIS !" peringat Claude, William, dan Sebastian.

"Aa-di anak tangga ke tujuh belas, kau akan melihat dunia yang sangat indah…" Jeda. "apakah kau ingin tahu rasanya mati ? maka kami akan bawakan kematian di anak tangga ke tujuh belas…" kemudian dari sisi tembok, muncul sebuah tangan tengkorak dan masih banyak lagi.

"LARI !" ujar Claude. Mereka pun kemudian berlari dan diikuti pasukan tengkorak di belakang mereka.

"masing-masing orang harus mengucapkan nomor urutan mereka agar dapat menutup sang pintu…" dan mereka pun mulai menghitung.

"Satu. " Alois yang memulai.

"Dua." di lanjutkan dengan William.

"Tiga. " kemudian Claude.

"Empat !" dan yang terakhir Sebastian.

Mereka sudah menghitung, tetapi pintu tetap tidak menutup. Ruangan itu memang tidak mempunyai pintu, tetapi pasti ada pintu tersembunyi dibalik sela tembok.

"KENAPA TIDAK TERTUTUP ?!" William mulai memarahi Alois.

"Aku tidak ta-Ah ! Itu karena kita ada lima orang ! Ciel ! Ciel kan bersama kita !" jelas Alois.

"ruangan yang pintar." Batin Sebastian, William, dan Claude.

"tapi ia sedang pingsan !" ujar Sebastian.

"minggir." Kemudian seluruh mata tertuju kepada sumber suara, Ciel.

"Ciel !" ucap Alois dengan perasaan senang bercampur khawatir.

"turun kan aku, William." Ucap Ciel.

"i-iya." Kemudian William menurunkan Ciel.

Kini Ciel berjalan kearahpintu masuk ruangan itu. di sambut dengan beberapa makhluk yang menuju kearahnya. Kemudian sebuah tengkorak akan mencapai Ciel.

"lima." Ucapnya seraya menginjakkan kakinya di anak tangga pertama dan pintu pun tertutup dengan cepat dan kasar. Terlihat sebuah tangan manusia yang berupa tulang terpotong dan kemudian berubah menjadi abu. Setelah pintu tertutup, Ciel kembali tumbang. tetapi dengan cepat di tangkap oleh Claude yang menyadarinya.

"Ciel !" Alois, Sebastian, dan Claude langsung terkejut. Ciel kini tidak sadarkan diri, sepertinya ia menggunakan terlalu banyak tenaga.

"Sungguh mengagumkan." Ujar seseorang dibelakang mereka yang tak lain adalah Madam Red dan Grell beserta Ronald.

"Uwaah ! Sebby, kau telihat sangat tampan. Dan kata-kata dari grell di jawab Sebastian dengan mendecih kesal.

"kalau begitu, kasus 2… Complete." Kemudian keempat pasang mata yang berada di dekat ruangan Tangga Tujuh Belas itu dengan segera menatap Madam Red tajam. "bagaimana kalau kalian kembali ? sisanya biar kami yang urus." Jelasnya.

"Ronald." Grell memberi Isyarat kepada partnernya dan di jawab dengan anggukan dari Ronald. Grell dan Ronald pun memeriksa ruangan itu.

"Sebastian, Claude, William, dan Alois. Bawa Ciel ke UKS segera." Perintah Madam Red.

"Baik." Kemudian keempat orang yang disebutkan namanya itu langsung membawa Ciel ke tempat yang diminta. Sementara itu, Madam Red berseringai puas.

"kau umpan yang sempurna, Ciel Phantomhive." Umpatnya.


Di tempat lain, tepatnya di atap Sekolah Asrama Shitsuji Elementary School, seseorang tengah mengawasi dengan sangat teliti.

"Wa, Wa… sungguh tontonan yang bagus." Ujarnya seraya tersenyum. Kemudian seorang gadis memberikan sesuatu kepada pria yang tengah mengawasi itu.

"Waa, kau baik sekali telah mengambilkannya untukku, Ran Mao." Ujar pria itu yang kemudian memeluk gadis itu. kemudian pria itu tersenyum.

"Batu Ruby ini… sudah di tanganku, Vincent Phantomhive…" umpatnya. Pria itu –atau yang kita ketahui sebagai Lau- tengah mengawasi seluruh kejadian itu dan kemudian pergi dengan cara menghilang.


Sementara itu di ruang UKS, Alois beserta yang lainnya tengah berada di sana. Ciel terbaring di ranjang ruangan itu dan beberapa orang lainnya tengah berbincang.

"kau membawa 'benda' itu ?" tanya Claude.

"Ya." Jawab Sebastian.

"hee, benda apa ?" tanya Alois dan William di belakangnya.

"ini." Sebastian pun menunjukkan benda di tangannya.

"Ini ! Batu Ruby di Ruangan Tangga Tujuh Belas, kan !?" ujar Alois terkejut.

"ya, aku membawanya." Jelas Sebastian.

"bukankah ada dua ?" tanya William.

"satu lagi hilang entah kemana…" jelas Claude.

Dan mereka pun terdiam dan tenggelam dalam pertanyaan masing-masing.

"Rumor apa selanjutnya, Alois ?" tanya William.

"Will, kau masih mau mengungkapkannya ?!" tanya Claude.

"aku mau mengungkapkan Rumor itu. Seluruhnya." Jelas William.

"aku setuju." Ujar Alois.

"aku ikut." Ucap Sebastian.

"aku juga." Ujar Ciel yang tersadar.

"Ciel…" Alois tertegun.

"yah… tidak ada pilihan lain selain mengikuti kalian." Ujar Claude.

"jadi, Rumor yang ke- 3 ?" tanya Ciel. Alois kemudian bertatapan serius.

"Game memperebutkan kursi sang pemenang." Ujar Alois.

To Be Continued


AKHIRNYA !

Rumor 2 : Tangga Tujuh Belas [ Complete ]

Next

Rumor 3 : Game Memperebutkan Kursi Sang Pemenang ( Who Will Wins ?)

sebenarnya sebuatan asli dari Rumor -Game Memperebutkan Kursi Sang Pemenang- adalah - Siapakah Pemenangnya- atau -Who Will Wins-

karena di Game itu adalah antara Hidup dan mati. Yang Menang Hidup dan Yang Kalah Mati.

Kabar berita Orang-Orang Yang Menguak Rumor WWW (Who Will Wins) : Hilang tanpa jejak

OKEEH ! NEXT CHAPTER ! CHAPTER 4 : Who Will Wins ? [ Coming Soon ]

RXR Please !