Sakura-sensei

Diclaimer to Masashi Kishimoto

Warning Typo and Rated M for Lemon

Enjoy!

.

.

Sasuke berusaha bersikap biasa saja tidak terjadi apa-apa. Melihat Sakura yang sudah sibuk di dapur menyiapkan sarapan. Melihat Sakura yang berdiri di dapur mengingatkannya akan semalam. Sial! Sungguh.

"Selamat Pagi." Sasuke tidak menyadari Sakura yang telah berbalik menatapnya. "Apa yang membuatmu memandangiku seperti itu?" Dan tidak menyadari jika ia memandangi Sakura begitu lama.

"Tak ada." Jawab Sasuke acuh. Sedangkan Sakura memandang Sasuke aneh.

Sakura mengedikkan bahu acuh.

Sakura memfokuskan diri mengendarai mobilnya menuju sekolah. Keheningan tercipta di antara mereka. Sasuke yang tidak banyak bicara dan Sakura yang bingung harus bicara apa.

"Apa aku harus memberimu uang jajan?"

Sasuke menoleh, "Aku punya uang."

Sasuke dan Sakura sama-sama memandang lurus ke depan tanpa membuka obrolan apa pun lagi. Mereka berdua sama-sama melihat gerbang Konoha Academy yang sudah dekat dengan pandangan mereka.

Sakura membelokkan kemudinya memasuki gerbang sekolah menuju area parkir yang tersedia.

"Kenapa kau mengantarkanku sampai ke dalam?" Tanya Sasuke menatap Sakura dengan sedikit mengangkat sebelah alisnya.

Sakura menginjak rem memarkirkan mobilnya.

"Apa maksudmu? Tentu saja karena aku bekerja di sini." Jawab Sakura santai sambil membuka pintu mobilnya mengeluarkan diri dari mobil silvernya. Tak lama kemudian Sasuke menghampiri Sakura yang sudah akan berjalan duluan.

"Kau bekerja di sini? Kau mengajar?" Sakura mengangguk mengiyakan.

"Dan tolong lepas antingmu Uchiha-san. Ini di sekolah." Ucap Sakura menghentikan langkahnya menatap wajah Uchiha bungsu ini memastikan bahwa Sasuke benar-benar melepas antingnya.

"Kenapa aku harus melepas antingku?" Tanya Sasuke menyeringai dan Sakura tertantang akan seringainya itu.

"Karena itu sudah peraturan di sekolah ini. Siswa dilarang memakai aksesoris atau perhiasan. Peraturan nomor sepuluh." Jawab Sakura tenang sambil tetus menatap Sasuke. Namun Sasuke hanya menatap Sakura datar tanpa ada niat untuk melepas antingnya.

"Kalau kau tidak mau melepasnya aku akan menuliskan namamu di buku kasus." Ujar Sakura.

"Kenapa?"

"Pertama, kau melanggar peraturan. Kedua, aku guru BK di sini jadi aku berhak menulis nama siswa siapa saja yang membuat kasus atau melanggar peraturan." Jelas Sakura masih dengan senyumannya.

"Apa?" Sasuke sedikit terkejut mendengar penuturan Sakura. Okay, ini namanya triple kill. Pertama, Sakura adalah walinya. Kedua, Sakura mengajar di sekolahnya. Ketiga, Sakura adalah guru BK di sekolahnya yang dapat dengan mudah mencantumkan namanya di buku kasus bila sewaktu-waktu ia membuat kasus.

Sasuke memandang Sakura malas. Ini pasti rencana orang tuanya. Memintanya untuk tinggal menumpang di kediaman Sakura yang merupakan guru dan juga guru BK di sekolahnya. Dan Sasuke sama sekali tidak diberi tahu akan hal itu. Ia hanya diberi tahu harus tinggal bersama Haruno Sakura sebagai walinya. Shit! Bagus sekali! Ia merasa terpenjara sekarang.

"Lepas atau tidak?"

Sasuke menyerah dan tangannya bergerak melepas anting di telinga kanannya. Ini hari pertamanya di sekolah dan ia mencoba mengalah sekarang atau ia akan canggung di rumah nanti.

Sakura menatap Sasuke lalu menodongkan tangannya sedangkan Sasuke menatapnya heran. "Aku akan menyitanya." Ujar Sakura. Sasuke merotasikan matanya lalu dengan ogah-ogahan menyerahkan antingnya ke tangan Sakura, "Ambillah pulang sekolah nanti."

Sasuke memperhatikan kepergian Sakura datar. Semua murid yang berpapasan dengannya menyapa seraya menundukkan kepalanya. Jadi benar Sakura bekerja di sini?

Sasuke masih berdiri di sana memperhatikan Sakura sampai ia ditatap banyak murid-murid di sekolah ini. Lalu dengan acuh ia berjalan kembali menuju ruangan di mana wali kelasnya berada.

Sasuke membuka pintu dengan cat berwarna abu-abu. Begitu masuk ia disuguhi meja-meja yang berjejer rapi dan memiliki tumpukan buku-buku dan map di setiap unitnya. Sasuke memandangi sekeliling ruangan itu dan mendapati Sakura yang sedang sibuk dengan buku yang dibacanya. Dan Sasuke memutuskan untuk menghampirinya.

"Dimana tempat Ino-sensei?" Sasuke langsung menyerang Sakura dengan pertanyaan tanpa peduli Sakura yang berjengit kaget.

"Bisakah kau ucap salam terlebih dahulu?!" Kesal Sakura menatap tajam Sasuke.

"Sumimasen."

"Telat."

"Beri tahu aku tempat Ino-sensei."

Belum sempat Sakura menjawab suara cempreng milik seorang wanita yang menyapanya. Sakura menoleh dan mendapati Ino berjalan ke meja yang berada tepat di sebelah meja Sakura.

"Dia mencarimu." Ucap Sakura kepada Ino sambil menunjuk Sasuke dengan dagunya.

"Oh. Kau murid baru itu?" Tanya Ino kepada Sasuke yang sudah menghadapnya. "Baiklah Uchiha-san, aku akan mengantarmu ke kelas." Ucap Ino sedangkan Sasuke hanya mengangguk.

Ino menegakkan badannya dan mengambil peralatan mengajarnya.

"Sakura-sensei tidak ke kelas sekarang?" Tanya Ino sebelum pergi. Sakura hanya menggeleng sambil tangannya sibuk menulis sesuatu di atas buku agenda.

"Uchiha Sasuke. Salam kenal." Ucap Sasuke di depan kelas.

"Nah Uchiha-san silakan duduk di sebelah Kimimaro-san." Ucap Ino dan yang bernama Kimimaro mengacungkan tangannya.

Sasuke berjalan ke arah kimimaro tanpa mempedulikan tatapan memuja para siswi di kelasnya dan juga tatapan malas para siswa. Tentu mereka merasa kalah saing dengan wajah tampan Uchiha bungsu ini.

Sasuke memejamkan mata. Jengah dengan kondisi kelas ini. Para siswi langsung mengerubunginya tepat setelah bel istirahat berbunyi seolah ia adalah barang diskonan. Mereka menanyainya apa pun dan Sasuke menjawab sekenanya dan terkadang ia memelototi siswi yang mulai bertanya ke hal privasinya. Bertanya alamat rumahnya, sudah punya kekasih atau belum dan juga menanyakan nomor ponselnya. Sungguh. Ia berharap ada yang bisa mengeluarkan ia dari kondisi ini.

"Uchiha Sasuke-san. Mari ikut saya ke ruang guru."

Dewi Fortuna. Sakura datang dengan senyuman manisnya yang merekah berjalan anggun menghampiri meja tempat Sasuke duduk.

"Ada data yang harus diisi." Ujar Sakura.

"Baik."

Sasuke berdiri hendak menyusul Sakura. Dan ia mendengus melihat tatapan para siswa kepada Sakura. Tatapan penuh damba, mungkin?

Sesampainya di ruang guru mereka menghampiri Ino yang sedang menyiapkan kertas. Entah kertas apa tetapi Ino menyerahkannya. Satu untuk Sasuke sebagai murid baru dan satu untuk Sakura sebagai walinya.

"Kenapa tidak bilang dari awal akan menjadi walinya Uchiha-san, Sakura-sensei?" Tanya Ino sambil mengoleskan cat kuku berwarna hijau.

"Lupa." Jawab Sakura acuh sambil mengisi data di meja Ino, bersebelahan dengan Sasuke.

"Apa aku harus mengisi kolom gaji juga?" Tanya Sakura sedikit menyunggingkan senyum.

"Jangan sombong." Ucap Ino sebal menatap Sakura yang melemparkan senyum menyebalkan ke arah Ino.

Ino memang selalu sebal mengingat gaji Sakura lebih besar daripada gajinya. Hal itu tentu sepadan dengan posisi Sakura di sekolah. Namun Ino tetap saja sebal dan jangan tanyakan Sasuke, ia tetap cuek saja dikacangi seperti itu.

"Apa? Bahkan gajimu tidak lebih besar dari uang jajanku." Ucap Sasuke acuh setelah sedikit mengintip nominal gaji Sakura. Dan Sakura menatap Sasuke malas sedangkan Sasuke menyeringai.

'Cocok sekali. Sama-sama sombong.' Batin Ino sedikit bercanda.

"Lagipula kau masih di bawah umur. Tidak boleh pegang uang besar. Sini! Biar dititipkan saja padaku." Canda Sakura sambil mengedipkan matanya dan Sasuke mendengus melihat hal itu.

"Aku delapan belas. Sudah cukup umur."

"Kata siapa? Delapan belas itu saat-saat kau akan mengalami kekhilafan."

"Dan jika aku titipkan padamu aku tidak akan mengalami kekhilafan itu."

"Itu bagus. Tenang saja lagi pula masih banyak kekhilafan yang lain."

"Contohnya?" Ino menimpali.

"Kau pikir saja sendiri." Acuh Sakura beranjak dari meja Ino.

"Mm... Dia menghindar." Ucap Ino menatap kepergian Sakura. "Lain kali kau harus tanya dia kekhilafan apa saja!" Sambung Ino pada Sasuke yang baru saja menyelesaikan tulisannya.

Sasuke berakhir di kantin bersama bocah lelaki berambut pirang dengan tiga garis hitam di pipinya. Sasuke berpikir itu aneh.

"Kau tahu? Anak baru itu anaknya Sakura-sensei."

Telinga Sasuke berkedut mendengar bisikan yang tidak bisa disebut bisikan para siswa di belakangnya. Sedangkan Naruto tersedak kuah ramen pedasnya dan langsung menyambar minumannya.

Heol... Ia tidak habis pikir. Sakura-sensei? Sasuke ANAK Sakura-sensei? Sulit dipercaya! Bagaimana mungkin Sakura-sensei yang masih semuda itu yang bahkan di tubuhnya belum ada kerutan sama sekali kecuali lipatan ketiaknya sudah mempunyai anak sebesar Sasuke?!

"Apa benar itu, Sasuke?" Tanya Naruto dengan raut wajah serius, kaget, tidak percaya, dan sebagainya.

Sasuke dengan santai meminum jus tomatnya, "bisa dikatakan begitu."

Ya bisa dikatakan begitu. Sakura adalah walinya, tidak mengherankan orang-orang menganggap ia adalah anak Sakura. Well... lagi pula tidak buruk juga, memanggil Sakura dengan sebutan 'mama'.

Che. Sasuke mendengus memikirkan hal itu. Nakal sekali.

"Bagaimana pelajaran di kelas?" Tanya Sakura sambil terus fokus menyetir.

"Biasa saja."

"Apa kau sudah dapat teman yang baik?"

"Yang bodoh juga ada."

"Bodoh? Siapa?"

"Naruto." Sakura tersenyum aneh mendengar nama Naruto keluar dari mulut Sasuke.

"Benarkah? Kurasa dia anak yang manis."

"Manis dari mananya?" Tanya Sasuke keheranan. Really? Naruto anak manis? "Hmm... Dia selalu terlihat malu-malu tiap aku ajak bicara."

Sasuke terdiam. Anak urakan macam Naruto bisa malu-malu? Dan di hadapan Sakura?

"Iya. Malu-maluin."

"Nani? Satu muridku mengirim pesan padaku." Ujar Sakura sambil terkekeh.

"Ya terus?" Gumam Sasuke tidak terlalu peduli karena terlalu sibuk mengetik sesuatu di ponselnya.

"Dia meminta nomormu."

"Nomorku ada satu."

"Hahaha. Garing."

Sasuke justru terkekeh mendengar perkataan Sakura. Memang garing sih hehehe.

Mata Sasuke lurus memandang benda persegi yang menampilkan gambar-gambar bergerak. Televisi sebesar 80 inci itu menayangkan acara komedi yang sama sekali tidak membuat Sasuke tertawa. Acara televisi itu tidak bermutu, menurut Sasuke. Mereka menghina fisik seseorang untuk dijadikan lelucon. Bahkan hal yang bersifat pribadi ikut mereka angkat menjadi candaan-candaan garing. Apalagi seorang komedian yang dengan percaya diri mengeluarkan banyolan-banyolan yang ia rasa banyolannya berkualitas tinggi, padahal tidak bermutu sama sekali.

Lamunan Sasuke akan acara televisi tidak bermutu terhenti oleh suara dering ponsel Sakura.

"Apa?" Gumam Sakura datar seraya beranjak dari sofa dan melangkah memasuki kamarnya.

Sasuke memperhatikan nada bicara Sakura yang ogah-ogahan namun terkesan mengintimidasi. Sasuke tidak tahu siapa yang menelepon Sakura. Dan ia tidak ped-

BRAK!!!

Sasuke berjengit kaget mendengar suara seperti benda yang dibanting dari dalam kamar Sakura. Sasuke memutuskan menghampiri kamar Sakura, takut-takut terjadi hal-hal buruk.

"Sakura!" Seru Sasuke sambil mengetuk pintu kamar Sakura.

Pintu terbuka. Memperlihatkan penampilan Sakura yang sudah sedikit kacau. Bola mata dengan iris kristal hijau itu sedikit berkaca-kaca dan hidung mancungnya memerah sudah cukup bisa dikatakan sedikit kacau.

"Ada apa? Suara apa itu tadi?" Tanya Sasuke.

Dengan suara yang sedikit sumbang Sakura mengatakan semua tidak ada apa-apa dan menutup pintu kamarnya kembali. Dan setelahnya, Sasuke mendengar Sakura terisak di dalam kamarnya. Ketika Sasuke memutar kenop, pintu itu sudah terkunci.

To Be Continue

Hai selamat malam;)

Joo mau ngucapin makasih buat review kalian yang udah bikin aku semangat untuk menulis lagi. Karena sebelumnya joo mengalami writer blocks nih temen2. Mungkin terhitung 2 tahun. Dan skrg joo muncul lagi dg cerita baru yang insya allah bisa menghibur kalian. Untuk tittle sbelumnya, masih dalam proses ya temen2.. mohon maap kelamaan hehe...

Sebenernya joo sengaja nggak mendeskripsikan tokoh secara langsung temen2. Jadi joo kasih gambaran scara gak langsung. Seperti contohnya, "aku delapan belas. Sudah cukup umur." Jadi mohon di mengerti yaaa temen2;)

Papasasu di sini OOC banget kan temen2 hihi... sengaja aja biar gak monoton:D ada yang bisa bayangin papasasu pake anting2 dan piercing gak wkwk

Kira-kira mamasaku kenapa yaaa bisa nangis gituuu?;( ada yang tau mamasaku kenapa? Tulis di kolom review ya temen2! Dan jangan lupa kritik dan sarannya:)

Sampai jumpaaa\0/

Pstt! Sedikit info. Joo selalu apdet tengah malem hihi