Hai, everyone!
Walaupun tadi Anne sudah posting fic buat ulang tahunnya Ginny, tapi Anne masih punya janji buat update fic ini juga, kan. Tenang! Anne update chapter ke 3nya, nih! Sehari langsung dua cerita yang berbeda plot! *Anne cium laptop*
Ninismsafitri : Ninis memang top, thanks banget sudah support Anne disetiap ficnya, ya! Kasihan si Ron, hayooo Mione mau curhat sama siapa? Apa tebakanmu tepat? Mau tahu jawabannya.. Baca ini, ya! :)
Syarazeina : yups, janjinya, kan, Anne update kilat! Walaupun nggak sekilat kilat *apaan, sih?* kasihan, ya, si Ron :( Oh ya, buat fic spesial Ginny sudah Anne posting tadi siang. Cek, ya! Thanks :)
Afadh : Yups, mengapa Hermione susah hamil? Di sini jawabannya. Thanks, sarannya.. :)
Okeh, langsung saja, ya!
Happy reading!
Masih dengan pakaian lengkap dari Kementerian, Hermione memutar arah mobilnya menuju kediaman sang adik ipar. "Aku butuh Ginny. Semoga dia di rumah," Hermione sempat mengirimkan pesan singkat pada Ginny dan untung saja, Ginny cepat merespon.
"Selamat sore, Mrs. Potter!" Hermione memutar gagang pintu dan mendapati Ginny sedang duduk di sofa tunggal besar dan tersenyum senang. Mengamati sekitar rumah Ginny, Hermione melihat ada sesuatu yang aneh pada posisi duduk Ginny, ada yang menggunung di pangkuannya.
Telunjuk Hermione mengarah pada bagian depan Ginny, "kau pakai apa, Ginny?" tanyanya kebingungan.
"Kau belum tahu? Coba kemari," pinta Ginny agar Hermione mendekat.
Sekilas, Ginny seperti sedang memeluk boneka. Bolero yang dikenakannya lucu karena berwarna biru dan berenda dibagian atas serta bawahnya. Menjuntai menutupi area dada hingga perut. Bagian lingkar lehernya memang terbuka cukup lebar, dan di situlah Ginny menunjukkan sesuatu.
"I-itu James?" pekik Hermione.
Ia melihat sosok James sedang duduk di balik bolero yang dikenakan Ginny. Mulutnya aktif menyedot sesuatu sementara tangannya tak lepas dari tepian baju Ginny. "Aku kira kau sedang main boneka. Kau menyusui James? Lucu sekali kain ini,"
"Aku mendapat kado dari rekan Muggle kerja Harry. Isinya ini, nursing cover. Membantu sekali saat aku ingin menyusui James di tempat yang rawan orang lewat. Aku kira dulu ini hanya bolero sederhana, sampai aku membaca kegunaan kain ini dari bungkusnya,"
Hermione kembali usil sambil melihat ke sisi dalam. Ginny tak melarang karena Hermione sama-sama perempuan. Niat Hermione hanya untuk menggoda James.
"Iya, James. Tak akan aku minta minumanmu. Pelit sekali kau!" goda Hermione saat James merasa tak suka sesi makan sorenya diganggu. Tangan kecil James cepat-cepat menutupi area tubuh Ginny seolah takut direbut bibinya.
Pertengkaran antara Hermione dan James berakhir dengan tawa Ginny.
"Tak sakit, Gin?" tanya Hermione merujuk pada aktifitas sang keponakan.
Ginny tegas menggeleng, "hanya geli setiap mau mengawali. Lama-lama terbiasa dengan sensasinya. Kalau waktu pertama selepas James lahir, itu sakit sekali. Lidahnya kasar, ditambah lagi itu pertama kalinya aku menyusui. Aneh tapi menakjubkan. Aku sangat bangga bisa memberikan hal terbaik untuk membantu pertumbuhan dan kesehatannya dari tubuhku sendiri. Karena memang ini kewajibanku,"
"Kau berniat mau memberinya ASI eksklusif?"
"Harus, aku didukung penuh juga oleh Harry,"
Dari balik nursing cover yang yang dikenakan Ginny, tampak bergerak-gerak tak nyaman. Ginny mengintip sejenank dari sudut terbuka di area lehernya. "Sudah kenyang? Sudah, ya!" Ginny seperti berbicara sendiri.
Tanpa diminta, Hermione berusaha bangkit dari tempat duduknya dan membantu Ginny melepaskan nursing covernya. Dan terlihatlah, James sedang meringkuk di sekitar perut Ginny.
"Kau minum banyak sekali sore ini, Mom jadi lapar. Kau mau camilan, Mione?" tawar Ginny bangit dengan menggendong James.
"Boleh. Biar aku yang membantu James sendawa. Ayo, James, ikut Aunty,"
James langsung berpindah gendongan. Berdasarkan buku yang ia baca, bayi harus seger disendawakan selepas menyusu. Beberapa langkah yang Hermione baca, akhirnya terealisasikan dengan James yang kini ada di pelukannya.
Tubuh James ditegakkan. James sedikit ditelungkupkan di dada kiri Hermione. Kepalanya disandarkan dengan posisi pipi kiri menumpu pada pundah Hermione. Pelan-pelan, punggunya ditepuk-tepuk.
Karena terlalu asik, Hermione sampai tak sadar jika James sudah bersendawa dan terus menepuk-nepuk pelan punggung kecilnya. Cairan putih sedikit berbusa keluar dari mulut James, "ups.. kau muntah, sayang? Maafkan, Aunty, ya!" Hermione panik.
Ginny sampai keluar dari dapur setengah berlari. Takut ada sesuatu terjadi pada Hermione ataupun James.
"Mione, ahh James, kau muntah? Baju Auntymu sampai kotor. Kau juga, Mione, kenapa tidak pakai kain ini untuk mengalasi dagu James?" tunjuk Ginny pada kain tebal kecil di atas meja.
"Maaf, Ginny. Aku tak tahu kalau James sudah sendawa. Sampai dia muntah, maaf, Gin. Aku juga tak tahu,"
"Tak apa," Ginny mengambil alih kembali James dari Hermione. "Lama-lama kau bergaul dengan James, kau akan tahu nanti dan terbiasa nanti. Iya, kan, James?"
James hanya tersenyum dan terkikik pelan. Matanya yang menurun dari Ginny sudah tampak mengantuk. "Waktunya James bobok!" dan tujuannya adalah pada ranjang bayi di samping sofa tempat Ginny tadi menyusui.
"Aku memang payah, Ginny—"
'O ow.. Hermione mulai lagi,' batin Ginny. Harry sempat bercerita tentang masalah Hermione dan Ron yang selalu bertengkar karena masalah anak. Ginny sebenarnya tidak percaya. Seolah cerita Harry menunjukkan Hermione itu bukanlah gadis pintar seperti yang ia kenal.
Namun, Ginny melihatnya sendiri. Itu semua benar.
"Aku saja tak paham bagaimana ciri-ciri bayi sudah bersendawa. Malah membuat James muntah—"
"James muntah karena dia kekenyangan, Mione. Kau tak perlu takut," kata Ginny. Ia melambaikan tongkatnya pada bagian pundak Hermione yang terkena muntahan James. Seketika, bekas muntahan itu menghilang. "Sempurna," ujarnya senang.
Sepiring kue kering tersaji di hadapan Hermione. Namun tidak satupun kue yang disentuh oleh Hermione, apalagi dimakannya. "Aku tidak pantas jadi ibu, ya, Gin?"
"Mione! Kau bicara apa, sih? Suatu saat kau pasti akan menjadi ibu hebat. Sabarlah,"
"Tapi kapan, Gin?"
Sulit, Ginny tidak tahu harus menjawab apa. Dia bukan Tuhan. "Masing-masing orang berbeda, Mione. Ada yang cepat ada yang lama. Kebetulan saja aku cepat. Dulu aku sudah cerita, kan, waktu aku menikah, aku sedang haid. Aku sampai merasa bersalah pada Harry," Ginny mengingat kembali beberapa waktu lalu saat ia baru menikah dengan Harry. Di malam pertamanya, Harry harus rela gigit jari karena Ginny menstruasi.
"Tapi, karena kau haid saat menikah, itu yang membuatmu cepat hamil. Harry mendapatkan masa suburmu yang sempurna," ujar Hermione berspekulasi.
Ginny sampai tak kuasa untuk tidak tertawa. Mereka sama-sama dewasa, dan urusan seperti itu sudah tidak lagi jadi masalah tabu.
"Ya, sekarang kau hitung saja masa suburmu. Kalian berdua sehat, kan?"
Dess! Hermione kaku. Sehat?
Beberapa hari lalu, Hermione nekat untuk memeriksakan dirinya pada dokter kandungan rekan ayahnya. Di rumah sakit Muggle, Hermione datang sendiri tanpa didampingi Ron. Ia memeriksakan kesehatannya.
Tidak ada campur tangan sihir di sana. Semua gamblang dengan analisis ilmu pengetahuan kedokteran. Dan menurut hasil pemeriksaannya..
"Rahimku terbalik—"
"Terbalik?" suara Ginny meninggi. James merengek terganggu.
Ya, menurut hasil pemeriksaan, Hermione sehat. Hanya saja ada sedikit gangguan pada rahimnya. Posisi rahim Hermione abnormal. Begitupula kualitas telurnya.
"Sangat lemah," ujar Hermione sedih, "aku sudah meminta Ron juga untuk periksa. Dan memang, semua kesalahan ada pada diriku,"
Bagi Ginny, masalah medis seperti itu bukanlah bidangnya. Meski ia perempuan, ia baru tahu jika ada istilah rahim terbalik atau tidak normal. Ia hanya bisa bersyukur masalah itu tidak terjadi padanya.
Hermione merundukkan wajahnya, takut jika anggota panca indranya ada yang hilang jika ia menatap Ginny sambil menangis. "Mione—"
"Aku tahu aku bukan wanita yang sempurna. Tapi aku ingin membuat Ron bahagia, Ginny,"
Tangis Hermione pecah di pelukan Ginny. Ada rasa lega saat ia harus menangis setelah mengatakan semua masalanya pada orang lain. Seperti bebannya sedikit berkurang setelah sebagian terbuka.
"Masih ada kemungkinan bahwa kau mampu memiliki anak, Mione. Teruslah berusaha, dan mencari cara lain. maksudku untuk sekadar menggobati rasa rindu," Ginny memberikan saran yang tiba-tiba melintas di kepalanya.
Ide Ginny mungkin sedikit terdengar gila, tapi bagaimana jika berhasil. "Psikologimu sedang terguncang, Mione. Mungkin kau bisa mengobatinya dengan cara berlatih menjadi orang tua?"
"Menjadi orang tua? Ma-maksudmu?" Hermione tidak mengerti.
"Sejak aku menikah, Teddy sudah sering tinggal bersama aku dan Harry. Kami menganggapnya sebagai anak meski Harry adalah ayah baptisnya. Khusus untukku, Teddy menjadikan dirinya sebagai anakku juga. Aku mulai berlatih menjadi orang tua dengan hadirnya Teddy di keluargaku dan Harry. Mungkin kau bisa mencoba cara yang hampir sama,"
Pelan-pelan, Hermione mengerti arah bicara Ginny, "maksudmu, mengadopsi anak?"
"10 poin untuk Hermione Weasley. Kamu bisa mengurus anak, ya meski bukan anak kandungmu, setidaknya anak yang urus nanti bisa mengobati emosimu secara psikologi. Batinmu tertekan, Mione. Dan keuntungan lainnya, kamu juga bisa berlatih menjadi orang tua. Ini hanya saran, karena memang aku sempat tahu, banyak pasangan yang lama tidak memiliki anak, setelah mereka mengadopsi atau mengurus anak lain, mereka bisa cepat memiliki anak sendiri.
Ibaratnya mereka jadi pancingan," Ginny menghela napasnya berat. sebuah saran yang cerdas sekaligus konyol.
Beberapa keping kue kering yang disuguhkan Ginny kini tampak menggoda di mata Hermione. Ia mengambil satu dan memakannya. Ginny tersenyum.
"Aku akan bicarakan dengan, Ron. Thanks, Ginny. Aku bawa semua kuenya, ya! Salam untuk James dan Harry! Bye!"
Ginny tertegun melihat perubahan mood Hermione yang berubah drastis. Kini, hanya ada piring kososng di atas meja. "Itu tadi persediaan terakhir kue keringku, Mione. Oh, Harry pasti marah aku tak menyisakan untuknya,"
Giliran Ginny yang menangis dengan piring kosong di tangannya.
- TBC -
#
Hem.. maaf kalau istilah-istilah medis atau apapun itu masih salah. Risetnya nggak banyak, hanya sekadar pengetahuan Anne saja. *efek belajar karena cita-cita dulu pengen jadi dokter kandungan, tapi nggak kesampaian* kalau yang tahu, bisa koreksi kalau Anne salah. Mbah Google tidak begitu membantu.
Bagaimana rencana Hermione mengadopsi anak? Apakah Ron setuju? Atau malah berefek buruk? Ada yang akan dipertaruhkan Hermione nanti. Apa itu?
Tunggu chapter 4nya, ya! Anne tunggu review kalian juga, Anne sayang kalian! :)
Thanks,
Anne x
