Kise menghela nafasnya saat tubuhnya kini berada di depan pintu gerbang rumah Kuroko. Matanya melekat pada pintu besi itu namun pikirannya entah melayang kemana. Rasa khawatir menimpa dirinya seraya ia mencoba untuk tetap tenang.

Kakinya yang panjang mulai melangkah perlahan, dengan memberanikan diri, ia mengetuk gerbang tersebut. Namun pas sekali tangannya nyaris menyentuh permukaan gerbang, gerbang itu terbuka, menampilkan lelaki berambut biru langit yang tingginya lebih pendek di hadapannya.

"Ah.. Kise-kun, selamat siang." Kuroko menyapanya sambil tersenyum.

"K-Kurokocchi… ehehe s-selamat sian-ng." Kise mengedipkan matanya seketika ia menyadari mulai terbata-bata.

"Ada apa kau kesini, Kise-kun?"

"Uh, aku ingin mengantarkan ini, dari Aominecchi dan Kagamicchi. Sekalian mengunjungi..mu.." pipi Kise bersemu merah. Ia memalingkan wajahnya ke arah yang lain untuk menyembunyikannya dari Kuroko. Tangannya yang memegang cup berisi vanilla milkshake terulur ke Kuroko.

Mata biru Kuroko menatapi cup tersebut, lalu ia mengambilnya dan mengucapkan terima kasih. Setelah itu, ia membukakan gerbang tersebut lebar-lebar agar Kise dapat masuk ke perkarangan rumahnya.

"Eh? Bukankah kau akan pergi?"

"Aku hanya berniat pergi menuju bakery. Tadi jam 9 Kagami-kun memberikanku sebuah pesan untuk segera datang karena ia takut Aomine-kun akan menghancurkan segalanya. Tapi setelah melihatmu kesini membawakan vanilla-shake aku menyadari bahwa keadaan bakery baik-baik saja."

'B-Bagaimana ia bisa berpikiran seperti itu?' Kise mengangkat salah satu alisnya lalu bergerak masuk ke dalam area rumah Kuroko. "Begitukah….. Hm…"

Kuroko tersenyum kecil lalu menuju pintu ruang tamu rumahnya, ia membukanya dan membiarkan Kise masuk, setelah itu menutupnya. "Kau ingin minum sesuatu Kise-kun?" Tanya Kuroko sambil menyeruput vanilla-shakenya. Kise menggeleng pelan, tangannya mengangkat sebuah cup macchiatonya yang masih ada banyak. "Aku sudah ada ini, terima kasih atas penawaranmu Kurokocchi." Ucapnya sambil tersenyum. Kuroko mengangguk dan segera duduk di sebuah sofa panjang berwarna abu-abu. Kise mengikutinya, duduk di sebelahnya dengan gerak-gerik gelisah. Ini pertama kalinya ia berkunjung ke dalam rumah Kuroko. Lebih-lebih mereka baru berkenalan secara 'official' seminggu yang lalu.

Apa yang terjadi setelahnya adalah hening yang…. Panjang.

Paling hanya suara seruput minuman masing-masing

Kise yang merupakan seseorang yang hyper dan banyak bicara kini kebingungan mencari ide untuk mengajak Kuroko berbicara. Alasannya? Ia masih ragu. Lebih-lebih ketegangan padanya untuk duduk sedekat itu dengan 'crush'nya.

Kuroko? Nah, sifat Kuroko tidak bisa ditebak.

Keheningan mereka terpecah ketika aroma roti yang baru saja matang tercium di hidung mereka. "Kau memanggang roti, Kurokocchi?" Kise memalingkan wajahnya menuju Kuroko.

Lelaki bersurai biru langit segera berdiri dan berlari menuju dapur yang lokasinya tidak jauh dari ruang tamu. Kise mengikutinya dari belakang.

Begitu berada di dapur Kuroko, apa yang Kise lihat adalah dapur yang besar dan berisi peralatan masak yang baru dan bagus –khususnya dalam urusan manggang-memanggang. Oven tradisional yang besar yang menggunakan gas berada di pojok dapur, lalu di sebelahnya terdapat kompor gas, di sebelahnya lagi ada meja –counter dapur- yang cukup panjang dan di pojok lainnya terdapat tempat cuci piring dan barang lainnya.

Dari sudut pandang Kise, Kuroko benar-benar seseorang yang serius dalam mengembangkan bakerynya.

Kuroko mengambil sepasang sarung tangan dari kain, lalu membuka pintu oven dan mengambil sebuah nampan besar yang di atasnya terdapat 6 roti memanjang dengan di atas roti itu terdapat lelehan keju. Lalu Kuroko menaruhnya di atas counter yang kemudian ia menutup dan mematikan oven.

Kise bergerak mendekati roti itu dan sesekali dengan jarinya –ah ia sudah mencuci tangan kok- menyentuh permukaan roti. Walaupun masih panas tapi sisi atas roti tersebut terasa renyah. "Jika kau ingin mencobanya silahkan saja, itu adalah sebuah roti dengan rasa yang baru ku buat. Jika menurutmu enak, roti itu akan dijual di bakery." Kuroko menaruh kedua tangannya pada pinggangnya.

"Sungguh? Baiklah. Akan kucoba. Eum.." Kise mengambil sebuah pisau dan memotong roti itu kecil, mengambilnya lalu "Itadakimasu~~~" ia melahap potongan roti itu. Lidahnya merasakan berbagai sensasi rasa yang ada pada roti oval tersebut.

Rasa manis dan gurih menjadi satu. Lelehan keju mencampuri berbagai texture yang sudah. Ditambah lagi, Kise tidak menyangka di roti tersebut terdapat irisan daging yang kenyal.

"Bagaimana, Kise-kun?"

"Roti ini…. Entah kenapa terasa ceria dan juga serius dalam satu waktu.."

'Itu karena ketika aku membuatnya, aku terinspirasi darimu.'

"Tapi ini enak! Sungguh! Layak untuk dijual di bakerymu, Kurokocchi!"

Kuroko menghela nafas lega. "Baguslah kalau begitu." 'Maka roti itu akan kuberi nama Ki-ai.'

"Namun Kurokocchi…."

Ah? Kuroko mengangkat wajahnya, menatapi lelaki pemilik iris hazel di sebelahnya. "Aku…. Tolong ajari aku membuat roti juga-ssu!" tiba-tiba Kise membungkukkan badannya yang membuat Kuroko kebingungan. Lelaki bersurai biru itu mengangkat alisnya lalu mengangguk. "Baiklah, biarkan aku menyimpan roti ini terlebih dahulu dan Kise-kun silahkan menggunakan apronnya. Bisa tolong ambilkan mangkok besar yang ada di atas sana? Lalu bahan ini itu….." Kuroko menyimpan rotinya dalam sebuah wadah yang besar seraya menyebutkan berbagai macam bahan yang perlu disiapkan oleh Kise sekaligus menyebutkan dimana bahan itu berada.

Kise mengikuti seluruh perintahnya. Ia mengenakan apron yang berada di lemari khusus kain lap dan apron, lalu mengambil seluruh bahan dan alat yang Kuroko minta. Ia menaruhnya dengan rapi di atas counter, setelah melakukan tugasnya, Kise memberikan sebuah ibu jari ke Kuroko.

"Kalau sudah takar seluruh bahan dengan ukuran yang sama dengan yang tertulis di kertas ini." Ucap Kuroko sambil menyodorkan selembar kertas berisi coretan tinta dengan huruf dan angka yang menyatakan nama bahan dan takarannya.

Kise mengangguk lalu menghitung ke seluruhannya, setelah selesai Kuroko memintanya untuk mencampurkan tepung terigu, susu, garam dan ragi. Lalu ia menyuruh Kise untuk mencampur keseluruhan bahan menggunakan tangan.

"Ketika kau menguleninya, rasakan bahan itu tercampur dengan baik. Usahakan adonan kalis dan tidak menggumpal seperti pasir."

Kise mengangguk seraya mengerahkan seluruh tenaganya untuk menguleni adonan rotinya. Karena tenaga Kise yang lebih kuat daripada Kuroko, ia mampu melakukan itu dengan baik dalam waktu yang tidak banyak. Tangannya kini menyodorkan bahan yang sudah ia buat ke Kuroko untuk merasakannya. Kuroko menyentuh bahan itu dengan jari-jarinya yang halus. Tatapan Kise mengarah ke Kuroko dengan penuh harap. Kuroko mengangguk menandakan bahwa adonan milik Kise sudah benar. Kise melakukan perayaan kecil dengan melempar kepalan tangannya ke udara dan senyuman lebar. Kuroko yang melihatnya hanya tertawa kecil.

Setelah itu Kuroko mengambil plastic wrap dan membungkus mangkok yang Kise gunakan. "Biarkan semalaman hingga rotinya mengembang, setelah itu diuleni lagi agar udara yang ada di dalamnya keluar dan dibiarkan lagi sebentar baru diisi sesuai keinginanmu."

'Kalau diisi dengan Kurokocchi gimana? Eh, ngga, justru yang ada itu bukan gombal.' Pikir Kise sambil mesem-mesem.

Kuroko menaruh mangkok yang sudah dibungkus di depannya namun di antara Kise dan Kuroko. Tangannya bersender pada counter namun kepalanya mengadah ke atas, mata birunya menatapi mata Kise.

Keheningan pun terjadi.

Ah tidak. Kise sendiri dapat mendengar jantungnya berdetak kencang dan cepat, begitu pula pada Kuroko dengan jantungnya sendiri.

Kise tiba-tiba memajukan wajahnya –sekaligus membungkukan badannya sedikit- mendekati wajah Kuroko yang kini memejamkan matanya. Suatu ketika permukaan yang lembut dan terasa manis menyentuh bibirnya. Kuroko yakin bahwa Kise menciumnya.

Bibir Kise bergerak lalu terbuka sedikit, ia menjulurkan lidahnya untuk menjilati permukaan bibir Kuroko yang kemudian Kuroko membuka bibirnya, membiarkan lidah Kise terselip masuk ke dalam mulutnya.

Tidak ada paksaan dalam ciuman itu, hanya berisi sebuah pesan tentang perasaan Kise kepada Kuroko. Itu saja.

Tak lama, Kuroko lah yang melepaskan ciuman mereka. Matanya terbuka perlahan seraya menatapi kedua iris Kise dalam-dalam dan penuh arti. Kise juga menatapi iris biru Kuroko sambil menjilati bibirnya.

Namun, Kise baru menyadari apa yang baru saja ia lakukan.

Mata Kise membulat, pipinya mulai bersemu merah padam, kakinya mulai lemas seperti jelly. Ia pun terjatuh pada lututnya.

"K-Kurokocchi."

Kedua lengannya yang panjang meraih pinggang Kuroko dan memeluknya. Kise menenggelamkan wajahnya pada perut Kuroko, dan ia mengusap wajahnya di daerah tersebut yang membuat Kuroko bersemu merah. Ditambah apa yang Kise ucapkan setelahnya.

"Suki..da."

To be continued.