Princess Destiny

Park Chanyeol x Byun (Kim) Baekhyun

I own nothing except the story

.

.

.

.

.

Chapter III

Chanyeol mengangkat alis melihat Sehun yang sudah berdiri di hadapannya. Tiga hari yang lalu, Ia meminta Sehun mencari dan membawa Baekhyun padanya. Tapi, Pria itu berdiri di hadapannya dengan tangan kosong dan hidung yang diperban.

"Yang mulia..." cicit Sehun.

Chanyeol semakin meninggikan alisnya.

"H-hyung.." koreksi Sehun.

Chanyeol memang tidak suka saat Sehun memperlakukannya terlalu formal saat mereka hanya berdua. Ia dan Sehun sudah mengenal sejak kecil. Ayahnya memperkenalkan Sehun sebagai teman bermainnya. Orangtua Sehun meninggalkannya di panti asuhan. Sejak saat itu, Sehun bersumpah melindungi Chanyeol. Istana adalah keluarganya saat ini.

"Ye? Kau mau mengatakan sesuatu?" tanya Chanyeol.

Sehun menelan ludah gugup. Segala kata-kata yang akan dikatakannya seakan terhenti diujung lidah.

"Sa-saya.."

"Dimana Baekhyun?"

Ini dia. Sehun mengerjap ketakutan. Ia tak pernah salah. Pekerjaannya selalu baik dengan segala perhitungan yang tepat. Tapi, kali ini...

"Saya gagal mendapatkannya." Sehun membungkuk hormat sebagai bentuk penyesalan.

Chanyeol menghela nafas tak percaya. Ia berdiri dan berjalan mengitari mejanya.

"Siapa yang melakukan itu padamu? Kudengar beberapa anak buahmu juga terluka."

Sehun menghela nafas dan berkata lirih,"Baekhyun."

Chanyeol hampir tak mempercayai pendengarannya. Hanya saja, ringisan Sehun membuat matanya membelalak heran.

"Bagaimana bisa!?"

Sehun meringis malu. Ingatkan Pria itu untuk mengubur harga dirinya setelah ini.

.

Tiga hari yang lalu, Hari Pertama Pencarian Baekhyun.

Sehun merapikan seluruh berkas informasi yang berhasil didapatkannya soal Baekhyun. Ia berjalan menuju mobilnya dan mulai berkendara keluar dari Istana. Tujuannya hari itu: Flat Baekhyun.

Saat sampai, Sehun hampir tidak percaya apa yang dilihatnya. Flat Baekhyun berada di daerah menengah kebawah. Ia bahkan harus memarkir mobilnya di sebuah lapangan dan menanggalkan jas hitamnya. Walau begitu, penampilannya yang hanya memakai kemeja putih saja sudah layaknya supermodel tersasar.

Sehun menunggu berjam-jam di sebuah toko kecil saat akhirnya Baekhyun keluar dari flatnya. Gadis itu memakai jaket dan jeans sederhana, dengan sebuah tas selempang pink yang menggantung di bahunya.

Sehun berderap pelan. Ia memberi jarak pada langkah Baekhyun dan mengikutinya hati-hati. Semua sangat biasa, Sehun baru saja akan menyombongkan dirinya dalam teknik penyamaran, saat tiba-tiba Baekhyun berlari kencang.

Sedikit terkejut, Sehun kemudian ikut berlari mengejar buruannya. Lari Baekhyun sangat cepat. Sehun terus berhasil menyeimbangkannya. Keberuntungan Sehun terlihat. Baekhyun berbelok kearah sebuah jalan buntu. Gadis itu terengah. Ia menoleh ke belakang, menatap Sehun yang sedang menata nafasnya.

"Hey, Nona. Aku tidak bermaksud jahat." Sehun berjalan menghampiri Baekhyun sambil mengibaskan tangannya. Baekhyun panik. Ia memanjat sebuah tong sampah dan kembali memanjat dinding pembatas. Mata Sehun membulat.

"Hei, Nona. Kau harus mendengarkan Aku. Kau harus bertemu—" kalimat Sehun tergantung, berganti dengan desisan tak percaya saat melihat Baekhyun berhasil memanjat tembok dan meloncat ke tempat dibalik jalan itu.

Sehun membawa langkahnya menaiki tong sampah. Matanya kian membelalak tak percaya saat melihat Baekhyun tengah berdiri di balik tembok itu, dengan senyum lebar, tanpa cedera apapun. Gadis itu mengangkat jari tengahnya. Sebuah ejekan psikis bagi Sehun.

Status hari pertama: Gagal.

Hari Kedua, 'Pengejaran' Baekhyun

Hari ini, Sehun memutuskan meminimalisir resiko. Ia menunggu di ujung jalan pabrik susu tempat Baekhyun menjadi kurir. Letaknya yang berada di sebuah jalan besar tidak memungkinkan Baekhyun berlari menyelip dalam gang-gang kecil. Setidaknya itulah menurut Sehun.

Pria pucat itu melirik arlojinya. Sudah jam delapan. Ia membenarkan kacamata hitam yang tersemat apik di hidung mancungnya. Kali ini harus berhasil. Insiden kemarin biarlah menjadi pelajaran.

Sepersekian menit setelahnya, sebuah bel nyaring memekakkan telinga Sehun. Gerbang pabrik mulai dibuka. Sehun tersenyum menang. Ia hanya perlu menunggu Baekhyun keluar dan menariknya dalam mobil.

Namun, senyum lebar itu segera memudar.

Gerbang terbuka, dan para kurir mulai keluar.

Maksudnya disini adalah, semua kurir. Dengan pakaian yang sama. Dengan sepeda yang sama. Dengan bawaan yang sama.

Sehun mengerang. Ia keluar dari mobilnya, mencegat satu per satu kurir yang bisa Ia jangkau. Tidak ada. Tidak ada Baekhyun.

Status hari kedua: Gagal (lagi)

Hari ketiga, (masih) 'pengejaran' Baekhyun.

Hari ini, Sehun membawa tiga orang bersamanya. Mereka kembali berjaga di sekitar rumah Baekhyun. Kegagalan di dua hari sebelumnya membuat Sehun kesal dan terpaksa mengambil jalan terakhir: menculik Baekhyun. Pilihan waktunya pun tengah malam, saat Baekhyun mungkin sudah terlelap.

Tiga orang anak buahnya berjaga masing-masing di samping kanan-kiri dan bagian belakang flat Baekhyun. Mereka memberi anggukan singkat pada Sehun sebagai tanda kondisi aman.

Sehun mulai berjalan tanpa suara menuju pintu depan flat Baekhyun. Ia membukanya dengan kunci duplikat. Tidak sulit mendapatkannya. Ribuan flat murahan memiliki jenis kunci yang sama. Pintu itu terbuka dan Sehun berhasil mengendap masuk.

Suasana yang remang membuat Sehun harus sering memicing menyesuaikan penglihatannya. Langkahnya Ia bawa menuju satu-satunya kamar di flat itu. Dengan kelihaian yang sama, Sehun berhasil masuk ke dalam kamar. Sebuah gundukan berselimut diatas tempat tidur membuat Sehun menyeringai menang. Ia mengambil sapu tangan bius dari sakunya dan bersiap membuka selimut itu. Selimut itu berhasil disibaknya, namun tidak siapapun disana.

Hanya guling.

Bukan Baekhyun.

Belum sempat Ia mencerna apa yang terjadi, sebuah suara benda jatuh terdengar dari luar flat. Sehun berlari keluar kamar dan menuju bagian belakang flat tersebut. Ia membuka pintunya kasar dan menemukan salah satu anak buahnya sudah terkapar pingsan.

"Hei, Tuan Pucat."

Sehun berbalik dan sebuah tendangan keras menghantam hidungnya dalam detik yang bersamaan. Pria itu mengerang dan terjatuh. Baekhyun—si pelaku tendangan—mengambil sapu tangan bius di saku Sehun dan menekannya di hidung pria itu. Sebuah senyuman dihadiahkannya saat kesadaran Sehun mulai menghilang.

"Selamat Tidur, Tuan Pucat."

Status Hari Ketiga: (Totally) Gagal.

.

Jika saja bukan karena posisinya sebagai Putra Mahkota, Chanyeol sudah pasti akan tertawa keras mendengar penuturan Sehun soal tiga hari misi gagalnya. Jadi, Pria itu hanya berusaha menahan kedutan di bibirnya. Tangannya Ia sedekapkan pada dadanya.

"Pecat ketiga anak buahmu. Cari yang baru." titahnya. Ia kembali mengitari mejanya dan menuang wine ke dalam gelas tingginya.

"Baik, Yang Mulia. Untuk sementara, Saya minta izin untuk memakai personil dari Ring satu, untuk menemani Saya di hari selanjutnya."

Namun, Chanyeol menggeleng. Ia mengangkat gelas winenya dan meminumnya perlahan. Sedikit mencecap rasa manis memabukkan. Ia menatap Sehun sambil tersenyum lebar.

"Untuk selanjutnya, biar Aku yang mengambil alih."

.

Baekhyun mengerang kecil saat mendengar bel flatnya dibunyikan dengan begitu brutal. Gadis itu melempar bantal yang Ia gunakan untuk menutup telinganya dan berjalan keluar kamar sambil menghentakkan kedua kakinya.

"Aku dengar! Aku dengar!" dengusnya sambil membuka pintu flatnya. Dengusannya semakin keras saat melihat sosok Luhan yang sudah tersenyum polos di hadapannya.

"Pagi, Baekhyun-ah!"

"Mau apa kesini?"

Luhan mengerucutkan bibirnya. "Kau tidak membalas sapaanku dan tidak mempersilahkan masuk."

Baekhyun memutar bola matanya. Ia kemudian bergumam 'Pagi, Rusa' dengan gaya meledek dan membuka lebar pintu flatnya agar Luhan bisa masuk.

Gadis Cina itu tertawa lebar dan melangkahkan kaki berbalut jeans coklatnya kedalam flat. Sementara Baekhyun menutup pintunya dan melangkah menuju dapur. Mempersiapkan teh dan cemilan.

"Kau terlihat kacau. Tidurmu kurang?" tanya Luhan. Gadis itu kini sudah duduk nyaman di sofa Baekhyun dan menyalakan televisi.

"Seseorang memaksa masuk flatku kemarin. Aku terjaga semalaman tadi."

Luhan membulatkan matanya. "Perampok?"

Baekhyun menggeleng. Ia berjalan menuju sofa dan menyajikan teh di hadapan Luhan. "Pria pucat yang kuceritakan itu. Dia yang mencoba masuk." ujarnya sambil duduk disamping Luhan.

"Aku tidak mengerti. Sebenarnya apa maunya?"

Baekhyun mengangkat bahunya. Luhan berdecih.

"Kau habis disatroni pria gila, tapi reaksimu sama sekali tidak terlihat khawatir."

Baekhyun tertawa dan menatap Luhan jenaka. "Aku bahkan membuatnya pingsan dan menyeretnya sampai pembuangan sampah."

Luhan tertawa keras mendengarnya. Baekhyun memang ajaib.

"Kufikir kau akan kuliah?" tanya Baekhyun. Ia menyesap perlahan tehnya.

"Memang. Aku kesini membawa pesan Dosen Lee. Beliau bertanya kapan kau selesai cuti kuliah."

Baekhyun mendesah lirih. Ia manaruh tehnya kembali di meja.

"Aku akan menyelesaikan hutang-hutang ayahku terlebih dahulu. Setelah terbebas dari renternir gila itu, Aku akan segera kembali ke kampus."

Luhan menatap iba Baekhyun.

"Harusnya kau menerima pinjaman dari Ayahku. Jangan terlalu egois."

Baekhyun menggeleng. Sebuah senyuman manis terpatri di wajahnya.

"Kau tahu, Aku tidak suka menerima pemberian tanpa harus bekerja."

"Tapi, kau harus ingat ancaman renternir gila itu. Demi Tuhan, Aku tak mau membayangkan kau dinikahi pria gendut itu, Baekhyun!"

Baekhyun melebarkan senyumnya. "Tidak akan. Hutangku akan lunas, dan Aku tidak akan menikah dengannya."

"Kau terlihat sangat yakin."

Baekhyun mengangkat kedua bahunya.

"Perasaanku yang mengatakannya."

.

"Kim Baekhyun. Lulus Shinhwa Art School. Mahasiswi Seni Musik Seoul National University, Kurir Susu, yatim piatu." Sehun berkata tenang sambil memberikan berkas-berkas berkaitan dengan Baekhyun ke hadapan Chanyeol.

"Dia juga juara Hapkido?" tanya Chanyeol. Matanya menyusuri tiap kata pada kertas.

Sehun meringis. "Ya. Aku meremehkannya."

Chanyeol mengangguk paham. Ia terus memahami tiap kata dalam berkas-berkas itu dengan serius.

"Saat ini, kami sedang bersama Perdana Menteri Kim Youngmin dalam Dialog 'Bagaimana nasib Kerajaan ke depannya?'—" sebuah suara dari layar televisi membuat Chanyeol menoleh. Ia meletakkan berkas-berkas tadi di mejanya dan beralih menatap televisi. Wajah seorang penyiar perempuan dan Kim Youngmin memenuhi layar.

"Selamat Siang, Tuan Kim. Apa kabar anda hari ini?" penyiar itu tersenyum.

"Sangat baik, Nona Min. Seindah aura rakyat kerajaan hari ini."

Penyiar itu tersenyum. "Baiklah, Tuan Kim. Sesuai tema kita siang ini, Apa pendapat Anda soal masa depan kerajaan?"

"Tentu Aku tidak tahu. Aku bukan peramal." Youngmin tertawa. "Tapi, jika memang harus menjawab, Aku bisa menyebutnya dengan 'Awan Hujan'."

"Awan Hujan?"

"Ya. Awan hujan yang menaungi bumi. Awan yang sudah menyerap banyak air, tapi tidak bisa menurunkan hujannya."

"Apa maksud anda tentang ke-tidak kompeten-an putra mahkota?"

"Lebih dari itu, ini soal posisi Putri Mahkota. Posisi itu sangat krusial, harus merupakan keluarga terbaik yang bisa mendampingi tahta kerajaan."

"Semua orang berbicara soal keluarga Kim yang lebih dari pantas. Apa kau berpikir hal yang sama, Tuan?"

"Kufikir itu hanya anggapan orang-orang. Tapi, Aku tidak menyalahkan. Lagipula, Apa jadinya pisau tajam tanpa sesuatu yang bisa dipotongnya? Tumpul dan tidak berguna."

Klik.

Chanyeol mematikan televisi di ruangannya. Wajahnya memerah menahan amarah. Youngmin sudah selangkah lebih maju. Ia menggunakan kekuatan opini publik. Cerdas. Dan, Chanyeol merutuki kelambatannya.

"Yang Mulia..."

"Aku akan memastikannya malam ini, Sehun."

Ya, benar. Ia harus memastikan Baekhyun berada di pihaknya.

.

Baekhyun baru saja masuk kedalam flatnya yang ternyata tak dikunci saat melihat sosok Chanyeol duduk angkuh di sofa miliknya. Baekhyun mengerjap tak percaya. Ia bahkan tidak sadar saat Sehun mendorongnya masuk kedalam flat dan mengunci pintu di belakangnya. Menyisakan Chanyeol dan Baekhyun di satu ruangan.

"Malam, Nona Kim." Chanyeol menyapa formal. Suara beratnya memenuhi telinga Baekhyun.

"K-Kau.."

Chanyeol mengangkat satu alisnya. Baekhyun tergugup.

"A-ah..Yang Mulia Putra Mahkota." Ia membungkuk dalam di hadapan Chanyeol. "A-apa yang membuat anda rela ke tempat tak pantas ini, Yang Mulia?"

Mata Baekhyun bergulir tak nyaman. Chanyeol tertawa dalam hati. Apa benar ini wanita yang menghajar Sehun dan anak buahnya?

"Aku memiliki hal yang perlu kita bicarakan. Duduklah."

Chanyeol menunjuk kursi yang entah sejak kapan ada di depan sofa tempatnya duduk. Baekhyun merasa kakinya lemas. Ia berjalan sambil menunduk dan duduk dengan sungkan di hadapan Chanyeol.

"Apa kabarmu, Nona Kim?"

"Ba-baik, Yang Mulia."

"Sudah mengunjungi orangtuamu?"

Kali ini, Baekhyun mendongak dan menatap Chanyeol tak paham. "Apa maksudmu, Yang Mulia?"

"Bukan apa-apa. Aku hanya berfikir mereka pasti akan merindukanmu."

"Orangtuaku sudah meninggal. Aku sudah mengunjungi makam mereka seminggu yang lalu, jika kau ingin tahu, Yang Mulia."

Chanyeol tertawa pelan. "Maksudku, Orangtua kandungmu."

Baekhyun menatap Chanyeol tak mengerti.

"Aku memiliki banyak hal yang belum kau ketahui. Semua berhubungan dengan tawaranku malam ini."

"Aku tidak mengerti maksudmu, Yang Mulia."

Chanyeol membetulkan letak duduknya. "Aku memerlukanmu untuk posisi Putri Mahkota."

Baekhyun membulatkan matanya dan tergagap.

"A-aku tidak paham, Yang Mulia."

Chanyeol menatap langsung kedalam mata Baekhyun.

"Aku memerintahkanmu untuk menikah denganku, Kim Baekhyun."

.

.

.

.

.

To Be Continue

Author's Note:

Hello hai!

Ini Chapter Ketiga. Gimana? Masih Kurang Panjang? :') Duh kalau dipanjangin nanti kalian mual bacanya:(

Thanks to:

ruixi1 ; skymoebius ; chiisai ; Choco Cheonsa ; Baby niz 137 ; shinlophloph ; exindira ; Baby Crong ; kimkimcute ; Istiqomah ; Gigi Onta ; bbkhyn ; Lqhiesz ; TiaraChanyeol ; kenlee1412 ; neli amelia ; parklili ; ChanChan ; SyiSehun ; achan ; achand ; dinda88 ; dwimawarni ; aeri park ; Misunnie ; parkbaekk37 ; komozaku ; 1004baekie ; V0USTALGRAM ; ohsehun ; yeollo ; LightB ; rihanamelany

Yang gak kesebut, maaf mungkin terlewat. Tapi aku berterimakasih sama segala feedback menyenangkan kalian ini /lap ingus/

Oke deh, cuap-cuapnya segini aja.

Then, another review for ChanBaek moment in the next chapter? /modus/

Okedeh, Papay!

Regards,

Purf.