Setting-an
Tidak seperti biasanya Baekhyun akan kabur dari kelas saat Kyungsoo meminta uang kas, dia akan lari ke manapun itu bersama Yixing di sampingnya yang hanya ikut-ikutan. Dia akan masuk ketika pelajaran akan dimulai, jadi jika Kyungsoo meminta dia akan memberikan banyak alasan seperti, "Nanti saja pulang sekolah," "Kyungsoo, guru sedang menjelaskan, jangan berisik aku sedang belajar," "Aku lupa, aku menghabiskan uangku saat istirahat tadi,". Berbeda dengan Yixing yang akan langsung bayar, tidak ada gunanya dia ikut kabur bersama Baekhyun sebenarnya, dia cuma ikut-ikutan,
"Kau melunasi tunggakan kas selama 1 bulan, wow." Teman sebangkunya, Jongdae, masih menatap terkejut pada Baekhyun yang duduk lesu di kursinya.
"Benar, tidak seperti semester kemarin, kau menunggunya sampai pengambilan buku nilai sekolah, maka kakakmu yang akan melunasinya." Di belakangnya, Jiwoo berucap sambil merapikan rambutnya pada cermin yang dipegangnya. Mari lupakan Yixing yang sedang mencotek catatan buku Jiwoo.
"Perutku sakit, aku sedang tidak mood melawan ocehan Kyungsoo," Baekhyun mengangkat kepalanya dengan malas. Tangan kirinya mengelus pelan perutnya. Yixing yang sedang sibuk menulis tiba-tiba menawarkan untuk menemani Baekhyun ke UKS. Namun Baekhyun menolak dan memilih untuk pergi sendiri, dia meminta izin untuk tidak mengikuti satu jam pelajaran.
Setelah ke kamar mandi, Baekhyun berjalan ke UKS dengan bibirnya yang pucat dan keringat membasahi pelipisnya, walaupun perutnya tidak sesakit seperti tadi tapi rasanya masih belum siap jika ia ikut pelajaran sekarang.
..
..
Hujan turun secara tiba-tiba, padahal cuaca tadi sangat panas tapi ketika rintik air menyentuh kaca jendela kelas semua siswa sudah siap pulang dengan payung mereka.
Terutama Baekhyun yang sudah selesai mengantri di tempat penyimpanan payung milik siswa. Dia langsung ingin pulang ke rumah tapi Chanyeol mengiriminya pesan untuk menunggunya.
"Kau serius tidak ingin pulang denganku, Baekhyun?" Jiwoo kembali mengulang pertanyaan dan dibalas dengan gelengan yang sama pada Baekhyun. Jongdae dan Yixing sudah lebih dulu ke depan gerbang tepat di depan mobil antar jemput dari Jiwoo, mereka akan menumpang karena hujan yang sangat lebat.
"Baiklah aku duluan ya," Jiwoo membuka payung ungu miliknya dan berjalan ke luar gerbang sekolahnya. Baekhyun melirik tangga dan koridor sekolah secara bergantian berharap Chanyeol cepat sampai di lantai dasar.
"Baekhyun!" Chanyeol berjalan bersama Seulgi di sampingnya dari koridor kanan. Chanyeol mendekat pada Baekhyun dan menariknya menjauh dari Seulgi dan berbisik sesuatu.
"Tentu saja! Ayo kita pulang, Yeol!" Baekhyun dengan semangat membuka payungnya. Tapi sekali lagi Chanyeol berbisik dengan raut menyesalnya, namun kali ini Baekhyun menggeleng kuat sambil mengerutkan keningnya.
"Aku tidak mau, Chanyeol."
"Hanya sebentar, Baekhyun. Kau tidak kasihan padanya? Dia sakit." Kini Chanyeol tidak berbisik lagi melainkan berbicara secara terang-terangan di depan wajahnya.
"Tapi..."
"Kumohon."
"Baiklah, tapi kau harus berjanji jika hujan masih turun jemput aku ya," Baekhyun menyerahkan payung birunya pada Chanyeol.
"Tentu saja, terima kasih Baekhyun." Chanyeol tersenyum pada Baekhyun dengan lembut kemudian tangannya mengajak Seulgi untuk mendekat. Mereka mulai meninggalkan sekolah, meninggalkan Baekhyun.
..
..
Chanyeol bangun dengan mata masih mengantuknya, dilihatnya jam sudah menunjukkan pukul 7 malam. Seketika matanya langsung melebar dan teringat Baekhyun yang masih ada di sekolah. Kalimat kasar keluar dari mulutnya dan ia langsung mengambil jaketnya yang tersampir pada meja nakas.
"Chanyeol kau mau ke mana?" Seulgi keluar dari arah dapur dengan dua gelas minuman hangat.
"Baekhyun."
"Mungkin dia sudah pulang,"
"Aku pergi dulu," Seulgi hanya menggeleng kemudian.
Chanyeol merasa sangat bodoh, ingin rasanya menabrak diri dengan kereta yang melaju dengan kecepatan besar. Karena Seulgi memohon padanya untuk menunggunya sebentar dengan alasan bajunya basah dan dia akan menggantinya, karena hujan dan Chanyeol merasa sangat mengantuk diapun tertidur di ruang TV bahkan saat Seulgi selesai mandi.
Hujan sudah berhenti, dengan payung biru milik Baekhyun yang dibawanya, ternyata si pemilik payung itu sudah tidak ada di sekolah, penjaga sekolah mengatakan sudah tidak ada siapapun di dalam sekolah.
Berkali-kali Baekhyun dikirimi pesan dan ditelepon tapi tetap saja belum dapat balasan, akhirnya Chanyeol memutuskan ke rumah Baekhyun langsung,
Jika saja Baekhyun mengadu, Chanyeol akan merasa tidak enak hati pada Baekbeom. Namun beruntung ketika yang membuka pintu adalah Baekhyun dan berkata jika Baekbeom tidak akan pulang hari ini.
"Aku pulang dengan Sehun hyung." Baekhyun menundukkan kepalanya. Membuat Chanyeol merasa bersalah berkali lipat. Chanyeol memegang kedua pundak kecil sahabatnya.
"Maafkan aku, pukul aku jika kau mau." Chanyeol sedikit menunduk untuk menyamakan tingginya dengan tinggi Baekhyun, Chanyeol sudah siap ketika merasakan jari tangan Baekhyun berada di sela rambutnya. Chanyeol sudah sangat hapal, Baekhyun bukan orang yang suka meninju atau memukul saat kesal seperti pria kebanyakan, tapi Baekhyun akan mencubitnya keras-keras atau menjambak rambutnya.
Tapi dia tidak merasakan sakit, tiba-tiba dia merasakan kedua jemari tangan itu sudah berada di kedua telinganya. Jemari Baekhyun terasa hangat dan lembut saat melingkupi kedua telinganya. "Aku suka ini." suaranya sangat kecil, nyaris tidak terdengar.
Dia hanya memegang bagian yang paling disuka dari Chanyeol, biasanya Chanyeol melarangnya untuk memegang telinganya. Tapi baiklah Chanyeol mengizinkannya kali ini.
"Baekhyun... maafkan aku."
..
..
Baekhyun berdecih ketika menonton pertandingan basket yang diadakan di sekolahnya. Semua murid perempuan berteriak meneriakkan nama Chanyeol bahkan sampai ketika bola itu mencetak gol nama Chanyeol selalu di teriakkan.
Bahkan Jiwoo disampingnya sok asik dengan ikut-ikut meneriakki nama Chanyeol. Jongdae malah sibuk bermain game di hpnya dan Yixing yang hanya memperhatikan kakak kelas bermain dan ikut bertepuk tangan ketika yang lain melakukan hal serupa.
"Ahh~ Chanyeol oppa sangat tampan."
"Huh! Joonmyeon hyung lebih tampan." Baekhyun menimpali perkataan para wanita yang didengar telinganya.
"Chanyeol terlihat sangat seksi." Timpal yang lain.
"Jongin hyung yang pantas disebut begitu." Baekhyun semakin malas berada di tempat ini.
"Kenapa dia sangat sempurna bisa menguasai segala bidang olahraga dan juga pelajaran,"
"Haha... sempurna apanya?! Kenapa semua pernyataan yang diberikan para gadis ini sangat cocok untuk teman-temannya?! Si tiang itu, ada serangga saja takut! Kapan-kapan aku akan masuki kecoa di celana dalamnya biar semua gadis berisik itu tau kalau Chanyeol itu seperti banci!" Kembali Baekhyun menjawab sendiri. Jiwoo yang mendengarnya hanya menggeleng kecil.
"Baekhyun lihat! Chanyeol melambaikan tangan pada Seulgi!" Jiwoo menyenggol Baekhyun agar pria mungil itu melihatnya. Duh, sepertinya Baekhyun teringat kejadian payung dua hari lalu.
Chanyeol yang baru saja selesai bermain itu menghampiri Baekhyun dibangkui barisan penonton nomor tiga dari depan. Pria itu langsung disapa yang lain saat dia menaiki satu persatu. Baekhyun langsung melemparkan handuk kecil pada Chanyeol dengan wajah malasnya. "Kenapa kau tidak menitip minuman dan handuk bau ini pada Seulgi?"
"Ini tidak bau, dan Seulgi tidak bisa lama-lama di sini, lihat? Dia dipanggil Sunny ssaem untuk latihan pemotretannya." Chanyeol menatap lapar pada makanan yang ada dipangkuan Baekhyun. Makanan itu terlihat sangat enak berbentuk panjang yang ditusuk dengan dibaluri saus dan mayonaise di atasnya. Chanyeol langsung mengambilnya satu tusuk saat Baekhyun sedang melihat ke arah lain.
"Ini kue udang, bodoh!" Menyadarinya Baekhyun langsung menepuk tangan Chanyeol keras-keras membuat makanan itu terjatuh, Chanyeol menganga tidak percaya melihat makanannya jatuh. Lihat semua fans Chanyeol langsung berbisik membicarakan Baekhyun.
"Aku hanya akan memakannya sedikit!" Chanyeol baru akan mengambil yang baru namun Baekhyun lebih cepat dan langsung memasukkan makanan itu ke mulutnya dan satu tusuknya lagi diberikan pada Yixing.
..
..
Lagi-lagi hujan turun.
Walaupun sudah banyak yang pulang, tapi Baekhyun memilih untuk masuk ke dalam perpustakaan daripada pulang ke rumah dengan hujan-hujanan. Dia memilih mencatat beberapa materi yang sulit dengan beberapa tumpuk buku yang dipilihnya.
"Hey, Baekhyun." Sapaan manisnya itu tidak membuat Baekhyun mengalihkan pandangan dari bukunya. Dari suaranya saja Baekhyun tau itu adalah Seulgi.
"Mengapa belum pulang?" Kini Seulgi mengambil duduk di kursi yang berhadapan dengan Baekhyun.
"Tidak baik mengabaikan kakak kelasmu."
"Aku malas pulang, payungku sudah kotor, bau dan jelek karena kemarin dipakai olehmu." Baekhyun tetap enggan menatap Seulgi.
"Apa?!"
"Bisakah kau tidak mengangguku? Dan berhenti berbangga diri seakan Chanyeol mengejarmu, dia tidak butuh dirimu, kau yang membutuhkannya benarkan?" Sekarang Baekhyun berani menatap remeh pada Seulgi. Namun wanita cantik itu hanya memutar bola mata malas enggan menjawab.
"Jika tidak karena Chanyeol kau tidak akan seterkenal sekarang di kalangan siswa."
"Semua orang tau kalau Chanyeol yang masih saja berusaha untuk mendapatkan cintaku." Seulgi memainkan ujung rambutnya menatap remeh Baekhyun.
"Jangan pede,"
"Wooww, kau siapa? Keluarga Chanyeol? Kau bahkan sering dianggap parasit oleh penggemarku dan Chanyeol, karena kau sok akrab dengannya."
"Lalu jika Chanyeol benar menyatakan perasaannya padamu, mana buktinya? Kalian saja tidak pacaran." Kini niat Baekhyun untuk mencatat materi pupus sudah.
"Tentu saja aku akan berpacaran dengannya segera, ini hanya masalah waktu." Seulgi mengambil pulpen dari tangan Baekhyun dan memainkannya di depan wajah adik kelasnya itu.
"Kembalikan padaku." Baekhyun berusaha mengambil pulpennya tapi suara sobekan kertas yang malah terdengar.
"Oh tidak! Kau merobek bukuku, Baekhyun!" Seulgi melempar pulpen Baekhyun asal. Dia berlari pada bukunya yang sobek dan menyatukan sobekan itu seakan dapat bersatu kembali.
Suara langkah kaki terdengar mendekat ke arah ruang perpustakaan.
"Aku akan mengumpulkannya lusa, kenapa kau jahat padaku? Katakan apa yang kau inginkan hah?" Seulgi menangis tiba-tiba.
"Kenapa kau tiba-tiba begini?! Bangunlah!" Baekhyun menunduk melihat wanita itu yang menangis terjongkok.
"Baiklah, maafkan aku, aku akan menjauhi Chanyeol." Seulgi meninggikan volume suaranya.
"Byun Baekhyun!" Keduanya menoleh secara bersamaan, di dekat pintu Chanyeol terlihat dengan kening berkerutnya.
"Chanyeol..." Baekhyun bergumam pelan. Seulgi mengelap air matanya dan membereskan bukunya dengan terburu.
"Seulgi?" Chanyeol menghampiri Seulgi dan membantu wanita itu. "Baekhyun menyakitimu?" Tanya Chanyeol memegang pundak bergetarnya. Namun Seulgi hanya menggeleng.
"Aku hanya menyapanya tadi, mungkin Baekhyun sedang sangat sibuk jadi dia tidak mau diganggu. Kemudian aku mengajaknya untuk pulang bersama kita, tapi dia malah merobek bukuku."
"Ck, drama apa ini... Chanyeol ini settingan sialan yang dibuatnya. Dia..." Ucapan Baekhyun terpotong.
"Kau tak apa kan?" Seulgi menggeleng pelan. "Jawab jujur, aku mendengar semua tadi," Kembali suara Chanyeol melembut, akhirnya Seulgi mengangguk pelan dan menjatuhkan dirinya dalam pelukan Chanyeol.
"Chanyeol kau tau kan aku tidak mungkin begitu..." Baekhyun berusaha berbicara santai, dia ingin mengatakan sesuatu dan memberi penjelasan. Tapi melihat Seulgi dalam pelukan Chanyeol membuatnya urung,
"Pulanglah Baekhyun, sudah tidak hujan." Chanyeol enggan berbalik untuk bertatap mata dengan Baekhyun. Dengan langkah pelan Baekhyun keluar dari ruang perpustakaan yang sudah sepi itu.
..
..
Baekbeom meletakkan susu di atas nakas dekat kasur milik adiknya. Dia menyibak selimut yang menenggelamkan seluruh tubuh mungil adik kandungnya itu. Telapak tangan besarnya memegang kening itu untuk memastikan kondisi tubuhnya.
"Aku tidak sakit hyung." Baekhyun kembali menarik selimut dan membalik tubuhnya.
"Chanyeol ada di bawah tadinya hyung pikir Baekhyun sudah tidur untung saja hyung belum menyuruhnya pulang. Bagaimana? Chanyeol boleh masuk?"
Baekhyun terdiam sebentar namun akhirnya ia membolehkan Chanyeol masuk, dia tidak ingin Baekbeom banyak bertanya nantinya. Itu malah akan lebih menyulitkan.
Chanyeol masuk kemudian setelah pintu terketuk pelan,dia terkejut saat wajah Baekhyun pertama kalilah yang dilihat. Dia tersenyum lebar dan menyapanya.
"Baekhyun aku ingin mengembalikan pulpenmu."
"Terimakasih. Ngomong-ngomong Chanyeol mau ke mana?" Ia mengungkapkan rasa penasarannya setelah melihat style Chanyeol yang super keren baginya.
"Membantu Seulgi menyalin ulang tugasnya."
"Chanyeol sangat keren." Mendengar nama itu disebut Baekhyun langsung mengalihkan topik, kemudian memeluk lengan Chanyeol dan menggesek pipinya pada lengan itu. Matanya menatap Chanyeol dengan pandangan imut. Dia sangat terpesona dengan style Chanyeol malam ini. Padahal pria tinggi itu hanya menggunakan kaus abu-abu polos lengan panjang dan celana jeans hitamnya.
Melihat Baekhyun yang mulai dengan sifat manjanya Chanyeol hanya terkekeh kecil dan mengusak poni tipis si mungil.
"Aku tahu, aku keren. Ini sudah takdirku." Chanyeol tersenyum menggoda.
"Benar, takdir Chanyeol adalah keren dan jadi pacarku!" Baekhyun berjinjit untuk menggapai telinga Chanyeol, namun si empunya ikut berjinjit untuk menghalangi tangan Baekhyun menyentuh telinganya. Keduanya tertawa kecil kemudian.
"Baek, mintalah maaf pada Seulgi," Chanyeol berbicara dengan hati-hati kemudian setelah melihat jam di dalam kamar Baekhyun.
"Aku tidak bersalah,"
"Baekhyun..." Chanyeol kembali menghela nafas.
"Bisakah kau berhenti mencintainya?" Yang lebih muda menjauhkan dirinya.
"B-baek..." Baekhyun berjalan ke arah ranjangnya dan menutup dirinya dengan selimut.
"Keluar dari kamarku, ternyata benar kau tidak percaya padaku, aku tidak mengatakan itu pada Seulgi! Dia mengarang cerita." Suaranya tenggelam oleh kukungan selimutnya namun masih dapat terdengar oleh Chanyeol.
"Aku hanya menyuruhmu untuk minta maaf karena sudah merobek bukunya! Lihat, bahkan kau tidak mau bertanggung jawab. Aku sebagai sahabatmu menggantikan posisi tanggung jawabmu untuk membantu Seulgi mengulang tugasnya." Chanyeol mengambil langkah lebar keluar kamarnya. Baekhyun terdiam merasakan langkah kaki yang menjauh, hatinya terasa sakit, Chanyeol jadi marah padanya. Semua ini salahnya.
..
..
Dua minggu sudah berlalu, Baekhyun tidak lagi berbicara dengan Chanyeol atau Chanyeol yang akan mengiriminya pesan chat kalau di rumahnya ada serangga. Setiap hari Baekhyun melihat Chanyeol yang selalu jalan bersama Seulgi dan kabarnya mereka tengah berkencan sekarang. Dia mendengarnya dari Jiwoo si penggosip akut.
Hanya tinggal menghitung bulan Chanyeol akan lulus dan akan ikut suneung. Baekhyun berdoa agar hari berjalan cepat dan dia tidak mendengar ataupun melihat Chanyeol lagi di sekolah ini. Fotonya ada di mana-mana di setiap mading, di struktur organisasi siswa sekolah tahun lalupun masih belum dicopot. Foto dia memenangkan penghargaan dan olimpiade sejak kelas 10 juga masih terpajang di mana-mana. Begitu juga Seulgi yang sering menjadi model dalam promosi pendaftaran siswa baru.
Baekhyun menghabiskan waktunya bermain dengan Jongdae, Yixing dan perempuan dengan wajah sombongnya—Jiwoo—yang sialnya adalah temannya.
Baekhyun tidak bisa berbohong kalau dia menaruh rindu pada Chanyeolnya. Dia ingin berada bersama Chanyeol sebagai seorang adik kelas dan teman yang menyemangatinya untuk Suneung. Seratus hari sebelum Suneung sudah banyak sekali ucapan semangat dari adik kelas untuk kakak kelasnya yang akan mengikuti ujian masuk perguruan tinggi itu. Beberapa memberikan coklat dan hadiah kecil seperti gantungan kunci dengan notes penyemangat.
Baekhyun memberikan kartu penyemangat 100 hari sebelum suneung untuk Sehun, Jongin dan Joonmyeon. Mereka merupakan teman dekat Chanyeol.
"Bagaimana jika aku mentraktir kalian? Aku ingin makan ayam dan cola yang banyak," Ajak Suho kepada Baekhyun dan yang lain, kecuali Chanyeol—dia tidak di sana.
"Wah, ingin pesta duluan, begitu?" Goda Jongin.
"Hey, Suho kita ini ingin mengambil kuliah di luar kota, tidak apa dia harus sering-sering mentraktir kita makan. Baekhyun juga senang kan?" Sehun merangkul pundak Baekhyun sambil tersenyum.
"Apa kami diajak, hyung?" Yang Jongdae maksud sudah termasuk Yixing dan Jiwoo.
"Tentu saja," Joonmyeon tersenyum.
"Wah keren, aku akan mendoakan hyung agar mendapat hasil suneung yang terbaik!" Yixing memberi tepuk tangan.
"Aku sangat menyesal tidak memenuhi undangan, tapi Somin mengajakku lebih dulu untuk menonton." Jiwoo menunjukkan wajah menyesalnya. Mereka mengangguk setuju dan memakluminya.
Baekhyun sebenarnya sangat bersyukur karena Chanyeol tidak ada dalam perkumpulan kali ini. Tapi dia bertanya-tanya dalam hati kemana Chanyeol. Apa dia sedang bersama Seulgi atau ada di rumah. Sehun yang sangat peka karena Baekhyun terdiam dari tadi langsung saja menggoda anak itu dengan membawa nama Chanyeol.
"Dia akan datang Baekhyun, tenang saja."
"Apa?" Tentu saja Baekhyun terkejut.
"Sedikit terlambat memang. Tapi dia berjanji akan datang." Timpal Jongin.
"Bolehkah aku pulang lebih dulu?"
"Hey, kenapa buru-buru?" Jongdae berucap dengan mulut penuhnya pada Baekhyun.
"Aku..."
"Maaf aku telat." Baru saja akan meninggalkan tempat duduk, tapi Chanyeol sudah duduk tepat di kursi depannya. Dan akhirnya Baekhyun hanya bisa mengikuti alur pembicaraan tanpa leluasa berbicara.
..
..
Baekhyun merasa sangat sial, karena dia akan pergi ke rumah Chanyeol hari ini. Sehun menyuruhnya untuk mengantar setumpuk kertas berisikan materi untuk kelas 12, tentu Baekhyun sudah menolak namun Sehun punya alasan lebih kuat kenapa dia tidak bisa mengantarnya sekarang. Hari ini mereka bilang Chanyeol absen tanpa keterangan, Baekhyun mencibir mendengar itu karena dia pikir Chanyeol sibuk pacaran padahal dia akan ujian.
Namun ternyata Baekhyun salah besar, Chanyeol terbaring sakit di atas kasurnya. Badannya menggigil dengan bibir pucat. Rumah Chanyeol seperti biasa sangat sepi. Pantas orang tuanya tidak menelepon sekolah untuk memberi tahu kalau anaknya sakit. Mereka berada di luar kota.
Baekhyun merasa ingin menangis melihat Chanyeol yang biasanya selalu keren akhirnya hanya bisa terbaring sekarang. Namun mengingat sedang marahan dengan Chanyeol, Baekhyun urung untuk kasihan.
Baekhyun sudah memberi saran Chanyeol untuk ke rumah sakit, dia akan mengantarnya. Tapi Chanyeol menolaknya. Mau tidak mau Baekhyun membuatkan teh hangat, kemudian merendam handuk kecil dalam baskom berisikan air hangat.
"Kau ini sakit kenapa, bodoh?" Tangan kecilnya memeras handuk kecil kemudian menutupi kening sahabatnya yang sakit itu.
"Kau tahu aku belajar sangat keras."
"Untuk apa? Untuk Suneung? Tidak belajarpun kau akan mendapatkan universitas yang kau mau manapun itu." Chanyeol memilih tidak merespon karena Baekhyun pasti akan lebih cerewet jika dia menjawabnya.
"Biar aku hubungi Seulgi sebentar dia tidak tahukan kalau kau sakit?" Gerakannya dihentikan Chanyeol saat ingin mengambil ponselnya.
"Tidak usah, Baek. Aku mau kau yang menemaniku."
"Eh?"
"Soal yang waktu itu, aku minta maaf. Maaf membentakmu." Hatinya seperti dibanting kembali mengingat semua itu. Mungkin ini saat yang pas untuk menceritakan yang sebenarnya, tapi Baekhyun pikir semua itu tidak akan berguna. Untuk apa dia menceritakan yang sebenarnya? Apa Chanyeol akan menjadikan pacarnya kemudian? Tidak kan?
"Iya Chanyeol, a-aku menyesal, aku minta maaf dan akan minta maaf pada Seulgi nanti." Baekhyun memejamkan mata saat mengucapkan kalimat itu. Hatinya perih mengucapkan maaf namun sebenarnya bukan dia pihak yang salah di sini.
"Baekhyun! Uwooo!" Chanyeol terlonjak dari kasurnya mengageti Baekhyun. Pria bertubuh tinggi itu melempar jauh selimutnya ke arah jendela dibarengi gerakan tangan seolah dia merinding.
"Lihat itu!" Chanyeol semakin merapatkan dirinya pada dinding dengan wajahnya yang melihat ngeri ke arah sesuatu yang keluar dari selimut putihnya yang kini berjalan di lantai.
"Itu cuma laba-laba!" Baekhyun balas berteriak.
"Tapi ukurannya cukup besar."
"Chanyeol—"
"Cepat buang itu, Baekhyun." Chanyeol berlari kecil menuruni tangga meninggalkan kamarnya. "Ah jangan lupa tolong masukan selimut itu ke dalam bak kotor ya." Ucapnya di tengah anak tangga. Baekhyun rasanya ingin sekali merekam ini dan membagikannya di grup sekolah agar semuanya tahu bagaimana sifat asli idola yang mereka banggakan.
"Kau sudah sembuh, yeol?" Baekhyun meninggikan suaranya agar Chanyeol bisa mendengarnya. Sambil membereskan kekacauan yang terjadi di kamar sahabatnya.
"Oh yaampun kepalaku rasanya sakit sekali, aaakk! Oh ya tuhan..."
...
...
...
To Be Continue
#Ini bakal panjang banget, tp penting:( please read just a minute.
Oke sebelumnya di sini aku lagi-lagi mau minta maaf karena kesalahan yang aku buat sendiri. Hehe... makasih ya kemarin udah banyak banget yang ngasih review bingung(?) gatau kesel atau marah karena status ff ini complete aduh malu banget deh XD itu ga sengaja kepencet asli, ff ini masih in-progress kok. Seperti biasanya kalo ff aku udah complete aku bakal kasih tulisan [END] di summary, dan di akhir chapter ok? Jadi sekali lagi maap kalo udah bikin kesel. *Dikeroyok*
Untuk tokoh yang namanya Jiwoo di atas aku pake Jeon Jiwoo KARD oce? Ga ngerti si kenapa make dia buat jadi temennya Baekhyun, kalo selfie jarang senyum, muka judes, sombong, belagu, bodo amatannya itu loh yang aku pengen dia jadiin temen Baekhyun yang tipe cowok gemesin tapi loyo(?)—kalo di ff biasanya si—yaa pokoknya Jiwoo mau aku bikin agak tomboy tp tetep cewek sifatnya. ADU APASI AH KATA-KATANYA YANG BENER?
..
Sekali lagi aku kasih tau kalo aku ini emang suka susah buat ngasih judul, aku cuma nulis apa yang ada di otak, termasuk ide cerita yang tiba-tiba muncul gitu aja entah saat lagi liat fanart ChanBaek, dengerin lagu eqso/bb gb lain, lagi di luar, lagi bengong atau gimanapun langsung aku catet ide-ide yang tiba-tiba mampir di notes hp. Jadi kayanya judul sama isi fanfict ini bakalan kaya ga nyambung, tapi kalo menurutku si ada nyambungnya dikit(?). Judul fanfict aku buat asal gara-gara denger lagu yang udah lama gak aku dengerin dan jadoel menurutku : The Light yang nyanyi Girlband The Ark, iya iya yang udah bubar itu:)) pasti udah banyak yang tau lagu ini.
"You fill this empty space." nah pas bagian dinyanyiin sama Yujin (kalo gak salah) pas banget aku lagi mikirin judul dan mau update chapter satu waktu itu, so..yea..
Readers b lyk : "WOY, niat gak se lu bikin?!" - batal folo favorit. #aqkuad
#SalamShimkoongChanbaek ^o^
