[Bagian 1]

ai-same-CRIER~~

aibu-save-LIAR~~

Eid-sei-Rising HELL~~

aishiteru Game sekai no DAY~

Don't-sei-War~~ Lie-heishi-War-World~~

Eyes-Hate-War~~

A-Z Looser-Krankheit-Was IS das?~~

Lantunan musik pagi terdengar dari pemutar musik yang kusetel untuk menemani pagiku. Dengan gerakan pelan, sesekali aku membalik telur yang kugoreng di atas wajan. Aku menyiapkan sarapan pagi ini di jam 6 dimana aku tak pergi ke kamar depan dimana Asia tidur untuk membangunkan-nya. Dia pasti masih tertidur pulas saat ini. Lagipula dia baru saja hampir mengalami hal berat kan kemarin.

Bicara tentang itu, kemarin aku menjelaskan sejelas-jelasnya pada Asia, bahwa dia mungkin telah dikeluarkan secara halus dari gereja. Lalu dia dipindah kemari tanpa tahu bahwa gereja yang ada di alamat surat miliknya itu sekarang menjadi basis malaikat jatuh yang ada. Seandainya dia tak bertemu denganku, dia tentu saja akan dimanfaatkan bahkan kemungkinan yang ada dia akan dibunuh jika aku tak bilang ini padanya.

Aku juga menjelaskan bahwa aku juga pemilik salah satu dari sacred gear tanpa memberitahunya sacred gear apa yang aku miliki. Jadi aku tahu semua ini, lalu aku kemudian menawarkan tempat tinggal padanya karena dia tidak punya lagi tempat untuk dituju. Bahkan aku menawarkan untuk mengadopsinya yang dia terima dengan sangat senang hati. Ah… akhirnya aku punya adik perempuan juga.

Sesudah menjelaskan apa yang harus kujelaskan dan menawarkan adopsi yang kemudian dia terima, aku kemudian menjelaskan tentang kota ini yang merupakan teritori Shinto yang dipinjam oleh pihak iblis. Jadi ada kemungkinan jika dia tinggal denganku di kota ini dan bertemu iblis, dia akan diincar untuk dijadikan peerage. Aku tak mau hal itu terjadi, jadi aku menempelkan rune sihir yang menyembunyikan aura sacred gear miliknya hingga dia hanya punya aura manusia saja. Dengan begitu, dia nantinya bisa hidup normal sejenak. Oh ya… aku juga memperingatkan dirinya agar tak menggunakan sacred gear miliknya dalam keadaan apapun tanpa sepengetahuan diriku dan dia menyetujuinya. Selain rune sihir yang membuatnya hanya memiliki aura manusia, aku juga menempelkan rune sihir bahasa agar dia paham apa yang diucapkan oleh orang jepang dan bisa berkomunikasi dengan lancar sekarang.

"Kau selalu memutar lagu ini, Naruto…"

'Ini lagu yang keren tahu! Walau anime-nya kurasa ending-nya sangat menyesakkan!'

"Ah… Anime dari lagu ini benar-benar penuh kebohongan. Sangat tak menyenangkan melihat Slaine terus dibully"

'Kita membahas Aldnoah Zero sekarang? Aku senang dengan pertarungan robotnya saja walau kupikir anime itu belumlah bisa sekelas dengan anime gundam'

"Yeah… Kau kan memang maniak gundam. Bahkan kau meng-alter bentuk armor dari boosted gear menjadi salah satu gabungan dari bentuk mecha itu."

'Tapi keren kan?! Bahkan kau mengakuinya. Lagipula desain armor boosted gear sudah terlalu mainstream jadi kenapa tak mengubahnya sekaligus meningkatkan kekuatannya? Lagipula bentuk awal boosted gear armor scale mail masih bisa kupakai sebagai ciri khas dirimu Draig.'

"...Boosted gear scale mail mutasi yang kau buat dari mengubah bentuk asli armor itu merupakan perubahan besar-besaran pada boosted gear itu sendiri, kekuatannya bahkan lebih kuat dari armor awal bahkan setara Juggernaut Drive. Astaga, aku bahkan tak tahu lagi harus bilang apa tentang Juggernaut Drive yang juga kau ubah…"

'Hehehehe… kau bisa menyebutku jenius bukan karena berhasil mengubah hal yang mainstream? Lagipula itu menjadi kartu As yang kita miliki kalau kita mau bertahan di dunia abu-abu itu.'

"Jenius?! Kau lebih dari jenius bodoh! Kartu As itu yang membuat kita masuk dalam jajaran 10 makhluk terkuat di dunia kalau sekarang kau langsung muncul dan membuat kekacauan… Ohh… aku bisa melihat wajah kesal Albion jika dia tahu host-ku ini merupakan sekiryutei terkuat saat ini. Dia pasti akan bertambah kesal nanti saat aku berkata bahwa aku tak lagi terikat dalam sistem sacred gear. Hahahahahaha…"

'Oh…, yeah? Well… aku tak tahu itu… Dan berhentilah tertawa seperti itu, host Albion juga kuat tahu!'

"Khuh! Tapi kau masih lebih kuat dan pintar darinya, Naruto… Jika tidak, kau tak akan bisa meng-alter juga rangkaian sacred gear yang ada yang dibuat oleh Kami-sama hingga aku bebas dari belenggu. Dengan begini, aku tak akan terlahir kembali sebagai sacred gear jika kau mati. Akhirnya jiwaku bisa tenang nanti… Host dari Albion walau dia pintar dan maniak bertarung, dia masih belum sebaik dirimu."

'Yeah itu benar juga sih… Maka dari itu, nikmati saja petualangan terakhirmu ini bersamaku...'

Kutaruh telur yang tadi kugoreng ke atas piring, dengan cekatan pula, aku kemudian menyusun sarapan pagi ini yang terdiri dari telur mata sapi goreng, segelas susu, potongan daging asap dan buah-buahan segar.

Saat sedang asyik melakukan kegiatanku, tiba-tiba dimensi ruang yang ada kemudian terdistorsi di samping kanan dan sebuah portal hitam tercipta di sana lalu sesosok figur tampak berjalan keluar.

Perawakan seorang gadis berumur 16 tahun padahal umurnya sudah, ah…. Aku tak mau membahas umur gadis, dengan rambut hitam panjang yang seumuran denganku keluar dari sana. Mengenakan pakaian gothic Lolita hitam yang dihiasi bando berenda membuat tampilannya terlihat sangat manis sekali.

Melihat kedatangan-nya yang selalu tiba-tiba seperti ini membuatku tersenyum.

"Hey,... Ophis…" aku menyapanya. Dia hanya tersenyum lalu mengambil tempat duduk di meja makan. Aku kemudian kembali ke dapur untuk menyiapkan makanan untuk-nya. "Jadi… hanya sekedar mampir sarapan atau ingin bicara sesuatu?"

"Semuanya…." dia menjawab sambil meminum coklat panas yang kuhidangkan untuknya. Dia memberikan desahan puas sambil memegang pipi yang membuatnya tambah manis. "Aku juga sedang butuh teman bicara sekarang, Naruto…"

"Tentang apa? Tentang organisasi yang kau buat? Mereka mengacau lagi?"

"Lebih tepatnya seperti itu, tapi aku kini tak memperdulikan mereka." tukasnya. "Bagaimana kabarmu?"

"Umu… kabarku baik…" jawabku dengan meletakkan sepiring brownies coklat yang kuambil dari kulkas ke hadapan Ophis. Ngomong-ngomong, brownies ini bahkan kubuat sendiri dan Ophis sangat suka dengan brownies buatanku.

Ophis adalah seorang dewi naga. Lebih tepatnya dewi naga tak terbatas yang ditakuti oleh tiga fraksi. Aku bertemu dengannya pertama kali ketika umurku tiga belas tahun. Dia menemukanku yang memang bersembunyi dari dunia supernatural yang saat itu masih belajar pada Draig tentang segalanya di dunia supernatural dan masih juga belajar tentang menggunakan kekuatan Draig. Satu-satunya eksistensi supernatural yang tahu tentangku ya hanya Ophis. Lagipula Ophis juga merupakan sumber kabar bagiku tentang dunia supernatural yang sekarang ini berjalan. Oh ya, darinya pula aku tahu tentang rival Draig, Albion yang sekarang berada di tubuh pemuda setengah iblis.

Pertemuan pertama kami lebih berakhir ke sesuatu yang sangat mengerikan. Aku tak ingin membahas-nya lebih lanjut karena saat pertemuan itu, Ophis sangatlah pemaksa dengan wajah datarnya. Pertemuan pertama kami membuatku harus berputar otak untuk bisa lolos darinya.

Dia memang benar-benar pantas menyandang gelar dewi naga. Aku mengakui betul hal itu.

"Kau kalah telak saat itu jika seandainya kau teruskan bertarung. Untung kau berpikir jernih dan lebih memilih kabur."

'Well…. Aku masih labil saat itu….'

Dan setelah itu, dia terus menerus mengejarku. Tak peduli bagaimana aku bersembunyi, dia selalu berhasil menemukanku. Karena jengah, aku pun membuat taruhan dengannya. Aku membuat taruhan jika aku bisa membuatnya lupa akan tujuannya untuk menendang bokong naga merah besar perenang celah dimensi keluar, maka dia harus berhenti memaksaku masuk ke organisasi bodoh yang dia buat. Singkat cerita aku berhasil, dan dia kini bukannya malah menjauh malah semakin dekat karena aku menjadi salah satu teman terbaiknya dan aku berhasil mengenalkan emosi ke wajah datarnya. Ngomong-ngomong, wujud Ophis yang dia pakai sekarang adalah wujud aslinya. Apa? Apa kalian berpikir Ophis itu tak bergender? Dia itu naga bergender perempuan. Cuma dia tak suka menampilkan bentuk aslinya. Makanya dia sering berubah bentuk hingga dunia supernatural mengenalnya sebagai naga tanpa gender. Bahkan Draig baru tahu hal itu ketika aku menjadi host baginya.

"Dan cuma kau satu-satunya pemuda sinting yang bisa melakukannya kepada dewi naga."

'Oh..shut up, Draig! Bukankah dengan begini Ophis jadi lebih baik…'

"Lebih baik dalam artian dia sekarang nempel sekali padamu…" aku bisa merasakan Draig tengah bersweat drop kepadaku. "…Aku masih tak percaya melihat wujud Ophis yang seperti ini lengkap dengan sikapnya sekarang. Ini benar-benar suatu keajaiban."

'Dia hanya menunjukkan wujud asli ini saat bersamaku saja, Draig. Saat dia ada di organisasi bodoh miliknya, dia kembali memakai wujud anak kecil.'

"Kau berbincang lagi dengan Draig, Naruto?" ujar Ophis membuyarkan pembicaraanku dengan Draig. Aku tersenyum kepadanya dan mengangguk pelan.

"Yap!... Dan dia titip salam padamu." aku kemudian duduk didepannya. "Oh ya… ngomong-ngomong aku punya adik lho sekarang…"

"Eh?!... Apa maksudmu?"

"Aku baru saja mengadopsi seorang adik baru." aku berujar kepadanya. "Dia seorang pengguna sacred gear yang dikeluarkan secara halus dari gereja di Italia karena menyembuhkan seorang iblis. Pemilik sacred gear Twilight Healing…"

"Lalu bagaimana dia bisa kau angkat jadi adik?"

"Dia kemarin datang ke kota ini. Aku berpapasan dengannya secara tak sengaja dan dia menanyakan alamat gereja tempatnya pindah yang ternyata jadi basis malaikat jatuh dan exorcist buangan. Karena takut dia dimanfaatkan atau bahkan dibunuh, aku akhirnya menjelaskan padanya. Lalu, karena dia tak punya lagi tempar tinggal, aku akhirnya menawarkan tempatku kepadanya sekaligus mengadopsi dirinya. Sungguh keterlaluan kan gadis manis polos seperti dia nanti hidup dijalanan atau dikejar iblis untuk dijadikan budak…" ujarku menjelaskan kepadanya. "Jadi… bagaimana? Apa yang ingin kau bicarakan?"

Dia tak langsung menjawab padaku melainkan mengambil garpu dan mengiris kecil brownies coklat yang kusajikan dengan garpu tersebut dan memakannya.

"Aka ada perubahan besar-besaran di dunia supernatural nanti, Naruto. Organisasi-ku sudah mulai bergerak."

"Mereka berniat memulai membuat kekacauan secara terang-terangan sekarang?" aku berujar sambil menyesap susu di gelas.

"Ya itu benar. Dan yang berdiri di belakang merancang ini semua adalah Rizevim Livan Lucifer, anak dari Lucifer yang asli. Dia bahkan berniat pula untuk memanfaatkan diriku. Untung saja aku bukan lagi naga tanpa emosi dan tak bisa berpikir."

"Well… berarti ini kabar buruk ya? Memang apa agenda mereka?"

"Aku tak tahu pasti agenda mereka seperti apa, Rizevim sangat pintar menyembunyikan rencana miliknya. Untuk berjaga, aku mengirimkan satu clone milikku yang menggantikan peranku sebagai pemimpin di sana. Jadi Rizevim tak akan curiga aku pergi dan lolos dari pandangan matanya."

"Itu cara yang sangat cerdik, Ophis." aku memuji gadis manis di depanku. Atau harus kubilang naga manis? "Lalu langkah selanjutnya apa yang akan kau lakukan?"

"Aku akan mengamati dahulu dari balik layar di celah dimensi. Aku sudah tak peduli lagi dengan Great Red di dalamnya." Jawabnya sambil sesekali memakan brownies miliknya. Garpu makan dia acungkan kini ke arahku. "Jadi kapan kau akan masuk ke dunia supernatural ini? Kau tahu bukan kau tak akan bisa sembunyi terus-terusan."

"Aku sudah masuk dan memulai debutku." aku menjawab dengan sedikit tertawa. "Debutku yang pertama adalah membantai para exorcist buangan dan satu dari empat malaikat jatuh yang ada di gereja yang mau berbuat buruk pada adik baruku."

"Lalu yang tiga malaikat jatuh?"

"Ah mereka kabur, atau pergi atau apalah itu namanya." aku menjawab dengan mengangkat bahu. "Tapi mereka pasti akan mulai menyelidiki diriku kok sekarang. Untung saja aku pakai penyamaran."

"Lalu sekarang apa rencanamu?"

"Tak ada." jawabku yang membuat alis Ophis naik. "Untuk sekarang tak ada rencana apapun. Aku hanya akan melihat bagaimana masalah datang kepadaku lalu seperti biasa mencoba menyelesaikannya dengan segera. Lagipula aku merasa ada perputaran masalah di kota ini nantinya. Mungkin akan melibatkan para iblis di kota ini."

"Sepertinya kau tahu akan sesuatu, Naruto…." balas Ophis lagi. "Kau tak mungkin tak membuat rencana akan sesuatu. Aku sudah lama kenal denganmu dan tahu sifatmu. Kau terkadang sangat menakutkan jika otakmu itu sudah berpikir." Suapan brownies dia masukkan lagi ke mulut. "Jika tidak, kau tak akan mungkin pernah bisa kabur dariku dulu jika kau tak menipuku habis-habisan."

"Eh?! Terima kasih pujiannya, Ophis" aku menjawab dengan riang yang hanya dibalas dengusan kecil olehnya. Dia kemudian melanjutkan memakan brownies miliknya dan aku meminum susu milikku.

Drap...drap...drap

Suara langkah kaki membuat aku dan Ophis menoleh. Lalu kulihat di sana Asia sudah keluar dari kamarnya dengan pakaian pijama miliknya. Dia tampak imut disana.

"Ohayo, Asia…" aku menyapanya senang. "Kau sudah bangun? Bagaimana tidurmu?"

"Umu… Tidurku nyenyak, Naruto-san…"

"Kemarilah…" aku memberikan gestur untukknya duduk di meja makan. "Aku sudah membuatkan sarapan untukmu. Makanlah selagi belum terlalu dingin. Dan panggil aku Oni-chan oke. Aku kakakmu sekarang."

"...Ummu…. O-oke Oni-chan…"

Gakh! Mayday! Mayday! Serangan imut terdeteksi. Kesadaran akan reboot dalam beberapa detik. Butuh bantuan medis segera!

"Kau terlalu berlebihan, Naruto…"

'Fuck off!… Jangan salahkan aku, salahkan dia yang membuat suara imut sertai pose gadis polos yang sangat kawai tersebut!'

Asia menuruti ucapanku dan duduk di sana. Terlihat dia masih canggung yang membuatku tersenyum setelah tersadar kemudian dari delusi yang kualami. "Oh ya… Ini Alena." aku memberikan gestur tangan memperkenalkan Ophis kepada Asia sambil memandang ke arah Ophis untuk ikut bermain dalam ucapanku, dimana dia menaikkan lagi satu alisnya. "Dia teman baik-ku dan terkadang dia sering datang kemari."

"U-uhm…, salam kenal, Alena-san" Asia menyapa Ophis. "Perkenalkan namaku, Asia Argento." Asia kemudian membungkukkan sedikit tubuhnya.

"Namaku Alena… hanya Alena saja." jawab datar Ophis. Aku hanya bisa bersweat drop ria mendengar nada datar Ophis. Dia selalu bersikap datar jika kepada orang baru.

"Kau tak perlu sedatar itu, Ophis…"

"Hmph! Dia belum kunilai layak atau tidak menjadi adikmu, Naruto…" dengus Ophis. "Aku tak mau punya ipar yang lemah nanti…"

"Huh?! Apa maksudmu?" aku bertanya dengan wajah WTF (what the fuck!)

"Tak usah kau pikirkan… pikiranmu masih jelek kalau urusan beginian, Naruto" ujar Ophis sambil meminum coklat panas miliknya dengan tenang.

'Draig, apa maksud ucapan Ophis?'

"Kau akan tahu nanti saat pikiranmu dewasa soal ini. Sekarang belum saatnya…"

'Bahkan kau juga?!' aku menangis anime kemudian. 'Kenapa kalian selalu seperti ini jika ada kata yang tak aku pahami?!'

"A-ano…" panggil Asia kemudian. Wajahnya terlihat memerah sejenak. "Kau baik-baik saja O-ni-chan?"

Gakh! Dua serangan dalam waktu dekat! Double kill!

"Aku tak apa-apa, Asia" ujarku setelah aku bisa menguasai dariku kembali. Tapi benar, serangan dari Asia memang sangat mengerikan tadi. "Makanlah. Aku menyiapkan ini untukmu." ujarku lagi. "Dan abaikan Alena. Dia menikmati makan brownies sekarang…."

"B-baiklah, Oni-chan…" Asia mulai memakan makanan miliknya.

Fuck off! Triple kill! Batinku sambil memegang dada.

"Kau mendramatisir lagi, Naruto…"

"Oh, diam dan makan saja brownies mu lagi, Alena!"

"Kau dan delusimu tentang sister complex juga rasa narsismu seperti biasa sangat mengganggu, Naruto…"

"Diam! Aku bukan pecinta sis-con. Hanya seseorang yang over protektif karena punya adik sekarang!"

"Ya, ya, ya,...terserah padamu…"

"Oh…, Shut up, Ophis!" maki-ku sambil menggerutu pelan

"Hanya kau pemuda sinting yang satu-satunya berani memaki Ophis si dewi naga tak terbatas, Naruto…"

'Tidak kau juga, Draig!'

[Bagian 2]

Bagi para pengamat yang ada di luar, atau lebih tepatnya mereka yang sudah kenal dengan sikap dua gadis yang saling berhadapan ini, Rias Gremory dan Sona Sitri yang bermain catur tak ubahnya hanya sedang bermain permainan persahabatan saja.

Lebih tepatnya, di dalam beberapa kasus, permainan mereka saat ini tak ubahnya permainan masa kecil yang biasa mereka mainkan sebelum kemudian berubah dimana mereka saling memberikan glare terbaik mereka sebagai peringatan bahwa rivalitas mereka ikut campur aduk dalam permainan sederhana ini.

Itu bahkan terlihat lucu disaat mereka berdua merupakan…. (Ekhem!) pimpinan terhormat dari dua buah 'club' yang menyembunyikan aktifitas daripada iblis mereka dari dunia manusia.

Bahkan ketika masing-masing anggota peerage mereka hadir di ruangan milik Occult Research Club minus Hyoudou Issei yang menampakkan ekspresi geli di mata mereka ketika melihat dua raja mereka terlihat seperti anak-anak yang bermain dan bertengkar hanya karena tak ingin kalah satu sama lain.

"Jadi, Rias,..." Sona menggerakkan kuda miliknya, melakukan gerakan check yang membuat Rias harus memilih menyelamatkan raja atau membiarkan ratunya termakan oleh kuda Sona. "Bagaimana penelusuranmu di gereja tak terpakai tadi malam?"

Rias menggertakkan giginya ketika tahu gerakan Sona. Mau bagaimanapun, dia paham betul bahwa intelegensi Sona memang masih lebih baik daripada dirinya. Dia bahkan selalu kalah dalam hal bermain catur disini. "Aku tak tahu harus bilang apa ketika aku sampai disana, Sona." Rias menggerakkan bidak raja miliknya ke kotak hitam, membiarkan Sona melakukan gerakan memakan bidak ratu miliknya yang membuat Rias merasa kesal. "Yang kami temukan disana hanya kumpulan mayat-mayat para exorcist buangan yang sudah terlubangi bagian dada dengan lubang tersebut menimbulkan daging gosong seperti habis terbakar." Rias mendesah pelan. "Tak ada jejak siapa yang melakukan hal tersebut. Bahkan Koneko-chan yang kusuruh mencium jejak yang ada karena punya indra penciuman kuat tak bisa menemukan apapun. Seperti yang melakukannya itu adalah seseorang yang sangat profesional"

"Aku tak menemukan bau apapun selain bau mayat dan bau malaikat jatuh yang sudah jadi debu di ruang bawah tanah" Gadis berambut putih sebahu dengan jepit neko berbicara datar.

"Apapun itu, yang membunuh malaikat jatuh dan para exorcist buangan itu patut diwaspadai." ujar Sona kemudian menggerakkan bidak Ratu untuk melakukan gerakan checkmate yang membuat Rias kalah dalam permainan catur tersebut. "Harusnya kita yang datang membereskan mereka karena mereka telah masuk ke wilayah yang kita awasi tanpa izin. Aku hanya takut yang membunuh mereka adalah youkai yang dikirim untuk mengawasi kita dalam menjalankan tugas kita sebagai kompensasi kita bisa hidup di sini."

"Jangan khawatir, para youkai tak ada di kota Kuoh. Koneko-chan sudah memastikannya, Sona." Rias menjawab dengan tenang setelah rasa kesal akibat dia kalah lagi dari rivalnya dalam permainan catur.

"Jika begitu aku sudah tenang. Tapi ingat Rias, jangan pernah lagi membuat rencana yang melanggar apa yang disepakati oleh para Maou dengan mitologi Shinto tentang kota Kuoh." nada tegas Sona terdengar saat dia berucap. Kacamata miliknya sekilas terkena cahaya dari jendela yang menyebabkan mengkilap.

"Aku tahu, aku tahu!" ujar Rias kemudian. "Aku tak akan melakukannya lagi."

"Kuharap begitu…" Sona kemudian meminum teh yang disediakan oleh ratu Rias.

"So….." Rias juga meminum teh yang dibuat ratu-nya. "Sudah menemukan kandidat peerage yang cocok?"

Sona mendesah pelan saat ditanya hal tersebut. "None… sama sekali belum ada kandidat yang cocok. Kemungkinan yang akan kurekrut adalah Geshirou Saji, teman dari pawn baru-mu itu. Tapi dia masih kandidat cadangan…"

"Lalu bagaimana dengan siswa akademi yang selalu membuatmu kesal itu? Kau dulu berpikir dia punya potensi bukan sampai kau melarangku untuk mendekatinya."

"Dia hanya manusia normal, tak ada yang menarik. Mungkin hanya kepintarannya saja yang menonjol, lebih dari itu, Namikaze Naruto tak ada potensi apapun."

"Koneko bahkan sudah meng-cek siswa itu dan dia memang hanya manusia biasa saja" ujar Rias

"Lalu bagaimana dengan pertunanganmu dengan Riser, huh? Kau sudah dapat Hyoudou Issei yang merupakan pemilik sacred gear Rodius Absolut yang menyimpan armor dari ras Kirin. Kau tinggal mengasah kemampuannya saja bukan?"

"Meskipun aku tinggal mengasahnya, itu akan sangat sulit, Sona. Issei masihlah baru di dunia supernatural ini. Dan lagi Riser akan datang dalam minggu-minggu ini seperti yamg disampaikan Grayfia padaku." Rias berujar frustasi. "Aku harus segera mendapatkan bidak yang kuat lalu berlatih agar aku bisa menantangnya untuk lepas dari pertunangan memuakkan ini"

"Kau tak bisa memikirkan cara lain sama sekali memangnya untuk lolos dari pertunangan bodoh ini sama sepertiku?"

"Berbeda denganmu, aku tak punya pemikiran serta intelegensi tinggi meski aku enggan mengakuinya, Sona." balas Rias sambil menggerutu.

Rias sebenarnya kesal. Kenapa dia tak bisa menemukan cara lain. Dia memang tak sepintar Sona yang berhasil lolos dari pertunangan yang di berikan padanya dengan menantang semua kandidat bermain catur dan dia memang menang.

"Lebih baik latihlah peerage-mu mulai sekarang, Rias " balas Sona kembali. "Hanya untuk berjaga-jaga seandainya terjadi sesuatu."

"Terima kasih atas sarannya, Sona."

"Oh ya…. Aku lupa mengabarkan kepadamu. Akan ada beberapa siswa-siswi pindahan yang akan menghadiri akademi ini nantinya." Sona meminta Tsubaki memberikan salah satu dokumen yang ada di tangannya lalu menyerahkannya kepada Rias.

"Lalu hubungannya dengan kita?"

"Aku sudah menyelidiki tentang mereka. Mereka merupakan anggota dari klan pahlawan."

"Ha?!..." Rias terkejut dan lekas membuka dokumen yang diberikan oleh Sona lalu membacanya.

"Apa ini benar? Klan pahlawan bahkan sampai datang kemari?" ujar Rias setelah selesai membaca seluruh isi dokumen. "Bahkan anak putri keturunan dari Lucifer yang setengah manusia dimana dia sekarang berada di bawah perlindungan dan bergabung dengan klan pahlawan juga datang?"

"Aku juga terkejut saat mereka datang kemari, Rias…." tukas Sona dengan wajah serius. "Mereka datang kemari tak akan bisa kita cegah karena klan pahlawan memiliki izin penuh dari mitologi Shinto. Mereka dibentuk oleh mitologi Shinto sendiri untuk menjadi bagian dari kekuatan mereka seperti Olympus yang mempunyai pasukan dari para demigod yang ada."

"Apa ini karena aku, Sona?"

"Bukan…. Permintaan mereka datang sebelum kau melakukan kesalahanmu." tukas Sona.

"Lalu apa yang kita harus lakukan?"

"Kita hanya bisa memberitahukan ini pada para Maou yang ada dan menunggu perintah dari mereka, Rias." Sona membetulkan kacamata miliknya yang turun. "Dan kita akan menanyai apa tujuan dari mereka datang kemari. Kuharap mereka tak membawa masalah kepada kita nantinya."

"Kuharap juga begitu, Sona." tukas Rias kemudian. "Walau aku sedikit khawatir dengan mereka."

"Aku juga sama, Rias."

Tidak ada yang berhak menyalahkan rasa khawatir yang ada di kedua Raja tersebut. Klan pahlawan adalah klan terkenal di dunia supernatural yang kekuatannya sudah diakui oleh pihak fraksi Injil. Mereka sangatlah loyal kepada mitologi Shinto dan tak segan memakai kekerasan jika mereka mendapati mitologi Shinto dilecehkan.

Bahkan beberapa kasus pernah terjadi dimana ada iblis yang memaksa kehendak mereka untuk mengubah orang dari klan pahlawan menjadi budak berakhir dengan kematian. Pihak iblis tak bisa berbuat banyak karena mereka yang salah dan mereka tak ingin memulai perang dengan mitologi Shinto yang sekarang semakin bertambah kuat. Tidak disaat pihak iblis masih berupaya meningkatkan jumlah mereka.

Walaupun pihak di pihak iblis ada dua Maou yang kekuatannya melebihi Lucifer terdahulu, tapi itu masih belum cukup dalam menyaingi kekuatan mitologi Shinto yang sekarang termasuk dalam satu dari mitologi kuat di dunia. Apalagi tanah Jepang ini merupakan daerah kekuasaan mereka. Terlebih lagi putri dari Lucifer terdahulu yang merupakan setengah manusia dan setengah iblis yang juga punya kekuatan yang sekelas Ultimate devil tergabung dalam klan pahlawan sebagai balas budi atas apa yang telah dilakukan mitologi Shinto karena memberikan perlindungan kepadanya saat dia masih kecil dan sangat loyal kepada mitologi Shinto itu sendiri.

[Bagian 3]

"Kau tenggelam lagi dalam lamunanmu, Naruto. Apa kau tengah memikirkan sesuatu?"

Suara Draig terdengar di kepalaku ketika aku tengah terdiam melihat ke arah langit cerah dari atas atap akademi.

'Mereka sudah datang kemari, Draig.'

"Maksudmu klan pahlawan yang datang saat ini?"

'Ya...' aku menjawab ucapan Draig dengan tenang. 'Tak kusangka mereka datang kemari. Kira-kira apa agenda mereka Draig?'

"Kau tanya aku lalu kau harus tanya pada siapa?" Draig membalas ucapanku. "Kalau penasaran mata-matai saja mereka seperti kau memata-matai para iblis kecil di sini."

'Kupikir mereka akan ada urusan dengan para iblis disini. Lalu aku bahkan juga merasakan salah satu Paladin gereja dan iblis lain yang sekelas dengan iblis di sini memasuki kota ini juga…. Hah…., masalah akan dimulai sepertinya.'

"Sepertinya ini baru pembukaan masalah dari rangkaian masalah di kota ini, Naruto… Lalu apakah Asia akan kau sekolahkan di akademi ini juga nanti?"

'Kita akan melihatnya nanti, oke…' jawabku 'Lalu untuk Asia, tidak! Aku tak akan membiarkan dia dijadikan incaran oleh siapapun, jadi aku tak akan memasukkan dia ke akademi dimana iblis berada. Dia berhak hidup seperti gadis lainnya yang masih pubertas. Aku akan berikan itu padanya sembari melatih kekuatan miliknya nanti. Untuk sekarang, aku akan menyuruhnya berada di apartemen dahulu. Aku punya firasat jika Paladin yang masuk ke kota ini akan berhubungan dengan Asia.'

"Itu merupakan sebuah langkah yang bagus, Naruto…"

'Aku akan ke kantor pusat mengurus adopsiku kepada Asia setelah pulang. Tentu saja dengan sedikit sihir yang ada itu akan mudah.'

...Cklak….

Suara pintu menuju atap ini yang terbuka terdengar di telingaku. Membuatku menoleh untuk melihat siapa yang datang kemari. Ketika melihat siapa yang datang, aku hanya tersenyum kecil.

Kepalanya melihat ke segala arah lalu saat dia melihatku, dia kemudian tersenyum dan berjalan ke arahku. Di tangan miliknya, terdapat bungkusan bento dan dia membawa satu kantong plastik juga di sana.

Murayama Rin datang dengan senyum ketika melihatku. "Kau disini rupanya, Naruto…"

"Hey…," aku menyapanya. "Kenapa kemari?"

"Tentu saja mencarimu, Naruto…" dia menjawab lalu duduk di samping tempat duduk yang ada di atap tepat di samping kanan tempatku berdiri. "Kau tak datang ke cafetaria jadi kupikir kau pasti ada di atap sekarang. Ini aku bawakan jus jeruk" tambahnya sambil menyodorkan jus jeruk yang dia ambil dari kantong plastik yang dia bawa. Aku menerimanya dan penutup dari kaleng jus jeruk yang dia berikan padaku.

"Arigatou,... Rin…" tukasku lalu meminum sedikit jus jeruk tersebut. Rasa manis langsung menyeruak masuk dan menyegarkan tenggorokan. Dia kulihat kemudian membuka wadah bento yang dia bawa lalu aku melihat sandwich ada di dalamnya. Memberikan gestur untuk duduk, Rin kemudian membuka juga kaleng minuman jus miliknya.

"Aw,… seorang gadis manis yang selalu menemuimu… kuharap Ophis tak akan melihat ini…"

'Kau mulai berkata aneh lagi, Draig'

"Jadi…." aku memulai pembicaraan sambil duduk di sampingnya. Pembatas duduk kami adalah kotak bento yang ada di tengah-tengah. "Kenapa mencariku?" aku bertanya ketika dia tengah memakan sebuah sandwich disana.

"Mau ngajak ngobrol…" dia menjawab sekenanya.

"Memang tak ada teman lain selain aku yang bisa kau ajak ngobrol?"

"Tak ada yang cocok dengan obrolanku…." dia menjawab lagi. Kali ini dia memandangku dengan pandangan aneh. "Kau ini tak peka sama sekali ya…" dia kemudian tertawa pelan.

"...?"

"Duh… terkadang otakmu sangat bebal kalau soal beginian Naruto"

'Hey! Apa maksudmu bilang begitu?!'

"Seorang gadis yang repot-repot selalu mencarimu dan selalu mengajakmu ngobrol … kau benar-benar parah…"

'Diam kau, naga tua! Jika kau tahu beritahu aku kalau begitu!'

"Cari tahu saja sendiri, bodoh!"

Fuck! Kau sangat menyebalkan sekali, Draig!

"Hey Naruto… Ada agenda setelah ini?" dia bertanya padaku.

"Ah… mungkin ke kantor pusat penduduk."

"Kenapa kau pergi kesana?" dia bertanya dengan nada penasaran. Potongan sandwich dia masukkan lagi ke mulutnya.

"Ah… aku dapat adik baru sekarang…"

"Ha?..." dia memandangku dengan pandangan aneh. "Kau dapat adik? Adik darimana?"

"Uhm… adik dari panti asuhan …" aku menjawab dengan berbohong. Astaga aku pandai sekali berbohong dan memainkan fakta yang ada. Mungkin jika aku masuk industri perfilm-an aku bisa jadi aktor terkenal. "Dia datang dari panti asuhan yang sama denganku. Kami sudah saling kenal lama. Nah berhubung dia akan mencoba hidup mandiri, dia akan tinggal denganku. Aku juga sudah berniat mengadopsinya kok dahulu kalau misalnya aku bisa hidup mandiri."

Aku memang dikenal sebagai yatim piatu di akademi ini yang tinggal di panti asuhan di desa sebelah kota Kuoh sampai aku bisa menjadi mandiri. Jadi tak aneh kalau aku berbohong seperti itu.

"Tunggu sebentar…. Kenapa kau tak pernah bilang padaku tentang ini?!"

"Karena kau tak pernah bertanya?" aku menjawab dengan memiringkan kepala sedikit.

"Dia laki-laki?"

"Ah…. Seorang gadis. Dia juga keturunan sama sepertiku. Bahkan rambutnya warnanya sama denganku."

"Kau harus mengenalkanku padanya, Naruto…" dia berkata kemudian. "Apa dia akan masuk akademi ini?"

"Hey tentu saja aku akan mengenalkannya padamu… " aku menjawab sambil meminum jus jeruk. "Dan tidak… dia akan masuk akademi khusus perempuan selain akademi ini. Kau tahu bukan biaya akademi ini bagaimana… Dia juga tak bisa masuk lewat jalur beasiswa, otak-nya tak sepintar aku dia itu."

"Ah… aku lupa jika ini akademi mahal, Naruto…." tukasnya. Kami terdiam kemudian dimana dia melanjutkan memakan bento miliknya sementara aku memandang ke arah langit lagi. Tak terasa kami diam hingga kami mendengar suara bel berbunyi. Aku yang mendengarnya kemudian berdiri dan berujar.

"Hey, Rin… ayo kita kembali. Bel sudah berbunyi"

"Ah…., hu'um… ayo Naruto. Dia kemudian membereskan wadah bentonya dan aku menunggunya sebelum kemudian kami beranjak dari sana.

[Bagian 4]

Di tengah malam, suara ketukan pintu terdengar dari apartemen milik Murayama Rin yang berada di lantai gedung mewah no 4. Dengan langkah tenang, Rin kemudian membuka pintu dan melihat dua orang gadis dan satu pemuda berada di depan pintu miliknya.

"Selamat malam, Murayama-sama." sapa mereka semua. Murayama hanya memandang datar dan kemudian menyuruh mereka masuk dengan memberikan pandangan saja. Menurut akan apa yang diperintahkan meski lewat isyarat mata, kedua gadis dan satu pemuda itu kemudian masuk ke dalam.

Interior apartemen itu sangat mewah. Jauh lebih berkelas dan juga luas. Bahkan apartemen tersebut bisa ditinggali oleh satu keluarga.

"Jadi…," Rin kemudian duduk di sofa. Berhadapan dengan dua gadis dan satu pemuda tersebut. "Tou-sama yang mengirim kalian?"

"Ha'i, Murayama-sama." ujar gadis dengan rambut merah yang dikepang dua kecil. Perawakan tubuhnya hampir sama persis dengan tubuh Rias Gremory yang membedakan hanya mata miliknya berwarna pink.

"Bahkan sampai mengirim, Basara kemari. Apa klan menanggapi serius masalah malaikat jatuh yang berseliweran di kawasan ini?" tukasnya lagi sambil memandang ke arah pemuda berambut coklat bermata hijau dengan bekas luka di bawah mata kanan. "Kupikir laporan yang kuberikan pada Tou-sama tak akan ditanggapi karena ini kupikir hanya masalah kecil."

"Anda salah, Murayama-sama" ujar gadis berambut biru sebahu dengan satu kepangan rambut kecil di depan di sisi kiri juag memakai bando putih dengan nada datar. "Alasan kami datang kemari bukan karena laporan anda."

"Lalu apa itu, Nonaka Yuki?"

"Kami menerima laporan bahwa tiga pedang Excalibur telah dicuri dari Vatikan dan menurut mata-mata, disembunyikan di kota Kuoh, Murayama-sama "

"Huh? Excalibur dicuri? Siapa pencurinya?"

"Menurut laporan yang ada, Excalibur dicuri oleh Jendral malaikat jatuh, Kokabiel lalu disembunyikan di kota Kuoh. Untuk rencana yang akan dia gunakan, kami masih belum tahu pasti tapi ada kemungkinan dia berniat memulai perang dengan fraksi iblis."

"Ini masalah serius, huh? Apa ini juga alasan kenapa Paladin sampai datang ke kota ini?"

"Untuk itu kami tak tahu, Murayama-sama" ujar gadis berambut merah tersebut.

"Hah…." hela nafas Rin. "Kalian akan pindah juga di sini sementara, Mio?" ujarnya dengan melihat ke arah gadis berambut merah.

"Iya benar, Murayama-sama." tukas gadis berambut merah tersebut. "Ayah anda khawatir dengan keadaan anda dan kami dikirim untuk jadi pengawal anda. Kami bahkan akan masuk ke akademi anda juga."

"Tapi ini terlalu berlebihan" tukas Rin lagi dengan memijit pelipis miliknya. "Dua gadis kelas Ultimate dengan satu pemuda As milik klan. Ayah benar-benar paranoid."

"Itu tandanya dia sayang denganmu, Rin" ujar pemuda yang sedari tadi diam kini angkat bicara.

"Yah, aku tahu itu…" ujar Rin kembali. "Kalian bisa tinggal disini mulai sekarang. Lakukan apa yang diperintah oleh ayah dan satu hal lagi. Jangan panggil aku dengan marga keluarga. Astaga, kita ini teman sudah sejak lama. Panggil dengan nama biasa… Terutama kau Yuki… Basara saja memanggil namaku dengan biasanya."

"Ah aku mengerti, Rin…"

"Tentu Rin…"

Dua gadis itu menjawab secara bersamaan dengan senyum di masing-masing wajah mereka. Ini membuat Rin senang. Mereka bertiga adalah teman masa kecilnya yang tumbuh bersama hingga dia harus berpisah karena misi kemari yang diberikan oleh sang ayah untuk mengawasi iblis yang meminjam tanah milik mitologi Shinto ini. Jadi bisa bersama mereka lagi merupakan sebuah kebahagiaan bagi Rin.

"Kapan kalian akan masuk ke akademi?" tanya Rin kemudian sambil pergi ke dapur untuk mengambil cemilan dan membuat teh untuk mereka. Hanya butuh 10 menit menyiapkan semua dan kini teh telah ada di masing-masing teman Rin disertai camilan. Basara dengan cekatan lalu membuka sebuah snack keripik kentang disana. "Kami akan mulai masuk besok. Kupikir kami juga harus menemui para iblis di sana nanti untuk menjelaskan maksud kami." ujar Basara kemudian. "Kita hanya perlu memberitahukan bahwa kami datang kemari untuk menjagamu."

"Kupikir itu ide yang buruk. Itu akan membuka rahasia siapa aku sebenarnya. Kalian bisa memakai alasan lain bukan?"

"Kalau begitu kami akan memakai alasan bahwa kami datang untuk mengawasi iblis bagaimana mereka menjalankan tugas mereka." ujar Yuki dengan meminum tehnya. "Kurasa itu alasan yang masuk akal dibanding alasan Basara tadi."

"Yah, itu ide yang bagus Yuki. Basara kadang kalau berpikir sedikit lemot kecuali soal pertarungan." ejek Mio kemudian.

"Hey, jangan mulai deh Mio"

"Ha'i… Ha'i…" balas Mio sambil tertawa kecil. "Lalu bagaimana dengan iblis yang kau awasi, Rin?"

"Mereka hanya melanggar satu kali saja. Yaitu mereka membiarkan malaikat jatuh masuk ke wilayah yang harusnya mereka awasi." ujar Rin sambil meminum teh miliknya. "Selain itu, membiarkan salah satu manusia mati dan merenkarnasikan manusia tersebut menjadi budak. Gremory itu berpikir dia tak diawasi oleh youkai jadi dia bisa melakukan rencana miliknya. Ini bisa jadi bukti yang cukup untuk tidak memperpanjang kontrak peminjaman mereka atas kota Kuoh."

"Lalu selain itu? Bagaimana dengan para malaikat jatuh itu? Apa mereka masih berkeliaran?"

"Mereka sudah pergi." Rin kemudian mengarahkan tangan miliknya ke depan dan dari telapak tangan miliknya, sebuah kristal bening berbentuk bulat muncul dan menayangkan kejadian di dalamnya. Terlihat sesosok manusia dengan penutup wajah membunuh para exorcist buangan juga membunuh salah satu malaikat jatuh sebelum kemudian tiga malaikat jatuh lain pergi dari sana dengan kekuatan yang misterius. Apapun itu, tangan bersinar oranye yang menembus dada para exorcist buangan juga membakar malaikat jatuh menjadi debu merupakan sesuatu yang tak pernah mereka lihat. Semua itu berakhir ketika sosok itu menghilang dalam kobaran api dan tak meninggalkan jejak untuk di-ikuti.

"Sepertinya kita ada pemain baru di kota Kuoh yang sama sekali tak pernah terdengar sebelumnya." tukas Rin. "Ada kemungkinan dia seseorang yang kukenal. Tapi aku belum yakin betul. Setidaknya aku merasa familiar dengan rambut pirang dan mata birunya." tukasnya lagi. 'Apakah itu Naruto atau bukan aku tak tahu, tapi tak ada kemungkinan itu Naruto karena aku sudah berulang kali meng-cek dirinya dan dia itu kuyakin seratus persen manusia biasa dan tak punya kekuatan apapun. Tak ada fluktuasi mana juga di dalam tubuhnya.'

"Lalu apa yang akan kau lakukan dengan penemuan ini, Rin?" tanya Mio kemudian

"Aku akan memberitahu ayah sembari mencari tahu siapa dia sebenarnya. Apakah dia ancaman atau bukan karena jika dia ancaman, maka itu tugas kita untuk membunuhnya" balas Rin dengan nada datar.

"Kalau begitu, kami ikut saja dengan apa yang kau rencanakan Rin…" ujar Basara sambil masih mengunyah keripik kentang.

'Kuharap siapapun orang ini, dia bukan ancaman jadi aku bisa menariknya ke klan pahlawan juga mengingat kekuatannya juga terlihat hebat.'

xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx

Rodius Absolut = sacred dengan jiwa Kirin didalamnya. Bentuk awal berupa gauntlet dengan aksen biru petir yang mengeluarkan petir dengan intensitas tinggi. Mampu mengalahkan intensitas petir dari bidak ratu Rias, Himejima Akeno. Balance Breaker sacred gear ini adalah armor samurai dunia Edo dengan tombak halberd petir panjang berwarna biru yang menimbulkan percikan listrik di sekitarnya. Tercatat dalam sacred gear yang diketahui. Level berada di bawah kelas Longinus.

Naruse Mio, Nonaka Yuki, dan Toujou Basara berasal dari anime Shinmai Maou no Testament. Disini diubah dimana Basara bukan anak dari Jin melainkan Murayama Rin-lah anak tersebut. Jadi Toujou Jin menjadi Murayama Jin. Mereka bertiga adalah teman masa kecil dari Rin itu sendiri.

Untuk Naruse Mio. Dia berasal dari keturunan marga Lucifer. Sama seperti Vali namun berbeda ibu. Dia tak menyembunyikan marga miliknya dan dia diketahui oleh kalangan luas di dunia Underworld. Sedari kecil hidup dengan klan pahlawan dan sangat berhutang budi pada mitologi Shinto yang sudah melindungi dan mengasuh dirinya setelah kehilangan ibu.

Mitologi lain akan dibuat sejajar. Meski nanti akan ada peringkat di masing-masing mitologi yang ada di dunia berdasarkan kekuatan.

Masing-masing kekuatan yang akan ditampilkan di fic ini adalah bentuk imajinasi dan kreatifitas semata. Terdapat perubahan kekuatan dari bentuk asli light novel. Tentang alur dan pair akan berusaha sebaik mungkin digarap dengan sungguh-sungguh. Pair di fic ini kemungkinan Harem dalam artian Harem yang tak di-inginkan atau bertepuk sebelah tangan. Ini dunia DxD dimana poligami itu lumrah :p

Saya penulis dari fic ini menerima review baik ataupun buruk. Penulisan fic ini didasari kesukaan menulis akibat imajinasi yang berlebih. Juga menerima PM tentang saran yang mau masuk.