Hallo minna-san! Kembali lagi! Hohoho, akhirnya saya bisa melanjutkan fanfic saya! Karena kemarin-kemarin saya mengerjakan pr yang bejibun, jadi tidak bisa melanjutkan fanfic ini. Karena sekarang weekend, jadi saya bebas! Hahaha*tawa setan*.

Saya rasa chapter ini pendek. Kira-kira hanya sekitar 1000 words saja.

Oke oke, saya persembahkan fanfic saya yang berjudul, 'Sayonara, Naruto-kun'!

Disclaimere : Om Masashi Kishimoto tercintah!

Genre : Hurt/Comfort

Main Chara : Naruto Uzumaki, Hinata Hyuuga

Warning : semi-canon, gaje, OOC, typo, membingungkan, bikin kepala pusing, dll(dan lain lupa)

Saya persembahkan

SAYONARA, NARUTO-KUN

Hinata POV

Hari ini aku memutuskan memberikan Naruto sesuatu yang batal kuberikan padanya kemarin.

Aku segera pergi menuju Rumah Sakit Konoha.

Kriet.

Aku membuka pintu kamar rawat Naruto.

"Ohayou, Naruto-kun," sapaku. "Ohayou, Hinata-chan,"sapanya. Aku tersenyum kecil saat mendengar sapaannya.

Aku memasuki kamar rawat Naruto.

"Kenapa kemarin kau pergi? Aku pikir kau hilang atau diculik! Kau tau? Aku bersama Sakura-chan pergi mencarimu sampai sore! Akhirnya kami memutuskan untuk pergi ke rumahmu. Lalu kami bertemu pengawalmu, Ko. Dia bilang kau sudah pulang. Kupikir kau diculik! Aku sangat khawatir padamu! Kau tau?" jelas Naruto panjang lebar kemudian dia memelukku. Aku menundukkan kepalaku.

Tunggu dulu! Dia khawatir padaku dan sekarang dia memelukku?

Tiba-tiba wajahku memanas. Aku menggelengkan kepalaku kuat-kuat.

"Kau tidak apa-apa?"

Naruto melambai-lambaikan tangannya tepat di depan wajahku. Aku sadar dari khayalanku.

"A-aku tidak apa-apa," elakku. Aku menyingkirkan tangannya dari depan wajahku.

"Gomen, ke-kemarin a-aku ada u-urusan," jelasku berbohong.

"Oh~," ucap Naruto. Naruto menganggukan kepalannya. Tiba-tiba suasana menjadi hening.

"Na-naruto-kun" panggilku memecah keheningan. Naruto menoleh ke arahku.

"Ada apa, Hinata-chan?" tanya Naruto. Aku menundukkan kepalaku.

'Apa kuberikan sekarang saja, ya?' batinku bertanya. Naruto masih menatapku bingung.

"I-ini u-untukmu," ucapku sambil menyerahkan sebuah tas tenteng kecil berwarna kuning kepadanya.

"Wah~, apa ini?" tanya Naruto dengan mata yang berbinar. Dia pun mengambil tas tersebut dari genggamanku.

Tanpa menunggu jawababku, Naruto sudah mengambil sebuah benda yang berada di dalam tas tersebut.

"Wah~, indahnya," komentar Naruto. Aku han

"Wah~, indahnya," komentar Naruto. Aku hanya tersenyum saat mendengar komentarnya.

Naruto segera memakai benda tersebut.

"Bagaimana, cocok tidak?" tanya Naruto. Aku hanya mengangguk.

"Arigatou, Hinata-chan," pekik Naruto.

"Syal ini sangat indah dan nyaman dipakai," ucap Naruto. "Terima kasih atas pujiannya," ucapku sambil menundukkan kepalaku karena tersipu.

"Syal berwarna merah ini seperti syal yang pernah diberikan seseorang saat aku kecil. Tapi syal itu berwarna hijau(Kalo gak salah warnanya hijau. Author lupa. Hehehe). Tapi aku tidak ingat siapa yang memberikan syal itu kepadaku," ujar Naruto.

'Itu aku, Naruto.'

"Kira-kira siapa yang memberikan syal berwarna hijau itu kepadaku, ya?" tanya Naruto sambil memasang pose berpikir.

'Kami-sama, kembalikan ingatan Naruto-kun," doaku dalam hati.

"Hah~, entahlah, aku tidak ingat. Lebih baik tak usah dipikirkan," ucap Naruto. Aku menghela napas panjang.

Tiba-tiba keheningan kembali menyelmuti kami berdua. Kami larut dalam pikiran masing-masing.

"A-aku pe-pergi dulu, ya," mengangguk. Aku pun berjalan keluar dari kamar rawat Naruto.

Saat aku sudah sampai di ambang pintu, tiba-tiba sebuah suara memanggilku.

"Hinata-chan."

Ternyata yang memanggilku adalah Naruo.

"Y-ya, a-ada apa?" tanyaku.

"Sekali lagi, terima kasih," ucap Naruto. Aku mengangguk sambil tersenyum. Aku pun pergi meninggalkan ruangan tersebut.

Aku terduduk di kursi yang berada di salah satu koridor di rumah sakit tersebut.

Aku terdiam dan termenung. Memikirkan rencana apa yang harus kulakukan agar ingatan Naruto kembali.

Aku menghela napas panjang.

"Ba-bagaimana ca-cara mengembalikkan i-ingatan Na-naruto-kun, ya?" tanyaku entah kepada siapa.

Disaat aku sedang berpikir, tiba-tiba saja ada yang memanggilku.

"Hinata,"

Aku mendongkak.

"Kak Shizune?"

Shizune duduk di kursi yang berada di sampingku.

"Bagaimana?" tanya Shizune.

"Ba-bagaimana a-apanya?" anyaku.

"Naruto," jawab Shizune. Aku menundukkan kepalaku setelah mendengar pertanyaan Shizune.

"Di-dia masih belum i-ingat ke-kepadaku," jawabku lirih. Shizune ikut menundukkan kepala dan memasang ekspresi sedih.

"Seandainya aku bisa membantu," ucap Shizune lirih.

"Hei, Hinata," panggil Shizune. Aku menengok kearahnya.

"Bagaimana dengan cara kedua?" tanya Shizune.

"Ca-cara ke-kedua?" tanyaku. Shizune menganggukkan kepalanya.

"Ya, cara kedua. Hanya itu yang bisa dilakukkan saat cara pertama tidak berhasil," ujar Shizune.

Aku menundukkan kepalaku. Berpikir sejenak.

"Tapi aku tidak menganjurkanmu menggunakan cara kedua," ucap Shizune. "Apa tidak ada cara lagi?" tanyaku. Shizune menggelengkan kepalanya dengan wajah sedih.

"Sayangnya tidak ada."

Aku menghela napas.

"Maaf, aku pergi dulu," pamitku lalu membungkukkan badan kemudian pergi meninggalkan rumah sakit.

.

Aku berhenti di sebuah taman yang tampang sangat sepi—bukan! Bahkan sama sekali tidak ada orang.

"Kenapa disini sangat sepi? Biasanya tempat ini ramai," tanyaku heran.

Tiba-tiba saja langit berubah menjadi ungu kehitam-hitaman. Angin kencang menerpaku. Aku menyilangkan kedua tanganku di depan wajahku dan sedikit membungkuk.

Aku melihat ke sekitar saat angin kencang perlahan mulai menghilang.

"Byakugan!"

Aku siap siaga. Siapa tau akan ada musuh yang menyerang.

"Hei! Tunjukkan dimana kalian!" pekikku.

Tiba-tiba saja cahaya putih besar muncul di tengah-tengah taman tersebut.

Aku menyipitkan mataku karena cahaya tersebut sangat menyilaukan.

Beberapa detik kemudian cahaya tersebut tergantikan oleh sebuah siluet hitam.

Aku memasang kuda-kuda untuk melawan.

Siluet tersebut mendekat ke arahku. Aku makin was-was.

Saat sudah lumayan dekat, siluet tersebut di terpa oleh sinar rembulan yang masih bisa menembus awan hitam tersebut. Ekh? Ada keanehan! Apa tadi kataku? Rembulan? Bukankah ini masih siang?

Aku menengok ke arah bulan tersebut.

'Warnanya putih dan tidak begitu menyilaukan, aku yakin itu adalah bulan," terkaku dalam hati. Aku kembali menengok ke arah siluet tersebut.

Siluet tersebut semakin dekat dan makin dekat.

Semakin dia mendekat, sosoknya makin terlihat.

Akhirnya dia sampai di hadapanku. Sosoknya sangat terlihat jelas. Aku pun melihat wajahnya.

Matanya terpejam. Rambutnya berwarna putih. Pakaiannya juga berwarna putih.

Tunggu! Apakah dia—

"Si-siapa kau?!" tanyaku sedikit menggertak.

"Aku? Kau tak kenap aku?"

Bukannya menjawab, dia malah balik bertanya.

"Ja-jangan-jangan kau—" ucapku sambil menunjuk ke arahnya.

"Yap, benar sekali,"

Kini aku tidak memasang sikap siap siaga lagi. Sekarang aku diam membeku.

"Jadi, kau adalah—"

TBC

Yak! Selesai juga! Hohoho akhirnya bisa updet lagi! Waktunya balas review!

Yang pertama dari Sena Ayuki : Drama korea bbf? Saya aja lupa alur cerita itu kayak gimana. Lalu kesamaannya ada dibagian mana? Saya tidak terinspirasi dari situ kok. Ini murni inspirasi dari pikiran saya.

Yang kedua dari anna fitry : Ada kemajuan kah? Saya pikir sama sekali gak ada kemajuan-,- yosh! Saya akan lebih semangat!*semangat masa muda* terima kasih juga karena telah me-review.

Oke sudah balas review! Saya mohon review untuk chapter ini! Terima kasih!