Bagian 3
Beberapa Menit Sebelum pertandingan, di Kamar Ganti Tim Slytherin,
"Lestrange, kau telat," tegur Urquhart halus saat Madeline memasuki kamar ganti pemain dengan mata sembab. "Apa kau barusan nangis?"
"Tidak. Aku cuma… nervous," kilah Madeline, lekas-lekas menyeka kedua matanya dengan sapu tangan yang disodorkan Urquhart.
Urquhart mengamati wajah kuyu Madeline dan berlagak bijak dengan menasehati, "Meski ini adalah debutmu, bermainlah dengan rileks. Tak usah pikir menang atau kalah. Semangatlah!"
Madeline menanggapinya dengan senyum terpaksa. Tak ada yang boleh tahu kejadian apa yang membuatnya menangis tadi. Apalagi semua anggota tim sedang mengamatinya lekat-lekat, menerka-nerka apa yang baru saja terjadi. Beberapa diantara mereka membatin kalau gadis itu habis dimarahi Draco gara-gara kejadian di Aula Besar tadi. Tapi sayang, mereka salah.
"Baiklah," Urquhart mengedarkan pandangan ke semua penjuru, mencermati satu-persatu ekspresi anak buahnya, dan berhenti agak lama saat bertatapan dengan Madeline. "Kita tahu posisi Draco telah digantikan oleh Harper. Akibat formasi yang berubah ini, kita akan bermain lebih menekan dari arah sayap. Doughal dan Lestrange, kalian harus mengupayakan umpan-umpan pendek dan cepat. Lalu Lestrange harus mengirim assist kepadaku atau Doughal saat posisi kita memungkinkan. Mengerti?"
Cameron Doughal dan Madeline yang berposisi sebagai Chaser sama seperti Urquhart mengangguk bersamaan. Urquhart mengalihkan perhatian kepada Duncan Grant dan Evander Gavin, pasangan Beater andalan mereka.
"Seperti biasa, hantam saja lawan kita!"
Lalu Urquhart meminta Aidan Boyd, Keeper mereka untuk berhati-hati dengan serangan dari Ginny Weasley dan Chaser baru Grifindor, Demelza Robins.
Dan terakhir, Urquhart memberi instruksi kepada Harper, Seeker pengganti Malfoy.
"Tangkap Snitch sesegera mungkin!"
Harper mengangkat bahunya dan berseloroh, "Tentu itu yang akan kulakukan, bos. Don't worry!"
"Bagus!" kata Urquhart puas. "Kalau situasi tidak memungkinkan, terpaksa kita jalankan siasat kita. Kalian pasti mengerti apa yang kumaksud."
Madeline segera paham saat Grant dan Gavin kompak memeragakan gerakan menyikut yang sadis. Jadi begitu rupanya cara memenangkan sebuah pertandingan, pikir Madeline.
"Ada pertanyaan?" lanjut Urquhart. "Atau mungkin ada masukan?"
Mendadak Boyd mengangkat tangan, meminta perhatian dari rekan-rekannya.
"Ada apa?" tanya Urquhart cepat-cepat.
"Kupikir kita harus menanyai Lestrange," ujar Boyd tanpa basa-basi dan segera berpaling kepada Madeline. "Aku melihatmu berjalan ke arah stadion kemarin sore. Padahal saat itu tim Griffindor sedang mengadakan latihan akhir. Apa yang kau lakukan di sana, Lestrange?"
Sontak, Madeline terkesiap. Dia tak menyangka ada yang memergoki apa yang dilakukannya kemarin sore. Jangan-jangan pada waktu itu Boyd bermaksud mengintai tim Griffindor dan dia justru mendapati Madeline sedang berduaan dengan Harry malam-malam. Gawat sekali kalau mereka sampai ketahuan.
"Er…" Madeline bingung bagaimana menjelaskannya.
Mana mungkin mereka semua mau percaya apa saja yang terjadi di malam itu. Terutama pada bagian Madeline dan Harry tiba-tiba saja berbaikan dan bisa berteman akur.
Melihat Madeline tak kunjung menjawab, Urquhart segera mengambil kesimpulan, "Sudah pasti Lestrange ke sana untuk mengintai. Benar, kan?"
"Um…benar. Kau benar, kapten," sahut Madeline cepat.
Namun Boyd masih belum puas.
"Lalu apa hasil pengamatanmu? Apa kau mendapat sesuatu yang penting?"
Untuk sejenak, Madeline menerawang ke dalam pikiran Boyd. Mau bagaimana lagi? Terpaksa dia melanggar janji sekali lagi. Dia harus melindungi diri dari kecurigaan, kan? Dan Madeline cukup lega menemukan fakta kalau Boyd sama sekali tak tahu apapun tentang kejadian kemarin malam. Sekarang yang harus dilakukan Madeline adalah bagaimana mengarang sebuah alasan yang bagus dan masuk akal.
"Tidak ada yang penting," jawab Madeline berbohong. "Potter telah memilih anggota-anggota berkualitas bagus. Keeper mereka sangat tangguh dan kurasa kita tidak boleh meremehkan Weasley. Begitu juga Coote dan Peakes, mereka bahkan lebih hebat dari si kembar Weasley. Sayang, aku tak tahu strategi apa yang akan mereka gunakan nanti. Mereka hampir selesai berlatih ketika aku datang mengintai."
"Sayang sekali," gerutu Harper.
"Yeah. Sayang sekali," timpal Madeline sambil pura-pura tersenyum penuh sesal.
Dalam hati, Madeline lega sekali. Rekan-rekan satu timnya tampak percaya dengan penuturannya tadi. Madeline memang harus berbohong demi Harry. Mana mungkin dia tega membocorkan strategi tim Griffindor. Madeline ingin tim Slytherin menang secara sportif, walau dia tidak yakin apakah dia sendiri akan mampu bermain sportif di saat terdesak nanti. Seperti juga rekan-rekannya, Madeline ingin menang.
"Jadi, tidak ada kelemahan?" Boyd masih mencoba mendesak.
"Kelemahan?" Madeline kembali bimbang. "Kurasa lawan kita pandai menutupi kelemahan… Um…"
Kelemahan Griffindor ada pada Keeper mereka. Ingin rasanya Madeline meneriakkan itu, tapi dia tidak sanggup. Hati kecilnya melarang. Untunglah, Urquhart segera menyela untuk mengingatkan kalau pertandingan akan segera dimulai.
"Kurasa sudah waktunya, kawan-kawan!"
Diam-diam, Madeline menarik nafas lega. Kali ini dia selamat. Tapi jantungnya mulai berdegup kencang di luar kebiasaan dan dadanya terasa sesak lagi. Keringat dingin segera mengucur deras membanjiri kedua belah telapak tangan, dahi dan leher gadis itu. Sementara di luar sana, tepatnya di tribun penonton yang penuh sesak, sorak-sorai dan teriakan yel-yel bergemuruh. Ini semua membuat Madeline gugup luar biasa.
Sambil merogoh saku jubahnya untuk mencari ramuan obat, Madeline mengambil posisi berbaris di urutan paling belakang. Dia langsung meminum obatnya secepat mungkin sebelum ada seorangpun yang memergoki. Akan jadi bencana untuk Madeline kalau ada yang melaporkan masalah kesehatan dan hasil test yang direkayasa kepada Madam Hooch. Bisa-bisa dia dikeluarkan dari tim atau kemungkinan besar tim Slytherin akan didiskualifikasi. Ini akan jadi mimpi buruknya sebagai anggota baru tim Quidditch. Sejak kecil dia bermimpi menjadi seorang atlet Quidditch yang handal. Namun baru tahun ini dia diterima masuk, walau dengan sedikit rekayasa.
Di Hogwarts, orang yang tahu mengenai jantung Madeline yang bermasalah hanya dua orang, Draco dan Harry. Draco sudah pasti akan merahasiakan hal ini. Bahkan, dia yang membantu kelancaran test uji coba Madeline. Dia sangat mengerti apa keinginan sepupunya walau ini berarti harus melanggar aturan dasar penerimaan anggota baru tim Quidditch. Setiap anggota tim Quidditch haruslah berbadan sehat dan kuat karena olahraga ini sangat berbahaya, begitu aturannya. Tapi Madeline tidak peduli. Dia sangat ingin bermain Quidditch meski harus mati di atas sapunya. Dan Harry, walau dia dari pihak lawan, Madeline yakin dia tidak akan membocorkan rahasia ini. Bukankah mereka sudah berteman? Madeline percaya Harry tidak akan setega itu.
Detik-detik menjelang pertandingan, di Stadion,
Sorakan membahana seketika terdengar begitu kedua tim memasuki lapangan. Tepuk tangan riuh disertai teriakan-teriakan cemooh dari kedua pihak suporter mengiringi setiap langkah para pemain menuju ke tengah lapangan, seolah saling berlomba meledakkan seisi stadion dengan mengandalkan kekuatan suara mereka. Panji-panji yang dikibarkan di hampir setiap tempat segera mengubah stadion menjadi lautan warna-warni, satu sisi dipenuhi warna merah-emas dan sisi satunya diwarnai hijau-perak. Tak cukup sampai di sana, terkadang terdengar suara raungan singa yang menambah kemeriahan suasana. Semua kehebohan ini mampu mendirikan bulu kuduk dan menambah nervous, serta ampuh menebalkan semangat juang atau malah menciutkan nyali para pemain.
Madam Hooch berdiri tegap dengan peti besar berisi bola di dekat kakinya. Tak lama, dia memerintahkan kedua kapten untuk berjabatan terlebih dulu. Kemudian dia meneriakkan aba-aba. Begitu hitungan mundur dilakukan dan peluit berbunyi, secara bersamaan sapu-sapu mulai terangkat ke udara. Kilasan-kilasan sosok melejit dan melesat secepat roket. Yang tersisa hanyalah bayangan kabur berwana merah dan hijau yang bergerak kesana-kemari dan terkadang menghasilkan terpaan angin hangat saat meluncur begitu dekat di depan mata para suporter.
Zacharias Smith, komentator kali ini tampak menguntungkan tim Slytherin. Berulangkali dia mengeluarkan komentar pedas yang sanggup membuat telinga supporter Griffindor memanas. Hasilnya, beberapa kali suara cemooh bergaung memenuhi stadion. Sedangkan para suporter Slytherin terlihat antusias sekali saat memberi aplaus untuk Smith. Tentu mereka senang karena komentar Smith bisa mengacaukan konsentrasi Griffindor.
"Tangkap ini, Urquhart!" teriak Madeline saat berhasil menyambar Quaffle dari Demelza.
Dengan tangkas, bola segera berpindah tangan. Urquhart sempat terbang zig-zag menghindari Bludger yang disasarkan oleh Coote, melejit bersama angin, sebelum membidik Quaffle ke arah gawang Griffindor.
"Sial!" umpat Madeline geram.
Bidikan terarah dari Urquhart semula tampak tak diduga oleh Ron. Namun, entah apa yang membuatnya mendadak bergerak ke kiri dan berhasil menghalau bola dengan liukan indah. Penonton bersorak girang bukan main.
"Itu hanya kebetulan," cetus Urquhart kaku saat melintas di samping Madeline. "Umpan bagus, Lestrange. Ayo kita coba lagi!"
Akan tetapi Urquhart salah duga. Kemahiran Ron Weasley menangkap semua tembakan darinya, Madeline dan Doughal bukanlah kebetulan yang beruntun. Ron benar-benar hebat. Sarung tangannya seakan lengket setiap kali menangkap tembakan Quaffle yang terarah apik. Sampai di menit ketiga puluh, segalanya seolah berjalan lancar untuk Griffindor. Trio Chaser, Dean-Demelza-Ginny, secara berurutan membobol gawang Boyd. Permainan Ginny yang paling menarik dilihat. Gadis itu berhasil membukukan empat gol yang sangat cantik dari beberapa sudut yang sulit terjangkau meski berada dalam kepungan duo Grant-Gavin. Kedudukan sekarang enam puluh lawan nol untuk keunggulan sementara Griffindor.
"Lestrange, kau jaga gadis Weasley itu!" seru Urquhart panik saat Chaser-Chaser Griffindor kembali memborbardir pertahanan Slytherin.
Madeline menghentikan usahanya merebut Quaffle dari tangan Dean, dan bergegas mengejar Ginny yang sedang menukik tajam dan berbelok menghindari terjangan Bludger dari Gavin.
"Oi, Ginny!" teriak Dean. "Tangkap!"
Dengan sigap, Madeline berkelit dan lolos dari sergapan Bludger hasil serangan balik dari Peakes. Sekarang dia menyasar Ginny yang hendak menerima operan dari Dean.
"Oops!" sambar Madeline cepat, Quaffle telah berhasil direbut. "Tidak secepat itu, gadis berdarah pengkhianat!"
Puas hati Madeline mendapati ekspresi murka dari Ginny. Bahkan, wajah adik Ron itu semakin tidak enak dilihat saat Madeline memamerkan seringai sinisnya.
"Lestrange, awaaas!"
Seketika Madeline terbelalak kaget. Lagi-lagi Bludger sedang meluncur deras ke arahnya. Di saat yang bersamaan justru rasa sesak kembali menyerang rongga dada gadis itu. Jantungnya bermasalah lagi, membuat Madeline harus susah payah bernafas dan sulit berpikir cepat dalam situasi semacam ini.
Tiba-tiba saja, Urquhart sudah berada tepat di samping Madeline dan memukul Bludger itu sekeras mungkin hingga membuat Demelza berputar-putar di udara setelah nyaris diterjang Bludger.
"Hati-hati!" pesan Urquhart, terengah-engah.
Madeline mengerling pemukul Beater yang ada di tangan Urquhart dan segera paham. Ternyata, Urquhart nekat merebut pemukul Grant untuk menyelamatkannya.
"Terima ka…"
Ucapan Madeline terpotong. Urquhart mengambil alih Quaffle dari tangannya setelah melemparkan pemukul Beater asal saja ke arah Grant. Dalam keadaan mendesak begini, telinga Urquhart tersumpal rapat dan hanya fokus kepada pertandingan.
"Tetap awasi Weasley!" serunya begitu saja sebelum kembali menyerang gawang Griffindor.
Sambil mencoba mengatur nafas, Madeline kembali memusatkan perhatiannya kepada gerakan Ginny yang berada cukup dekat darinya. Serangan Urquhart berhasil digagalkan Ron dengan sebuah tangkapan lihai Keeper kelas dunia. Pergerakan Keeper Griffindor ini membuat Madeline tidak mempercayai pengelihatannya. Dia jelas bukan Keeper parah yang aku lihat kemarin, pikir Madeline takjub sekaligus kesal.
Dan sekarang bola sudah berpindah ke tangan Ginny. Bergegas, Madeline bermanuver drastis untuk mengejar Ginny. Mereka berdua sempat berkejaran mengitari setengah lapangan. Jantung Madeline kembali meronta-ronta di dalam sana, membuat gadis itu semakin gusar saja. Tanpa pikir panjang, dia menabrak Ginny kuat-kuat. Quaffle terlepas dari tangan Ginny dan Madeline sukses merebutnya.
"Kau curang!" pekik Ginny marah.
"Aku ingin menang, pengkhianat kotor!" bentak Madeline.
Ginny yang merasa dirugikan, segera mengekori gerakan Madeline. Bahkan, dia mampu memperpendek jarak walau beberapa kali Madeline membuat gerakan meliuk-liuk spektakuler, suatu hal luar biasa yang bisa dilakukan dengan sebuah sapu butut sekelas sapu-bersih.
"Kembalikan bola itu, Lestrange!"
Madeline mendengus, "Coba saja kau rebut sendiri!"
Tangan Ginny sudah berada dekat sekali di samping Madeline. Semula Madeline menyangka Ginny akan menjambret ujung jubahnya untuk mematikan langkah Madeline, tapi dia salah. Ginny justru kukuh pada usahanya, merebut Quaffle. Lama-lama, Madeline merasa sangat terusik karena kelincahan Ginny sangat membahayakan.
"Rasakan ini, gadis sial!"
Madeline menyodok ulu hati Ginny begitu jarak mereka merapat. Dia sempat mendengar jerit kesakitan Chaser Griffindor itu sebelum Madam Hooch meniup peluitnya. Pertandingan dihentikan sejenak. Tampang-tampang geram dari tim Griffindor dan juga cercaan dari para suporter tidak berarti apapun bagi Madeline. Dia tetap mendapat dukungan dari semua rekannya.
"Baik. Apa yang kulihat ini benar?" tanya Madam Hooch dengan nada ragu. "Apa kau menyikut Ginny Weasley, Lestrange?"
Madeline mengangkat dagunya tanpa keraguan setelah menelusup ke dalam pikiran Madam Hooch. Rupanya di saat yang bersamaan, wasit mereka ini lebih memperhatikan Bludger yang menyasar ke Harper dan sama sekali lengah mengawasi ulah Madeline. Sekarang dia bingung menentukan apakah perbuatan tadi termasuk sebuah pelanggaran atau tidak. Kelengahan fatal Madam Hooch ini bisa dimanfaatkan Madeline untuk menguntungkan Slytherin.
"Tidak. Dia menarik jubahku duluan. Jadi aku berusaha menghentikannya," sahut Madeline kalem, berbohong.
"Aku tidak melakukan itu!" sergah Ginny gusar, sambil memegangi ulu hatinya yang masih terasa nyeri. "Lestrange bohong! Dia benar-benar sengaja mencoba mencederaiku!"
"Tentu aku tidak setega itu, Ms.Hooch," kata Madeline selembut mungkin.
Semua anggota tim Quidditch terbang mengepung mereka bertiga. Tampak jelas ekspresi tim Griffindor sangat tidak senang. Berkebalikan dengan wajah-wajah penebar kebencian milik tim Slytherin. Madam Hooch tampak menimbang-nimbang hendak memutuskan apa. Spontan, Urquhart maju setelah menerima lirikan resah Madeline. Harry ikut menghampiri Madam Hooch, tak sabar menanti apa sanksi untuk Madeline.
"Itu bukan pelanggaran, Ms.Hooch," bela Urquhart. "Lestrange harus menghentikan usaha Weasley menariknya jatuh. Malah, Weasley yang melakukan pelanggaran berat, menarik jubah lawan."
"Kartu merah sepertinya pantas," timpal Madeline setelah saling melempar seringai licik dengan Urquhart. "Pelanggaran Weasley sangatlah membahayakan. Jelas dia ingin aku cedera berat."
Rahang Ginny terkatup rapat, wajahnya merah padam menahan marah dan kedua tangannya terkepal rapat. Kemarahan ini semakin bertambah parah saat melihat senyum manis Madeline yang dibuat-buat. Ginny tahu Madeline berusaha menjilat di depan madam Hooch. Sorot benci sejadi-jadinya yang dialamatkan Madeline untuknya, membuat Ginny ingin sekali menggampar gadis itu di muka umum.
"Aku melihat Lestrange menyikut dada Ginny tanpa alasan, Ms.Hooch," sela Harry tiba-tiba.
Baik Madeline maupun Urquhart terbeliak kaget. Ketika Urquhart akan mencoba melontarkan pembelaan untuk anak buahnya, Harry buru-buru melanjutkan perkataannya, "Aku lihat sendiri."
"Kau yakin, Potter?" tanya Madam Hooch seraya menatap Harry tajam.
Harry mengangguk yakin, "Jelas Lestrange sengaja."
Sontak Urquhart bertindak, dia tak terima. Akan tetapi Madeline segera mencengkram lengan Kapten Slytherin itu erat-erat sebelum dia sempat menghantam muka Harry. Urquhart tahu betul kalau Harry bisa meyakinkan Madam Hooch, Madeline akan diusir dari pertandingan karena pelanggaran tadi.
Madam Hooch menarik nafas panjang sebelum membuka mulutnya. Di saat yang sama, para penonton sudah berteriak-teriak tak sabaran, menuntut pertandingan segera dilanjutkan.
"Baiklah," ujar Madam Hooch, setengah berharap keputusannya ini tepat. "Penalti untuk Griffindor."
"Apaaa?!" kata Urquhart berang, mencoba protes. "Ini tidak benar…!"
"Kalau kau terus menganggu jalan pertandingan, aku terpaksa harus memberimu kartu merah, Urquhart," tegas Madam Hooch.
Terpaksa Urquhart menutup rapat-rapat mulutnya, mendongkol. Namun wajahnya berubah ramah saat menepuk pundak Madeline dan berkata," Setidaknya kau tidak terkena kartu merah, Lestrange. Jangan salahkan dirimu…"
Madeline hanya memberi Urquhart tatapan sekilas sebelum berlalu begitu saja. Dia kecewa sekali mendengar keputusan Madam Hooch. Gara-gara ini, skor tim Slytherin akan semakin tertinggal jauh dari Griffindor. Mereka akan kesulitan mengejar kecuali Harper bisa menangkap Snitch. Di sisi lain, Madeline sadar kalau Harry harus tetap objektif. Sebagai Kapten, wajar dia harus bertindak jika terjadi sesuatu yang salah terhadap anak buahnya. Begitu pula yang dilakukan Urquhart. Mereka berdua membela anak buah masing-masing.
Stadion kembali bergemuruh hebat. Demelza memaksimalkan kesempatan menjadi algojo, penaltinya berhasil menjebol gawang Boyd. Angka bertambah untuk keunggulan tim Griffindor atas Slytherin. Gol Demelza bahkan melecut semangat tim Griffindor untuk semakin memporak-porandakan pertahanan Slytherin yang digalang Urquhart. Kehebatan Griffindor menyebabkan anggota tim lawan kalang kabut mengamankan daerah kekuasaan mereka. Gol demi gol yang terjadi, semakin membuat tim Slytherin patah arang. Griffindor unggul mutlak atas Slytherin seratus lawan nol.
"Kami mengandalkanmu, Harper," ujar Madeline setengah memelas saat berpapasan dengan Seeker mereka kali ini. "Kau harus berhasil menangkap Snitch!"
"Kulakukan apa saja untukmu, Lestrange," sahut Harper lantang.
Wajah Harper segera berubah warna ketika Madeline mengerlingnya ingin tahu. Dia nyaris menabrak dinding stadion kalau saja terus memandangi Madeline alih-alih mencermati apa yang ada di depannya. Dia benar-benar aneh! pikir Madeline heran.
"Lestrange!" teriak Doughal sebelum mengoper bola.
Madeline berhasil mendahului Ginny Weasley menangkap operan itu, bahkan menyempatkan diri untuk tersenyum mengejek. Dengan Windboosternya yang canggih, Madeline sukses mengelabui hadangan Dean dan lolos dari kepungan Peakes-Coote. Dia tinggal berhadapan dengan Keeper Griffindor sekarang.
Madeline mengumpat kesal saat sekali lagi Ron menangkap bola bidikannya dengan sempurna. Quaffle itu mantap bersarang di dalam cengkraman Ron seolah disanalah dia seharusnya berada.
"Kurasa mataku sedang berbohong, Weasley!" seloroh Madeline sinis. "Seharusnya kau tidak sehebat ini. Kau pakai tipuan macam apa?"
Ron nyengir menyebalkan seraya melempar Quaffle itu kepada Dean dan meladeni kekesalan Madeline, "Aku memang tidak hebat, Lestrange. Aku hanya beruntung."
"Beruntung, huh?" Madeline menyeringai. "Apa darah pengkhianat busuk yang mengalirimu bisa membawa keberuntungan? Kalau benar, tolong donorkan untukku."
Hinaan kejam ini tidak ditanggapi Ron sama sekali. Kekesalan yang memuncak ditambah kelelahan hebat membuat dada Madeline kembali bergejolak. Kondisi jantungnya yang lemah ini membuatnya begitu cepat lelah dan mudah pingsan saat mendapat shock berat. Tanpa sadar, Madeline memukul-mukul pelan dadanya, berusaha meredakan amukan yang menyakitkan di dalam sana. Sementara itu wajahnya memucat dan keringat dingin mengucur deras. Madeline tidak menyadari Ron, yang berada dekat darinya, sedang keheranan mengamati perubahan sikap ini.
Namun perhatian Ron segera tersedot pada hal lain. Di kejauhan nampak Harry dan Harper berkejaran susul menyusul. Harper mengejar Snitch dengan terbang membabi buta, dibuntuti Harry yang meluncur mulus. Teriakan histeria dari para penonton semakin membuat mereka berdua berpacu adu cepat. Tinggal menunggu sebentar lagi untuk tahu siapa yang akan menjadi pemenang.
Madeline mencengkram erat ujung sapunya, gemas bercampur tegang. Harper yang memimpin pengejaran nampak akan berhasil menangkap Snitch. Bola emas bersayap mungil itu tinggal beberapa senti lagi dari jari-jari Harper. Jika Snitch berhasil tertangkap, maka Slytherin akan menang.
"Apa?!" teriak Madeline tak percaya. "Kenapa…?"
Entah apa sebabnya, Harper meloloskan Snitch begitu mudah. Kali ini Harry merebut posisinya, dan celaka tiga belas bagi tim Slytherin, Snitch tertangkap oleh Harry.
Suara gemuruh sorakan penonton dan bunyi peluit Madam Hooch, serta tanah stadion yang serasa bergetar saking gemparnya, terasa gamang bagi Madeline. Kemenangan Griffindor sangatlah menyakitkan. Bagaimanapun kalah dua ratus lima puluh angka benar-benar memalukan. Seluruh anggota tim Slytherin hanya bisa tertunduk lesu.
Lain halnya untuk Madeline. Sakit di dadanya semakin parah. Dia tidak hanya kecewa berat karena kalah telak dari Griffindor, jantungnya sudah mulai sakit bukan main. Ketika kakinya kembali berpijak di tanah, Madeline masih saja disuguhi pemandangan menyebalkan. Melihat tim Griffindor berpelukan riang merayakan kemenangan mereka adalah pemandangan yang sangat menyakitkan mata.
Apalagi saat melihat Harry berpelukan dengan Ginny. Walau hanya berlangsung beberapa detik, namun seolah Madeline baru saja menyaksikannya dalam slow motion. Dan, kedua mata Madeline berair tanpa sebab. Tiba-tiba saja dia merasa sangat cemburu.
