Perasaanku

Maolvi Syahdi R.

Disclaimer : Hiro Mashima

Genre : Romance

Tokoh utama : Lucy Heartfilia

Gray menatapku dengan sangat serius. Aku hanya menatap Gray beberapa saat. Dan setelah itu melepaskan tanganku dari genggaman Gray dan setelah itu berlari menuju kamarku.

Gray beserta teman-temanku yang lain memperhatikanku yang berlari kekamar. Gray yang sebelumnya ingin mengejarku, ditahan oleh Erza. Sementara aku yang berada di kamar hanya memandangi foto Natsu.

Aku selalu berharap kau akan selalu berada disisiku, membahagiakanku, menyelesaikan seluruh Misi bersamaku, tersenyum padaku. Namun semua harapanku itu kini telah sirnah, dan tidak akan mungkin dapat kucapai lagi. Kata-kata itu terukir di benakku.

"Natsu, apa kamu tahu seberapa sedihnya aku ? apa kamu tahu bagaimana perasaanku ? dan apa kau tahu bahwa kau adalah orang yang sangat kucintai ? dan yang terpenting apa kau tau bahwa aku sangat ingin mengisi hari-hariku dan hidupku serta seluruh perasaan bahagiaku bersamamu ?"ucapku dengan keras hingga meneteskan airmataku

Aku menangis sekencang mungkin tanpa peduli keberadaan teman-temanku saat ini. Aku ingin meluapkan seluruh emosiku saat ini.

Keesokkan harinya aku pergi menuju Guild. Sesampainya di Guild semua org menyapaku, dan akupun membalas sapaan mereka dengan senyum palsu yang menghiasi wajahku.

"ohayo Lucy" sapa Wakaba-san

"ohayo" ucapku membalas sapaan Wakaba-san

Aku duduk sendirian dimeja yang tak disentuh oleh satupun penyihir Fairytail. Setelah duduk, tiba-tiba Cana menghampiriku. Akupun tersenyum pada Cana. Cana pun membalas senyumanku dan duduk disampingku.

"apa kamu sudah merasa lebih baik ?"Tanya Cana

"ah, iya"jawabku

"baguslah kalau begitu"ucap Cana

Cana menatapku sambil tersenyum padaku. Aku membalas senyuman Cana.

"aku ingin pergi dulu"ucapku pada Cana

"kemana ?" Tanya Cana

"ke pasar, aku belum membeli bahan makanan untuk makan malamku"ucapku sambil berusaha tersenyum.

"oh begitu, kalau begitu sampai jumpa"ucap Cana

Sebenarnya tujuanku adalah taman kota Magnolia tempat aku dan Natsu biasa berkencan. Ya, untuk saat ini aku tidak ingin berbaur dengan seluruh anggota guild. Aku melakukan hal ini agar tidak ada satupun dari mereka yang mempedulikanku agar mereka tidak merasa cemas karena aku.

Ditaman kota Magnolia aku memandangi bunga mawar merah yang tertanam ditaman itu. Aku merasa kisah cintaku dengan Natsu bagaikan bunga mawar yang aku pandangi. Indah diawal namun akan suram diakhir karena aku terkena duri cinta itu.

Setelah memandangi mawar itu rasanya aku sangat ingin menangis dan mencurahkan seluruh emosiku, namun kini aku berada di taman, tempat umum. Menangis hanya mempermalukan diriku sendiri. Disaat aku memandangi awan,tiba-tiba aku mendengar suara.

"menangislah jika itu membuatmu puas. Menangislah jika bagimu itu adalah cara untuk membuat dirimu membaik"

Aku pun menolehkan wajahku ke arah suara itu berasal. Setelah aku menolehkan wajahku akupun tau siapa yang mengucapkan kata-kata itu. Ya, orang itu adalah Gray. Sejak sepeninggalnya Natsu, Gray selalu datang menghampiriku dan berusaha menghiburku namun aku tidak terhibur oleh Gray.

"Menangislah Lucy, aku tau kamu belum membaik. Menangis akan menyelesaikan masalah perasaanmu yang masih tersakiti. Menangis akan meluapkan emosimu"ucap Gray

"iya Gray" ucapku membalas ucapan Gray.

"Lucy, aku tau tempat ini bukan tempat yang tepat untuk meluapkan emosimu, ayo ikut aku"ucap Gray sambil meraih tanganku.

Gray pun membawaku ke suatu tempat yang agak aku kenali arahnya. Dan setelah sampai ditempat itu, aku mengenalinya dengan baik. Ya tempat itu adalah rumah Natsu.

"ini…." Celetukku

"ya, ini adalah rumah Natsu, sekarang aku dan Erza sering merapihkannya. Ayo masuk ke dalam"ucap Gray mengajakku masuk ke dalam rumah Natsu.

"ya…"ucapku engan ekspresi sedihku.

Setelah masuk ke dalam aku melihat semua kenang-kenangan misi Natsu. Saat aku melihat ke arah dinding, aku melihat sepuluh bingkai fotoku bersama Natsu. Saat melihat itu aku tak kuat menahan tangis ku, aku pun menangis sekencang-kencangnya.

Gray yang saat itu berada disisiku, memelukku. Aku pun mengarahkan wajahku ke dada bidang milik Gray. Aku menangis, dan Gray hanya mengelus-elus punggungku.

"menangislah sepuasmu selagi kamu bisa, curahkanlah semua emosimu"ucap Gray.

Mendengar hal itu, akupun tak-segan-segan lagi menangis lebih kencang dan semakin kencang . sedangkan Gray yang sedang memelukku, kini memelukku lebih erat lagi. Kini kehangatan tubuh Gray semakin terasa. Karena hal ini, akupun meredakan tangisanku . setelah itu aku menatap Gray sambil tersenyum padanya

"arigato Gray" ucapku

"ah…"celetuk Gray.

Akupun memeluk Gray dan Gray membalas pelukanku.

Bersambung ke chapter 4

Kritik dan saran please