Chapter two: B for Bridge, Bike and Ride.
Two days after their first meet.
Di dalam sebuah ruangan yang berantakan, ada seorang perempuan yang duduk di pojok ruangan, dengan laptop di depannya. Jari tangannya sibuk mengetik sesuatu—yang tampaknya sangat penting. Sesekali tangannya memperbaiki letak kacamatanya yang kian menit kian merosot.
Ternyata ia adalah Nayeon.
Gadis itu membenahi posisi duduknya, tanpa melepas pandangannya dari layar monitor. Setelah memberi sentuhan akhir pada dokumen yang akan menjadi penentu masa depannya itu, Nayeon menutup laptopnya dan membuka kacamatanya. Sambil memijat pelipisnya yang tiba-tiba saja terasa pening.
Nayeon mengecek jam tangannya, dan ia menghela nafas panjang setelah mengetahui waktu saat ini. Sekarang jam 11.47 dan itu berarti 2 jam 13 menit lagi untuk ke kelas berikutnya. Mungkin ini adalah alasan dibalik helaan nafas bosan Nayeon tadi.
"Aaaaaaa. Aku harus melakukan apa." Nayeon mengerang malas.
Nayeon memang bukan tipe orang yang bisa menahan kebosanan hingga berjam-jam lamanya. Mengerjakan tugas tadi saja, ia berkali-kali mengambil istirahat. Buktinya, baru diam beberapa menit saja ia sudah mulai berkicau tidak jelas.
Setelah berdebat dengan batinnya, perempuan berusia 21 tahun ini beranjak dari posisi malas-malasannya. Tak lupa melihat pantulan bayangannya di cermin, dan membenahi bagian dari pakaiannya yang tidak rapi. Setelah memoles bibirnya dengan lipgloss, ia berjalan keluar pintunya, dan menguncinya.
Baru tiga langkah ia berjalan, gadis ini menghentikan pergerakannya.
"Sial. Setelah berada di luar, aku bingung mau melakukan apa." gumam Nayeon.
"Ah, biarlah. Aku akan mengikuti kemana kakiku pergi saja." lanjutnya.
Dan benar. Ia berjalan tanpa tujuan, hanya mengikuti kemana kakinya pergi. Tapi sepertinya Nayeon tau, kemana kakinya ingin pergi. Ke jembatan dekat kampusnya, lebih persisnya.
"Aigoo, ternyata kaki-ku ingin pergi ke tempat yang romantis." ucap Nayeon pelan.
Nayeon berjalan sembari mengarahkan pandangannya ke seluruh penjuru tempat ini, indah sekali. Tidak salah kakinya ingin ke tempat seperti ini.
Kakinya terus berjalan, sampai akhirnya berhenti di tengah jembatan. Jembatan ini tidak begitu tinggi dari permukaan sungai, dan sungainya pun tidak terlalu dalam. Jadi Nayeon bisa menikmati pemandangan disini dengan rasa aman.
Insting dan keyakinan Nayeon tidak selalu benar. Ia tidak aman berdiri disini, karena dari ujung kanan jembatan, terdapat seorang pemuda yang mengayuh sepedanya dengan kecepatan yang diluar nalar manusia.
"HEY! NONA! MINGGIR!" laki-laki itu berteriak keras ke arah Nayeon—yang tidak mendengarnya karena baru-baru ini Nayeon menggunakan earphone untuk mendengarkan radio kesukaannya. Tanpa memperlambat laju sepedanya.
Sampai akhirnya,
/CKIIIIITTT/
Suara rem, dan ban sepeda yang berkontak langsung dengan kayu jembatan terdengar sangat memilukan ditelinga siapapun yang mendengarnya.
Nayeon menatap bingung—dan kaget, ke arah sumber suara, dan pelaku dari suara tersebut. Mendapati Seungcheol yang sama kagetnya dengan Nayeon.
"Oh? Nayeon?" panggil Seungcheol, dengan sebuah senyuman—yang sangat berbeda dengan kondisinya beberapa detik yang lalu. Sambil mengayuh sepedanya dengan pelan, mendekati Nayeon—mengingat jarak Nayeon dan Seungcheol yang cukup jauh.
"E-eh? Seungcheol?" Nayeon malah balik bertanya, yang dibalas dengan senyuman manis itu.
"Ya, ini aku." jawab Seungcheol.
Hening. Terlihat Nayeon yang sedang sibuk merangkai kata untuk bahasan selanjutnya, dan Seungcheol yang menggaruk tengkuknya gugup, dan malu.
"Pertemuan kita selalu diawali dengan sebuah insiden ya, hahaha." ucapan Seungcheol memecahkan keheningan diantara mereka berdua, dikuti dengan tawa sumbangnya.
"A-ah, ya.. sepertinya begitu." balas Nayeon dengan canggung.
"Err.. untuk soal tadi, maaf ya. Aku sedang melakukan taruhan dengan temanku."
"Ya, tak apa. Lagipula aku tidak terluka." jawab Nayeon.
"Aku penasaran, taruhan apa yang kau ikuti, Cheol?" lanjutnya.
Senyum Seungcheol terkembang, "Bagaimana kalau kita ngobrol sambil berjalan? Sepertinya kita menghalangi jalan orang lain." seraya turun dan menuntun sepedanya, dan berjalan di sebelah Nayeon.
"Ah, benar." balas Nayeon dengan malu, sambil melangkah menyesuaikan dengan Seungcheol.
Hening, lagi. 'Geeez, menyebalkan. Im Nayeon, kau adalah convo killer', gerutu Nayeon di dalam hati.
Nayeon mencoba mengumpulkan keberaniannya dan mulai bertanya, "Ah ya, apa taruhan yang sedang kau ikuti itu?"
"Melintas ke jembatan tadi menggunakan sepeda, dengan kecepatan diatas rata-rata." jawab Seungcheol.
Nayeon mengangguk paham, "Tidak ada keuntungan bagi pemenang?"
"Tentu saja ada. Pemenangnya akan terbebas dari segala tugas selama satu minggu, karena akan ditanggung oleh yang kalah."
"Ah, begitu. Maaf sudah membuatmu kalah dalam taruhan itu."
"Hey, jangan mellow seperti itu. Lagipula aku juga salah, seharusnya menunggu jembatan kosong terlebih dahulu." ucap Seungcheol sembari mengusak rambut Nayeon.
Nayeon tersenyum atas perlakuan Seungcheol, yang untungnya tidak disadari Seungcheol.
Kedua sejoli ini berjalan dengan keheningan, yang entah bagaimana, keheningan saat ini terasa nyaman, tidak membebaninya sama sekali.
"Nay?" panggil Seungcheol.
"Ya?"
"Sepertinya kau kelelahan,"
"Wanna go for a ride?" tawar Seungcheol dengan senyuman yang seakan membuat dunia Nayeon berhenti. Yang dengan senang hati Nayeon terima.
FIN
745 words
A/N : Aku kembali dengan chapter yang sama gak ada faedahnya kek chapter pertama. Endingnya juga ga jelas, maaf ya kawan T _ T
Terimakasih untuk reader ff-ku, tetap tunggu kelanjutan cerita ini ya. Gak akan ada clue untuk chapter kedepan, jadi stay tune! Heheh.
RnR?
