Happy Reading! :D
A untuk Andre
Andre dan Mathias sudah menjadi musuh bebuyutan sejak lama. Entah sejak kapan kagak ada yang tau! Tapi kalau keduanya udah berantem, orang yang paling sibuk melerai mereka adalah Gerrard, Ieyasu, Lance, dan Emil.
Seperti sekarang ini! Kali ini mereka berdua berantem hanya karena lomba memotong bawang bombay! Mathias kesal karena Andre curang dengan menggunakan pisau daging, padahal mereka udah sepakat pake pisau roti (?) buat motong bawangnya.
Oke, deh! Itu memang aneh, sih! Tapi dapat dipastikan kalau seluruh warga NihoNime Gakuen bakalan dapet tontonan perang gratis di Kantin dan seperti biasa, keempat orang yang disebutkan barusan pun terpaksa harus melerai mereka lagi.
B untuk Berwald
Personifikasi Sweden yang satu ini mempunyai peranan kecil di NihoNime Gakuen. Dia banyak membantu Mathias dalam pekerjaan yang agak sepele kayak memperbaiki pintu atau peralatan sekolah yang ada!
Nah, pria berkacamata yang satu ini punya banyak nama panggilan! Su-san, Svi, Sverige, Oxenstierna-san, Suweden-pyon (?), Berwald-san, Stoic Face (?), dan lain sebagainya.
Tapi, taukah kalian? Dia pernah melakukan sebuah kejadian gaje yang konyol tingkat dewa! Kentut di ruangan Mathias!
Gue serius, lho! Kalau kagak percaya, liat aja kejadian berikut!
Mathias lagi ngumpet di bawah mejanya karena masalah pribadi (baca: perdebatan gaje tentang panggilan 'Onii-chan' antara Lukas dan Emil) di ruangannya. Saat itu, Berwald lagi nyariin dia cuma buat balikin sekumpulan berkas negara yang ditinggalkannya di rumah!
BRET!
Entah kenapa, karena merasa hanya ada dia di ruangan itu, Berwald hanya bisa nyengir (yang kalau dibayangkan, mungkin agak sedikit aneh) dan kakinya berada tepat di depan Mathias yang udah nutup hidungnya karena kebauan mencium aroma kentut tersebut.
"Hmm, 'duh! Kok gu' y'ng gant'ng 'ni k'ntut s'bau 'ni?, y'" tanyanya pada diri sendiri dengan sedikit ber-narsis ria.
Entah karena iseng atau apa, Berwald mengarah bokongnya tepat di bawah meja tempat Mathias ngumpet dan kentut di sana.
BRET! BRET! BRET!
"H'h! 'duh, 'ku jad' m'lu, d'h! K'bur, 'h!" ujarnya sambil meninggalkan ruangan tersebut.
Keadaan Mathias? Dia udah sakaratul maut saking baunya kentut sobatnya tersebut. Bahkan, mulutnya udah ngeluarin busa!
"Huek! Sverige abis makan apaan, coba? Kok bisa sebau itu kentutnya?" tanya pria jabrik itu sambil muntah.
Ah, malangnya nasib ketua guru kita! -_-"a
C untuk Creamed Cake
Emil tengah menatap creamed cake di depannya. Entah apa yang merasuki Lance sampai mengundangnya ke rumah keluarga Stoppersky dan dihidangkan kue krim yang merupakan resep khas keluarganya. Dia baru tau kalau keluarga Lance suka memasak, apalagi makanan yang manis-manis. Mungkin saja Tino bisa sampai kalah sama dia.
Dia mencoba sepotong setelah ditegur Nyonya Stoppersky yang tidak suka tamunya melamun dan membiarkan makanannya dingin. Harus diakui, kue itu cukup enak sih! Tapi dia tidak sadar kalau Lance dari tadi sibuk memperhatikannya makan (karena mereka duduknya berhadapan).
"Kenapa kau memperhatikanku seperti itu?" tanya pemuda Icelandic itu saat menyadari ada yang memperhatikannya.
"Errr, kagak! Aku hanya heran saja!" jawab Lance watados.
"Kalian akrab sekali, ya!" komentar Tuan Stoppersky jahil.
"Ayah!" Wajah pemuda berambut merah itu langsung memerah.
Emil hanya bisa tersenyum melihat reaksi Lance tersebut.
"Oh, nak Emil! Kalau seandainya kau perempuan, mungkin kau bisa menikah dengan Lancy!" timpal Nyonya Stoppersky iseng.
"Aduh, Ibu! Jangan katakan itu!" Lance langsung menutup wajahnya karena malu.
Emil tidak menyangka kalau pemuda merah di depannya itu ternyata agak pemalu. Mungkinkah karena pacaran dengan laki-laki (dalam hal ini, dia adalah orang yang dimaksud) membuatnya sedikit keki? Ah, sepertinya dia tidak perduli!
"Moncong-moncong, bagaimana rasanya?" tanya Lance mengalihkan pembicaraan.
"Eh? Maksudnya?" Emil hanya bisa memiringkan kepalanya karena bingung dan keluarga Stoppersky pun berusaha menahan diri untuk tidak mimisan atau mengambil kamera saat itu juga.
"Kuenya, Emil-san!" Lance berusaha menahan diri untuk tidak meraep pemuda Icelandic di depannya saking imutnya dia mengingat orang tuanya itu Fujodanshi.
"Hmm, lumayan!" jawab Emil datar.
"Kalau kau mau, kami akan merestuimu!" kata Nyonya Stoppersky yang langsung diprotes Lance dengan berteriak 'Ibu!' dan wajah yang merah padam.
"Tidak perlu repot-repot!" tolak Emil sedikit tidak enak. "Nanti kakakku bisa me-"
"Aku juga merestuimu!"
Entah kenapa, sesosok pria berambut pirang langsung muncul dari dalam rak piring (?) yang sukses mengagetkan seisi ruang makan di rumah keluarga Stoppersky.
"Nore! Ngapain lu munculnya kagak kira-kira, sih?!" tanya Emil emosi.
"Dia kakaknya Emil, ya? Namanya pasti Steil-"
"Ayah! Namanya tuh Lukas Bondevik, dari Norwegia! Kalau Emil-san dari Islandia!" ralat Lance memotong perkataan ayahnya.
"Kok bisa beda marga, ya?" tanya kedua orang tua Lance bingung.
Anak semata wayang mereka hanya mengangkat bahunya.
"Salam kenal, Tuan dan Nyonya Stoppersky!" sapa Lukas datar.
"Salam kenal juga, nak Lukas! Kami senang kalau kau mau merestui mereka!" balas Nyonya Stoppersky ramah.
"Tidak apa-apa! Aku senang kalau Aisu punya pacar kayak anakmu!" kata Lukas dengan senyum kecil yang langsung diteriaki 'Nore!' (Emil) dan 'Lukas-san!' (Lance) dengan wajah super merah.
Kedua orang tua Lance hanya bisa tertawa garing melihat reaksi anak dan calon menantunya (?) tersebut.
Yah, siapa tau aja hubungan mereka semakin akrab berkat kejadian itu!
D untuk Doll
Banyak hal yang bisa diceritakan dari sebuah boneka. Yah, kayak Clocktower Doll atau Rozen Maiden. Oke! Maaf nyasar fandom, jadi abaikan saja!
Lance tak sengaja menemukan sepasang boneka di gudang saat membantu Nordic bersih-bersih. Yah, kalian pasti taulah kalau dia biasanya melakukan sesuatu di sana dengan cara memaksa Emil dan lebih baik jangan dibahas lebih lanjut atau nyawa Narator sedeng ini melayang karena tembakan pistol dari si Icelandic tersebut. *Siapa juga yang perduli?*
Entah kenapa, boneka itu mengingatkannya kepada seseorang. Dia pun memanggil yang lainnya dan memberitahukan perihal tentang boneka yang ditemukannya tersebut.
"Serius kau menemukan ini?" tanya Tino antusias melihat boneka tersebut.
Pemuda berambut merah itu hanya mengangguk kecil. Tino masih tetap menatap antusias benda di atas meja ruang tengah tersebut, sementara Lukas, Berwald, dan Emil hanya memandangnya dengan datar.
Moncong-moncong, kenapa Mathias kagak nunjukin batang hidungnya, ya? Biasanya, dia juga bakalan ikutan antusias di saat seperti ini!
Oh, iya! Benda yang ditemukan Lance itu berupa sepasang boneka berambut jabrik. Yang satu rambutnya pirang, maniknya biru, dan memakai baju putih dengan jubah merah di punggungnya, sementara yang satunya berambut putih, bermanik ungu dengan kacamata, dan memakai baju putih dengan pita hijau di lehernya.
"'ku p'rnah lih't b'nek' 'tu d' su'tu t'mpat, tap' 'ku t'dak ing't d'mana!" ujar Berwald datar.
"Hah?" Keempat orang lainnya hanya bisa menatapnya dengan heran.
"Yo, minna! Kenapa pada ngu-"
Dan makhluk keenam (baca: Mathias) yang kebetulan baru muncul langsung shock melihat sepasang boneka di atas meja ruang tengah.
"Apa ada, Dan?" tanya Emil bingung.
Boro-boro menjawab, Mathias malah menyelonong pergi seenak pantatnya ke kamar. Hal itu pun sukses membuat mereka semua makin bingung. Mungkin kalau telinga mereka cukup tajam, pasti terdengar gumaman pelan seperti ini:
"Bagaimana bisa mereka menemukan boneka milikku dan Greeny di gudang?"
Dan itu biarlah jadi rahasia Ilahi! *Narator dihajar massa!*
E untuk Empang
Oke, deh! Pasti kalian bingung dan bertanya 'Apa hubungannya empang sama Nordic?', bukan?
Mungkin yang ada di pikiran kalian tentang ini adalah memancing. Iya! Mereka memang sering memancing, terutama kalau lagi kagak ada kerjaan.
"Aduh! Kenapa kagak dapet, sih?" keluh Luthias sambil melirik kailnya yang dari tadi kagak disamperin ikan.
"Mungkin karena kurang hoki, kali!" celetuk Tino watados sambil memasukkan ikan tangkapannya yang kesebelas ke dalam ember.
"Demi Noru-nii yang disalepin -piiip-nya Hanatamago sama Su-nii (?!), kalau mau ngejek kagak usah segitunya, Fin-nii!" balas pemuda Greenland itu dengan nada bosan.
Webek, webek...
Entah kenapa, perkataannya barusan sukses membuat aura suram bertebaran dimana-mana, bahkan sampai sukses mengagetkan Lance yang menganggap Luthias sebagai murid teladan yang dikiranya formal, tapi ternyata aslinya frontal.
"Pantesan aja waktu itu bau salepnya Norge kayak bau kotoran hewan, lu masukin apa aja selain -piiip-nya Hanatamago, Sverige?" tanya Mathias santai tapi terdengar agak sinis.
Berwald hanya bisa menelan ludah, terutama saat melihat Lukas sudah menyiapkan tongkat sihir keramatnya.
Lasst uns beten für die Sicherheit von Schweden (Mari kita berdoa untuk keselamatan Swedia)! Semoga jiwa-nya (tidak) diterima di sisi-Nya! (Berwald: "KENAPA MENDOAKANNYA JELEK BANGET?!" *langsung bantai Thundy di tempat.*)
Kejadian selanjutnya sangat tidak lulus sensor! Yang penting, kita sudah tau resiko menggunakan kotoran hewan sebagai salep! Poor Sweden! *Narator disumpelin pake sustromming.*
F untuk Fisika (R)
Kelas 9C sekarang sedang belajar Fisika bersama Lukas yang menggantikan Hanbei yang ngilang entah kemana.
"Nah, sekarang kita akan membahas soal rangkaian hambatan pengganti!" kata Lukas memulai pelajaran. "Kita mulai dari rangkaian seri!"
Anak-anak itu pun memperhatikan dengan serius selagi pria Norway itu menjelaskan.
"Sekarang, kita berlanjut ke rangkaian pararel!" ujarnya tanpa ekspresi.
"Paralel, pak!" ralat para mulas 9C.
"Pararel, paralel, atau para**?" tanya Lukas datar.
Girl-chan yang merasa terpanggil pun hanya bisa menutup wajahnya dengan buku agar kagak ada yang melihat kalau dia lagi nahan tawa.
"****! Kemana anak yang duduk di sebelahmu?" tanya Lukas lagi sambil menunjuk bangku di sebelah gadis itu.
"Maksudnya Giro-kun? Saya kagak tau, pak!" jawab Girl-chan sambil mengangkat bahunya.
Lukas: "Woi, Author! Apa maksudnya itu?"
Me: "Waktu pelajaran IPA, gue dipanggil 'para**' sama bu S*pt*n kagak tau kenapa!"
Lukas: "Terus, bukannya di sekolah lu, yang duduk di sebelah lu si Id***? Kenapa malah Giro-kun?"
Me: "Itu karena di 'BTP' gue bikin dia sebangku sama gue! Kalau Id***, gue bikin dia sebangku sama si Lu****!"
Lukas: "Ngerti ngerti! Apa sekarang bisa dilanjutkan?"
Me: "Oke!"
G untuk Giro-kun
Anak yang satu ini terkenal sebagai komponis sekaligus musisi papan tulis (?) se-NNG!
Yap! Dia suka banget sama piano, biola, harpa, dan berbagai macam alat musik klasik lainnya.
Tapi kalau kalian memanggilnya 'Giro Bilyet', itu akan berakibat buruk karena dia tidak akan segan memukul kalian dengan biola yang selalu dibawanya bahkan sampai ke kamar mandi. (Hiuh!)
Salah satu kejadiannya seperti ini!
Suatu hari, kelas 9C sedang mengadakan Field Trip ke sebuah museum dan salah satu guru NNG menjadi pemandunya.
Yah, kalau pemandunya yang agak tegas kayak Gerrard dan Raven atau yang paling sabaran kayak Lance dan Ieyasu, mungkin masih bisa dimaklumi. Tapi kalau pemandunya yang rada-rada songong dan blekok kayak Elsword dan Matt, dijamin kagak bakalan berjalan dengan damai!
Tapi sialnya, kali ini Matt yang ditunjuk sebagai pemandu hari itu. Sang pemandu dengan sotoy-nya menjelaskan berbagai hal yang bikin siapapun gondok mendengarnya, sampai...
"Hey, Giro Bilyet! Apa kau bisa bantu aku menbawa barangku sebentar?"
Sayangnya, Matt malah mendapat hadiah pukulan biola dari Giro-kun dengan sadisnya. Alhasil, seluruh pengunjung yang melihatnya langsung menatapnya dengan horror dan membuat catatan mental untuk kabur sejauh mungkin jika hal itu terjadi lagi.
H untuk Hyena
Luthias tidak suka Hyena. Lucu sekali, sih! Tapi bukannya karena dia kagak pernah liat (karena dia tinggal di daerah yang terlalu dingin untuk tempat hidup) mamalia yang satu ini, tapi karena trauma sama boneka hyena milik Fiorel sebelum mereka berdua tinggal di rumah Nordic.
Ceritanya seperti ini! Saat Luthias diminta Boss-nya untuk tinggal di rumah Fiorel karena suatu alasan, dia hanya menurut dan berangkat ke sana.
Setelah sampai di Kepulauan Faeroe (Yo wes! Ente mau bilang 'yo dawg' sambil salto ala tentara pun juga boleh, kok!), dia langsung cengo mendapati sebuah boneka hyena besar di depan pintu beserta beberapa boneka binatang lainnya yang membuatnya berpikir 'Darimana Faeroe-chan dapat hewan sebanyak itu?' karena mengira itu hewan beneran.
"Ah, Greeny! Selamat datang! Mau kenalan sama teman-temanku? Aniki baru saja membelikan boneka ini untukku!" sapa Fiorel ceria seolah tidak tau (atau malah tidak perduli) dengan keadaan saudaranya tersebut.
'DAFUQ?! Jadi yang aku lihat tadi itu hanya BONEKA?!' batin Luthias shock dan langsung pingsan di tempat.
"HUWAAA! GREENY, KAMU KENAPA PINGSAN?! ANIKI, GREENY PINGSAN! CEPAT BAWA DIA KE UGD!" pekik Fiorel panik.
Kayaknya, ini terlalu gaje deh! -_-"a
I untuk In My Heart
Oke, ini agak aneh! Tapi kalau kalian mau tau maksudnya, ya kayak begini! Tolong siapkan segala sesuatu karena akan ada yang tak terduga nanti!
"Bapak tau tentang 'sesuatu', tidak?"
"Eh? 'Sesuatu' apaan?"
"Cuma nanya doang, kok!"
"Bapak serius, jangan sok bercanda kayak abang dogol-mu itu!"
"Baiklah! Aku ingin bertanya satu hal!"
"Apa itu?"
"Kenapa ada nyanyian 'Sesuatu yang ada di hatiku', ya?"
Mathias yang kebetulan mendengar percakapan gaje itu hanya bisa ber-'le dafuq' face ria, sementara Matt yang ditanya sama Fiorel langsung pasang wajah 'WTF' mendengarnya.
"Err, Faeroe-chan! Lebih baik biar aku saja yang menjelaskannya di rumah!" saran Mathias sedikit risih.
J untuk Jembatan
Ieyasu sedang menatap jembatan kartu yang sedang dikerjakan Lukas. Entah kerasukan apa dia sampai melakukan hal seperti itu.
"Bondevik-san! Apa kau tidak punya kerjaan lain selain ini?" tanya pemuda Asian itu ragu.
Mata biru tanpa awan itu menatap datar pemuda berambut coklat yang tengah memandanginya dengan bingung.
"Kau pikir ada sesuatu yang lain untuk dikerjakan?" Pria Norway itu bertanya balik dengan nada monoton.
"Bukan begitu, tapi..."
"Kau masih ingat teman si bocah merah yang kemaren kita temui itu?"
Ieyasu agak kaget mendengarnya. Dia mencoba mengingat kejadian dimana dia dan Lukas bertemu dengan seorang pemuda berambut pirang panjang yang mengaku sebagai teman Lance dan hampir saja jadi korban cekikan Troll milik si Norwegian kalau saja Mathias dan Emil tidak mencegahnya dan menjelaskan semuanya dengan tampang miris.
Lagian, siapa yang tidak miris melihat seseorang menjadi korban hanya karena salah paham?
"Roszak-san? Memangnya kenapa?" Ieyasu hanya bisa memiringkan kepalanya dengan bingung.
"Aku tak habis pikir! Maksudnya, dia menantangku sesuatu yang abstrak!" ujar Lukas datar sambil melanjutkan pekerjaannya.
"Nani desu ka?" tanya si Japanese pencinta kuning tersebut sambil mengangkat sebelah alisnya.
Setelah itu, dia pun mengetahui kalau pertanyaannya tadi akan memunculkan jawaban terabstrak yang pernah didengarnya.
"Membuat jembatan kartu!"
K untuk Kapak
Shingen hanya bisa menatap dengan setengah tidak percaya ke arah pemandangan yang sedikit mengejutkan di depannya.
Yah, bisa ditebak kalau Mathias berantem sama Andre untuk yang kesekian kalinya hari ini! Tapi bedanya, ketua guru itu langsung membelah meja Andre dengan kapaknya saat mendengar kalau dia tau aibnya tentang 'adik yang luarnya formal, tapi dalamnya frontal'.
Harus diakui kalau Mathias sering membawa kapaknya. Tapi, setidaknya dia harus bisa belajar mengendalikan emosi.
"Køhler-san masih marah sama Andre-san?" tanya sang 'Kai no Hittou' saat mendapati Mathias sibuk menebas pohon di halaman belakang sekolah.
"Aku tidak bisa menerimanya! Aib itu terlalu cepat tersebar!" jawab pria jabrik itu sambil memukul pohon besar di sebelahnya dengan tangan kiri dan tidak terlalu memperdulikan tangannya yang nanti akan berdarah atau malah retak.
"Tapi..."
"Kenapa, Shingen? Kau mau aku mengulangi kejadian 'itu' lagi?"
"Bukan begitu, tapi apa anda tidak bisa menenangkan diri sejenak?"
Mathias hanya bisa menghela nafas. Kalau sudah marah begini, pasti pikirannya bakalan kacau balau dan semerawut kayak gulungan benang (?). (Mathias: "KASIH DESKRIPSI YANG BENER DIKIT, APA?!" *langsung memenggal Thundy di tempat.*)
"Mungkin kau benar, tapi tetap saja aku..."
"Tidak bisa menahan amarah?"
"That (Begitulah)!"
Shingen hanya bisa manggut-manggut mendengarnya. Dia mengerti kalau Mathias memang sulit menahan emosi, terutama kalau menyangkut hal pribadi. Tapi yang menarik perhatiannya adalah kapak milik sang ketua guru.
"Apa kau tertarik untuk latihan? Setidaknya untuk menenangkan diri!"
"Boleh juga, Køhler-san! Tapi aku penasaran, sejak kapan kau punya kapak?"
"Sejak aku masih jadi viking! Sudahlah, lebih baik kita mulai saja!"
Yah, setidaknya kau cukup beruntung, Shingen! Karena aku takut kau akan tau tentang mode viking Mathias yang jauh lebih mengerikan untuk dibayangkan!
L untuk Luthfi
Ketua kelas 9C yang satu ini punya hubungan yang 'baik' dengan sang ketua guru kita. Yah, walaupun hanya sekedar memperebutkan lapangan, sih! Tapi mereka udah kayak 'kucing dan anjing' kalau menyangkut soal lapangan olahraga! Kalau kalian baca fic 'For Our Field!', kalian pasti ngerti! *promosi, mas?*
Seperti sekarang ini! Kali ini, mereka punya cara gila untuk mendapatkan prioritas di lapangan olahraga. Yaitu...
.
.
.
.
.
.
.
.
Adu panco plus catur? Please, deh! Kayaknya mereka tuh cocoknya jadi badut lawakan (?) di Net sana, deh! *Narator dikejar-kejar Mathias dan Luthfi.*
Yang pasti, mereka yang menonton adegan gaje itu pun hanya bisa sweatdrop.
M untuk Mimpi Buruk
"Ah, Esland-san!"
Dia ingin mencegahnya. Dia harus mencegahnya. Temannya itu gila, sakit jiwa. Entah kerasukan apa sampai tega-teganya melakukan ini kepadanya.
"Tidakkah kau pikir ini surga? Haa!"
Demi scone basi yang masuk ke mulut Mathias saat perang di World Meeting, dia pakai mendesah segala? Belum cukupkah siksaan yang dialaminya? Dia hanya sanggup menatap tak berdaya ke arah sang sobat yang dengan serakah mengeksplorasi apa yang seharusnya...
"Ternyata mereka lucu juga, ya? Coba lihat! Kalau aku memegang keriwilnya Norwe-san kayak gini, mukanya langsung kayak gitu! Hihihi! Mau coba? Ah, aku lupa! Kau kagak bisa, yaa~ Hihihi~ Ah! Gimana ya reaksinya kalau keriwil ini kukaitkan ke rambut jabrik itu?"
Sampai di titik ini, Emil punya dua pilihan: mimisan sampai anemia atau...
"TIDAAAAAKK! DAAAAAAAAAAAAAAAAN! NOREEEEEEEEEEEEEEE! JANGAN SENTUH MEREKA, LANCE! AKU AKAN MELAKUKAN APA SAJAAAAAA!"
... kembali ke dunia nyata!
"Bujug, dah! Baru bangun tidur udah teriak-teriak kagak jelas kayak gitu! Lu mimpi apaan, Emil-san?" tanya Lance sambil mengangkat alisnya dan mendongak dari buku yang dibacanya.
Emil masih berbaring di sofa sambil berusaha mengatur nafasnya. Hah, ternyata itu semua hanya mimpi! Tapi jika dipikir-pikir, kemungkinannya hanya satu banding satu juta temannya itu bisa tertarik kepada kakak dan sahabatnya serta berbicara dengan nada genit!
"Moncong-moncong, tadi lu bilang 'akan melakukan apa saja', kan? Hmm, lu memang teman yang baik, Emil-san!"
Baiklah! Seharusnya Emil sadar bahwa apa yang akan dialaminya nanti akan jauh lebih mengerikan dari mimpi buruk barusan!
N untuk Nation*
Personifikasi negara. Itulah nama lain dari Nation. Yang tau Hetalia pasti udah tau yang ini, bukan?
Nah, Nation yang terkenal di NihoNime Gakuen adalah para Nordic plus Sadiq dan Roderich yang muncul di 'BTP' Chapter 'What The Holy Crap is The Dodge Frisbee Tournament?'. Tapi yang tau hal itu hanya Ieyasu, Lance, Girl-chan, Dark, dan Hanny.
Ah, kalaupun semua orang tau juga kagak masalah! Orang mereka toh juga manusia!
O untuk Obat*
Di suatu malam yang dingin, Mathias menggigil sendirian di ruangannya. Teman-temannya sudah tidur duluan. Karena kagak ada siapa-siapa, Mathias pun memberanikan dirinya untuk mengambil obat demam sendirian di Klinik.
Di Klinik...
"Brr! Dingin banget hari ini!" kata Mathias sambil memeluk dirinya sendiri dan membuka kotak P3K.
Dia pun mencari obat yang dimaksud. Setelah mendapatkan obatnya, dia langsung mengambil satu butir obat tersebut dan hendak meminumnya.
Tapi saat Mathias hendak menaruh obat itu di mulutnya, dia melupakan sesuatu.
Dia lupa kalau air minum di ruang guru sedang habis dan baru akan diisi besok pagi.
Mathias yang kebingungan pun berusaha mencari sesuatu untuk membantunya menenggak obat tersebut. Bodoh amat kalau efek obatnya berkurang, yang penting obat itu masuk dulu ke tubuh pria berambut pirang jabrik tersebut.
"Jiah, adanya jus lobak yang udah basi!" kata Mathias sambil melihat sebotol jus lobak yang warnanya sudah mulai keungu-unguan (?) di dalam kulkas.
"Oh, iya! Gue kan masih punya 'itu'!" gumam Mathias sambil menepuk jidatnya sendiri.
Dia pun langsung menggeser isi kulkas tersebut dan mengambil sebuah botol yang isinya diragukan.
"Nah, selamat minum~" kata Mathias sambil meminum cairan yang ada di botol tersebut.
Keesokan harinya, dia ditemukan pingsan di depan kulkas ruang guru oleh Kojuro.
P untuk Pervert
Di sinilah Mathias sekarang. Duduk termangu di depan teras rumah Ieyasu dengan mata kosong menghadap ke arah permadani hijau yang terbentang di depan mata birunya, walaupun pikirannya merambat ke mana-mana.
Oh, dia hanya membayangkan Girl-chan sedang berlari mengitari pekarangan dengan baju minim, tubuh yang basah akibat pancuran air di dekatnya, dan melakukan gerakan sensual plus pandangan seduktif ke arah Mathias, dan tidak lupa senyum menggoda dengan mata hitam yang mengerling penuh hasrat.
"Makkun? Bukannya itu darah yang mengalir dari hidungmu? Makkun? Makkun! Berhentilah tersenyum seperti itu!"
Q untuk Quote
Lance pernah menyukai kata 'Touch me' dan menjadikannya quote tanpa berpikir dua kali.
Tapi saat Emil menanyakan apa quote-nya, dia pun dengan bangga mengatakan hal itu begitu saja dan Lance terpaksa harus menjadi Uke selama sehari karena kesalahpahaman itu.
Tunggu dulu! Sejak kapan Emil jadi seme ganas hanya karena salah paham?
R untuk Relationship
Banyak hubungan yang terjalin di NihoNime Gakuen! Mulai yang baik sampai yang buruk! Dari yang biasa aja sampai yang intim! Pokoknya lengkap, deh!
Yah, kadang setiap hubungan bisa berjalan baik, tapi kadang bisa juga berjalan buruk! Tapi itu tergantung mereka yang membuat hubungan itu!
Entahlah! Sepertinya itu sudah merupakan takdir yang diciptakan oleh Tuhan!
S untuk Sleeping Problem
Emil hanya bisa mendengus kesal sambil menggeliat di atas tempat tidurnya. Dia sibuk mencari posisi yang enak untuk tidur. Seharusnya dia sudah tidur dari jam delapan malam, tapi ternyata dia masih belum bisa tidur sampai jam sepuluh malam.
Ah, mungkin karena Emil tidak terbiasa tidur tanpa ada orang yang menempati sisi sebelah tempat tidurnya. Sang bocah Icelandic itu pun mulai menggerutu dengan kebiasaan yang membuatnya susah sendiri.
Terkutuklah Lance karena ini, terkutuk!
Biasanya Lance akan tidur di belakang Emil sambil melingkarkan kedua tangannya di pinggang pemuda berambut silver itu dan tertidur lelap dengan kepala di leher Emil. Biasanya Emil akan ikut terlelap setelah Lance. Mendengar suara dengkuran halus pemuda berambut merah itu membuat rasa kantuknya datang. Mungkin, ibaratnya sebagai lagu nina bobo bagi Emil.
Emil pun langsung kesal sendiri. Dilihatnya jam dinding yang tergantung di atas pintu masuk. Sudah dua jam lebih dia tidak bisa tidur! Padahal, besok pagi dia harus mengurus tugas penting dari kakaknya yang cerewet itu!
Seharusnya Emil tidak membiarkan Lance pergi bersama Mathias tadi sore. Mereka bilangnya mau jalan-jalan saja, sih! Tapi kayaknya 'jalan-jalan-sebentar-bersama-teman' langsung berubah menjadi 'minum-minum-sampai-mabok' hanya dalam waktu lima detik setelah meninggalkan rumah.
Emil pun mendadak bangun dan duduk di pinggir tempat tidurnya. Dia tidak bisa seperti ini terus! Dia harus bisa untuk tidur tanpa Lance! Dia merasa malu sendiri dengan kebiasaanya yang tidak bisa tidur kalau tidak 'dikelonin' Lance. Tapi dia tidak berani mengatakan hal itu kepada yang bersangkutan. Soalnya, nanti yang ada Lance malah tertawa mendengarnya dan Emil bakalan berakhir menjadi 'janda' karena dia tidak akan segan-segan menikam mulut Lance dengan kapak yang tergantung di kamarnya karena menertawakan hal itu.
Tiba-tiba, mata violet Emil tertuju kepada sebuah keranjang pakaian kotor yang terletak di samping pintu kamar mandi saat dia sedang berjalan sambil berpikir mencari sesuatu untuk membuatnya tidur. Dia pun segera berjalan meraih keranjang itu dan mengobrak-ngabrik isinya. Dia seperti mencari sebuah benda penting di dalamnya. Setelah cukup lama mencari, akhirnya dia mendapatkan apa yang dicarinya. Jaket milik Lance!
Emil mengamati jaket berwarna hijau polos yang ada di tangannya dan mendekatkannya ke hidung. Baunya terasa seperti Lance. Ya maklum ajalah, orang Lance yang punya!
Emil yang tersenyum kecil pun kembali ke tempat tidurnya sambil membawa jaket hijau yang masih memiliki bau khas Lance: harum manis-manisan bercampur alkohol.
Emil kembali mencari posisi yang enak untuk tidur dengan ditemani jaket bekas Lance yang melekat di lehernya dan selimut tebal yang membungkus tubuhnya. Dalam beberapa detik saja, Emil sudah tertidur lelap. Dia tertidur nyenyak sekali, bahkan sampai mendengkur.
Sementara itu, Lance yang baru pulang jam sebelah malam (dan hebatnya, ternyata dia tidak terlalu mabok) hanya bisa tersenyum sendiri melihat Emil yang tidur sambil menciumi jaket hijau miliknya.
Dia harus segera memotret kejadian manis ini untuk diabadikan ke dalam album foto miliknya, walaupun dengan resiko akan dibantai Emil besok pagi.
T untuk Tino
Pemuda Finland yang satu ini juga banyak berperan di NihoNime Gakuen! Yah, walaupun hanya sekedar menjadi 'pemuas' para Fujodanshi di sekolah itu setiap kali bersama Berwald.
Dia punya banyak nama panggilan! Fin, Väinämöinen-san, Tino-san, Finrando-pyon (?), sauna lover (?), dan lain-lain.
Tapi kalau dia lagi mabok, banyak kejadian tak terduga yang terjadi. Mulai dari pengen meraep Berwald sampai joget gaje. Bicara soal yang terakhir, gue punya satu cerita gaje yang mungkin bisa bikin kalian cengo membayangkannya.
Mathias jawdrop, Emil sweatdrop, Lukas facepalm, Berwald headbang di tembok terdekat, sementara yang lainnya hanya bisa cengo.
Errr, kalian mau tau apa yang terjadi?
Karena di depan mereka, terdapat Tino yang sedang joget. Parahnya lagi, ternyata dia lagi MABOK! Buktinya adalah wajahnya yang memerah.
Sialnya lagi, dia mabok pas lagi jam ngajar! Jadi beberapa anak yang pengen manggil guru pun langsung ikutan cengo pas melihat tontonan gratis orang mabok yang joget di sana.
U untuk United Nation Meeting
"Lu serius mau ngajakin dia ke rapat itu?" tanya Mathias saat Emil menjelaskan tentang Lance yang ingin ikut dengannya ke rapat PBB.
"Dia memaksaku terus! Daripada nanti dia bawa-bawa nama Nore, gue terpaksa nurut aja!" jawab Emil kesal.
Mathias hanya bisa sweatdrop mengingat Lance suka bawa-bawa nama Lukas jika Emil menolak permintaannya.
"Yah, baiklah! Tapi aku harap dia tidak buat masalah di sana!"
Keesokan harinya, ketiga makhluk sarap itu berangkat ke Iceland yang menjadi tempat rapat kali ini.
Di ruang rapat...
"Ah, Denmaku-san, Aisurando-san, dan... Siapa yang kalian bawa itu?" tanya Kiku sang Japan sambil menunjuk Lance yang berada di sebelah Emil.
"Hanya teman!" jawab Emil datar sambil menarik Lance pergi diikuti Mathias.
Tapi masalahnya, ternyata bukan hanya Lance satu-satunya yang bukan Nation di tempat itu. Karena...
"WOI, KAMBING! NGAPAIN LU NGAJAKIN BOCAH MERAH ITU KE SINI?! KALAU GUE TAU, GUE KAGAK BAKALAN MAU NGIKUTIN GERRARD DAN ARTHUR KE SINI!"
Ternyata Andre dan Gerrard juga berada di sana karena sebuah undangan dari Arthur sang England.
Alhasil, Andre dan Mathias pun langsung berantem di ruang rapat yang sukses menggemparkan seisi ruangan karena mereka berdua jauh lebih ribut daripada Arthur dan Francis sang France dan keempat orang penghenti amukan kedua makhluk sarap (setelah Ieyasu datang karena dipanggil Kiku dan sempat menghancurkan halaman depan gedung konferensi dengan mendaratkan Tadakatsu di sana) tersebut pun berusaha menghentikan mereka dibantu oleh Ludwig sang Germany.
V untuk Vas Bunga*
"Siapa yang ngirim ini, ya?" tanya Emil saat mendapati sebuah paket berisi vas bunga di dalam kotak surat.
"Paketnya udah tiba, ya? Siniin paketnya!" pekik Mathias sambil berlari menghampiri Emil dengan sangat bernafsu untuk mengambil paket tersebut.
"Eh, Dan? Ada apa- HUWAAAAAAAAAAAAAAAH!"
BRAK! GUBRAK! GEDUBRAK! DAK! DOK! DUAK! PLAK! PLUOK! TOWEWEWEW! ITALYYYYYYYYYYYYYYYYY! (?) (Cowboy: "Germany nyasar?" -_-")
Beberapa menit kemudian...
Entah gimana caranya, tu paket kagak pecah kena amukan Mathias yang pengen banget ngambil paket tersebut dari tangan Emil.
Emil sangat penasaran dengan paket untuk Mathias dan berniat nge-stalk dia. Tapi...
"Lu berani nge-stalk, awas aja ya!" ancam pria jabrik itu dengan aura merah mengerikannya.
Emil hanya bisa merinding disko melihat aura mengerikan tersebut. Malangnya nasibmu, Aisurando! =_=" *Narator dipatuk Puffin.*
W untuk Walther
Orang yang satu ini terkenal karena sering mengakui Mathias sebagai kembarannya. Entah mirip darimana kagak ada yang ngerti! Tapi kalau sampai yang bersangkutan tau, mungkin yang terjadi selanjutnya adalah acara pembantaian massal atau yang paling ringan (menurut penuturan Gerrard yang pernah melihatnya), dilempar sejauh mungkin sampai lama (atau bahkan kagak pernah) kembali.
Harus diakui, hubungan Mathias dengan Walther jauh lebih buruk dibandingkan hubungannya dengan Andre!
X untuk Xavier
Kalau orang bertanya seperti apa Mathias Køhler itu? Jawabannya pasti rata-rata sama: baik hati, tampan, dan romantis. Pokoknya sempurna.
Yah, ketua guru yang satu ini merupakan idaman para cewek di NihoNime Gakuen. Rambutnya yang pirang jabrik begitu serasi dengan kulitnya yang putih. Mata birunya yang indah terlihat sangat mengagumkan. Dia juga sangat murah senyum. Tidak heran jika dia diberi julukan 'Sang Raja dari Denmark'.
Yang membuat bingung seluruh warga sekolah adalah: kenapa sang ketua guru itu berpacaran dengan Girl-chan, seorang gadis pemalu yang kurang bersosialisasi?
Gadis itu 180 derajat berbanding terbalik dengan Mathias. Dia dingin, jarang berbicara, dan jarang tersenyum. Walaupun dia manis dengan rambutnya yang hitam panjang, mata hitam yang juga tidak kalah indahnya, tapi dia tidak terlalu disukai oleh kalangan cewek karena suka mengatakan hal buruk tentang pacarnya (maksudnya?).
Kalau Mathias selalu terpilih menjadi pria terpopuler, Girl-chan hanya mendapat satu suara sebagai gadis terpopuler, yaitu dari sang ketua guru sendiri.
Untuk mendapatkan informasi tentang Mathias, para jurnalis sekolah lebih suka berbicara dengan gadis itu, mengingat pria itu juga cukup tertutup. Walaupun yang dia dengar dari sang kekasih hanyalah hal yang buruk. Entah kenapa, Girl-chan selalu meminta mereka mengadakan wawancara di tempat sepi dan jauh dari Mathias.
Saat bertemu dengan para jurnalis, mata gadis itu memicing.
"Aku pernah bilang kalau aku tidak ingin diwawancarai cowok!"
"Ah, errr, ju-jurnalis cewek yang lain sedang sibuk sekarang!"
Tidak sepenuhnya benar, sih! Sebenarnya masih ada jurnalis cewek yang tidak sibuk! Tapi saat diminta mewawancarai Girl-chan, mereka langsung menolak keras.
Gadis berambut hitam itu menatap mereka dengan datar seolah berusaha untuk melihat tembus ke jiwa mereka, sebelum akhirnya mendesah dan menggeleng sambil bergumam, "Aku sudah memperingatkan kalian!"
'Dia akan membunuh kita!' batin para jurnalis itu.
Girl-chan mendesah keras dan menatap kedua jurnalis itu dengan dingin kemudian bertanya, "Jadi, apa yang ingin kalian tanyakan?"
Sebelum bisa menjawab, gadis itu langsung mengangkat tangannya dan berkata, "Jangan tentang Mathy! Tolong!"
"K-Kami memang ingin bertanya tentang dia!"
Gadis itu sekarang terlihat seolah tengah menghadapi masalah penyakit mematikan di negaranya dan para jurnalis itu merasa kalau hidup mereka bisa berakhir kapan saja di tangannya.
Mereka bersyukur Girl-chan tidak benar-benar melakukan itu. Dia hanya melipat tangannya dan wajahnya yang biasanya datar sekarang terlihat kesal.
Kemudian, dia menjawab pertanyaan yang sering ditanyakan dengan jawaban yang biasa diberikannya seperti ini: "Mathy itu mengerikan, apa itu belum cukup?"
"Mengerikan? Bisa tolong jelaskan?"
Gadis itu mengangkat satu jarinya. "Dia bisa tau dimana aku berada!"
Kemudian jari kedua. "Dia bisa tau dengan siapa aku berada!"
Jari ketiga. "Dia bisa tau apa yang aku bicarakan!"
Jari keempat. "Dia bisa berada dimana saja, bahkan bisa saja berada di belakangmu!"
"Kalian sedang membicarakan apa?"
Ketika suara cempreng itu muncul secara tiba-tiba dari belakang kedua wartawan yang tengah mewawancarai Girl-chan, bahkan gadis itu sendiri (yang sepertinya tidak menyadari keberadaan pria itu) langsung kaget seketika.
Pria jabrik yang baru muncul itu pun tersenyum lembut kepada Girl-chan, kemudian meraih tangannya dan menariknya dari tengah para cowok.
"Aku mencarimu kemana-mana, ****!" katanya santai sambil mengelus rambut hitam gadis yang memperlihatkan ekspresi tidak menyukai perlakuan tersebut. "Ayo kita makan siang, oke?"
"Mathy!" Girl-chan hanya bisa menggerutu sambil memutar matanya. "Bagaimana dengan para fans-mu?"
Wajah Mathias terlihat tidak senang.
"Aku tidak ingin makan dengan mereka, aku hanya ingin makan denganmu!"
Dia pun mulai berjalan menjauhi kedua orang yang masih tersungkur di lantai. Tiba-tiba, pria berambut pirang itu berhenti dan berbalik sambil menatap dua wartawan tersebut sambil berkata, "Kalian ditunggu seseorang di belakang sekolah! Pergilah!"
Kedua cowok yang sepertinya tidak menduga akan mendapatkan wajah dan suara paling dingin dari sang ketua guru pun langsung lari terbirit-birit tanpa mengatakan apapun.
"Apa kau perlu melakukan itu?"
Mathias menatap lurus ke arah Girl-chan yang sekarang terkurung antara tubuhnya dan dinding sambil memutar bola matanya.
"Mereka seharusnya mendapatkan lebih!"
Dia mendekatkan bibirnya ke telinga gadis itu sehingga dia bisa merasakan nafas hangatnya di kulitnya.
"Mereka mendekatimu tanpa izinku!"
"Karena itulah mereka terus datang!" Gadis berambut hitam itu mendengus dan membiarkan pria jabrik itu mencium puncak kepalanya dengan lembut. "Kau tidak pernah membiarkanku berbicara dengan orang lain!"
Kali ini giliran Mathias yang memutar bola matanya -walaupun gadis itu tidak bisa melihatnya.
"Kau yang membuatku begini!" katanya sambil memeluk Girl-chan dengan erat. "Kau yang membuatku jatuh cinta padamu! Bertanggung jawablah dan jadilah milikku!"
Gadis itu hanya bisa mendesah dan akhirnya membiarkan dirinya sendiri hanyut dalam kehangatan sang ketua guru.
"Kau berlebihan!" katanya sambil tersenyum lembut. "Aku sudah berjanji! Percayalah kepadaku sedikit!"
Pria berambut pirang itu hanya menggumamkan 'tentu' dan kembali mencium puncak kepalanya. Kemudian, dia tersenyum dingin yang ditunjukkan kepada dua tubuh babak belur yang terbaring di dekat mereka di belakang sekolah. Ekspresi itu tidak akan dia tunjukkan kepada siapapun, kecuali pada orang yang berani mendekati dan menyentuh Girl-chan.
Y untuk Yoga
KREK!
Yang barusan itu suara sendi, tulang, atau tengkorak yang retak?
GRETEK! BUK!
"Auh!"
Baiklah! Mungkin itu suara jidat yang beradu dengan lantai kayu. Benar-benar deh Lance itu! Dia terlalu hiperaktif sampai kagak bisa diam sedetik pun. Nurun dari siapa, sih? Perasaan Yukimura dan Mathias kagak pernah se-hiper itu, deh! Yah, walaupun Mathias pernah nekat menendang Andre, tapi tetap saja...
KRAK!
"Huwaa!"
Mata ungu yang tadinya tertutup dalam relaksasi pun langsung terbuka saat tertimpa tubuh temannya yang entah bagaimana caranya bisa oleng dan menindihnya.
Dengan suara yang lebih dahsyat dari suara bom meledak (?), para makhluk Fujodanshi yang juga mengikuti sesi itu pun langsung memekik sambil menyambar kamera (yang entah dapat darimana) dan mulai memotret momen yang menurut mereka 'langka'.
"YAOI! ICELANCE! Barang langka! Bisa dijual mahaaaal!"
"Ma-maaf, Emil-san! Aku kagak sengaja! Tadi hilang keseimbangan dan tiba-tiba..." Lance terbata-bata minta maaf dan suaranya nyaris ditenggelamkan oleh jeritan-jeritan galau para Fujodanshi berkamera.
"Ayo raep Ice-kun, Lance! Sekali-sekali klaim hakmu sebagai Seme!"
Ampun, deh! Ternyata seorang Tino juga bejat, ya!
"Jangaaaan! Ayo Aisu, balikkan posisi! Jiwa Seme-mu kagak terima digituin sama bocah merah yang rapeable itu!"
Ajegile Lukas! Dirimu durhaka banget sama adek sendiri!
"Yasu! Mathias! Gabung sana, bikin foursome!"
Eh, bujug! Entah siapa yang teriak begitu barusan. Fansclub zaman sekarang memang mengerikan!
Sementara Gerrard langsung berteriak untuk menghentikan acara 'Expo Yaoi Dadakan' tersebut.
"CUKUP! KITA LAGI LATIHAN YOGA, BUKAN EXPO YAOI! DAN KAU, AUTHOR HONEY! SINGKIRKAN BUKU SKETSA DAN CENGIRAN SOK INOSEN ITU!"
Z untuk Zebra
"Zebra itu cantik, ya!"
Entah apa yang merasukinya sampai kata-kata itu keluar dari mulutnya. Pemuda berambut merah di sebelahnya hanya bisa mengangkat sebelah alisnya karena bingung.
"Ma-maksudku, loreng mereka cantik! Apa yang tidak menarik dari mereka? Mereka seperti- Ah, bagus! Keceplosan lagi!"
Tidak biasanya seorang Emil Steilsson keceplosan seperti itu, bahkan Mathias sampai berpikir kalau bocah Icelandic yang satu ini perlu dibawa ke psikiater.
"Seperti apa?" tanya Lukas dengan tampang yang (menurut Emil) sangat sok tau.
"Ice-kun tidak pernah jujur, sih!" celetuk Tino sambil tertawa kecil yang disambut dengan anggukan dari Berwald.
Sekarang Nordic beserta Lance sedang piknik ke kebun binatang dan membicarakan soal binatang di sana. Yah, itu sebabnya kalimat di atas sempat terucap secara tidak sadar dari mulut Emil. Entah kenapa, dia merasa bakalan di-bully habis-habisan karena hal ini!
"Yah, benar juga sih! Tapi kau mau tau apa yang lebih cantik dari mereka?"
Sebuah pertanyaan random dari sang Danish jabrik sukses membuat yang lainnya langsung menatapnya dengan penasaran.
"Maksudnya apa, Dan/Anko/Ta-san/Mathias?" tanya Emil, Lukas, Tino, dan Lance heran.
"Venligst du forklare dem, Sverige (Tolong kau jelaskan kepada mereka, Swedia)!"
"Eftersom dessa dagar så Island och den röda pojke, vad händer om de blev tillsagda att ensam bära zebra (Karena ini hari jadi Islandia dan sang bocah merah, bagaimana kalau mereka disuruh pakai baju zebra saja)?" saran Berwald.
Wajah Emil langsung memerah, sementara Lance hanya menatap bingung Berwald. Tapi ketika mendapati reaksi Emil, pemuda berambut merah itu langsung ngamuk mode on.
Yah, setidaknya itu kebun binatang pribadi, jadi tidak ada pengunjung yang melihat pembantaian massal di sana!
Tapi, tunggu sebentar! Sejak kapan Lance ketularan sifat Yandere-nya Mathias hanya gara-gara masalah itu?
To Be Continue...
Review! :D
