Holla gw kok updatenya cpt bgt ya. Seberenya chap ni gak gitu penting loh. Ini chap cuma POV atau cara pikir Kim Kibum atas apa yang sedang terjadi dalam dalam bentuk cerpen. Ada 2 cerpen. Semua murni buat Kim Kibum. Lebih focus ke ekspetasi seorang Kibum terhadap Hyungnya kali ya. Untuk baca chap ini saya saranin mendingan baca chap sebelumnya dengan sangat hati-hati dan berulang-ulang agar wataknya dapet.
Yang kemarin gak ngerti buat POV;
Penis dan peniti: Kibum POV
Ting!: Jaejoong POV
Urusan kelamin: paragraph 1: Yunho, paragraph 2: Jaejoong, paragraph 3: Kibum, Paragraph 4: Siwon
Gitu terus sampe beres.
Cermin: Siwon dan diparagraph terakhir itu kaya diputer balik. Jadi semuanya berjalan mundur. Bukan beda hari loh. Tapi kaya anda mengalami Hangover trus coba nginget satu kejadian per kejadian.
P:S: ini cerpen ada yang bukan punya saya. Punya anak filsafat yang judulnya titik, koma. So, jangan tanya bahasanya. Nanya terus bisanya. Bahasanya filsafat banget, dan un-me sekali. So, kalau yang rada pusing cungHand (saya), gak usah kalian, saya aja pusing. Tapi thx ya mas bro. gw gak bisa kalo bikin cerita tampang begono.
.
Sang ANJING dan Sang PRESIDENT
.
Untuk pembaca dewasa
.
"Apa yang diminta oleh yang namanya realitas?"
.
Mereka Kata Saya
"Saya tak peduli tatapan mereka!"
Sebuah cerpen karya
Kim Kibum
Mereka bilang saya munafik. Mereka bilang saya pembohong. Mereka bilang saya sakit jiwa. Mereka bilang saya sok nekat. Mereka bilang saya aneh.
Padahal saya tidak merasa pernah munafik. Tidak pernah merasa berbohong. Tidak pernah merasa sakit jiwa. Tidak pernah merasa sok nekat. Tidak pernah merasa aneh.
Tapi mereka yakin saya munafik. Mereka yakin saya pembohong. Mereka yakin saya sakit jiwa. Mereka yakin saya sok nekat. Mereka yakin saya aneh.
Saya terus berusaha menyakinkan bahwa saya tidak munafik. Meyakinkan bahwa saya tidak berbohong. Meyakinkan bahwa saya tidak sakit jiwa. Meyakinkan bahwa saya tidak sok nekat. Meyakinkan bahwa saya tidak aneh.
Tapi seberapapun usaha saya dalam meyakinkan mereka, mereka yakin saya munafik. Yakin saya pembohong. Yakin saya sakit jiwa. Yakin saya sok nekat. Yakin saya aneh.
Maka inilah saya, yang tidak munafik. Yang tidak pembohong. Yang tidak sakit jiwa. Yang tidak sok nekat. Yang tidak aneh.
Yang mereka bilang munafik. Pembohong. Sakit jiwa. Sok nekat. Aneh.
…
Saya katakan bahwa saya tidak bermaksud melakukannya. Saya tidak punya pacar. Saya tidak punya hati. Saya tidak punya perasaan. Tapi saya punya banyak teman. Ada teman yang setia membangunkan saya setiap pagi. Ada teman yang setia menjilat saya setiap hari. Ada teman yang setia meminta saya membantunya, padahal Ia tak pernah membantu saya jika susah. Ada teman yang setia yang menjadi pengecut dengan membicarakan saya dibelakang saya setiap hari. Bahkan ada juga teman saya yang munafik dengan menjadi orang sok baik yang menceramahi saya setiap pagi apa yang baik dan apa yang benar menurut orang, yang sudah menjadi seorang yang kerjanya selalu mencari muka di depan khalayak.
Maka dari itu saya melakukannya karena saya mau. Karena saya senang. Karena saya ingin. Padahal saya tidak bermaksud melakukannya.
Saya bertemu dengannya disebuah pantai. Ketika kami menikmati surfing bersama. Bagi saya, hanya butuh waktu hitungan jam dari silahturamin mata hingga silahturami kelamin. Sekali lagi saya tegaskan saya tidak punya pacar! Dan sebagai orang baik saya tidak memaksanya.
Awalnya hanya mulai dari makan malam yang Ia sediakan dipinggiran pantai itu. Ditemani segelas wine, wangi pantai, desiran ombak, cahaya dari dua batang lilin dan rembulan. Percakapan yang awalnya mengasikan. Mulai dari canda tawa. Ciuman di kening saya. Turun ke kedua mata saya. Pipi saya. Hidung saya. Berlanjut dengan ciuman dibibir saya. Dari sekedar hanya bibir hingga lidah yang beradu. Ciuman biasa yang Ia berikan berakhir menjadi ciuman panas membara.
Yang saya ingat, Ia membawa saya ke dalam hotel murahan. Berbaring diatas ranjangnya. Lantas berakhir dengan tubuh kami yang saling berdekatan dan meneriakan nama kami masing-masing. Hal ini berlanjut dengan kami melakukan dimanapun. Kap mobil. Jok belakang mobil. Elevator. Taman yang sepi. Pojokan yang gelap. Sofa. Kamar saya atau kamar dia. Ketika melakukannya saya merasa jantung saya berdegup cepat. Rasanya darah saya naik seluruhnya kedalam kepala saya. Cinta? Maaf, bukankah saya sudah tegaskan bahwa tidak punya perasaan.
Saya sadar Ia sudah melakukan ini bukan hanya dengan saya. Mungkin Ia melakukan dengan teman sekamarnya. Teman sepermainannya. Teman yang mungkin kami temui di kafe. Tapi apa peduli saya. Yang saya mau cuma permainan kami. Tak ada cinta! Tak ada perasaan!
…
Dan itu adalah pangkal dari semua, dari cap bahwa saya munafik. pembohong. Sakit jiwa. Sok nekat. Dan aneh. Mereka bilang saya munafik karena saya tidak pernah mengakui bahwa saya punya pacar. Mereka bilang saya pembohong karena saya bilang saya tidak pernah punya pacar. Mereka bilang saya sakit jiwa karena saya hanya menganggap hubungan ini hubungan pertemanan. Mereka bilang saya sok nekat karena saya melakukan hubungan yang sangat jauh dengan hubungan yang tanpa status. Dan mereka bilang saya aneh karena saya melakukan itu semua.
Dan setelah ini perdebatan saya tentang saya terus berlanjut, dari bermenit-menit, berjam-jam, bertahun-tahun. Sedangkan saya? Saya semakin eksis dengan kencan-kencan saya. Kadang bahan tentang pergunjingan saya melintasi jaringan social, perumahan, tempat duduk, kelas, pertokoan, bahkan mungkin kadang terselip dalam omongan mereka.
Kadang saya tidak bisa mendengar apa yang teman-teman saya yang suka membicarakan saya dibelakang saya. Tapi dengan melihat sepatah dua patah kata dan tatapan iri mereka saya dapat menyimpukan keseluruhan bagian yang mereka bicarakan. Saya tak habis pikir kenapa mereka melakukan ini kepada saya. Toh saya tidak pernah membuat salah kepada mereka. Apa mungkin mereka iri? Entahlah, cuma mereka yang tahu.
…
Suatu pagi buta saya bangun pada malam hari dingin. Saya merasa sepi. Saya merasa kosong.
SAYA BUTUH DIA!
SAYA BUTUH DIA!
Dengan cepat saya mengambil jaket saya yang tergantung. Kunci mobil saya. Tas saya. Saya pergi ketempatnya dengan secepatnya. Biasanya pagi seperti ini saya menemukannya di kafe tempat biasa kami bertemu. Entahlah dia sedang apa. Tapi yang saya tahu saya butuh dia.
Ketika saya datang, saya langsung menciumnya. Memojokannya kedalam kamar mandi yang letaknya cukup tersembunyi. Saya terus mencumbunya. Tanpa menghiraukan teriakan dari luar. Suara pecahan kaca. Dan bau benda yang terbakar.
Ah, sepertinya saya dengar sepintas teriakan mereka. Saya juga melihat mereka sepintas ketika saya memasuki kafe ini. Penampilan mereka dengan lambang agamannya, dengan muka munafiknya. Dibelakang mereka berdiri semua teman saya, sambil meneriakan:
ALLAH MAHA BESAR!
HANCURKAN KAFE HOMO!
HOMO ADALAH SAMPAH MASYARAKAT!
BUBARKAN!
BUBARKAN!
TUHAN MAHA BESAR!
Saya lihat tampang yang munafik. Mungkin mereka belum merasakan bagaimana nikmatnya bercinta ditengah keadaan rusuh yang mereka buat toh. Saya hanya bisa tertawa HAHAHAHA…
Sebenarnya, APA SIH YANG DIMINTA OLEH REALITAS?
….
Terlihat seorang pria dengan pakaian serba hitamnya sedang memandangi batu nisan yang di atasnya dituliskan:
Terbaring dengan damai.
Orang yang tidak munafik. Orang yang bukan pembohong.
Orang yang tidak sakit jiwa. Orang yang tidak sok nekat.
Orang yang tidak aneh.
They are the lover
KIM JAEJOONG
dan cintanya
JUNG YUNHO
Melawan norma dengan cinta mereka
Toraja kalosi coffee
Seoul, 16 april 2011, 02:43AM
sebuah cerpen satir tentang mereka
yang melawan norma dan tetap tidak
munafik dengan dirinya.
TITIK, KOMA
"Dia melihat onggokan baju sedang berpelukan dilantai"
Sebuah cerpen karya
Kim Kibum
"Seperti yang kumau, seperti matahari yang ditunggu terbit setiap malam menjelang, menunggu hari yang baru." begitu katanya, pada saat matahari yang dimasuksudnya menyeruak masuk melalui sela-sela jendela yang sedikit terbuka. Jatuh tepat diatas bibirnya. Yang saya tahu saya, dia gemetar ketika menerima kecupan. Pelan. Seakan tak ingin dilepaskan. Saya pun segera yakin apa yang dikatakannya tadi malam bukan bualan. Bahwa saya adalah pelanggan yang lain. Pelanggan yang tidak akan meninggalkannya ketika mereka selesai bercinta. Laki-laki yang menurutnya bajingan. "Ya, kamu adalah matahari yang selalu aku tunggu tiap paginnya." Katanya lagi.
Namun tak saya pungkiri saya sering ragu akan hal ini. Jangan-jangan kalimat itu ditunjukan kepada yang lainnya. Lelaki lain. Pria lain. Bahkan wanita lain. Ya, kalimat itu rasanya sangat tidak credible sekali. Saya ingin sekali memilikinya. Walaupun Siwon terus mengingatkan, "Hati-Hati! Setelah ini kau harus membayarnya." Ya, saya sadar. Semoga saya tidak dibohongi oleh janji. Kau tahu, setiap orang ingin hidup. Termasuk saya!
Tiba-tiba telepon berdering. Saya tak tahu apa yang ingin dia tanyakan. Tapi, ketika saya bertanya apakah saya bisa memberikan jawaban? Lebih baik saya tidak usah bertanya. Apa yang dia mau? Untuk berpelukan dalam selimut. Terus berbagi kehangatan. Untuk mengulangi kegiatan yang membuat bibir mendesah dan bergetar. Untuk saling meneriakan nama dan berbagi cairan. Sungguh saya tak bisa, waktu saya hanya tiga jam untuk bersamannya.
Tiba-tiba saya berharap Ia mengajak kami mengobrol bersama. Di café-café. Di restoran-restoran mewah. Bukan diatas ranjang! Seperti yang biasa kami lakukan. Saling bertatapan mata. Saling bergandengan. Saling bertukar kecupan mesra. Bukan seperti ini! Berbagi nafsu. Berbagi cairan. Berbagi ciuman panas nan memabukan. Saya tak peduli apa kata public tentang dia. Saya adalah seorang Perdana Mentri Korea, tapi saya tak peduli apa kata rakyat terhadap saya. Toh, tembak saja kepala mereka. Saya adalah saya. saya bukan orang yang munafik!
"Yunnie, kamu gak memperpanjang jam bookingan kan? Kamu harus kembali kekantor. Dan aku harus pulang, ada Kibum dirumah. Tapi, kamu harus kembali. Aku menunggumu Yunnie. Saranghe!" Suara itu bagaikan gong yang menghancurkan romansa kamar secara tiba-tiba. Hinggap dimatanya penuh harap. Dia melihat onggokan baju yang berpelukan ada diatas lantai. Dia melihat jam yang ada diatas TV. Dia melihat kunci mobil saya yang ada diatas meja.
"Yunnie?" panggilnya sambil menyodorkan baju. Ternyata Ia sudah berbaju. Baju dengan hanya kemeja panjang menutupi sampai setengah paha. Baju yang memperlihatkan betapa jenjang, ramping, dan seksi kakinya itu. Pemandangan yang dapat dimiliki setiap orang yang membayar seribu dolar setiap malamnya. Saya harap. Ada satu atmosfer kecil yang saya dapat punya.
"Yunnie!" suaranya kali ini lebih tegas. Tapi saya masih merasa sebuah kelembutan disana. Saya pun meraih baju dari tangannya dan mengenakannya. Suara telepon berdering kembali. Suara yang akan memisahkan saya dan dia. Suara yang akan membuat dia disodomi lelaki lain. Lelaki yang dapat menemaninya lebih dari tiga jam. Pikiran ini saya benci! Saya cemburu!
Saya bosan selama lima tahun kami hanya seperti ini. Seribu dolar sekali main. Saya suka berfikir, kenapa harus berfikir? Bukankah menjadi gay itu tidak berfikir? Karena saya seorang Perdana Mentri harusnya saya berpikir bagaimana citra saya? ah, cinta itu tak perlu berpikir. Sekali-kali bukankah kita bisa tidak berpikir? Kenapa semua harus berpikir? Bolehkan melakukan sesuatu tanpa harus berpikir panjang. Kenapa harus ada kepastian-kepastian? Saya tahu banyak yang tidak pasti dalam hidup ini. Tapi bukannya kepastian itu subjektif? Atau mungkin saya harus merubah cara pikir? Seperti air. Jika hal yang lain berubah saya tinggal mengikuti wadahnya,atau? Atau? Atau? Apa saya sudah tidak punya atau? Dia benci saya! saya tahu! Saya tahu dari tatapan matanya. Ah, yang penting saya cinta dia.
Sekarang suara telepon itu berdering lagi. Lebih lama. Lebih kencang.
"Yunnie kamu harus pergi!" katanya lagi. Bukan hanya tegas. Tapi tindakan. Ia berjalan kearah pintu itu setengah bergegas. Seketika harapan saya hilang. Pesimis. Saya adalah itu. Saya ingin bertanya, kemana saya bisa mengadu dimana semua orang mengadu pada saya?
Pintu kamar terbuka. Kamar yang semula hanya berbau seks, kini berubah dipenuhi bau lain. Juga dengan berbagai suara manusia maupun suara gaduh dari aktifitas hotel. Selalu seperti ini tempat yang tidak mengenal waktu. Pagi. Siang. Sore. Malam. Hotel menjadi disambiguasi. Memberikan kenyamanan. Sekaligus pemecah suasana nyaman itu sendiri. Suara-suara saling bersautan. Ada yang saling bertukar nafsu dikamar sebelah. Ada suara pesta sosialita dimana semua orang memakai topeng.
Saya pun melangkah keluar menuju suara dan bau luar. Untuk mengecup terakhir kali pun tak bisa. Dia sudah berlari sambil memegang kunci mobilnya. Suaranya cekikikan, sepertinya dia membuat kencan selanjutnya. Seperti air, saya hanya berjalan kemana wadah saya bilang. Walaupun, dia akan selalu ada diotak saya. Selalu! Saya harus kembali melakukan aktifitas saya.
Seperti air, saya mengikuti apa yang wadah saya bilang. Saya menyusuri koridor hotel untuk menuju lift yang menghadap kelima lantai dibawahnya. Saya masuk ke lift itu. Lima kali Ting!. Di lobi hotel banyak manusia yang sedang berpesta. Ada seorang wanita memakai gaun merah. Ada seorang wanita bermake-up tebal. Saya ingin mengalir dengan wajah sedikit menunduk. Hingga tiba-tiba kedua mata saya tertumbuk. Kaki jenjang. Entahlah, saya tanpa terasa mengadah.
"Mau ekstra time Yunnie?" kata bibir seksi itu.
"Saya tidak punya waktu lagi?" jawab saya sambil terpana melihat bibir indahnya.
"Hahaha….. Siwon sudah mengatur waktu ekstra buat kamu."
Saya hanya melihat Siwon. Dia hanya tersenyum.
Saya pikir, APA ITU REALITAS?
Toraja Kalosi Coffee
Seoul, 16 April 2011, 03:43 A.M
Sebuah cerpen harapan agar
Orang sadar apa yang sebenarnya
Diinginkan.
I love U Hyung..
Kibum quote:
Terlepas bagaimana saya cara menulis. Ini hanyalah sebuah cerpen. Lebih sebagai ekspetasi saya sebagai seorang adik yang baik. Saya takut Hyung saya mati karena kasus agama yang sedang marak tejadi. Saya kadang berharap Hyung bisa lebih menerima seorang Yunho-hyung. Ditemani lima batang rokok dan dua gelas espresso, saya rasa saya berhak mengutarakan pendapat saya. ini hanya ekspetasi saya. Tanpa maksud lain! Ya, semoga ekspetasi-ekspetasi saya bisa terealisasi ya.
Jadi kalau menurut anda, apa yang diminta oleh namanya realitas?
Kadang kita suka berfikir 'ini namanya takdir!' dan lain-lain. Tapi apa yang diminta oleh takdir itu sendiri? Jangan tanya saya. Saya pun tidak tahu. 'Ini relitasnya!' tapi bukanya batas antara realitas dan khayalan tuh cuma setitik kuku. Entalah saya hanya bertanya.
TBC?/DELETE?/END?
Beres sudah cahap ini. Sebenarnya chap ini tuh didesign ma anak filsafat, jadi lebih ke pertanyaan. Apa itu realitas? Apa yang diminta realitas? Senyata apa batas realitas? Apakah realitas bisa disamakan dengan harapan? (jawab ya lewat review.). Tadinya chap ini ada 3 cerpen tapi saya dah ilang mood buat ngelanjutin cerpen ketiga. Oh ya, thx to the most super single parent my mother, buat mami yang dah dukung gw sambil baca buku dan terus ngerokok. Ditemani lima bungkus rokok, dua botol beer hitam, lima gelas kopi akhirnya chap ini beres. Satu chap full pertanyaan. Kalau baca chap ini anda bertanya, berarti anda seperti saya. Saya saranin mendingan baca chap ini santai, sambil ngopi, dengerin slow jazz. Jadi ada pertanyaan?
Balesan review:
(buat reader and turtle paling bawah ya.)
Noname: yap, buat cara nulisnya ja sih. Saya besar dengan novel djenar. Banyangin saya umur tujuh tahun tapi saya baca Mereka bilang saya monyet. Jadi tau sendiri kan gimana kalau anak selama hampir 10 tahun dicekokin cerpen djenar, richad oh, agus noor, butet. But thx to my mother. Thx to u jg coz da review.
Mizuki Kim: iya sih, pertama kali gw ketonjok. Biasanya saya tonjok duluan. Hahaha… gpp dah ilang kok birunya. Hore kita sejenis… thx ya da review.
KMS: sebenernya itu beda POV loh. Hati-hati. Thx dah review. Btw KMS tuh panjangan KyuMin Shipper.
Jj: thx dah review JJ. Nih dah update.
Mikazuki Hye Ah: ah mikazuki saya terharu. Thx dah dukung gw. Nih gw lanjut.
JJ (lagi?): thx dah review JJ. Bahasanya formal banget ya? Duh sorry sebernya ni ff buat main mata sih, jadi ff ni tergantung dari mata seseorang teliti ato gak. Tapi mungkin yang sekarang gak terlalu formal?
Chwyn : gpp, tp gw update nih. Baca ja lagi. Nih gak serem kok. Thx dah review.
Nobinobi: ah nobinobi berapa baca kali. Percaya gak saya tuh waktu abis nulis ini saya baca sampe 10x. saya tidak pernah mengonsep ff ni. Ff nih tuh murni mereka yang cerita bukan saya.
Cho Sung Hyun: moso sih kamu baru ketemu author kaya saya? hahaha….. nih dah lanjut. Thx dah review.
RaaHyun: thx RaaHyun. Mereka so sweet ya. Sayang satunya munafik. hahahaha…..
widiwMin : thx ya. Tp yg ini gak frontal kok. Nanti review lagi ya.
Buat turtle:
Thx banget kamu dah review saya. saya gak ngangep ni flame kok. Saya sudah biasa menjadi aloner. Ya memang anda mengkritik pake emosi ya jadi mepet dikit lah ma flame. Tapi gpp kok. Nanti saya perbaiki kesalahan saya. yang namanya flame tuh emosi kosong kan? Anda gak kosong kok. Satu lagi, ya deh biar puas FEM!MALE!JUNSU. Kalau fem mah 100% perempuan, tapi kalau ini mah ya fifty-fifty lah.
Buat reader:
Mas, kenal ma rating gak? Lu bilang banyak anak SMP yang baca. Jangan-jangan lu anak SMP ya? Hayo ngaku. Rating M buat 17thn keatas donk. Situ ja yang ngaku-ngaku 17thn. Buat bahasa yang kasar, memang pada nyatanya gitu kan? Masyarakat kita gak ngangep mereka lebih binatang. Satu yang saya suka dari kamu, cuma kamu yang berhasil nangkep apa mau saya. saya bukan bikin ff, saya potret kehidupan yang aslinya. Apakah anda pernah tinggal dilingkungan seperti itu? Mereka ingin vocal tapi gak bisa. Saya tahu. Jadi belajar ya reader jangan baca ff cuma dari sisi ff doank tapi dari sisi nyata juga.
Rencanannya saya mau ngeluarin FF baru judulnya 15 ekspetasi, 1 realitas. Jadi tuh kumpulan cerpen saya sama lima belas orang yang berbeda, ditunggu ya.
Bandung, 08 April 2012, 11:43 P.M
So, with my humble opinion it's the best if u click the sentence below. Don't forget give me your opinion ok.
