BTS & SEVENTEEN

Chapter 3

Ready?

HAPPY READING

.

.

.

.

.

.

.

.

Writer : Hansollee

Seokmin mendongak setelah membungkuk dengan senyuman seribu wattnya ke seorang guru yang kebetulan berpapasan di koridor. Langkahnya terhenti sesaat lalu berbalik arah tanpa pikir panjang lagi.

Ia sedikit merutuk, seperti terlalu gugup jika soonyoung tidak ada.

"Kim mingyu sialan.." umpat seokmin, dan bagus sekali. Di depannya ada taehyung yang baru saja keluar dari area kantin bersama temannya.

"Kau masih berhutang penjelasan padaku tae! Jangan menghindar lagi!". Kali ini jimin menarik lengan taehyung.

Taehyung hanya memutar bola matanya jengah. "Jimin, berhenti bertanya dan aku sudah bilang kan? Kalau tadi malam aku hanya pergi ke minimarket"

"Heol, siapa yang bodoh? Jarak minimarket dari rumahmu itu hanya 10 meter tae! 10 METER!" kesal jimin, apa taehyung pikir dia bodoh? Kalau di hitung, hanya 5 menit saja sudah sampai ke minimarket.

"Terserah!"

Jimin hendak melontarkan ucapannya kembali tapi tertahan dengan kedatangan seokmin, lalu membawa taehyung pergi tanpa permisi. Dan jimin tersadar saat keduanya sudah menjauh.

"YAK!"

.

Matanya menatap lurus, kosong menerawang. Kehadiran kakaknya seperti menyedot energinya. Terlihat seperti keadaan setahun yang lalu. Bayangan itu seperti tiba-tiba muncul di hadapannya lalu pergi, ya seperti itu... berulang-ulang. Sampai teriakan seseorang menyadarkan lamunannya.

"YAK!"

Dan jungkook mencoba membiasakan mimik wajahnya saat ada orang lain. Ia terdiam, sebelum memasuki ruang loker. Ia memilih menjauh.

"Guru Kim pasti tidak akan masuk hari ini, lalu aku harus kemana?" gumam jungkook, tangannya bergerak membuka pintu loker miliknya, berniat mengambil buku paket bahasa inggris. Namun sedetik kemudian ia membelalak, tubuhnya spontan mundur.

"A-apa ini?!" lirihnya. Matanya bergerak gelisah, seketika ia merasa sesak dan kepalanya mendadak pusing. Dan ia juga menyadari tubuhnya mulai gemetar. 'Siapa yang melakukan ini padaku hyung?' batinnya.

Jungkook memalingkan wajahnya, lalu menutup pintu lokernya kasar. Sungguh, ia tak tahu apa yang terjadi. Apa maksudnya? Selama ia bersekolah di sini tak ada seorangpun yang meng'anggap'nya ataupun sekedar menyapa -selain guru dan satpam-.

Memang apa salahnya? Ia tak pernah mengganggu orang, ataupun punya musuh. Heol, apa kakaknya? Tapi tidak mungkin kan?

Jungkook jatuh terduduk, menekuk kedua lututnya lalu terisak lirih menatap nanar pintu lokernya. Ia tak pernah berfikiran bahwa akan terjadi kembali.

Phobianya,

.

.

13:20 KST.

"Kalau mau mandi, ada di samping kamarku", soonyoung berujar dengan tangannya menunjuk ke arah di mana letak tempat yang ia ucapkan.

Mingyu yang masih melepas sepatu dan menggantinya dengan sandal rumahan melirik sedikit lalu bergumam. Tubuhnya sedikit kurang fit karena perjalanan yang sangat jauh.

Jet lag.

Soonyoung kembali membawa bathrobe saat mingyu hendak masuk kamar mandi. "Ini, dan mingyu-"

Mingyu menoleh menatap hyung birunya bingung.

"Aku benci tinggi badanmu", lalu pergi meninggalkan mingyu yang terbengong sebelum tertawa kecil. "Ada-ada saja", mingyu pun memilih cepat mandi.

Greb.

Soonyoung berjalan ke ruang tengah, meraih bantal sofa lalu berbaring menyamping. Setelahnya menyalakan tv.

Untuk beberapa saat soonyoung fokus ke arah tv yang sedang menayangkan acara comedy.

Sebelum ia menyadari sesuatu. Ia membelalakan matanya lalu duduk tegap. Ia memutar kepalanya.

"MINGYU! JANGAN PAKAI SIKAT GIGI WARNA PUTIH!" teriaknya dengan nada panik.

- Mingyu tersedak.

Terbatuk dengan mulut penuh air. Tadi ia hendak berkumur, ya sebelum si biru-cerewet itu berteriak membuatnya kaget dan tersedak.

"AWAS SAJA KALAU PAKAI YANG ITU!"

Mingyu hampir saja mengumpat, tapi tak jadi lalu menatap benda yang kata soonyoung 'di larang' itu. Memang apa salahnya sih? Lagipula hanya ada 2 sikat gigi di gelas itu. Kalau yang putih tidak boleh-pasti yang hijau kan?

"Kenapa aku sampai lupa dengan hal sekecil ini? Hah eomma~", sembari menaruh sikat gigi hijau ke tempat semula.

Mingyu memilih berendam saja, lalu tidur sepuasnya. Tapi saat ia hendak membuka bajunya ia teringat sesuatu, lantas ia dengan cepat membuka bajunya lalu meraba lengannya dari bawah sampai ke bahu.

Kejadian itu, ia mengingatnya kembali. Kejadian yang membuatnya marah sekaligus sedih. Tak di pungkiri sampai sekarang mingyu seperti orang pe-dendam karena kejadian waktu lalu.

"Aku tahu kau sedang tersenyum untukku"

Seperti dulu..

Dua tahun yang lalu...

Saat itu, soonyoung duduk di sebuah bangku taman dengan sebuah bingkisan di sampingnya.

Tak lama mingyu dan seseorang datang, soonyoung menyambut mereka dengan senyuman lebarnya sampai membuat matanya menghilang.

"Hyung"

"Hai gyu, dia siapa?"

"Wonwoo hyung di mana?"

Soonyoung mencubit lengan mingyu, dan mingyu mengaduh sakit. Lalu ia mencibir sebelum memperkenalkan temannya kepada soonyoung.

"Seokmin-ah"

Seokmin yang mengerti segera membungkuk, "Halo, namaku lee seokmin. Aku teman sekelas mingyu", seokmin tersenyum cerah layaknya lighting untuk pembuatan film horror di hutan belantara (?) *hah?*. Soonyoung sedikit tertegun sesaat. Ia memasang cengirannya.

"Aku kwon soonyoung, panggil aku soonyoung hyung, okay?"

"Ya hyung"

Mingyu mendengus tak mendapati hyung tersayangnya, sampai akhirnya ia lelah memutar kepalanya kesana kemari mencari keberadaan wonwoo. Soonyoung yang melihat itu tersenyum miris.

"Gyu-ah"

"Aish! Sebenarnya wonwoo hyung kemana sih?!", apa dia tidak datang?'. Mingyu mendudukkan dirinya di kursi yang soonyoung tempati tadi lalu mengambil ponselnya.

"Gyu, dengarkan aku"

"Kenapa tidak di jawab?",

Seokmin terdiam, melihat keduanya bingung, ia fikir untuk ini ia tidak boleh ikut campur. Sesekali ia melirik sikap mingyu, dia terlihat kesal bercampur sedih.

Wonwoo itu siapa?

Apa sangat penting bagi mingyu?

Seokmin tidak cemburu btw, ia hanya penasaran dengan sosok yang selama ini mingyu ceritakan padanya. Yang selalu ada nama wonwoo di setiap obrolan mereka. Memangnya ada masalah apa?

Soonyoung juga ikut kesal ketika ucapannya tak di hiraukan mingyu, yang malah sibuk mengumpati ponsel pintarnya dan hanya begitu terus berulang-ulang.

"Seokmin"

Dan seokmin semakin bingung, kala soonyoung menariknya mendekat. Ia terkejut menatap tangannya yang di genggam erat soonyoung.

"Kau bodoh mingyu!"

Moody, mingyu itu orangnya moody. Kalau ada yang memulai sesuatu yang tidak ingin ia dengar atau perlakuan yang membuatnya kesal, ia akan balik bertanya seperti ini;

"Apa soonyoung?"

Tapi suaranya men-datar. Dan kata 'hyung' akan hilang jika sudah dalam mode Moody-nya. Tatapan mingyu menajam melihat tautan tangan soonyoung dan seokmin.

"Apa maksudnya?"

Soonyoung melepas genggaman itu. "Kau tidak ingat apa yang kau katakan tempo hari kepada wonwoo?"

Ada jeda sejenak, soonyoung merasakan tubuhnya bergetar kecil dan matanya berkaca-kaca. Dia merasa paling naif di antara sahabat-sahabatnya, dia selalu menjadi penengah masalah, dia selalu yang di utamakan. Dan dia bangga karena merasa di butuhkan.

Tapi kali ini, ia tidak bisa membantu banyak. Melihat sahabatnya sendiri tak bisa berdiri, apa dia sanggup melebihi ke naifannya dari sosok yang membuatnya frustasi setengah mati?!

"Jangan berpura-pura bodoh mingyu! Apa otak pintarmu tidak berfungsi lagi?! KAU SEHARUSNYA TAHU KALAU WONWOO TIDAK BISA SELALU ADA DI SAMPINGMU! KAU MEMBUATNYA MERASA BERSALAH! DAN KAU SEHARUSNYA MENGERTI POSISINYA!", soonyoung berteriak dengan satu tarikan nafas. Hingga di akhir kalimatnya ia berbalik menghadap seokmin yang terkaget karena bentakan soonyoung. Lalu soonyoung menjatuhkan kepalanya ke bahu kiri seokmin.

Sedangkan mingyu?

Ia hanya mematung mendengar ucapan hyung terbaiknya itu, otaknya lamban untuk mencerna semuanya. Wonwoo hyung-nya pasti terbebani dan ia yang salah? Benar begitu? Apa iya? Tapi mingyu juga ingin egois untuk hal ini.

Ia menyayangi wonwoo melebihi apapun, wonwoo sangat berarti dan berharga baginya. Ia tidak mau wonwoo pergi. Hanya itu..

"Wonwoo hyung yang melarangku mendekat, lalu apa salahku? Aku hanya mencoba meraihnya dan ingin membantunya" kata mingyu dengan pandangan kosong menatap punggung soonyoung. Tangannya mengepal erat.

Soonyoung menjauhkan dirinya dari seokmin. Lalu menatap seokmin yang juga menatapnya khawatir. Eh khawatir?

"Maaf membuat mantelmu basah seokmin-ah, dan-", soonyoung berbalik menatap mingyu dengan pandangan buram akibat air matanya sendiri.

"Mingyu, wonwoo melarangmu mendekat bukan berarti ia ingin kau berhenti menyayanginya. Tetaplah bertahan dan berusaha, artikan semuanya sebagai perjuangan. Wonwoo bukan hanya milikmu, dia masih mempunyai adiknya. Jangan membuatnya merasa bersalah karena berfikiran kau menjauhinya"

Mingyu menitikan air matanya lalu berbalik saat ia melihat mata soonyoung menatap bukan ke arahnya.

Dan di sana, ia melihat wonwoo dengan papan skate-nya berdiri di bawah tiang lampu tak jauh dari mereka.

Mereka saling tatap, dan soonyoung yang tak ingin mengganggu dan memberi mereka waktu segera menarik tangan seokmin lalu mengambil papan skate-nya yang ia letakkan di bawah kursi taman tadi.

Wonwoo menggigit bibir bawahnya melihat mingyu yang tak bergerak sama sekali. Hanya diam menatapnya dengan pandangan yang sulit di artikan.

'Mingyu...', wonwoo membatin.

Tangannya meremas kuat papan skate-nya lalu membuang muka saat mingyu hendak berucap.

'Jadi ini, alasan soonyoung menyuruhku kemari?', wonwoo melihat soonyoung tersenyum dari kejauhan. Dia ingin dirinya dan mingyu berbaikan.

"H-hyung"

Dan saat itu mingyu berlari mengejar wonwoo yang sudah pergi cukup jauh menggunakan skateboard-nya. Mingyu terus memanggil wonwoo yang tak di jawab sedikitpun oleh wonwoo.

"Hyung berhenti! Dengarkan aku hyung!"

Wonwoo benci keadaan seperti ini, yang membuatnya dan mingyu jadi canggung. Sepertinya ia yang salah, atau keadaan?

Dan kenapa juga soonyoung harus berbohong padanya?

Ini membuat wonwoo bingung. Padahal kemarin malam, ia baru mengatakan kepada soonyoung kalau ia tidak bisa berangkat bersama ke sekolah karena harus mengantar adiknya dulu.

Tapi sekali lagi, soonyoung bukan orang yang baru kenal wonwoo atau mingyu sehari-dua hari. Dia bukan orang dengan kadar ke-naifan tinggi, ia tahu wonwoo menghindar, dengan kata tambahan membawa-bawa adiknya. Otomatis soonyoung tahu, karena selain ingin merubah rute jalan, (soonyoung dan mingyu bertetangga), wonwoo butuh waktu sendiri. Soonyoung sangat paham.

Wonwoo orangnya terbuka, tapi karena ia kira ayahnya sangat tegas, ia takut hubungannya dengan mingyu ditentang. Jadilah ia memilih menjauh dari mingyu untuk sementara. Mereka masih bocah yang terjebak di zona cinta monyet a.k.a masih labil. Tapi wonwoo percaya kepada mingyu begitupun sebaliknya.

Minyu berhenti sejenak melihat wonwoo memelankan laju permainan skate-nya. Matanya memicing melihat wonwoo tak merubah gerakannya di atas papan skate. Berdiri kaku menatap lurus.

"Wonwoo hyung! Awas ada anak tangga!" teriak mingyu jauh beberapa meter dari wonwoo yang melamun masih menggunakan skateboard kebanggaannya. Dan wonwoo yang baru tersadar, terkejut.

"HYYAAAA!"

Mingyu membelalak. "WONWOO HYUNG!", segera mingyu berlari menghampiri wonwoo.

TRAK.

BRUGH.

"Akkhh", wonwoo meringis merasakan sakit luar biasa di sekitar kaki kanannya. Kenapa ia bisa melamun tadi? Kenapa ia bisa lupa setiap tempat di sekitar taman ini. Padahal ia sangat hafal dengan lokasi ini.

"Wonwoo hyung?!", mingyu menuruni tangga dengan cepat. Beberapa orang melihat mereka khawatir sekaligus bingung. Mingyu mendekati wonwoo lalu membantu wonwoo duduk.

Tatapan mingyu berubah sedih, dan tentunya khawatir. Kepanikannya memudar melihat wonwoo menatapnya intens, tersirat jelas pandangan wonwoo menyendu. "Hyung, tidak apa-apa?", mingyu memeluk wonwoo, dan wonwoo menangis di pelukan mingyu.

"Mingyu-ah... Mingyu..."

"Ssttt sudah hyung, iya iya aku di sini", mingyu mengelus rambut hitam legam wonwoo, dan tangan kanannya aktif mengusap punggung wonwoo sayang.

"Kakiku sakit gyu-ah... Hikkss.. Mingyu-ah..."

"Maafkan aku hyung, maaf". Mingyu rasanya ingin menangis melihat wonwoo dengan keadaan serapuh ini. Ia menyesal membentak dan berbicara tidak-tidak bahkan menuduh wonwoo hyung-nya.

"Maafkan aku, maafkan aku" gumam mingyu masih memeluk wonwoo. Sedangkan wonwoo masih terisak di pelukannya, tangan kiri wonwoo mencengkram erat mantel mingyu. "Kita ke rumah sakit? Ayo aku bantuu berdiri"

"Tidak! Bawa aku ke rumahmu saja gyu, ayah pasti mencariku sebentar lagi. Ayo pergi ke rumahmu!" bantah wonwoo dengan menatap mingyu tepat di mata. Hati mingyu berdesir melihat wonwoo dengan sedekat ini, wonwoo merasakan jantungnya berdetak lebih cepat. Tapi tatapan itu belum berakhir.

Beruntunglah taman sebelah selatan sepi karena berseberangan dengan bangunan gedung tinggi.

"Apa maksudmu hyung? Keadaanmu lebih penting! Ayo!"

Tapi wonwoo malah menepis tangan mingyu, ia meringis saat hendak mundur menjauh dari mingyu. (masih posisi duduk). Ia lupa, dan wonwoo hanya menatap sedih papan skate-nya yang sudah rusak di bagian roda.

'Pasti jungkook sedih', wonwoo membatin. Mingyu menatap kosong wonwoo yang selalu menolak kehadirannya. Apa salahnya?! Ia hanya ingin menolong wonwoo. Kakinya perlu di obati walau tak ada luka serius.

"Hyung ku mohon dengarkan aku"

"Kau saja tidak mau mendengarku!"

Okay, mingyu salah untuk sekarang. Tapi ayolah, ia tahu wonwoo sedang menahan sakitnya. Melihat kedua tangannya mengepal dan rahangnya mengeras. Ia terlalu memahami wonwoo hyung-nya.

"Hyung, jangan seperti ini, aku tidak bisa-"

"Tidak bisa apa?!", wonwoo spontan menatap tajam mingyu dan berakhir ia yang menitikan air matanya. Mingyu tertegun sesaat, lalu ia menghampiri wonwoo. Sekali lagi wonwoo mendapatkan kehangatan penuh kasih sayang dari mingyu. Pelukan mingyu selalu bisa membuatnya tenang.

"Percayalah hyung! Aku akan bersamamu selamanya! Kita bersama selamanya! Hum?"

Wonwoo menggeleng di pelukannya. "Jangan membuatku semakin berharap padamu gyu, ini menyakitkan"

"Hyung ku mohon jangan menangis dan dengarkan perkataanku", mingyu berkata mantap.

"Tapi ayahku-"

"WONWOO HYUNG!"

Wonwoo menegang mendengar suara adiknya. Dan dapat wonwoo lihat, di belakang mingyu, adiknya dan ayahnya berada di tengah tangga. Adiknya -jungkook mendekati mereka.

"Wonwoo hyung, hyung kenapa?!" tanya jungkook dengan nada imutnya. Jungkook bingung melihat kakaknya, kenapa malah duduk di tanah? Pikir jungkook.

Mingyu menoleh melihat ke sampingnya. "Jungkook"

"Mingyu? Kenapa kau bisa di sini? Dan wonwoo hyung kenapa?"

Wonwoo menunduk ketika ayahnya menatapnya tajam, ia tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Mingyu sendiri bingung dengan keadaan sekarang. Ia menatap wonwoo polos.

"Jungkook, bantu hyungmu. Ayo kita pulang"

Suara ayah bermarga Jeon itu terdengar tegas tak mau di bantah, sedikit melirik mingyu lalu berbalik. Meninggalkan mereka bertiga.

Jungkook menatap mingyu dengan bertanya-tanya. Apa yang sebenarnya terjadi? Dan kenapa kalian jadi diam saja?

Wonwoo masih menunduk, lalu berdiri pelan-pelan di bantu jungkook. Ia menepis halus tangan mingyu, saat tangan pemuda bermarga kim itu hendak meraih lengan kiri wonwoo.

Jungkook menatap keduanya bergantian, kasihan mingyu sebenarnya tapi dia bisa apa. Wonwoo hyung dalam mode on diam itu menyeramkan. Tangan kiri jungkook mengapit bahu hyung-nya dan tangan kanannya memegang erat lengan kakaknya. Jungkook jadi deg-deg-an melihat perubahan ekspresi kakaknya.

Sebenarnya kenapa sih?!

"Aku pergi"

Entah kenapa mingyu malah mengartikan kata 'Aku pergi' adalah 'Wonwoo meninggalkanmu'.

Setelahnya mingyu berbalik membelakangi wonwoo, air matanya jatuh mengingat akhir-akhir ini dirinya dan wonwoo semakin menjauh. Dan perubahan sikap wonwoo tadi sangat ia mengerti. Jadi sebenarnya ia harus bagaimana? Tetap menunggu wonwoo atau bertindak?

Wonwoo berhenti sesaat, melirik mingyu lalu kembali berjalan. Jungkook juga sama. Tapi ia lebih mengkhawatirkan keadaan kakaknya.

.

.

PLAK!

"Bocah sial! Mau apa kau lulus sekolah nanti? Membawa bocah kim itu kemari lalu melamarmu?!", nada ayah merendah. Wonwoo memejamkan matanya menahan sakit di pipinya yang mulai menjalar hingga dagunya. Bibirnya ia gigit kuat agar adiknya tidak mendengar suara kesakitannya.

Tatapan tajam itu begitu menusuk wonwoo. "Jangan membuat jungkook menyimpang dan sangat menjijikan seperti dirimu wonwoo! Aku tidak ingin anakku yang normal menjadi anak bebal sepertimu!", mr. Jeon menghela nafas kasar lalu duduk di tepi kasur wonwoo. Wonwoo hanya diam menunduk dengan tubuh bergetarnya, air matanya tak berhenti keluar dari mata indahnya. Pandangannya memburam melihat ayahnya kembali berucap.

"Terserahmu wonwoo, jangan merusak nama Jeon dan menjadikan keluarga ini penuh hinaan atau cemohan orang. Ayah pergi ke kantor dan jaga adikmu". Mr. Jeon keluar dari kamar putra sulungnya masih dengan amarah yang memuncak. Ia benci putra sulungnya, ia benci wonwoo yang menyimpang.

Kenapa harus kim min gyu?

"Kau bahkan tak pernah mengkhawatirkan keadaanku. Kenapa aku selalu salah dalam semua hal?" lirih wonwoo lalu menjatuhkan tubuhnya ke ranjang bersprei biru lautnya. Mengabaikan rasa sakit di kakinya, karena hatinya lebih sakit sekarang.

"Mingyu, maafkan aku", dan ia kembali menangis tapi kali ini ia membiarkan jungkook mendengarnya.

.

Jungkook menatap pintu kamar kakaknya bingung, tapi ia cukup mengerti. Ya, ia mendengar semua pembicaraan ayah dan kakaknya. Jungkook tak tau harus apa sekarang? Menelpon mingyu? Tidak mungkin.

'Maaf tidak bisa membantumu hyung' batin jungkook, ia fikir lebih baik ia memberikan papan skate kakaknya besok pagi lagi saja.

"Semoga kalian baik-baik saja" gumam jungkook lalu pergi ke kamarnya.

.

Soonyoung yang hendak memberikan sabun cair kepada mingyu, karena seingatnya sabun cair sudah habis. Tapi ia di kejutkan dengan keadaan mingyu jatuh terduduk kemudian menangis dalam diam.

"Mingyu-ah", soonyoung mengalihkan pandangannya dan memilih meninggalkan mingyu sendirian di apartemen.

"Wonwoo hyung, aku merindukanmu hikkss.."

.

.

"Apa maksudmu seokmin? Kenapa kau berbicara omong kosong seperti ini padaku?" tanya taehyung setelah mendengar cerita seokmin. Mereka kini berada di ruang lab. Komputer, dengan seokmin yang duduk di atas meja.

"Aku tidak berbicara omong kosong. Tapi aku hanya ingin kau mengetahuinya, aku lebih tahu mengenai keluarga jeon di bandingkan dirimu", kali ini seokmin menambah dengusan di akhir kalimat. Sejujurnya ia sedang gusar setelah bercerita tentang si dingin jungkook. Ia merasa ada yang aneh di sekitarnya.

Taehyung yang melihat gerak-gerik itu mengernyit tak paham, seokmin sedang bercandakah? Dan taehyung benci kenapa ia termakan omongan seokmin.

"Aku... tidak yakin. Kau tau? Penyebab aku keluar kelas sebelum waktunya?"

Seokmin menatap taehyung. "Tentu. Bukankah karena hyung ingin ke toilet?", seokmin ragu meneruskan ucapannya. Topik yang mereka bahas benar-benar membuatnya tak nyaman tapi ini kesempatan seokmin untuk menyadarkan taehyung.

"Kau jelas tau seokmin, tapi kenapa tidak di lanjutkan? Apa yang membuatmu se-gelisah ini sampai melantur begitu?", taehyung memutar bola matanya malas. Ia bosan lama-lama berada di dekat seokmin. Bukan karena seokmin membosankan, tapi karena pembicaraan mereka.

Mereka sama-sama tak nyaman.

Apa mereka merasakannya?

"Jungkook", seokmin tiba-tiba turun dari meja lalu membuka pintu lab, dan benar.

Taehyung membulatkan matanya begitupun seokmin. Mereka seperti tidak merasakan akan hidup kembali - ini pikiran seokmin.

"Jungkook?!"

Jungkook menatap keduanya datar, lalu menghiraukan seokmin yang mematung di ambang pintu.

Ia masuk ruang lab, dan menatap taehyung dingin. Auranya...

.

.

.

.

.

.

.

.

TBC^^

Note : Duh… chwe jd bingung sendiri, kayak di ff sebelah jg banyak yg gak ngerti alurnya. Chwe lebih suka buat ff kode-kode an .. jd maklumin ya. ^^ kalo masih gak ngerti baca aja dengan lebih menjiwai (?) karakter jungkook di sini. Yang nanya meanie gimana ketemunya, mungkin chap akhir khusus buat meanie aja dan entah itu kapan.

BTW, CONGRATS BUAT URI SEBONGIE~~ #PRETTYU1STWIN CIIEEEE :v

Itu maafkan suami saya buat para carat :D

Riview?