Hai

Sebelum dibaca, saya mau minta maaf, karena Bazooka a.k.a laptop saya mesti masuk "I.C.U" yang diperkirakan selama 2 minggu, mungkin setelah chapter ini, cerita ini akan hiatus sebentar. Jadi maaf kalau setelah ini chapter berikutnya akan lama keluarnya.

Ditunggu kritik dan sarannya ya.

Best Regards

Bang-Kiri-Bang

-xx-

Hari subuh di pangkalan udara sekutu, 6 Agustus 1945 sangat ramai oleh ribuan tentara yang sedang mempersiapkan segala kebutuhan untuk menjatuhkan bom atom di Hiroshima dan Nagasaki. Presiden Harry S. Truman berjalan dengan tegap penuh wibawa menuju B-29, Pesawat yang sedang dipersiapkan untuk mengangkut "Sang Pemusnah".

Presiden Harry S. Truman menghentikan langkahnya dan berdiri di sebelah Jendral D. Eisenhower yang sedang memimpin persiapan pemboman yang akan dilakukan pada pagi hari pukul 08.15.

"Bagaimana perkembangan Little Boy, Jendral?"

Dengan sigap, sang Jendral memasang posisi siaga dan menjawab dengan suara lantang pertanyaan presiden tentang bom atom yang akan meledakkan Hiroshima itu.

"Siap! sampai saat ini tidak ada masalah pak. Persiapan diperkirakan akan selesai sesuai jadwal kita."

"Bagus, lanjutkan. Jangan sampai terlambat dari jadwal yang sudah ditentukan."

"Siap!"

Jendral D. Eisenhower dalam diam dan patuhnya memiliki satu pertanyaan besar yang tak bisa ia perkirakan jawabannya. Rasa ingin tahunya pun kian memuncak. Ia harus tahu jawaban dari pertanyaannya bagaimanapun caranya. Membunuh lebih dari 100.000 orang bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan tanpa kesiapan hati yang matang. Itulah mengapa ia tidak bisa menyalahkan sang pilot yang sampai saat ini masih terus berada di Gereja, menangis tanpa henti untuk meminta pengampunan atas apa yang akan dilakukannya.

"Ada apa, Jendral? Kau ingin mengatakan sesuatu?"

Presiden menyadari kebimbangan Jendral Eisenhower, dan kesempatan itu tidak disia-siakan sang Jendral untuk bertanya.

"Siap! Mengapa Hiroshima, Jendral? Pusat persenjataan mereka berada di Okinawa, bukankah akan lebih efektif apabila kita arahkan target ke Okinawa, dibanding Hiroshima yang sebagian besar berisi penduduk sipil?"

Mendengar pertanyaan sang Jendral, Presiden Truman hanya tersenyum.

"Ada sebuah "jalan" disana, Jendral. "Jalan" yang tidak bisa kita biarkan untuk Nippon kuasai."

Sang Jendral tidak mengerti.

"Siap! Mohon penjelasan dari "jalan" itu pak."

Sang serigala berbulu domba kembali tersenyum, namun ia melangkah pergi meninggalkan Jendral Eisenhower, berniat kembali ke bunkernya yang aman.

"Itu adalah hal yang sulit dijelaskan karena tidak sesuai dengan akal sehat kita, Jendral. Hanya saja, yakinilah If we're unable to have that "path".."

Presiden Truman berhenti sejenak. Wajahnya berubah menjadi garang dan haus darah.

"No one's able."

-xx-

"Ini tampan, ayo buka mulutmu. aaaaaa."

"Mmmm, enak," Kata Takuya setelah menyantap beberapa keping potato chips.

"Duh, pintarnyaa," ujar Izumi senang.

"Hei, Izumi."

"Ya? Apa?"

"Jangan memberi makan monyet terus, Bagi aku juga. potato chips-ku sudah mau habis nih," rengek laki-laki urakan yang dicurigai berintelegensi tidak jauh dari objek yang ia cemburui.

"Ih, kau sudah habis dua bungkus!" jawab Izumi kesal.

"Tapi aku masih lapar."

"Memang tadi tidak sarapan?"

"Sarapan sih."

"Perut karet."

Mereka berdua kembali terlibat pertengkaran yang tidak penting, dengan binatang-binatang seperti monyet, jerapah, dan koala menjadi saksi untuk hari ini.

Takuya dan Izumi berada di Hiroshima City Asa Zoological Park, kebun binatang pertama di dunia yang berhasil menciptakan inseminasi simpanse pada tahun 1998, dan satu dari sedikit kebun binatang di Jepang yang memperbolehkan kontak fisik dengan beberapa hewan jinak yang ada disana.

Berbeda dengan Tokyo, Hiroshima yang berada di selatan Jepang memiliki temperatur udara yang lebih panas. Hal ini menyebabkan para binatang yang berada di kebun binatang ini lebih segar dan sehat, karena mirip dengan habitat asli mereka.

"Sudah ah, aku lelah bertengkar denganmu!" keluh Izumi. Ia kemudian mengorek saku jeans birunya dan mengeluarkan sebuah selebaran.

"Nih, lebih baik kita ikut ini."

"Apa itu?"

"Baca sendiri."

Takuya cemberut, ia pun mengambil selebaran itu dari tangan sang tour guide kacangan.

"Hmm, Hiroshima Asa Zoo Puzzle Competition. Perlombaan untuk mengumpulkan kepingan puzzle yang tercecer di berbagai kandang binatang jinak dan menyusunnya untuk mendapatkan hadiah safari malam gratis untuk dua orang.." baca Takuya.

"Masalahnya, apa Takuya dengan otak udangnya bisa menyusun puzzle… he..hei! apa maksudmu menulis ini!?" Takuya membaca notes kecil yang Izumi tulis di bagian bawah selebaran. Izumi kaget, ia lupa ia menulis itu saat merencanakan perjalanan hari ini.

"Ups, maaf hehehehe."

"Huh! Lihat saja! Aku adalah raja menyusun Puzzle!"

"Ya sudah, kan kompetisi ini untuk berdua, kau yang masuk kandang hewan dan aku yang menyusun puzzle saja bagaimana?"

"Kau betul-betul meremehkanku ya Izumi," Ujar Takuya kesal.

"Tidak koook," jawab Izumi, yang kebohongannya terlihat jelas dari raut wajahnya.

"Cih! Pendaftarannya jam 11 siang ini di kantor pengelola kebun binatang kan? Ayo kita kesana, sudah mau jam 11!" ujar Takuya yang langsung berjalan cepat, diikuti Izumi dibelakangnya yang tertawa-tawa kecil melihat temannya yang sangat mudah dipengaruhi itu.

-xx-

Pasangan Tom & Jerry itu akhirnya sampai ke meja pendaftaran yang di terletak halaman luar kantor pengelola kebun binatang. Mereka melihat dua orang lain sudah berada disana.

"Um, biar saya bacakan, Daisuke Motomiya dan Takeru Takeishi, namanya sudah betul?" Tanya penjaga meja registrasi, memastikan nama laki-laki berkulit berkulit sawo matang dan laki-laki berambut pirang itu benar seperti yang tertulis.

"Betul!" jawab Daisuke semangat.

Takuya memicingkan matanya, ia familiar dengan apa yang ia lihat. Daisuke Motomiya, teman baik sekaligus musuh bebuyutannya yang selalu memperebutkan tempat menuju turnamen nasional, karena mereka berdua sama-sama berasal dari SMP di Tokyo, Daisuke dari SMP Touhou, sedangkan Takuya dari SMP Seinan Gakuen.

"Takeru, kau akan tepati janjimu kan? Mau memberikan tiketmu untuk Hikari.." bisik Daisuke yang merangkul pundak Takeru erat, seakan tidak ingin ada orang yang mendengar apa yang ia katakan walaupun kalau seseorang mendengar pun, mereka tidak kenal siapa itu Hikari.

"Hahaha, tenang Dai. Aku akan membantumu kok," jawab Takeru sambil tertawa.

"Daisuke!" sahut Takuya kencang.

Daisuke dan Takeru menoleh, seakan tidak percaya apa yang ia lihat, ia melepaskan pundak Takeru dan berjalan mendekati Takuya dan Izumi.

"Takuya!? Heeei! Sedang apa kau disini?" Tanya Daisuke girang sambil menjabat tangan Takuya.

"Hahaha Aku sedang berlibur, kau?"

"Berlibur?" raut wajah Daisuke berubah. "Kau berlibur setelah mengalahkan kami dan mendapatkan tiket menuju kejuaraan nasional!? Aku juga disini sedang berlibur, tapi aku libur gara-gara kau! Dan kau yang seharusnya ada di Tokyo untuk kejuaraan nasional….. malah berlibur!? Bersama pacar!? Cantik pula.." ujar Daisuke kesal, namun kekesalannya mereda setelah melihat Izumi.

"Aku bukan pacarnya!" tampik Izumi kesal.

Kata-kata tolakan dari Izumi itu membuat Takuya sedikit tertohok, yang dapat dilihat dengan jelas oleh Daisuke. Si Goggle boy seri kedua itu pun kemudian langsung menarik Takuya dan berbisik padanya.

"Hahaha.. kau bertepuk sebelah tangan ya? Kasihaan."

"Tidak, aku tidak bertepuk sebelah tangan, bukankah kau yang bertepuk sebelah tangan dengan temanmu itu?" balas Takuya sok tahu, juga dengan berbisik.

"EH!? Bagaimana kau bisa tahu!?" ujar Daisuke yang tidak bisa menahan suaranya.

"Aku tahu segalanya!"

Takuya tidak tahu. Ia hanya menebak-nebak. Namun kepolosan Daisuke membuat kesempatan untuk Takuya "menyerang"nya.

"Sudahlah, lupakan saja soal itu," alih Daisuke. "Sekarang, ayo kita gunakan momen ini untuk tanding ulang! Bagaimana? Yang kalah harus memberikan keringanan apabila kita bertemu di turnamen musim dingin!" tantang Daisuke dengan semangatnya yang menggebu-gebu.

Takuya terpancing. Dengan menggebu-gebu ia pun menjawab.

"Oh! Ayo, kuterima tantanganmu Daisuke!"

Izumi mulai cemberut karena merasa tidak mengerti apa yang mereka bicarakan dan dari tadi terpinggirkan dari obrolan. Takeru yang juga terpinggirkan oleh mereka berdua pun mengambil inisiatif untuk berbicara dengan Izumi.

"Halo," sapa Takeru dengan senyum.

"Halo," balas Izumi juga dengan senyum.

"Namaku Takeru Takeishi, namamu siapa?"

"Namaku Izumi Orimoto. Senang berkenalan denganmu."

"Izumi, kita sama-sama berteman dengan orang yang menyusahkan ya? Hahahaha."

"Hahaha, kau betul."

Selagi bertengkar dengan Daisuke, Takuya melihat Izumi dan Takeru yang tertawa bersama. Rasa tidak enak di hatinya mulai muncul setelah melihat mereka berdua, namun ia belum sadar mengapa rasa sakit itu tiba-tiba datang.

-xx-

Jam 2 siang, 2 jam setelah pendaftaran ditutup, Para kontestan pun bersiap di garis start yang terletak di gerbang masuk kebun binatang. Peraturan perlombaan ini cukup sederhana. Peserta diberikan waktu dua jam untuk mengumpulkan kepingan puzzle, dan apabila mereka mengumpulkan kepingan-kepingan itu dengan lengkap, maka mereka akan berlomba pada jam berikutnya untuk menyusun puzzle tersebut. Yang paling cepat menyelesaikan puzzle adalah pemenangnya.

Salah satu panitia bersiap untuk menembakkan pistol angin ke udara untuk memberikan tanda dimulainya perlombaan. Tiket safari malam yang eksklusif hanya untuk dua orang adalah hal yang didambakan oleh setiap pasangan yang datang, karena indahnya savanna hijau yang dihadirkan oleh Hiroshima City Zoological Park, ditambah suara binatang-binatang menambah suasana alam liar yang alami. Karena itu, tidak heran para pasangan yang mendaftar jumlahnya lumayan banyak.

Takuya dan Izumi serta Daisuke dan Takeru baru sadar bahwa mereka berbaris bersebelahan. Disaat Takuya dan Daisuke saling pandang dengan senyum pede, Takeru hanya tersenyum kepada Izumi, dan Izumi hanya menggeleng-gelengkan kepala.

"Semoga berhasil ya, Izumi," sapa Takeru sesaat sebelum lomba dimulai.

"Iya, Takeru! Kau juga semoga berhasil!" jawab Izumi semangat.

Takuya tidak suka apa yang ia lihat.

"Oi, Izumi! Fokus! Jangan ngobrol saja!" bentak Takuya.

"Ih, kau kenapa sih? Marah-marah begitu. Memangnya aku salah apa?" Jawab Izumi yang kaget sekaligus kesal karena dibentak oleh Takuya.

"Sudah, tidak usah banyak tanya. Ayo siap-siap, Sebentar lagi lombanya akan dimulai!"

Bersama dengan kata-kata Takuya itu, pistol pun telah ditembakkan ke udara, namun ketika yang lain sudah mulai berlari, Takuya dan Izumi justru kembali bertengkar.

"Aaah, tuh lihat! Kita keduluan, ayo kita lari, kita bisa bertengkar lagi nanti!" kata Izumi sambil menunjuk ke kerumunan orang yang sudah mulai berlari.

"Aaah! Baiklah! Ayo!" dengan kesal Takuya berlari. Ia menggenggam tangan Izumi dan mulai berlari. Wajah Izumi memerah. Ia belum pernah berpegangan tangan dengan seorang lawan jenis selain ayahnya sebelumnya. Apalagi ini adalah Takuya, teman dekat laki-laki yang jarang ia miliki.

"Takuya.. tangannya.."

"Eh? Aaaah! Maaf! Maaf!" teriak Takuya panik dengan warna wajah kepiting rebus.

Jantung Takuya berdetak lebih kencang. Kepiting rebus itu bingung dengan dirinya sendiri yang sedari tadi berpikir tidak karuan. Kesal, senang, marah di dekat Izumi daritadi ia rasakan, namun ia belum sadar dengan apa yang terjadi padanya.

"Sebenarnya ada apa sih denganku!?"

-xx-

Takuya terdiam. Izumi terdiam. Seekor singa terdiam. Singa itu melihat mereka dengan tatapan yang menurut harapan Takuya berarti "ia lapar dan ia ingin makan daging perempuan berambut pirang di sampingku ini sekarang juga."

Tom & Jerry sedang berada di depan kandang singa, karena kandang binatang lain sudah lumayan terisi oleh kontestan lain. Walau singa itu sudah jinak, singa adalah singa. Butuh nyali lebih untuk masuk ke dalam kandang tersebut, apalagi untuk dua orang anak SMP.

"Takuya."

"Apa?"

Izumi mengepalkan kedua tangannya dan mulai melakukan gerakan ala-ala cheerleader untuk menyemangati sang calon korban amukan singa lapar.

"Ayo semangaaat!" Sahut Izumi.

"Kenapa sudah diputuskan aku yang akan masuk!? Kau mau aku diterkam singa!?"

"Kau mau aku yang diterkam singa?"

Takuya melihat iblis perempuan di depannya itu dengan wajah kesal, namun ia tidak punya pilihan. Ia harus masuk dan mengambil kepingan Puzzle didalamnya.

"Ayo Takuya, kau sudah menghadapi monster-monster yang jauh lebih besar, masa melawan singa saja kau tidak bisa!?" ujarnya dalam hati untuk memotivasi diri sendiri.

Takuya pun akhirnya melompati pagar pembatas dan mulai melihat sekeliling untuk mencari kepingan puzzle, namun ia tidak bisa menemukan satupun kepingan puzzle di dalam kandang itu. Di saat bersamaan, seorang pengawas kompetisi melihat Takuya di dalam kandang singa, dan menjadi panik. Ia berlari menuju kandang singa dan berteriak.

"Heei! Keluar dari sana! Singa itu tidak jinaaaak!"

"HEEEEEEEEEH!?" teriak Izumi kaget.

"Apa!?" Teriak Takuya yang tidak bisa mendengar dengan jelas. Namun satu hal yang ia rasakan, bulu kuduknya berdiri. Ia merasakan desahan nafas berat dan hangat dari sesuatu yang bukan manusia semakin mendekat.

Takuya menoleh, mendapati sang singa hanya berjarak 5 langkah dari dirinya.

"Grr….."

"….."

"GRAAAOOOOOO!"

"IBUUUUUUUUUUU!"

Di tempat lain, Meninggalkan Takuya yang sedang berjuang melawan dorongan untuk buang air di celana, Daisuke dan Takeru yang sudah berhasil mengumpulkan beberapa kepingan puzzle sedang berlari menuju kandang beruang.

"Kita pasti jadi juara, Takeru!" kata Daisuke kegirangan sambil berlari.

"Jangan senang dulu Dai, pasti ada kesulitan saat pemasangannya!" balas Takeru.

"Huhuhu, Hikari-chan, tunggu aku!"

Sementara itu, di Hiroshima A-Bomb Dome, seorang gadis berambut coklat pendek tiba-tiba bersin. Seakan ada seseorang yang membicarakan dirinya.

"Hm? Kau flu musim panas, Hikari?"

"Tidak kok kak, aneh ya."

"Ibuuuuu tidak adaaaaaa!"

"Iya, iya, Hanako-chan, akan kita cari ibumu bersama-sama ya," ujar sang kakak yang juga berambut coklat, mencoba menenangkan seorang anak perempuan berambut bob yang sedari tadi menangis karena kehilangan ibunya.

-xx-

"Oi Izumi, sebenarnya apa yang mau kau lihat di safari malam?" tanya Takuya dengan nafas terengah-engah. Si malang itu mengira ia akan mati karena serangan jantung di usia muda.

"Aku.."

Izumi menundukkan kepalanya, keberatan untuk menjawab pertanyaan Takuya. Namun kali ini Takuya tidak bisa untuk tidak bertanya lebih lanjut. Ia merasa terlalu banyak hal yang Izumi sembunyikan darinya.

"Jujur padaku, Izumi! aku tak bisa membantumu kalau aku tidak tahu mengapa."

"Aku.. belum pernah ke kebun binatang bersama keluarga ataupun teman."

Keheningan menyapa. Takuya bingung memilih kata-kata untuk diucapkan pada Izumi sekarang. Apabila dia berkata "Ya.. lalu kenapa?" pasti ia akan bertengkar lagi dengan Izumi. Tapi kalau ia berkata "Aku turut berduka, Izumi," maka ia akan dianggap berlebihan. Akhirnya Takuya pun berhenti berpikir.

"Kalau begitu, kita hanya harus memenangkan ini saja, kan? Ayo, kita bekerja sama yang betul kali ini!" ajak Takuya dengan semangat yang merupakan jawaban yang tepat, dilihat dari respon Izumi- Senyum lega.

Takuya dan Izumi pun kemudian melanjutkan perlombaan, namun waktu yang mereka gunakan cukup banyak harus mereka bayar dengan usaha yang lebih keras.

Mereka sampai di kandang panda. Takuya kemudian masuk untuk mematahkan beberapa cabang pohon bambu kecil, dan kemudian mengopernya kepada Izumi. Izumi langsung menggunakannya untuk menarik perhatian panda-panda yang ada. Sementara Izumi mengalihkan perhatian para panda, Takuya kemudian mencari potongan puzzle dengan seksama.

Kerjasama yang baik pun mereka teruskan di kandang-kandang binatang lainnya, namun keterlambatan mereka belum cukup terbayar.

"Takuya, waktunya sudah mau habis, bagaimana ini?" tanya Izumi panik. Ia melihat jam tangannya terus menerus untuk memastikan sisa waktu mereka.

"Ini gawat, kita harus mencari ide yang lebih baik."

"Apa yang harus kita lakukan!?"

"Duuh, jangan merengek terus, Izumi! Kenapa tidak kau….. hei, tunggu. Itu ide yang bagus!" ujar takuya dengan gembira, seakan ia akan meraih penghargaan untuk ide terbaik tahun 20XX.

"Apa idemu?"

"Begini…"

Takuya membisikkan idenya pada Izumi. Izumi mengangguk-angguk, namun kemudian wajahnya memerah dan raut mukanya berubah kesal.

"Takuya! Kau pikir aku ini apa!? Aku juga tidak mau sembarangan memberikan milikku ke orang lain!"

"Ya sudah, berikan punya orang lain saja, Ini misalnya. Nah yang jelas, lebih baik kau lakukan. Ini demi safari malam!"

-xx-

"Huuh, capek ya. Tapi untung kita dapat banyak keping ya sayang, tinggal sedikit lagi," ujar seorang kontestan kepada pacarnya yang sedang duduk di bangku taman kebun binatang itu.

"Iya, sayang. Aku ke kamar kecil sebentar ya,"

Sang kontestan akhirnya duduk dan menunggu pacarnya di bangku taman itu. Dari balik semak-semak, seorang perempuan berambut pirang dengan aksen italia yang kental tiba-tiba muncul dan mengagetkan laki-laki itu.

"Hai," sapa Izumi.

"Umm… Hai?"

"Um….. hei, boleh kenalan tidak?"

"Eh? Kenapa?"

Izumi melancarkan jurus "wajah seksi" – yang sebenarnya gagal- untuk menarik perhatian si kontestan. Strategi itu berhasil.

"Aku daritadi melihatmu.. aku rasa aku jatuh cinta pada pandangan pertama.. padamu," ucap Izumi dengan perlahan dan terbata-bata untuk memunculkan kesan malu-malu kucing. Dan lagi, berhasil.

"Eh.. aku sudah punya pacar! Tapi… sebentar lagi kami akan putus kok, hehe,"

"Buaya darat!" rintih Izumi dalam hatinya, namun senyumnya menutupi suara hatinya yang meledak-ledak itu.

Izumi dan laki-laki itu berbicara untuk beberapa saat. Takuya yang melihatnya, kembali merasakan panas di dadanya.

"Boleh minta alamat e-mailmu? Nanti kuhubungi," tanya si kontestan, kali ini dengan antusias.

"Boleh, tapi sebelumnya.. aku butuh kepingan-kepingan puzzlemu. Aku ingin memperlihatkan safari malam kepada nenekku untuk terakhir kalinya. Ia sudah…" Izumi mencoba untuk pura-pura menangis, namun kualitas acting yang dimilikinya tidak lebih dari anak SD sangat sulit untuk dipercaya. Kecuali oleh laki-laki yang sudah terbius.

"Ini, Ambillah! Toh, nenekmu akan jadi nenekku juga! Hehehe," jawab si kontestan yang kemudian memberikan seluruh kepingannya pada Izumi.

"HARAPANMU TINGGI YA, TUAN!?" jerit Izumi dalam hati.

"Terima kasih!" ujar Izumi si muka palsu dengan senang.

"Nah, sekarang, berikan alamat e-mailmu," tagih si kontestan.

"Baik, catat ya."

"Ya," jawab si kontestan sambil mengeluarkan handphone dari sakunya.

"jp_shibayama…. "

-xx-

"Takuya! Aku berhasil! Dengan ini kita lengkap!" ujar Izumi girang kepada Takuya yang menunggu di balik semak-semak.

"Iya, iya.."

Takuya melihatnya dengan cemberut,yang kembali membuat Izumi tidak mengerti dengan temannya yang satu ini."

"Hei, kau kenapa sih? Cemburu yaaa?" goda Izumi.

"Tidak!" jawab Takuya dengan suara keras. "Ayo, lebih baik kita cepat serahkan ini ke panitia dan ikuti lomba menyusunnya yang akan diadakan dalam…" Takuya melihat ke jam tangannya. "5 menit!?"

"Hah!? Ayo bergegas!"

Takuya dan Izumi berlari sebisa mereka sampai ke tempat perlombaan berikutnya. Walau kelelahan sudah mengikat kaki mereka, namun bukan Takuya dan Izumi namanya apabila mereka menyerah dengan mudah.

Kedua orang itu berhasil sampai tepat pada waktunya sebelum pendaftaran ditutup. Disana sudah menunggu Daisuke dan Takeru, serta beberapa pasangan lainnya.

"Huh, akhirnya kalian tiba juga."

"Diam dulu, Daisuke, aku lelah." Kata Takuya yang menghindari pertengkaran lebih lanjut dengan Daisuke.

"Huh, terserah! Yang pasti, kalian tidak akan menang dari kami!" tutup Daisuke sambil berlalu.

Seorang panitia berjalan ke tengah-tengah kerumunan dengan membawa pengeras suara, untuk memberikan pengumuman yang para kontestan tidak pikirkan sebelumnya.

"Pengumuman, perlombaan menyusun puzzle, harus diwakili oleh satu orang dari tim. Perwakilan yang maju tidak boleh dibantu oleh teman satu timnya. Perwakilan yang akan maju harap mendaftar ke meja panitia. Terima kasih," tutup sang panitia yang disambut dengan paduan suara "Eeeeeeeh!?" yang panjang dari para kontestan.

"Ah! Ini jadi lebih sulit. Percayakan padaku ya, Takuya,"

Izumi berjalan menuju meja panitia. Namun Takuya menghentikan langkah Izumi.

"Kau betul-betul meremehkanku ya, Izumi! Biar aku yang maju, lihat saja!"

"Bukan begitu, tapi.."

"Sudah, diam dan lihat saja!"

Takuya meninggalkan Izumi dan berjalan dengan kesal menuju meja panitia.

Beberapa saat kemudian, meja telah tersusun untuk para kontestan menyelesaikan puzzlenya. Di sebelah Takuya, terlihat seseorang yang ia tidak sukai. Takeru.

"Takeru! Lebih baik kau menang!" teriak Daisuke dari kursi penonton, yang diacuhkan oleh Takeru.

"Hai, Takuya," sapa Takeru ramah.

Takuya menunjukkan raut wajah tidak mengenakkan, yang sudah terbaca dengan jelas oleh Takeru alasannya.

"Haha, dia sama dengan Daisuke ya," pikirnya dalam hati.

Panitia sudah melihat jam tangannya. Ia pun meniup peluit, tanda perlombaan dimulai.

Para peserta mulai mengerjakan puzzlenya masing-masing. Tidak butuh waktu lama untuk melihat beberapa kontestan mulai kebingungan. Puzzle yang digunakan lumayan besar dan kompleks. Puzzle dengan gambar utuh seekor bunglon di padang rumput tentu bukan hal yang mudah untuk diselesaikan.

Takeru mengerjakan puzzlenya dengan baik, membuat Izumi ketar-ketir. Ketakutannya semakin menjadi-jadi ketika tidak lama, salah seorang kontestan mengangkat tangannya, menyatakan sudah selesai menyusun puzzle.

Daisuke tercengang.

Terlebih lagi Izumi.

Yang mengangkat tangan adalah orang yang mereka kira akan mengangkat tangan terakhir. Panitia pun membuka mulutnya untuk menngonfirmasikan bahwa apa yang mereka lihat adalah kenyataan.

"Pemenangnya, Takuya Kanbara!"

-xx-

"Huhu, aku sudah bermain puzzle dengan Shinya dari dulu," kenang Takuya sambil menyombongkan diri di bangku mobil tanpa atap yang membawanya dan Izumi untuk menikmati safari malam.

"Wah, pantas saja kau hebat! Hehehe," puji Izumi yang gembira karena ia dapat menikmati safari malam gratis.

"Ah, biasa saja hehe," tutup Takuya bangga.

Izumi kembali menikmati angin malam yang lembut serta pemandangan yang luar biasa di malam hari ini.

Takuya, tanpa ia sadari terus menatap Izumi. Rambut panjangnya yang berkilauan tertiup angin, senyum gembiranya yang bagi Takuya sangat manis, membuat Takuya tidak bisa memalingkan pandangannya.

Tiba-tiba, Takuya teringat perkataan Takeru sebelum mereka berpisah tadi siang.

"Takuya, aku punya tantangan untukmu," ujar Takeru tiba-tiba.

"Hah? Apa?"

"Coba, saat safari malam nanti, kau lihat Izumi baik-baik, dan cobalah jujur pada dirimu sendiri. Apa yang kau rasakan saat kau melihat Izumi."

"Kau aneh ya."

"Hehehe, aku berharap yang terbaik untuk kalian berdua. Sampai jumpa lagi." Ujarnya sambil berlalu, membawa Daisuke yang lemas pergi.

"Kyaaaa!"

Takuya sadar dari lamunannya ketika mendengar teriakan Izumi.

"Takuya! Lihat! Cantiknyaaa!"

Izumi dan takuya dikelilingi oleh ratusan kunang-kunang yang mengitari mobil.

Melihat senyum kegembiraan Izumi dalam kepungan cahaya bintang bulan, serta sinar rapuh namun kuat kunang-kunang yang mengitarinya, membuat Takuya sadar.

"Cobalah jujur pada dirimu sendiri. Apa yang kau rasakan saat kau melihat Izumi."

Tom sudah tak bisa melihat sang Jerry dengan cara yang sama.

"Hmm? Ada apa?" tanya Izumi tanpa melepaskan senyumnya yang membuat Takuya tidak berdaya untuk menjawab.

Takuya hanya terdiam. Kata-kata Takeru terus terulang di kepalanya.

"Sial."

Dikelilingi oleh keheningan malam dan lautan kunang-kunang, Takuya harus mengaku kepada dirinya sendiri.

Mengaku bahwa ia telah jatuh cinta pada temannya, Izumi Orimoto.