Just Because

Naruto © Masashi Kishimoto

Genre: Romance & Slice of Life

Character : Sakura. H, Sasori. A, and others.

Rated : T

Warning : AU, OOC, typo(s), gaje, aneh, bahasa tidak baku, Dan masih banyak keburukan lainnya.

.

.

Don't like, Just don't read!

Happy Reading~


.

.

Chapter 3

.

.


Akhir pekan.

Heran deh Sakura, semakin hari libur kenapa ini tempat-tempat umum jadi semakin ramai sih. Padahal menurut kamus hidup seorang Sakura Haru—ah ralat, seorang Sakura Akasuna yang namanya hari libur itu seharusnya dimanfaatkan untuk istirahat dari segala macam hiruk-pikuk kegiatan selama enam hari yang melelahkan. Membayangkan satu hari penuh hanya dengan bersantai-santai rasanya benar-benar nikmat, senikmat mie ind*mi kuah hangat saat cuaca sedang dingin.

Tapi sih, itu hanya bisa dia lakukannya dulu kala. Pada masanya. Masa saat dia tidak harus memikirkan stok sayuran di kulkasnya yang sudah menipis, atau memikirkan apa yang harus ia masak untuk makan malam hari ini. Resiko seorang wanita yang sudah menikah. Hhh.

Kebetulan sekali, akhir pekan kali ini harus ia gunakan untuk membeli macam-macam kebutuhan sehari-hari mereka yang sudah mulai habis. Salahkan jadwal praktiknya di rumah sakit yang semakin padat, hingga dia diharuskan pulang telat terus menerus tanpa punya waktu lagi untuk sekadar mampir ke supermarket. Jangankan itu, tercatat sudah lebih dari empat kali dalam seminggu ini ia bahkan sudah melewatkan jam makan siang.

Seperti yang dikatakan iklan sabun di tv, bakteri dan kuman semakin merajalela. Mereka berkolaborasi menciptakan macam-macam penyakit bagi manusia. Meh. Sudah kayak artis top aja, main kolaborasian. Rumah sakit jadi penuh, sudah setara hotel bintang lima.

"Eh, eh—huwaaa!"

Saking penuhnya kantong belanja yang ada ditangannya, Sakura jadi kerepotan dan beberapa diantaranya malah terlepas jatuh dari tangannya yang tidak sanggup menahan beban seberat itu. Nahan beban belanjaan saja dia tidak sanggup, apalagi menahan beratnya beban kehidupan ini. Lah malah curhat.

Beberapa kali umpatan pelan meluncur bebas dari bibir tipisnya saat beberapa orang yang berjalan hampir menabraknya yang tengah berjongkok memunguti satu persatu barang belanjaannya yang terjatuh tadi. Heran sama orang-orang jaman sekarang, lagi jalan saja sempat-sempatnya main handphone. Nyeblos ke saluran pembuangan air baru tahu rasa.

Tiba-tiba sepasang sepatu sneakers putih dengan tiga garis strip hitam disisi kanan-kirinya berhenti tepat dihadapannya. Tatapan Sakura bergerak dari sepatu menuju ke kaki yang berbalut jeans hitam, tubuh yang dilapisi hoodie putih, kemudian berakhir pada wajah seseorang yang sangat ia kenali.

"Kau—"

Orang yang ternyata adalah Sasori itu ikut berjongkok di hadapan Sakura. Tangannya yang lebar membantu memungut barang yang masih tersisa. Mata coklatnya menyipit sejenak.

"Kenapa tidak bilang kalau mau belanja. Aku bisa temani jika kau meminta."

Sakura menggigit bagian dalam bibirnya, sedikit gugup ditatap begitu intens oleh suaminya.

"Aku... Tidak mau merepotkanmu." Ucapnya ragu.

Sasori menghela napas pelan, "tidak ada kata merepotkan diantara suami dan istri, Sakura."

Perkataan Sasori yang begitu lembut membuat Sakura terpaku sejenak. Ada sebuah rasa aneh yang menghinggapi ulu hatinya naik hingga ke wajah. Mungkin tekanan darahnya naik, atau penyakit lain. Sepertinya pulang ini dia harus memeriksa dirinya sendiri.

"Kulihat kau tadi sibuk dengan laptopmu, karenanya aku tidak mau mengganggu."

"Aku bisa meninggalkan pekerjaanku sebentar."

"Benar tidak apa jika begitu?"

"Iya, sini." Sasori mengambil alih beberapa kantong belanja ditangan Sakura, "lain kali jika kau mau belanja aku akan menemanimu."

Nada perkataannya kali ini terdengar tidak mau dibantah, lantas Sakura hanya menganggukan kepalanya—mengiyakan.

Kepala merah jambu itu menoleh kesana kemari memperhatikan sekeliling siapa tahu dapat rejeki nomplok, ada milyuner yang sengaja menjatuhkan segepok uang. Kan lumayan buat nebelin dompet yang sedang menipis. Tapi malang, itu hanya sebatas ilusi semata. Yakali kan.

Sebenarnya, Sakura itu celingukan dari tadi gara-gara nyari makanan favoritnya, apalagi kalau bukan es krim. Makanan ringan yang berbahan dasar susu dengan aneka varian rasa yang unch... Mantap kali lah. Sayangnya nihil, jii-san yang suka jualan es krim dengan gerobak kesayangannya sedang cuti. Padahal salju sedang berlimpah alangkah baiknya jika dimanfaatkan jadi es krim, kan sayang mubazir.

Lantas Sakura menarik suaminya yang sedang kalem berjalan didepannya untuk mampir sebentar ke minimarket terdekat, hanya sekedar buat beli itu makanan ringan kesayangannya.

"Beli es krim dulu ya, sudah lama tidak makan."

Sakura ini, bisa dikatakan fanatik banget sama makanan yang satu ini. Bikin Sasori geleng-geleng kepala saja. Di cuaca yang sedingin ini makan yang dingin-dingin. Brrrr.. Tidak bisa ia bayangkan.

Alhasil kini mereka berdua memutuskan untuk duduk di salah satu bangku yang ada di taman tidak jauh dari minimarket. Sekalian istirahat, Sakura lelah mondar-mandir nyari barang yang harus dia belanjakan tadi. Sasori sih ikut saja, jarang-jarang juga dia bisa keluar untuk santai-santai begini.

Slurp... Slurpp..

Dua bungkus es krim batangan sudah Sakura habiskan dan ini sedang ancang-ancang buka bungkus yang ketiga. Apa tidak sakit itu perutnya. Seakan-akan sudah bertahun-tahun dia tidak memakan makanan yang lebih enak disajikan dingin itu—iyalah namanya juga es krim, kalo disajikan panas namanya hot krim—panasnya mantap. Ngomong soal itu, justru Sasori yang lupa kapan terakhir dia memakannya. Rasanya itu waktu dia SMP atau malah pas SD—waktu neneknya marah-marah karena Sasori ngeluh sakit gigi terus.

Melihat Sakura yang nikmat pakek banget sama tuh es krim mancing lidah Sasori bergerak gelisah. Ngiler lama-lama dia tuh.

"Sakura."

"Hm?"

"Mau sampai kapan kau makan itu?"

"Ya sampai habislah."

"Tidak ada niat mau ...berbagi gitu?"

Sakura menghentikan kegiatannya sejenak demi memandang laki-laki di sampingnya yang memasang wajah penuh harap.

"Mau?"

Baru Sasori ingin menggerakkan tangannya, Sakura sudah lebih dulu menarik tangannya yang beberapa detik lalu sempat terjulur.

"—Eits... Tidak boleh! Kau kan baru sembuh dari flu."

Alis Sasori berkedut, sedikit jengkel.

"Aku sudah sembuh seminggu yang lalu."

"Tetap tidak boleh." Sakura berkata cepat. Ia menggerakkan stick es krim yang masih ada setengah ke kanan dan ke kiri—tak luput dari pengawasan mata ebony Sasori—yang ikut bergerak mengikuti.

"Nanti kalau kau terserang flu lagi bagaimana? Kau tahu virus sekarang sedang gencar-gencarnya melakukan serangan. Ditambah cuaca yang begini, bisa menjadi faktor yang sangat mendukung. Sakit satu hari saja kau bilang pekerjaanmu jadi terbengkalai semua bagaimana jika, bla, bla..."

Sakura mengoceh panjang kali lebar, sudah persis seperti ibu-ibu yang sedang mengomeli anaknya. Sasori sang objek yang diomeli merasa telinganya sudah hampir berdengung. Tiba-tiba terlintas sebuah cara agar bisa menghentikan wanita disampingnya yang sedang asik mengoceh sambil memejamkan matanya.

"Sakura."

Shuut...

Astaganaga. Jantung Sakura serasa hampir copot. Begitu membuka mata tiba-tiba Sasori menggerakkan kepalanya dengan cepat hingga kini wajah mereka tidak memiliki jarak lagi. Dekat sekali. Sampai-sampai ujung hidung mereka bisa bersentuhan. Bau mint dari napas Sasori bisa dia rasakan, darahnya berdesir cepat disepanjang tubuhnya. Sensasi ini lagi. Sudah keberapa kalinya hari ini.

Beberapa detik mereka dalam posisi begitu, sebelum laki-laki berambut merah itu menunduk. Hanya untuk menggigit sisa es krim ditangan Sakura yang sudah mulai mencair.

"Akh... sshhh."

Gigi depan Sasori seketika ngilu ketika bertemu benda dingin tanpa pemberitahuan.

"Ap—hei! Kau menghabiskan es krimku."

"Cuma sedikit, kok."

"Tetap saja, curang."

Sakura memukul pelan dada Sasori—yang sedang tertawa geli melihat wajah cemberut Sakura yang lebih terlihat seperti anak kecil yang direbut permennya. Sungguh menggemaskan.

"Hei hei, hentikan." Sasori mengunci kedua tangan Sakura yang jika dibiarkan lama kelamaan akan mematahkan tulang rusuknya, sudah dibilang kan tenaga Sakura itu besar sekali.

"Boleh aku memberimu sesuatu?"

"Apa?" Sakura berkata dengan ketus. Masih kesal rupanya.

Masih dalam posisi Sasori yang memegang kedua pergelangan tangan Sakura. Pria bermarga Akasuna itu kemudian menariknya mendekat dan dengan cepat menciumnya—

Hah. Apa?

Sasori menciumnya?

What the..

Ya Tuhan. Sakura mau mokad ditempat rasanya.

Bibir mereka bertemu kurang lebih hanya sekitar lima detik, tapi kehangatan yang terasa sedikit lebih lama. Pasalnya Sasori sengaja menarik kepalanya kebelakang dengan lambat. Dalam keadaan begitu dia kemudian berbisik.

"Ucapan terima kasihku, karena kau sudah sabar merawatku saat sakit."

Kehangatan menjalar ke wajah Sakura. Merubah warna putih pucat perlahan menjadi merah. Merah sekali. Lebih merah dari tomat segar yang baru dipetik dari pohonnya.

Itu.

Ciuman.

Pertamanya.

Huhu.

Kalo mau nyium ngomong dulu kek. Dia kan jadi bisa siap-siap dulu. Hhe. Gak lah. Bercanda.

"Kaget?"

Hhh. Masih pakek nanya ni orang.

"Sengaja. Mukamu lucu sih."

Lucu ndas mu.

Sakura masih belum bisa bersuara. Dia bingung harus berekspresi seperti apa.

"Soalnya mulai besok aku tidak bisa lihat wajahmu itu."

"Eh?"

"Urusan kerja. Tidak apa kan sendirian saja dirumah selama tiga hari."

"Heeh..?!"

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

"Hnggg."

"Menyebalkan!"

Sakura mencak-mencak, mengacak rambutnya yang tadi pagi sudah repot-repot dia tata rapih.

"Tiba-tiba menciumku lalu bilang mau pergi. Mana tadi pagi-pagi sekali dia sudah pergi tanpa bilang apa-apa lagi."

"Ya mau gimana, dia kan pergi karena urusan pekerjaan. Bukan untuk senang-senang liburan."

Ino menopang rahangnya dengan telapak tangan, alis pirangnya bergerak naik turun seduktif. "Ngomong-ngomong, sepertinya hubungan kalian sudah ada kemajuan ya?"

"Ehm..itu." Semburat merah tipis terlihat di pipi Sakura. Bukan karena ia memakai blush on—dia tidak sempat menerapkan unsur make up yang satu itu. "Entahlah, aku juga tidak mengerti kenapa dia melakukan itu."

"He'eh. Itu artinya dia sudah membuka dirinya padamu, Saki."

"Mungkin ya, mungkin juga tidak. Aaah...sudahlah jangan membicarakan itu."

"Ciee malu-malu, cie~"

"Inoo."

Gadis Yamanaka itu tertawa puas melihat wajah Sakura yang sekarang sudah hampir semerah rambut suaminya sendiri. Entah sejak kapan mendengar perkembangan hubungan dua sejoli ini menjadi sesuatu yang menarik baginya. Penasaran. Seperti menanti episode terbaru drama mingguan yang ditayangkan di tv lokal. Lalu kadang terbesit sebuah pikiran 'kapan ya aku bisa seperti itu juga' dan seketika hatinya terasa hampa. Ino yang malang~

"Eh Ino. Di rumah sendirian aku takut, nanti kalau tiba-tiba ada orang mesum yang masuk rumahku gimana. Terus, terus nanti dia—"

"Stop!" Ino mengangkat telapak tangannya, tidak tahan mendengar kata-kata Sakura yang sedang parno sendiri. "Payah banget sih, percuma dong kau capek-capek belajar bela diri. Ujung-ujungnya jadi penakut begini."

"Bukan begitu, aku hanya..."

"Hanya apa? Sudahlah, santai saja. Tidak ada yang mau macam-macam denganmu."

"Bisa jamin berapa persen?"

"Berapa persen yang kau mau?"

"Delapan puluh persen?"

"Aish..mana ada untungnya buatku. Masing-masing lima puluh persen."

"Oke."

"Deal!"

PLAAK.

Sakura menepak kepala Ino keras. Ini mereka lagi ngomongin apa malah melenceng jadi kayak dua pedagang gelap yang sedang mengadakan kesepakatan. Ish.

"Ya sudah pulang saja ke rumah orang tuamu."

"Mereka lagi ke Kyoto, jenguk nenek yang sakit."

"Susul saja sana."

"Ino..ish. Aku kan harus kerja."

"Jadi?"

"Jadi... Aku nginep di rumahmu ya, ya?"

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

"Tidak."

"Heeh. Nande?"

"Rumahku penuh. Saudara ibu dan ayahku datang semua."

"Mau ngapain?"

"Ngadain do'a bersama."

"Buat?"

"Buat..aku disegerakan dapat jodoh."

Krik. Krik. Krik.

Sakura menepuk iba bahu sahabatnya.

Ino yang malang. Sebegitu kesepiannya kah dia.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

'Daijoubu.'

Tidak akan ada orang jahat, kalaupun ada sudah kuringkus duluan dengan jurus-jurusku.

Tidak apa-apa.'

Bagaikan sebuah mantra, Sakura terus menerus menggumamkan kata-kata tersebut demi mengurangi kadar kecemasan dalam hatinya. Dia punya trauma ditinggal sendirian dirumah. Waktu dia kelas tiga SD, orang tuanya harus pergi untuk suatu urusan—dia lupa urusan apa itu, yang pasti dia tidak diperbolehkan ikut. Sakura yang waktu itu (sok)berani menolak untuk dititipkan ke rumah neneknya. Biasa. Ego anak kecil yang merasa dirinya sudah besar. Alhasil Sakura ditinggal dirumah sendirian.

Dalam kesempitan pasti ada kesempatan. Rumah keluarga Haruno yang cukup mewah itu, pasti sungguh menggiurkan bagi orang-orang yang berniat jahat apalagi jika ditinggalkan kosong—Bah. Santapan yang lezat. Slurph.

Sakura kecil yang ditinggal sendirian itu tentu sangat kaget sekaligus cemas saat melihat tiba-tiba ada orang asing yang masuk ke rumahnya. Badannya bergetar hebat ketika melihat sebuah pisau tergenggam di tangan orang asing itu. Keringat dingin mulai bercucuran, ia merasa seperti ada yang berputar di perutnya.

Bingung. Dia tidak tahu harus berbuat apa. Satu-satunya hal yang bisa ia lakukan saat itu adalah berteriak minta tolong sekeras mungkin. Cukuplah untuk membuat telinga orang jahat itu sedikit berdenging. Cukup juga untuk bisa didengar oleh tetangga sebelahnya yang kebetulan sedang berkebun. Tetangga yang biasa dia panggil Jirou jii-san itu langsung berlari ke rumah keluarga Haruno setelah mendengar teriakan Sakura sebelumnya.

Dengan celurit masih ditangan, kaos putih yang sudah dekil terkena tanah liat, muka penuh codet luka—maklum dia dulu juga mantan preman. Siapa yang tidak ngeri melihatnya. Merasa terdesak dan diambang kegagalan, orang yang berniat mencuri di rumah keluarga Haruno itu tanpa pikir dua kali langsung melarikan diri. Gak jadi deh. Mending kesempatan yang hilang, daripada nyawanya yang hilang.

Nah maka sejak saat itu tercetuslah ide dari ayah Sakura untuk memberikan pelajaran private bela diri bagi putri semata wayangnya itu. Hitung-hitung sebagai bentuk perlindungan diri, yah meski pada dasarnya rasa takut dalam diri Sakura tidak sepenuhnya hilang.

Lalu setelah acara flashback kejadian dimasa kecilnya itu, lantas Sakura yang kini menghidupkan seluruh penerangan yang ada di rumahnya ketika kakinya sudah melangkah ke dalam kemudian mengunci pintu depan serapat mungkin. Penerangan yang cukup dapat memudahkannya untuk mengawasi seluruh sudut ruangan. Hhh. Sungguh paranoid sekali orang yang satu ini. Paling-paling yang didapatinya nanti hanya kecoa lewat atau tikus terbang—Eh? sorry kebalik.

Ini hari kedua Sasori pergi dan sampai sekarang bahkan satu pesan pun tidak ada dari laki-laki itu. Saat Sakura yang mau menghubungi duluan eh malah ponselnya yang tidak aktif. Itu emang sengaja tidak diaktifkan atau tidak ada sinyal Sakura juga tidak tahu. Jangan-jangan proyek pembangunan Sasori itu ternyata membuat sebuah bangunan di hutan pedalaman yang jauh dari akses jaringan atau—err entahlah. Memikirkannya saja sudah membuatnya kesal. Kesal karena tidak bisa menghubunginya, kesal karena dia sama sekali tidak mengabari, kesal karena sama sekali tidak tahu kabarnya dan kesal karena dia terlalu khawatir.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Tidak ada kata lebih tepat yang bisa mewakili perasaan Sakura di pagi hari yang mendung ini, selain kata—

'SIALAN.'

Sambil merapihkan rambutnya yang masih setengah kusut, Sakura yang notabene nya adalah orang yang dikenal tidak biasa bangun kesiangan itu—harus tercoreng hari ini. Ia memasukkan asal saja kertas pasien yang tercecer di meja kedalam tas jinjingnya. Dia bangun kesiangan, pertama kali dalam hidupnya. Jam weker yang selalu menemani pagi harinya ternyata rusak, mana kali ini dia tidurnya kelewat nyenyak sampai tidak sadar jika hari telah siang. Maklum, dia baru bisa terlelap jam empat dini hari tadi.

Pagi ini dia mandi bebek—asal seluruh tubuh basah semua, udah kelar. Tidak sempat buat sarapan sehat dan bergizi seperti biasanya. Untung roti tawar yang ada di meja makan tinggal satu, comot saja yang penting ada sesuatu yang mengisi perutnya pagi ini. Tidak kepikiran buat ngambil koran pagi, apalagi membaca berita terkininya. Pokoknya kali ini Sakura ekstra buru-buru karena kebetulan dia dapat jadwal pagi di rumah sakit.

Di tengah perjalanan menuju rumah sakit tiba-tiba mobil kesayangan yang ia beli dengan tabungannya sendiri mati. Jelas tidak mungkin mogok, karena Sakura sangat rajin membawa mobilnya ke bengkel sebulan sekali untuk di cek. Jadi kenapa?

Lho, ya...Kenapa dia sampai tidak sadar kalau bensinnya sudah sampai diambang sekarat. Duh. Cobaan apalagi ini. Lalu tanpa pikir panjang Sakura keluar dari mobilnya, berlari mencari alternatif kendaraan lain. Biar deh, paling dia nanti telpon tukang bengkel langganannya untuk ngederek mobilnya.

Sial pakek akhiran an lagi-lagi tersebut dalam sanubarinya. Belum sempat Sakura bernapas dengan normal, tepat ketika dia sampai di rumah sakit Shizune—perawat senior di rumah sakit Tokyo malah langsung menyeretnya masuk ke ruang operasi. Eh, eh itu buku absen saja belum sempat tersentuh, yang membuat Sakura harus rela terburu-buru datang kesini. Takut nanti dikira kesiangan—padahal emang bener—atau bolos piket pagi. Tapi yah, Sakura tidak bisa menyangkal, keselamatan pasien jauh diatas segalanya.

.

.

.

.

.

.

Pegal. Tidak disangka operasi yang mereka lakukan cukup memakan waktu sangat lama. Kaki Sakura rasanya hampir mau putus gara-gara berdiri terus menerus. Perutnya sedikit perih akibat dari hanya memakan sekeping roti tadi pagi, dan jam tangannya kini menunjukkan jarum panjang ke angka tiga. Gila. Kurang lebih tujuh jam dia menghabiskan waktu di ruang operasi. Meski bukan untuk yang pertama kalinya, sih.

"Senpai, habis ini tidak ada jadwal operasi lagi kan?"

"Tidak. Seharusnya memang tidak ada seharian ini, tapi yang tadi memang diluar prediksi. Sungguh mendadak." Shizune menjawab sembari ia melepaskan masker, sarung tangan dan pelindung rambutnya.

"Aah..syukurlah."

"Kenapa? Setelah ini kau mau pulang?"

"Tidak juga. Hanya saja aku merasa hari ini seperti berjalan tidak semestinya."

"Heeh, sou ka? Mau ikut aku makan?"

Tawaran yang sangat tidak boleh dilewatkan, karena Sakura memang sedang membutuhkannya saat ini.

"Tentu. Dengan senang hati."

Maka pergilah kedua wanita tersebut menuju pintu masuk. Namun sebuah pemandangan indah menghentikan langkah mereka. Seorang pria tengah bersandar pada sebuah mobil yang terparkir tepat didepan pintu masuk rumah sakit. Tangannya bersidekap didepan dada dengan kedua mata yang terpejam. Siapapun yang punya mata normal pasti mengakui betapa mempesonanya laki-laki itu.

Lho?

Sakura kaget. Dia langsung berlari mendekat. Bukan mendekati pria yang sudah membuka matanya itu. Wanita musim semi itu berlari mendekati mobil—yang ternyata adalah mobilnya yang tadi pagi kehabisan bensin. Karena belum sempat ngapa-ngapain dan langsung digeret ke ruang operasi, Sakura ternyata lupa menelpon tukang bengkel untuk membawa mobilnya. Untung ada orang baik yang mau mengantarkan mobil kesayangannya ini kembali padanya.

Sakura memeluk, mencium, mengelus penuh haru mobil yang menjadi bukti hasil jerih payahnya itu.

Kedua orang berbeda jenis kelamin yang berada didekatnya hanya menatap Sakura dengan kedua alis yang dikerutkan. Bagai melihat adegan seorang ibu yang bertemu dengan anaknya setelah sekian tahun terpisahkan. Ada rasa geli bercampur jijik yang menggelitik.

"Tinggalkan saja mobil itu ditengah jalan lagi."

Suara berat itu menyadarkan Sakura dari kegiatannya.

"—Maka aku tidak akan mau repot-repot mengambilnya lagi di kantor polisi."

Sakura menolehkan kepalanya ke sumber suara.

Eh?!

"Sasori!"

"Iya aku."

"Kenapa ada disini?"

"Karena aku sudah pulang. Mau peluk? Sini-sini." Sasori—pria itu merentangkan tangannya.

"Dih. Apaan sih? Baru juga pergi tiga hari."

"Hoo. Kalau aku perginya seminggu apa kau mau memelukku ketika pulang?"

"Tidak."

"Sebulan?"

"Hmm.."

"Setahun?"

"Yah itu—"

"EHEM!"

Kacang itu murah. Tapi kalau dikacangi dan tak dianggap itu sakit rasanya. Shizune yang notabenenya seorang jomblowati itu dibuat keki sama pasangan yang lagi sok mesra(menurutnya) itu.

"Sakura, sepertinya aku akan makan di kantin saja, deh."

"Lho? Tidak jadi makan bersama?"

Tidak terima kasih. Mending makan makanan hambar di kantin daripada perih hati harus menjadi obat nyamuk.

Pengen hati sih bilang gitu, tapi Shizune hanya menggeleng pelan sambil menampilkan senyum tipis—yang dipaksakan.

"Oh, ya sudah kalau begitu."

Sepeninggalan Shizune—dia belum mokad, cuma balik arah kembali masuk ke gedung rumah sakit lagi. Duo 'S', Sasori—Sakura cuma diem-dieman saja. Sasori yang tidak tahan akhirnya buka suara duluan.

"Beneran tidak senang aku pulang?"

"..."

Sakura cuma masang poker face.

"Marah?"

"Tidak."

Tipikal cewek. Kalau jawabnya sudah singkat begitu tandanya sudah warning. Siaga satu.

"Pasti marah kan?"

"Tidak."

"Itu wajahnya cemberut."

Sakura bersidekap. "Memang gara-gara siapa?"

"Karena apa?"

"Menurutmu?"

"Mana aku tahu."

"Ish..dasar tidak peka."

"Aku bukan tanaman yang peka terhadap rangsangan, lho."

"Tapi kan sama-sama makhluk hidup."

Checkmate.

Kalau sudah begini Sasori memilih menyerah saja, dia bukan tipe orang yang mampu menerka-nerka pikiran orang lain—apalagi seorang wanita. Mereka rumit, Sasori tidak tahan.

"Ah, kudengar tadi kau mau makan? Ayo pergi ke restoran yang ada diseberang sana." Ajak Sasori.

Sakura berdecih dalam hati, pengalih perhatian yang mujarab. Kebetulan perut Sakura sudah berbunyi-bunyi—untung suaranya tidak sampai kedengaran, bisa malu kalau itu sampai terjadi. Untuk itulah meski masih kesal Sakura tidak dapat menolak ajakan itu.

Mereka duduk ditempat yang berada agak sudut, mengingat sudah sangat lewat dari jam makan membuat restoran jadi sedikit lenggang. Lumayan sepi, mau duduk dimanapun jadi bebas. Sakura memesan beberapa macam makanan. Lengkap. Mulai dari makanan pembuka, makanan utama, dan makanan penutup. Gayanya mencicipi makanan-makanan itu—ugh, sudah setingkat sama juri kontes memasak. Sedangkan Sasori, laki-laki itu hanya memesan satu cangkir kopi hangat, dia bilang sedang tidak selera makan.

"Bukannya aku sengaja sama sekali tidak menghubungimu, hanya saja itu si keparat—maksudku atasanku yang melarang kami untuk mengaktifkan handphone."

"Khenapwa?"

"Aishh.. telan dulu makananmu." Sasori mendorong cangkir jus strawberry milik Sakura, "kenapa? Itu karena menurutnya handphone hanyalah benda canggih yang hanya dapat menghambat produktivitas kerja seseorang. Bukannya kerja dia takut kami malah sibuk dengan hp masing-masing. Aah, dasar orang yang gila kerja."

"Bukankah kau sama saja?"

Sasori tercebik, ia berdehem singkat. "Y-ya, intinya kau marah karena itu, kan?"

Sakura mengedikkan bahunya dan menjawab singkat, "mungkin."

"Ada lagi? Kali ini gara-gara apa?"

"Tidak ada. Aku hanya khawatir sampai aku kesal."

"Khawatir kenapa? Kau terlalu berlebihan." Sasori tertawa kecil, yang membuat Sakura kembali cemberut.

"Berlebihan bagaimana, kau itu baru saja terserang flu dan demam tinggi, kalau sampai kambuh lagi karena terlalu dipaksakan bekerja bagaimana?" Nada bicara Sakura meninggi.

"Shh, iya-iya gomen." Sasori ambil langkah seribu tidak mau membuat Sakura berteriak lebih dari ini, yang ada semua orang nanti akan menoleh kearah mereka, dia benci jadi pusat perhatian. "Lagipula jika aku sakit ada dokter pribadi yang akan merawatku. Benar, kan?"

"Enak saja. Dipikir aku tidak sibuk apa, huh?"

Sasori tersenyum, melihat Sakura yang kesal sambil cemberut sungguh menggemaskan. Ah, rasanya waktu tiga hari tidak bertemu terbayarkan.

Heeh~ Ada yang sedang dilanda rasa bernama 'rindu' rupanya.

Perlahan tapi pasti, benih-benih sebuah perasaan mulai tumbuh di hati masing-masing. Tinggal masalah waktu kapan benih tersebut dapat tumbuh menjadi bunga lalu bersemi dengan indahnya. Aih, membayangkannya saja sudah membuat wajah ini senyam-senyum tidak jelas.

.

.

.

Setelah mengambil barang-barangnya di rumah sakit Sakura memutuskan untuk ikut pulang bersama Sasori. Yah, selain karena jadwal praktiknya sudah habis, Sakura juga tidak dapat manahan hasrat diri untuk mengistirahatkan tubuhnya. Entah kenapa tapi hari ini terasa begitu melelahkan dari hari-hari biasanya.

Didalam mobil keduanya banyak diam. Sasori terlalu fokus menyetir sedangkan Sakura sedang tidak punya bahan obrolan. Karena bosan, Sakura memilih untuk mengutak-atik hp-nya yang sudah dari tadi pagi belum dia buka.

5 missed call from annount

12 missed call from Sasori

8 messages

"Wah banyak sekali." Tidak sengaja Sakura bergumam, Sasori menoleh ke arahnya.

"Apanya?"

"Jumlah panggilan yang tidak kuangkat darimu."

"Oh, itu. Aku bingung dan sedikit panik saat kantor polisi menelponku. Mereka memberitahuku kalau ada orang yang melaporkan sebuah mobil yang ditinggalkan dipinggir jalan tanpa pemiliknya dan akhirnya diderek sampai ke kantor polisi karena mengganggu lalu lintas. Aku khawatir padamu karena baik polisi maupun aku tidak bisa menghubungimu."

"Itu karena aku sedang ada di ruang operasi dari pagi."

"Ya, orang rumah sakit memberitahu saat aku menelpon kesana."

"Gomen, nee."

"Untuk?"

"Kau pasti baru sampai Tokyo dan seharusnya beristirahat, tapi kau malah langsung ke kantor polisi untuk mengambil mobilku." Sakura mengetok pelan kepalanya sendiri, "kenapa pula aku sampai lupa mengisi bensinnya."

"Iie. Lagipula aku memang berencana untuk menemuimu ketika sudah sampai disini." Sasori tersenyum kearahnya saat mengatakan itu.

"Benarkah?"

"Hm."

Belum Sakura kembali mengeluarkan suara mobilnya berhenti—tidak, bukan karena mogok atau kehabisan bensin lagi—Sasori sudah mengisinya sampai penuh tadi, melainkan karena mereka sudah sampai di depan rumah mereka.

My home sweet home.

Sakura agaknya sedikit merindukan kasur empuknya, dia bangun dengan terburu-buru tadi pagi—membuat kepalanya sedikit sakit. Rasanya berbaring sebentar menjadi pilihan bagus sebelum dia memasak untuk makan malam.

Sakura melangkah ringan memasuki rumah, tidak mempermasalahkan kenapa pintu depan tidak terkunci. Dia pikir mungkin Sasori lupa menguncinya karena terburu-buru tadi. Tepat beberapa langkah dari pintu depan Sakura mematung. Mata melotot dengan mulut terbuka, kepalanya ia tolehkan ke belakang melihat Sasori yang menyusul masuk sehabis memasukkan mobil ke garasi. Kebelakang—kedepan, kebelakang—kedepan, ia terus menolehkan kepalanya sampai lehernya terasa ngilu.

Tunggu.

Sasori...ada dua?

Eh, Eeeehhhhhh?!

.

.

.

.

.

.

.

.

.

-TBC-

.

.

.

.

.

.

.

.

.

A/N: Chapter 3 up nih heheh^^ gue ucapkan terima kasih buat yang udah nyempetin ninggalin reviewnya, makin semangat nih nulisnya kalau banyak yang suka hhe:)

Saran dan masukannya bolehh bangett..

See you in next chap yaa~

Palembang, 20-01-19.