"Mukkun, kenapa kueku dibuang?" Mata Kuroko berair, "Uwaaaaa… papah, Mukkun nakal…" suara tangisannya menggema ke seluruh koridor.
"Tuh, kan. Kamu emang ga punya mamah. Dikit-dikit papah. Kapan mamahmu ke sini?"
"Mukun nakal. Uwaaaa~"
"Dasar anak papah yang cengeng!" Murasakibara, si bongsor menatapnya malas. Ia memakan keripiknya. Senang bisa membully Kuroko.
"Aku anak mamah!" tangan kecil Kuroko terkepal.
"Bwweeee~!" Murasakibara justru memeletkan lidah. "Dasar tukang bohong!" tangannya terulur lalu menoyor kepala Kuroko.
"Uwaaaaaa—" lagi-lagi bisanya cuma nangis.
…
Hyuuga Junpei, selaku guru pembimbing kelas Keajaiban (kelas nol kecil) tergopoh-gopoh memasuki kelas setelah mendengar suara cempreng imut milik anak didiknya. Lelaki berkacamata pertengahan dua puluh tahunan itu, menarik napas berat ketika dilihatnya Kuroko sedang berjongkok memandangi kuenya yang sudah tergeletak tak berbentuk.
Setelah menghela napas, ia ikutan berjongkok. "Kuroko-chan berhenti nangis ya, nanti pak guru belikan lagi kue kayak gitu."
"Uwwaaaaa…" teriakan Kuroko justru makin kencang. "Mamahhhh… aku mau mamah…" anak kecil berambut baby blue itu justru bergulingan di atas lantai. Membuat si Junpei kelabakan.
Drap.. drap.. drap..
"Junpei, ada apa ini?!"
Seketika pria berkacamata itu memandang horror seseorang di pintu. Muka sangar Shoichi Imayoshi terpampang di pintu. Wajahnya memang terlihat tersenyum, tapi auranya itu loh, yang membuat Junpei menelan ludahnya. Ia ngeri terhadap seniornya yang juga berkacamata itu.
"A-ano—"
Belum sempat si Junpei menjelaskan. Si Kuroko sudah berguling-guling di lantai.
Gluduk.. gluduk.
"Uwwaaaa… Aku mau mamahhhhh—" tangisannya membuat nyeri di telinga.
Dasar anak manja.
"Yare-yare. Selesaikan masalah ini Junpei." Ujarnya kemudian menutup pintu.
Siaaaaallll…
.
Grow Up, My Baby Boy!
Kuroko no Basuke Fujimaki Tadatoshi.
Story board by Poochan
Basic from imagination of Mitsuki Ota.
Warning: Typo nyasar, EYD, OOC, gajeness, dan kegilaan lainnya.
(T)
(Family/Romance)
Bagian kedua: *happy family
…
..
.
Oke. Junpei harus menyerah pada Kuroko yang satu ini. Dia benar-benar gak bisa diatur. Mengeluarkan hape flip berwarna putih dari sakunya. Ia terpaksa menelepon orang itu. Si hitam, yang mukanya sangar kaya preman. Yang digandrungi ibu-ibu muda yang nganterin anaknya di TK. Saingan beratnya mendapatkan perhatian nona cantik jika ia di sana.
Aomine Daiki.
Ayah angkat Kuroko.
Tuk.. tuk.. tuk..
Junpei menekan-nekan keyped di hapenya. Menemukan 'si bangsat hitam' di hapenya. Menekan tombol call dengan malas. Ia mendekatkan benda telekomunikasi itu ke indra pendengarannya.
"Halo." Suara dingin di seberang bikin bulu kuduk Junpei merinding.
"Halo."
"Kenapa memelepon?"
Junpei menjauhkan hape dari kupingnya. Memutar matanya bosan. "Anakmu rewel. Denger nih—"
Junpei mendekatkan teleponnya ke arah Kuroko yang masih berguling-guling di lantai.
"Uwwaaaaa… Mukkun nakal. Aku mau mamah, aku mau mamah!"
"Tsk, sial. Baiklah. Aku akan datang!"
Berikutnya cuma terdengar "Tuuutttt—" panjang.
"Cih, anak dan bapak cuma merepotkan saja." Ujar Junpei keki.
…
Kelas sudah lengang ketika Aomine datang. Kuroko masih ngambek dan berbaring di lantai. Bibirnya mencebik. Ada sisa-sisa tangisan yang belum sepenuhnya mongering. Ao langsung menggendong anak itu.
Kuroko mewek lagi. Kali ini di pundak papahnya yang kebetulan sedang menggendongnya.
"Uwaaa papah."
"Tsk. Cup.. cup.. diamlah, Tetsu."
"Kenapa Mukkun nakal?" curhanya kemudian.
"Mukkun?"
"Murasakibara-kun. Yang bodoh suka minta makan. Dia bilang aku nggak punya mamah. Uwaaaa…"
Puk.. puk..
Aomine menepuk punggung Kuroko pelan. Ia berusaha menenangkan anaknya yang manja. "Kamu kan sudah punya Kise."
"Uwaaaaa—" nangisnya makin kenceng. "Aku pengennya punya mamah yang cantik. Yang punya oppai. Yang sexy kaya gambar di lemari belajarnya papah.
Siiiaaaalll. Kapan anak kecil ini ngerti sexy segala, eh?!
"Itu bukan kalimat yang bagus dari anak kecil Kuroko."
"Uwwaaaa… pokoknya aku mau mamah!"
Teriakan Kuroko membuat Aomine dongkol. Ia segera mengambil ponsel mutakir dari negeri gingseng. Menyentuh beberapa tombol dan—
"Tuuutttt… silakan tinggalkan pesan. Saat ini pengguna nomor ini sedang sibuk."
"Tch! Kise. Cepat ke sekolah. Anakmu dibully. Mereka bilang Tetsu gak punya mamah cewek. Kalau kau sayang padanya. Berikan dia mamah yang kawaii!"
Singkat. Padat, kejam!
"Nah. Tetsu, kita tunggu sebentar ya.." Aomine mengantongi lagi hp-nya. Sedangkan senyam-senyum sendiri karena mulai membayangkan betapa lembutnya bibir Kise yang kemarin sempat menempel di pipinya.
Sial! Otaknya udah gak waras.
Ia bisa mimisan kalau membayangkan Kise dalam wujud cewek yang menggoda imannya.
*Grow Up My Baby Boy*
…
..
.
Junpei memasang muka mendamba yang sama sekali nggak elit. Mata sayu, dengan bibir setengah terbuka. Jika ia tidak hati-hati bisa dipastikan air liurnya bukan hanya akan meluncur turun, tapi bisa-bisa mengalir deras. Dia menepuk pipinya sendiri, sakit. Berarti dia emang nggak lagi bermimpi. Cewek cantik super kawaii itu keluar dari taxi.
Rambut emas ikal bergelombangnya tertiup angin. Membuat si guru muda yang udah kelamaan joblo itu megap-megap. Batapa indahnya dunia ini karena mempertemukan mahluk seperti dirinya dengan jelmaan bidadari.
Blus sifonnya melambai-lambai. Menyingkap sedikit dadanya yang kelihatan berisi. Demi dewa-dewa yang dipercayai ama Midorima! Siapa sih cewek kawaii ini?
…
"Ehem!" deheman sangar di sebelahnya membuat Junpei tersadar ke dunia nyata.
"Jangan memandangi istriku, pak tua."
Rahang Junpei menjeblak ke bawah. Mulutnya mengaga. Apa yang di bilang lelaki item di sebelahnya ini? Wanita super-duper-amazing-kawaii itu istrinya Aomine Daiki?
Ia baru saja ingin menggigit sandalnya yang kelihatan kaya Yup*. Sejenis permen kenyal yang bikin gemes, terutama akan kenyataan yang membuat saraf kesadarannya hampir putus.
Wanita berbadan asoy geboy itu berjalan anggun ke arah mereka. Kuroko dengan cepat menghambur ke pelukan mamahnya.
"Mamaaaahhhh—" ujarnya sambil bergelayutan di kakai Kise seperti monyet.
Kise berjongkok. "Ugghh, anak mamah yang imut. Sini mamah cium."
Kuroko menyorongkan pipinya yang tembem.
Kedua lelaki normal itu memandang pemandangan itu dengan menelan air liuirnya saja. Kasian merekan karena mupeng sama Kuroko.
Siapa suruh Kise memakai rok jeans pendek super ketat berwarna hitam. Untungnya lelaki itu menggunakan stoking hitam juga untuk menyamarkan bulu-bulu kakinya yang belum di wax. Demi dewa yang masih berada di khayanga sana. Diam-diam Aomine kepengen nowel pipi sama pantat Kise yang berubah manjadi angsa cantik. Ha? Kemana perginya kewarasan pria penyuka street basketball itu. Ao harus segera memeriksakan otaknya yang mulai menyimpang!
Aomine menoleh untuk mendapati Junpei yang sudah menatap Kise dengan lope-lope di mata. Merasa jijik sekaligus cemburu. Mendapat perhatian Junpei yang memujanya, Kise justru melancarkan godaannya. Membuat Aomine berang setengah dongkol.
Hei.. hei meski Cuma pura-pura tapi kan mereka itu suami istri.
Mengabaikan Junpei yang ber flirting ria, Aomine segera menghapiri keluarga kecilnya. Lengan kokohnya segera merenguh badan Kise yang juga lumayan jangkung dalam pelukan.
"Apa kabar darling?"
…
..
.
"Apa kabar darling?"
Kise langsung melotot. Jantungnya hampir copot. Sialan Aomine itu. Apa-apan dengan panggilan itu?
Aku kan niatnya mau ngerjain mereka. Tapi kenapa jantungku berdesir hanya karena Aomine yang manggil aku Darling?
"hai.." aku menyapa guru yang kelihatan kayak orang baru saja kena gendam.
"Hai." Dia memberikan senyuman terbaiknya. Tapi cuih! Aku masih normal.
"Nama Anda?" aku berbasa-basi supaya memberikan kesan ibu yang baik dan memperhatikan pendidikan anaknya. Meski kata itu harusnya diralat sebagai, bapak-bapak yang baik dan memperhatikan pendidikan anaknya.
"Junpei. Hyuuga Junpei." Dia mencengkeram erat tanganku.
Ih.. apa-apaan ini? Ahhh— aku tahu. Rupanya ada seirang lagi yang bisa ku kerjai. Fufufu—
"Nama Anda?" dia balik bertanya.
Sial! Aku tak bisa bilang sebagai Kise Ryouta. Itu nama yang terlalu mencolok. Semua orang tahu Kise Ryouta adalah model cowok paling tenar di negeri ini.
"A-ano. nama saya—"
"Kiseyui Daiki." Sambar Aomine cepat.
Ha?
Aomine tadi bilang apa?
KiseYUI DAIKI?!
Bwahaahahha.. ya ampun Aomine, sebegitu cintakah kau padaku?
Aku menahan kedutan di bibirku.
Sialan Aomine itu. sembarangan saja!
..
"A-ano Junpei-sensei, bisa ambilkan foto buat kami. Aku nggak mau Kuroko diledek sama teman-temannya lagi." Aku mengerling manja kepada si guru muda yang kelihatan polos itu.
Dengan sekali kedip, pria itu mengangguk setuju. Aku mengulurkan kamera Polaroid yang selalu kubawa kemana-mana. Akan tetapi pandangan matanya shock melihat tangan Aomine yang kini memeluk pundakku dengan tatapan sayang?
Eh?!
Apa yang barusan terjadi?!
Aomine Daiki, memeluk pundakku dengan tatapan sayang?!
Hell no!
Cukup sudah kegilaan ini!
…
..
.
KRATAK.
Junpei merasa hatinya patah. Air mata imajiner tiba-tiba mengalir deras dari matanya. Adakah di dunia ini jodoh untuknya? Kenapa setiap wanita cantik yang ia temui sudah memiliki pasangan.
…
"Eh—?" Kise Ryouta eh, Kiseyui Daiki menoleh. Seolah mendengar sesuatu yang patah.
"Hm." Aomine justru mengeratkan genggamannya pada pundak Kise.
"Ao-kun," suara Kise mendadak jadi manis, "Apa kau tidak mendengar sesuatu?" mata belo berwarna topas itu memandang Aomine dengan intens, membuat Aomine blushing seketika.
"Diamlah, Kise. Aku tak mendengar apapun. Fokus saja ke kamera."
"Hn. Baik~" kata Kiseyui dengan ceria.
Mereka melanjutkan sesi foto keluarga. Aomine duduk berdempetan dengan Kise. Dan Kuroko yang berada di pangkuan mereka berdua.
"Baiklah." Junpei memberi aba-aba. "Satu, dua. Ti—"
Dan Aomine berhasil mengetes refleknya dengan mencium bibir Kise yang menggodanya sejak tadi. "CUP!"
"—ga."
BLAST!
Gambar itu justru memperlihatkan Kuroko yang tersenyum lima jari ke kamera, dengan background ayah dan ibunya yang lagi kissing. Pipi Kise dipastikan merona alami. Junpei mendadak kolaps. Hidungnya berdarah. Gagal jantung melihat keluarga bahagia Kuroko.
*TBC?*
a/n:
Ngakak. Apa-apan ini? Ini straight ato yaoi sih? Hahaha, jujur saja, saya nggak tahu! #ditimpuk reader! Well, ini adalah hadiah untuk ulang tahun saya di FFN. Mungkin agak aneh, memebri hadiah untuk diri sendiri. Tapi bagi saya, hadiah yang paling indah adalah review pembaca. Hahaha, abaikan curcolan ini.
Ini untuk semua reader yang kangen sama saya *Tch! Pede!
Baiklah, ayo kita balas beberapa review yang mampir.
SKETMachine: iya nih saya sudah lanjut. Makasih atas dukungan semangatnya ya. Saya berusaha memanjangkannya, tapi tetep saja cuma dikit. Maaf ya ^^
Ayik: hahaha, sori yik. Daku tak bermaksud berubah haluan. Hanya selingan saja. Iya fict ini selalu pendek. Aku belum punya bahan yang rumit sih :P
Ahokisekicchi: lanjutannya ini :)
Infikiss: sekarang kurokonya dibanyakin dikit, dikit tapinya. Nyahahaha..
Hima Maa: jiahhhh, mo jadi kise apa KiseYui coba?
Koisuru: KuroMine? Hmm, patut dicoba. Tapi yang jelas bukan sekarang. Hehehe XD
46Neko- kucing ganteng: kagak tobat akang, Cuma sedikit mengendalikan diri. Tapi chap ini dia udah kumat lagi.
Spring field sakura: ni guling-gulingnya kebanyakan ya? #smirk.
Ruki-chan SukiSuki'ssu: kayaknya belum saatnya rahasia siapa ortu Kuroko yang sebenernya terungkap. Sabar ya ^^V
Shizuka Miyuki: hehehe, nanti ya dear, saya akan kasi tahu siapa Kuroko yang sesungguhnya. Saya usahakan update kilat kok.
Bunga teratai: loh kise amang ibunya Kuroko kok *plak! Digampar. Ya, beneran loh ya, siapa yang mau ngasih aku gambar chibi Kuroko ama AoKise? Aku semakin semangat kok. Yossshhh!
Raina 94 : hai, raina-san. Semoga chap ini bisa memuaskan kamu ya ^^
Aqua Titania: coba deh kamu tutup mata, kira-kira bakal bisa AoKise gak ya *smirk #ditampol
Jesper.s : kayaknya sih hanya suka ngerjain deh. Tapi gak tahu lho ya… XD
Untuk para reader yang belum sempat meninggalkan jejak saya ucapkan terimakasih. Semua hal yang menyenangkan pernah kita bagi bersama. Selama satu tahun ini, kalian telah menjadi bagian dalam hidupku. Hontouni arigatou m(_ _)m *ojigi.
Jika berkenan
RnR ya minna ^^
Salam hangat
Poochan *project 10june
