Fang mengerjapkan beberapa kali matanya mencerna kata-kata yang baru saja keluar dari mulut sang artis. Sesuatu yang tajam seperti menusuk hatinya membuat nafasnya terasa memberat. Matanya terasa panas, Fang tidak mengerti tapi ia merasa air matanya bisa kapan saja meleleh keluar.

Lelaki berambut ungu dengan pakaian jaz hitam semi formal itu berjalan mendekat. Memposisikan dirinya tepat berada di depan Fang. Fang dapat mencium wangi parfum maskulin yang menguar pada tubuh artis di depannya dengan jelas.

Telunjuk Kaizo menekuk membelai garis pipi gembil Fang. Manik merah muda terangnya tidak melepas pandangan dari bibir tipis chery lelaki yang lebih muda. Jemari Fang meremas ujung sweaternya gugup.

"Kau.. sama sekali tidak berubah." Kaizo berucap hampir seperti berbisik. Namun Fang dapat mendengarnya dengan jelas seperti mendengar degupan jantungnya yang berlomba.

"Aku.." Mata rubi itu memberanikan untuk berhadapan dengan merah muda kembar di depanya. Ketika Fang membuka kembali mulutnya, suara rendah Ejojo yang memanggil Kaizo mengehentikan niatnya.

"Kaizo." Nada yang dipakainya sedikit aneh di telinga Fang, seperti menyampaikan sesuatu yang lain.

Kaizo tidak menjawab, memilih diam memejamkan matanya lalu dengan cepat menarik dirinya menjauhi Fang. Matanya melirik beberapa orang berdiri tak jauh dari tempatnya dengan lensa kamera yang mengarah padanya. Tiba-tiba artis itu menjentikan jarinya dan berlagak jauh berbeda dari sebelumnya.

"Ah! Apa ka ingin meminta 'tanda tangan' ?" Kaizo menyilangkan kedua tangannya di dada sambil mengagguk-angguk. Di sebelahnya Ejojo menatapnya dengan sebelah alis yang terangkat.

"Ya?" Bahkan Fang tidak mengerti dengan perkataanya barusan.

Kaizo mengeluarkan secarik kertas dari saku celana rippednya dan menyambar sebuah pena yang menggantung di saku celana Ejojo. Fang menatap pergerakan artis di depannya dengan penuh tanda tanya, setelah beberapa detik Kaizo menandatangani kertas kecil itu ia memberinya pada Fang dengan senyum yang mengembang.

"Terimakasih telah datang menemuiku." Kaizo mengedipkan sebelah matanya sambil tersenyum miring lalu berjalan meninggalkan Fang yang masih mematung tidak mengerti dengan keadaan yang baru saja ia hadapi. Ejojo yang dari tadi hanya menjadi penonton perlahan bergerak mengekori Kaizo sebelum menatap Fang dengan tatapan yang lelaki berkacamata itu sendiri tidak mengerti.

Fang masih saja terdiam jika saja teriakan keras Boboiboy membuat dirinya kembali pada kenyataan. "Kau kemana saja, eh? Tiba-tiba lari seperti dikejar security mall begitu, dan dengan kejamnya meninggalkanku di antara kerumunan tidak jelas." Cerocos Boboiboy tidak terima.

"Aku... Aku..." Manik rubinya menyapu pandangan di depannya lalu terpaku dengan secarik kertas yang tak sadar ada di genggamannya. Kertas pemberian Kaizo barusan. Fang mendengus dalam hati setelah memeperhatikan dengan baik apa yang sebenarnya tertulis di sana. Sebaris kalimat yang Fang yakin itu adalah sebuah nama tempat. Kaizo inginkan Fang untuk datang kesana.

"Fang, kau baik?" Boboiboy menatap sahabatnya heran.

"Boboiboy, kau keberatan jika mengantarkanku kesini?" Fang menunjukan kertas kecil itu.

"Lego Land of Adventure? Kenapa kesana?" Alis Boboiboy terangkat sebelah.

"... Menemui teman lama... mungkin." Fang tersenyum sambil menaikan bahunya acuh, "Kau tidak perlu menungguku jika sudah di sana. Aku mungkin akan menghabiskan waktu yang agak lama."

Lelaki oranye itu mengagguk-angguk mengerti, "Kita bisa naik bus selama dua jam untuk kesana." Fang mengangguk lalu melangkah mengekori Boboiboy yang menuntunnya untuk keluar dari Mall meninggalkan kerumunan penonton acara yang masih saja berisik.

Fang tersenyum, ia tahu orang itu tak akan membuat penantian dirinya selama 7 tahun hanya terbuang sia-sia sebatas sapa menyapa. Fang tahu ketika menatap manik yang selama ini ia rindukan, kilatan rindu dan penasaran terlihat jelas dimanik merah muda, kilatan yang sama dengan pancaran rubi miliknya.

Dalam perjalanannya Boboiboy tak henti-hentinya berpikir memutar otak mengingat siapa teman lama yang dimaksud Fang. Karena ketika Fang masih menetap di sini, dirinya tidak memiliki teman bermain selain Boboiboy sendiri, mengingat Fang adalah tipe anak rumahan.

Hati Boboiboy menjadi gelisah ketika otaknya mengingat sesuatu. Semenjak Fang dipindahkan karena kejadian yang menimpa keluarganya, Boboiboy selalu menyempatkan untuk mengunjungi Fang di London ketika liburan sekolah. Dan hampir setiap kali dia mengunjungi Fang, bocah berkacamata itu menceritakan cerita yang sama berulang-ulang dengan semangat.

Tentang Fang yang selalu berharap untuk bertemu 'Pangeran Bertopeng Bermata Merah Muda'-nya sekali lagi. Karena perbedaan umur, awalnya Boboiboy hanya menganggapnya sebatas mimpi anak kecil di siang bolong. Tapi Fang tetap menceritakan keinginannya sampai sekarang, ketika dirinya sudah menginjak masa remaja.

Apa yang membuat Boboiboy gelisah adalah Fang memberitahu jika ia bertemu dengan 'Pangeran Bertopeng Bermata Merah Muda'-nya tepat di malam pembunuhan Mr & Mrs Wang. Boboiboy tahu betul Fang bukanlah tipe orang yang dapat menggilai sesuatu berlebihan, namun ketika dia bertemu dengan artis bernama Kaizo ini, sifatnya bagai berganti seperti orang lain. Dan jika Boboiboy tak salah ingat manik artis yang membuat Fang bertingkah aneh ini, sama dengan deskripsi lelaki yang selama ini Fang ceritakan. Merah Muda.

.

.

.

.

- Gibberish -

Romance/Drama/Crime

Rated : T+

.

(3/?)

.

Kaizo x Fang

(with another pair)

.

ALL HUMAN!

.

This is a work of FanFiction belong to Aziichi, All character belong to Animonsta Studio

.

DON'T LIKE DON'T READ

SORRY FOR THE TYPOS

ALUR CAMPUR ADUK MAJU MUNDUR

I already warn you

.

.

.

.

.

Tujuh tahun lalu, 05.15 AM

Markas utama Murky Mask

Meja kayu mewah dengan beberapa hiasan kayu di gebrak keras oleh seorang lelaki bertubuh besar berambut merah. Laki-laki itu menggeratakan giginya menahan emosi yang membuncah.

"Aku memerintahmu untuk membunuh Wang, Kaizo!" Suaranya berat tertahan, jari telunjuknya mengacung tepat di depan wajah Kaizo.

"Aku sudah melakukannya." Jawabnya dengan nada datar tanpa gentar.

"Kau membiarkan salah satu 'Wang' lolos! Kau ini tidak becus atau bagaimana? Sial!" Borara menggebrak meja ketua dari organisasi Murky Mask itu sekali lagi.

Kaizo menegakkan posisi duduknya, "Biar aku perjelas disini Tuan Borara, aku sudah mengabulkan permohonanmu untuk membunuh Wang. Dan sekarang aku ingin menagih bayaran 'apapun' yang telah kau janjikan padaku." Ucapannya penuh dengan penekanan nada yang berbeda.

"Kau tak menjalankan perintahku dengan sempurna, tidak adakah rasa malu pada dirimu untuk meminta uang padaku sekarang?" Borara tertawa menyindir.

Kaizo bangkit dari kursi mewahnya dan dengan tanpa sepengetahuan Borara lelaki muda itu sudah berdiri di hadapannya dengan tatapan dingin dan tajam bagai mengulitinya secara perlahan.

"Aku ingatkan kepadamu Borara, Aku tidak pernah sekalipun menerima perintah darimu, kau datang kehadapanku memohon bantuan untuk melakukan semua ini dengan cara yang menjijikan dan menjanjikanku sebuah bayaran." Kaizo menatap lelaki yang lebih tua di depannya, "Perjanjian tetaplah Perjanjian. Untuk informasi, aku sangat benci jenis orang yang ingkar janji." Suaranya serak hampir tak terdengar namun sanggup menekan lelaki merah di hadapannya.

Borara mengeratakan giginya, "Baiklah sebutkan saja nominalnya, aku akan memberimu detik ini juga."

"oh, tidak. Aku tak membutuhkan lembar-lembar kertas dengan nominal, benda itu telah mengalir bagai mata air bagiku." Kaizo terkekeh kecil mendudukan dirinya pada meja di belakangnya.

"Lalu apa yang kau inginkan?"

"Putra tunggal Wang adalah milikku, jauhkan dirimu bagai kau tak pernah terlahir di dunia. Jangan kau sentuh dia barang sehelai rambutpun." Kaizo bermain-main dengan pisau lipat yang entah sejak kapan sudah ada di tangannya. "Jika tidak, kau pasti mengerti konsekuensinya" Pisau kecil itu melesat tipis melewati pipi kiri Borara menancap pada dinding berwallpaper di belakangnya.

"Sunggu kekanak-kanakkan." Borara mendengus lalu berbalik melangkah jengah meninggalkan ruangan sang ketua. "Aku tak akan mengusiknya. Namun jika dia datang dengan sendirinya mengusik keberadaanku, aku tak akan segan untuk menyingkirkan bocah itu dengan tanganku sendiri."

"Bukankah yang kau incar hanyalah Wang Corporation? Sekarang Wang Corporation telah hancur karena hilangnya pemimpin mereka, kau pasti dapat dengan mudah merebutnya. Bocah kecil Wang tak mungkin mengganggumu bukan? Sekarang nikmatilah kekuasaanmu Tuan Borara." Kaizo tersenyum miring, "Senang bekerja sama denganmu."

Borara sempat melirik kembali ketua Murky Mask tersebut. Mencoba mencari tipuan di balik pancaran manik tajamnya. Pria merah tersebut melangkah dengan perasaan gusar, ia tentu tahu sekarang adalah titik terlemah Wang Corporation, namun dirinya masih merasa gelisah karena tersisanya keturunan Wang terakhir.

Kepala bersurai ungu gelap itu mendongak menatap langit-langit ruangannya. Memikirkan bocah kecil yang mungkin saat ini masih terlelap sambil memeluk boneka anjingnya. Apakah dirinya dapat bertemu kembali bocah itu lagi? Setelah apa yang Kaizo renggut darinya. Kaizo terkekeh pelan membayangkan si bocah yang bahkan belum bisa mengerti keadaan yang menimpa dirinya.

"Tenang saja little boy, kita akan bertemu lagi. Hingga saat itu tiba, aku berjanji tidak akan ada yang bisa melukaimu."

..

Lima tahun lalu, 03.18 PM

Lexington Elementary School, London

Bel tanda pulang telah berdering 3 menit yang lalu. Beberapa anak telah di jemput oleh orang tua mereka, ada juga beberapa yang sedang berjalan menuju bus sekolah. Tawa dan suara bising khas anak-anak SD tidak mengganggu aktivitas seorang bocah dengan kacamata berframe ungu yang tengah duduk di pembatas tangga sambil membaca buku dongeng tua bersampul merah.

"Fang, kau tidak pulang?" Tanya seorang laki-laki dengan senyum ramah.

"Aku menunggu uncle, Mr. Pattinson." Bocah berkacamata itu mendongak kearah sumber suara dan menampilkan senyum pada guru favoritnya.

"Ah, begitukah? Kau keberatan jika aku duduk di sebelahmu?"

"Tentu tidak!" Sang guru mendudukan dirinya tepat di sebalah Fang, melirik penasara dengan apa yang sedari tadi muridnya baca.

"Apa yang kau baca, Fang?" Pertanyaan itu akhirnya meluncur dari mulut sang guru.

"Sleeping Beauty,Sir." Jawab Fang antusias seraya menunjukan judul cerita di halaman pertama.

"Kau meyukai dongeng seperti itu?" Tanya Mr. Pattinson penasaran.

"Sebenarnya tidak, jujur aku lebih suka cerita misteri." Fang kembali memfokuskan pandangannya pada buku bersampul merah.

"Lalu kenapa kau membacanya?"

"Aku sedang mencari jawaban, Sir" Fang menatap gurunya dengan penuh binar harap.

"Jawaban?" Guru lelaki berumur kepala tiga itu terus mengajukan pertanyaan pada bocah di hadapannya, merasa bocah ini memiliki sesuatu yang berbeda dari anak-anak lainnya.

"Ketika aku bertanya pada uncle dimana Mommy dan Daddy, dia bilang Mommy dan Daddy sekarang sedang tertidur selama 1000 tahun." Kedua mata sang guru membola namun berubah kembali menjadi sendu, ia telah mendengar kejadian sesungguhnya tentang orang tua Fang, "Aku membaca Sleeping Beauty karena aku ingin tahu bagaimana cara untuk membangunkan Mommy dan Daddy."

"Apa kau menemukan jawabannya?"

"Princess Aurora terbangun karena sebuah ciuman dari cinta sejatinya yaitu Prince Philip. Aku berpikir, bagaimana cara Mommy bangun, sedangkan Daddy juga ikut tertidur." Fang kecil menghela nafas, "Aku ingin bertanya langsung kepada Prince Philip maukah dirinya membangunkan Mommy dan Daddy seperti dia membangunkan Princess Aurora? tapi... aku bahkan tidak tahu dimana aku bisa bertemu Prince Philip."

"Oh, tuhan." Guru itu berusaha menahan keinginannya untuk memeluk bocah kecil di depannya. Fang begitu polos dan rapuh, sungguh malang mengingat kenyataan yang telah menimpanya.

"Fang, apa kau sedih karena orang tuamu tertidur begitu lama?" Guru lelaki itu mengusap surai lembut milik Fang.

"Ya, dan aku juga merasa kesal. Aku merasa di tinggalkan, namun aku ingat Daddy selalu bekerja keras untukku. Mommy juga begitu. Jadi kupikir mereka memang perlu beristirahat dari seluruh pekerjaannya." Fang sedikit tertunduk, "Tapi tetap saja, kalau mau tidur selama 1000 tahun kenapa aku tidak diajak? Aku kan juga ingin tidur panjang bersama Mommy dan Daddy."

Guru itu terkekeh lalu memeluk salah satu murid terpandainya dengan penuh kasih sayang. Dalam hati lelaki berumur 30an itu merapal segala doa untuk kebahagiaan muridnya.

"God, he such an angel. Please protect him and let him find his happiness."

Seorang laki-laki dengan t-shirt berleher tinggi keluaran Burberry bersandar pada pintu kemudi mobil Citroën ZX yang berjarak tak jauh dari lokasi si bocah. Telinganya sedari tadi mendengar semua percakapan murid dan gurunya. Ia mengambil ponselnya dari saku celananya. Membuka aplikasi kamera dan mengabadikan sebuah momen candid bocah laki-laki bermata rubi yang sedang tersenyum.

Itu Kaizo, dia telah berdiri di sana lebih dari satu jam menunggu sang bocah keluar dari sekolah.

"Sepertinya sekarang bukanlah waktu yang tepat untuk kita bertemu, little boy." Lelaki itu berguman pelan dengan pandangan yang masih tak bisa teralih dari anak kecil dengan kacamata di sana.

Selang beberapa menit, seorang pria datang menjemput Fang. Bocah itu menghampirinya dengan senyum gembira. Sang guru mengaggukan kepalanya ketika mereka pamit pulang.

"uncle, kenapa lama sekali?" tanya Fang sambil mengerucutkan bibirnya

"maaf, maaf, uncle tadi menjempu Boboiboy dulu di bandara." Pria itu terkekeh melihat tingkah bocah yang digandengnya.

"Boboiboy sudah sampai !?" Fang berteriak antusias ketika medengar nama sahabatnya di sebutkan.

"Ya, mungkin sekarang dia sedang beristirahat di kamarmu, hahaha, ayo lekas kita pulang dan kau bisa bermain dengan Boboiboy." Fang mengagguk dengan cepat, ia sungguh tidak sabar bertemu sahabat lamanya.

Mata merah muda terang itu belum berhenti memperhatikan gerak-gerik sang bocah hingga bocah itu tak lagi tertangkap dalam jarak pandangnya. Ia memasuki mobilnya lalu melaju meninggalkan sekolah dengan perasaan yang sedikit sendu.

Kaizo melirik ponselnya yang dari tadi sengaja di aktifkan dalam mode diam, terdapat 30 missed call dan 12 pesan. Semua itu berasal dari satu orang, siapa lagi kalau bukan asistennya, Ejojo. Memang salahnya yang meninggalkan hotel tanpa mengabari pihak manejer terlebih dahulu.

Kesempatan mini konser di London ia gunakan untuk menengok bocah rubi kesayangannya. Walau kenyataannya sekarang bukanlah waktu yang tepat untuk bertemu dengan bocah itu, Kaizo sudah cukup puas dapat mendengar suara bocah itu lagi di tambah dia telah mengabadikan wajah menggemaskan Fang di ponselnya secara diam-diam.

Sebuah pesan pendek diterima ponselnya, Kaizo melirik malas ponselnya tanpa melepas kemudi.

From : Ejojo

Cepat kembali atau ku buang semua bahan-bahan sup wortel simpananmu, sialan.

Kaizo mendengus geli melihat ancaman asisten hijaunya.

.

.

.

04.05 PM

Lego Land of Adventure, Johor, Malaysia

Fang tidak menyangka macet mengulur waktunya sampai hampir 2 jam lebih. Kaizo memang tidak memberikan keterangan waktu, namun Fang tetap merasa gelisah.

"Ah sial, aku tak membawa uang sebanyak 275 ringgit." Boboiboy mendesis melihat isi dompetnya ketika sudah sampai di gerbang masuk.

"Kau mau masuk?" Fang menatapnya heran.

"Tentu, aku harus menemanimu." Boboiboy ingin mengikuti Fang ke dalam Lego Land, namun sialnya uang di dompetnya tidak mencukupi harga 1 tiket masuk. Kartu kreditnya juga ia titipkan di kakeknya. Boboiboy bisa saja meminta Fang untuk mebayar tiket masuk untuknya, namun selain karena rasa gengsi Boboiboy juga tak ingin merepotkan lelaku menggemaskan berkacamata itu.

"Astaga, kau tidak perlu menemaniku. Bukankah aku sudah bilang tadi." Fang menepuk pundak Boboiboy, "kecuali kalau kau memang ingin bermain di dalam sana."

"Aku tidak tega meninggakanmu sendiri Fang. Aku tahu kau masih sangat asing di sini." Boboiboy membetulkan letak topinya yang sedikit miring akibat tertidur di bus tadi.

"Aku bisa menjaga diriku sendir Boboiboy. Aku sudah dewasa."

"Orang dewasa tidak berkata dia telah dewasa. Kau baru 15 tahun, jika kau lupa" Boboiboy terkekeh mendengar ucapan sahabatnya.

"Oh, ayolah.. aku juga tidak akan sendirian di dalam sana. Aku bersama temanku." Fang menggaruk pipinya yang tidak gatal, meminimalisir rasa gugup karena berbohong.

Boboiboy menatap menyelidik, lalu dia membuang nafas berat, "Baiklah, aku rasa aku memang harus pulang. Jaga dirimu baik-baik, kalau ada apa-apa langsung telfon aku, okay?"

"Aye! Aye! Capitaine!" Fang membuat gestur hormat pada perintah Boboiboy.

Sepeninggalan Boboiboy, Fang melangkahkan kakinya kedalam gerbang masuk taman bermain tersebut. Pandangannya di sambut oleh berbagai wahana permainan dan berbagai toko-toko dengan desain yang menarik. Kakinya terus melangkah tanpa tujuan mengitari taman itu, berharap mungkin ia akan bertemu dengan orang yang ia cari.

Pohon-pohon di hiasi dengan berbagai lampu kecil warna warni, Fang yakin mereka akan terlihat indah ketika malam. Banyak anak-anak berlarian bermain bersama orang tuanya ataupun teman sebayanya. Beberapa badut kelinci, gajah, beruang, dan kucing berkeliling membagikan balon dan permen lolipop.

Fang menangkap suara gemericik air, tanpa pikir dua kali kakinya melangkah cepat menuju sumber suara. Sebuah sungai terpampang jelas di hadapanya, Fang menopang tubuhnya pada pagar kayu pembatas. Banyak perahu-perahu kecil yang melintang menyusuri membelah sungai.

Dulu saat kecil ia pernah beberapa kali pergi ke taman hiburan seperti ini bersama orangtuanya. Melihat banyak anak-anak yang bersenda gurau dengan keluarganya tersenyum bahagia penuh kasih sayang membuat Fang merasa sedikit iri.

Larut dengan pikirannya sendiri Fang tidak menyadari beberapa menit telah berlalu. Kakinya kembali melangkah menyusuri toko-toko lucu memerhatikan sekelilinganya yang ternyata sudah semakin gelap. Lelah berjalan Fang memutuskan duduk di salah satu bangku kayu diantara pohon-pohon yang dilingkari lampu-lampu kecil bercahaya soft pink.

Seorang gadis dengan kostum petani ala inggris jaman dahulu tiba-tiba menghampiri Fang, memberinya sebuah buket mawar merah yang cukup besar.

"Terimakasih nona, tapi... siapa yang mengirimkan buket ini?" Fang memperhatikan Buket mawar di tangannya.

"Pria itu tidak memberi tahu namanya tuan." Gadis itu tersenyum manis memperlihatkan lesung pipitnya.

"Pria?" Fang menerka dalam hati. Belum sempat mengucapkan selamat tinggal sang gadis manis tadi telah pergi meninggalkannya.

Fang memutar buket mawarnya berharap ada sebuah petunjuk di sana. Secarik kertas berwarna kuning gading terselip diantar kelopak mawar. Manik rubinya membesar ketika membaca sebaris kalimat yang tertulis disana. Kepalanya dengan cepat menoleh kesana-kemari mencari seseorang yang selama ia tunggu.

"Waiting for me?"

Ia tahu orang itu ada disini. Ia bisa merasakannya.

Pandangan Fang tiba-tiba terhalang oleh sebuah balon besar berbentuk hati ketika dia hendak membalikan tubuhnya. Seorang laki-laki berdiri di balik balon itu. Dengan perlahan jemari Fang menggenggam jemari lain yang memegang balon itu. Fang perlahan menurunkan balon itu agar dapat melihat wajah lelaki dihadapannya.

Hal pertama yang Fang dapat adalah sepasang manik merah muda yang bersinar terang sama seperti 7 tahun lalu. Bibir tipisnya tanpa sadar membentuk senyum yang tulus. Fang merasa hatinya menghangat, ia tahu, pangerannya akan datang padanya.

"Apa aku membuatmu menunggu, Little boy?"

"Ya, aku telah menunggumu sangat lama."

..

Ada rasa canggung ketika ia bertemu dengan bocah kesayangannya. Sebenarnya Kaizo telah mengikuti Fang tepat setelah dia memasuki taman hiburan ini, mengikuti bocah kecilnya kemana kaki ramping itu berjalan. Ia bertanya-tanya bagaimana ekspresi Fang saat mereka bertemu nanti. Apakah Fang akan memakinya? Atau memukulinnya untuk balas dendam?

Semua perasaan kalut Kaizo terhapus seluruhnya ketika ia melihat senyum tulus bak malaikat dari si bocah kesayangannya. Tangannya perlahan naik untuk membelai pipi gembil seputih susu itu. Manik rubinya yang besar bersinar terbias lampu-lampu taman. Wangi shampo buah-buahan yang menguar dari setiap helai lembut milik Fang membuat Kaizo menyadari betapa amat berharganya lelaki kecil didepannya. Dia masih begitu polos, dia masih begitu kecil, dia masih begitu rapuh, dia masih sama persis seperti 7 tahun lalu.

"Mau berkeliling?" tawar Kaizo. Artis itu memaki dirinya dalam hati, menyesali kenapa dia menawarkan untuk berkeliling padahal dia sendiri tahu jika Fang sudah berjalan-jalan di taman ini hampir lebih satu jam, "Ah, kau pasti lelah. Apa lebih baik kita duduk disini saja?"

"Ah..ti..tidak apa-apa. Lagi pula aku belum menaiki satu wahanapun." Fang meremas ujung sweaternya gugup. Kenapa jantungnya berdegup kencang seperti sedang berlari. Astaga, ingatkan Fang bahwa ini bukanlah acara kencan atau sejenisnya. Ini hanya pertemuan, ya, pertemuan.

Mereka hanya menaiki beberpa wahana yang santai, mengingat matahari sudah hampir terbenam maka waktu mereka tidak banyak karena Lego Land tutup pada jam 7 malam. Lampu kelap-kelip sudah menyala menerangi indah pinggir-pinggir jalan. Cukup banyak anak-anak yang memutuskan untuk kembali kerumah mereka.

Fang sesekali melirik sekitar melihat tidak sedikit orang yang saling berbisik atau menahan teriakannya ketika berpapasan dengan Kaizo. Tentu Fang masih mengingat siapa lelaki yang tengah berjalan bersamanya ini. Artis internasional dengan pesona yang tak dapat ditolak, Fang tidak heran ketika melihat kumpulan wanita yang bertingkah aneh ketika melihat Kaizo dari jauh.

Dua pasang kaki ramping berjalan dalam hening, genggaman tangan Kaizo pada tangan mungil Fang menyalurkan kehangatan yang tak dapat diungkapkan dengan kata-kata. Mereka baru bertemu hari ini setelah 7 tahun terlewat, namun mereka seperti telah mengenal satu sama lain selama bertahun-tahun. Mengerti kenyamanan satu sama lain tanpa harus berkata-kata.

Kaizo berhenti di depan toy box boneka-boneka anjing yang lucu. Ia ingat bahwa Fang sangat menyukai binatang berbulu itu.

"Kau mau?" Tanya Kaizo membuat Fang bingung lalu melihat apa yang ada di dalam toy box. Maniknya berbinar melihat boneka anjing siberian husky berwarna abu-abu di dalam sana.

"Ah, pasti susah mendapatkannya." Fang berusaha untuk tidak merepotkan lelaki yang tengah menggenggam tangannya karena sifatnya yang kekanak-kanakan.

"Tidak juga, akan kubuktikan." Kaizo tersenyum miring pada Fang.

Beberapa koin di masukan untuk menghidupkan mesin itu. Tatapan Kaizo berubah menjadi serius kala mengincar boneka siberian husky abu-abu. Merasa arahnya sudah pas, Kaizo memencet tombol untuk menarik.

Tanpa sadar Fang meremas ujung jaz Kaizo berharap agar boneka anjing menggemaskan itu jatuh pada lubang hadiah. Kail besi itu bergerak lurus mencapit boneka anjing siberian husky abu-abu. Fang mendesah gembira ketika boneka yang ia inginkan berhasil ditarik.

"Jangan senang dulu. Kita belum tahu apakah boneka ini akan sampai di lubang hadiah atau tidak." Mendengar perkataan Kaizo, jari-jari Fang kembali meremas ujung jaz hitam milik artis internasional tersebut.

Capit itu bergoyang lemah karena membawa bebannya. Ketika sampai tepat di atas lubang hadiah, boneka siberian husky abu-abu itu berhasil jatuh dan keluar dari mesin. Fang bertepuk tangan girang mendapait kehadiran boneka anjingnya.

"Uwaaahh! Hebat!" Fang masih belum memberhentikan tepuk tangannya.

"Nah, untukmu." Kaizo memberikan bonek yang cukup besar itu pada Fang.

"Terimakasih. Akan kujaga seumur hidupku." Bocah berkacamata itu memeluk boneka barunya dengan erat. Kaizo terkekeh melihat betapa menggemaskan mahkluk di hadapannya ini.

Kali ini Fang yang tiba-tiba menghentika langkahnya membuat Kaizo tertarik mundur kebelakang. Matanya tertuju pada stand ice cream yang ramai. Fang menatap Kaizo dengan mata yang mengerjap lucu. Mengerti keinginan Fang, Kaizo lekas menarik Fang menuju stand itu.

Antriannya begitu panjang, butuh waktu hampir 10 menit agar Fang sampai kedepan counter. Ice cream vanilla dengan choco chips sudah adalah pilihan Fang, sedangkan Kaizo memesan ice cream dengan rasa mint. Mereka duduk bersebelahan membelakangi keramaian di bangku dekat pintu keluar bernomor 9.

Lelaki dengan jaz hitam itu begitu gemas melihat gerak-gerik bocahnya saat sedang memakan ice cream. tidak jarang ice cream itu malah mengenai hidung atau pipi gembil lelaki bersweater baby bluenya.

"Astaga, kau masih balita atau bagaimana? Makan begini saja belepotan." Dengan lembut Kaizo membersihkan bercak-bercak ice cream yang menempel di pipi Fang.

Lelaki berkaca mata itu harus sadar bahwa ini sungguh bukanlah adegan-adegan kencan yang sering ia tonton di televisi. Namun degupan dadanya seakan membuat ia menjadi gadis remaja yang sedang melakukan adegan romance dengan sang kekasih.

"Hei, jangan melamun. Ice creammu cair."

"Ah! Benar!" Fang buru-buru menjilati tetes-tetes yang mulai mengalir di tangannya.

"Kau benar-benar masih bocah, Fang."

Fang merasakan pipinya sedikit memanas. Namun ia menyadari sesuatu;

"Kau.. tahu namaku?" Fang berpikir, bukankah ini pertemuan pertama mereka? -walau sebenarnya bukan yang pertama tapi Fang ingat, dulu bahkan beberapa jam yang lalupun ia sama sekali belum pernah menyebutkan namanya pada pemuda itu.

"Tentu, aku tahu semua tentangmu, Wang Fang." Balas Kaizo di sertai senyum yang tak bisa Fang artikan.

"Aku bahkan belum bertanya nama kepadamu."

"well, kurasa aku tak perlu menyebutkan namaku. Tapi kau bisa mencarinya di internet jika mau." Kaizo menaikan bahunya acuh.

"Oh, bukan itu maksudku. Siapa yang tidak mengenalmu, Kaizo." Lelaki yang lebih tua terdiam beberapa saat ketika ia mendengar namanya untuk pertama kali terucap dari mulut kecil bocah kesayangannya, " Aku tahu kau adalah penyanyi solo internasional yang berbakat. Apa kau sadar sedari tadi banyak sekali yang mencuri pandang kemari?"

Kaizo terkekeh, "Tentu, dan aku berusaha untuk mengabaikan mereka semua dan fokus hanya kepadamu."

Fang menatapnya serius, "Kaizo, siapa sebenarnya dirimu?"

Artis internasional itu tahu, pertanyaan ini cepat atau lambat akan terlontar padanya. Dan dia telah menyiapkan satu jawaban solid, " Seperti yang tadi kau bilang, aku adalah Kaizo, penyanyi solo internasional yang berbakat. Apa lagi?"

Ada jeda beberapa menit di sana sebelum Fang kembali membuka mulutnya, "Bukan jawaban itu yang aku inginkan." Fang mengepalkan tangannya memeberanikan diri untuk melanjutkan ucapannya.

"Kaizo, kau.. adalah pangeran bertopengku 'kan? Kau disana, saat orangtuaku tertidur untuk 1000 tahun, kau yang mengucap janji padaku agar kita bertemu kembali. Kau yang menggengam tanganku menuntunku untuk menutup mata pada kenyataan bahwa kau di sana untuk membunuh orang tuaku... aku benar'kan, Kaizo?" Manik rubi besar itu berkaca-kaca, Fang mengigit bibir bawahnya berusaha betahan untuk tidak menangis.

Kaizo hanya diam tak bergeming. Suara bising pelanggan lain seakan lenyap, hanya ada suara nafas memburu Fang dan helaan berat nafasnya.

"Kaizo, kumohon jawab aku." Air mata Fang menetes perlahan membuat aliran di atas permukaan pipi putih dan mulus itu.

Fang membolakan matanya ketika merasa sesuatu yang menempel pada permukaan bibirnya. Itu telunjuk Kaizo, mengisyaratkan dirinya untuk berhenti menangis ataupun bicara.

Kaizo perlahan mendekatkan wajahnya, menghapus jarak yang ada di antara dirinya dan bocah kesayangannya dengan menempelkan kening mereka berdua. Fang dapat merasakan nafas hangat Kaizo yang membelai lembut wajahnya. Tepat di atas bibir tipis chery milik si lelaki yang lebih muda, Kaizo berucap;

"Kaizo yang itu, sudah lama mati. Sekarang hanya ada aku yang baru, seorang penyanyi solo yang mencintai bocah menggemaskan semenjak aku menatap manik rubi di sebuah rumah megah tepat tengah malam 7 tahun yang lalu." Suara husky yang berat membuat Fang meremang. Jawaban itu cukup untuk menjawab semua pertanyaan Fang.

Kelima jari tangan kiri Fang meremas jaz bagian dada lelaki di hadapannya ketika ia merasakan sesuatu yang menekan bibirnya. Kaizo menyatuka kedua bibir mereka, tidak melumat namun hanya ciuman yang penuh akan emosi kerinduan dan perasaan lain yang bercampur aduk menjadi satu tanpa bisa dijelaskan.

Sesungguhnya Fang tak mengharapkan jawaban apapun. Lelaki bersweater baby blue itu meneteskan kembali air matanya. Dadanya merasa sesak dan kepalanya merasa pening. Fang tidak tahu harus seperti apa ia menyikapi pemuda yang masih menyatuka kedua bibir mereka. Haruskah ia marah? Haruskan ia memakinya?

Namun Fang sadar jauh di dalam lubuk hatinya, ia merasakan perasaan lega bercampur bahagia.

.

.

.

.

.

Boboiboy merasa gelisah. Waktu hampir menunjukan pukul 7 malam namun Fang sama sekali tak memberinya kabar. Ia terus-terusan menengok ponselnya berharap ada kabar dari Fang.

"bukankah Lego Land tutup pukul 7 malam?"

"Ayolah Fang, setidaknya beri aku kabar jika kau sudah sampai rumah."

Iseng Boboiboy membuka akun media sosialnya. Mungkin dapat menghibunya dari perasaan kalut. Jarinya terus menekan turun untuk merefresh kabar terbaru.

Manik hazel itu membola saat melihat postingan terbaru sebuah web magazine besar yang selalu memberikan kabar terbaru para artis ternama, , memuat berita heboh tentang artis solo yang baru saja siang tadi ia jumpai.

" Kaizo tertangkap oleh kamera fans sedang berinteraksi intim dengan seorang lelaki di belakang panggung pada acara pembukaan Mall Astro. Kaizo Terlihat tengah melakukan skinship dengan lelaki tersebut.

setelah bertemu di belakang panggung Mall Astro, Kaizo kembali bertemu dengan lelaki yang sama di Lego Land. Banyak pengunjung yang mengaku melihat mereka berjalan bergandengan tangan dan bertingkah layaknya sepasang kekasih.

Kaizo kembali tertangkap kamera fans saat berciuman mesra dengan lelaki itu di sebuah kedai ice cream dalam Lego Land. Y.I mengatakan Kaizo berciuman cukup lama dengan sang lelaki tanpa peduli ia berada di tempat umum.

Siapakah lelaki yang selalu bertemu Kaizo hari ini? kenapa Kaizo yang selalu menutupi pribadinyanya kini berani mengumbar kemesraannya di tempat umum?(20/10)"

56.788 Like 4.805 Comment

Minw0065 SIAPA LAKI-LAKI YANG BERANI MENCIUM KAIZO KU !?

Sunday_T Apa kau yakin itu laki-laki? Lihat betapa imutnya dia

KaiZ.1 Kaizo bagaimana nasib hatiku? Aku hancur Kaizo!

4.802 more...

Boboiboy belum selesai di buat terkejut dengan artikel yang barusan ia baca. Jarinya mengetuk dua lampiran foto yang tidak terlalu jelas karena di ambil dengan terburu-buru.

Ia merasa amat familiar dengan lelaki berswearer baby blue yang ada di foto pertama itu. Boboiboy hampir saja menjatuhkan ponselnya saat melihat lampiran foto yang kedua. Hatinya mendadak dihampiri perasaan sesak. Tidak pernah sekalipun Boboiboy berpikir akan menghadpi situasi sepersi ini.

Boboiboy kembali melirik foto dimana Kaizo tengah berciuman dengan lelaki bersweater baby blue yang Boboiboy yakin seratus persen adalah Fang.

"Fang..."

.

.

.

.

End

Or

TBC

?

.

.

Hello!

Pertama terimakasih atas dukungannya di chap lalu. Kalian adalah sumber semangat saya :"). Maaf jika saya tidak bisa membalas satu persatu review tapi percaya sama saya, saya selalu membaca semua review dari kalian.

Kedua, ahhh ini udah pada masuk ke masa2 UAS ya? Semangat bagi kalian yang besok mau UAS yg sudah mau pun yg belom. Semangaaaaat :D

-Ten Aziichi

.

So... TBC or DELETE?

.

Tell me your opinion in review