Ketukan pelan di pintu, disusul dengan suara sopan seorang wanita, menyita perhatian Yoshino Nara yang sedang sibuk dengan laptop-nya. "Masuk," sambut wanita yang masih kelihatan cantik di usianya yang sudah memasuki kepala empat itu kemudian.
Pintu terbuka pelan, masuklah seorang wanita muda berpakaian rapi, Yoshino mengangkat wajahnya dari layar laptop, menatap si wanita muda berambut cokelat panjang dengan raut berwibawa. "Ada apa Tsuchi-san?"
"Pak presdir Nara tidak datang pada rapat pemegang saham, ma'am."
Wajah putih sang nyonya Nara itu dipenuhi urat-urat kekesalan. "Anak pemalas itu," geramnya, lalu mengambil ponselnya.
Di layar ponselnya tampak seorang pria paruh baya yang penampilannya sangat mirip dengan Shikamaru, raut kekecewaan dan frustasi tampak di wajahnya. "Aku benar-benar dibuat kecewa oleh anak itu," sebelum ia sempat mengutarakan isi hatinya, suaminya itu sudah terlebih dahulu mengungkapkan kekecewaannya.
"Mana Shikamaru?" tanyanya geram, suaminya menggeleng. "Apa maksudmu, Shikaku?"
"Aku sudah memerintahkan Kotetsu untuk menjemput Shikamaru ke apartemennya, tapi dia tidak ada disana, padahal receptionist berani bersumpah kalau Shikamaru sudah kembali," jelas Shikaku Nara kesal. "Dia memang pemalas, tapi dia membolos dalam rapat baru kali ini terjadi—tapi sayangnya dia membolos dalam rapat yang salah. Dia sangat bertanggung jawab, tapi kejadian ini membuatku ragu untuk menyerahkan Nara Corp padanya," lanjutnya dengan nada kecewa yang sangat mendalam.
Yoshino terdiam. "Lihat di rekaman CCTV pusat, pasti akan terlihat dia ada atau tidak, bukankah di setiap koridor dan lantai gedung apartemen itu terdapat CCTV?"
"Sudah kulakukan, aku sedang menunggu kabar dari Kotetsu sekarang," sahut Shikaku pelan.
"Aku akan pulang ke Tokyo, biar aku yang memarahi anak pemalas itu," geram Yoshino.
"Apa masalah disana sudah selesai?" Yoshino menggeleng "Sudahlah, biar aku yang urus Shikamaru, kau urus masalah di cabang Singapore saja."
"Tidak! Pokoknya kau harus tunggu aku pulang!" seru Yoshino sambil memutuskan sambungannya. Ia melirik jam di dinding kantornya, pukul 08.15. "Apa semuanya sudah berkumpul?" tanyanya pelan pada sekretarisnya, Kin Tsuchi.
"Iya, ma'am. Semuanya sudah berkumpul di ruang rapat."
Dengan sedikit tergesa Yoshino menuju ke ruang rapat, diikuti oleh Kin yang membawa beberapa dokumen miliknya.
XXX
Shikaku melirik arloji-nya, sudah pukul 23.15, tapi istrinya itu belum juga sampai, ponselnya pun tak aktif, ditambah dengan ponsel Shikamaru yang sama sekali tidak bisa dihubungi. Semua masalah yang ada membuat kepalanya seperti mau pecah. Sifat pemalas Shikamaru memang menurun darinya, ia memang tak bisa menyalahkan anaknya itu, tapi ia sama sekali tak pernah menurunkan sifat tak bertanggung jawab yang Shikamaru lakukan hari ini—apalagi kelalaian itu terjadi karena seorang wanita. Putra semata wayangnya itu sukses membuatnya kecewa berat .
Ketika sebuah suara langkah kaki yang sangat cepat, merupakan suara sepatu berhak tinggi yang beradu dengan lantai, begitu jelas terdengar di telinganya, suara itu terus mendekat ke arahnya, dan pintu kamarnya dibuka dengan paksa.
"Kau darimana saja, Yoshino? Aku sudah bosan menunggumu."
Yoshino mendelik kesal pada suaminya yang berkata seolah dirinya habis pulang bermain-main, tak melihatkah dia dengan penampilannya yang sekarang awut-awutan. "Rapat yang menyebalkan. Kau tahu, berapa lama aku terjebak dengan orang-orang bodoh itu? 6 jam, 6 jam Shikaku. Gila, baru kali ini aku memimpin rapat sampai selama itu. Cabang Singapore memang harus direkonstruksi, aku muak dengan kinerja mereka. Perjalanan menuju bandara yang kutempuh selama sejam, 6 jam di pesawat, menuju ke rumah yang memakan 2 jam, kau tahu, betapa setresnya aku hari ini. Semua itu karena anak pemalas itu. Sekarang katakan dimana dia?" dengan setengah membentak ia mengutarakan semua isi hatinya.
Shikaku menghela nafas. "Sebaiknya kau istirahat dulu, ini sudah malam."
"Aku datang kemari bukan untuk itu, aku ingin tahu dimana anak itu," geram Yoshino.
"Dia bersama kekasihnya," tutur Shikaku lemah. "Rekaman CCTV memperlihatkan Shikamaru masuk ke apartemen seorang gadis."
Yoshino menggebrak meja mendengar penjelasan singkat Shikaku. "Anak itu, dia benar-benar memalukan," geram Yoshino kesal. "Ayo, aku ingin memberikannya pelajaran," tarik Yoshino pada Shikaku yang tampaknya sudah sangat mengantuk.
Crazy Life…
by Putri Suna
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Rate : T semi M
Alur maju-mundur, harap pelan-pelan bacanya.
Warning: Don't like don't read, OOC, and many more
Shikamaru diam di tempat, sama sekali tak tahu harus melakukan apa. Otaknya buntu. Di hadapannya duduk sosok Temari yang sedang menangis dalam diam. Kedua orang tuanya sudah pulang sejam yang lalu, pulang dengan kemarahan dan kekecewaan yang mendalam padanya. Semua masalah menjadi semakin rumit saja.
"Aku minta maaf atas yang ibuku lakukan padamu."
"Kau dan ibumu sama, sama-sama tak bermoral!"
"Kau boleh menghinaku, tapi jangan ibuku!"
"Ibumu wanita kan? Harusnya kau bisa menghormati wanita lain, meski dia bukan ibumu!"
"Aku benar-benar minta maaf. Aku bersedia menikahi—"
"Kau pikir aku sudi menikah dengan pria tak bermoral sepertimu!"
Brak!
Shikamaru terdiam mendengar pintu kamar yang ditutup dengan keras. Ia menjambak rambutnya dengan kuat, kepalanya seperti mau pecah. Selama hidupnya, ia selalu menjauhi hal-hal yang berbau dan berujung dengan merepotkan. Tapi sekarang, ia malah dengan sadar menjerumuskan dirinya pada hal yang sangat dibencinya.
XXXXXX
Shikamaru terbangun ketika suara bel terdengar berkali-kali, memenuhi semua ruangan apartemen. Dengan kuapan besar dan langkah malas, ia berjalan ke pintu, lalu langkahnya terhenti ketika sebuah suara serak bernada sinis menegurnya.
"Selain tak bermoral, kau juga tak tahu malu ya? Apa kau tahu sedang berada dimana?"
Shikamaru diam, dia kembali duduk di sofa, membiarkan Temari membukakan tamunya. Ia memandang punggung Temari dengan malas, memperhatikan tingkah gontai wanita itu yang melihat ke layar CCTV, lalu tiba-tiba ia berbalik dengan mata melotot horror pada dirinya.
"Kau memang pembawa masalah, cepat sembunyi," perintahnya dengan suara yang dipelankan.
"Memangnya ada apa?" tanya Shikamaru masih dengan ekspresi malasnya.
Temari menggeram ketika mendengar bel pintunya kembali berbunyi dengan cepat, ditambah dengan tingkah pria menyebalkan di hadapannya ini. Dengan kesal ia menarik kerah kemeja putih Shikamaru, lalu mendorong kuat tubuh pria itu ke kamar dan menutupnya. Shikamaru hanya mampu menguap, mendecih pelan sambil berjalan menuju ranjang, dan menggumamkan kata 'merepotkan' sebelum membaringkan tubuhnya.
Sementara Temari, ia langsung membukakan pintu apartemennya ketika sebuah ketukan keras menghampiri pintunya.
"Gaara, Kankuro, Matsuri, kalian kesini? Ada apa?" ujarnya dengan senyum lebar di wajahnya.
Gaara dan Kankuro diam, sementara Matsuri, wajahnya sudah terdiam kaku sambil memberikan tatapan cemaspada Temari.
"Kakak akan pergi bekerja, ngobrolnya nanti saja ya. Lagipula, kalian berdua tidak bekerja nih?"
Gaara tetap dengan tampang stoic-nya. Kankuro yang biasanya ceria, entah kenapa hari ini dia malah ketularan ekspresi sang adik. Dan Matsuri, kini wajahnya sudah memucat dengan kepala tertunduk. Tentu saja hal itu membuat Temari merinding, ia takut kalau Matsuri menceritakan apa yang diketahuinya, apalagi bila kedua adiknya itu masuk—
Temari tak sempat lagi melanjutkan spekulasinya, karena kedua adiknya itu langsung menerobos masuk, menyikut dirinya agar menyingkir. 'Isn't over!" pekiknya dalam hati sambil memeluk kedua adiknya itu dari belakang, membuat kedua pria berambut cokelat dan merah itu kaget lalu berhenti. "Aaaaaaa! Kakak sangat merindukan kalian. Kenapa kalian tidak bi—"
Raut kebahagiaan Temari berganti menjadi raut kaget, bersamaan dengan terputusnya pekikan girangnya ketika kedua adik tersayangnya itu melepaskan pelukannya dan menatap tajam dirinya dengan kilatan kecewa di iris keduanya yang berlainan warna itu.
"Tak usah berpura-pura lagi, kak. Kami sudah tahu semuanya." Bagaikan disambar petir, Temari memucat mendengar kalimat datar dari adik bungsunya.
"Itu sepatu, kaos kaki, jas, tas, vest, dan dasi milik pria itu kan?" kali ini Kankuro yang buka suara sambil menunjuk semua benda yang tadi disebutkannya, semua benda itu tergeletak acak di sofa. Temari mengumpat dan mengutuki Shikamaru. Pria itu ternyata masih belum cukup memberikan kesialan pada dirinya. "Apa yang kalian lakukan berdua sampai semua sampah ini berhamburan dimana-dimana?
Temari diam, tak mampu memberikan jawaban atas sampah-sampah dapurnya yang berserakan di ruang tamu dan dapurnya.
"Kemarin para kru berpesta disini, jadi—"
"—kau tak usah membela kakakku, Matsuri," potong Gaara datar, membuat wanita berambut cokelat sebahu itu meneguk ludahnya.
Temari menghela nafas pasrah. "Maafkan kakak karena sudah membuat kalian kecewa," ujarnya pelan dengan kepala tertunduk. "Tapi ini semua tidak seperti yang kalian pikirkan," lanjutnya lirih, kini ia terisak pelan.
Ceklek!
Keempat kepala itu spontan langsung menoleh ke sumber suara. Bagaikan pahlawan kesiangan, Shikamaru berdiri di ambang pintu kamar dengan ekspresi malasnya, disusul dengan satu kuapan besarnya. Kankuro terdiam, ia menyikut lengan Gaara yang memperhatikan sosok Shikamaru dengan tatapan datar.
Setelah menyudahi acara menguapnya, Shikamaru maju beberapa langkah sampai berada tepat di sisi kanan sang artis blonde. "Saya Shikamaru Nara...," ujarnya pelan dengan senyum simpul di wajahnya yang secara drastis menjadi serius. "...calon suami kakak kalian," lanjutan yang dilontarkan oleh Shikamaru tanpa melalui proses basa-basi terlebih dahulu itu, sukses membuat Temari melotot.
Tapi artis blonde itu tak mungkin membantah pernyataan menyebalkan Shikamaru. Kedua adiknya pasti akan semakin marah dan kecewa padanya, pada kakak perempuan mereka yang telah berani memasukkan seorang pria asing ke dalam apartemen. Dan mereka pasti akan memaksanya untuk berhenti menjadi artis. Oh no! That would be killed her! Akhirnya, ia hanya mampu memberikan satu anggukan kecil sebagai respon untuk tatapan dari tiga kepala di hadapannya.
"Kenapa kakak tak pernah menceritakan dia pada kami?" tanya Kankuro gusar. Ia merasakan kejanggalan yang kuat dalam diri kakaknya dan pria asing di hadapannya ini.
"Itu karena tuntutan pihak agensi. Aku dilarang memiliki kekasih sebelum karirku sukses, tapi saat bertemu dengan dia, kakak sadar mencintainya, jadi kakak putuskan untuk backstreet dengannya," akting Temari dengan wajah sendu yang terlihat begitu nyata, sebagai seorang artis dengan kemampuan akting yang terasah dengan baik, tak sulit baginya untuk menciptakan sandiwara yang hidup bagaikan kehidupan asli.
"Itu benar Gaara, Temari memang dilarang untuk memiliki kekasih," ujar Matsuri pelan, ia tak menyadari pembenarannya itu telah membantu proses kebohongan kakak iparnya menjadi sangat lancar, selancar air mengalir.
"Meski begitu, kakak tetap tak boleh membiarkan seorang pria masuk ke apartemen. Apapun status pria itu. Aku ingin kekasihmu ini datang malam ini pukul 08.00 bersama orang tuanya kesini," ujar Gaara datar sambil memberikan tatapan dinginnya pada Shikamaru yang sedikit terperanjat. Secepat itukah?
"Apa maksudmu Gaara?"
"Kakak tetap disini bersama Matsuri sementara aku dan Kankuro kembali bekerja. Semua pekerjaan kakak sudah di handle," ujar Gaara tanpa mengindahkan protes Temari. "Dan kau..." lanjut Gaara masih tetap dengan intonasi datarnya sambil menatap Shikamaru, "...sebaiknya kau pulang sekarang. Kami tunggu kedatanganmu. Aku ingin tahu seberapa seriusnya hubungan kalian," lalu ia keluar dengan diikuti oleh Kankuro.
Temari lemas, ia tertunduk sambil meremas jari-jari tangannya. Saat sebuah tangan besar mendarat di bahunya, ia menoleh cepat dan mendapati wajah Shikamaru sedang menatapnya dengan tulus, berusaha meyakinkannya bahwa semua akan baik-baik saja. Kekesalan, kekecewaan, kebencian, dan kemarahan yang ada dalam dirinya pun luruh, luruh bersama tangisan pelannya. Matsuri memperhatikan tingkah kedua orang di depannya dengan pandangan bingung sekaligus cemas.
Shikamaru mendekatkan bibirnya pada telinga Temari, "Semua memang salahku. Aku janji akan memperbaiki semuanya," bisiknya sambil lalu, ia membenahi barang-barangnya dan keluar dari apartemen Temari dengan tergesa-gesa.
XXX
Shikamaru duduk diam di sofa. Ayahnya menatap dirinya dengan pandangan kecewa, sementara ibunya mondar-mandir di antara dirinya dan ayahnya. Wajah nyonya Nara itu tampak frustasi dan kesal.
"Ibu sama sekali tidak menyukai dia. Ibu yakin dia sengaja mendekatimu hanya untuk mengincar hartamu, banyak artis yang begitu. Semua yang dilakukannya itu adalah akting, kau paham Shikamaru!"
Shikamaru tetap diam. Kalau seandainya saja ibunya itu tahu kalau dialah yang menyebabkan semua kekacauan ini, mungkin ibunya itu akan langsung mencincangnya.
"Pokoknya ibu tak akan menyetujui hubunganmu dengannya. Seorang wanita yang dengan sengaja menyerahkan dirinya pada pria yang belum sah menjadi suaminya, itu sama saja dengan wanita mu—"
"Dia tidak pernah merayuku, malah sebaliknya. Aku yang memaksanya," potong Shikamaru cepat, tentu saja kedua orang tuanya itu langsung membelalakan mata mendengar penjelasan putra semata wayang mereka yang sangat pemalas itu. "Jadi kumohon bu, berhenti menuduhnya dengan pikiran buruk ibu. Ibu dan ayah hanya datang menemaniku, biarkan aku bahagia dengan wanita pilihanku."
Yoshino menghela nafas pasrah sebelum menjatuhkan dirinya di sebelah Shikaku. "Baiklah, ibu dan ayah setuju kau menikahi artis itu. Tapi ibu ingin dia berhenti menjadi artis."
"Itu tidak mungkin bu," protes Shikamaru bingung.
"Kalau dia memang mencintaimu, dia pasti mau melakukannya. Tapi kalau dia tidak mau melakukannya, kalian harus segera bercerai setelah anak kalian lahir. Dan ibu yang akan menjaganya," tegas Yoshino sambil berlalu dari ruang keluarga.
Shikamaru terpekur, sementara ayahnya hanya mampu diam sebelum menepuk-nepuk bahu kanannya pelan. "Ayah sangat kecewa padamu. Tapi, jika hidup bersama artis itu bisa membuatmu bahagia, ayah mendukungmu. Lakukanlah yang terbaik, kau sudah dewasa, kau bisa menentukan mana yang baik dan mana yang buruk bagi hidupmu," nasihat Shikaku sambil tersenyum tipis, lalu berlalu dengan pelan.
Shikamaru berdiri, ia memandangi punggung sang ayah. "Ayah..." panggilnya pelan, dan sang ayah pun menoleh. "...terima kasih," lanjutnya sambil tersenyum tipis, dan ayahnya pun ikut menyunggingkan senyum tipisnya.
XXX
Matsuri berdecak kesal melihat penampilan Temari. Dress mini brown dengan model strapless kini membalut sempurna tubuh jenjangnya. "Apa?" tanya Temari acuh pada Matsuri yang kini tengah mengenakan kimono berwarna orange lembut.
"Kau masih bertanya apa?" sahut Matsuri kesal. "Meski pengaruh budaya barat sangat kuat dalam dirimu, tapi setidaknya sadari kita ini sedang berada dimana. Ini Jepang, kau wajib mengenakan kimono untuk menyenangkan calon mertuamu," Temari diam, ia malah asyik menyapukan bedak tipis ke wajah mulusnya. "Astaga Temari, cepat ganti pakaianmu, sebentar lagi keluarga Nara akan datang."
"Kuno sekali, masa harus pakai kimono segala," protes Temari kesal sambil memasang anting dan kalung mutiaranya.
"Kalau kau sudah sanggup mencintai anaknya, kau juga harus sanggup mencintai keluarganya. Bersikap dewasa lah sedikit, Temari. Sebentar lagi kau akan menjadi seorang istri," nasihat Matsuri kesal. Sementara Temari merutuk pelan, istri katanya. What the dark!
"Aku tidak mau. Aku terlihat gemuk mengenakan kimono," protes Temari dengan keras sambil mengenakan stiletto putihnya. Saat Matsuri akan kembali mengeluarkan bantahannya, seseorang mengetuk pintu kamar lalu membukanya pelan.
"Biarkan saja," ujar Kankuro pelan sambil mengajak Matsuri untuk keluar.
XXX
Saat Temari keluar dari kamar dan ikut bergabung di ruang tamu, Yoshino hanya mampu terpaku melihat penampilan artis blonde itu. "Apa kau tidak salah kostum, nona," komentar Yoshino akhirnya dengan datar. "Atau calon menantuku adalah gadis manis berambut cokelat ini?" tunjuk Yoshino pada Matsuri yang jadi salah tingkah. Tapi perbuatan nyonya Nara itu sukses membuat Gaara dan Kankuro menyadari satu hal yang terburuk, hubungan cinta sang kakak tidak mendapat restu.
Temari ingin sekali membalas perkataan ibu Shikamaru, tapi gerakan bibirnya langsung tertahan ketika melihat Kankuro berdiri.
"Kakak saya memang tidak terbiasa mengenakan kimono, jadi maaf bila penampilannya malam ini tidak berkenan dengan keinginan nyonya. Saya harap masalah ini tidak perlu dipermasalahkan lagi, akan lebih efektif bila kita langsung ke inti permasalahan," ujar Kankuro dengan nada bersahabat sambil menyimpulkan sebuah senyum di wajah tampannya sambil kembali duduk dan mengajak Temari untuk duduk di sebelahnya.
Tapi sebelum Temari sempat duduk di sofa, ia kembali berdiri, membuat semua yang ada memandangnya heran. "Ada sesuatu yang ingin kubicarakan dengan Shikamaru, kalian semua tidak keberatan bila kami tinggal beberapa menit?" ujarnya dengan nada yang berusaha dibuatnya sopan sambil menyunggingkan senyum sekenanya. Setelah mendapatkan anggukan dari semua orang, kecuali Yoshino yang tampak acuh, Shikamaru bangkit dan mengekori Temari ke dapur.
"Ada apa?" tanya Shikamaru malas.
"Kita tak mungkin menikah. Ini salah, ini gila. Kau dan aku sama sekali tak saling mengenal. Bahkan namamu saja aku baru tahu pagi tadi, ini omong kosong," cecar Temari dengan suara yang dipelankan.
"Terus?"
Temari menarik kerah kemeja Shikamaru, ia kesal dengan nada santai pria itu. "Oh god! Kenapa kau bisa sesantai ini?" ujarnya hampir berteriak.
"Kau jangan membuat masalah menjadi semakin rumit, itu hanya akan membuat kita repot. Kau terima saja pernikahan ini, demi nama baikmu dan sebagai bentuk tanggung jawabku. Dan masalah karirmu, kau berhenti saja, aku sanggup membiayai semua keperluanmu," ujar Shikamaru santai, membuat Temari mendelik.
"Apa kau bilang? Susah payah aku sampai bisa menjadi seperti ini, dan kau dengan mudahnya bilang berhenti saja. Hei, kau pikir kau siapa? Kau bukan siapa-siapa ku, kau hanya pria asing pembawa sial. Ok, aku terima pernikahan ini. Tapi harus dirahasiakan dari publik."
Sekarang gantian Shikamaru yang mendelik, menghilangkan ekspresi malas di wajahnya. "Kau gila, itu tidak mungkin. Publik harus tahu pernikahan kita. Sudahlah, pembicaraan ini jadi sangat merepotkan, besok saja kita bahas, sebaiknya kita sudahi lamaran ini dulu," ujar Shikamaru kesal sambil berjalan ke ruang tamu, Temari menggertakkan giginya sambil mengekori Shikamaru.
XXXXXX
Kilatan blitz kamera memenuhi ruangan bernuansa cokelat lembut itu. Memerangkap sosok jenjang Temari yang dibalut coat imut selutut berwarna lavender, mengabadikan pose si artis ke dalam selembar kertas. Tapi sayangnya, pose sempurna yang selalu didapatkannya itu seolah hilang dalam sekejap, ia seolah gugup, seolah baru pertama kali bertemu dengan cahaya terang benda hitam di hadapannya.
"Kau kenapa Temari? Kenapa posemu kaku sekali?" tanya sang fotographer gusar, tak biasanya model favorit-nya itu mengecewakannya.
Temari mengibaskan tangan kanannya sambil tersenyum tipis. "Aku tidak apa-apa kok Kisame, ayo lanjut," sahut Temari pelan.
"Sebaiknya kita break dulu, kau kelihatan kurang sehat, istirahatlah untuk beberapa jam," ujar Kisame lemah.
"Tidak usah Kisame, aku tidak apa-apa. Kita selesaikan saja, pukul 15.00 nanti aku ada syuting iklan celloPhone."
Selama pemotretan majalah Girls day, Temari memang berhasil mengembalikan semua pose-posenya, tapi pikirannya tetap tak bisa fokus. Kejadian kemarin telah membuatnya frustasi berat, acara lamaran memuakkan itu membuatnya harus terjebak dalam pernikahan yang tinggal sebulan lagi dari sekarang. Ia benar-benar akan mengalami penurunan karir, apalagi Yoshino sama sekali tidak menyetujui pekerjaannya. Oh, god! Ia tak mau meninggalkan semua usaha kerja kerasnya, mimpinya. Meski apapun yang terjadi, ia akan tetap mempertahankan karirnya, ia bisa bercerai kapan saja dengan Shikamaru, pernikahannya dan pria itu hanya formalitas saja. Huh!
XXX
Shikamaru memandang malas pada layar laptop-nya. Wajah mengantuknya terlihat frustasi. Temari memang cantik, anggun, dan menawan, tapi sangat merepotkan. Ia tak sanggup membayangkan hari-hari tenangnya akan diisi oleh wanita itu, wanita yang tampaknya sangat merepotkan dari ibunya..
Kalau bukan karena rasa ingin bertanggung jawab, di bayar berapa pun ia tak mau menikahi Temari. Ia selalu berusaha menghindari hal-hal yang berbau dan berujung dengan merepotkan, tapi ternyata sangat sulit menghindarinya. Benar-benar merepotkan!
Lamunannya buyar ketika terdengar suara ribut di luar, menyusul pintu ruangannya yang dibuka dengan keras.
"Maaf pak presdir, nona ini memaksa masuk, padahal saya sudah me—"
"Tinggalkan kami berdua, Hisajima-san," potong Shikamaru malas pada sekretarisnya—Shiho Hisajima.
Shiho sedikit kaget, sebelum akhirnya menganggukkan kepalanya sekali. Saat ia hendak meninggalkan ruangan Shikamaru, gadis berambut blonde berkacamata hitam itu sedikit melirik pada tamu wanita Shikamaru, dan wanita berambut merah itu menatapnya dengan angkuh, disertai senyum kemenangannya.
Sepeninggal Shiho, Shikamaru menguap lebar saat wanita berambut merah itu berjalan cepat ke arahnya.
"Siapa yang menyuruhmu duduk, Watanabe-san?"
Wanita berambut merah itu berdecak kesal sambil melipat kedua tangannya. "Kau memang benar-benar pria yang sangat menjengkelkan," komentar wanita itu kesal—Tayuya Watanabe.
"Terus?"
Tayuya menggebrak meja kerja Shikamaru, tapi pria itu sama sekali tak terlihat terkejut, ia malah menguap lebar.
"Kejadian malam itu terjadi karenamu, kau sama sekali tak pernah bersikap manis padaku, kau tak pernah bilang cinta, kau tak pernah mau menggenggam tanganku, memelukku, dan menci—"
"Itu sama sekali bukan alasan untuk berselingkuh. Bukankah dari awal saat kau menyatakan cinta padaku, aku sudah memperingatkanmu? Aku bukan tipe pria romantis, tipe pria yang suka mengumbar kemesraan. Aku cuek dan malas. Tapi kau bersikeras, kau bilang akan sanggup bertahan dengan semua kepemalasan dan kecuekanku, tapi nyatanya tidak kan? Kau tidak lulus tes untuk jadi kekasihku, apalagi istriku," potong Shikamaru datar.
"Kau membuatku muak!" bentak Tayuya akhirnya.
"Cukup, aku sibuk, tinggalkan ruanganku sekarang, atau kau mau aku panggilkan security?"
Dengan kesal gadis cantik itu meninggalkan ruangan Shikamaru sambil membanting pintu.
XXX
Temari mengerenyitkan dahinya ketika mobilnya berhenti di sebuah bridal house milik desainer terkenal Jepang, Mei Terumi. Dengan alis bertaut, ia memandang heran pada Matsuri yang tampak sibuk dengan iPhone-nya.
"Kenapa kesini?"
"Ibu mertuamu sedang menunggumu di dalam, ia memaksaku membatalkan semua jadwalmu hari ini," sahut Matsuri lemah.
Temari mendengus kesal sebelum akhirnya turun dari mobil dengan diikuti oleh Matsuri. Saat masuk, keduanya sudah disambut oleh pelayan butik mewah itu dengan senyum ramah, dan langsung mengantarkan mereka masuk ke lift, menuju lantai 5.
Saat pintu lift terbuka, keduanya disuguhi oleh manekin cantik yang dibalut gaun-gaun pengantin yang mewah dan indah. Sementara di sebuah sofa mewah berwarna merah marun, duduklah Yoshino dan Mei Terumi yang percapakan mereka langsung terputus ketika mendengar suara lift terbuka.
Saat Temari membuka kacamatanya, desainer sexy itu tampak terkejut, tapi tak berselang lama wajahnya berubah menjadi ceria, senyum bahagia merekah di wajah cantiknya.
"Yoshino-san, kenapa kau malu untuk bilang kalau menantumu adalah Temari. Aku sudah lama menginginkan dia jadi model rancanganku, tapi jadwalnya selalu padat, dan sekarang keinginanku terkabul," ujar Mei dengan antusias, ia langsung menyalami Temari, melakukan cipika-cipiki, lalu mengundangnya untuk duduk.
"Tunjukkan semua koleksi terbaikmu," ujar Yoshino acuh, membuat Temari mengepalkan kedua tangannya.
Dengan antusias Mei memerintahkan salah seorang pegawainya untuk membukakan tirai sutera yang ada di sudut kiri ruangan. Saat tirai itu terbuka, mata Temari dimanjakan oleh sebuah gaun berwarna putih gading yang membalut tubuh seorang manekin berambut blonde. Secara spontan ia berdiri dari duduknya, menatap takjub pada kilau permata yang menghiasi gaun panjang bermodel brokat di bagian rok lebarnya, sementara di bagian kerahnya yang bermodel v-neck, terdapat bulu-bulu halus yang dijepit dengan beberapa butir mutiara, dan di pinggangnya melilit obi sutera sewarna mata indahnya.
"Gaun ini memang kurancang untukmu, sangat pas dengan image-mu; cantik, anggun, dan elegan. Saat menawarimu untuk jadi modelku lima bulan yang lalu dan kau menolak tawaranku tanpa mau melihat gaunku, aku sangat kecewa. Gaun yang sudah kubuat selama setahun ini akhirnya hanya kusimpan, sebagai koleksi gagalku, padahal sudah ada 200 lebih klienku yang menawar gaun ini dengan harga tinggi," ungkap Mei pelan, membuat Temari terdiam untuk sesaat.
"Terima kasih ya," ujar Temari sambil merangkul Mei, ia benar-benar terharu.
"Gaun ini untukmu, khusus sebagai kado ulang tahun pernikahanmu," ujar Mei dengan tersenyum. Temari tampak terkejut, membuat senyum Mei semakin mengembang. "Jangan kaget seperti itu. Kalau lima bulan yang lalu kau menyetujui jadi modelku, gaun ini akan jadi milikmu. Bisa dibilang ini gaun yang tertunda jadi milikmu," lanjut Mei sambil mendorong pelan Temari untuk masuk ke ruang ganti bersama seorang pegawainya.
Saat Temari keluar, Mei dan Matsuri tampak terpesona, potongan gaun itu sangat pas membalut tubuh rampingnya, kulit putih mulusnya semakin menyempurnakan penampilannya. Sementara Yoshino hanya tersenyum tipis, ia tak memungkiri kalau ia sangat bangga mendapatkan seorang menantu yang sangat cantik, mengingat kepribadian putranya yang sangat pemalas dan cuek.
Akhirnya Temari memutuskan untuk mengenakan 3 gaun dalam pesta pernikahannya. Keluar dari bridal house Mei Terumi, Yoshino mengajaknya untuk mengunjungi suatu tempat, tanpa Matsuri, hanya berdua dengan Yoshino—mungkin bertiga dengan supir pribadi nyonya Nara itu.
XXX
Shikamaru mendengus kesal saat bel apartemennya berbunyi berkali-kali, tak bisakah orang di luar sana memberikannya privacy? Ini sudah pukul 22.00, terlalu larut untuk bertamu. Saat mengetahui siapa tamu tak tahu malunya itu lewat layar CCTV, ia benar-benar menyesal telah memutuskan untuk pulang ke apartemennya hari ini.
Ceklek.
Temari menyikutnya sampai ia sedikit terdorong, ia berdecak kesal sebelum menutup pintu. "Apa kau kehilangan kunci apartemenmu sampai harus terpaksa menginap di tempat calon suamimu?" komentarnya malas.
Temari mendelik sebelum melemparkan tas tangannya ke Shikamaru yang dengan sukses menghindari lemparannya, membuat isi dalam tasnya berhamburan di lantai.
"Hei!"
"Apa? Kau tidak suka!" tantang Temari sambil berkacak pinggang. "Kau bilang apa saja tentangku pada ibumu?" tuntut Temari kesal.
"Maksudmu?"
"Oh, God! Kenapa pria ini harus hadir dalam hidupku," ratap Temari kesal sebelum akhirnya masuk ke kamar Shikamaru dan membanting pintu. Sementara Shikamaru hanya mampu mendengus kesal sambil membaringkan dirinya di sofa.
"Sekarang dia yang berlagak tak tahu malu, padahal ini apartemenku. Dia itu memang sangat merepotkan," gerutunya pelan. Belum menikah saja ia sudah merasa tersiksa, apalagi sudah menikah, ia yakin hidupnya akan selalu dipenuhi hari-hari yang sangat merepotkan.
.
.
.
XXX_To Be Continued_XXX
Alur maju-mundur, harap pelan-pelan bacanya.
.
Ini balesan bagi yang enggak login, bagi yang login udah dibales lewat PM.
sabaku chiko : ini udah ada lanjutannya, mampir lagi ya.
AnekiNara : wah, makasih atas pujiannya, ini udah update guntur (?), mampir lagi ya.
Yue-chan : benarkah kawai dan lucu? jadi senang. ini udah lanjut, mampir lagi ya.
Guest : ini udah author lanjutkan, mampir lagi ya.
nanaka nazo : kalau begitu, semoga di chap 3 ini kembali lagi ya.
ayu dinarwati : salam kenal juga ayu, makasih. ini udah update flash (?), mampir lagi ya.
Makasih semuanya... I luph u poellll!
Ini chap tiganya, bagaimana menurut kalian?
Habis baca, jangan lupa tinggalkan review ya.
.
Salam
Putri
