I Miss U
Disclaimer Masashi Kisimoto
By : Deera Dragoneella
Sholahuddin : Hehehe, senang membuat Anda penasaran ;)
AKAKAccountKillerAKAK : Chap ini ketahuan kok, siapa yang manggil :)
Darmadarma83 : Ini sudah lanjut, terima kasih :)
Askasufa : Terima kasih :) ini sudah lanjut
Cuke cuka nalu : Hmmm, kalau buat word, tergantung keadaan ya, hehehe :) ini kelamaan nggak?
Adelia437 : Ini sudah lanjut :)
Jasmine DaisynoYuki : Hehehe, sayangnya bukan... gomene bikin kamu kucewa :( semoga tetap mau baca ya :)
Kiriko chan chie naru lover : Iya pairnya sasufemnaru kok. Ini sudah lanjut :)
34 : Hehehe, demi kemashlahatan harus tbc dulu, hehehe. Sayangnya bukan Kushina. Ini sudah update. Terima kasih :)
Ikatriplesblingers : Boleh kok, nebaknya. Sayangnya itu bukan Kushina :( Hmm, semoga saja :) Ini sudah lanjut :D
Akashireina779 : Ini sudah lanjuuut. Termasuk lama ngggaaaak? :)
Choikim1310 : Hehehe, yuuuups. Jawaban kamu bener. Hmmm, Kushina saya buat tidak menikah lagi. Dia juga tidak sembunyi dan memimpin kerajaan sebagaimana Ratu biasanya. Hanya saja tidak bisa bertemu dengan anak-anaknya.
Uzumaki megami : Hehehe, bukaaaan. Itu sepupu tersayangnya, K.
Yulimizan2 : Hehehe, terima kasih sudah suka :D ini kurang panjang nggak? :D
Yuki akibaru : Terima kasih :D Ini sudah lanjut
Guest : Ini sudah update :)
Rei : Hehehe, senangnya nggak jadi cerita mainstream :) Well, kebetulan saya juga nggak terlalu suka ibu tiri yang jahat gitu. Kan, nggak semua ibu tiri begitu :)
Mifta cinya : Yups, 100 buat kamu. That's Karin :) Yah, kehidupan kan nggak bisa disangka2, begitu juga dengan kehadiran mereka :)
Guest : Hmm... Pairnya memang gitu kok. Mereka kan couple favoritku :)
deerLuhan200490 : Hmm... Naruto bukan cewek lemah kok, tapi dibilang tomboy nggak juga, Hehehe Selamat membaca :)
guest : Ini sudah lanjut :D
uciha Manz ujumaki namikaze : Ini chap lainnya
elfishy : Hehehe, ini sudah lanjut :)
oka : iya, Naru baik banget :D yang panggil sepupu tersayangnya, K. Terima kasih kembali dan Selamat membaca :D
.0.
Chapter sebelumnya~
Naruto turun dari tandunya dan menatap istana yang asing dihadapannya. Istana itu begitu besar dan indah, melebihi kerajaannya. Hal pertama yang diperhatikannya adalah taman istana yang ada dikiri kanan bangunan besar itu. Naruto akan melangkahkan kakinya ke arah kanan jika saja tidak ada orang yang memanggilnya.
"Naru-to?" Tanyanya sambil membelalakkan matanya tak percaya.
.0.
WARNING!
(Abal, GJ, g sesuai EYD, OOC, Gender Switch, dE-eL-eL)
.0.
"Naru-to?" Tanyanya sambil membelalakkan matanya tak percaya ketika melihat sapphire di wajah ayu yang sering dia dengar namanya.
"Ha'i… Dan Anda…"
"Aku Karin. Uzumaki Karin, puteri Uzumaki Mito, sepupumu" Ujar Karin sambil memeluk tubuh Naruto hangat. Astaga, dia tidak menyangkan putri bibinya begitu cantik.
"Karin-nee" Naruto membalas pelukan Karin. Pelukan hangat yang sudah lama tak didapatkannya, kecuali dari Deidara, dan Kurama yang lebih sebagai pengobat rindu mereka pada sosok sang Ibu.
"Kau tak segera masuk? Acara penyambutan sudah dimulai" Ujar Karin setelah melepaskan pelukannya.
"Ah, kau pasti belum tahu tempatnya. Ayo, akan aku tunjukkan padamu" Karin segera menyerat tubuh Naruto menuju aula kerajaan. Pintu aula segera terbuka ketika melihat calon putri mahkota mereka akan masuk bersama seorang gadis cantik yang menawan. Semua mata menatap kearah mereka, karena merasa terinterupsi oleh kedatangan mereka.
"Are, Karin-chan?" Tanya Mikoto menatap calon mantunya heran. Padahal tadi ketika dia mengajak gadis bersurai merah itu untuk menemaninya di aula dalam acara penyambutan, gadis itu menolak. Namun sekarang? Gadis itu malah menyeret-tunggu. Wajah gadis yang berjalan bersama Karin nampak tak asing dimatanya.
"Okaa-sama. Lihat siapa yang ku bawa" Ujar Karin, tak menghirautan tatapan tanya para puteri akan sosoknya dan sosok yang dibawanya.
"Are? Siapa ini?" Tanya Mikoto ramah sambil tersenyum hangat. Naruto segera membungkuk dan memperkenalkan diri.
"Saya Namikaze Naruto. Maaf, atas keterlambatan saya, Yang Mulia" Ujarnya sambil menunduk. Sopan santun yang diajarkan ibunya sejak kecil.
"Naruto? Astaga! Naruto" Mikoto segera memeluk gadis pirang dihadapannya sayang.
"Sudah lama aku tak bertemu denganmu. Terakhir kali kita bertemu saat kau berusia 7 tahun. Dan lihat, kau sudah menjadi gadis yang sangat cantik" Mikoto berujar sambil membingkai wajah ayu Naruto.
"Terima kasih, Yang Mulia"
"Tidak tidak. Panggil aku Baa-san saja. Seperti dulu" Ujar Mikoto sambil menggeleng.
"Ha'i, Oba-sama" Jawab Naruto sopan. Sementara disisi kanan Mikoto, Sasuke manatap Naruto penuh penilaian. Dia merasa pernah mengenal gadis dihadapannya. Suara jernihnya mengingatkannya akan nyanyian seorang gadis yang pernah ditemuinya di taman istana sebuah kerajaan. Dan sapphire gadis itu. Ah, tapi sapphire yang dulu dilihatnya lebih jernih dan hidup. Sementara milik gadis itu kosong, seolah tak ada jiwa didalamnya.
"Kau masih ingat Sasuke-kun, Naru?" Tanya Mikoto setelah melihat Sasuke yang menatap Naruto. Naruto menggeleng. Membuat Mikoto kecewa, sementara Sasuke hanya mendengus, meski ada ketidak relaan direlung hatinya yang terdalam. Cih, mungkin saja gadis itu hanya ingin mencari perhatiannya, kan? Seperti para putri lain yang hanya ingin menarik perhatiannya. Tapi-tunggu. Jika ingin menarik perhatian, bukankah Naruto akan mengangguk? Atau gadis itu benar-benar lupa pada dirinya? Tapi, Sasuke sendiri juga tidak begitu ingat pada Naruto. Hanya suara dan sapphire itulah yang membuatnya tampak familiar.
"Mungkin yang Oba-sama maksud adalah Naruko" Naruto tersenyum, yang Sasuke tahu betul palsu. Well, terima kasih pada sepupunya yang selalu berwajah palsu, sehingga membuatnya bisa membedakan mana senyum asli dan mana yang palsu.
"Are, Naruko? Maksudmu Naruko, putri Sara?" Tanya Mikoto terkejut.
"Ha'i… Wajah kami memang mirip, bahkan orang akan mengira kami adalah saudari kembar. Namun warna mata kami berbeda. Naruko memiliki ruby dari Sara Okaa-sama, sementara saya memilik Sapphire Tou-san" Jelas Naruto.
"Tapi, saat itu kalian bersama Kushina kok… Tapi kalian-"
"Okaa-sama" Karin menggeleng, membuat Sasuke menaikkan alisnya heran. Ada apa diantara mereka?
Mikoto menatap tak mengerti calon mantunya, namun melihat tatapan memohon Karin dia pun menurutinya dengan tatapan meminta penjelasan yang dijawab anggukan Karin.
"Baiklah, Naru. Kau bisa berkenalan dengan para putri disini. Mereka adalah putri delegasi dari penjuru dunia Barat dan Timur" Naruto mengangguk dan memperkenalkan dirinya pada mereka semua. Yang segera dibalas perkenalan oleh mereka. Sebagian dari mereka tidak suka melihat kedekatan Naruto dengan Permaisuri Mikoto, namun sebagian biasa saja.
Para beberapa putri dari kerajaan Timur seperti, Putri Sakura dan kerajaan Haruno. Putri Ino dari kerajaan Yamanaka. Putri Temari dari kerajaan Suna, kakak dari Sabaku Gaara, yang kini melambai padanya dengan senyum terkembang yang segera dibalas oleh Naruto. Putri Hinata dari Kerajaan Hyuuga, dan puteri Kurama dari kerajaan Yakumo.
Kemudian para putri dari kerajaan Barat sepert, Puteri Emi dari Kerajaan Hishui, Puteri Honoka dari kerajaan Tsurayuki, Puteri Hotaru dari kerajaan Tsuchigumo, Puteri Fuma dari kerajaan Kagero, Puteri Hanare dari kerajaan Kiyomori, serta Sasame dari kerajaan Fuma.
"Okaa-sama. Maaf jika Saya kurang sopan dan menyela Okaa-sama. Tapi, bolehkan saya membawa Naru-chan berkeliling? Saya baru pertama kali ini bertemu dengan Naru-chan" Pinta Karin penuh harap. Mikoto menatap keduanya maklum. Mikoto bukannya tidak tahu apa yang terjadi, namun dia memilih diam, karena itulah yang Kushina pinta. Apa yang sahabatnya pinta. Karena Kushina dan Mikoto adalah teman sejak mereka kecil.
"Baiklah. Tapi jangan lama-lama, Karin-chan. Naru-chan harus beristirahat, karena dia baru saja sampai" Dan Karin tidak meminta persetujuan dua kali untuk membawa Naruto keluar dari tampat itu dan membawanya pergi berkeliling. Sasuke hendak mengikuti mereka karena dia sudah bosan melihat tatapan penuh minat beberapa putri aka wajah-wajah fans girl, sesuatu yang tidak disukainya. Namun tatapan Mikoto membuatnya mau tak mau harus bertahan.
Dan Mikoto pun kembali melanjutkan acara penyambutannya, sebelum menyuruh para dayang istana untuk menunjukkan para puteri kamar mereka dan melayaninya dengan baik.
.0.
Naruto mendengarkan Karin yang bercerita mengenai kehidupannya, Kerajaan Uzumaki, Kerajaan Uchiha, juga pesta pernikahannya yang akan diselenggarakan 2 bulan lagi dengan Pangeran Itachi.
"Selamat, Onee-sama. Aku senang mendengarnya" Karin mengangguk sambil tersenyum.
"Apa... Saat itu Okaa-san akan datang?" Dan pertanyaan Naruto membuat langkah keduanya terhenti tepat di taman depan tangga menuju kamar Naruto. Karin hanya bisa diam, tak tahu harus menjawab apa.
"Sudah 5 tahun berlalu. Apa... Okaa-san tidak rindu pada kami? Tidak rindu padaku?" Tanya Naruto lirih, yang bisa Karin tahu, dalam setiap katanya penuh kesedihan dan harapan.
"Aku... Sangat merindukan Okaa-san" Lanjutnya sambi tersenyum lirih.
"Terima kasih, Onee-sama. Naru ke kamar dulu untuk istirahat" Pamit Naruto meninggalkan Karin yang termenung dibelakangnya.
.0.
Matahari sudah terbenarm. Para putri pun bersiap menghadiri jamuan makan malam. Mereka berbondong-bondong datang dengan penampilan terbaik mereka untuk memikat hati sang Pangeran. Naruto yang baru saja akan keluar dari kamarnya terkejut ketika menemukan Karin berdiri di depan pintu kamarnya dan akan mengetuk pintu bersama seorang pemuda berambut raven panjang dikuncir dibelakang. Pemuda gagah dengan sepasang garis melintang diwajahnya yang menjadi tanda lahirnya.
"Karin Onee-sama dan..."
"Itachi, Uchiha Itachi. Tunanganku, Naru-chan" Ujar Karin memperkenalkan. Naruto mengangguk pada Itachi yang juga dibalas anggukan olehnya.
"Salam kenal, Itachi Onii-sama. Saya Namikaze Naruto" Ujar Naruto memperkenalkan diri.
"Aa, Karin-chan sudah menceritakannya. Ayo, jamuan sudah hampir dimulai" Ujar Itachi memimpin di depan. Naruto dan Karin berjalan mengikutinya, dengan tangan Karin yang setia bergelayut di lengan Naruto. Naruto hanya bisa tersenyum tipis. Entah kenapa, dia jadi mengingat masa lalu. Ketika dia sering bergelayut manja pada lengan ibunya. Naruto menggelengkan kepalanya guna menjernihkan pikirannya. Tidak. Dia tidak boleh terlihat sedih disini.
"Ada apa, Naru?" Tanya Karin membuat mereka terhenti. Mata Naruto mengerjap menatap kedua orang yang menatapnya khawatir.
"Ie, daijoubu. Hanya teringat masa lalu dengan OKaa-san" Jawabnya sambil kembali melangkah. Karin dan Itachi hanya bisa terdiam dan kembali berjalan. Itachi sudah tahu bagaimana cerita Naruto, dan dia hanya bisa berharap yang terbaik untuk gadis itu. Ah, harapan juga semoga adiknya bisa mendapatkan yang terbaik untuk pendamping hidupnya.
Aula yang tadinya hanya ruangan luas untuk berkumpul kini telah terisi dengan meja makan yang berjejer. Diatasnya sudah terdapat berbagai macam makanan. Para puteri segera mengambil tempat duduk masing-masing. Sedang Naruto diseret Karin untuk duduk disampingnya, di meja utama.
Fugaku menatap gadis yang dibawa Karin dengan tatapan meneliti. Dia merasa pernah mengenal gadis itu, karena wajahnya yang familiar.
"Watashi, Namikaze Naruto desu" Ujarnya masih berdiri.
"Naruto?" Tanyanya sambil mengingat-ingat.
"Ah, Naruto. Ya, duduklah, Nak" Dan Naruto pun duduk disamping Karin.
Meja utama yang menghadap meja para undangan kini telah terisi penuh. Dari arah paling kiri, duduk Uchiha Sasuke, Uchiha Itachi, Uchiha Fugaku, Uchiha Mikoto, Uzumaki Karin dan Namikaze Naruto. Mereka tampak seperti keluarga lengkap, yang saling berpasangan. Beberapa puteri menatap iri Naruto yang bisa semeja dengan para Uchiha.
"Baiklah. Selamat datang para tamu undangan" Para puteri mengangguk hormat.
"Sebelum kita memulai perjamuan ini. Akan kuumumkan bahwa, mulai lusa kalian akan memasuki sekolah kerajaan. Tes untuk menentukan kelas kalian akan dilaksanakan besok. Selama satu bulan waktu kalian disini, Pangeran Sasuke akan memilih seorang dari kalian untuk menjadi pendamping hidupnya. Jadi, lakukanlah yang terbaik dan jangan pernah berbuat curang. Ingatlah, bahwa kalian seorang puteri yang harus menjaga kehormatannya"
"Baik Yang Mullia" Jawab para puteri, kecuali Naruto yang tidak mungkin berteriak di meja utama.
"Nah, selamat menikmati jamuannya" Dan acara makan malam pun dimulai dengan hikmat.
.0.
Naruto sedang berjalan sendirian menuju kamarnya ketika beberapa orang puteri menghadang langkahnya.
"Hei, lihat siapa disana. Puteri Namikaze yang terhormat" Sasame menatap Naruto dengan angkuh.
"Seorang putri yang bahkan tidak dianggap oleh keluarganya sendiri" Tambah Emi sambil tertawa. Ya, Naruto terkenal diluar tidak dianggap sebagai keluarga Namikaze karena tidak pernah terlibat dalam acara apapun, karena dia tidak ingin mengingat masa lalunya ketika selalu ada Kushina dalam setiap pertemuan itu.
"Yayaya, dan disini dia mencoba mencari perhatian Mikoto-sama" Ujar Sakura sambil menyilangkan kedua tangannya di dada.
Naruto hanya menatap mereka dalam diam. Merasa bahwa dia tidak perlu menanggapi mereka. Tak penting apa kata orang, karena mereka tidak akan tahu dan mengerti dengan apa yang sudah dialaminya.
"Kenapa diam saja? Tidak berani menjawab, eh?" Honoka menatap tajam Naruto sambil berdiri tepat dihadapannya. Naruto memejamkan matanya, tak ingin berdebat.
"Cih, puteri lemah seperti mu mau melawan kami? Jangan mimpi" Sakura berujar sambil mendorong tubuh Naruto kebelakang dan jatuh. Naruto hanya diam tanpa mengatakan apapun atau bahkan merintih.
"Sebaiknya kau segera angkat kaki dan pergi dari sini, jika tidak ingin terluka" Ujar Emi sebelum mereka pergi meninggalkan Naruto yang masih terduduk di lantai. Naruto masih terdiam ketika seseorang berdiri dan mengulurkan tangan padanya.
"K-kau tidak apa-apa?" Tanya gadis itu dengan suara lembut. Naruto mendongak dan menatap sepasang amnethys yang teduh dan tulus ingan membantunya.
"Ie, daijoubu" Jawabnya sambil menerima uluran tangan itu dan berdiri. Puteri Hinata dari kerajaan Hyuuga.
"Go-gomene... Aku tidak bisa mem-bantumu. A-aku takut" Ujar Hinata menyesal. Naruto tesenyum dan menepuk pucuk kepala Hinata.
"Ie, daijoubu. Aku memang tidak ingin melawan kok" Jawab Naruto sambil membersihkan pakaiannya.
"Ke-kenapa?" Tanya Hinata heran. Kalau bisa melawan, kenapa tidak dilawan saja? Batinnya.
"Karena tidak ada gunanya, Hinata-hime" Naruto menatap Hinata teduh.
"Jika aku melawan, dan mereka tahu aku bisa melawan. Maka mereka akan semakin keras, atau bahkan mencari sasaran lain. Karena itu..." Naruto tesenyum "Dari pada membahayakan orang lain, kenapa tidak aku saja yang merasakannya?" Dan kata-kata Naruto membuat Hinata gagal paham dengan maksudnya.
"Sudah malam, Hinata-hime. Sudah saatnya kita beristirahat" Dan Naruto pun meninggalkannya yang masih mencoba mengerti dengan apa yang Naruto katakan. Tanpa menyadari, ada sosok yang bersembunyi dan melihat serta mendengar semua yang telah terjadi.
"Dasara masochist" Gumam orang itu.
.0.
Pagi harinya, setelah sarapan para putri di bawa menuju taman belakang istana yang luas. Di taman terdapat banyak peralatan, baik kecantikan, keterampilan, perang, dan lain sebagainya. Para putri menatap barang-barang itu heran, kecuali Naruto yang pernah membaca mengenai sejarah lengkap Kerajaan Uchiha. Untuk apa mereka dibawa ke sana dan melihat peralatan itu.
"Baiklah. Kalian semua dikumpulkan disini untuk mengetahui keahlian kalian serta apa yang kalian semua sukai. Saya sebagai kepala bidang pendidikan Istana akan menilai kalian dari apa yang kalian pilih nanti. Setelah kalian memilih apa saja yang kalian sukai dan kuasai, kalian akan diuji untuk mengetahui seberapa jauh penguasaan kalian akan pilihan kalian. Nah, kalian bisa mulai memilih dengan didampingi oleh 2 orang pelayan yang akan membawakan barang-barang pilihan kalian"Terang seorang wanita berana Shizuka.
Para putri yang akhirnya mengerti segera beranjak menuju peralatan itu diiringi kedua dayangnya, kecuali Naruto yang masih terdiam ditempatnya, membuat kedua dayang, Shizuka, Karin, Sasuke, dan beberapa putri yang memperhatikanya menatapnya heran.
"Naru-chan, kenapa kamu diam saja? Apa kamu bingung mau memilih apa?" Karin bertanya karena khawatir melihat Naruto yang diam saja. Naruto menatap Karin sambil tersenyum dan menggeleng.
"Ie, Onee-sama. Saya hanya ingin bertanya sesuatu pada Shizuka-san" Shizuka segera maju menghampiri Naruto.
"Ada apa Naruto-Hime ingin berbicara dengan saya?" Semua putri memperhatikan Naruto yang sedang berbicara dengan Shizuka ditemani Karin, kedua dayang pengiring, dan Sasuke yang diwajibkan datang untuk melihat para putri dan menemani Karin oleh Itachi.
"Bisakah saya bertemu dengan Yang Mulia sekarang?" Pertanya Naruto membuat Karin dan Shizuka menatapnya heran.
"Untuk apa kau bertemu dengan Otou-sama, Naru?" tanya Karin.
"Saya ingin bertanya, apakah terdapat perubahan peraturan kerajaan Uchiha mengenai pemilihan pendamping anggota kerajaan atau tidak?" Pertanyaan Naruto membuat Shizuka mengernyit heran. Sangat tidak biasa.
"Tidak ada, Naruto-Hime" Shizuka menjawab pasti. Naruto mengangguk sambil menatap sejenak para putri yang mulai memilih dan beberapa yang sesekali menatapnya sambil berbisik. Jaraknya dengan para putri cukup jauh, sehingga mereka tidak bisa mendengar apa yang Naruto bicarakan.
"Jika begitu, berarti saya masih memiliki hak untuk memilih mengikuti kompetisi atau tidak" Gumaman Naruto itu membuat mereka yang mendengarnya terhenyak.
"Apa maksudmu, Naru-chan?" Tanya Karin tidak mengerti.
"Onee-sama. Hari ini adalah tes awal untuk para putri yang mengikuti kompetisi, namun kompetisi itu sendiri belumlah dimulai. Bukan begitu, Shizuka-san?" Lagi, kata-kata Naruto membuat mereka terhenyak. Shizuka hanya bisa mengangguk membenarkan.
"Apa maksudmu, Naruto?" Tanya Karin tidak mengerti, ini merupakan hal serius. Pemilihan pendamping kerajaan Uchiha bukanlah main-main. Dia khawatir jika Naruto akan dianggap menyepelekannya dan mengakibatkan perang dingin kerajaannya dengan kerajaan Uchiha.
"Sejak awal, alasan saya kemari bukanlah untuk mengikuti kompetisi ini" Lagi, kata-kata Naruto membuat orang-orang terhenyak.
"Saya kemari, untuk menggantikan Naruko yang akan Otou-sama kirimkan. Dan saya tidak bisa membiarkannya karena Naruko sudah memiliki Pangeran Gaara" Naruto menatap Temari yang menatapnya tak percaya dengan senyuman. Temari yang heran dengan kepasifan Naruto hari ini memilih untuk menghampirinya dan mencari tahu.
"Bukankah tidak baik, jika Naruko bersaing dengan calon kakak iparnya?" Temari hanya bisa menggeleng setelah mendengar kenyataannya, karena awalnya dia juga khawatir jika hubungan adiknya dengan Naruko akan berakhir akibat kompetisi ini.
"Tapi, Naruto-"
"Apa kau bermaksud membuat kompetisi ini menjadi permainan?" Sasuke menatapnya tajam, yang justru membuat Naruto menatapnya datar.
"Saya rasa Anda tahu peraturan yang menyatakan jika kompetisi ini tidak bisa memaksa seorang putri untuk menerima keputusan, karena kompetisi ini bertujuan untuk membuat sang Pangeran terpikat" Pelipis kiri Sasuke berkedut, ia kesal. Apa gadis dihadapannya baru saja menghinanya dengan menyatakan jika dia tidak mengetahui peraturan itu?
"Tentu saja aku tahu. Tapi kau juga harus ingat, bahwa setiap putri yang sudah memasuki kompetisi tidak bisa keluar begitu saja. Ini adalah peraturan mutlak" Naruto menggeleng mendengar penjelasan Sasuke.
"Anda melupakan satu hal, Pangeran. Bahwa kompetisi ini belumlah dimulai"
Sial, bagaimana aku bisa lupa? Batin Sasuke kesal, meski wajahnya masih tampak datar-datar saja.
"Dan saya tidak mungkin meninggalkan istana ini tanpa melakukan sesuatu, karena saya membawa nama kerajaan Namikaze dan Uzumaki" Kali ini Karin yang paling terkejut, karena hanya dia dan para Uchiha yang tahu mengenai hal ini.
"Saya mengetahuinya karena tidak ada utusan Uzumaki disini" Naruto menjelaskan ketika melihat wajah terkejut Karin.
"Karena itu, saya akan melakukan semua ujian dalam tes ini dan pergi tanpa membuat kerajaan yang saya wakili menanggung malu. Karena saya memiliki firasat buruk yang akan terjadi dalam 2 minggu ke depan jika saya tidak kembali ke istana"
"Apa maksudmu, Naru-chan?" Karin tidak bisa tidak menyuarakan pertanyaan dikepalanya mendengar penjelasan Naruto. Naruto tampak menyembunyikan sesuatu, dan itu sangat membuatnya bingung. Apalagi bibinya, Kushina, memintanya untuk menjaga Naruto selama kompetisi ini. Karin tidak tahu mengapa, namun sang bibi memintanya untuk membantu Naruto dalam mengontrol emosinya. Jangan sampai Naruto lepas kendali atau semacamnya. Jangan sampai ada bahaya yang mengancamnya.
"Aku tak bisa menjelaskan lebih lanjut, Onee-sama" Tegas Naruto final, membuat Karin tak bisa berkutik. Dengan begitu Naruto pergi menghadap Raja Fugaku bersama Shizuka dan kedua dayang pengiringnya. Karin ingin menemaninya, namun Naruto menolaknya dengan alasan bahwa Karin adalah pengganti Ratu Mikoto disana, karena Ratu Mikoto sedang ada keperluan lain. Sedangkan Sasuke yang penasaran juga tak bisa ikut, karena dia memiliki kewajiban untuk melihat para putri. Cih, padahal dirinya sangat malas dan sama sekali tidak berminat melihat kompetisi yang menurutnya konyol ini. Dia lebih penasaran dengan apa yang Naruto lakukan, dari pada melihat para putri centil yang berusaha mencari perhatiannya.
TBC
Hai, hai, para Readers... Semoga kalian menikmati cerita ini :)
Jangan lupa R&R yaaaaa :D
See You Next Chapter~
