.
.
.
—Ensiklopedi Bunga Yamanaka―
lavender /common•lavender/ lavandula angustifolia. 1 hubungan yang lekat dan dalam; 2 ketenangan.
.
.
.
Sekelebat bayangan melintas cepat.
Sekilas tampak seperti berkejaran dengan terbenamnya matahari di ufuk barat. Hingga beberapa saat, bayangan gelap itu masih bergerak secepat kilat, lalu perlahan-lahan melambat.
Tepat di dekat sebatang pohon ek raksasa yang separuh cabangnya telah meranggas, sosok gelap itu berhenti.
Ia mengedarkan pandang sebentar ke sekitarnya. Lalu terdengar gumaman rendah dari balik topengnya.
"Empat per lima."
Sosok bertopeng dengan pakaian serba gelap itu kemudian menunduk. Iris gelapnya sempat menyorot tanah beberapa saat sebelum membungkuk dan memulai pekerjaannya.
Sinar senja yang tersisa masih sempat menampakkan seleret motif pada topeng putih yang dikenakannya. Tiga corak hitam di sisi kiri dan kanan.
.
.
.
.
.
.
—Sekuel 'Breeze'―
FLORA
(Tanaman)
Naruto © Masashi Kishimoto
CANON, OOC, TYPO, EYD? RUSH
this story contains implicit & slowburn
romance between Sai and Ino
"chapter ini didedikasikan untuk dia yang tak bisa lagi menanyakan lanjutannya"
ditulis hanya untuk hiburan,
bukan keuntungan material apa pun
.
.
.
.
.
.
Seharusnya memang tidak akan sulit bagi seorang pengguna elemen tanah, api, dan air sepertinya. Lagi pula ini tinggal lah tugas terakhir setelah empat hari berturut-turut ia bergelut dengan rutinitas misi.
Usai memastikan letak koordinatnya, sosok bertopeng itu kemudian duduk bersila. Ia menggerakkan kedua tangannya membentuk segel, lalu meletakkan telapaknya menempel ke atas tanah.
Beberapa detik kemudian, tampak pendar kehitaman yang samar-samar muncul dari bawah permukaan tanah, lalu menggumpal dan berbaur dengan tinta khusus hingga membentuk susunan kode yang tercetak acak di atas lembaran yang juga khusus.
Ia menarik napas lebih lega.
Sembari menunggu serapan aliran chakra—yang sudah dipasangnya dari hari sebelumnya—bertransformasi menjadi kepingan informasi, pria itu termenung. Ia teringat pada penggal percakapan beberapa hari lalu dengan seseorang saat dirinya juga tengah melakukan hal serupa.
'Kau tidak sedang sibuk, 'kan?'
Tidak.
'Kalau begitu, sedang apa?'
Hn?
'Kau. Kau sedang apa?'
Patroli.
... patroli.
... patroli ...
Ia terdiam sampai di sini sementara ingatannya memutar kembali penggal percakapan yang tak seberapa tersebut. Begitu terus berulang-ulang.
Jeda cukup lama hingga pria itu tersadar bahwa pendar kehitaman di bawah telapak tangannya telah memudar. Menandakan jika informasi yang perlu diserapnya sudah hampir habis.
"Lima per lima," desisnya lagi.
Pria itu menegakkan punggung. Hanya dengan gerakan segel sederhana, lembar khusus tadi telah bertransformasi menjadi burung gagak hitam, lalu terbang mengudara.
Sosok bertopeng itu turut bangkit menyudahi pekerjaannya dan bersiap pergi. Senja telah semakin pekat dan malam sempurna datang.
Satu kali lagi.
Ia memang benar-benar sedang patroli.
.
.
.
.
Titik-titik cahaya lampu terlihat sarat dari kejauhan. Seperti gugusan kunang-kunang di kegelapan malam. Begitulah yang terpantul pada sepasang iris pekat yang juga menyamai kelamnya malam.
Sai, pemilik netra hitam tersebut, menatap sorotan titik-titik cahaya tersebut dari kejauhan. Perang memang membawa banyak perubahan. Konoha sudah bukan lagi Desa Daun Tersembunyi.
Itu benar.
Desa Konoha telah memasuki era baru semenjak Hatake Kakashi menjadi Hokage Keenam. Pria berambut perak itu benar-benar menjalankan tugasnya dengan sangat baik. Inovasi penting yang menjadi ciri khusus pada masa pemerintahannya ialah pembangunan infrastruktur dan revolusi teknologi.
Sai sudah sering mendengar soal itu, termasuk dari Ino yang kerap kali membahasnya. Namun sebagai seorang anggota khusus dari Pasukan Tokushu Butai, Sai merasakan sendiri perubahan-perubahan tersebut.
Jika sebelum perang pasukan mereka lebih banyak bergerak manual berdasarkan instruksi langsung, maka saat ini semua menjadi berbeda semenjak Konoha merintis sistem pengamanan berbasis teknologi.
Markas Utama Tokushu Butai telah menggunakan beberapa perangkat teknologi. Salah satunya ialah layar-layar raksasa yang menampilkan situasi keamanan terkini wilayah Konoha.
Terdapat banyak kamera rahasia di berbagai penjuru desa dan terhubung langsung dengan markas. Data-data situasi tersebut dikirim melalui kabel khusus dan ditampilkan di layar, sehingga sebagian besar situasi desa dapat terpantau dengan baik.
Meski demikian, masih ada juga titik-titik dan daerah tertentu dimana perlengkapan teknologi belum mampu menjangkaunya. Terutama di luar batas wilayah Konoha.
Ada alasan tersendiri mengapa Hokage masih memandang perlu untuk menugaskan orang-orang tertentu guna terjun langsung di luar batas wilayah Konoha dan mengawasinya. Di daerah itu pula lokasi patroli Sai saat ini.
Menggunakan prinsip yang kurang lebih sama dengan kamera pengintai, Sai diam-diam melepaskan chakra-nya di suatu lokasi pada area jangkauan tertentu. Sesuai dengan elemen yang dimilikinya, chakra tersebut akan melekat pada tanah dan air. Ia dapat meninggalkannya beberapa waktu untuk kemudian kembali menyerap chakra-nya dan mengubahnya menjadi informasi situasi yang telah terjadi.
Sai dapat melakukan teknik ini berkat penguasaannya yang baik atas chouju giga. Memang tidak sulit baginya, tapi juga bukan teknik sepele. Rekannya bahkan berkomentar jika yang dilakukannya itu boros tenaga dan buang-buang chakra.
Tapi bagaimana tidak?
Ia tentu tak akan menggunakan metode khusus ini tanpa didasari alasan yang pasti.
.
.
.
.
Satu mil arah utara dari gerbang desa, tampak dua sosok yang tengah terlibat dalam pembicaraan. Menilik isi percakapan mereka, nyata jika keduanya adalah rekan kerja yang sama-sama mendapat tugas patroli di utara Konoha.
Mereka memang sengaja bertemu di lokasi yang sudah disepakati tersebut untuk saling melapor secara singkat mengenai perkembangan situasi di wilayah masing-masing sebelum kembali ke desa. Sepertinya pembicaraan keduanya memang tidak butuh waktu lama.
"Jadi?" ujar salah satu di antara mereka begitu pembahasan mereka berakhir.
Sai, lawan bicaranya, memeriksa sekilas catatan di tangannya sebelum menggulungnya kembali dan berujar, "Masih ada sedikit sisa waktu sebelum dini hari." Ia mengangkat wajah menatap rekannya. "Kau sendiri?"
Alih-alih menjawab, rekan yang hanya dua hari lebih muda darinya itu justru berseru dengan penuh semangat, "Yosh~! Mari manfaatkan sebaik-baiknya sebelum pagi datang!"
Benar.
Sai setuju dengan rekannya. Mereka memang harus memanfaatkan waktu singkat tersebut karena keduanya sudah harus kembali patroli esok dini hari.
Begitu tiba di gerbang desa, rekannya yang ahli taijutsu itu mengucapkan kalimat perpisahan dengan semangat yang tak jua berkurang sebelum punggungnya menghilang, "Sampai nanti!"
Sai tidak heran jika Lee selalu bersemangat setiap saat. Ia juga mengerti, setelah nyaris empat hari patroli, Lee tentu tidak sabar untuk segera menjenguk gurunya sebelum kembali bertugas nanti.
Seharusnya Sai juga segera kembali ke apartemennya dan beristirahat walau hanya sebentar. Namun pria itu tidak berpikir demikian. Ini memang sudah hampir pukul sepuluh malam. Sudah sangat malam sebenarnya.
Tapi kakinya tidak bisa ditahan.
Ia memang sedang mendapat tugas patroli bersama Rock Lee. Agak berbeda dari biasanya di mana ia lebih sering mendapat misi seorang diri, atau bahkan misi penyamaran ganda. Akan tetapi kali ini, ia bergerak dalam tim kecil bersama shinobi penuh semangat tersebut.
Sai mempercepat sedikit langkahnya.
... misi ganda ...
... ada pergerakan mencurigakan di sekitar wilayah Konoha ...
Pemuda itu tentu tidak akan lupa kalimat-kalimat Hokage yang diucapkan padanya sebelum menjatuhkan perintah. Terlebih jika mengingat kalimat Hokage selanjutnya.
Semua membuat kepalanya sedikit lebih berat, tapi ia sudah terbiasa. Bahkan untuk kondisi yang jauh lebih rumit dari ini.
Hanya saja, kali ini ada satu hal yang membuat situasinya berbeda.
Langkah kakinya kini terhenti tepat di depan Toko Bunga Yamanaka.
.
.
.
.
Pintu itu terbuka selang dua belas detik setelah ia mengetuknya.
Sai sedikit terkejut mendapati sosok asing mencurigakan yang muncul di baliknya. Sosok asing itu juga tak kalah terkejut saat melihatnya. Keduanya sama-sama terkejut.
Sosok mencurigakan itulah yang lebih dulu berseru kencang, "Astaga! Kukira Sakura!"
Sai diam tak menjawab. Ia masih belum merespons sepatah kata pun. Netra gelapnya hanya menyorot penuh pada sosok yang sangat dikenalnya dan kini berdiri di hadapannya.
Ada apa dengan Ino? Kenapa wajahnya jadi seperti itu?
Bagaimana Sai tidak bertanya-tanya, wajah Ino dipenuhi dengan semacam adonan lunak berwarna kehijauan dan membuat sang kunoichi jadi tampak seperti mengenakan topeng.
Pemilik wajah bertopeng itu kini telah kembali berbicara, "Aku tidak tahu kalau kau akan datang kemari—" dia terdiam tiba-tiba, kemudian berseru panik seraya memegangi kedua pipinya, "Oh tidak! Aku telah membuatnya pecah."
Satu pertanyaan muncul kembali di dada Sai. Apanya yang pecah?
Pemuda itu bisa melihat jemari Ino yang tadinya memegangi kedua pipinya, kini mulai beralih menyentuh pelan-pelan bagian wajah yang lain. "Oh, aku benar-benar membuatnya pecah," ucap gadis itu lagi seolah berbicara pada dirinya sendiri.
Tak bisa terus-menerus berdiam, Sai akhirnya bersuara, "Apa aku mengganggumu?"
Kini ganti Ino yang terdiam dan memandanginya.
Sai tahu, barusan adalah pertanyaan bodoh. Ini sudah larut malam dan dirinya—menurut buku yang pernah dibacanya—telah dengan tidak sopan bertamu ke rumah orang. Terlebih menilik hal yang tengah dilakukan Ino, tampaknya kedatangan Sai benar-benar mengganggu.
Namun pria pucat itu benar-benar lega saat mendengar gadis pirang itu menjawab ringan seakan tak ada apa-apa, "Tentu saja tidak."
Yamanaka Ino membuka pintu rumahnya lebih lebar dengan senyum yang tak pudar, "Masuklah, Sai-kun."
Sekali lagi Sai merasa lega. Ia balas tersenyum tipis sebelum menjawab, "Terima kasih, Ino-chan."
Pemuda itu tahu, Ino tidak berbohong saat mengatakannya.
.
.
.
.
Sai masih duduk tenang di salah satu kursi dekat konter dapur saat Ino muncul dengan wajah segar. Gadis itu baru kembali dari kamar mandi setelah mencuci muka dan membersihkan sesuatu—Sai tidak yakin menyebut benda lunak kehijauan tersebut sebagai adonan—di wajahnya.
Pemuda pucat itu masih belum mengatakan apa pun ketika Ino menaruh ketel di atas kompor lalu menyalakannya. Sambil merebus air, gadis itu juga membuka lemari gelas dan meraih satu set cangkir yang agak besar. Tiba-tiba Ino menoleh ke arahnya dan bertanya, "Bagaimana kabarmu?"
Sai tak lekas menjawab.
Yang didengarnya barusan memang pertanyaan standar. Sekalipun mereka berada dalam satu wilayah penugasan yang sama, namun aktivitas masing-masing membuat keduanya tak lagi sering bertemu muka. Satu hal yang dicatat Sai ialah Ino tidak menanyakan tujuan kedatangannya kemari yang tiba-tiba—yang mana Sai mungkin akan sedikit kesulitan menjawabnya—tetapi gadis itu justru menanyakan kabarnya.
Sai ingat, beberapa hari lalu Ino pernah mengancam. Jika Sai tidak jua memberi kabar, maka gadis itu akan menghantui dan menerornya dengan telepati kapan pun gadis itu ingin—namun kemudian tidak pernah dilakukan oleh Ino.
Sama halnya dengan dirinya sendiri.
Mereka tidak bertukar kabar.
"Aku baik," jawab Sai pada akhirnya. Ia hanya memandangi Ino tanpa melontarkan kalimat tanya. Namun gadis yang dipandanginya ini memang kelewat tanggap akan pertanyaan yang tak diungkapkannya.
"Aku, ya?" Ino bertanya sambil membuka kulkas dan mengeluarkan botol berukuran sedang dari dalam sana. Ia kemudian tertawa. "Hahaha. Seperti yang kaulihat."
Gadis itu menyempatkan diri menoleh ke arahnya dan tersenyum lebar. Membuat Sai ikut tersenyum melihatnya.
"Omong-omong kau sudah makan?" Ino tiba-tiba bertanya dengan nada selidik sebelum kembali berkutat dengan minumannya. "Kau kelihatan pucat."
Sai tak segera menjawab. Ia melirik sekilas punggung tangannya yang memang pucat sebelum kembali menatap gadis di balik konter tersebut.
Menyadari tak terdengar tanggapan apa pun, Ino menolehkan wajahnya dan tertawa lagi. "Ya, ya, Tuan Kulit Pucat." Ia melanjutkan perkataannya dengan lebih serius, "Maksudku, kau tampak lebih pucat dari biasanya."
"Aku sudah makan," jawab Sai cepat. Daripada itu, Sai lebih tertarik membahas soal lain. "Yang tadi itu apa, Ino-chan?"
"Heh? Yang tadi yang mana?"
"Sesuatu yang menempel di wajahmu."
"Oh?" Ino terdiam sebentar lalu tertawa pelan. "Hahaha. Itu ... aku sedang memakai masker."
Kali ini Sai benar-benar tertarik. "Masker?"
"Ehm. Bukan masker seperti milik tuan Hokage. Tapi ini ... masker ... untuk ... yah, untuk merawat kecantikan." Sepertinya Ino sedikit malu mengatakan ini tapi ia berusaha mengatakannya dengan punggung tegak dan dagu terangkat.
Sai masih menatap Ino dengan tatapan yang tak berubah. Tiga detik kemudian barulah ia berkomentar, "Menurutku kau sudah cantik."
Ino merona. Namun ia segera menutupinya dengan tawa ringan dan kalimat narsis, "Aku sudah tahu dari dulu."
Sai tersenyum mendengar tanggapan Ino. Ia sudah terbiasa dengan sifat narsis gadis aquamarine tersebut dan ia tidak pernah keberatan.
"Tapi maksudku," Ino menghentikan tawanya dan tampak berusaha menjelaskan, "kecantikan bisa hilang kalau tidak dirawat."
Sai masih pada sikap tenangnya yang siap mendengarkan, sementara Ino melanjutkan penjelasannya sambil sesekali berdehem. "Belakangan ini aku seringkali terpaksa begadang. Masker yang kupakai tadi bahannya dari teh hijau. Gunanya untuk, ehm, merawat kulit dan menyamarkan kantung mata. Kau tahu, Sai-kun, ada bermacam-macam kegunaan masker tergantung bahannya. Misalkan umm ... tomat untuk menyegarkan, bengkuang untuk memutihkan, lalu err ... minyak zaitun untuk melembabkan dan meremajakan ..."
Kali ini Sai berpikir lain.
"... kemudian kentang ... umm ... menghilangkan noda ..."
Pemuda pucat itu merasa lebih tertarik dengan ekspresi Ino yang sekarang dibanding mendengarkan penjelasannya tentang jenis-jenis masker wajah dan kegunaannya.
"... lain lagi dengan madu untuk antioksidan ... ehm ... sedangkan beras ..."
Di mata Sai, gadis di depannya ini tampak semakin menarik saat dia jadi setengah gugup bicara dengan pipi memerah. Langka rasanya melihat Ino yang seperti ini. Terlihat berkali lipat lebih unyu.
Pria itu baru tersadar saat Ino tiba-tiba bertanya, "Kau bisa menangkap maksudku, 'kan?"
"Oh?" Sai menegakkan kepalanya sebelum balas merespons, "Ya."
"Apa penjelasanku rumit?" Ino memiringkan wajahnya.
"Tidak."
"Kupikir kau akan bosan mendengarnya."
Sai tersenyum tanpa melepas tatapannya, "Sama sekali tidak."
Bunyi air mendidih memutus sejenak obrolan ringan mereka. Ino mengangkat ketelnya, lalu menuangkan isinya ke dalam cangkir bersama isi botol tadi. Ia sempat menambahkan campuran bahan lain sebelum mengaduknya.
Usai menyelesaikan minumannya, gadis itu membawanya ke meja konter, lalu meletakkannya di hadapan Sai dan duduk di sebelah pria pucat itu. "Minumlah," ucapnya dengan senyum lebar.
Sai masih bergeming dan hanya memandang wajah cerah di depannya.
"Susu dengan tambahan madu dan sedikit vanilla," Ino berkata lagi menjelaskan minuman yang dibuatnya. Ia mengedipkan sebelah matanya dan berujar setengah tertawa, "Enak lho. Hahaha. Kau harus mencobanya."
Sai masih tetap bergeming.
Menyadari pria di depannya tak jua memberi respons, Ino menghentikan tawanya. Gadis itu mengerutkan dahi mulusnya dan bertanya, "Ada ap—"
Namun Ino tidak sempat menyelesaikan ucapannya karena Sai telah mengangkat tangan kanannya dengan tiba-tiba dan menyentuh pipi Ino.
Sontak gadis itu terdiam. Aquamarine-nya sempat melebar dan pipi pemiliknya bersemu.
Keduanya sama-sama terdiam. Sai masih menatap Ino lurus sementara tangan kanannya berada di pipi gadis itu, sedangkan Ino juga tak bergerak dan hanya balas menatap netra gelap tersebut. Untuk beberapa saat lamanya mereka berdua masih tak beranjak.
Entah pengaruh masker teh hijau—seperti yang dikatakan Ino barusan—atau apa, tapi kulit pipi Ino terasa lembut sekali di tangan Sai dan membuat pria itu betah berlama-lama menyentuhnya. Ia tidak berniat segera memindahkan tangannya dari sana.
Sudah lewat sekian detik dan tak jua terdengar suara. Baik ia maupun Ino, sama-sama tak ada yang memulai bicara.
Keheningan tersebut membuat Sai tersadar. Ia segera bermaksud menarik tangannya. Namun Sai tidak sempat melakukannya karena Ino telah lebih dulu mencegahnya dengan punggung tangan.
Gadis itu balas meletakkan tangan di atas punggung tangannya. Tersenyum tanpa mengatakan apa-apa.
Hangat.
Tangan Sai yang berada di antara kulit pipi dan telapak tangan gadis itu terasa hangat. Rasanya, ia sudah tidak butuh lagi minuman panas.
Semakin hangat dan menenangkan kala pandangan mereka kembali saling bertatapan.
Kalau bisa, Sai tidak ingin berkedip barang sedetik pun.
.
.
.
.
Kini keduanya telah berpindah duduk di sofa ruang tamu. Ino kembali berkutat dengan berkas-berkas yang semula ditekuninya sejak sebelum kedatangan Sai. Namun gadis itu masih jua menyempatkan diri bertanya pada pria pucat itu, "Bagaimana dengan tugasmu?"
"Dini hari nanti aku sudah harus kembali." Sai yang duduk tepat di sebelah gadis itu menjawab singkat sementara iris hitamnya memandangi gerak-gerik Ino yang disibukkan dengan dokumennya.
Sai sendiri sudah tahu jika Ino tergabung dalam proyek pengembangan alat komunikasi bersama Divisi Riset dan Teknologi.
Saat ini, Konoha masih bergantung pada pengiriman data melalui metode ninja, baik dengan mengutus shinobi khusus atau melalui jutsu telepati. Dua cara ini sama-sama tidak praktis sebab membutuhkan sejumlah tenaga dan menghabiskan sekian chakra.
Untuk jarak dalam jangkauan tertentu, mereka memang sudah dapat menggunakan jaringan informasi melalui kabel khusus, seperti yang digunakan oleh Markas Tokushu Butai guna memantau sistem keamanan Desa.
Namun untuk kelancaran proses pengiriman data jarak jauh, mereka masih harus membentuk jaringan telekomunikasi nirkabel terlebih dahulu. Inilah tujuan utama proyek dimana Ino bergabung di dalamnya. Jika proyek ini berhasil, tentu akan sangat berguna bagi sistem pengamanan dan juga telekomunikasi.
"Pekerjaanku memang sedang sangat menumpuk dan ... yah, lagi-lagi aku harus begadang."
Kalimat Ino barusan telah memutus lamunan Sai. Gadis itu masih sempat mengakhiri perkataannya dengan tawa ringan. Nampaknya Ino menyadari arah pandang Sai yang sedari tadi tertuju pada tumpukan dokumennya.
"Kalau begitu aku akan menemanimu," tanggap Sai kemudian.
Ino ganti menatapnya. Raut wajah gadis itu tiba-tiba berubah lebih serius kala memandangi wajahnya dengan seksama. "Kau tampak kurang istirahat, Sai-kun," ujarnya dengan sorot menyelidik dan kepala setengah miring.
"Tidak juga."
Namun seperti biasa, gadis di depannya ini tidak mudah percaya. "Oh ya? Kapan terakhir kali kau tidur?"
Sai mengingat sebentar. "Mungkin tiga hari yang lalu," jawabnya jujur. Tiga hari ini ia memang nyaris tidak sempat memejamkan mata.
Namun mendengar jawaban kelewat jujur tersebut membuat Ino menepuk dahinya sendiri dan berseru kencang, "Kau?! Bagaimana bisa—!"
"Biasanya juga seperti itu, Ino-chan."
"Tidak, tidak," sergah wanita pirang itu cepat. Ia menggelengkan kepalanya keras-keras dan berujar tegas, "Kurang tidur adalah musuh utama kesehatan—dan kecantikan."
Sai mengerti jika Ino saat ini sedang tak ingin dibantah. Karena itu ia hanya bergumam mengiyakan meski sebenarnya ia tidak merasa mengantuk.
Namun pria itu tidak menduga.
Ino tiba-tiba mengubah posisi duduknya menjadi lebih rileks sebelum menoleh ke arahnya dan tersenyum lebar seraya menepuk bantal sofa yang tahu-tahu sudah berada di pangkuannya.
"Sini."
Sai tidak lekas menangkap maksud Ino. Alis hitamnya berkerut samar.
"Kemarilah, Sai-kun."
Apa maksudnya mendekat?
Sai masih menerjemahkan perkataan Ino ketika kunoichi pirang itu memandanginya tak sabar. Gadis itu bahkan sudah lebih dulu menariknya mendekat.
Oh tidak, menurut Sai ini bahkan terlalu dekat. Amat sangat dekat.
"Tunggu—"
"Ssshhh, sudaaah. Tidur saja, oke? Kau sendiri yang berpesan padaku agar tak memaksakan diri. Ingat?"
Sai tentu tidak lupa kalimat yang diucapkannya saat di Suna dulu. Rasanya kejadian ini menjadi agak mirip dimana saat itu ia lah yang memaksa Ino beristirahat. Sedangkan kini, Ino melakukan hal yang sama padanya.
Akhirnya Sai mengalah dan merebahkan kepalanya, menuruti gerak tangan Ino yang memaksanya berbaring di pangkuan gadis pirang itu.
Namun Sai segera merasa aneh tatkala melihat wajah Ino dari bawah. Biasanya, ia harus sedikit menunduk untuk menyaksikan wajah itu. Tapi kali ini ia mendongak.
Sai sudah sangat hafal detail kontur wajah Ino dari tampak depan hingga 150 derajat ke samping kanan dan kiri. Ia juga mengingat dengan baik garis wajah gadis pirangnya hingga 90 derajat ke atas.
Akan tetapi sudut penglihatan dari arah ini adalah suatu hal baru baginya. Jika selama ini ia lebih sering memandangi mata biru Ino, lengkap dengan bulu mata dan alis pirangnya, maka kali ini yang tertangkap lebih dulu oleh pandangannya adalah dagu gadis itu.
Sai bisa melihat lebih jelas gerak bibir Ino ketika ia tersenyum. Senyum yang selalu menyenangkan untuk dilihat dan membuat kepenatan yang tadi sempat dirasakannya seolah menguap pelan-pelan.
Sesuatu yang lembut kemudian terasa menyelusup rambut hitam Sai. Pemuda itu tidak bisa mendefinisikan kenyamanan yang dirasakannya saat sesuatu yang lembut itu menyentuh halus kulit kepalanya dan membelai perlahan helai rambutnya. Apa pun itu, telah membuat kelopak matanya secara tiba-tiba menjadi terasa berat—
"Tidurlah ..."
—menyusul kalimat yang terdengar seperti mantra alunan peri tidur—
"... Sai-kun."
—dan perlahan-lahan membuatnya terbuai. Seperti berada di tempat teraman di dunia dimana ia tidak perlu merasa cemas dan khawatir lagi.
Detik berikutnya, ia benar-benar terlelap.
.
.
.
.
Ia memang benar-benar terlelap. Terutama ketika indra penciumannya menghirup samar-samar aroma menenangkan yang semakin membuatnya ingin tertidur.
Sai mengenal aroma ini. Ia sempat luput memperhatikannya. Tapi ia tahu, ini aroma ruang tamu Ino. Mereka sudah pernah membahas sebelumnya.
"Aku suka aroma lavender untuk teman begadang. Wanginya membuatku tenang." Begitu kata Ino saat makan malam bersama dua minggu yang lalu. "Dalam medis, lavender juga sering digunakan untuk aromatherapy," gadis itu kembali bercerita.
"Bukankah biasanya seseorang akan semakin mengantuk jika menghirup aromatherapy?"
Sai ingat, ia bertanya seperti ini karena merasa heran dengan kebiasaan tak lazim Ino yang memilih lavender sebagai teman begadang.
Namun gadis itu justru tertawa.
Alih-alih menjawab pertanyaannya, Ino malah balik bertanya, "Tahu tidak, makna lain bunga lavender?"
Sai belum sempat merespons dan sepertinya Ino memang sengaja tidak memberinya jeda. Gadis itu sudah berujar lebih dulu menjawab sendiri pertanyaannya, "Tentang sebuah hubungan yang dalam."
Jawaban itu membuat Sai sedikit mengerutkan kening. "Hubungan yang dalam."
Ino tampak sudah sangat paham dengan kebiasaan Sai yang mengulang kalimat lawan bicaranya. Kunoichi pirang itu hanya tersenyum penuh rahasia sambil menjawab, "Nanti kau akan mengerti."
Kalau sudah begini, Sai tahu, Ino betul-betul tidak akan memberitahunya meski ia menanyakannya.
.
.
.
.
Percakapan itu seolah baru terjadi kemarin. Sai masih mengingat dengan jelas kata demi kata yang diucapkan keduanya, juga ekspresi dan mimik wajah Ino saat mengatakannya.
Namun sepertinya, pemuda itu jadi makin penasaran sekarang. Sangat penasaran hingga kenyamanan yang sempat melenakannya kini entah kenapa membuatnya tak tenang. Atau ia memang sudah tidur terlalu lama?
Kelopak matanya spontan terbuka.
Pemuda itu sedikit terkejut mendapati pemandangan yang dilihatnya pertama kali adalah ruang tamu yang tampak familier. Ia mengenal ruang tamu ini, terlebih pemiliknya. Ia segera ingat, dirinya telah dipaksa tidur di pangkuan gadis pemilik ruang tamu itu.
"Ino?" gumamnya rendah.
Ia menggerakkan sedikit kepalanya ke samping dan menemukan alasan mengapa sosok yang dipanggilnya tak menyahut. Ino telah tertidur dalam posisi duduknya dengan kepala miring. Tangan kirinya masih menggenggam kertas dokumen sementara tangan kanannya memeluk tangan kirinya. Ketika Sai menolehkan kepalanya ke arah berlawanan, ia menyadari bolpoin Ino terjatuh di lantai.
Ternyata dia juga begitu.
Hati-hati, pemuda itu bangkit dari posisi berbaringnya. Iris hitamnya menangkap letak jarum jam di dinding. Rupanya sudah lewat tengah malam. Berarti sudah satu jam lebih ia tertidur. Sai menyangsikan dirinya bisa tertidur lagi dalam keadaan seperti ini.
Pemuda itu masih berpikir apa yang sebaiknya ia lakukan ketika dirinya dikejutkan dengan tubuh tak sadar Ino yang tiba-tiba bergerak. Refleks, Sai bergeser mundur. Tapi ternyata gadis itu tidak terbangun. Kelopak matanya masih terpejam dengan tangan yang tampak semakin saling mendekap.
Sai segera tersadar dengan apa yang dilihatnya. Pemuda itu masih sempat mengamati sejenak posisi tidur Ino ketika arah pandangnya tertuju pada benda yang masih berada dalam genggaman tangan kecil itu. Kertas dokumen.
Dengan hati-hati, Sai menggerakkan tangannya mengambil alih kertas tersebut dari tangan Ino sepelan mungkin. Setelah berhasil mendapatkannya, pria itu juga membungkuk, memungut bolpoin yang terjatuh, lalu meletakkan kedua benda tadi dengan rapi bersama tumpukan dokumen lainnya di atas meja.
Usai melakukannya, ia kembali memandangi wajah tidur Ino yang terlihat damai.
Ino tampak bergerak lagi. Kedua tangannya saling mendekap semakin erat. Sai kini mengerti, gadis di sebelahnya itu sebenarnya tengah menggigil. Ia pasti kedinginan dan Sai jadi tidak tega melihatnya.
Sai tahu dirinya menyebalkan karena lagi-lagi berniat menggunakan jutsu-nya untuk menggambar selimut karena ia tidak mungkin menyelinap ke kamar tidur gadis itu demi mengambil selembar selimut. Atau menjadikan taplak meja di depannya sebagai selimut.
Pemuda itu sudah berniat melakukannya dan hendak meraih kuasnya. Namun secara tak terduga, kepala Ino bergerak dan menimpa bahunya. Menghentikan seluruh pergerakannya dan mengurungkan intensinya untuk melakukan segel jutsu-nya.
Sai terdiam sementara jantungnya secara tidak dikehendaki telah berdetak sekian kali lebih kencang.
Sebentar.
Tunggu sebentar.
Ia butuh menghirup udara dengan normal.
Rasanya ini jadi agak sedikit aneh jika dibandingkan dengan kejadian-kejadian sebelumnya dimana ia telah terbiasa menggenggam tangan Ino, memegang bahunya, dan menyentuh pipinya. Bahkan ia juga sudah pernah memeluknya. Lalu mengapa sekarang berbeda?
Hn, sepertinya jantung dan paru-paru memang dua organ tubuh yang paling sulit diajak kompromi.
Memberanikan diri, pria pucat itu melirik perlahan ke arah samping dan menyadari jika rambut pirang itu dekat sekali dengan kepalanya. Ia bahkan bisa mencium wangi helai lembut tersebut. Sel abu-abu di kepalanya berputar.
Ia tidak tahu wangi bunga apa yang menerpa indra penciumannya. Yang jelas, ini lebih wangi dari aroma bunga-bunga yang pernah diingatnya. Ah, mungkin ia bisa menanyakannya saat Ino bangun nanti.
Selama beberapa saat berikutnya, ia hanya terdiam kaku sementara isi kepalanya telah kembali sibuk berpikir bagaimana caranya agar ia bisa memakai jutsu tanpa menganggu tidur Ino. Dan Sai menjadi semakin terdiam ketika tubuh tak sadar Ino mulai mencari kenyamanan dari dinginnya malam.
Secara naluriah pula Sai menggerakkan tangannya, menahan tubuh gadis itu agar tidak terjatuh atau oleng. Tanpa sadar, ia menahan napas lega ketika Ino sepertinya telah menemukan posisi nyamannya dan tak bergerak-gerak lagi.
Hm?
Sai segera menyadari posisinya sekarang. Ino masih menyandarkan kepalanya di bahu kirinya. Sementara tangan kanan Sai memutari punggung gadis itu dan menahan bahu kanannya.
Bagus.
Ini lebih tidak baik lagi bagi jantungnya.
Tapi sepertinya ... ia menyukai posisi mereka yang seperti ini?
Sai kini benar-benar membatalkan niatnya untuk memakai jutsu-nya. Sebagai gantinya, pria itu justru merilekskan tubuhnya. Ia menyandarkan punggungnya sendiri ke sofa lalu bergerak lebih hati-hati merangkul sosok di sampingnya. Memeluk tubuh kecil yang bersandar di bahunya.
Hingga beberapa saat, tidak ada gerakan sama sekali dari Ino selain desah napasnya yang teratur. Sai menghela napas lega. Ino sudah tidak kedinginan lagi.
Kini ia merasa bisa lebih rileks. Atensinya pun mulai beralih pada hal lain. Ia sudah beberapa kali memeluk Ino. Aroma gadis itu seharusnya tak asing baginya, tapi selalu membuatnya seperti kecanduan. Dan kini, aroma wangi itu menggodanya dan memanggilnya untuk mendekat.
Membiarkan dirinya tergoda, Sai meletakkan dagunya perlahan pada pucuk kepala Ino. Ia langsung menyukai sensasi saat kulit dagunya bergesekan dengan helai pirang lembut milik Ino. Ia juga menikmati saat hidungnya menghirup semerbak wangi yang tak akan membuatnya bosan. Sai menganggap wangi ini lebih menenangkan dibanding aromatherapy dari lavender.
Sejenak, ia bisa merasakan lehernya sedikit geli karena hembusan napas teratur Ino yang menerpa kulit lehernya. Tapi juga nyaman. Dan sekali lagi membuatnya ketagihan.
Ketika ia mengeratkan dekapannya, ia bahkan bisa merasakan denyut nadi Ino yang teratur. Secara menyebalkan, jantungnya sendiri telah kembali tenang dan berdetak seirama dengan gadis yang tertidur dalam dekapannya.
Menyenangkan.
Dan menenangkan.
Hm, sepertinya ia mulai sedikit mengerti maksud "hubungan yang dalam" seperti yang pernah mereka perbincangkan dulu.
Kelopak matanya kini mulai terasa berat. Kantuknya telah kembali datang. Sepertinya, ia akan tertidur lagi sampai dini hari nanti.
.
.
.
TBC
.
.
.
Mungkin mereka berdua memang sama-sama butuh istirahat.
Jadi, jangan ganggu mereka, ya.
A.N:
Chapter ini tenang banget yak? Dan cenderung datar hahaha. Nyesuaiin judulnya sih. Btw ada yang udah baca Boruto Novel? Eaaaaa~ di situ Boruto berpendapat kalo kelemahan Sai itu Ino. Ciye ciye ciye~
Tapi kayaknya emang dari awal kemunculan Sai sampai sekarang, aku juga belom nemu scene Sai bicara tajam atau bersikap jahat ke Ino. Jadi gapapa yah kalo Flora isinya manis-manis melulu (?). Lagi pula ini fic ringan untuk senang-senang kok. Semoga terhibur :))
Konflik? Ditunggu aja. Pelan-pelan nanti bakal makin keliatan XD
Boleh aku tahu tanggapan tentang chapter ini? Tiga bulan ditelantarin, tulisanku berasa kaku ngets hiks (digilas)
Bales ripiuw non-login (urut abjad)
adel : hiks, maaf apdetnya lama banget :'(
Anon : te-terharu. Aku juga butuh dosis SaiIno lebih banyak. Yuk bikin fic mereka :*
anonim : peluk :* maaf lama yak :"
Ayam Rusa : emansipasi wanita yak XD yuhuu, menunggu emang ga pernah membuatku merasa bosan (angkat dagu pasang sunglasses). Aw aw aw~ kirim sejuta tanda cinta juga untuk qaqa Rusa di seberang sana :*
catleaf : mantanku Sai emang kelewat unyu :3
guest : hehe maaf yak baru nongol :')
Indri : halo kakak tjantik :* aaaargh~ aku juga ga kuat aaaargh (?) kapan ya ada yang bilang "aku merindukanmu" gitu ke aku :(
Ita : ahh ... ja-jangan diabetes dong~ pake gula tropic*ana slim aja biar ga diabet (?) hihi
Namikaze Widi : Inojin belom dibuat(?) sama Papa Mamanya, jadi belom bisa nongol :3
rubyS : kyaaaaaa~ gimana kalo kena pelukan sayang dariku aja? ;)
salma : udah lanjut :D ikut seneng kalo kamu suka :))
Scarlett : doki-doki yah XD ini chapter terbarunya :3
The Girl : maaf lama banget yak update-nya. Kyaa ceritanya kurang memuaskan di bagian mana? ;) Sini yuk biar aku puasin(?) :*
wildcherry : Sai ngga bisa sok-sok-an dingin kalo sama Ino :D aw aw ikut senang kalo kamu suka Breeze :3
Aku saaangat menyayangi kalian. Terima kasih semuanya! v(^.^)v
Btw kerasa nggak kalo Sai sebenarnya kangen Ino di chapter ini? Haha tentang apa isi pikiran Ino malam itu, nanti di chap depan yak XD
Wussss~ Lala ikutan bobo meluk SaiIno :3
