"Kau yakin sudah benar-benar membuat perjanjian dengannya?" Tao berbisik pelan saat berjalan melewati Sehun ketika keluar dari kelas siang itu.

"Sudah"

"Lalu kenapa ia tidak pernah menghubungimu? Ini sudah satu minggu, Lu."

Luhan mengangkat bahu acuh, "Mana kutahu."

"Yak, bukankah seharusnya kau bertanya?"

Kekekah kecil terdengar disamping mereka hingga Tao dan Luhan serentak memutar mata menatap arah kekehan itu. "Kau khawatir sekali, Tao-ya. Bahkan Luhan saja tidak khawatir" Kyungsoo masih terkekeh kecil.

Tao mendengus, "Aku tidak khawatir, hanya penasaran saja. Kekasihnya tidak menghubungi sama sekali" Ia menunjuk Luhan.

"Please, Tao. Itu hanya pura-pura" Luhan memutar bola matanya dan Kyungsoo terkekeh lagi.

"Tapi tetap saja ia kekasihmu!"

"Hanya saat ia membutuhkannya, saat ini kami bukan siapa-siapa."

"Ugh, kau menyebalkan!" Tao membuang muka kesal dan lagi-lagi disambut oleh kekehan Kyungsoo, bahkan kali ini Luhan juga ikut.

"Jangan terlalu mengkhawatirkan Luhan, baby panda" Kyungsoo menepuk pelan bahu Tao.

Luhan mendengus, "Jangan terlalu hanyut kedalam drama di otakmu."

Greb!

Sepasang lengan mengalung masing-masing disebelah bahu Luhan dan Kyungsoo diikuti tubuh yang menempel tepat ditengah-tengah kedua gadis itu.

"Apa Tao menjadi drama queen lagi?" Kim Jongin bertanya santai tanpa mempedulikan kekagetan dua gadis yang sedang dirangkulnya. Luhan hanya memutar bola mata sedangkan Kyungsoo menarik tangan Jongin dan menyentak lepas dari lehernya.

"Aww appo, Soo."

"Jangan sembarangan merangkulku!"

Jongin merengut dan sebagai gantinya merangkulkan kedua tangannya di leher Luhan, "Aku bersamamu saja kalau begitu."

Luhan mengabaikan Jongin dan melanjutkan langkahnya yang menjadi sedikit sulit karena pria yang sedang bergantung di lehernya. Namun baru beberapa langkah, sesosok tubuh tinggi berjalan cepat disebelahnya, menguarkan bau maskulin khas cologne pria yang dibawa angin dari langkahnya. Sosok itu berjalan tenang, tanpa menyapa atau bahkan melihat kepada kelompok Luhan yang berjalan pelan.

Namun bahkan tanpa melihat wajahnya pun Luhan sudah tahu siapa yang melintas hanya dengan melihat bagian belakang pria itu. Tubuh ramping tinggi dengan rambut hitam yang dipotong rapi. Oh Sehun. Pria yang baru-baru ini membayarnya untuk menjadi kekasihnya.

Tapi Luhan tetaplah Luhan, bahkan setelah perjanjiannya dengan Sehun, gadis itu tidak peduli sama sekali. Ia justru mendengus memandang Sehun yang melintas tanpa setidaknya menyapa atau memandang kearahnya.

.

"Aku tidak akan masuk ke kelas berikutnya" Luhan berkata saat dilihatnya Kyungsoo berdiri. Mereka baru saja menyelesaikan makan siang di kantin dan seharusnya ada satu kelas lagi yang harus diikutinya setelah ini.

Kyungsoo menahan gerakannya, "Kenapa?"

Luhan hanya mengangkat bahu.

"Jangan mulai lagi. Kita harus masuk!"

"Kalau begitu aku juga tidak masuk" Tao memukul meja dengan sebelah tangannya, menatap Kyungsoo dengan senyum manis.

Kyungsoo mendesah keras, "Bukankah sudah kuperingatkan bahwa kuliah adalah hal yang penting?"

Tao beringsut mendekat pada Luhan, "Apa kau yakin dia teman kita?" Bisiknya.

"Aku mendengarmu, Tao!"

Tao terkikik kecil, "Ayolah, Soo. Kali ini saja."

"Tidak. Ayo berdiri sebelum aku menyeret kalian berdua!" Kyungsoo menjentikkan jarinya memberi perintah. Kedua temannya ini boleh saja menjadi gadis liar dan kurang ajar, tapi ia akan memastikan mereka berdua tidak menyia-nyiakan masa depan di tempat ini.

Tao mendecak kesal namun tetap menuruti ucapan Kyungsoo. Kyungsoo mungkin memang yang paling kecil diantara mereka bertiga, tapi jika itu menyangkut tenaga, ia dan Luhan tidak bisa melampaui gadis itu. Jadi daripada Kyungsoo benar-benar menyeret dan membuat harga dirinya luntur didepan semua orang, lebih baik mengikuti saja ucapannya.

"Lu?" Kyungsoo menatap Luhan, menunggu gadis itu untuk berdiri.

"Aku akan menemuinya hari ini, Soo."

Kyungsoo dan Tao terdiam beberapa saat mendengar ucapan Luhan. Setelah beberapa detik barulah Kyungsoo berbicara lagi, "Oh, apakah hari ini?"

Luhan mengangguk.

"Maaf kami melupakannya, Lu. Kau ingin kami menemanimu?" Pertanyaan Kyungsoo membuat Luhan tertawa kecil.

"Bukankah kau tidak ingin ketinggalan kelas?"

"Sudah kubilang kan, kita tidak usah masuk setelah ini" Timpal Tao yang dihadiahi tatapan tajam Kyungsoo.

"Tidak usah. Kurasa aku akan menghabiskan waktu lama hari ini. Ada yang ingin kuceritakan" Luhan menggelengkan kepalanya menolak tawaran Kyungsoo.

"Tapi kami benar-benar bisa menemanimu, Lu. Membolos satu kelas tidak akan masalah."

"Tao sangat bodoh, ia tidak akan lulus jika terus membolos" elak Luhan dengan mengarahkan dagunya pada Tao.

"Yak! Kau juga bodoh!" Balas Tao cepat.

"Baiklah, hubungi aku nanti, oke?" Kyungsoo memberi gestur dengan tangannya, meminta Luhan menghubunginya.

Luhan mengangguk, "Pergilah, kalian akan terlambat!"

Kyungsoo balas mengangguk lalu menggandeng Tao untuk berjalan meninggalkan Luhan. Sedangkan Tao melambaikan tangannya yang juga dibalas dengan lambaian singkat oleh Luhan.

Suasana tempat itu mendadak hening karena kedua temannya sudah pergi. Apalagi tidak ada Tao yang biasanya selalu mengoceh. Luhan mengaduk dan menyesap minumannya kemudian mengecek jam di ponselnya, sudah saatnya ia pergi.

Gadis itu membereskan tasnya ketika ponselnya yang terletak diatas meja bergetar singkat menandakan ada notifikasi yang masuk. Ia mengambil ponselnya, menyergit heran ketika mendapat sebuah pesan dari nomor yang tidak dikenalnya.

Sudah waktunya untuk pekerjaan pertamamu. Tunggu aku di gerbang kampus.

Tidak ada nama pengirim, hanya pesan bernada perintah. Awalnya Luhan mengerutkan dahinya bingung sebelum kemudian ingat tentang 'pekerjaannya'. Ia mengerang keras. Haruskah hari ini? Dari semua hari-hari yang ada Oh Sehun berniat untuk mengganggunya hari ini. Benar-benar menyebalkan.

Saya memiliki kelas siang ini.

Ia mengetik cepat. Tidakkah Oh Sehun itu tahu bahwa ia seorang mahasiswa? Seenaknya saja menyuruhnya!

Aku tahu kau tidak masuk ke kelasmu, miss Xi. Cepat bergerak, tunggu aku di gerbang kampus!

Luhan melongo membaca balasan pesan Sehun. Darimana pria itu bisa tahu ia tidak masuk ke kelasnya? Sontak kepala Luhan bergerak liar dan matanya melihat kesana-kemari mencari-cari kalau saja Sehun sedang memandanginya, tapi tidak ada apa-apa. Bahkan tidak banyak mahasiswa di kantin saat ini. Ia kemudian menatap ponselnya lagi, menggerakkan tangannya hingga hampir meninju ponselnya sendiri, berkhayal seolah-olah yang akan ditinjunya adalah Oh Sehun.

Kesal, Luhan berjalan menghentak meninggalkan kantin. Sungguh Oh Sehun sudah mengacaukan rencananya. Tapi yang lebih parah lagi, ia tidak bisa membantah ucapan Sehun mengingat ia sendiri yang sudah menyetujui pekerjaan ini.

Ia berdiri di depan gerbang kampus, berusaha menyurukkan tubuhnya rapat-rapat ke tembok agar terhindar dari sengatan matahari. Namun hingga 10 menit menunggu, Sehun masih tidak muncul. Ia bersumpah serapah dalam hati, mengutuki Oh Sehun yang membuatnya harus kepanasan seperti ini. Tidak ada yang lebih memalukan jika orang melihatnya berdiri seperti ini di gerbang kampus dan ia harus mengalaminya karena Oh-sialan-Sehun itu.

Untunglah tidak lama setelah itu sebuah BMW sport berwarna ebony berhenti tepat didepannya. Kaca mobil itu bahkan sudah terbuka sejak sebelum mobil berhenti sempurna didepan Luhan, menampilkan wajah Oh Sehun yang menjulurkan kepala ke arah jendela, menatap Luhan dari balik kacamata hitam yang dipakainya.

"Masuklah!"

Luhan mendengus sebelum membuka pintu mobil dan ketika ia baru saja menutup kembali pintu itu, mobil yang ditumpanginya sudah melesat, meninggalkan derum kecil sebagai tanda bahwa mobil itu memiliki tenaga yang kuat. Luhan yakin ia akan terkagum-kagum dengan mobil ini seandainya saja pemiliknya bukan orang menyebalkan yang sudah mengganggu harinya.

"Anda sedang terburu-buru?" Tanyanya ketus saat tubuhnya terhempas ke sandaran tempat duduk ketika Sehun menginjak pedal gas dalam. Ia bahkan belum sempat memakai seatbelt.

"Tidak juga, hanya tidak ingin ada yang melihat."

Luhan mendengus lagi. Tidak ingin ada yang melihat? Ia tidak sememalukan itu. Bahkan ada banyak pria yang antri demi mendapatkan perhatiannya.

"Kau berkeringat" Sehun berbicara lagi, mengomentari penampilan Luhan tanpa mengalihkan pandangannya dari jalanan didepan mereka.

Mendengar komentar Sehun membuat Luhan mau tidak mau merasakan kekesalannya lagi. Tentu saja ia berkeringat karena terpaksa menunggu lama saat cuaca sepanas ini.

"Hmm" balasnya pelan. Seandainya Sehun bukan dosennya, sudah dipastikan pria itu akan mendapatkan sumpah serapahnya saat ini juga. Untung saja Luhan masih mempertahankan sedikit kesopanan didepan pria itu.

Sementara itu tanpa diketahui Luhan, Sehun diam-diam tersenyum kecil. Ia tahu Luhan menunggunya cukup lama, bagaimana tidak, ia memperhatikan dari dalam mobilnya. Anggap saja sedikit balas dendam untuk kejadian minggu lalu saat Luhan membuatnya menunggu selama dua jam.

"Apakah pekerjaan hari ini akan lama? Saya harus pergi ke suatu tempat."

Sehun tersadar dari lamunannya begitu mendengar pertanyaan Luhan. Lihatlah gadis ini, belum bekerja saja sudah melancarkan banyak protes.

"Orang tuaku kembali dari luar negeri hari ini. Aku akan mengenalkanmu pada mereka."

"Apakah akan lama?"

Sehun mendecak kesal, bukankah seharusnya Luhan mengkhawatirkan kenyataan bahwa sebentar lagi akan bertemu dengan orang tuanya? Gadis ini justru mengkhawatirkan waktunya dan mulai menguji kesabarannya.

"Bukankah sudah kukatakan untuk menjadi kekasih penurut, miss Xi?"

Luhan terdiam beberapa saat memikirkan pertemuannya dengan Oh Sehun minggu lalu, satu-satunya syarat yang diajukan Sehun adalah agar dirinya menjadi kekasih yang penurut. Saat itu ia menyetujuinya tanpa ragu, namun sekarang ia mulai menyesalinya. Jika menjadi kekasih penurut berarti mengikuti setiap perkataan pria itu, maka habislah Luhan.

"Saya benar-benar harus pergi ke suatu tempat."

Sehun mendesah, "Jangan berbicara formal, saat ini kau kekasihku. Kau juga tidak perlu berkata apa-apa nanti, cukup ikuti ucapanku."

Sekali lagi Oh Sehun bertindak sesuka hatinya.

.

Hal pertama yang Luhan sadari ketika memasuki rumah Sehun adalah bahwa pria itu sangat kaya. Terlihat dari letak rumahnya sendiri di kawasan elite Pyeongchang-dong. Tentu saja dengan tunggangan seperti yang dipakai Sehun saat ini, tidak mungkin rumahnya berada di daerah biasa.

Disisi lain, Sehun mengamati ekspresi Luhan. Seperti biasa, Luhan selalu membuatnya terkejut, gadis itu sama sekali tidak terpesona atau bahkan menunjukkan sedikitpun minat ketika ia melajukan mobilnya memasuki perkarangan rumahnya. Ayolah, setidaknya Luhan menunjukkan sedikit apresiasi pada rumahnya, ayahnya membeli tempat ini dengan harga yang tidak murah.

Sehun menghentikan mobilnya tepat didepan pintu rumah. Diraihnya jasnya yang tersampir di sandaran kursi mobilnya dan dipandanginya Luhan.

"Ingat, jangan berbicara formal padaku. Aku Sehun, bukan Mr. Oh. Kau mengerti?"

Luhan mengangguk malas, "Anda sudah berulang kali mengatakannya."

"Tapi sepertinya kau masih tidak mengerti, tidak ada pembicaraan formal!"

Mata Luhan berkilat kesal, "Aku mengerti. . .Sehun."

Sehun tersenyum sangat tipis, "Bagus, tunggu disini!" Ia membuka pintu mobil dan berjalan memutari mobil itu, menuju pintu penumpang dan membukakannya untuk Luhan.

Luhan nyaris tersedak oleh tawanya melihat hal itu. Kesempatan yang benar-benar langka membuat Oh Sehun, dosen paling dingin yang dikenalnya, membuka pintu mobil untuknya seperti seorang pesuruh. Jika saja Tao melihat hal ini, Luhan yakin gadis itu tidak akan berhenti histeris selama berjam-jam.

"Ada sesuatu yang lucu?" Sehun sudah berdiri disampingnya, membuat Luhan menggeleng cepat dan berusaha sekuat tenaga mengontrol tawanya. Untunglah Sehun sepertinya juga tidak memusingkan hal itu, diangkatnya tangan kirinya, mengadahkan telapak tangannya dihadapan Luhan.

"Apa?" Tanya Luhan.

Sehun memutar bola matanya, "Tanganmu. Ini diperlukan."

Luhan mengerti, diangkatnya tangan kanannya dan diletakkannya tepat diatas tangan Sehun, membiarkan pria itu menggenggam tangannya lalu kemudian menariknya berjalan pelan menuju pintu rumah.

Luhan menatap tangannya yang berada dalam genggaman tangan besar Sehun, lalu mengangkat bahunya tidak peduli. Ia masih tidak mengerti mengapa semua gadis mengelu-elukan Sehun dan berteriak kegirangan jika Sehun menyapa atau bahkan hanya melihat mereka. Karena bagi dirinya, yang saat ini tengah digenggam erat oleh Sehun, tidak ada perasaan apapun selain rasa ganjil bersama seseorang yang nyaris tidak dikenalnya namun berstatus sebagai kekasihnya ini.

Sehun melepaskan genggaman tangannya pada Luhan ketika melihat ibunya yang berjalan menyambut mereka. Ia berjalan cepat menuju ibunya dan memeluk wanita setengah baya yang masih terlihat cantik itu. Suasana hangat antara ibu dan anak itu berlangsung beberapa saat hingga sang ibu melihat Luhan yang berdiri tidak jauh dibelakang Sehun. Melihat ibu Sehun yang memandangnya, Luhan segera membungkuk sopan.

Ibu Sehun segera melepaskan pelukannya, "Siapa ini, Sehun?"

Sehun mundur mendekati Luhan dan kembali menarik sebelah tangan Luhan dalam genggamannya, "Luhan, yeojachinggu-ku."

Luhan kembali membungkukkan tubuhnya dan memperkenalkan diri, "Xi Luhan imnida."

"Kau tidak pernah bilang memiliki kekasih", Heechul, ibu Sehun menatap putranya penuh selidik.

"Ini kejutan, umma."

Heechul masih menyipitkan matanya memandang Sehun dan Luhan bergantian. Sehun menahan nafasnya sementara Luhan balas memandang ibu Sehun. Apakah nyonya-nyonya kaya selalu bersikap menyebalkan seperti ini?

Namun hal itu tidak bertahan lama karena pada saat itu Heechul tersenyum dan berjalan mendekati Luhan. "Kau orang Cina?" Tanyanya ramah.

Sehun membulatkan mulutnya. Apakah Luhan orang Cina? Sial, bagaimana mungkin ia tidak mencari tahu hal itu sebelumnya. Untung saja ibunya bertanya langsung pada Luhan, bukan pada dirinya.

"Hanya ayahku" Balas Luhan tidak kalah ramah, membuat Heechul terus mempertahankan senyum di bibirnya.

Heechul mengangguk, "Kau cantik" Pujinya sambil mengelus pelan lengan Luhan, membuat gadis itu sedikit merinding tanpa ia ketahui penyebabnya. Disebelah kedua wanita itu, Sehun menghembuskan nafasnya lega. Selalu mudah dengan ibunya.

"Nah, ayo makan siang. Ayahmu sudah menunggu" Heechul menyambung ucapannya dan berjalan mendahului kedua orang itu sambil meneriakkan pada maid yang berdiri dibelakangnya untuk menyiapkan piring untuk Luhan juga.

Sehun menarik nafas lagi, ibunya memang mudah, tapi ayahnya tidak semudah itu. Ayahnya penuh selidik dan sedikit lebih teliti dibanding ibunya. Ia menarik tangan Luhan yang masih digenggamnya untuk berjalan mengikuti ibunya, namun gerakan terhenti ketika dirasakannya tangan Luhan menahannya. Ia berbalik memandang Luhan.

"Ada apa?"

Luhan menatap Sehun dengan pandangan kesal, "Aku baru saja makan siang!"

"Kau tidak mungkin menolaknya" Dengan kalimat itu Sehun memaksa menarik lengan Luhan hingga gadis itu sedikit tersentak mengikutinya.

Untuk kesekian kalinya Oh Sehun berbuat sesuka hatinya.

.

"Jadi kau baru saja lulus dari pendidikanmu?" Leetuk, ayah Sehun, menatap Luhan sambil memotong steak makan siangnya.

Luhan, yang sedang mati-matian berusaha menerima daging didalam perutnya yang sudah penuh, menatap ayah Sehun dan mengangguk pelan, "Ne, saya baru menyelesaikan pendidikan saya."

Demi Tuhan, Sehun benar-benar berbicara sesuka hatinya mengenai Luhan. Mulai dari dirinya yang sudah meluluskan pendidikannya. Yang benar saja, Luhan bahkan terancam gagal di beberapa kelas yang diikutinya. Dilanjutkan dengan pembicaraan mengenai pertemuan pertama mereka disebuah talkshow internasional yang sama-sama mereka ikuti. Andai saja ia boleh tertawa keras sekarang, maka Luhan akan menyempatkan diri untuk tertawa ditengah kekesalannya pada Sehun. Sejak kapan ia tertarik mengikuti talkshow internasional?

"Bagaimana dengan orang tuamu?" Leetuk bertanya lagi, terlalu ingin tahu mengenai gadis yang baru saja dikenalkan oleh anaknya sebagai kekasih ini.

Sehun yang sepanjang waktu menjawab pertanyaan yang diajukan oleh ayahnya kepada Luhan kali ini hanya bisa terdiam. Ia merutuki dirinya yang lupa menanyakan kepada Luhan mengenai orang tuanya, tidak mungkin ia mengarang sesuatu seperti ini juga. Bagaimana jika ia salah menjawab? Lihat saja tadi, kalau bukan karena pertanyaan ibunya, ia tidak akan pernah tahu bahwa Luhan memiliki darah Cina.

Luhan mendeham kecil, "Mereka ada di Cina."

"Bisnis?" Leetuk lagi-lagi bertanya, membuahkan tatapan tajam Heechul yang diabaikannya dan erangan protes Sehun.

"Appa…"

Namun Luhan tetap tenang, "Ayah saya bekerja di bidang properti."

Leetuk menatap Luhan lama sebelum mengangguk dan mengalihkan tatapannya kembali pada makan siangnya, "Habiskan makan siang kalian" Perintahnya pada semua orang yang berada di meja makan.

Luhan menurut dan kembali menatap makanannya. Ia sungguh kenyang dan tidak tahu apakah akan berhasil menghabiskan makan siang keduanya ini tanpa memuntahkannya. Terkutuklah Oh Sehun, ia memandang pria yang duduk disebelahnya itu dengan lirikan tajam, kemudian menyadari bahwa Sehun juga tengah memandangnya.

.

"Datanglah lagi kesini, dan kau bisa memanggil kami eommoni dan ebeoji mulai sekarang. Jangan terlalu serius" Heechul menggosok punggung tangan Luhan.

"Ne eo-eommoni" Luhan mengangguk sopan sebelum beranjak kembali masuk kedalam mobil Sehun yang sudah menunggunya.

"Apa yang umma-ku katakan?" Sehun bertanya saat memandang ibunya yang melambai ketika mobilnya berjalan meninggalkan halaman rumahnya.

Luhan menghembuskan nafas keras, "Kau harus membayarku mahal untuk makan siang yang kuhabiskan tanpa memuntahkannya, aku benar-benar kekenyangan. Dan juga karena aku bisa membuat umma-mu menyukaiku."

"Kau cepat beradaptasi dengan pembicaraan informal ini rupanya" Sehun mengangguk-angguk singkat menilai ucapan Luhan yang sudah berubah informal sepenuhnya.

Dikomentari seperti itu tidak ayal langsung membuat Luhan mengerang kesal. Tadi Sehun memintanya untuk berbicara informal dan sekarang pria itu seolah mengejeknya.

"Anda ingin saya berbicara formal lagi, Mr. Oh?" Tanyanya sinis.

Sehun tersenyum tipis lalu menggeleng, "Panggil aku seperti itu hanya saat kau berada di kelasku."

Wow, hal baru lagi. Oh Sehun hanya memintanya berbicara formal saat ia berada di kelas pria itu. Benarkah pria yang berada disebelahnya ini si dingin Oh Sehun?

"Baiklah" Luhan mengangkat dagunya dengan gaya tidak peduli walaupun ia mengulum senyum tipis.

"Bukankah sebelumnya kau ingin pergi ke suatu tempat?"

Pertanyaan tiba-tiba Sehun mengingatkan Luhan, ia melupakan rencananya. Ia melihat ponselnya, masih ada cukup waktu sebelum malam. Jadi gadis itu mengangguk, "Kau bisa menurunkanku disini."

Sehun menggeleng, "Tidak, aku akan mengantarmu."

"Tidak perlu, aku bisa pergi sendri."

"Aku akan mengantarmu, Luhan. Kau hanya perlu menunjukkan tempatnya padaku."

Luhan terdiam lalu mengangguk. Ini pertama kalinya Sehun memanggilnya dengan nama kecilnya, membuat Luhan sedikit terkejut dan menyetujui saja ucapan pria itu.

Sehun juga balas mengangguk dan setelah itu Luhan membuatnya kembali terkejut. Gadis itu menggiringnya pergi ke salah satu toko bunga untuk membeli setangkai peony putih. Ya hanya setangkai. Dan sebelum ia sempat bertanya untuk apa bunga itu, Luhan mengarahkannya menuju sebuah bukit di pinggir kota, sebuah komplek pemakaman.

Mengerti apa yang akan dilakukan Luhan, ia menelan lagi pertanyaannya mengenai bunga itu. Mereka baru sampai di kaki bukit ketika Luhan memintanya berhenti dan gadis itu turun dari mobilnya.

"Kau bisa pergi sekarang."

Sehun hanya menatap Luhan datar. Sungguh tipikal Xi Luhan. Awalnya ketika melihat Luhan bersikap didepan orang tuanya, ia salah mengira bahwa Luhan mungkin tidak semenyebalkan yang dianggap semua orang, namun kenyataannya gadis itu memang menyebalkan. Jauh-jauh mengantar hingga ke tempat ini, Luhan bahkan tidak mengucapkan terima kasih padanya. Belum lagi nada mengusir yang baru saja diberikan gadis itu. Dan sekarang Luhan bahkan berjalan menjauhinya tanpa mengatakan apapun lagi.

Seharusnya ia memang pergi, meninggalkan Luhan sendiri di tempat ini. Namun Sehun bukan pria pengecut seperti itu. Tempat ini jauh dan sudah dipastikan tidak ada bus yang melewati tempat ini, belum lagi kenyataan bahwa matahari nyaris tenggelam. Jadi ia berdiri bersandar di mobilnya, memandang Luhan yang berhenti di sebuah makam di kejauhan dan duduk berlutut disebelah makam itu.

Cukup lama gadis itu disana. Hampir ketika langit benar-benar kelam, barulah ia berdiri dan berjalan kembali ke arah jalan. Saat itulah ia menyadari Sehun masih berada di tempatnya sebelumnya, menatap lurus kearahnya.

"Kenapa tidak pergi?"

Sehun menarik nafas dalam. Ucapan Luhan selalu berhasi menguji kesabarannya. Ia berdiri menunggu gadis itu dan pertanyaan yang didapatnya terdengar seperti ia seorang pengganggu.

"Masuklah, aku akan mengantarmu."

"Bukankah tadi sudah kukatakan kalau kau bisa pergi?" Luhan masih berdiri di tempatnya.

"Aku tidak akan bertanya apapun, tenang saja. Sekarang masuk ke mobil agar kita bisa pergi!" Sehun nyaris membentak.

Luhan yang juga tidak kalah kesal dari Sehun berjalan menghentak menuju mobil, tidak lupa menghempaskan pintu sedikit keras ketika ia menutup kembali pintu mobil, membuat Sehun terkejut dan meringis memandang pintu mobilnya.

Keduanya diam sepanjang perjalanan kembali. Satu-satunya saat mereka berbicara adalah ketika Sehun menanyakan alamat rumah Luhan dan gadis itu memberikan alamatnya. Bahkan ketika Luhan turun dari mobilnya, gadis itu masih tidak mengucapkan terima kasih atau bahkan sepatah kata pun.

Sehun memang harus menahan kesabarannya lagi memandang tingkah Luhan, entah apa yang membuat gadis itu begitu kesal. Tapi selain itu, ada hal lain yang mengganggunya. Luhan yang pergi ke pemakaman. Pemakaman siapa yang dikunjunginya? Selain itu ia baru menyadari bahwa Luhan ternyata bukan seperti dugaannya. Gadis itu berjalan lurus ke sebuah apartment mewah di kawasan Nonhyeondong, Gangnam. Jika Luhan tinggal di tempat seperti ini, kenapa gadis itu menerima tawaran pekerjaannya?

Sehun masih bertahan di tempatnya bahkan setelah Luhan menghilang masuk kedalam gedung apartment.

Siapa sebenarnya kau, Xi Luhan?

TBC