OUR LOVE

by:

Kei Evilkei a.k.a Jung Euncha

.

Special Cast: Amadorie as Park Shunyoung

.

.

^ The Story ^

5 tahun ia menghilang dari kehidupanku. Tak pernah sekalipun ia menghubungiku ataupun kedua orang tua kami sejak kepergiannya untuk melanjutkan kuliahnya di luar negeri. Ia menghilang tanpa jejak. Namun kini tiba-tiba ia muncul kembali dihadapanku dan kedua orang tua kami dengan membawa seorang yeoja yang ia perkenalkan sebagai pacarnya.

"Park Shunyoung" ucap yeoja itu saat ia memperkenalkan dirinya padaku dan juga kedua orang tua kami.

"Eun Cha imnida. Noona-nya Changmin" ucapku sambil terseyum padanya.

"Senang berkenalan dengan eonnie"

Aku melihat kekagetan di wajah Minnie. Ah tidak. Maksudku, Changmin. Dan mungkin dia kaget karena aku memanggilnya Changmin bukan lagi Minnie. Karena sejak pertama kali kami dikenalkan aku selalu memanggilnya begitu. Aku tak mungkin memanggilnya Minnie lagi. Hubungan kami telah berakhir. Dia bukan lagi milikku. Mana boleh aku memanggilnya seperti itu. Itu hanya akan mengingatkan bahwa sampai saat ini aku masih mencintainya.

"Wah.. Dongsaeng-ku sangat pintar memilih yeoja. Shunyoung sangat manis.. Benarkan appa? Umma?" tanyaku pada kedua orang tuaku dengan tersenyum.

"Ah? Eh? Ne. Shunyoung manis" jawab umma yang terdengar agak gugup.

Kenapa dengan umma? Kenapa ia gugup begitu. Apa ia takut aku akan berbuat jahat pada Shunyoung? Tidak mungkin aku akan menyakiti yeojachingu dari seorang namja yang kucintai. Itu sama saja dengan menyakiti namja yang aku cintai! Aku tidak akan pernah sanggup menyakiti Minnie.

"Boleh eonnie memanggilmu Youngie?" tanyaku pada Shunyoung.

"Ne.. Tentu saja eonnie" yeoja itu terseyum padaku.

Manis. Pantas saja Changmin menjadikannya sebagai kekasihnya. Aku juga menilai kalau yeoja ini sangat baik. Aku rasa, Changmin pasti akan bahagia dengannya.

"Baiklah. Ayo eonnie antar ke kamarmu. Kopermu nanti akan dibawakan oleh Changmin"

"Ne eonnie"

Kedua yeoja itu beranjak dari ruang tamu. Euncha berjalan memimpin di depan Shunyoung. Euncha membawa Shunyoung ke kamar tamu yang ada di lantai atas rumah itu. Kamarnya berada di samping kamar Changmin. Changmin masuk ke kamar 15 menit kemudian membawa koper Shunyoung. Euncha berpamitan keluar untuk menyiapkan makan malam pertama mereka dengan Shunyoung.

Walaupun Euncha selalu tersenyum sejak tadi namun tidak dengan hatinya. Hatinya sakit dengan kenyataan yang ada sekarang. Ia menyembunyikannya. Namun tak cukup untuk ummanya yang mengenalnya sejak kecil.

"Euncha… Kau baik-baik saja, chagi?" tanya umma padaku.

"Hahaha… Umma ini kenapa? Tentu saja aku baik-baik saja…"

"Kau tak bisa menyembunyikannya dari umma chagi… Umma mengenalmu melebihi dirimu sendiri"

Senyuman seketika hilang dari wajah Euncha. Ummanya benar. Ia tak mungkin menyembunyikan apapun dari ummanya itu.

"Umma sudah taukan? Kenapa menanyakannya lagi?"

Ucapan Euncha menohok hati ummanya. Ummanya sadar kalau ini adalah kesalahannya. Seharusnya ia membiarkan mereka berdua berhubungan. Bukannya malah menentangnya dan menjodohkan Euncha dengan namja lain. Ia dulu berpikir ini untuk kebaikan mereka. Namun semua itu salah. Itu hanyalah untuk kebaikan nama keluarga mereka. Bukan untuk kebaikan anaknya.

Selama 5 tahun. Euncha tak lagi tersenyum ceria seperti dulu. Sejak kepergian Changmin, Euncha menjadi sosok lain. Selalu murung dan bersikap dingin pada orang lain. Terkadang ia menemukan anaknya itu menangis diam-diam saat tengah malam.

Ia merasa sangat bersalah pada anaknya itu. Namun ia tak dapat melakukan apapun saat ini. Semuanya telah terlambat. Penyesalan yang selalu datang dibelakang. Ia telah membuat anaknya sendiri menderita demi menjaga nama baik keluarga.

***kei***

Ketukan di pintu kamarku menghentikan gerakan tanganku yang menggores sebuah buku dengan tinta pena yang ada di genggaman tanganku.

Tok Tok Tok

"Eonnie… Boleh aku masuk?". Ternyata yang mengetuk pintu adalah Shunie.

"Sebentar Youngie. Eonnie lagi pakai baju"

Berbohong. Itulah yang kulakukan saat ini. Berbohong untuk menyembunyikan perasaanku agar orang lain tak mengetahuinya. Menyembunyikan kesakitanku agar tak dikasihani. Aku benci dikasihani. Namun saat ini aku berbohong bukan untuk menutupi perasaanku yang sebenarnya. Aku berbohong karena aku menghindar darinya. Aku mengambil tas dari dalam lemariku dan sibuk memasukkan beberapa barang ke dalamnya. Lalu aku pun mempersilahkan Youngie masuk ke kamarku.

"Eonnie jadi ikut dengan kami kan?" tanya Youngie, yeojachingu-nya Changmin ketika aku telah membukakan pintu untuknya.

"Mianhae Youngie. Eonnie tak bisa ikut dengan kalian. Eonnie ada urusan lain" jawabku cepat yang sepenuhnya adalah kebohongan.

"Memangnya urusan apa?"

Suara ini adalah suara orang yang selalu ku rindukan selama 5 tahun ini. Minnie berdiri di ambang pintu sambil melipat tangannya di depan dadanya.

"Kau tidak mau pergi bersama kami?" tanyanya lagi padaku.

"Aishh. Bukan begitu"

"Lalu?"

"Aku….."

Belum selesai aku berbicara dan membuat kebohongan lain, suara deringan handphone-ku berbunyi. Terima kasih Tuhan. Aku tak perlu berbohong. Aku segera melihat nama penyelamatku yang tertera di layar ponsel dan menekan salah satu tombol untuk menerima panggilan itu. Taemin.

"Yeoboseyo Taem-"

"Yak! Jung Euncha…." Suara teriakan nyaring Kibum menyambutku. Aku lalu menjauhkan handphone dari telingaku. Bisa-bisa telingaku akan melepuh bila mendengarnya berteriak dan mengomeliku dengan nada suara yang bisa dikatakan luar biasa karena walaupun aku telah menjauhkan handphone dari telingaku, aku masih bisa mendengarkan omelannya.

"Bummie..."

"Kenapa handphone-mu tak aktif dari kemarin? Aku sudah ratusan kali menelponmu. Dan yang aku dengar hanyalah suara operator yang selalu menyuruhku meninggalkan pesan. Aku tak mau mendengar alasan apaun sekarang. Keluarlah sekarang. Aku sudah di depan rumahmu. Kalau kau tidak keluar dalam waktu 5 menit, aku akan menyeretmu keluar dari rumah!"

Tut tut tut tut

Orang di seberang sana memutuskan panggilan tiba-tiba.

"Aishh… Kenapa di dunia ini harus ada seorang namja yang suka mengomel seperti Bummie" gerutuku.

"Mianhae Youngie.. Eonnie harus pergi sekarang. Kalian bersenang-senang saja berdua"

Aku mengambil tasku yang sudah terisi penuh dengan 2 pasang pakaian dan beberapa barang yang kuanggap penting. Setelah berpamitan pada Minnie dan Youngie dan melayangkan senyum pada mereka, aku segera beranjak keluar dari kamarku. Saat aku melewati Minnie yang bersandar di samping pintu kamarku, aku berjalan tanpa memandangnya. Aku tak sanggup memandangnya. Bisa-bisa aku akan mengungkapkan semuanya, semua isi hatiku yang selama ini kusembunyikan darinya bila aku menatap matanya.

Aku berlari di tangga. Aku benar-benar tidak ingin melihat kebersamaan Minnie dan Youngie lebih lama lagi. Terlebih setelah tadi malam Minnie mengungkapkan keinginannya untuk melangkah lebih serius dengan Youngie. Mereka ingin bertunangan.

***kei***

"Akhhh"

Kejadiannya begitu cepat. Euncha yang berlari di tangga tiba-tiba terjatuh dan kini tergeletak tak berdaya di bawah tangga dengan kepala yag mengeluarkan cairan darah segar berwarna merah. Ummanya yang melihat langsung kejadian itu langsung shock dan menjatuhkan gelas yang sedang dalam genggaman tangannya.

PRANGGGGGG

Gelas yang digenggam umma Euncha menyentuh lantai di bawah kakinya dang menjadi hancur tak berbentuk.

"Eunchaaaaaaaa" teriak nyonya Kim.

Nyonya Kim berlari mendekati Euncha. Ia memegang wajah Euncha, menepuk-nepuknya beberapa kali sambil memanggil nama Euncha. Namun tak jua mendapat respon dari Euncha.

Changmin dan Shunyoung yang mendengar keributan dari lantai bawah rumahnya segera berlari. Mereka nampak kaget melihat nyonya Kim yang histeris memanggil Euncha yang tidak sadarkan diri.

Changmin dengan sigap mengangkat Euncha dengan bridge style.

"Umma... Kita bawa Euncha ke rumah sakit.."

Nyonya Kim dan Shunyoung berjalan di belakang Changmin. Nampak guratan kecemasan terukir di wajah tampan Changmin.

'Bertahanlah Euncha' ucapnya dalam hati.

***kei***

Sudah 3 jam sejak kejadian Euncha yang terjatuh di tangga rumahnya. Di luar ruangan operasi terlihat empat namja dan dua orang yeoja yang duduk dengan wajah dipenuhi kecemasan. Changmin, kedua orang tua Changmin & Euncha, Shunyoung, Kibum, Taemin dan Jinki. Kibum yang sedang menunggu Euncha di depan rumahnya sebelum kejadian yangmenimpa Euncha terjadi, sangat kaget melihat Changmin yang keluar dari rumah sambil membawa Euncha masuk ke dalam mobil diikuti oleh umma Euncha dan seorang yeoja yang tidak dikenalnya. Begitu mobil Changmin meluncur keluar dari halam rumahnya, Kibum segera menyuruh Jinki yang datang bersamanya mengikuti mobil yang dikendarai Changmin. Kibum sangat cemas dengan keadaan Euncha yang sekilas dilihatnya saat Changmin membawanya dengan lumuran darah di kepala Euncha. Ia tahu kalau sesuatu yang buruk telah terjadi. Dan appa Euncha datang ke rumah sakit setelah Changmin menelponnya.

Tiba-tiba lampu merah yang menempel dinding diatas pintu ruangan operasi padam. Menandakan bahwa operasi telah selesai di laksanakan. Tak lama, keluarlah seorang pria dengan pakaian berwarna hijau, pakaian yang biasa digunakan dokter saat melakukan operasi. Semua orang yang ada di luar ruang operasi mendekatinya.

"Bagaimana keadaan anak saya dok?" Tanya umma Euncha pada orang yang baru keluar dari ruangan operasi yang tak lain adalah seorang dokter.

"Saat ini ia masih dalam kondisi kritis. Kami akan terus mengawasinya lebih lanjut"

"Masih ada harapan untuknya kan dok"

Dokter itu tersenyum dan menjawab, "Harapan selalu ada. Bahkan untuk kemungkinan terkecil sekalipun. Jangan pernah berhenti berharap dan berdoa untuk kesembuhannya. Kami akan memindahkannya ke ruangan rawatnya"

"Gomawo dok"

***kei***

Aku memandangnya yang terbaring lemah di atas tempat pembaringan. Genggaman tanganku pada tangannya yang lebih kecil dari tanganku tak sedikitpun aku lepas sejak aku memasuki ruangan ini dan menggenggam tangannya yang ditusuk jarum infus dengan erat. Aku pun tak berniat beranjak dari sisinya untuk saat ini. Tidak. Bukan hanya untuk saat ini saja. Sejak dulu, aku selalu ingin berada disisinya, selalu.

Aku mengalihkan pandanganku ke sofa di dalam ruangan itu. Kedua orang tuaku beserta Shunyoung, yang saat ini menjadi yeojachinguku tengah terlelap. Aku tak bisa terlelap seperti mereka. Aku tidak bisa memejamkan mataku. Aku ingin menjaganya dan menjadi orang pertama yang dilihatnya saat ia sadar, saat ia kembali membuka kedua matanya dan melihat kembali dunia.

Kupandangi kembali wajah Euncha yang terlihat pucat saat ini. Tak banyak perubahan padanya. Ia masih saja cantik seperti saat terakhir kali aku meninggalkannya keluar negeri. Aku mengangkat tangannya yang ku genggam dan menciumnya.

"Saranghae Euncha"

Tanpa Changmin sadari, ada sepasang mata yang sedang memperhatikannya.

***kei***

1 bulan sudah Euncha terbaring di ranjang rumah sakit. Walaupun keadaannya sudah melewati masa kritis, namun ia tak juga membuka kedua matanya. Euncha dinyatakan koma oleh dokter. Dan dokter tidak bisa memastikan kapan Euncha akan tersadar dari tidur panjangnya.

Selama sebulan pula Changmin enggan beranjak dari kamar rawat Euncha. Berkali-kali kedua orang tuanya menyuruhnya untuk pulang dan beristirahat, tapi Changmin selalu menolak dan malah meminta ummanya untuk membawakan baju gantinya dan makanan untuknya. Changmin juga mengatakan kalau ia bisa beristirahat di sofa yang terdapat di kamar rawat bernomor 9095 itu.

Shunyoung kecewa dengan Changmin. Karena sejak kejadian yang menimpa Euncha, Changmin seperti melupakan Shunyoung. Namun Shunyoung selalu membawakan pakaian dan makanan untuk Changmin setiap hari karena namjachingunya itu enggan beranjak dari kamar rawat Euncha. Terkadang Shunyoung juga ingin menemani Changmin menjaga yeoja yang akan menjadi iparnya. Namun Changmin selalu menolaknya dan menyuruh Shunyoung beristirahat saja di rumahnya.

Saat ini seperti biasanya, Shunyoung membawakan pakaian ganti dan makanan untuk Changmin yang tadi dimasaknya di rumah Changmin. Langkah Shunyoung terhenti di pintu bertuliskan angka 9095. Ia memandang Changmin dari kaca yang terpasang di pintu. Ia tersenyum kecut, dan menutar kenop pintu. Namun ia tak melanjutkan langkahnya memasuki kamar itu. Ia terpaku mendengar perkataan Changmin.

***kei***

Shunyoung berada di kamarnya menatap langit-langit kamarnya. Nampak pandangannya menerawang jauh. Masih teringat jelas perkataan Changmin yang di dengarnya tadi siang di rumah sakit.

~Flashback~

"Bogoshipo chagy" ucap Changmin sambil menggenggam tangan Euncha.

"Selama 5 tahun aku jauh darimu. Tak pernah sedetik pun aku melupakanmu. Senyummu...Wajahmu yang cemberut saat aku menggodamu dan membuatku kesal...Pipimu yang merona merah saat aku memujimu, dan... Wajah menangismu saat hari berakhirnya hubungan kita. Aku mengingat semuanya. Kebiasaan yang selalu kau lakukan sampai hal yang tidak pernah kau sadari sekalipun seperti saat kau makan. Kau akan menaruh seluruh makanan di sebelah pipimu, yang menyebabkan pipimu menggembung sebelah *ini sebenarnya kebiasaan author* Hahaha... Kau terlihat lucu saat seperti itu"

Changmin memandang Euncha lembut. Shunyoung terhenyak. Ia belum pernah mendapatkan Changmin memandangnya seperti itu.

"Saranghae nae chagiya... Setiap detakan jantungku ada karena adanya dirimu... Setiap nafas yang kehembuskan adalah harapan agar kau selalu berbahagia… Hatiku terkunci rapat dan hanya dirimulah yang memiliki kuncinya… Seluruh cintaku hanya miliku sejak pertama kali kita bertemu hingga saat ini dan selamanya…"

"Kau ingat kata-kata yang dulu pernah kuucapkan padamu baby...

Selamanya Changmin milik Euncha. Jika tidak, maka tak ada seorangpun yang dapat memiliki Changmin karena Changmin telah memberikan satu-satunya hati yang ia miliki sepenuhnya pada Euncha.

Forever or Never. Changmin & Euncha"

"Saranghaeyo, baby..."

Changmin mengakhiri kata-katanya dengan sebuah ciuman yang diberikannya pada bibir mungil Euncha.

~Flashback End~

Apakah aku harus melepaskanmu Changmin? batin Shunyoung.

***kei***

Hari ini, tak seperti biasanya. Karena umma Euncha yang mengantarkan pakaian ganti dan makanan untuk Changmin.

"Kenapa bukan Shunyoung yang ke sini, umma?" tanya Changmin pada ummanya.

"Shunyoung menitipkan ini untukmu Minnie". Ummanya tak menjawab pertanyaan Changmin dan malah memberikan sebuah kotak pada Changmin yang membuat Changmin bingung.

"Apa ini umma?"

"Buka saja bila kau ingin tahu isinya. Umma pergi dulu ingin mengantarkan makanan untuk appamu"

"Ne. Gomawo umma. Hati-hati dijalan"

Umma Euncha tersenyum dan meninggalkan kamar Euncha. Changmin sangat penasaran dengan isi kotak yang diberikan Shunyoung. Namun ia tak membukanya, melainkan mangambil surat yang terletak di atas kotak itu dan bertuliskan Changmin di amplopnya yang berwarna pink.

Changmin...

Saat kau membaca surat ini, aku pasti sudah tak berada di Korea lagi. aku memutuskan untuk kembali ke Jepang dan menetap di sana. Mianhae karena aku memutuskan semuanya tanpa meminta ijinmu dan memberitahukan terlebih dahulu padamu. Aku tahu inilah yang terbaik.

Aku telah mengetahui semuanya. Hubunganmu dengan Euncha eonnie dan semua permasalahan yang membuat kalian berdua terpaksa berpisah dan harus menderita selama 5 tahun ini.

Aku melepaskanmu Kim Changmin. Aku harap kau berbahagia dengan yeoja pilihanmu, Euncha eonnie. Tak perlu mengkhawatirkanku. Aku baik-baik saja tanpamu. Tapi Euncha eonnie tidak pernah baik-baik saja tanpa dirimu Changmin.

Selamat Tinggal

Park Shunyoung

Ps: Kau harus melihat isi kotak yang kusertakan bersama surat ini!

"Gomawo Shunyoung"

Changmin tersenyum lalu meraih kotak yang tergeletak di sampingnya. Ia memangku kotak tersebut lalu membukanya. Di dalamnya terdapat sebuah buku dan sebuah kalung yang mengikat buku itu. Changmin mengenali cincin yang tergantung manis di rantai kalung. Cincin yang ia berikan pada Euncha saat usia hubungan mereka genap satu bulan. Selama ini ia mengira Euncha telah membuang benda itu karena ia tak pernah melihat benda itu tergantung lagi di leher Euncha sejak Changmin kembali ke Korea.

Changmin mengambil buku itu lalu membebaskannya dari ikatan rantai kalung. Changmin berdiri mendekati Euncha dan memasangkannya ke leher Euncha. Selanjutnya Changmin beralih pada buku. Changmin membukanya dan mulai membacanya.

Changmin & Euncha

Forever or Never

Itulah yang menjadi pembuka saat Changmin membuka sampul buku berwarna Merah itu. Ternyata buku yang diberikan Shunyoung pada Changmin adalah milik Euncha. Changmin tak ambil pusing mengapa Shunyoung memberikan buku itu padanya. Changmin membalikkan kertas itu dan terpampanglah halaman berikutnya.

Hari ini sudah genap satu bulan hubunganku dengan Minnie. Ia memberikanku sebuah cincin yang berukirkan nama kami berdua.

Huwaaaaa

Aku senang sekali.

Aku juga masih mengingat kata yang ia ucapkan padaku.

"Selamanya Changmin milik Euncha. Jika tidak, maka tak ada seorangpun yang dapat memiliki Changmin karena Changmin telah memberikan satu-satunya hati yang ia miliki sepenuhnya pada Euncha"

Changmin & Euncha

Forever or Never

Aku tak akan pernah bisa melupakan kata-kata itu. ^^

Saranghaeyo Minnie...

Changmin terus saja membolak-balik halaman dalam buku itu. Dari yang sudah dibacanya ia menyimpulakan yang ditulis Euncha dalam buku itu adalah hari-hari yang telah mereka lewati berdua sejak sebulan usia hubungan mereka. Bahkan Euncha menuangkan perasaan sedih, marah dan sakitnya selama Changmin tidak ada disampingnya. Changmin tertegun membaca 2 tulisan terakhir di buku itu. Ia melihat tanggalnya dan mengetahui itu adalah sehari sebelum Euncha terjatuh dan lembar berikutnya adalah hari dimana saat Euncha terjatuh dari tangga.

Cinta itu menyakitkan

Saat kau tak dapat bersama dengan orang yang kau cintai

Cinta itu menyakitkan

Saat melihat orang yang kita cintai berbahagia dengan orang lain

Cinta itu menyakitkan

Saat perasaan cintamu tak mendapatkan balasan dari orang yang kau cintai

Cinta itu menyakitkan

Bila dua orang yang saling mencintai tak dapat bersatu karena suatu keadaan

Cinta...

Kenapa rasa cinta untuknya masih saja ada?

Kenapa aku tak dapat membuangnya dari ingatanku?

Kenapa hatiku selalu menolak cinta lain yang datang padaku?

Kenapa keadaan tak berpihak pada kita

Cinta...

Menyakitkan bagiku

Apakah aku perlu menghilang dari muka bumi ini baru cinta ini akan lenyap?

Apakah aku perlu menghilang dari muka bumi ini untuk menghilangkan rasa sakit dihatiku?

Apakah aku perlu menghilang darimu Minnie?

(created by Kei Evilkei)

Tulisan terakhir sebelum Euncha terjatuh.

Our Love

Apakah seperti kisah cinta Romeo & Juliet?

Yang menghadapi pertentangan, namun tetap menyatukan keduanya dengan kematian

Apakah seperti kisah dongeng-dongeng pengantar tidur anak-anak menuju ke alam mimpi?

Yang selalu berakhir bahagia karena sang putri menemukan pangerannya..

Aku..

Bagaikan putri duyung

Yang akan menjadi buih saat sang pangeran telah menemukan putrinya

Karena aku bukanlah sang putri yang pantas memiliki pangeran

Dirimu..

Layaknya bintang berada jauh di langit malam yang kelam

Memancarkan sinar yang selalu membuatku terpesona menatapmu

Bintang yang tak dapat ku raih dengan kedua tanganku

Cintaku

Hanyalah untukmu

Hanya namamu yang terukir di hatiku

Our love

Forever or Never

(created by Kei Evilkei)

Ps.

Minnie…

Aku mencintaimu

Masih sangat mencintaimu

Tak dapatkah kau rasakan itu?

Mengapa hanya kau yang tak mengetahuinya?

Tanpa Changmin sadari airmata telah mengalir dikedua pipinya.

Tiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiitt tttttttttttttttttttttttttttt t

Bunyi lengkingan panjang yang menandakan bahwa jantung Euncha tak lagi berdetak terdengar di dalam ruangan rawat Euncha.

"Andwaeeeee"

"Euncha..." teriak Changmin

.

^ FIN ^

.

.

Balesan Reviews:

BabyHae03: kalo nc, ntar kei bakalan publish ff nc yang lain.. tapi masih ragu ma tuw ff.. nc nya panjang...

astia morichan: ending-nya jadi gantung.. awalnya mou buat happy ending,, tapi pas ngetik,, malah jadi kayak gini.. :p

Kimimaki: gowamo.. ^^

Nony: annyeong Nony.. saya suka ending yg gantung begini.. hohoho

Kyulov: gomawo.. semoga suka dengan ending-nya...

.

ini sekuel terakhir yang kei buat.. seneng banget waktu buat ending-nya gantung begitu.. saya ampe ngakak bayangin reaksi readers n udah banyak yang minta sekuel tapi ampe sekarang belum saya buat.. (ff ini sebelumnya udah pernah di post di blog lain)

akhir kata..

selama menikmati keter'GANTUNG'an ini.. *kabur sebelum di bakar*