Teman kencan (Tak Terlupakan) : Namikaze Ex-black

Naruto : Masashi Kishimoto

Genre : Romance

Warning : Out of Character, Another Universal

Naruto and Sakura Fanfiction

Cinta pertama Sakura adalah Sasuke.

Tapi jangan salah..

Bayangan yang selalu menghantuinya selama 14 tahun ini malah Namikaze Naruto.

Ia yang tak mungkin terlupakan.

.

Three

Ada seseorang pernah mengatakan..

Cinta kepada seseorang tidak mungkin bertahan sangat lama. Apalagi cinta tersebut tidak pernah lagi kita temui dalam kurun waktu yang panjang. Namun apa yang akan terjadi di kemudian hari siapa yang pernah tahu?

Walaupun sudah pernah berlabuh pada banyak hati di waktu yang lalu, saat hati kita tetap hanya mengingat satu nama..

Nama itu akan selalu melekat di hatimu...

Seperti parasit.

Dan memabukkan...

"Oii.. TEME.."

Garpu dan pisau yang dipegang oleh Sakura hampir saja terlepas dari tangannya andai ia sedikit saja mengendurkan gengamannya pada kedua benda itu. Matanya membelalak lebar. Dan bahunya mendadak tegang. Ia masih ingat dengan jelas suara ini.

Jantungnya berdebar kencang. Ia harap apa yang didengar oleh telinganya kali ini salah. Banyak orang memanggil orang yang ia kenal dengan sebutan 'teme' pada orang-orang terdekatnya sebagai bentuk keakraban. Namun suara itu, tidak banyak orang yang memilikinya.

Ia berpikir sejenak. Haruskah ia menoleh untuk menghilangkan rasa penasarannya? Atau ia abaikan saja dari pada harus menelan kekecewaan atas harapannya?

Berbagai pertanyaan terus menerus berkecamuk dalam benaknya.

Satu bagian dari pikirannya meragu. Namun satu bagian lain dalam hatinya begitu kuat meyakinkannya. Ia harus memastikan. Apakah benar suara itu adalah sosok yang selalu ia cari selama ini? Atau hanya orang lain yang kebetulan memiliki suara sama dengan 'orang itu'.

Dan jawabannya...

Akhirnya ia kalah. Ia mengikuti apa yang dikatakan oleh hatinya. Bukan pikirannya.


Mata Sakura tidak salah. Tidak untuk kali ini. Dan sekali lagi ia ingin mengulang. Bahwa apa yang ia lihat kali ini benar adanya. Bukan hanya bayangan semu. Bukan hanya angannya. Dan bukan hanya apa yang ia kejar namun tak dapat ia genggam.

Ini ada dalam kenyataannya. Apa yang ditangkap oleh netranya saat ia dengan sedikit keraguan menolehkan kepalanya kebelakang benar-benar nyata adanya.

Ia tahu, tidak banyak orang yang punya rambut kuning cerah sewarna itu. Salah satu orang yang ia kenal, walaupun ia tidak mengenalnya sangat baik—memilikinya.

Ia yakin. Meskipun suara itu sekarang berubah menjadi lebih berat dari bagaimana yang memorinya ingat dan posturnya sangat berubah dari apa yang terakhir ia lihat, Sakura tahu bahwa itu adalah refleksi nyata sosok yang rindukan.

"Naruto.."

Sakura tidak begitu ingat apa yang terjadi beberapa saat yang lalu. Saat ia sadar, ia sudah berada dibelakang sosok itu dan menggumamkan namanya. Tidak begitu keras. Bahkan kedua tangannya ia bawa ke depan wajahnya untuk menutupi bibirnya yang bergetar.

Namun sosok itu tetap dapat mendengarnya dan kemudian memutar tubuhnya untuk menoleh kepadanya.

Sosok itu berjengit melihat siapa yang memanggilnya. Matanya membulat sempurna dan tubuhnya hampir saja jatuh bila saja ia tidak memundurkan satu langkahnya kebelakang untuk menyeimbangkan berat tubuhnya.

Jantung Sakura serasa diremas. Dan matanya benar. Ialah Namikaze Naruto.

Sang pemilik hatinya.

"Sa.. Sakura-chan," suaranya bergetar saat menyebut nama Sakura.

Dan ughh..

Telak.

Inilah yang ia rindukan. Pemuda itu selalu memanggilnya dengan suffix 'chan' sedari dulu. Dan ia sangat bersyukur. Itu tidak berubah. Hampir saja membuat air matanya tumpah.

"Ba-bagaimana bisa?" pemuda itu kini ia menatap tidak percaya apa yang ada didepan matanya. Suaranya hampir berbisik. Pertanyaan yang terucap oleh bibirnya sama sekali tidak dijawab oleh gadis merah muda itu.

Dua manusia yang saling merindukan itu bertatapan cukup lama. Baik Sakura maupun Naruto masih terlalu terkejut untuk mencerna apa yang terjadi kali ini. Mereka terdiam selama beberapa saat ditengah restoran. Sampai suara deheman seseorang yang terdengar berat dan memaksa akhirnya dapat mengembalikan mereka pada kenyataan.

"Ehemm.."

Refleks. Sakura dan Naruto menoleh bersamaan kearah suara deheman tersebut.

"Sasuke-kun," Sakura kembali berbisik pelan saat matanya menangkap sosok lain dihadapannya.

Dan tanpa ia tahu, betapa teririsnya hati Naruto saat mendengar Sakura memanggil Sasuke seperti itu. Dengan nada dan tatapan yang sama seperti 14 tahun yang lalu. Lukanya kembali terbuka.


Sasuke kini berdiri diantara kedua orang itu. Ia melempar pandangan mematikan pada Naruto yang nyatanya sama sekali diabaikan oleh sahabatnya itu. "Sebaiknya kalian—" Sasuke mengambil jeda sejenak dengan nafas sebelum meneruskan kalimatnya. Kepalanya mendadak pening. "—kita cepat duduk atau pergi saja dari sini," suara lelaki itu masih datar dan dingin seperti biasa. Namun terdengar dengan jelas penekanan yang memaksa pada setiap kata yang ia lontarkan. "Tidakkah kalian lihat seluruh orang diruangan ini memperhatikan," katanya dengan sedikit geraman berbisik pada kedua orang itu.

Sakura menoleh ke sekeliling. Dan benar saja. Semua orang memperhatikan mereka. Ia meremas kuat kedua tangannya yang kini menjuntai disisi kanan dan kiri tubuhnya.

Naruto masih tak bergeming dari tempatnya berdiri. Sampai Sasuke dengan cepat menarik—menyeret— Naruto dengan paksa pada meja yang ia pesan.

"Kita duduk dulu Dobe," Naruto masih membisu. Nada memerintah Sasuke yang ia selipkan pada perkataannya pun sama sekali tak mempengaruhinya. Sahabatnya nampak begitu linglung. Bahkan Sasuke sampai harus mendudukkan ia dengan paksa di kursi restoran tersebut.

Sedangkan Sakura masih berdiri terdiam di tempatnya. Menatap nanar pada dua lelaki yang sukses memberikan kejutan padanya malam ini. Kakinya begitu sulit digerakkan saat ini.

Hingga sebuah tangan menepuk lembut bahunya.

"Sakura?"

Ia tolehkan kepalanya kebelakang.

"Gaara," air matanya hampir tumpah melihat Gaara disana. Namun lagi-lagi ia menahannya.

"Sakura kau tak apa? Wajahmu pucat," kekhawatiran tampak dengan jelas pada kedua mata lelaki dengan surai sewarna darah itu.

Sakura tak segera menjawab. Ia menggigit bibir bawahnya untuk menahan perasaannya. Memandang Gaara dengan tatapan gelisah. Matanya berkedip-kedip kekanan dan kekiri sebagai usahanya menahan air mata agar tidak tumpah.

"Sakura," panggil Gaara sekali lagi. "Kau tak apa?"

Sungguh. Sakura ingin menjawab pada Gaara bahwa ia sedang tidak baik-baik saja kali ini. Namun respon yang diberikan tubuhnya begitu bertolak belakang dengan apa yang diinginkan pikirannya. Ia masih bingung bagaimana memulai cerita pada Gaara saat seperti ini.

"Ayo duduk," tak kunjung mendapat respon dari Sakura, Gaara lalu meraih bahu gadis itu. Menuntun Sakura kembali ke kursinya. Mengabaikan tatapan aneh orang-orang orang sekitar restoran padanya dan Sakura.


"Kau tidak enak badan Sakura?"

Gaara mulai curiga. Beberapa saat lalu sebelum ia menerima telepon dari kekasihnya, Sakura masih baik-baik saja. Bahkan mantannya selama 4 tahun itu masih sempat melontarkan candaan padanya dengan wajah sumringah.

Ia sedikit lega saat Sakura menggelengkan kepalanya sebagai jawaban dari pertanyaannya.

"Kau mau pulang? Kuantar?" tawarnya.

Sakura tidak menjawab. Ia berpikir sejenak. Lalu melihat seseorang di ujung yang lainnya. Ia dapat melihat Naruto disana yang mana sedang menatap dingin kearahnya.

"Aku pulang sendiri saja Gaara. Ada sedikit urusan hari ini," tolak Sakura dengan senyum yang dipaksakan setelah mengalihkan pandangannya kembali pada teman makan malamnya.

"Kau yakin?" tanya Gaara tak percaya.

Sebenarnya yang tidak yakin disini adalah Gaara sendiri. Ia sangat mengenal Sakura. Gadis itu sedang tidak baik-baik saja sekarang. Tapi ia juga sangat tahu. Saat sakura sedang tidak ingin bercerita, percuma saja memaksanya untuk menjelaskan padanya bagaimana keadaannya. Karena pasti Sakura akan meolaknya sampai ia benar-benar ingin mengungkapkannya sendiri.

Sakura lalu tersenyum. Ia tahu kekhawatiran Gaara. Namun ia sedang ingin sendiri saja sekarang.

"Tunanganmu baru saja sampai di kota ini. Ia pasti membutuhkanmu,"

Sakura sadar. Ia sudah bukan dalam kapasitas bisa bergantung pada Gaara pada saat seperti ini. Hubungan mereka sudah berakhir. Walaupun perlahan.

"Dia pasti mengerti Sakura. Dan lagi pula—" usaha Gaara meyakinkan gadis itu sia-sia.

"Aku tak apa. Aku ingin sendiri," potong Sakura dengan cepat. "Please," pinta gadis itu sekali lagi dengan nada memohon.

Gaara menghela napasnya dengan berat. Berdebat dengan Sakura pada saat seperti ini bukanlah opsi yang tepat. Ia lebih baik menuruti apa kemauan gadis itu.

"Oke. Aku mengalah," Gaara mengangkat tangannya di depan dada. Menunjukkan gestur menyerah. "Tapi pastikan kau menelponku saat sudah berada dirumah," katanya dengan penuh penekanan.

"Oke?" Gaara mengulurkan jari kelingkingnya pada Sakura. Meminta—lebih tepatnya memaksa persetujuan dari gadis itu.

Sakura kini tertawa pelan. Ini salah satu kebiasaan Gaara padanya. Terlalu overprotektif.

Ia lalu mengaitkan kelingkingnya pada kelingking Gaara. Menyambut uluran tangan pemuda itu.

"As your wish my Ex-Boyfriend," Sakura lalu tertawa dan membiarkan tangannya digengam begitu saja oleh Gaara.

Dan tanpa mereka sadari sepasang mata biru di kursi lain menatap mereka dengan nanar.

"Sabaku.." geram Naruto sambil meremas kedua tangannya diatas meja.

"Hentikan Dobe," ujar Sasuke saat ia merasa Naruto mulai tidak bisa mengontrol emosinya.


Dakkk..

Naruto menghentakkan gelas berisi air putih yang baru saja ia tandaskan semua isinya dengan cukup keras diatas meja. Hampir saja ia menghancurkan gelas itu dalam genggamannya apabila Sasuke tidak memperingatkannya.

Usai dapat mengontrol pikirannya kembali, matanya kini tak kunjung beralih menatap pemandangan yang cukup menyakitkan diseberang sana.

Sakura Haruno.

Tak bisa dielakkan lagi. Nama gadis itu terus membayangi pikirannya selama beberapa tahun ini.

Setiap gadis yang ia kencani sebelum ini sama sekali belum dapat mengalihkan pikirannya dari cinta pertamanya itu.

Sekembalinya ia dari London, sempat terbersit pada hatinya untuk menemui gadis itu. Berkali-kali ide tersebut ia pikirkan dalam kepalanya. Namun ketakutan akan Sakura yang mungkin telah melupakannya ataupun Sakura yang sudah menjadi milik orang lain membuat nyali yang ia miliki menciut saat itu juga.

Ia sudah pernah di tolak berulang kali oleh gadis itu semasa remajanya. Saat itu ia berpikir pasti suatu hari Sakura akan dapat memandangnya. Namun pemikirannya itu salah. Sampai saat terakhir ia bertemu, yang Sakura pandang hanyalah Uchiha Sasuke. Sahabat terbaiknya.

Oke..

Pemikiran tentang Sakura yang telah melupakannya telah ia buang jauh-jauh kali ini. Ia sama sekali tidak menduga bahwa Sakura-lah yang akan menghampirinya terlebih dulu barusan. Ini benar benar diluar perkiraannya. Bahkan Sakura memanggil namanya yang sukses memporak-porandakan hati yang telah ia tata dengan baik selama ini. Ditambah lagi perkataan Sasuke tempo hari yang menyebutkan bahwa gadis dengan surai sewarna musim semi itu mencari dirinya. Membuatnya sempat sedikit berharap dengan angan yang melambung.

Namun sepertinya ia harus menelan kembali pil pahit tersebut kali ini.

Didepan matanya, kini gadis itu bersama lelaki lain yang bukan dirinya. Bukan juga ketakutan dari masa lalunya—Uchiha Sasuke sahabatnya. Yang bersama gadis itu kini pria lain. Seorang dengan rambut sewarna darah yang ia ketahui sebagai Sabaku no Gaara. Anak Walikota Suna.

Cihh..

Apakah ia sudah terlambat?

Sungguh! Ia lelah dengan terlalu banyak drama dalam hidupnya. Setelah Sasuke, Hyuuga Hinata dan kedua orang tuanya sendiri, ia ingin hidup dengan tenang sekarang. Tapi pertemuannya dengan Sakura hari ini menghancurkan segalanya.

Bukannya ia tak ingin bertemu dengan Sakura. Hanya masih belum ingin. Ia masih belum siap bertemu lagi dengan gadis itu. Ia masih ingin merindukannya saja seperti biasa. Seperti 14 tahun belakangan ini.

Netranya lalu menangkap sebuah pergerakan dari meja tempat cinta pertamanya duduk. Gadis itu nampak membereskan beberapa barangnya yang berada di meja dan memasukkan kembali dalam tas. Dan tak lama kemudian hatinya mencelos saat gadis itu pergi dengan digandeng oleh Gaara. Pergi begitu saja tanpa menghampiri dirinya yang menunggu disudut lain.

Ia sempat berharap paling tidak Sakura akan menghampiri mejanya. Sekadar menanyakan kabarnya atau apapun. Namun nyatanya tidak. Gadis itu pergi begitu saja tanpa kembali menolehkan sedikitpun kepala kearahnya.

"Kau harus makan Dobe," suara Sasuke menyadarkan Naruto dari lamunannya. Naruto lalu menatap wajah sahabatnya dari kecil itu dengan kuyu.

"Aku tidak lapar lagi Teme," Naruto lalu mengusapkan kedua tangannya pada wajahnya. "Aku ingin pulang saja," katanya frustasi. Rasa laparnya mendadak menghilang. Ia butuh tidur sekarang.

Sasuke menghela napasnya. Janji main biliardnya dengan Naruto nampaknya harus berantakan hari ini.

"Hn,"

Setelah menggumamkan dua konsonan favoritnya itu ia memanggil waiter yang dapat ditangkap oleh matanya. Mengisyaratkan agar waiter itu membawa bill atas makanan yang ia pesan malam ini.


"Naruto.."

Lagi.

Deja vu..

Adegan ini sunggu tidak asing baginya. Sepertinya ia baru saja mengalaminya kurang dari satu jam yang lalu.

Suara itu untuk kedua kalinya Naruto dengar malam ini.

Ia sempat berjengit kaget sebelum akhirnya kakinya serasa membatu. Ia bersusah payah menelan ludahnya sebentar sebelum memberanikan diri menoleh kebelakang. Kesumber suara yang memanggilnya.

Dulu suaranya tak seperti ini. Tapi ia masih tetap ingat bagaimana suara itu tadi walau hanya bertemu beberapa saat setelah sekian tahun.

Ia baru saja melangkahkan kakinya keluar dari restoran. Tiga langkah pun belum. Dan malam ini ia mendapatkan kembali kejutan keduanya.

"K..Kenapa kau disini. Sakura-chan," Naruto begitu terkejut dengan kegagapannya barusan. Dan inilah kejutan keduanya. Gadis dengan surai sewarna musim semi dan mata hijau bening itu berdiri didepan restoran.

"Aku menunggumu," katanya lirih sambil meremas sedkit rok bagian bawahnya. Ada rona merah yang muncul di kedua pipi gadis itu saat ia mengatakannya.

Naruto tertegun.

'Menungguku? Mustahill!'

'Tidak mungkin bahwa akulan yang ia tunggu! Mungkin saja bila itu adalah Sasuke. Tapi menungguku? Apakah itu mungkin?'

Batinnya terus menyuarakan banyak hal. Dirinya tak kunjung memberikan respon atas pernyataan Sakura barusan.

Dan untuk kesekian kalinya malam ini. Suara deheman Sasuke memecah keheningan antara ia dan Sakura kembali.

"Aku duluan Dobe," Sasuke menepuk bahu sahabatnya. Menegerti akan situasi, ia merasa lebih baik tidak berada diantara kedua orang itu sekarang.

"Sampai ketemu Sakura," pemuda bersurai Raven itu melangkah pergi begitu saja mengacuhkan tatapan prostes Naruto padanya.

"Ya. Sasuke-kun,"

Naruto kembali menatap gadis didepannya. Ia begitu penasaran akan bagaimana ekspresi gadis itu melihat Sasuke beranjak meninggalkan mereka berdua. Namun apa yang ia cari tidak ada. Sakura tampak sama sekali tidak keberatan dengan pamitnya Sasuke untuk pulang terlebih dahulu.

"Hubungi aku bila Dobe ini macam-macam padamu," Sasuke yang telah berjalan membelakangi mereka mengangkat satu tangannya memberikan gestur yang dianggap sebagai ejekan oleh Naruto. Ia lalu menerbitkan seringai di bibirnya.

'Good luck Dobe'

Sedangkan Naruto hanya mendecih dengan sedikit senyum yang tersungging di bibirnya. Diiringi langkah kaki Sasuke yang menjauh.


Sasuke melangkahkan kakinya masuk ke sebuah apartemen dengan perabotan minimalis yang mendominasi didepannya. Ia tersenyum tipis melihat lampu kamar yang masih menyala dari pintunya yang terbuka.

"Tadaima," katanya sambil melepaskan sepatu mahalnya untuk berganti dengan sandal rumah berwarna hitam yang tersedia di dekat pintu depan. Sandal khusus sekaligus 'favoritnya' yang selalu ada di setiap kedatangannya.

"Okaeri.. Sasuke-kun," jawab suara dari dalam kamar.

Tak lama kemudian, seorang gadis bersurai indigo panjang keluar dari sana dengan sedikit berlari kecil. Melihat tampilannya yang sudah mengenakan piyama Sasuke berasumsi bahwa gadis itu sudah hendak tidur.

"Ada apa malam malam begini kemari?" wajahnya nampak bahagia mendapati lelaki bersurai raven itu datang.

Sasuke tidak menjawab. Ia mendekati gadis itu yang disambut dengan uluran tangan gadis itu untuk meraih tas kerja yang dibawanya. Saat gadis itu hendak pergi meletakkan tas Sasuke dikamar, tangannya mencegahnya. Ia lalu memeluk gadis itu dan mengecup keningnya dengan sayang.

"Dari mana?" nada gadis itu mulai kesal saat sasuke tak kunjung menjawab pertanyaannya dari tadi.

Sasuke masih terdiam. Ia tahu kekasihnya mulai kesal. Ia berpikir sejenak. Seharusnya ia akan main billiard dengan Naruto malam ini sebagai sambutan atas kepulangannya dari London setelah sekian lama. Namun sebuah petemuan dramatis antara ia dan Sakura menggagalkan rencananya. Ia juga tidak mungkin mengatakan pada kekasihnya ia baru saja menemui Naruto yang sekarang malah sedang bersama Sakura.

"Hari ini banyak pekerjaan yang mengharuskanku lembur, Hinata," ia lalu memutuskan untuk berbohong saja pada calon istrinya. "Dan aku merindukanmu," katanya sambil mengeratkan pelukan lalu mengecup puncak kepala Hinata . Untuk hal yang terakhir ini bukanlah kebohongan. Ia memang benar-benar merindukan kekasihnya.

"Kau mau makan?" tawar Hinata yang kini sudah tidak dalam dekapan Sasuke walaupun tangan lelaki itu masih melingkar setia di pinggangnya.

"Aku sudah kenyang, tadi bawahanku telah membelikanku makan malan di kantor," bohongnya lagi. Ia berusaha terdengar semeyakinkan mungkin di depan Hinata. Sebenarnya cerita yang sesunguhnya, bagaimana tidak kenyang? Menunggu Naruto di restotan beberapa jam membuat ia harus memesan beberapa makanan dan minuman untuk mengalihkan rasa bosannya.

"Kau akan menginap malam ini Sasuke-kun?"

"Tentu saja. Aku merindukanmu."

"Kau lelah?" tanya Hinata kembali dan yang kemudian dijawab dengan anggukan pelan Sasuke. "Ingin langsung tidur atau mandi?"

Sasuke tersenyum lembut. Senyum yang hanya ia tunjukkan pada Hinata. Ia begitu menyukai perhatian Hinata yang seperti ini.

"Aku mandi dulu setelah itu tidur," jawabnya kemudian disusul kecupan yang ia daratkan di bibir mungil kekasihnya.


"Apa kabarmu?"

Suara Naruto memecah keheningan malam kala itu. Ia menyamankan posisi duduknya di jok mobil miliknya. Matanya menatap ke depan. Dari balik kaca mobilnya ia dapat melihat Sungai Konoha yang bergerak pelan kearah timur. Gerombolan lampu yang berkelap-kelip diseberang sungai tampak lebih suka ia pandang kali ini.

Ia meremas kedua tangannya yang masih bertengger di kemudi. Mengumpat dalam hati saat mendapati kedua telapak tangannya basah. Ia sangat nerveous sekarang.

"Baik.." dan satu jawaban dari lawan bicaranya yang berada di sebelah jok kemudi akhirnya meluncur juga. Walaupun butuh waktu lama karena ia tak segera menjawabnya.

Naruto terdiam. Entah mengapa mendadak lidahnya terasa kelu. Ia tidak tahu apa yang harus dikatakannya sekarang. Bertemu dengan Sakura Haruno adalah harapan panjangnya selama ini. Namun pada saat tak terduga kali ini, saat ia tiba-tiba bertemu dengan pujaan hatinya di masa kecil itu ia menjadi bingung. Banyak hal yang ia pertanyakan selama tidak bertemu dengan Sakura mendadak hilang begitu saja dari benaknya.

"Sebenarnya.. juga tidak begitu baik," satu kalimat lagi yang terucap dari bibir gadis musim semi dengan nada yang menyiratkan keraguan itu sukses membuat Naruto menoleh kali ini.

Hatinya menghangat. Ia sempat meneguk ludahnya beberapa saat. Sepanjang perjalanan dari hotel hingga ke tepi Sungai Konoha tadi, Naruto sama sekali tak berani menatap gadis itu sebenarnya. Ia terlalu takut. Takut apabila Sakura tiba-tiba berubah pikiran dan batal mengajaknya bicara kali ini. Dan sungguh.. Sebenarnya itu adalah buah hasil pemikiran konyolnya sendiri.

Cinta pertamanya itu sudah banyak berubah sekarang. Rambut pink nya yang dulu tumbuh panjang sampai pinggang kini telah berganti menjadi sebatas bahu saja. Dipotong pendek dan disellipkan diantara telinganya.

Sakura telah menjadi wanita sekarang. Bukan lagi ABG yang dulu selalu saja menyebut-nyebut nama Sasuke. Ia juga sudah lebih tinggi dari yang terakhir Naruto ingat. Dan satu lagi, wajah cantiknya yang dari dulu sudah cantik kini tampak semakin cantik dan memukau. Ia bukanlah gadis remaja yang ia gilai sewaktu dulu lagi. Ia bertumbuh menjadi wanita dewasa yang berkharisma sekarang.

Dan tentunya masih dapat membuat jantungnya berdebar.

"Kenapa tidak begitu baik?" suara Naruto telah kembali kali ini. Ia bersusah payah mengeluarkannya agar pertemuannya dengan Sakura kali ini tidak berakhir sia-sia.

"Entahlah.." jawaban wanita itu terdengar agak mengambang.

Naruto dapat melihat mata Sakura yang masih memandang ke Sungai tampak menerawang. Ada kesedihan disana.

"Entahlah? dattebayo?" Naruto menaikkan satu alisnya lalu tertawa kecil. Entah setan apa yang merasukinya. Tiba-tiba saja ia ingin tertawa kali ini.

Namun ia tak menyesali kelancangan mulutnya yang berani-beraninya tertawa barusan. Gadis itu sukses menoleh kepadanya. Dengan sepasang manik hijau bening yang ia rindukan. Ia lalu tersenyum tipis saat kedua mata birunya bersiborok dengan lawan bicaranya.

Sakura yang entah bagaimana merasa bahwa dirinya sedang diejek oleh Naruto kali ini lalu memicing tidak suka. "Kau menertawakanku?" katanya sinis.

Naruto lalu menghela napasnya pelan. Senyum tipis yang terpatri di wajahya tak kunjung surut. Sakura masih gadis kecilnya yang dulu. Yang selalu sinis dengannya. Diam-diam ia merasa bahagia. Sakuranya masih belum berubah.

Tak kunjung dapat jawaban dari Naruto, wanita itu lalu mendengus dan kini menyandarkan kepala dan pungungnya ke jok mobil Naruto. Mengikuti pemuda itu yang sudah lebih dulu melakukannya barusan. Setelah menertawakannya tentunya. Minus meletakkan kedua tangan di belakang kepala sebagai sandaran.

Suara tawa terdengar kembali didalam mobil itu.

"Dattebayomu itu tetap tidak bisa hilang ya selama bertahun-tahun."

Sungguh.. Sakura mengatakan itu juga masih sambil menahan tawa di mulutnya.

Naruto meringis pelan. Sakura adalah orang kedua yang mengatakannya selain Sasuke sebelumnya. Ia lalu menolehkan kepalanya kesamping lagi. Ia agak terkejut bahwa Sakura ternyata sedang memandangnya disana. Dengan tatapan yang tidak dapat ia artikan.

"Dan cengiranmu itu juga," suara Sakura terdengar lebih lemah kali ini. Sarat akan kerinduan. Yang tentunya hanya di ketahui oleh Sakura. Karena Naruto terlalu bodoh untuk menyadarinya. Atau mungkin—terlalu takut.

Hening kembali menyergap setelah itu. Mereka saling bertatapan selama beberapa saat. Naruto merutuki dirinya sendiri yang sedang berangan-angan mencium mesra bibir merah lawan bicaranya itu sambil medekap tubuh mungilnya. Dan tentunya pikiran itu ia buang jauh-jauh agar tak mendapat bogem mentah dari lawan bicaranya. Ayolah.. jangan lupakan fakta bahwa Naruto masih pria mesum yang dulu.

Sedang Sakura sendiri tidak mengatakan apapun. Ia terus menatap mata biru pemuda itu. Ia tak ingin kehilangan kesempatan berharga ini. Menatapnya dengan kerinduan yang mendalam selama bertahun-tahun.

"Kau sudah menikah Sakura-chan?"

Mission Complete!

Pertanyaan yang sedari tadi berputar-putar dibenak Naruto akhirnya meluncur juga dari bibirnya. Ia memberanikan dirinya dan meneguk ludah—lagi—sebelum mengatakan pertanyaannya itu. Pertanyaan final yang akan menjadi penentuan ia akan mengejar gadis ini lagi atau tidak.

Naruto merasa gusar karena Sakura tidak lekas menjawab. Gadis itu hanya tersenyum tipis sambil menatapnya penuh arti. Sesekali berkedip untuk menghilangkan perih yang melanda matanya.

"Aku..." akhirnya satu kata muncul dari bibir wanita itu. "Ya—" lanjutnya dengan nada yang kembali mengambang.

Hati Naruto mencelos mendengar kata ya dari Sakura. Padahal yang sebenarnya. Kalimat gadis itu belum selesai tadi.

"Hampir saja. Tahun lalu."

Sakura lantas tersenyum geli masih sambil tidak mengalihkan pandangannya. Ia puas melihat wajah lelaki itu yang mengeras dan kemudian berangsur surut saat ia mengatakan 'Ya' sampai 'hampir saja tahun lalu'.

"Hampir?" nada bahagia Naruto tidak dapat ia sembunyikan dari suaranya. "Lalu? Apa yang tejadi," katanya penasaran. Ia begitu lega saat Sakura mengatakan kata 'hampir' barusan. Artinya ada kesempatan untuknya kan? Bolehkah ia berharap?

"Sepenasaran itukah kau Naruto?" tanya Sakura sambil mengulum senyum dibibirnya.

Skakmat.

Kata-kata Sakura sukses membuat wajah Naruto memucat. Kini ia memutus kontak matanya dengan Sakura dan kembali memilih Sungai Konoha sebagai objek pengelihatannya. Entah mengapa tatapan mata Sakura seolah seperti dapat membaca pikirannya dan lalu megulitinya hidup-hidup.

"Ti-tidak," jawabnya sambil tergagap. Ia dapat merasakan telapak tangannya yang dari tadi basah kini menjadi semakin basah.

"Tidak jadi. Karena sebenarnya kami tidak saling mencintai," Sakura akhirnya membeberkan alsannya.

Ini benar, tahun lalu ia sempat merencanakan pernikahan dengan Gaara. Namun menjelang beberapa minggu sebelum hari H keduanya sadar. Hubungan mereka harusnya tidak harus sampai sejauh itu.

"Bagaimana bisa? Kalian akan menikah tapi tidak saling mencintai?" tanya Naruto terheran. Ia mengangkat satu alisnya bingung. Gadis merah muda ini mendadak jadi misterius setelah 14 tahun tidak bertemu.

"Tentu bisa," jawab Sakura yang kini ikut mengalihkan direksinya ke Sungai didepannya. "Buktinya apa yang aku alami membuktikannya," lanjutnya dengan nada sangat biasa. Tidak ada beban. Seolah yang ia sedang mengatakan bahwa 'gula itu rasanya manis'.

"Kau sendiri? Bagaimana?"

Naruto melirik gadis itu melalui ekor matanya setelah Sakura bertanya balik padanya. Mencoba mencari tahu apakah Sakura juga sepenasaran dirinya saat menanyakan hal tersebut.

Namun naas tak dapat dielak. Tak ada ekspresi berarti yang dapat ditangkap Naruto dari mata gadis itu. Pertanyaan Sakura seolah hanya seperti pertanyaan seorang kawan yang telah lama tak bertemu dengan kawannya.

Ia lalu memilih menelan kekecewaannya. Menghela napasnya sebentar sebelum kemudian menjawab. "Sama denganmu. Hampir?" matanya kini memandang langit-langit mobilnya. Mengingat suatu kejadian di masa lalu. "Itu sudah 5 tahun yang lalu sebenanya, dattebayo," lanjut Naruto yang kemudian terkekeh pelan. Tak ingin membuat hal itu jadi melankolis.

Mereka tertawa bersamaan. Entah apa yang lucu kali ini. Hanya saja mereka ingin tertawa mendengar cerita cinta masing masing yang sama sekali tidak jelas.

"Dan kau tidak berkencan lagi setelah itu, kau dicampakan, eh?" ejek Sakura yang hanya ditanggapi Naruto dengan kekehan pelan.

"Aku banyak berkencan. Tapi yahh—kau tahu? Tidak ada yang pernah benar-benar membuatku jatuh cinta," terang Naruto.

"Jadi kau sudah berubah menjadi Cassanova dan hanya menjalani banyak hubungan konyol disepanjang waktu ini?" tanya Sakura sarkatis. Entah mengapa pernyataan Naruto yang mengungkapkan bahwa ia banyak berkencan membuatnya kesal.

"Kau juga Sakura-chan, dattebayo," kilahnya malah menuduh Sakura sekarang sambil menegerang frustasi. Jujur saja ia tidak suka dengan sebutan 'cassanova' yang disematkan wanita itu padanya.

Sakura lantas terkekeh pelan. Lalu berhenti dan menciptakan keheningan kembali diantara mereka berdua. Ia mengambil napas panjang sampai bibirnya kembali meluncurkan kata-kata. Ada yang masih ingin ia selidiki dari pria ini.

"Hyuuga Hinata," perkataan Sakura sukses membuat Naruto berjengit dan tidak lagi bersandar pada jok mobilnya. "Apa kabar dia?"

"Baik. Sebentar lagi ia akan menikah?" jawab Naruto pelan.

Dan sungguh. Demi Kami-sama. Dari sekian banyak pembicaraannya dengan Sakura mengapa harus terselip nama gadis Hyuuga itu didalamnya. Ia sedang sangat tidak ingin membahasnya sebenarnya.

"Denganmu?" tanya Sakura pura-pura bodoh. Padahal ia tahu, Ino sudah memberitahunya tadi pagi bahwa Sasuke Uchiha akan menikah dengan Hyuuga Hinata. Ia hanya ingin tahu bagaimana hubungan antara 3 orang itu. Namikaze, Hyuuga dan Uchiha.

"Tidak," Naruto menatap mata Sakura gusar saat mengatakannya. Membuat gadis itu mengernyit bingung. "Kalau itu 5 tahun yang lalu itu benar. Tapi tidak sekarang," lanjut Naruto.

"Kenapa?" Sakura sedikit terkejut dengan penuturan Naruto ini sebenarnya.

Sakura sadar. Ia sudah terlalu banyak bertanya sekarang. Tapi rasa penasarannya lebih mengalahkan akal sehatnya kali ini.

"Kami tidak saling mencintai," jawab lelaki itu akhirnya. "Hanya dia yang mencintaiku maksudku—," suara Naruto berubah sendu. Entah mengapa ia lebih terdengar seperti patah hati ditelinga Sakura. Bukan sseorang yang menerima cinta sepihak dari seorang gadis.

"Benarkah?" dahi Sakura mengernyit tidak percaya. Ia ingat. Hyuuga Hinata adalah teman dekat Naruto dari kecil. Ia juga ingat betapa gadis kecil berambut pendek itu suka mengekori kemanapun Naruto pergi dengan wajah memerahnya. Dan Naruto tidak tampak keberatan sama sekali akan hal itu.

"Bukannya dulu kalian sangat dekat," sungguh! Sakura benar-benar ingin menyobek mulut lancangnya sendiri kali ini. Naruto mungkin akan menganggapnya gadis tidak sopan. Tapi biarlah. Ini untuk rasa penasarannya.

"Iya dulu. Tidak sekarang," Naruto lalu tersenyum dan menatap iris hijau Sakura yang bergerak gelisah dari tadi menunggu jawaban darinya.

Sakura benar-benar sangat menahan dirinya untuk tidak ikut tersenyum dengan menggigit kedua pipi bagian dalamnya melihat bagaimana Namikaze konyol itu tersenyum begitu tampan diusianya yang sudah memasuki angka 28 tahun.

Sial.

Pemuda ini tumbuh menjadi benar-benar tampan ternyata.

"Ini sudah larut," suara Naruto tidak membuat Sakura mengalihkan pandangannya sedikitpun dari lelaki tampan itu.

"Ya," bahkan ia menjawab pun masih sambil terus memandang pemuda itu. Terkesima lebih tepatnya.

"Kalau kau terus memandangku seperti itu wajahku lama kelamaan akan berlubang Sakura-chan," Naruto lalu terkekeh pelan.

Blushh.

Wajah Sakura memerah saat itu juga dan mengalihkan pandangannya dari sana.

Sial. Apakah Naruto akan menganggapnya mesum kali ini? Sakura merutuki betapa konyol sikapnya malam ini.

Naruto lalu melirik sambil tersenyum puas melihat wajah memerah Sakura yang kini memandang kembali Sungai didepan mereka.

"Sudah malam. Kuantar kau pulang," Naruto lalu menegakkan bahunya dan mulai menghidupkan mesin mobilnya. "Dimana kau tinggal Sakura-chan?"

TBC? FIN?