Songfic chapter!

Makasih banyak buat semuanya yang udah review. Kalo nggak ada kalian nih fanfic nggak bakal jadi tuntas deh *bow*. Mulai dari chapter ini dan fanfic-fanfic Bleach yang pengen ku bikin selanjutnya, aku namain Hollow Ichigo sebagai Shiro. Nyebutnya lebih enak, lagian udah official di fandom Bleach namanya Shirosaki. Aku ingetin juga, chapter ini pada agak OC.

Song : Memories in the Rain

Singer : Morita Masakazu (Kurosaki Ichigo) & Orikasa Fumiko (Kuchiki Rukia)

-

Chapter 3: Memories in the Rain

Setelah semuanya pergi, Ichigo kembali menghadap nisan ibunya. "Hisashiburi Kaa-san. Nggak kerasa udah tujuh tahun sejak Kaa-san tiada. Kaa-san baik-baik aja di sana? Aah, Kaa-san udah meninggal nggak mungkin baik-baik aja ya." Ichigo tertawa kecil sambil menggaruk kepalanya yang nggak gatel (tangannya aja yang gatel XP). Haha gue malah jadi ikut-ikutan Karin.

ame mae no hi mo ame de sono mae mo ame de (rain...the day before also rained and it rained before)

SLOW MOTION ai wa totsuzen ni (in slow motion, love was suddenly)

ore no mae de kowarete (broken in front of me)

"Waktu itu hujan turun. Tahun lalu dan tahun-tahun sebelumnya juga." beberapa memorinya pada tanggal 17 Juni bermunculan. Selalu saja hujan. Betapa dia ingat setiap tetes air hujan pada hari itu menghancurkan hatinya. 7 tahun lalu, orang yang paling dicintainya di dunia ini tiba-tiba menghilang dalam hujan. Apa tahun ini hujan juga akan turun?, pikirnya. "Asal DI SINI nggak hujan." Dalam sekejap, Ichigo sudah berada dalam inner world-nya.

"Ore to Zangetsu wa ame ga daikirai da. Oboetoke.(1)" ucap Shiro dengan nada jengkel. Seperti biasa Shiro hanya duduk di tembok dinding horizontal, jauh dari rajanya. Sang Raja pun seperti biasa membalas dengan wajah murung khasnya. Di belakang Shiro, Zangetsu berdiri dengan wajah tenangnya seperti biasa pula. Semua terlihat biasa hari ini, gumam Ichigo.

hitotsu dake tada hitotsu dake (just by yourself)

mamorenakattakara (you could not protect just by yourself)

tatakai wa mada tsuzuku hokori no tameni (I continue to battle for the sake of my pride)

"Shiro. Zangetsu. Kenapa gue di sini?" tanya Ichigo. Biasanya mereka menarik Ichigo ke dalam inner world-nya hanya ketika dirinya butuh latihan atau sedang sekarat.

"Lagi-lagi hatimu bimbang, Ichigo." jawab Zangetsu sambil menatap tuan mudanya. Oh ya, Ichigo ingat ketika hatinya bimbang dia akan berada di sini. Siap-siap untuk segala nasehat dan omelan.

"Sampe kapan loe mau jadi anak cengeng?"

"Gue nggak cengeng."

"Keliatan jelas di muka loe, Ou yo. Tuh." Shiro berdiri kemudian menunjuk langit di atas mereka. "Mendung."

"Secara langsung tentu kau tak menunjukkannya. Tapi apa yang ada di hatimu terpancar di dunia ini."

Lagi-lagi cowok rambut orange itu merengut. Marah, kesal, kecewa akan kelemahan hatinya. Secara fisik Ichigo memang kuat, sangat kuat bahkan melebihi level shinigami taichou. Tapi kalau udah masalah hati, jangan ditanya deh. Apalagi kalo kembaran putihnya udah nambahin 'bumbu'.

"Heran, setelah selama ini ternyata loe sama aja. Y-o-w-a-i." Baru diomongin, 'bumbu'nya udah nambah.

"Shiro." tegur Zangetsu. Si Pak Tua sendiri nggak mau Ichigo jadi emosi. "Ichigo, di dunia ini kami hanya sendiri. Hujan di dunia yang hanya ada diri sendiri sangat tak enak." Zangetsu berhenti sejenak melihat reaksi Ichigo. Wajah murungnya berubah jadi merasa bersalah. "Kami akan melakukan apapun unutk mencegah hujan turun." Kali ini Ichigo menatap zanpakuto dan hollow-nya dengan mata lebar.

"Teme wa hitori janai.(2)" tambah Shiro, kali ini dengan nada yang tak pernah Ichigo dengar sebelumnya. Bukan nada sombong, meledek ataupun menghina. Itu nada menghibur yang… Malu-malu?, Ichigo mencari kata yang tepat. Satu kalimat termanis yang keluar dari mulut rombengnya itu. Ichigo tersenyum.

"Nanda?!" Oh imutnya, sekarang si hollow blushing.

Raut muka Zangetsu pun terlihat lega. Tuan mudanya telah kembali tersenyum. "Seperti kata Shiro, kau tak sendirian. Datanglah kalau kau butuh bantuan kami. Teman-temanmu pun siap membantu."

NO TIME TO CRY naku no wa ato da (no time to cry I vowed not to cry)

rokugatsu no ame ni mata chikau dake (after the June rain)

Ichigo melangkahkan kakinya ke arah Shiro dan Zangetsu. Langkah kakinya bergema, rambut orange menutupi wajahnya. Shiro mendapati sang Raja berdiri di depannya dan Zangetsu. Ichigo mengangkat kepalanya menunjukkan sepasang bola mata coklat berkaca-kaca. Nangis lagi?, gumam kembaran putihnya. Tapi ada senyum kecil menghias wajah si kepala orange, "Koko nara, nanimo kakushite hitsuyo wa nai na?(3)"

"Aa." angguk Zangetsu. Tanpa pemberitahuan, Ichigo memluk kedua guardian-nya. Zangetsu dan Shiro udah pasti kaget dengan perlakuan Ichigo yang seperti ini untuk pertama kalinya. Sekali lagi pake shift + bold + underline, PERTAMA KALI.

"Oi oi, Ou…." Shiro merasakan bahu shihakusho-nya basah.

"Ini tangis bahagia tau." protes Ichigo meluk Shiro dan Zangetsu makin erat, nggak mau mereka berdua ngeliat dia nangis. Payah udah mau 16 tahun juga.

"Gue pikir ngiler."

"Sialan loe."

Zangetsu hanya tertawa melihat kelakuan si kembar. Si Pak Tua memegang pundak Ichigo, membalas pelukannya. "Begini lebih baik."

Ichigo melepaskan mereka berdua dan menghapus air matanya. "Aa." cengiran childish mode-nya keluar, persis dengan yang selalu dia tunjukkin ke ibunya tercinta. "Jibun no ossan to kyoudai mitai ni. Kansha suru yo.(4)" pernyataan yang membuat Zangetsu dan Shiro tertegun.

"Naniii?! Ngomong apa loe barusan?! KYOUDAI?! Bener-bener gue bunuh loe! GRAAAH!" Zangetsu nahan Shiro yang tiba-tiba jadi heboh. "Hanaseee!!!" Shiro meronta-ronta.

"Sepertinya sudah waktunya kau kembali Ichigo."

"Sou da. Jangan bilang yang lain. Aib." kata Ichigo. Zangetsu mengangguk, masih tetep nahan Shiro yang makin berontak.

"Sankyuu Zangetsu-ossan, Shiro." hilanglah Ichigo dari pengelihatan mereka.

"Ano baka yarooo! Apa-apaan sih kyoudai! Woi Ossan kenapa loe nahan gue?!" gerutu Shiro yang udah dilepas Zangetsu.

"Hmm? Sekarang kau ikut-ikutan memanggilku ossan. Bener-bener kembar."

"Nanda to?!"

kedo atatakana ame wa ore no hoho wo nurasu (but the warm rain wets my cheeks)

SLOW MOTION atsui suzushisade (in slow motion I am refreshed)

ore wo tsuyoku michibiku (by the heat I will strongly lead)

"Tadi seru banget. Shiro no yatsu, ternyata bisa lucu juga." Ichigo kembali berdiri di depan nisan ibunya. "Setahun ini banyak hal terjadi. Ore shinigami daiko ni natta (5). Berkali-kali terlibat masalah antara hidup dan mati. Shinigami daiko, tapi jadi yang paling sibuk ngurusin urusan Soul Society. Bener-bener Gotei 13 nggak bisa apa-apa tanpa ku." cerita Ichigo pada almarhumah ibunya. "Jadi orang kuat tuh repot ya. Haha."

Renji yang ngerasa terhina denger ledekan Ichigo ampir ngelepasin Zabimaru-nya, tapi ditahan Rukia.

"Tapi aku jadi ketemu banyak teman di sana, dan semuanya shingami-shinigami hebat juga rusuh. Rukia, Renji, Ikkaku, Yumichika, Toushirou, Rangiku-san, bahkan Byakuya. Oh ya nggak lupa Urahara-san dan Yoruichi-san yang udah ngebimbing aku jadi shinigami seperti sekarang. Zangetsu-ossan dan Shiro juga ikut menguatkan hatiku kayak barusan. Temen-temen sekelasku, Inoue, Ishida, sama Chad juga ngebantu. Nggak sampe di sini, aku akan jadi shinigami yang lebih kuat lagi untuk ngelindungin orang-orang dari hollow."

"Sou, tsuyoku ni naru. Soshite ore to tatakau!(6)" cengiran maniak Grimmjow muncul, memamerkan gigi tajamnya. Nggak sabar menunggu saatnya mereka bertarung lagi.

"Grimmjow nggak ada kapoknya. Rukia?" bisik Renji pada Rukia, tapi yang dibisikkin malah lagi terharu.

"Ichigo, aku bangga padamu!" tangis Rukia lebay sambil menghapus air matanya pake sapu tangan chappy-nya.

omoi de nande namanurui mono dewanaikara (halfhearted I question what "memories")

wakaranakutemo ima wa hashiru shikanai (I still don't understand, now I have no choice but to run)

"Ngomong-ngomong hollow, ternyata ada juga yang bisa diajak jadi temen lho Kaa-san." lanjut Ichigo. "Selain Shiro hollow-ku sendiri, ada Grimmjow dan Ulquiorra." Yang diomongin langsung najemin kupingnya, bahkan Ulquiorra bereaksi. "Pertama kali ketemu ya musuh. Asli ngeselin! Grimm tuh paling rese', kerjanya berantem aja! Tau-tau muncul ngajak berantem, kayak tadi pagi ngalang-nglangin aku ngelayat ibu." gerutu Ichigo, tepatnya curhat. Yang diomongin ditahan mati-matian sama Rukia dan Ranji supaya nggak bikin rusuh.

"Kalo Ulqui. Emang bahaya itu espada. 2 kali aku dibunuh sama dia. Tapi dia emang aneh. Aku sendiri nggak ngira akhirnya malah jadi temenan. Kayaknya emang bener kata Karin, temen-temenku brutal semua." seperti biasa Ulquiorra hanya diam, terus menatap si Shinigami Daiko. Grimmjow yang makin brutal gara-gara Ulquiorra nggak dihina juga akhirnya ditahan pake Bakudou Sai(7).

Senyum menghias wajah Ichigo, "Yappari, berkat mereka berdua juga aku tiap hari makin kuat. Grimm nyebelin gitu sebenernya temen sparring yang paling pas."

"IIICHIIIGOOO!!!" Sexta Espada yang berhasil lepas dari binding bakudou langsung lompat nerkam Ichigo (wuaaa seyem!)

"HEE?! GRIMMJOW?!"

BRUAAAGH!!! *sound effect*

"Beraninya loe ngehina gue!!! Kenapa Ulquiorra nggak?!" Grimmjow narik kerah baju Ichigo, marah-marah pake muncrat ke muka si Berry (eww Grimm…).

"Loe!!! Kenapa?! Sejak kapan?! Kok tau gue di sni?!"

"Loe belom jawab pertanyaan gue. JANGAN NANYA BALIK!"

"Eh? Ah? Lho? AAAKH!!!" Ichigo ngeliat Rukia, Renji, dan Ulquiorra muncul dari tempat persembunyian. Sanking shock-nya, Ichigo refleks ngelempar Grimmjow dan langsung berdiri. Alhasil Espada bermata biru suksese mendarat pake pantat. "Temera! Nade da?! Itsunomani?! Ore wa koko ni naze shiteiru?!" panik, lagi-lagi Ichigo ngulang pertanyaan bertui-tubi yang sama.

"Kita penasaran. Sejak awal. Kita ngikutin loe." jawab Ulquiorra berurutan, expressionless.

Lho?

"Hee. Ternyata loe jujur di depan nyokap loe ya, Ichigo." komentar si rambut merah dengan cengir jahilnya.

Lho?

"Ichigo… *hiks* manis banget deh loe! Omongan loe tadi sangat menyentuh hati. *hiks* seandainya Nii-sama juga denger." Ucap Rukia masih pake sapu tangan chappy menghapus air matanya.

Input – process – output (pikiran Ichigo lagi mencerna informasi). TING!

"JADI LOE PADA DENGER SEMUANYAAA??!"

"Iya."

"Kaa-san! Selama ini aku jadi anak baik. Temen-temnku banyak, aku seneng main sama mereka. I miss you mommy. Love, Ichigo." Renji niru curhatan Ichigo dengan 'sedikit' modifikasi (dihajar Ichigo).

"Gu-gue nggak ngomong norak gitu!" muka Ichigo jadi merah padam mirp sama namanya. Meledaklah tawa Renji.

Grimmjow akhirnya berhasil bangkit setelah rasa sakit di pantatnya ilang. "I-CHI-GOOO!!!" Espada berambut biru muda itu siap menyerang Ichigo lagi, tapi… "Apaa Ulquiorra?!" si Cuatro Espada nahan rekannya.

"Sabar."

"Mentang-mentang loe nggak dihina, ngajak berantem juga?!"

"Kurosaki Ichigo bilang, dia seneng sparring sama loe kan?"

"Huh? Ah iya tapi! Dia ngehina gue… nggak terima!" gerutu Grimmjow.

Kayak anak kecil, desah Ulquiorra. Espada berambut hitam itu mengalihkan perhatiannya ke Ichigo yang abis-abisan diledekin Renji.

"Ichigo!" satu pukulan telak bersarang di kepala Ichigo, asalnya ternyata dari Rukia. "Ngapain juga pake malu. Itu semua yang ada di hati loe kan? Jujur itu bagus lho."

"Haha! Joudan da yo! Becanda! Loe toh sensi banget!" Renji menepuk-nepuk punggung sobat Berry-nya.

NO TIME TO CRY tsuyoku naru dake (no time to cry I can only become strong)

rokugatsu no ame wa tada inochi dake (the June rain is life or death)

Tiba-tiba Ichigo gemetar. Terdengar suara percikan api dan dengan cepat api menyebar membungkus dirinya! Nggak lupa mata ikut berapi-api. Suasana memanas!

"Temera… berani ya… BERANI BANGET LOE PADA NGINTIL DAN NGUPING ORAAANG!!! DASAR CEBOL! BABON! KUCING! KALONG!" maka rusuhlah mereka di kuburan.

"Loe bakal nyesel ngatain gw cebol!"

"Gue bukan BABON!

"Hehe. Omoshiroi, yatto tatakae! (8)"

"No comment."

"Hahaha! Maju loe semua! Gue bales loe pada!!!"

NO TIME TO CRY tsuyoku naru dake (no time to cry I can only become strong)

rokugatsu no ame wa tada inochi dake (the June rain is life or death)

Arigatou, minna. Ternyata hari ini hari spesial. Kaa-san, berkat mereka aku bisa tertawa seperti sekarang. Di hari yang biasanya aku bersedih, aku bisa tertawa bareng mereka. Walau ada teman-teman aku nggak mungkin ngelupain Kaa-san. Kayaknya hari ini nggak akan hujan. Jadi jangan khawatir, Kaa-san. Love, Ichigo.

"Oooh dipake juga 'love'nya."

"Urusai!"

Owari

-


(1). Ore to Zangetsu wa ame ga daikirai da. Oboetoke. = Gue dan Zangetsu benci banget hujan. Inget itu.

(2). Teme wa hitori janai. = Loe nggak sendirian.

(3). Koko nara, nanimo kakushite hitsuyo wa nai na? = Kalo di sini, nggak ada yang perlu ditutupin kan?

(4). Jibun no ossan to kyoudai mitai ni. Kansha suru yo. = Serasa paman dan saudara sendiri. Aku bersyukur.

(5). Ore shinigami daiko ni natta. = Aku udah jadi shinigami pengganti.

(6). Sou, tsuyoku ni naru. Soshite ore to tatakau! = Ya, jadilah kuat. Trus berantem sama gue!

(7). Bakudou Sai bakudou (binding way) kidou no.1 yang pertama kali dipake Rukia di eps 1 waktu nahan Ichigo.

(8). Omoshiroi, yatto tatakae! = Menarik, akhirnya berantem!

Horeee! Jadi juga 1 fanfic selesai! Makasih atas bantuan reader yang udah ngereview fanfic ku.

Talk Show time!

Ichigo : Oi! Oi! Gue nggak kayak gitu!

Anayu : Lah kan awalnya gue udah bilang rada OC. Btw, scene loe sama Shiro n Zangetsu udah kayak keluarga bahagia. Ayah dan putra kembarnya X3

Ichigo : Sou ka? Maa, Shiro lucu juga di sini.

Shiro : IYA! ZETTAI NI IRANEE!!! Ogah banget!!!

Anayu : Kyaaa! Shiro! *peluk*

Shiro : Cari mati loe ya udah maksa gue sodaraan ama tuh anak! *dorong author*

Anayu : Ichigo juga peluk sini! Berpelukaaan~

Isshin : Ichigo musuko yo! Kau lebih senang Zangetsu jadi ayahmu?? Teganya! Masaki!!! *meluk Ichigo sambil nangis-nangis*

Ichigo : Chikai! Chikai! AARGH! Jorok ingusnya ke mana-mana! Hanase kuso oyaji!!!

Grimm : Ichiii!!! Ayo lanjut berantem!!!

Anayu : Hai soko made da. Tutup tirai! *peluk Grimm!*