Title : Beside You

Disclaimer : Masashi Kishimoto. Kalau Naruto punya aku, Gaara-kun pasti jadi tokoh utamanya, bukan Naruto. Hahaha..

Summary : "Kenapa kamu, tidak pernah melihat disampingmu? Jangan hanya melihat kedepan. Kau perlu untuk melihat kesamping—kesebelahmu.." "Aku cemburu, baka!" "Anggap saja ini hadiah, karena kau selalu ada disampingku.."

Pairing : Sasuke U. dan Sakura H.

Warning : OOC, Gaje, Garing.

Author Notes :

Nee, gomen-ne.. Author amatir ini banyak salah lagi haha.. *dichidori Sasuke*

Gomen! Author nggak bisa bedain mana Oranye mana Hijau haha. Maaf, harusnya mata Sakura itu EMERALD. Bukan AMBER haha.. (terima kasih akane-chan)

Banyak misstypo dan salah typo pulaaaa… huaaaaaaa… --pundung dipojokan—

Terima kasih pada yang sudah mereview.. Terus review yaaa…

Maaf kalo ceritanya tambah garing dan gaje *muncul sweatdrop*

Yang penting bacalah Chapter 3 ini, kupersembahkan untuk kalian, special untuk para Senpai dan Readers!

***000***

Sasuke menoleh, kembali menatap mata hijau emeraldnya Sakura. "Memang 'iya'."

"Setelah kematian Okaa-san, Otoo-san hanya melihatmu, bocah tengik!" ucap Itachi geram. Rantainya sedikit bergerak. "Kau merebut perhatian Otoo-san dariku! Kau membuatku semakin hancur, Sasuke!"

"Aku menyukaimu."

Beside You

Chapter 3 : Can You See?

Sakura terdiam. Ia tidak bisa bergerak. Lalu sisi dirinya yang lain mencoba tertawa, "Nee, Naruto-kun, jangan bercanda.. kau ini ada-ada saja.."

"Ie," Naruto dengan cepat menyela. "Aku bersungguh-sungguh.."

Sakura menatap mata biru Naruto. Ya, tidak ada tanda 'ia-sedang-bercanda' disitu. Sakura hanya diam. Ia mengalihkan pandangannya ke bawah, seakan tak ingin menjawab pernyataan Naruto. Naruto pun diam.

Sakura--sumpah--merasa sangat tidak enak pada Naruto. Naruto adalah sahabatnya. Dan setiap hari, Naruto pasti mendengar Sakura berberita tentang Sasuke, bercerita tentang bagaimana perasaannya pada Sasuke. Sakura mempersiapkan kata-katanya. "Nee, Nar--"

"Aku tahu kau menyukai Sasuke," ucap Naruto, memotong kalimat Sakura. "Aku tidak akan memaksamu untuk menjadi pacarmu. Tapi ijinkan aku, tetap berada disampingmu, Sakura-chan.."

Sakura mendengarkan ucapan Naruto dengan baik. Perkalimat, perkata, itu sungguh sangat menyiksa Sakura. Sakura merasa sangat bersalah. Ia merasa, dirinya adalah orang paling jahat sedunia. Orang yang tidak bisa mengerti perasaan orang lain.

Naruto mendekat kearah Sakura (hey jaraknya udah terlalu deket! Masih aja nambah-nambah! *dirasengan Naruto*). Naruto tersenyum—senyuman pasrah, "Kau juga tak harus menjawab perasaanku. Menyatakan perasaanku begini justru membuatku lega.."

"Naruto-kun, pernahkah kamu berfikir, kalau menerima orang yang sudah pasti hanya melihat kita seorang, akan terasa senang?" ucap Sakura tiba-tiba.

Naruto diam. Ditembak begitu, ia hanya bisa nyengir kuda ngga jelas. "Ada apa? Kenapa tiba-tiba bertanya seperti itu?"

Sakura menggeleng. Ia lalu tersenyum menatap Naruto, "Pasti senang kan?"

"I-iya.." ucap Naruto, tiba-tiba gagu.

"Apa kau pernah menyadari, ada gadis yang selalu ada setiap saat untukmu?" ucap Sakura, spontan membuat Naruto menggeleng. Naruto, sangat tidak peka akan masalah beginian. Sakura tersenyum, "Aku memang sahabatmu, tapi aku jarang ada untukmu kan?"

Naruto mengangguk. Sakura melanjutkan ucapannya, "Kenapa kamu, tidak pernah melihat disampingmu? Jangan hanya melihat kedepan. Kau perlu untuk melihat kesamping—kesebelahmu.."

"Kalau menolakku, ya tolak saja. Aku tak butuh diceramahi," ucap Naruto, kesal diceramahi oleh Sakura.

"Ie." Kata itu tentu membuat Naruto diam, dan menunggu kelanjutan dari ucapan Sakura, "Ada seorang gadis yang menyukaimu. Ia sangat setia. Kau akan menyesal bila melewatkannya.."

Naruto terdiam. Sakura membalik badannya, "Ini tantangan untukmu. Sampai ketemu dikelas. Ja nee~"

BLAM!

Pintu itu tertutup. Sementara Naruto, ia hanya diam sambil memikirkan ucapan Sakura. 'Menyukaiku? Siapa eh?'

Tiba-tiba bayangan sesosok gadis menghinggapi pikiran Naruto. 'Apakah dia?'

***

Sakura berjalan dengan langkah riang ke arah kelasnya. Ia melihat Sasuke berdiri dikoridor sambil menyenderkan punggungnya. Sakura memilih untuk membalas perlakuan Sasuke padanya tadi pagi. Sakura, mengacuhkan Sasuke, dan terus berjalan kearah kelas.

"Choto.."

Sakura menoleh. Sasuke memanggilnya. "Ya?"

"Tadi, siapa yg memanggilmu?" tanya Sasuke cepat.

"Naruto-kun.." jawab Sakura santai.

"Mau apa dia?" tanya Sasuke lagi. Ia sedikit terlihat tidak suka.

"Bukan urusanmu," ucap Sakura, sambil mengalihkan pandangannya. Mencoba tidak perduli pada sikap Sasuke.

"Kau—" Sasuke menarik lengan Sakura, "Bagaimana bukan urusanku? Aku tidak suka, bodoh!"

"Apa maksudmu hey?" Sakura melepaskan pegangan tangan Sasuke, "Kalau bicara itu yg jelas!"

"Aku cemburu, baka!" ucap Sasuke, sambil mengalihkan pandangannya, tapi tetap memasang gesture cool-nya.

"Cemburu?" Sakura mengulangi pernyataan Sasuke.

"Hn," balas Sasuke.

"Kenapa kau cemburu?" tanya Sakura dengan polosnya.

"Ah sudahlah. Ku jelaskan juga kau tak akan mengerti.." ucap Sasuke, lalu berlalu dihadapan Sakura.

Sakura diam. 'Cowok itu.. Dasar baka!'

Sakura menghentakan kakinya keras-keras ke lantai. 'Lihat saja nanti, akan kubalas kau, Sasuke Uchiha !'

***

Someone POV

Entah sejak kapan, perasaan kagumku padanya berubah. Dia seorang gadis yang tangguh. Aku mengagumi ketangguhannya. Tapi, saat kemarin ia terluka, dadaku bergetar. Diotakku hanya muncul bayangannya. Dan yang aku pikirkan hanya keselamatannya. Bukannya aku munafik atau apa, tapi aku tak mengerti pada perasaanku.

Dan sekarang, kemundulannya dipikiranku sudah memiliki frekuensi tetap. Yaitu terus menerus setiap saat! Yep! Bagus! Dan itu sangat mengganggu!!! Apalagi sekarang Temari-senpai sudah menyindirku setiap kali aku melamun.

Oke. Cukup. Aku harus menemuinya hari ini!

End Of Someone POV

Sakura berjalan perlahan dari rak sepatu. Seseorang dengan sepeda motor merah terparkir di gerbang sekolah. Seragam serba putihnya menandakan identitasnya. Seragam Suna Gakuen. Rambut merahnya melambai halus terkena sapuan angin. Sakura terkejut mendapatinya ada di gerbang sekolahnya.

Sabaku Gaara. Pemuda gothic dengan eyeliner itu menatap Sakura dengan senyuman yang—ehem—keren menurut Sakura. Gaara tak lain adalah sahabatnya sejak kecil. Sosok Gaara sudah sangat dekat dengan keluarga Sakura. Sakura balas tersenyum. "Gaara-kun!"

"Saku-chan.." ucap Gaara, tertahan saat angin menerbangkan rambut sebahu Sakura.

Sakura berlari menghampiri Gaara. "Ada apa kemari?"

"Nee," Gaara menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Ia grogi. "Aku hanya ingin menjemputmu. Kau mau?"

Sakura tersenyum. "Dengan senang hati.."

Gaara menggandeng tangan Sakura, seperti apa yang sudah biasa ia lakukan sejak kecil, "Ayo!"

Sakura juga santai saja. Ia sudah biasa mendapat perlakuan manis dari seorang yang sedingin Gaara. Sakura segera naik kemotor Gaara. Gaara dengan cepat member satu helm kepada Sakura, dan memakai helmnya sendiri. Tapi, Sakura tak menyadari kalau ada sepasang mata onyx yang memperhatikan keakraban Gaara-Sakura dengan tatapan tidak suka. Tangan orang itu mengepal erat. Dalam hatinya ia bersungguh-sungguh tak akan merelakan gadis itu, bersama orang lain selain dirinya. Motor Gaara kemudian melaju meninggalkan halaman depan SMA Konoha.

Sepanjang perjalanan, Gaara hanya diam. Ia tak pandai dalam berkomunikasi. Sakura tau itu, dan ia tau apa yang harus ia lakukan. "Nee, Gaara-kun, kau kemari hanya untuk menjemputku?"

"Iya," ucap Gaara singkat.

"Untuk apa? Apa ada yang sangat penting?" tanya Sakur, lagi. Sakura—agak—merasa aneh. Karena tidak biasanya Gaara menjemputnya sesudah pulang sekolah.

"Ie," jawab Gaara, lalu dengan cepat melanjutkan, "Aku hanya kangen padamu, Saku-chan.."

Wajah Sakura memerah. Detak jantungnya terasa semakin tidak menentu. Pelukannya pada punggung Gaara semakin erat. "Aku juga kangen padamu, Gaara-kun.."

Gaara tersentak. Hampir saja ia memencet rem. Gaara menatap berkeliling. Tempat tujuan mereka sudah dekat. Ia lalu berbelok. Sakura menatap sekelilingnya. Bukit Lavender?

Gaara memarkirkan motornya di pinggir padang bunga Lavender. Sakura turun dengan pandangan mata takjub. Ia tidak menyangka kalau di kota sebesar Tokyo ada padang bunga Lavender. "Kawaii.."

Gaara tersenyum. Senang kalau Sakura ternyata menyukai 'hadiah'nya. Gaara menarik tangan Sakura lembut, lalu mengajak Sakura naik keatas bukit. "Ini hadiah, untukmu, Saku-chan.."

"Hadiah?" Sakura mengulanginya. "Aku kan tidak sedang berulang tahun Gaara-kun.."

"Haha.." Gaara tertawa. Ia menertawakan kepolosan Sakura. "Anggap saja ini hadiah, karena kau selalu ada disampingku.."

"Disampingmu?" Sakura—kembali—mengulangi pernyataan Gaara.

"Ya. Kau selalu ada disaat aku membutuhkanmu. Kau selalu ada setiap saat.." jelas Gaara. Mereka sampau diatas bukit. Gaara lalu berbalik menatap Sakura. "Tidak pernahkan kamu menyadarinya, Saku-chan?"

Sakura terdiam. Ia tidak mengerti. "Gaara-kun, apa maksudmu?"

Gaara menggeleng pelan. Ia kembali terfokus pada mata emerald Sakura. "Aku tidak bermaksud apa-apa.."

Sakura tahu Gaara menyembunyikan sesuatu darinya. Tapi, Sakura bingung. Haruskah ia mengetahuinya? Atau malah, lebih baik ia tidak mengetahuinya?

Gaara, tanpa disangka, memeluk Sakura. Sakura terkejut. Gaara memeluk Sakura erat. Seperti enggan melepaskannya kembali. Sakura hanya diam. Jantungnya berdetak lebih cepat. Haruskah ia bertanya, untuk apa pelukan ini?

Sakura diam. Lalu memejamkan matanya. Ia lebih memilih menikmati pelukan Gaara. Hatinya merasa nyaman saat Gaara memeluknya. Tiba-tiba, terlintas bayangan dipikiran Sakura. Sakura mendorong Gaara. "Ano.."

Gaara kaget. Spontan, ia membungkukan badannya. "Gomen!"

"Daijoobu.." ucap Sakura, justru ia sendiri terkejut akan sikapnya barusan. 'Apa yang aku lakukan pada Gaara-kun? Kenapa bayangannya muncul? Orang itu.. kenapa bisa?'

Gaara menatap wajah Sakura. Ia bingung setengah mati akan sikap Sakura barusan. "Saku-chan, aku tidak berniat menyinggungmu, tapi, apa perlakuanku padamu barusan, sedikit mengganggumu?"

Sakura menggeleng tegas. "Ie. Tadi aku hanya kaget saja, aku kira ada ulat bulu di bunga Lavender itu. Tapi ternyata bukan.. hehe.. gomen-ne.."

Gaara menatap mata emerald Sakura. Terselip sesuatu pada sorot matanya. Ia tahu Sakura sedang berbohong. Ia hapal betul bagaimana kebiasaan dan sifat gadis ini. Gadis berponi itu kini menarik tangan Gaara. "Main sebentar yuk? Aku ingin mengenang masa kecil kita.."

"Kenangan yang seperti apa, Saku-chan?" tanya Gaara. Ia mengharapkan sebuah jawaban, yang dapat memantapkan hatinya.

TO BE CONTINUED

Chapter 3 selesai neee…

Senangnya… tapi gomen-ne, kalau masih ada misstyppo dan kesalahan lagi. Harap direview dan diberitahu.. (maksa)

Gomen-nee… kembali memotong dan menggantungkan cerita heheee… *ditaplok*

Sekarang, harap direview.. tapi jangan di flame..*menatap dengan puppy eyes* takut soalnya :D

Maaf juga kalau OOC. Hehe..

Yang penting review.. mind for review nee? Bukan flame loh :D (maksa banget)