And Love Will Never Go…

And Love Will Never Go…

Here comes the chapter three!! Agak lama ya, ngapdetnya… maap… sibuk berat, saya baru inget ternyata saya lagi bikin naskah film dalam bahasa Inggris (sukur-sukur bisa difilmin dan menang Oscar)… truz saya sempet kehilangan mood… maap…

A/N: lagunya Avril dipake lagi…

Ralat (again… dasar Authoress pelupa):

Sai: oi authoress pelupa! Gue kok enggak ada sih?

PuTiLiciOUs: eh? Emangnya elo enggak ada ya – berlagak innocent - ?

Sai: enggak, tau! Elo liat aja deh, chapter-chapter sebelumnya!

PuTiLiciOUs: yawdah… ini, elo gue masukin! Dasar cowok edan, gila, baka!!

Sai: apa elo bilang!! – ngegambar T-Rex – Ninpo, chouju…

PuTiLiciOUs: eitt! Kalah cepet! Crucio!

Sai: aaaaaargh! Ampyuuuuuuun!!

Chapter 3. The Thing That Happened to Luna in England

Luna's POV

YA AMPUN. Dia baik banget! dia ngebelain aku! Parahh!! Dia… dia… dia mirip Neville. Cuma, dia lebih kurus, lebih tinggi, lebih tampan, suaranya lebih berat, dan dia lebih lancar ngomongnya (tau dong, Neville kan ngomongnya rada gagap). Lepas dari semua itu, dia manis banget…

Sial. Aku lupa nanya namanya. Jadinya, sekarang aku ketar-ketir deh, mikirin dia. Dan kayaknya sahabat-sahabatku ngeliat ke-tau-apaan-ku ini.

"Luna-Chan, lagi mikirin apa?" tanya Tenten heran. Gimana enggak heran, orang aku bengongnya sambil ngeliatin CD PS Bloody Roar sih… aku tersenyum – meskipun aku tahu mereka tak bisa melihat senyumku, tapi aku tahu mereka bisa melihatnya lewat mataku –.

"Iya nih, dari tadi Luna-Chan banyak bengongnya. Emangnya kenapa sih? cerita dong sama kita-kita!" desak Ino ceria.

"Iya nih… dari tadi bengong, terus senyam-senyum sendiri. Elo kenapa?" tanya Hinata jahil. Aku hanya tertawa menghadapi pertanyaan mereka, dan muka cengo Sakura.

"Udah… entar, di kafe aja. Masa mau diomongin di sini, di toko PS sih?" tanyaku sambil tertawa. Keempat sahabatku tertawa minta maaf. Lalu, kami melanjutkan hunting PS (cewek metal gituh, mainannya PS).

Sayangnya, kami akan berada di Computer Center lebih lama lagi. kami masih belum menemukan software scrap book yang dipesan oleh dosen kami, Ebisu-sensei. Maklum saja, kami baru melihat software itu di acara Pimp My Ride (suer deh, beneran ada! Tanya aja ma Mad Mike! Lho!). Makanya, kami belum terlalu tahu soal software itu.

Akhirnya, setelah muter-muter Kotos Computer Center selama 2 jam, itu software bapet ketemu juga. Kita akhirnya ngadem dulu di kafe J.Co (Jiraiya Cooperation a.k.a. Koperasi Jiraiya).

"Luna-Chaaaaan, cerita dong!!" pinta Sakura memelas (hohoho… bunyi juga kau…)

Aku mengangkat cadarku sedikit, memasukkan sedotan, menyeruput Blueberry Frappe-ku, lalu mulai bercerita.

"Oke, gue cerita. Begini lho ceritanya…," kuceritakan kejadian di Busway sedetail-detailnya.

Tenten, Hinata, Ino, dan Sakura tercengang. Mulut mereka membentuk huruf O sempurna. Hihihi, lucu banget!

"Waaaaaaaaw… dia baik banget!" pekik Ino.

"Ya ampyuuuun……," Hinata kehabisan kata-kata. Sementara itu, Sakura dan Tenten masih tercengang.

"Elo udah nanya siapa namanya, nomor hapenya, sama imel, ato fs, ato facebook, ato multiplynya?" tanya Tenten.

"Belom. Gue lupa," jawabku, yang langsung disambut dengan perkataan 'Yaaah' berjamaah dari mulut sahabat-sahabatku.

Aku memang belum tahu siapa nama cowok itu, tapi, entah kenapa, perasaanku bilang kalau cowok itu adalah Neville. Ya, Neville, pacarku, yang selama ini terpisah dariku.

Ya ampun… seandainya perang penyihir besar-besaran di Inggris tidak terjadi, mungkin aku tidak akan terpisah dari Neville.

Flashback

Tahun lalu.

Inggris semakin kacau. Perang bertebaran di mana-mana. Perang antar penyihir, tentu saja. Voldemort menyerang Hogwarts setelah Dumbledore berhasil dibunuh oleh Snape. Keadaan Negara kacau balau. Menteri sihir Rufus Scrimgeour (bener gak sih ejaannya?) terbunuh, dan digantikan oleh Phius Thicknesse, boneka Voldemort.

Sebagian besar media – di bawah tekanan Voldemort dan para Pelahap Maut, tentu saja – tidak berani menyuarakan dukungan mereka kepada Harry – yang menghilang karena sedang melakukan perintah Dumbledore yang dapat membantu kami mengalahkan Voldemort – dan Orde Phoenix. Tetapi Dad menolak untuk berlaku seperti itu. The Quibbler tetap mendukung Orde Phoenix dan Harry. Tetapi, tentu saja kami harus menerima konsekuensinya.

Para pendukung Voldemort mengejar-ngejar kami. Akhirnya, Dad memutuskan untuk pindah ke luar negeri. Untung aku sudah lulus jadi Hogwarts, jadinya untuk urusan akademis tidak terlalu sulit. Aku mengatakan impianku untuk kuliah di Jepang pada Dad. Dad setuju. Kami akhirnya pindah ke Jepang. Tetapi, untuk menutupi jejak kami, aku harus menonaktifkan/memblokir semua account-ku di internet. E-mailku, fsku, multiplyku, facebookku, dan yang lainnya. Aku juga harus mengenakan cadar seperti orang Arab jika ingin berjalan-jalan. Semuanya untuk mencegah tertangkapnya kami oleh gerombolan Voldemort, si bastard kelas kakap itu.

Saat kami pindah ke Jepang, aku memang ikut tes di UHC, tapi entah kenapa – mungkin karena aku masih memikirkan masalah kabur dari Inggris ini – aku tidak lulus tes masuk UHC. Aku memutuskan untuk masuk ke kampus bergengsi lainnya di Konoha, yaitu KIT di Fakultas Astronomi (A/N: ini gara-gara namanya Luna, yang artinya kalo gak salah tuh bulan.). Dad menyetujui pilihanku.

Satu-satunya masalah yang kudapatkan saat aku tiba di Jepang adalah masalah bahasa. Ya, aku masih belum terlalu lancar berbahasa Jepang. Untungnya, saat aku sedang test penerimaan di kampus, aku bertemu dengan sekelompok gadis jepang yang sangat baik sekali dan fasih berbahasa Inggris. Yap, mereka adalah Hinata, Tenten, Ino, dan Sakura. Mereka mengajariku berbahasa Jepang yang baik dan mendingan, sekaligus menjadi sahabat-sahabatku. Aku bahagia sekali bisa bertemu dengan mereka.

Setelah enam bulan lebih berada di Jepang, aku mendengar kabar dari komunitas penyihir Inggris bahwa Voldemort sudah berhasil dikalahkan oleh Harry dan keadaan di Inggris sudah stabil. Kementerian Sihir Inggris sekarang dipimpin oleh Kingsley Shacklebolt, anggota Orde Phoenix yang bijaksana dan baik hati itu. Aku sangat bersyukur mendengar berita itu, meskipun di sisi lain aku sedih mendengar beberapa temanku seperti Fred Weasley, Nymphadora Tonks dan suaminya, Remus Lupin, serta si Colin 'Harryholic' Creevey tewas karena pertempuran besar-besaran di Hogwarts itu.

Sekarang, untuk urusan keamanan aku bisa dibilang sudah aman. Tapi, untuk urusan Neville, usahaku masih nihil. Aku belum bertemu dengannya. Aku belum dapat alamat e-mailnya. Dia ganti e-mail setelah pindah ke Konoha, sepertinya. Aku benar-benar sedih. Perang sudah mengacaukan kehidupanku.

End Flashback

When you're gone the pieces of my heart are missing you

When you're gone the face I came to know is missing too

When you're gone the words I need to hear

To always get me through the day

And make it okay

I miss you…

Aku tercenung, sementara sahabat-sahabatku asyik menggosip. Mungkin nggak ya, aku ketemu sama Neville lagi??

XxXxXxXxXxXxXxXxXxXxXxXxXxXxXxXxXxXxXxXxXxXxXxXxXxXxXxXxXx

Haloooo… semuanya… para pembaca setia ALWNG… maap ya, buat chapter yang kali ini ngapetnya rada lama…

Balas ripiu dulu yah!!

Raichan-wibb: makasih Mbak!! Makasih udah mau tetep ripiu punya saya!! Saya bahagiaaaaaaaaa bgt punya penggemar setia kayak Mbak!!

Funsasajii1: gak selalu kali… waktu itu aja gue bales… eh, nginep donk di rumah gw. Si Tari aja udah mau tuh!!

Adin Potter: makasih… makasih…

Biaaulia: BIA!! Makasih udah mau promosiin!! Makasiiiiiiiiiih!! Moga-moga makin banyak yang baca en ripiu yah!! – sujud sukur -

Selain itu… Permintaan saya hanya 1… ripiu!!

Ripiu!! Ripiu!!

Thx!! Tetep baca ALWNG yahh…

W/ Love,

PuTiLiciOUs