Memories
Main cast,
Lee Hyukjae/ Eun Hyuk – Lee Donghae
Main pair,
Hyukhae or Eunhae ?
Genre,
Romance and sad story
Rated,
T
Disc,
Just Donghae is mine, lol
Craeted by Lee Suhae
…
-Chapter III-
Ia .. tersenyum begitu lembut. Menatap dengan satu pandangan lurus ke arah pemuda berseragam sekolah yang tengah terduduk, menyenderkan punggungnya dipohon Maple. Lantas, ia berjalan menghampiri sang pemuda berwajah manis yang kini tengah memandanginya. Menantinya dengan senyuman malaikat khasnya.
"Ini .."
Donghae menatap heran dengan segelas minuman yang diberikan Eunhyuk kepadanya. Namun, sedetik kemudian ia tersenyum dan mengambil segelas minuman itu.
"Terimakasih" ucapnya sambil meminumnya. Eunhyuk mengangguk dan tersenyum menanggapinya.
Hening beberapa saat. Hingga akhirnya Eunhyuk menolehkan wajahnya ke arah Donghae. Ia tersenyum begitu tulus, saat melihat kekasihnya –kekasih kembarannya yang sangat ia cintai tersenyum. Memejamkan matanya saat ia merasakan hembusan angin yang menerpa tubuhnya. Wajahnya terlihat begitu damai.
Ingin rasanya ia menyentuh wajah manis itu …
Andai saja,
Ia mengalihkan wajahnya, menundukkan wajahnya sambil berpikir atau mungkin berangan –angan. Berangan –angan semu lebih tepatnya.
"Eh?" ia terkejut, saat ia merasakan ada sebuah lengan yang memeluk dirinya dari belakang. Ia tahu siapa itu, karena memang hanya dirinya dan sosok itulah yang ada ditaman ini.
Donghae tersenyum, memberikan tatapan teduhnya ke arah Eunhyuk yang terlihat begitu terkejut menerima perlakuan Donghae yang menurutnya, sangat tiba –tiba. Tapi sayang, Donghae tidak menyadari hal itu, meski ia sedikit bingung dan heran. Curiga, kenapa wajah 'Hyukiie –nya'menjadi gugup seperti itu.
Seperti pertama kali saja,
Walaupun ia mengabaikannya.
"Hyukiiee .. apa nanti malam kita akan jadi kencan?" tanya Donghae malu –malu dengan diiringi semburat merah dikedua pipi chubby –nya. Ugh .. sangat menggemaskan dimata Eunhyuk.
Ia mencubit pelan pipi Donghae, tak kuasa menahan dirinya untuk tidak melakukan itu. Hal yang sebenarnya ingin ia lakukan sejak dulu.
Ia tersenyum lagi ..
"Ya, tentu saja" jawabnya sambil menarik kepala Donghae, lantas menaruhnya diatas pundaknya. Mengelus rambut Donghae dengan sayang. "Aku benar –benar menantikan moment itu, Hae" lanjutnya lagi yang membuat Donghae tersenyum lebar dan berusaha untuk tidak berteriak. Karena dirinya begitu bahagia. Bukan hanya dirinya yang menunggu hal itu, tapi 'Hyukiie –nya' juga.
Eunhyuk mengacak rambut Donghae sebelum akhirnya membawa tubuh yang lebih pendek darinya ke dalam dekapan hangatnya. Memeluknya dengan penuh cinta dan membelainya dengan penuh kasih sayang.
"Aku mencintaimu, Hae"
Donghae mengangguk, lantas mengangkat tangannya untuk membalas pelukan 'Hyukiie –nya'. Ia memejamkan matanya dan tersenyum begitu manis.
"Aku juga. Aku juga sangat mencintaimu, Hyukiie". Eunhyuk memeluknya dengan lebih erat. Membuat persatuan tubuh itu semakin dekat. Ia memejamkan matanya, sambil mengusap lembut punggung dan rambut Donghae secara bergantian.
Donghae memejamkan matanya semakin dalam. Ia merasakan kehangatan yang menjalar ke setiap jengkal bagian kulitnya. Kehangatan yang … sangat ia sukai akhir –akhir ini.
Eunhyuk masih saja mengelus punggung dan rambut Donghae. Dengan memberikan kecupan kecil berulang kali dipucuk kepala Donghae. Betapa, ia sangat menghargai moment seperti ini. Moment yang akan selalu ia ingat dan tak akan pernah ia lupakan.
Ia menjauhkan sedikit tubuhnya, mengangkat sedikit wajah Donghae hingga kini mata mereka saling beradu tatap. Saling memberikan tatapan cinta yang menyejukkan hati mereka masing –masing.
Eunhyuk menarik wajah Donghae untuk mendekat pada wajahnya. Ia tersenyum ketika melihat wajah Donghae yang tiba –tiba memerah ketika, hidung mancung mereka saling bersentuhan.
Jantung mereka berdua berpacu amat cepat. Sangat cepat. Sungguh, hal itu membuat Donghae bingung. Apa yang sedang terjadi dengan dirinya. Ia tidak pernah seperti ini sebelumnya. Ia berani jamin hal itu. Perasaan senang hatinya yang terlalu berlebihan hingga membuat dirinya terkadang lupa diri jika bersama dengan 'Hyukii –nya' akhir –akhir ini. Degupan jantungnya yang berkali –kali lipat lebih cepat daripada biasanya, jika 'Hyukiie –nya' memeluknya.
Ia tersenyum kecil ketika ia mengingat satu hal.
Aku pernah seperti ini sebelumnya. Beberapa bulan silam.
Saat ia pertama kali bertemu dengan 'Hyukiie –nya'. Didepan gerbang sekolah. Pertama kali ia merasakan kalau ia jatuh cinta. Memang benar menyukai pemuda yang kini berada dihadapannya yang ia ketahui bernama 'Lee Hyukjae'. Kekasih yang begitu ia cintai. Kekasih yang sangat berarti untuk dirinya dan hidupnya.
Donghae memejamkan matanya, ketika Eunhyuk semakin mendekatkan bibirnya.
"Eh?"
Ia membuka matanya, ketika ia melihat bibir tebal itu tersenyum didepannya. Bibir yang selalu menujukkan senyum gummy yang sangat ia sukai. Bibir yang tadi, baru saja mengecup sekilas keningnya dengan lembut. Ah, ia mengira kalau 'Hyukiie –nya' akan menciumnya dibibir.
Oh tidak.
Apa yang sedang ia pikirkan!
Eunhyuk mengusap pipi Donghae, lantas tersenyum.
"Sa .. saranghaeyo" ia segera menarik tubuh Donghae ke dalam dekapannya kembali. Lebih dari sebelumnya, ia mendekap tubuh Donghae lebih erat.
Donghae tersenyum, "Ya, nado saranghaeyo ma Hyukiie"
Senyum manis terkembang dibibir tebal Eunhyuk. Meski, perlahan senyum indah itu pudar dan tergantikan oleh senyum kepedihan.
Aku mencintaimu, Hae. Bukan sebagai Hyukjae tapi sebagai diriku sendiri. Eunhyuk …
O
O
O
~OoO~
"Kau sudah pulang Eun?"
Eunhyuk menghentikan langkahnya saat ia hendak masuk ke dalam kamar. Ia berbalik, lalu menatap Hyukjae yang sedang duduk dikursi roda. Sakit diperutnya membuat dirinya tidak diperbolehkan untuk berjalan. Karena memang itu akan membuat dirinya terus –terusan kesakitan. Meski, sakit itu sedikit demi sedikit telah hilang.
"Apa masih sakit?" tanya Eunhyuk, mengabaikan pertanyaan Hyukjae sebelumnya. Ia menggeleng pelan, "Tidak. Aku merasa sudah baik daripada sebelumnya" jawabnya lalu, ia menyuruh Eunhyuk untuk mendorong kursi rodanya agar membawa dirinya ke dalam kamar Eunhyuk.
"Bagaimana tadi disekolah? Ceritakan padaku apa yang kau lakukan dengan Donghaeku" pinta Hyukjae antusias sambil memperhatikan wajah Eunhyuk yang tersirat disana, rasa sakit saat mendengar kembarannya itu meng –klaim kalau Donghae adalah miliknya.
Hey, kau lupa Eun? Donghae memang milik saudara kembarmu bukan?
"Eun?"
"Ah, ya .. tidak ada yang begitu penting" jawabnya berpura –pura acuh. Seakan –akan ia tidak peduli dengan apa yang terjadi disekolah. Padahal, semua waktunya tersita untuk Donghae semata. Dimana ia tidak sedang bersama Donghae, ia masih memikirkannya. Hingga saat ini. Didepan kembarannya ia masih memikirkan Donghae. Kekasih kembarannya.
Hyukjae tersenyum sekilas. Kenapa hatinya begitu bahagia saat ia melihat ekspresi Eunhyuk yang tidak tertarik dengan hal –hal yang baru saja terjadi saat pertukaran tempat tadi. Ia menyadari satu hal, kalau Eunhyuk tidak akan mungkin menyukai Donghae.
Ia sangat yakin dengan hal itu. Ia sangat mengenal kembarannya itu. Eunhyuk bukanlah seseorang yang mudah bergaul apalagi jatuh cinta? Tidak. Tidak mungkin.
Tapi tahukah? Jika saat ini Eunhyuk sedang menahan jerit hatinya yang sudah tak kuasa menahan beban hatinya? Kalau selama ini, ia masih mencintai Donghae? Donghae yang ia temui saat itu? Haruskah?
Tidak. Tidak. Ia tidak ingin melihat Hyukjae bersedih. Sudah cukup pengorbanan Hyukjae untuknya.
"Kalian melakukan apa saja?" tanyanya lagi kepada Eunhyuk yang kini duduk dimeja belajarnya sambil membaca sebuah novel milik dirinya yang tertinggal ditempat Hyukjae. Karena novel itu tidak mungkin punya Hyukjae, karena ia tidak suka membaca.
"Hanya menemaninya makan, dan pergi ke taman. Sama halnya yang sering kau lakukan" jawabnya datar tanpa merubah ekspresinya. Ia memfokuskan matanya pada setiap deret kata dilembar kertas tersebut. Tanpa memperhatikan Hyukjae yang begitu lekat memandanginya.
"Apa kau juga memeluknya seperti yang sering ku lakukan?"
Deg.
Deg.
Deg.
Eunhyuk mengangkat wajahnya, menatap ke arah Hyukjae yang sepertinya memasang wajah tak sukanya. Ia tersenyum sinis, "Sudah ku duga".
"Tidak seperti yang kau pikirkan, Hyuk" Eunhyuk berdiri, menghampiri Hyukjae yang masih terduduk dikursi rodanya. Ia tersenyum kecil sekilas, "Saat aku memeluknya, itu bukanlah aku. Tapi kau, Hyuk. Aku tak sejahat seperti apa yang kau pikirkan".
Ia membuang wajahnya ke arah lain, menghapus air matanya dengan cepat. Kenapa hatinya begitu terluka saat ia mengatakan hal itu.
Hyukjae merasa bersalah karna sempat terlintas pikiran buruknya mengenai kembaran yang begitu ia cintai itu. Ia menyentuh tangan Eunhyuk, lantas menggenggamnya dengan erat. Membuat Hyukjae mengalihkan pandangannya dan menatapnya.
Hyukjae tersenyum, "Maafkan aku. Aku tahu kau tak mungkin mencintainya" ia memeluk tubuh Eunhyuk, dan mengusap punggung kembarannya itu dengan lembut.
"Sekali lagi maafkan aku, Eun"
Eunhyuk menggeleng pelan, dan membalas pelukan itu. "Tidak ada yang perlu dimaafkan, Hyuk. Karena memang kau tidak salah. Lupakan saja" ucapnya yang membuat Hyukjae semakin merasa bersalah.
Bagaimana mungkin ia bisa memikirkan hal yang tidak –tidak tentang kembarannya itu.
"Hm .. Eun, kau mau sekali lagi membantuku?"
"Apa?"
"Temui dia malam ini, aku tak bisa menemui dia dalam keadaanku yang seperti ini"
Eunhyuk menggelengkan kepalanya ragu, "Ta –tapi Hyuk". Hyukjae tersenyum, "Tidak apa –apa. Aku percaya kepadamu" ujarnya sambil menepuk pelan pundak Eunhyuk.
Eunhyuk mengangguk pada akhirnya. Meski ia tahu, ini adalah kesalahan yang seharusnya ia bisa hindari. Sesering ia melakukan kontak mata dengan Donghae, sesusah itu pulalah ia ingin menghilangkan wajah Donghae dari hatinya.
Hyukjae tersenyum senang, "Terimakasih" ucapnya dan kembali memeluk tubuh Eunhyuk. Eunhyuk hanya bisa terdiam, menerima perilaku bahagia dari kembarannya itu.
Maafkan aku, Hyuk. Maafkan aku …
~OoO~
Donghae tengah memandangi tubuhnya yang berbalutkan busana casual yang begitu manis melekat ditubuhnya. Ah .. sempurna!
Ia menepuk pelan pipinya yang bersemu merah. Memikirkan apa yang akan terjadi nanti saat kencan nanti. Ia menutup wajahnya yang semakin memerah, saat pemikiran itu dan bayangan itu melintas begitu saja.
Ia membayangkan kalau Hyukiie –nya akan menciumnya …
"Hae? Kau didalam? Hyukjae sudah menunggumu"
Ia membuka matanya, lantas berlari cepat menuju pintu kamarnya yang sengaja ia kunci. Tidak lucu bukan jika sang Eomma tercinta sedang mendapati dirinya yang sedang melamun dengan wajah memerah padam. Ugh, itu memalukan bukan?
Dengan cepat ia membuka pintu dan langsung berlari menuruni tangga. Namun langkahnya terhenti saat sang Eomma memanggil namanya. Ia berbalik, dan tertawa kecil sambil menghampiri Eommanya.
"Aku pergi dulu ya, Eomma" ucapnya saat kecupan dipipi sang Eomma terlepas. Sang Eomma tersenyum sambil mengecup kening dan kedua pipi Donghae secara bergantian. Lantas mengusap rambut anak semata wayangnya itu dengan sayang.
"Berhati –hatilah. Jangan pulang terlalu malam". Donghae mengangguk paham saat mendengar nasehat sang Eomma.
Tak ingin berlama –lama, ia segera berlari ke luar rumah. Karena saat ini ia sudah tidak sabar untuk bertemu dengan 'Hyukiie –nya'.
"Hyuk – ii .."
Langkahnya terhenti tepat didepan pintu rumahnya. Matanya tak berkedip saat melihat seseorang yang kini tengah berdiri tak jauh darinya saat ini dengan mengenakan pakaian yang sebenarnya santai, namun sangat keren dimata Donghae.
Tidak seperti biasanya,
Jaket hitam yang melapisi kaos V-necknya dan celana jeans biru langit pas tubuhnya. Ia sangat ..
"Tampan" lirih Donghae pelan. Segera ia berjalan dan menghentikan kekagumannya sejenak dari kekasihnya itu.
Eunhyuk masih terdiam ketika Donghae kini sudah berada didepannya. Matanya tak lepas untuk memandangi wajah polos kekasihnya yang terlihat, berkali –kali lebih manis dibawah sinar rembulan mala mini.
Tangan Eunhyuk terulur kedepan, menyentuh wajah Donghae dengan usapan lembutnya. Bisa Donghae rasakan, kehangatan yang tiba –tiba menjalar ke seluruh tubuhnya.
"Aku mencintaimu, Hae" ujar Eunhyuk ketika kecupan yang ia berikan dipipi Donghae terlepas. Donghae tersenyum, "Aku juga. Aku juga sangat mencintaimu, Hyukiie. Sangat". Segera, Eunhyuk rengkuh tubuh Donghae ke dalam dekapannya.
Ia sangat suka ketika tubuhnya berdekatan dengan tubuh Donghae.
Ia sangat suka ketika tubuh yang lebih pendek darinya itu berada dalam dekapan hangatnya.
Ia sangat suka, ketika Donghae membalas pelukannya.
Ia sangat suka .. ketika, ia bisa melihat senyum malaikat itu.
Hingga ia berharap, semoga ia akan selalu bisa melihat senyum malaikat itu ketika ia bukanlah Hyukjae, melainkan sebagai Eunhyuk.
"Hyukiie? Kau kenapa?" tanya Donghae heran saat ia merasakan Eunhyuk mendekapnya dengan begitu erat. Seakan takut untuk melepaskannya begitu saja.
Eunhyuk melepaskan pelukan itu, ia menggeleng perlahan. "Tidak. Tidak apa –apa" ia menggaruk kepala belakangnya. Tangannya yang lain, meraih tangan Donghae dan menggenggam jemari milik Donghae –nya itu.
"Ayo kita kencan" ajak Eunhyuk yang tentu saja, berhasil membuat rona –rona merah dikedua pipi Donghae datang secara tiba –tiba. "Ah .. kau lucu sekali" ucap Eunhyuk sambil mencubit pipi Donghae yang semakin membuat wajah Donghae berubah menjadi merah padam.
Donghae, kau seperti seorang gadis saja. Uhh, ini memalukan.
Eunhyuk hanya bisa tertawa, melihat ekspresi lucu kekasihnya itu. Sungguh. Donghae begitu menggemaskan, sangat menggemaskan dimatanya.
Hyukjae sangat beruntung ..
Biarkanlah aku mengklaim Donghae adalah milikku, saat ia bersamaku. Aku akan berusaha menahan sakitku, ketika ia tak bersamaku dan bukan menjadi milikku.
O
O
O
~OoO~
"Ah, indah sekali mala mini" ujar Donghae sambil memandangi langit jauh yang begitu banyak bertaburkan bintang –bintang diatas sana. Ia menolehkan wajahnya kesamping. Memperhatikan wajah Eunhyuk yang sekali lagi, begitu tampan dimatanya. Bukan hanya dimatanya, tapi dimata semua orang.
Bibir tebal, hidung mancung dan rahang tegas yang semakin membuat seorang 'Hyukiie –nya' terlihat begitu mempesona. Tiba –tiba matanya menyipit, ketika ia melihat satu hal yang berbeda dari 'Hyukiie –nya'.
Aku baru sadar, kalau Hyukiie mengenakan kalung.
Merasa diperhatikan, Eunhyuk menolehkan wajahnya. Tepat kea rah Donghae. Ia tersenyum, ketika mata mereka saling bertemu. Lama mereka saling berpandangan tanpa bersuara. Hingga, suara perut Donghae berbunyi dan membuat Eunhyuk tertawa begitu keras.
MEMALUKAN!
Donghae memukul –mukul dada Eunhyuk dengan satu tangannya. Sedangkan tangannya yang lain sedang menutupi wajahnya yang memerah. Tentu saja!
"Ya! Ya! Hentikan tawamu, Hyukiie!" pinta Donghae, setengah merengek manja pada Eunhyuk yang nyatanya masih saja tertawa.
Tahukah Donghae, kalau ini adalah kali pertama Eunhyuk bisa tertawa lepas seperti ini.
"Hyukiie …!" Ia merajuk, menghentikan pukulannya pada dada bidang Eunhyuk. Ia berdiri, menghentakkan kakinya kesal sebelum akhirnya berjalan.
Eunhyuk seketika itu pula menghentikan tawanya dan berusaha mengejar Donghae. Ia tahu kalau Donghae sedang marah karna mentertawakannya.
"Hey, kau marah?"
Donghae mengabaikan pertanyaan Eunhyuk dan masih saja berjalan. Entah kemana langkahnya kini. Oh, ia tak peduli.
Eunhyuk berdecak, ia tarik tangan Donghae membuat tubuh Donghae berbalik ke hadapan Eunhyuk. Dengan sigap, Eunhyuk memeluk tubuh Donghae yang begitu harum itu.
Donghae tak membalas pelukan Eunhyuk, membuat Eunhyuk merenggangkan pelukannya. Ia menatap Donghae heran, "Kau masih marah hn?" Donghae diam. Ia hanya menatap wajah tampan Eunhyuk lantas beralih menatap mata Eunhyuk yang begitu lekat memandanginya.
Eunhyuk tersenyum, lantas menggenggam erat tangan Donghae dan membawa ke depan dadanya. "Jika, kau marah karna aku tertawa. Maka aku tidak akan tertawa lagi" ujar Eunhyuk yang membuat mata Donghae membulat sempurna.
Ia menggeleng kuat, "Tidak, tidak Hyukiie. Aku, aku tidak marah. Hanya saja .." ia menggembungkan pipinya dengan mata memerah.
"Aku malu padamu .." bisiknya dengan sangat pelan.
Eunhyuk terkekeh melihat tingkah Donghae yang begitu, sekali lagi, sangat teramat lucu dan menggemaskan. Adakah seorang siswa SMA melakukan tingkah seperti bocah 5 tahun?
Ya. Tentu saja ada. Donghae buktinya!
"Untuk apa kau malu padaku?"
"Perutku berbunyi"
Eunhyuk menggelengkan kepalanya sekilas, lantas mengacak rambut Donghae dengan sayang.
"Ayo kita makan. Aku juga sangat lapar. Sepertinya ada rumah makan didekat sini". Donghae mengangguk dan, tersenyum begitu manis.
"Ya. Aku ingin sekali makan seafood, Hyukiie. Kau juga pasti merindukannya bukan?"
Eunhyuk terdiam, sebelum akhirnya menganggukkan kepalanya dan tersenyum. Ia merangkul pundak Donghae dan mengajaknya untuk berjalan. Sedangkan Donghae, dengan indah melingkarkan tangannya dipinggang Eunhyuk.
Ah,
Lihatlah pipi Donghae. Bersemu merah lagi ...
O
O
~Ooo~
Donghae memandang Eunhyuk yang hanya diam setelah mereka menyantap makan malam mereka. Ia menatap khawatir ke arah Eunhyuk. Ia menggenggam tangan Eunhyuk dengan erat, membuat pemuda tampan itu menolehkan wajahnya yang terlihat pucat ke arah Donghae.
"Kau baik –baik saja?" tanya Donghae dengan raut wajah khawatir dan takut. Eunhyuk tersenyum, segera ia lepas genggaman tangan Donghae pada tangannya. Lantas, menarik tubuh Donghae ke dalam pelukannya. Donghae bisa merasakan deru nafas Eunhyuk yang tak beraturan.
"Kau sakit?" tanyanya lagi. Ia memeluk tubuh Eunhyuk dengan sangat erat. Lantas menyembunyikan wajahnya pada ceruk leher Eunhyuk. Disana, ia memejamkan matanya kuat dan menangis.
"Hey, kau kenapa Hae?". Eunhyuk berusaha untuk melepaskan pelukannya, namun Donghae semakin memeluknya.
"Ayolah. Aku baik –baik .. uhukk" Eunhyuk terbatuk –batuk hingga berkali –kali. Membuat Donghae mau tak mau melepaskan pelukannya. Ia semakin menangis ketika melihat wajah Eunhyuk berubah pucat pasi dan tubuhnya menghangat.
"Ini salahku. Ayo kita pulang, Hyukiie" ajak Donghae dengan air mata yang berlinangan dipipinya. Ia menarik tangan Eunhyuk untuk berdiri.
"Hikks .. hikkss"
Eunhyuk terdiam sejenak. Kini ia tahu, kenapa Hyukjae tidak ingin menemui Donghae dengan keadaannya yang seperti ini. Hyukjae tak ingin melihat Donghaenya sedih. Hyukjae tak ingin melihat Donghaenya khawatir. Dan, Hyukjae tak ingin melihat Donghaenya menangis.
Dan kini, ia membuat Donghae menangis karna ulahnya. Padahal, Hyukjae berusaha keras agar selalu membuat Donghae agar selalu bahagia dan tersenyum tanpa air mata. Tapi kini, ia … malah membuat seseorang yang ia cintai menangis karna tingkah bodohnya!
Aku tak pantas untuknya .. aku, aku telah mengingkari janjiku pada Hyukjae. Aku, telah membuatnya menangis.
"Maafkan aku" ucap Eunhyuk sambil menghapus air mata dipipi Donghae. Donghae menggeleng, menggenggam tangan Eunhyuk yang berada diatas wajahnya.
"Kau sakit, Hyukiie. Dan semua itu karna aku. Aku telah membuatmu sakit"
"Aku baik –baik saja, Hae. Sungguh. Aku .. uhhukk" lagi, lagi ia terbatuk. Meski, batuknya tidaklah berangsur lama. Ia melihat ke arah Donghae yang kini menatapnya dengan tatapan bersalah dan diiringi dengan air mata.
"Sebaiknya kita pulang, Hyukiie"
Eunhyuk merasakan hatinya sakit. Ia merasa terluka ketika melihat air mata itu tumpah terus –menerus. Donghae menangis karnanya .. bukan dirinya yang sebenarnya.
Donghae sangat khawatir dan takut jika sesuatu yang buruk menimpa Hyukjae.
Eunhyuk tersenyum, lantas memberikan kecupan dikening Donghae cukup lama. "Aku baik –baik saja, Hae. Kau harus percaya padaku" ujarnya yang mendapat gelengan keras dari Donghae.
"Kau terbatuk –batuk, Hyukiie. Wajahmu pucat dan kau bilang kau baik –baik saja? Kau pikir aku buta?"
Eunhyuk menghela nafasnya, senyuman kecil itu melebar seketika. Ia tahu, sangat tahu kalau Donghae ternyata benar –benar mencintainya, mencintai Hyukjae yakni saudara kembaranya.
Iri? Tentu saja? Andai saja yang dicintai Donghae itu adalah dirinya.
Tapi, bukankah ketika Hyukjae bahagia ia ikut bahagia? Bahagia, tentu saja. Meskipun, tepat bersamaan dengan itu sakit dihatinya sangatlah terasa.
Eunhyuk menangkupkan wajah Donghae, lantas mendekatkan wajahnya pada wajah Donghae. Degupan jantung keduanya berpacu amat cepat. Sangat cepat. Donghae, merasakan aliran darahnya berdesir begitu kuat. Ia menutup matanya, ketika ia merasakan hembusan nafas Eunhyuk menerpa kulit wajahnya. Hingga ia merasakan, ada benda kenyal yang menyentuh bibir tipisnya.
Ia membuka matanya, ketika kecupan singkat itu terlepas. Matanya yang masih berkaca –kaca, memandangi lekat wajah Eunhyuk yang masih pucat dibawah temaramnya lampu –lampu cantik disekitar jembatan.
Eunhyuk tersenyum, sambil mengusap lembut bibir Donghae yang baru saja ia cicipi. Tangannya yang lain, menggenggam tangan Donghae. Matanya, tak lepas untuk memandangi wajah Donghae yang bewarna merah padam. Yang begitu terlihat lucu dimatanya.
"Aku akan baik –baik saja, jika aku selalu didekatmu. Hanya bersamamu"
Air mata Donghae kembali jatuh. Bukan karna ia khawatir atau takut, melainkan karna ia sungguh terharu mendengar perkataan Eunhyuk. Ini adalah kali pertama ia mendengar kata –kata yang bisa menggetarkan hatinya dari mulut Eunhyuk.
"Aku, aku .."
"Aku tahu, kau juga akan baik –baik saja jika selalu didekatku. Karna, jika kita selalu bersama. Rasa sakit tidak akan pernah terasa"
Ia memejamkan matanya, sambil mendekatkan wajahnya kembali pada wajah Donghae. Donghae juga ikut memejamkan matanya, dan membiarkan apa yang akan terjadi selanjutnya setelah ini.
Maafkan aku, Hyuk ..
Maafkan aku yang telah mengkhianati janji kita,
Ia mulai membuka bibirnya. Mengisap dan menjilat bibir bawah Donghae. Seakan –akan, bibir itu bagaikan permen yang begitu sayang untuk dilewatkan. Bahkan menurut Eunhyuk, bibir Donghae berjuta kali lebih manis dari permen sekalipun.
"Hn .."
Ciuman basah itu terus berlanjut, ketika Eunhyuk mulai memasukkan lidahnya ke dalam mulut hangat Donghae.
"I love you .."
I love you, Hae. Eunhyuk loves you ..
O
O
O
~oOo~
Malam semakin larut. Jam besar yang terpasang disalah satu gedung tinggi sudah menunjukkan jam 10 malam. Eunhyuk melajukan mobilnya dikeramaian kota. Ia menolehkan wajahnya, dan tersenyum ketika mendapati Donghaenya yang tengah tertidur begitu lelapnya. Bahkan, ada cairan yang keluar dari sudut bibirnya.
Ugh. Tidak elite!
Ia terkekeh, lalu menghapus saliva itu menggunakan usapan lembut ibu jarinya. Ia terdiam. Ia memandangi wajah Donghae yang begitu cantik hingga membuat dirinya tak bisa berpaling kepada siapapun. Seseorang yang telah menjerumuskannya dalam lubang cinta yang paling dalam. Hingga Eunhyuk meyakini, kalau ia tidak akan pernah bisa keluar dari lubang itu. Meskipun nanti, ia akan mati membusuk disana.
Ia, kembali memfokuskan pandangannya pada jalan raya.
Perjalan yang ia tempuh tidaklah jauh. Kini, mobil yang membawanya telah tiba didepan pintu pagar rumah Donghae. Ia mematikan mesin mobil, lalu melepas sabuk pengamannya. Kemudian, ia segera keluar dari mobil.
Ia membuka pintu mobil, dan lagi –lagi ia tersenyum ketika melihat wajah Donghae yang jauh lebih manis ketika tertidur. Terlihat begitu polos.
Ia menundukkan sedikit tubuhnya. Ia mendekatkan wajahnya pada wajah Donghae. Lalu, mengecup kening Donghae, kemudian mengecup bibir Donghae dan memberikan sedikit lumatan disana. Tanpa membangunkan Donghae.
Wajah tampan yang mengukir ekspresi bahagia, kini kandaslah sudah. Ketika, ia berpikir. Kalau makhluk manis yang kini berada dalam gendongannya bukanlah miliknya, melainkan milik saudara kembarnya.
Ia kembali mengecup bibir Donghae, cukup lama.
"Aku mencintaimu, Hae. Sangat mencintaimu. Tapi, bukan sebagai Hyukjae. Tapi sebagai Eunhyuk. Eunhyuk yang sangat mencintaimu" lirihnya seperti bisikan putus asa kepada Donghae yang tertidur.
Bukan Hyukjae, tapi melainkan Eunhyuk? Apa maksudnya?
O
O
O
~Ooo~
Donghae membuka matanya perlahan. Butuh beberapa detik, untuk ia bisa membuka mata sepenuhnya. Ia menguap sangat lebar. Lalu, melirik sekilas ke arah jam dinding dikamarnya.
Jam 7.
Tiba –tiba pipinya bersemu merah ketika ia kembali mengingat apa yang terjadi tadi malam. Ia segera menutup wajahnya. Menyembunyikan pipinya yang semakin memerah ketika ia mengingat satu hal.
Mereka berciuman.
Dan itu indah.
"Hyukiie .. aku benar –benar mencintaimu" gumamnya sambil tersenyum. Namun, tiba –tiba ia terdiam seketika. Ketika perkataan itu kembali terngiang ditelinganya.
Eunhyuk yang sangat mencintaimu ..
"Eunhyuk? Siapa Eunhyuk?"
O
O
O
~OoO~
Hyukjae berlari kecil menuju kamar Eunhyuk. Ia memasang wajah bersalahnya ketika melihat saudara kembarnya terbaring diatas tempat tidur.
"Eun, maafkan aku. Karena aku, kau seperti ini" ujarnya sambil menyentuh bintik –bintik merah yang meradang dikulit wajah Eunhyuk. Bintik –bintik merah yang tidak hanya terdapat dikulit wajah Eunhyuk, melainkan disetiap kulit tubuh Eunhyuk.
"Kenapa kau tidak menolak ajakan Donghae saat makan seafood, Eun?"
Eunhyuk menggeleng pelan. Lantas, memandang Hyukjae dengan tatapan datarnya. Seperti biasanya. Hyukjae berpikir sebentar, apa Eunhyuk memandang Donghae dengan tatapan datar seperti ini juga?
"Aku tidak mungkin menolaknya, Hyuk. Kau lupa? Aku bukan Eunhyuk disaat aku bersama Donghae. Melainkan menjadi dirimu. Menjadi Hyukjae"
Hyukjae terhenyak mendengar jawaban Eunhyuk. Benar yang dikatakan saudara kembarnya itu. Jika ia menolak ajak Donghae untuk memakan seafood. Bukankah itu akan menimbulkan satu kecurigaan yang disengaja?
Hyukjae tersenyum, lantas memeluk tubuh Eunhyuk.
"Kau memang yang terbaik, Eun"
Eunhyuk membalas pelukan saudara. Senyum kecil itu terlihat, meski samar. Ia menghembuskan nafas beratnya.
Aku bukanlah yang terbaik dimatamu, Hyuk. Maafkan aku. Maafkan aku yang telah mencintai kekasihmu. Maafkan aku yang telah mencium kekasihmu. Maafkan aku …
O
O
~oOo~
"Hei, kenapa kau cemberut hn?"
Donghae menggembungkan pipinya ketika menoleh ke arah Sungmin. Ia kini memajukan bibirnya, "Hyukiie tidak menjemputku tadi, Hyung" keluhnya yang membuat Sungmin tertawa pelan.
"Astaga. Kau masih memikirkan hal itu? bukankah tadi ia bilang, kalau sepedanya rusak?"
"Tapikan, dia masih bisa menjemputku menggunakan mobil"
"Eh?" Sungmin menatap Donghae heran. Mata Donghae berkedip –kedip bingung ketika Sungmin memandanginya dengan tatapan aneh.
"Ada apa Hyung?"
"Hyukjae bisa menyetir mobil?"
Donghae membuka mulutnya ingin menjawab 'ya'. Namun dengan cepat ia menutup mulutnya dengan satu telapak tangannya.
Benar.
Bukankah Hyukjae tidak bisa menyetir? Bahkan setahunya. Hyukjae memang tidak pernah belajar naik mobil. Tapi ….
"Ada apa Hae?"
Donghae menggelengkan kepalanya cepat. Lantas, membuang wajahnya ke arah lain. Tepat keluar jendela.
Astaga. Ada apa sebenarnya. Aku baru ingat kalau Hyukiie memang tidak bisa menyetir. Tapi tadi malam? Apa jangan –jangan ..
"Tidak mungkin kalau Hyukiie kembar" gumamnya pelan. Ia menggelengkan kepalanya berulang kali sambil menggumankan kata –kata,
"Tidak mungkin"
O
O
O
~Ooo~
Donghae tersenyum ketika ia melihat Hyukjae berlari kecil menghampirinya. Ia memejamkan matanya, ketika Hyukjae mengacak rambutnya. Ia suka sentuhan lembut dikepalanya. Ia suka ketika Hyukjae mulai mengelus kulit wajahnya. Ia suka ketika kini Hyukjae mulai memandanginya dengan cinta.
Tapi …
Kenapa berbeda?
"Hae? Kau baik –baik saja hn?"
Donghae sedikit terkejut, dan dengan cepat menganggukkan kepalanya. "Ya. Aku baik –baik saja. Hm, Hyukiie?". Hyukjae menatap Donghae dengan memberikan senyuman khasnya. Begitu mempesona. Tapi, kenapa terlihat begitu berbeda dari beberapa hari ini?
"Ada apa Hae?"
"Sepedamu rusak?"
Hyukjae mengangguk, "Ya, tapi tenang saja. Aku sudah mendapatkan sepeda yang baru" jawabnya yang membuat jantung Donghae berdegup kencang. Ada apa ini? Ada apa dengan hatinya? Kenapa ia mulai merasa ragu dengan sosok dihadapannya kini?
Donghae tersenyum kecil, lalu menyenderkan kepalanya pada bahu Hyukjae. Ia memejamkan matanya. Mencoba meresapi kehangatan yang tercipta dari tubuh Hyukjae.
Dan ia tidak menemukannya seperti beberapa hari ini ..
"Kenapa kau tidak naik mobil saja?". Ia mencoba memancing, mencari jawaban dari pertanyaan hatinya.
Hyukjae terdiam, lantas menolehkan wajahnya ke arah Donghae. Ia tersenyum samar, "Apa kau mulai bosan jika ku ajak naik sepeda, Hae?"
Eh?
"Tidak, Hyukiie. Tidak. Aku hanya .." ia tak bisa melanjutkan kata –katanya. Pikirannya berkecamuk. Apa yang harus ia katakan kepada Hyukjae?
Hyukjae tersenyum, lantas menggeser duduknya agar lebih merapat pada Donghae. Satu kecupan ia bubuhkan dikening Donghae.
"Jika kau ingin naik mobil denganku, aku akan belajar untukmu"
Degupan jantung Donghae kembali berpacu. Matanya tak mampu berkedip dan mulutnya terasa kelu untuk mengucapkan satu patah kata apapun.
Tiba –tiba terbesit satu kata yang melintas dalam benaknya.
Eunhyuk? Eunhyuk?
Hyukjae memeluk tubuh Donghae dengan sangat erat. Ia juga tak perduli dimana saat ini mereka berada. Toh, tidak ada juga yang melihat mereka diatap gedung ini. Hanya mereka berdua, ditempat persembunyian mereka untuk saling membagi cinta.
"Hyukiie .."
"Ya, Hae?"
"Kau mencintaiku?"
Hyukjae merenggangkan pelukan mereka, lantas menatap Donghae dengan tatapan cintanya. Ia mendekatkan bibirnya dan mengecup pelan bibir Donghae. Hanya kecupan singkat yang ia berikan. Karena ia tahu, ini adalah ciuman pertama yang ia lakukan dalam hidupnya, begitupun dengan Donghae.
Tahukah kau Hyukjae kalau Donghae sudah mendapatkan ciuman pertama dari saudara kembarmu?
"Aku sangat mencintaimu, Hae. Sangat. Jadi, jangan pernah bertanya lagi tentang hal itu. Karena setiap jawabanku, tidak akan pernah berubah"
Donghae memejamkan matanya, ketika ia merasakan bibir tebal milik Hyukjae menyentuh bibirnya lagi. Lagi? Oh entahlah. Ia meragu dengan hatinya. Bagaimana ia tidak yakin kalau Hyukiie yang ia temui tadi malam bukanlah Hyukiie –kekasihnya, melainkan Eunhyuk? Ah, ia juga tidak yakin dengan hal itu.
Biarlah. Lupakan sejenak masalah itu. Kini, ia sedang menikmati ciuman yang diberikan Hyukjae kepadanya. Hanya kepadanya.
~OoO~
Donghae baru saja masuk ke dalam kamarnya, dan harus pergi lagi ketika sang Eomma tercinta menyuruhnya untuk membeli obat.
"Aish, kenapa Eomma tak menyuruhku saat ada Hyukiie tadi. Setidaknya dia bisa menemaniku!" omel Donghae sambil menghentakkan kakinya kesal.
Sang Eomma tersenyum, "Eomma tidak ingin merepotkan Hyukjae" satu tanggapan dari sang Eomma yang membuat Donghae memasang wajah cemberutnya.
"Ah, sudahlah. Aku pergi dulu"
…
Ia melangkahkan kakinya gontai menuju apotek yang sebenarnya cukup jauh dari rumahnya. Ia sangat enggan untuk naik bus atau taksi sekalipun. Biarlah. Sekalian olah raga.
Lama ia berjalan sambil mengobrol dengan Hyukjae melalui sambungan telepon. Hingga tak terasa kini dirinya sudah berada didepan apotek.
"Hyukiie, nanti setelah aku selesai, akan ku telepon"
"Baiklah"
Sambungan telepon terputus. Ia segera memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya. Lalu, melangkah masuk ke dalam apotek. Cukup sepi, hanya ada beberapa orang saja. Ia berjalan menuju seorang penjaga, namun langkahnya terhenti ketika ia melihat seorang pemuda yang tengah mengenakan jaket hitam dan masker. Meskipun begitu, ia sangat kenal dengan sosok itu.
Ia hafal tatapan sosok itu. Ia hafal betul dengan mata berkelopak satu itu.
Hyukiie?
Ia segera bersembunyi dibalik dinding. Dan berdiam diri disana, sambil memperhatikan Hyukiie –nya yang sedang dengan seorang perempuan yang ia yakini itu adalah Eomma dari Hyukiienya. Setelah Hyukiienya pergi, barulah Donghae berlari menghampiri penjaga yang melayani Hyukiienya.
"Hm, Noona, aku mau tanya. Tadi pemuda itu membeli obat apa ya?"
"Maaf, kamu siapa?"
Donghae tersenyum kikuk, "Ah, aku temannya" jawabnya yang membuat penjaga obat bernama Suhae itu tersenyum. Bukan karna apa –apa, ia begitu terpesona melihat kemanisan wajah sosok pemuda dihadapannya kini.
Andai saja aku belum menikah dengan Henry, akan ku kencani bocah ini.
"Noona?"
"Ah. Tadi ia beli obat untuk meredakan alergi"
Kening Donghae berkerut samar, "Alergi?" tanyanya heran. Setahunya Hyukjae tidak punya alergi terhadap apapun. Kecuali, sosok itu tadi bukan Hyukjae, melainkan –
"Hey, bocah. Aku belum selesai berbicara " teriak Suhae ketika melihat Donghae pergi begitu saja dan melupakan niatnya untuk membeli obat.
"Kau kenapa Sui?" tanya Shin Hyo Jin kepada sahabatnya itu. Suhae menghela nafasnya, "Tidak, tidak apa –apa" jawabnya pelan. Dalam hati ia masih berpikir, bagaimana ada makhluk semanis itu.
…
Donghae terduduk lemas dibangku pinggir jalan. Ia menangkupkan wajahnya sambil menundukkan wajahnya.
"Apa mereka benar –benar kembar? Tapi, tapi kenapa Hyukiie tidak pernah bilang kalau ia mempunyai kembaran? Lalu, Eunhyuk? Apa tadi malam aku berkencan dengannya?"
Astaga, apa yang sebenarnya terjadi?
-TBC-
Haii fran ..
Akhirnya ff ini update juga setelah sekian lamanya menjadi jamur(?) .. waahh, aku kira ini akan bakalan tamat lhoo … tapi ternyata, cerita ini masih ada satu chapter lagi. Sebenarnya, aku mau publish ff ini kalau tamat, tapi karena 'ehm' Shin Hyo Jin aka Tini Hie Jien, dia nyuruh aku untuk segera ngepost ff ini. Soalnya, kalau nunggu tamat ini akan bertambah lama .. wahahahahah!
Thanks untuk para teman –teman yang sudah menyempatkan membaca dan kasih koment –nya. Meski gk bisa balas satu –satu TwT
Oh ya … yuk kita sama –sama melestarikan donghae uke ff! Hahah, dan ini ada adik aku yang berusaha menjadi penulis yang baik kaya aku, katanya' (padahalkan aku sama sekali buruk dalam hal menulis seperti ini .)
Can u search Minki Elfishy ( FFNYA BAGUS –BAGUS LHO, meski aku belum sempat ngasih review kkkk, dan yang pasti DONGHAE UKE disana!)
Untuk ff kuyang lain, masih dimohon kesabarannya yaaa ~~~
C u ~~~
MIND RNR PLEASE?
