Author: Kiriya Diciannove
Tittle: Long Way
Disclaimer: All the cast belong to God, themselves, their parent, their Management.
The story is mine. No copas!
Cast: Member TVXQ, JYJ from TVXQ, and other
Rate: Teen, PG-13
Pairing: Yunjae. Yunjae's belong to YJs!
Warning: AU, typo, BL, OOC, Don't Like, Don't Read! ;)
Mind to RnR? :3
Summary: Seperti sedang tidur berdua. Anggap ini adalah simulasi kejadian masa depan/ kau harus bertanggung jawab!/ Tanda merah di lehernya itu…/ Yang di lehermu… kenapa kau sembunyikan, padahal itu tanda yang bagus lho. AU, BL, OOC. Mind to RnR?
:::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::
Lasting for far 'n far, long way of wind and sand.
Life is a journey, sometimes we are a bit lost.
Let's just hear the voices of our hearts.
Let's believe and walk the road, which we can only see by closing
Our eyes [Long Way –JYJ]
::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::
:::::::::::::::::
Long Way © Kiriya Diciannove
:::::::::::::::::
::::::::::
Jaejoong masih setia dalam posisinya. Tampak seperti boneka manekin yang membeku.
"Astaga, aku tidak menyangka akan melihatmu sedekat ini!" pekik Ara. Dia tidak sengaja melewati taman belakang sekolah agar bisa ke ruang klubnya dengan cepat, kemudian melihat Heroine yang diributkan teman-temannya sedari kemarin sedang membelakanginya di atas tembok.
Hah? Di atas tembok?
"Ara, Heroine dan Yunho-oppa katanya tertangkap berduaan di ruang ganti, dan mereka sedang kabur sekarang! Katanya mereka lewat sini! Apa kau melihat mereka?" terdengar suara nyaring seseorang berteriak dari jauh.
Ara menoleh pada yeoja yang berteriak padanya, "Eh?"
Merasa ada kesempatan, tanpa berpikir lebih panjang, namja berhoodie itu melompat dari atas tembok kearah Yunho yang bersiap menangkapnya.
Hap!
Yunho berhasil menangkapnya, tapi karena adanya gaya gravitasi dan beban yang cukup berat, namja itu jatuh setelah berhasil menangkap Jaejoong.
"Aduh… kepalaku sakit…" Yunho mengerang pelan begitu merasakan dirinya terjatuh dan ditimpa Jaejoong yang masih berada di atasnya.
"Kau tidak apa-apa Jaejoongie?" Tanya namja yang merasakan kalau Jaejoong masih terdiam dan memejamkan mata.
"Aku masih hidup?"
Yunho terkekeh, "Masih, masih, apa kau tidak merasakan jantungku yang berdetak cepat? Bukankah tanganmu berada tepat diatas jantungku."
Jaejoong membuka matanya dan mendongak, mendapati Yunho menatapnya sambil tersenyum. Tangannya menjauh dari dada Yunho. Sialan, jantungnya juga juga berdebar dengan cepat.
"Haah…" Jaejoong menjatuhkan kepalanya lagi pada dada bidang Yunho yang berada di bawahnya sehingga menimbulkan bunyi 'buk' pelan. Merasa lemas karena tindakan nekadnya tadi. "Ini hari yang panjang… persis seperti kemarin…" gumamnya sambil mencoba bernapas dengan teratur untuk mengembalikan kenormalan detak jantungnya.
'Gara-gara Yunho dan jaketnya…'
Ara kembali mengarahkan pandangan pada Yoona yang bertanya padanya tentang Yunho dan Heroine, dia menggeleng pelan. "Tidak, aku tidak lihat." Bohongnya.
"Aish, mereka kabur kemana sih." Gerutu Yoona.
"Yunho-oppa sepertinya punya alasan tersendiri kenapa dia kabur bukan? Kenapa kalian ambisius sekali?" Tanya Ara.
Yoona diam sejenak, "Rasa penasaranku cukup tinggi. Baiklah, beritahu kalau kau melihatnya ya!" ujarnya kemudian berlalu.
Ara mengangguk lalu menatap tembok dimana Heroine itu menghilang.
"Orang itu siapa ya, sosoknya terasa familiar. Sayang aku tidak melihat wajahnya," gumam Ara pelan sambil berpikir, yeoja itu kemudian melirik jam tangannya, "Omo! Aku terlambat ikut rapat klub!" dia segera bergegas menuju klubnya.
[Long way]
Mereka berdua masih betah berada dalam posisi mereka sekarang. Jujur Yunho tidak keberatan sama sekali sih. Seperti sedang tidur berdua. Anggap ini adalah simulasi kejadian masa depan. Hehehe… itu terdengar seperti masa depan yang begitu indah. Yunho tampaknya benar-benar menikmati keadaannya sekarang tanpa bisa menahan senyum lebarnya.
Namja pemilik doe eyes itu menarik napas lalu beranjak bangkit. Namun sesuatu menahan pergerakannya.
Grep!
"Yunho, singkirkan tanganmu dari pinggangku."
Namja bermata musang itu menggeleng dengan matanya yang masih tertutup. Sementara itu tangannya semakin mengeratkan pelukannya pada pinggang ramping Jaejoong.
"Kau mau mati ya?" ucap Jaejoong lagi.
"Aku mau kalau itu artinya ke surga bersamamu," sahut Yunho.
"Ish!" Jaejoong masih mencoba menjauhkan tubuhnya.
Srett…
Yunho membalik posisinya menjadi berada diatas namja androgini itu. Mata musangnya terbuka dan menatap intens Jaejoong. Kedua tangannya berada disisi kiri dan kanan kepala namja dibawahnya.
Jaejoong tercekat, mata doe-nya menatap lurus kearah Yunho. Dengan susah payah dia menelan salivanya sendiri hingga melewati tenggorokan.
Sialan, wajah tampan itu hanya berjarak beberapa centimeter dari wajahnya. Bahkan dia sekarang bisa merasakan jantungnya yang semakin berdebar. Mata tajam dan bibir hati itu menjadi fokus Jaejoong, membuat dia menatapnya tanpa berkedip. Tampak waspada pada apa yang akan terjadi.
Bibir hati itu melengkung keatas, "Terpesona padaku, eh?"
Jaejoong menganggukkan kepalanya tanpa sadar. Tapi begitu tersadar beberapa saat kemudian dia menggelengkannya dengan cepat. Namja yang berada di bawah itu mencoba memberontak walaupun tidak berhasil. "…Menjauh dariku." Cicitnya pelan.
"Sesusah itu jujur padaku?" Yunho menyentuh pipi Jaejoong dengan perlahan hingga menuju dagunya.
Jaejoong merasa tidak sanggup lagi berbicara, jantungnya berdetak cepat dan semakin cepat, seakan-akan dia sedang berlari puluhan kilometer jauhnya. Mulai cemas dengan apa yang dilakukan Yunho setelah ini.
Mata bulat yang tampak polos dari Jaejoong itu membuat Yunho benar-benar berpikir kalau Jaejoong sangat menggemaskan.
"Bagaimana kalau kita buktikan saja perasaanmu padaku," ucap Yunho pelan, tampak dia semakin mendekatkan wajahnya pada Jaejoong dan memiringkannya.
"J—jung, jangan coba-coba…"
Namja itu tampak tidak begitu peduli dengan ucapan Jaejoong, dia tetap mempertipis jarak agar bisa menyentuh bibir cherry itu untuk yang kedua kalinya.
Ah, dia beruntung.
Jantung Jaejoong semakin terasa berdetak tidak beraturan, rasa panas tiba-tiba terasa dari dada menuju perutnya. Pikirannya terasa berkabut dan kacau seketika. Rasa hangat yang familiar itu membuatnya terbuai lagi. Dia menyukai sensasi basah dari bibir hati yang melumat bibirnya dengan pelan itu. Membuatnya tanpa sadar membalas setiap gerakan bibir lembut yang dilakukan oleh Yunho dengan berantakan. Beberapa saat berlalu dan dia mulai tidak bisa bernapas dengan benar dan mulai merasa sesak.
Namja bermata tajam itu menyeringai senang. Ini sudah jelas bukan, lihat saja wajah merona pemilik cherry lips dibawahnya itu. Melihat pemilik rambut hitam legam itu mulai kehabisan napasnya, Yunho bertumpu dengan sikunya dan mengarahkan wajahnya pada leher putih namja yang berada dalam kuasanya itu kemudian menyesapnya.
Sontak Jaejoong membuka matanya, begitu merasa sesuatu yang hangat dan basah menyapa lehernya. Dengan cepat dia menangkup area rahang Yunho dengan kedua tangannya, membuat pandangan mereka kembali bertemu ketika Yunho juga menatapnya. Yunho kembali mendekatkan wajahnya. Kemudian…
Jduak!
Dahi mereka saling berhantaman ketika Jaejoong bangun secara tiba-tiba. Mereka berdua sama-sama mengaduh pelan.
"Kenapa tiba-tiba bangun seperti itu…" ucap Yunho terduduk ke samping kanan pelan sambil mengerang pelan karena hantaman dengan dahi Jaejoong. Mungkin kepala mereka sama-sama benjol sekarang. Kau tahu kan, Jaejoong itu keras kepala.
Jaejoong segera bangun dan terduduk ditanah setelah lepas dari tindihan Yunho, "Kau sendiri! K—kenapa menciumku!" sahut Jaejoong sambil menutup mulutnya dengan tangan kanan.
Yunho menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, "Eh? Bukankah jelas karena aku menyukaimu…"
"T—tapi aku kan… a—aku… itu, bukan seperti itu…" Jaejoong meracau pelan. "Kau yang cari-cari kesempatan!" tuding Jaejoong.
"Sudahlah, tidak perlu menyangkal perasaanmu," ucap Yunho kalem.
"A—aku tidak! Jangan terlalu percaya diri!" bantah Jaejoong.
'Anak ini masih saja keras kepala,' batin Yunho sedikit jengah.
"Bagaimana cara kita kembali ke sekolah sekarang? Aku tidak mau bolos berdua denganmu! Mereka pasti akan curiga kalau kita menghilang bersama-sama." Lanjut Jaejoong sambil mengacak-acak rambutnya.
Pupus sudah harapan dan pembayangan Yunho untuk kabur dari sekolah dan jalan-jalan dengan namja menawan itu. Padahal kencan terdengar menyenangkan, bukan?
"K—kau harus bertanggung jawab!" Jaejoong mengarahkan telunjuknya pada Yunho.
"Bertanggung jawab? Ok! Ayo kita menikah," Sahut Yunho antusias.
Jaejoong memasang wajah datarnya, tangannya yang tadi menujuk Yunho berubah menjadi mengepal. "Kau ingin kuberi pukulan keras lagi?"
Yunho hanya tersenyum lebar selama beberapa saat, kemudian menumpu dagunya dengan tangan kanan yang berada diatas lututnya, "Mereka pasti masih mencari kita."
"Mereka berlebihan sekali," Jaejoong menarik napas.
Yunho hanya diam sambil menatap Jaejoong yang melipat tangannya, "Lepaskan apa yang kau pakai," ucap Yunho kemudian.
Siiing…
Mata Jaejoong membulat, dia melotot kearah Yunho.
Yunho berdehem pelan, "Maksudku kau bisa melepas jaket itu sekarang."
"Harusnya kau mengatakan hal dengan jelas!" sahut Jaejoong sambil melepasnya lalu menyerahkannya pada Yunho.
"Lepas semua juga tidak masalah," Yunho memasang cengirannya meskipun Jaejoong tampak tidak tertarik dengan tawaran Yunho itu. Namja tampan itu kemudian menerima jaket itu lalu memakainya. Dia duduk bersila, "Tunggu sebentar lagi, baru kita kembali ke sekolah."
Jaejoong mengangguk sambil menatap bagaimana bibir hati itu berucap. Sesaat kemudian pipinya bersemu merah ketika tersadar dengan apa yang dilakukannya. Dia menepuk kedua pipinya sendiri hingga membuat Yunho bingung dengan tingkahnya.
"Kenapa kau?" tatapnya heran.
"Ti—tidak apa-apa!" sahut Jaejoong cepat, dia memeluk kedua kakinya sambil menunggu waktu yang terus berjalan. Meskipun kadang sesekali dia mencuri pandang pada Yunho.
Buk!
Yunho merebahkan tubuhnya kembali, kedua tangannya dijadikan bantalan kepalanya, "Ngomong-ngomong, ini adalah tempat santai rahasiaku."
Jaejoong menoleh pada Yunho yang memejamkan matanya.
"Kalau sedang bosan, aku kesini." Lanjutnya.
"Ditempat yang seperti ini?" Tanya Jaejoong sambil mengedarkan pandangannya pada area belakang sekolah itu. Hanya ada pepohonan, dan parit kecil di sepanjang sisi tembok sekolah itu. Kalau saja dia tidak melompat dengan benar, dia pasti sudah kotor karena terjerumus ke dalam parit itu. Beberapa meter dari sana terdapat beberapa lily liar yang berbunga.
"Kalau terlambat, kau bisa menyusup melewati jalan ini. Ada jalan pintas menuju kesini," jelas Yunho sambil membuka matanya dan menoleh pada Jaejoong.
"Sepertinya cuma kau yang bisa melewati jalan ini." Jaejoong menatap tembok dan Yunho bergantian.
Yunho terkekeh, "Kalau kau mau, aku tentu bersedia membantumu, aku akan dengan senang hati menangkapmu seperti tadi, memelukmu dengan erat dan..."
"Mesum!" sahut Jaejoong membuat Yunho merasa sedikit jleb.
[Long Way]
Jaejoong membasuh wajahnya dengan air di wastafel, dia menatap cermin dihadapannya. Tampak bayangan terpantul dengan jelas disana. Namja itu kemudian menghela napas lega. Dia dan Yunho berpisah arah setelah berhasil mendarat dengan selamat kembali di taman belakang sekolah, tentunya dengan bantuan sepenuh hati dari Yunho. Setelahnya dia yang terlebih dahulu berganti baju di ruang ganti kemudian pergi ke toilet. Sejauh ini masih baik-baik saja. Wajahnya masih tampak menawan seperti biasa di cermin. Namun beberapa saat kemudian dia menarik kerah seragamnya sendiri dengan mata doe yang membulat lebar. Tanda merah di lehernya itu…
Jaejoong menganga sambil menatap pantulan bayangannya, "J—jung Yunho menyebalkan…"
.
"Hatchi!"
Yunho mengusap hidungnya lalu kembali menggigit roti isi melon yang baru saja dibelinya di kantin. "Wah, pasti dia sedang menyebut namaku," ucap Yunho sambil terkekeh pelan. Membayangkan Jaejoong menyebut namanya dengan pose sensual. Dasar.
Tampak namja itu sudah berganti dengan seragam sekolah, namun tertutup oleh jaket merah yang dipakainya, membuat beberapa yeoja disana berbisik. Tentu saja Yunho tahu apa yang mereka bicarakan, tentang jaket merah dan Heroine… tapi dia tidak begitu ambil pusing. Dia nyengir lebar, jaket ini sudah membuatnya lebih dekat dengan Jaejoong.
'Dia bukan Heroine, tapi Hero dihatiku.'
.
Jaejoong menempelkan sebuah plester obat luka bermotif binatang lucu ke lehernya, "Lumayan lah, yang penting tidak terlihat," gumamnya sambil menatap kaca lalu keluar dari toilet. Dia kemudian berhenti untuk membeli minuman kaleng di mesin pendingin minuman. Sambil berjalan menuju kelasnya, dia terkadang mendengarkan apa yang dibicarakan beberapa anak murid lain tentang Heroine itu.
Sesampainya di kelas dia melihat Choi Minho, adik kelas mereka sedang di kerubungi oleh Heechul dan yang lain, dia mendengar Heechul menyebut kata 'Heroine', membuatnya hampir menyemburkan minumannya.
"Ada apa?" Tanya Jaejoong waswas pada Taemin yang sepertinya tampak tersasar ke kelasnya.
"Jaejoong-hyung!" seru Taemin, "Aku tidak tahu… mereka menyandera Minho-hyung. Katanya mereka ingin tahu tentang Heroine. Aku kasian pada Minho-hyung. Dia bahkan belum sarapan dan belum bisa makan karena masih ditahan mereka!" adu Taemin.
"Ayo ingat-ingat lagi, Minho. Mungkin ada ciri-ciri khusus tentang Heroine itu." Desak Tiffany.
Minho menarik napasnya, "Sudah kukatakan sunbae, aku tidak melihat wajahnya. Yunho-sunbae memeluknya. Yang kulihat hanya bagian belakangnya, kepalanya tertutup hoodie, dan dia sepertinya memakai seragam olahraga dan celana training. Hanya itu yang bisa kukatakan." Jelas Minho.
"Sepatunya kau tidak lihat?"
"Mana sempat aku melihat yang seperti itu?" sahut Minho.
"Mereka ngapain?"
"Mana aku tahu!" ringis Minho. "Sudah belum hyung? Noona? Aku ingin ke kantin nih. Kasihan Taemin sudah menungguku sedari tadi."
"Iya sudah, sana, sana." Usir Heechul. Segera saja Minho mengajak Taemin untuk ngacir ke kantin sebelum jam istirahat berakhir.
"Berarti dia anak sekolah ini ya," ucap Junsu.
"Tapi kita tidak tahu dia kelas berapa. Bukan Cuma anak-anak yang ada jam olahraga yang memakai baju olahraga kan." Pikir Yoochun. "Tapi kemungkinan besarnya, dia anak antara anak kelas 2 atau 3."
"Cari saja dari ratusan anak sekolah kita ini kalau kau bisa," ucap Tiffany pada Yoochun.
Yoochun hanya memasang tangannya dengan pose peace.
"Setidaknya kita tahu kalau anak itu anak sekolah ini. Memperkecil ruang lingkupnya dari Heroine Seantero Seoul menjadi Heroine sekolah SMA Kirin. Ini kabar bagus untuk anak klub mading!" ucap Yoona.
"Sejak kapan klub madding berubah jadi klub berita gosip…" gumam Yoochun.
"Oh, hai Jaejoong-oppa!" Yoona mengarahkan pandangan pada Jaejoong sambil tersenyum manis.
"Oh, hai… masih mencari tahu siapa Heroine?" Tanya Jaejoong ragu.
"Kau kemana saja Hyung?" Tanya Yoochun, "Kau tidak membalas pesanku."
"Maaf soal itu, aku tadi antri membeli minuman," sahut Jaejoong tersenyum canggung sambil menunjukkan kaleng minumannya pada Yoochun.
"Sayang sekali, kami masih belum dapat banyak petunjuk hyung." Sahut Junsu sambil melipat tangannya dan kembali duduk di kursinya.
Jaejoong ikut duduk di kursinya sendiri dan bersandar, "Syukurlah…" gumamnya pelan.
"Apa katamu hyung?" Junsu menoleh pada Jaejoong.
"Ah, maksudku, semangatlah!" ucap Jaejoong sambil tersenyum hambar.
Srekk!
Yunho masuk ke dalam kelas, membuat beberapa orang disana menatapnya yang memakai jaket merah itu. Yunho mengunyah rotinya dengan kalem.
"Yunho!" seru Heechul segera menghampirinya.
"Yo!" Namja bermata musang itu menyapa Heechul sambil tersenyum.
"Apanya yang 'Yo'?!" Heechul menggeplak kepala Yunho. "Kenapa tidak katakan saja sih siapa pacar Heroine-mu itu?"
Yunho mengaduh pelan, sepertinya dia terlalu banyak dapat aniaya hari ini. Matanya melirik Jaejoong sekilas. Tampak namja cantik itu sedang meminum minumannya dengan perlahan, selain itu di lehernya terdapat sebuah band-aid. Membuat Yunho semakin menyeringai.
Yunho menoleh pada Heechul sambil duduk, "Mau bagaimana lagi hyung… dia tidak mau dirinya dikenali. Lagipula… dia bukan pacarku, dia bahkan tidak menjawab pernyataan cintaku."
Jaejoong tersentak pelan dan menatap tajam kearah Yunho, sementara yang lain menatap Yunho tidak percaya. Yunho tidak bermaksud mengungkap dirinya kan?!
"Kau ditolaknya oppa?!" Tanya Yuri sambil menggeplak meja Yunho.
Yunho mengangguk sambil mengunyah rotinya.
"Orang itu pasti bodoh."
Jaejoong hampir saja meremukkan kaleng minumannya karena mendengar ucapan itu.
"Aku tidak menyangka ada juga yang akan menolakmu," gumam Heechul.
"Hehehe…" Yunho justru malah nyengir lebar sambil menggigit roti isinya.
"Dan sepertinya dia mulai gila karena hal itu." Lanjut Heechul sambil melirik Yunho.
[Long Way]
Buk!
Jaejoong segera menjatuhkan dirinya di kasurnya sesampainya di rumah. "Setidaknya jaket itu sudah kembali," gumamnya pelan sambil menenggelamkan kepalanya di bantal.
Deg!
Namja itu teringat dengan posisi tengkurapnya seperti itu bersama Yunho secara tiba-tiba. Saat dia berada diatas tubuh namja itu. Kemudian dengan cepat Jaejoong membuat dirinya terlentang, namun itu tidak membuat bayangan hal yang terjadi di sekolah tadi menghilang. Adegan demi adegan kembali terbayang dipikiran namja menawan itu.
"Aaahhh!" dia bangun dan mengacak rambutnya. "Jung Yunho sialan! Kenapa dia bisa membuatku memikirkannya sampai seperti ini!" namja itu berucap dengan nada depresi, lalu menelungkupkan dirinya dan menyembunyikan wajahnya di bantal. Beberapa saat kemudian dia berguling-guling hingga jatuh dari kasurnya.
.
"Hyung, kau seperti orang yang separuh gila," ucap Changmin pada Yunho yang sedang memeluk gulingnya sambil tersenyum lebar.
"Aku terlalu senang hari ini, Minnie~ hyung-mu ini sedang jatuh cinta dan bahagia~" ucap Yunho.
"Tapi kau lebih mirip orang gila." Ucap Changmin lagi sambil melanjutkan permainan PS miliknya.
"Saat jatuh cinta nanti, kau juga pasti akan mengerti Min!"
"Meskipun begitu, aku tidak mau gila sepertimu."
Yunho bangkit dari tidurannya masih dengan memeluk gulingnya, "Berhenti mengatai hyung-mu sendiri gila, Min."
Changmin mematikan ps-nya. "Berhenti memeluk gulingku seperti itu hyung, dan kenapa kau berada di kamarku?"
Yunho menatap Changmin sambil tersenyum lebar, "Hei, kau sering main ke rumah Jaejoongie kan?"
Changmin mengangguk, "Ne, waeyo?"
"Kenapa tidak bilang kalau kau sering main dan makan disana?" Tanya Yunho dengan nada serius.
"Hyung tidak pernah tanya." Sahut Changmin, membuat Yunho sweatdrop.
"Kapan kau akan kesana lagi?" Tanya Yunho lagi.
Tampak Changmin berpikir sejenak, "Sore ini."
"Boleh hyung ikut?" Tanya Yunho antusias.
"Kalau kau berniat membuat jatah makananku disana berkurang, aku tidak mau." Ucap Changmin.
"Tidak, aku tidak berminat pada makanan itu."
"Ingin mendekati Jae-hyung?"
"Hehe, begitulah. Bayangkan saja kalau Jaejoongie menjadi pacar hyung, dia akan sering kesini dan membuatkanmu makanan!" ucap Yunho.
"Hmm…" Changmin tampak berpikir, "Tidak begitupun aku akan tetap bisa makan makanan buatannya."
"Aku akan mentraktirmu makan sepuasnya di festival sekolah kami nanti." Tawar Yunho.
Tanpa pikir panjang Changmin langsung mengacungkan jempolnya. "Ok."
.
"Joongie-hyung. Telurnya gosong, airnya sudah mendidih, ponselmu berbunyi sedari tadi, dan kau masih saja melamun." Ucap Junsu yang sibuk ngemil kacang.
"Eh? Eh?" segera saja Jaejoong terdepak dari lamunannya dan mematikan kompor.
"Ngelamunin apa hyung?" Tanya Junsu lagi.
"Bukan apa-apa!" seru Jaejoong sambil meraih ponselnya yang berbunyi. "Err… Yoochun belum kembali?"
Junsu menggendikkan bahunya, "Tentu saja belum, kau menyuruhnya membeli banyak barang kan, padahal awalnya dia cuma mau beli minuman."
"Soalnya hari ini aku sedang membuat resep baru," ucap Jaejoong sambil menyapukan tangannya pada apron yang dipakainya.
"Semakin lama kau semakin terlihat seperti calon istri yang sempurna, hyung." Celoteh Junsu, membuat Jaejoong melototkan matanya pada Junsu. Tapi dasarnya Junsu kurang peka sih.
"Pintar memasak, hebat dalam merapikan barang, suka kebersihan, hebat dalam bidang seni, musik, dan cant—waah, kacangku!"
"Berhenti mengatakan hal-hal yang aneh!" ucap Jaejoong menebar deathglare sambil mengembalikan setoples kacang yang direbutnya dari Junsu tadi.
"Itu kan juju—hap!" Junsu tidak melanjutkan ucapannya begitu melihat wajah galak Jaejoong dari dekat, dia kemudian lanjut memasukkan kacang ke dalam mulutnya.
Ting! Tong!
Terdengar bunyi bel pintu dari luar.
"Ah, sepertinya itu Yoochun." Gumam Jaejoong sambil berjalan kesana. Dan ketika pintu itu dibuka…
"Hyung, pesananmu sangat banyak." Ucap Yoochun sambil memegang sebuah kantong plastik besar.
"Benarkah sebanyak itu?" ucap Jaejoong.
Srett…
Yoochun menunjukkan struck belanja pada Jaejoong, "Ya. Banyak." Ucapnya datar, "Makanya aku minta bantuan Yunho-hyung membawa kantong lainnya," ucap Yoochun sambil menyerahkan kantong di tangannya pada Jaejoong.
"Jaejoong-hyung!" seru Changmin muncul dari belakang Yoochun. Tampak namja termuda itu memakai jaket hitam sambil membawa tas ransel.
"Biar aku yang bantu membawa," ucap Yunho mengambil kantong yang baru beberapa detik lalu berada ditangan Jaejoong. Mereka memasuki rumah itu, meninggalkan Jaejoong yang masih bengong di depan pintu.
'Kenapa dia kesini?!'
.
Tring!
Jaejoong meletakkan sepiring tteokbokki di hadapan Yunho setelah menyiapkan beberapa piring kue beras itu pada yang lain.
"Gomawo Joongie," ucap namja berjaket merah itu dengan senyum yang melengkung di bibir hatinya.
"Ne, cepat makan dan pulang," ketus Jaejoong sambil kembali berjalan menuju dapur.
"Teganya…" Yunho mem-poutkan bibirnya.
"Ayo makan!" seru Changmin sambil mengangkat garpunya dengan semangat. Matanya menatap penuh minat makanan yang ada di meja makan.
"Ngomong-ngomong, kenapa kau ada disini Junsu?" Tanya Yunho sambil menoleh pada namja dengan suara khas itu.
"Aku?" tunjuk Junsu pada dirinya sendiri, "Mengerjakan tugas dengan Yoochun, kami sekelompok." Jawab Junsu, "Kau sendiri, hyung?"
"Aku diajak Changmin kesini," sahut Yunho sambil senyum.
'Bohong banget.' Batin Changmin sambil menggigit kue beras miliknya.
"Oh ya hyung, kau masih tidak ingin memberitahu kami siapa Heroine itu?" Tanya Yoochun sambil menuang jus jeruk ke gelasnya.
"Biar waktu yang menjawabnya," sahut Yunho dengan cengiran.
.
"Wah, kenyang. Masakan buatan Jaejoong-hyung memang yang paling enak." Changmin mengacungkan jempolnya. "Oh ya hampir aku lupa, ini pesananmu hyung," ucap Changmin mengeluarkan sebuah majalah mode –yang diambil Changmin dari koleksi sang eomma di rumah— dari dalam ransel yang dibawanya.
"I—ini yang terbaru?!" pekik Jaejoong sambil membuka tiap lembarnya dengan mata berbinar.
"Tentu saja yang terbaru!" sahut Changmin.
"Wah, terima kasih, Min!" seru Jaejoong.
"Huh? Apa ini? Kukira Changmin hanya bisa numpang makan saja. Jadi mereka mengadakan transaksi?" gumam Yoochun.
Junsu menyuap potongan tteokbokki yang terakhir ke mulutnya, dia mengunyahnya dengan perlahan, "Aku setuju, masakan Jaejoong-hyung memang sangat enak. Kau bisa menjadi—"
Jaejoong langsung menatap Junsu dengan intens ditambah dengan deathglare. Seandainya itu adalah tatapan laser, mungkin Junsu sudah akan terpotong-potong. Hiii…
Glek!
"—menjadi chef yang hebat… hehehe…" tawa Junsu dengan canggung.
"Bahkan mungkin memiliki restoran sendiri," sambung Yoochun, tidak peka dengan suasana. "Karena sudah selesai, ayo kita mulai belaja—"
"Junsu-hyung, ayo main PS! Aku membawa kaset games football terbaru! Aku mendapatkannya dari Kyuhyun." Seru Changmin sambil mengeluarkan sebuah kaset dari tasnya.
"Jinjja? Yang terbaru?" mata Junsu langsung berbinar, "Ayo main!" serunya langsung kabur ke ruang tamu dengan Changmin. Daya tarik hal apapun yang berhubungan dengan sepak bola akan selalu mampu membuat Junsu tergoda!
Sementara Yoochun hanya terdiam, "Hei, tugas kelompok kita bagaimana Junsu?!" serunya sambil menyusul ketiga orang itu.
Tersisa Yunho dan Jaejoong di ruang makan itu.
Srak!
Jaejoong langsung bangkit dari duduknya, "Aku akan mencuci piring."
"Biar aku bantu," Yunho ikut bangkit dari kursinya.
"Tidak perlu." Tolak Jaejoong. "Kau… tetap duduk disana… a—atau susul mereka ke ruang tamu."
Yunho kembali duduk, "Aku akan melihatmu dari sini kalau begitu."
Jaejoong yang meletakkan piring kotor ke wastafel menoleh, "Kenapa tidak pulang saja."
"Jangan seketus itu padaku dong." Ucap Yunho dengan nada memelas.
"Kau tidak cocok bersikap seperti itu."
Yunho tertawa pelan, "Kau benar, kau akan lebih cocok memakai ekspresi seperti itu."
"Berhenti menggodaku, Tuan Jung."
Yunho masih menatap Jaejoong yang mencuci gelas sambil menumpu dagunya dengan tangan kiri. Pinggang ramping itu benar-benar pas dipelukannya. Betapa dia ingin memeluknya lagi. Kemudian menciumnya… kemudian… ehem. Cukup.
"Chogiyo…" ucap Yunho kemudian. Membuat Jaejoong kembali menoleh.
"Apa?" sahut Jaejoong singkat.
"Yang di lehermu… kenapa kau sembunyikan, padahal itu tanda yang bagus lho."
Pluk!
Gelas yang dipegang Jaejoong jatuh ke dalam wastafel yang berisi air. Namja cantik itu menoleh pada Yunho dengan wajah memerah.
"K—kau… w—waa…"
Pluk!
Sebuah sponge basah bercampur buih sabun cuci piring menghantam kepala Yunho. Setidaknya itu bukan panci, piring atau pun garpu.
[Long way]
"Buka matamu," ucap Jaejoong galak pada namja yang berada dihadapannya. Jarak wajah mereka sekitar… hm, 27 centimeter.
Yunho menggeleng sambil kembali mengucek matanya. Dia bersandar di kursi ruang makan sambil mendongak.
"Hei, hentikan itu. Kau bisa membuat matamu terluka." Ucap Jaejoong lagi.
Sudah 7 menit berlalu sejak insiden sponge basah itu, Yunho membasuh wajahnya lalu mengeluh kalau ada sesuatu yang masuk ke mata kirinya itu dan terasa perih. Sepertinya itu bukan hal bohong, karena ketika namja pencinta gajah itu memastikannya, mata kiri namja bermata musang itu memang tampak memerah. Dan mau tak mau, itu membuat Jaejoong merasa sedikit bersalah. Cuma sedikit.
"Kalau kau tidak membukanya, aku tidak bisa meneteskan obat matanya." Jaejoong menghela napas, "Aku pegal berada dalam posisi menunduk seperti ini, tahu." Lanjutnya. Tidak Cuma itu, jantungnya sudah berdebar dengan cepat. Sepertinya setelah ini dia tidak bisa lagi berada dekat-dekat dengan namja satu ini.
Srett…
Yunho mendudukkan Jaejoong dipangkuannya dengan posisi miring, membuat namja cantik itu kaget.
"Sekarang tidak pegal lagi kan?" Yunho tersenyum dengan sebelah mata yang masih terpejam.
"Tidak perlu seperti ini." Ucap Jaejoong beranjak bangkit.
Tapi bukan Yunho kalau melepaskan kesempatan seperti ini. "Tolong teteskan obat matanya."
Jaejoong menelan ludahnya perlahan sambil mengambil botol obat tetes mata itu. Sesaat doe eyes-nya lagi-lagi mengarah pada heart lips Yunho. Dengan gerakan pelan, Jaejoong mulai meneteskan obat mata dengan pelan.
Junsu berjalan menuju dapur, mata sipitnya melihat adegan meneteskan obat mata yang dilakukan oleh Jaejoong dan Yunho, kepalanya menggeleng pelan sambil menatap mereka berdua. "Sungguh lovey dovey sekali," gumamnya sambil memoto kegiatan pasangan itu, dari angle yang menampakkan mereka seperti sedang berciuman. Kemudian menguploadnya di twitter.
Beberapa saat kemudian dia teringat tujuannya ke dapur untuk mengambil sebotol coca-cola di kulkas.
"Hyung, aku ingin mengambil minum—"
Splash!
Jaejoong yang kaget mendengar suara Junsu tidak sengaja menekan botol obat tetes mata hingga seluruhnya tumpah ke wajah Yunho.
"Uwaah, my eyes!"
Jduk!
Jaejoong segera bangkit dari posisinya, namun jatuh karena punggungnya terantuk meja, vas bunga yang ada di meja pun jatuh menggelinding dari meja menuju lantai...
Prang!
Dan pecah.
"Apa? Ada apa?!" seru Yoochun berlari dengan cepat disusul oleh Changmin. Namun karena tidak melihat keadaan, namja di belakang Yoochun itu terpeleset dan jatuh menimpa Yoochun, menyebabkan hidung mancung Yoochun menghantam lantai keramik, begitu pula dengan dahi Changmin.
"Appo…" rintih Yoochun sambil menyentuh hidungnya.
"Y—Yoochun! Hidungmu berdarah!" seru Junsu.
"Aduh, kejeniusanku berkurang…" ringis Changmin sambil mengelus dahinya.
"Air! Tolong ambilkan aku air!" teriak Yunho.
Aigoo…
.
Keesokan harinya. Gerbang sekolah SMP Kirin.
Kyuhyun menatap ketiga orang yang ada di hadapannya. "Apa yang terjadi dengan kalian, Changmin, hyungdeul?" tanyanya.
Tampak hidung Yoochun ditempeli oleh perban dan plester karena sedikit memar, syukurnya pendarahan di hidungnya sudah berhenti kemarin setelah menghabiskan berpuluh-puluh tisu ditemani oleh kepanikan Junsu.
Changmin sendiri muncul dengan sebuah perban menempel di dahinya, membuatnya tampak seperti korban kecelakaan, padahal itu hanya kamuflase untuk menyembunyikan benjolnya yang masih belum menghilang. Lalu Yunho, mata kirinya diperban dan dia memasang wajah datar, membuat orang berpikir kalau dia mengalami luka yang parah karena penganiayaan. Sementara itu Jaejoong hanya bisa terdiam sambil menggaruk kepalanya karena merasa bersalah dan Junsu bersiul tidak jelas.
"Kalian sedang mencoba cosplay jadi Zombie?" Tanya Kyuhyun lagi sambil mengernyitkan alisnya, "Dandanan seperti ini sih belum cukup…"
Changmin yang tampak sibuk dengan psp-nya menatap Kyuhyun sejenak, "Kemarin ada gempa bumi." Ucapnya dengan nada serius.
"Hah?"
TBC
A/N: padahal saya ingin membuat moment mereka bolos dan berkencan. Tapi sepertinya moment-nya belum tepat ._.
lyvjj1 : terima kasih sudah menunggu ;)
alby: makasih udah dibilang bagus :'
akiramia44: Yunho sih senang, Jaejoong yang waswas ;D
jema Agassi: iya tuh, JJ cari perkara sendiri XD
Vic89: asal gak ketahuan sampai akhir, hide and seek akan menyenangkan ;D
Nabratz: waahh, kupikir aku menulis dengan deskripsi yang sulit dimengerti. Hha… :'
Saiii: oke sip, sudah dilanjut. ;)
Zuzydelya: haha, iya, akan dilanjut mumpung imajinasi jalan ;)
nickeYJcassie: w—wah, terima kasih sudah disukai :O saya terharu :'
Ai CassiEast: maaf gak kilat ._. #batuk departures ya… saya bertapa dulu deh, hha.
Shawoll na Cassie: selagi ada ide buat menganiaya mereka #loh? terima kasih kembali ;)
Thanks buat reader yang sudah bersedia mampir untuk membaca
Annyeong… ^^
Kapuas Timur — Kalimantan Tengah, 08/19/2014
-Kiriya-
Mind to Review?
