Chapter 3: Bukan Prasangka Buruk Lagi
Semua tokoh adalah milik J.K. Rowling. Latar waktu masih di tahun keenam Hogwarts. Kalau ada nama atau hal aneh yang beda sama buku aslinya itu dari author sendiri hehehe. Enjoy reading, guys!
"Sudahlah Malfoy, aku tidak ingin berdebat,"
"Kau pikir aku mau? Hanya menghabiskan tenaga,"
Hermione duduk. Berlembar-lembar perkamen lama dan berdebu bertebaran di ruangan itu. Ini adalah detensi paling aneh, nyaris tidak rasional. Mereka -Draco dan Hermione- diberikan tugas untuk mengurutkan perkamen-perkamen bahan ajar Profesor Binns berdasarkan tahun dan abjad. Lucu sekali. Ini berkat campur tangan Snape. Tadinya Professor Binns menugaskan mereka untuk membuat esai sepanjang lima meter tentang "Sejarah Peri-Rumah dan Kemampuan Ajaibnya", tapi menurut Snape itu sama saja memberikan mereka tugas sekolah biasa. Sayang sekali, Malfoy yang seharusnya bisa melobi kepala asramanya hanya duduk saja dan tidak mengatakan keberatan atas tugas itu.
"Aku menghargai Snape," jawabnya setelah kedua Profesor itu pergi. "Apapun detensinya, aku terima,"
"Tentu saja. Kau mencari-muka,"
"Apa mak-"
"Lupakan. Cepat bantu aku mengurutkan kejadian di abad ke-11 ini," Tangan Hermione terlihat sibuk memegang beberapa lembar perkamen.
"Abad 11, kejayaan tongkat sihir berkayu kuat, Cambridge, Caranta, pelopor larangan penangkapan naga ilegal. Oh-Malfoy, bantu aku," Hermione mulai kesal dengan Draco yang malah bermain-main dengan tongkatnya.
"Aku. Berbicara. Padamu. Malfoy. Bantu aku," kata Hermione, tapi pria yang berada di depannya itu malah merebahkan tubuhnya ke atas sofa lapuk yang sudah berlubang di mana-mana.
Hermione kehilangan kesabarannya. Dia menarik napas dalam-dalam. Dia diam. Sebuah keputusan yang sangat baik. Tidak perlu mengeringkan tenggorokannya dan mengeluarkan suara ekstra keras. Setelah lima menit mereka tidak berbicara-bertengkar, akhirnya Draco duduk dan mengambil beberapa perkamen.
Sudah 2 jam mereka berkutat dengan ribuan perkamen tua dengan bau tengik. Pekerjaan mereka belum sampai separo-nya, bahkan seperempat saja tidak ada.
"Tidak akan selesai malam ini. Baru sampai tahun 1200-an,"
"Memang iya. Kau tidak dengar apa kata Professor Binns tadi? Diberi waktu sampai seminggu, harus urut, rapih, dan bersih," Hermione mengulangi ucapan terakhir Professor Binns.
"Apa? Jadi aku harus menghabiskan beberapa malam ke depan denganmu? Sangat buruk,"
"Kau pikir itu kabar baik untukku? Mimpi buruk!"
"Aku mau tidur," kata Draco. Ia berjalan menuju pintu ruangan itu.
"Apa kau gila?" Hermione berteriak. Draco berhenti dan membalikkan tubuhnya. "Meninggalkan pekerjaan ini dan aku sendiri di sini? Kau juga terlibat dalam detensi ini,"
"Aku masih waras tentu. Lagipula kau bukan penakut yang akan menangis jika ditinggal sendiri, kan?" jawab Draco dengan nada yang dibuat-buat.
"Apa yang ada di otakmu itu sebenarnya?"
"Bukan kau tentunya. Dari tadi juga kau sibuk bekerja sendiri. Untuk apa aku di sini?"
"Sibuk sendiri? Bukankah aku sudah mengingatkanmu untuk membantuku, huh? Tiga kali. Lagipula kau tertidur di kelas itu juga. Tertangkap basah oleh Snape juga. Diberi detensi juga. Jadi sudah sewajarnya kau tetap tinggal dan menyelesaikan ini. Banyak hal yang bisa kau lakukan tanpa kusuruh atau kuminta. Misalnya me-"
"Cukup Granger. Aku muak mendengar suara melengkingmu itu," Draco berbalik dan berjalan menuju pintu lagi.
Hermione menarik kerah kemeja Draco.
"Jangan bercanda, Malfoy,"
"Lepaskan tangan kotormu darah-lumpur!"
Hening. Kata kotor yang begitu menyebalkan dan sangat membuat Hermione muak. Hermione sudah biasa sebenarnya dengan ucapan seperti itu semenjak kelas 2, hanya saja dia sudah lelah dengan kegiatannya hari ini dan perdebatannya dengan Draco. Melihat Hermione diam dan tidak berteriak lagi, Draco menyeringai puas.
"Telingaku nyaris tuli karena suara menyebalkanmu itu,"
Hermione tidak menggubris perkataan Draco. Dia kembali duduk dan menyibukkan diri dengan setengah meter tumpukan perkamen tengik. Draco kembali ke pintu ruangan itu dan membukanya.
"Jika kau melangkah satu senti lagi," Suara Hermione menghentikan gerakan Draco, lebih tepatnya tongkat Hermione.
Hermione menodongkan tongkatnya tepat di tengkuk Draco. Sebuah keuntungan pelajaran duel dari Pertahanan Terhadap Ilmu Hitam yang dipelajarinya saat bergabung dengan Laskar Dumbledore tahun lalu.
"Sungguh, Malfoy, aku muak melakukan detensi ini denganmu. Kau sangat egois. Jika bisa memilih, aku lebih baik mengurusi tiga lusin Skrewt Ujung-Meletup."
"Kau ingin berduel, Granger? Kau bahkan tidak akan memantraiku apapun," Draco menyeringai lagi.
"Ya. Tapi, aku akan membuatmu berkenalan dengan burung sihir milikku," Draco diam. Hermione merasa puas bisa membuat Draco diam.
"Begitu, huh?" Draco membalikkan tubuhnya lalu menarik tongkat yang menempel di tengkuknya sehingga terlepas dari tangan Hermione. Keadaan berbalik, dia mengarahkan tongkat Hawthorn-inchi miliknya ke leher Hermione.
"Jangan harap kau bisa, lumpur," Draco tersenyum. "Lihat jam di sana itu. Tengah malam. Ada pertandingan quidditch besok dan aku tidak mau kehilangan waktu istirahat dan kalah paginya, bukan Malfoy sekali,"
"Jangan lupa sering meninggalkan kewajiban. Kurasa itu juga Malfoy sekali,"
"Jaga mulutmu,"
"Kau kira hanya kau yang punya kesibukan? Aku juga punya," Hermione sedikit meninggikan suaranya di kalimat terakhir. "Banyak tugas, persiapan NEWT, masih banyak materi yang belum kupahami, kau tau?"
"Tidak dan tidak mau tau. Kau pikir aku peduli dengan kegiatanmu? Terlintas di otakku saja tidak,"
"Ferret busuk. Lebih baik kau turunkan tongkatmu dan membiarkanku juga kau menyelesaikan ini semua. Akan lebih berguna dan mempercepat detensi ini selesai,"
"Bagaimana jika aku tidak mau?" Draco menaikkan alisnya sebelah dan mendesak Hermione dengan tongkatnya sampai ke dinding yang berjarak dua meter dari rak penuh buku yang sudah berlumut dan dijadikan rumah baru oleh beberapa labah-labah.
"Cukup, Malfoy. Apa maumu sebenarnya?" Hermione menajamkan matanya.
"Membuatmu diam. Demi Merlin Granger, aku muak dengan suaramu. Ah aku tau 'silencio' akan sangat membantu,"
"Kau...sudahlah. Turunkan tongkatmu sekarang,"
Hermione sudah lelah, bertengkar pun berkutat dengan detensi menjengkelkan ini.
"Baik. Asal kau yang membereskan semua perkamen ini. Deal?"
"Tidak. Akan. Menyebalkan sekali kau-pucat-tak-berotak. Jika saja sekarang ada Dementor dan dia berniat menciummu, aku akan sangat bahagia"
"Oh ya? Betapa menyenangkannya, Granger," Draco menurunkan tongkatnya dan berbalik menuju pintu. Ada dua buah mata yang mengintip dari luar pintu. Saat Draco berjalan menuju pintu, mata itu hilang dan sekelebat warna merah sempat tertangkap pandangannya.
"Weasley," bisik Draco.
Yeay! Chapter 3 is done.
Thanks for reading!
Terima kasih juga buat review-nya di chapter sebelumnya.
Author minta maaf ya kalau ceritanya nggak sesuai sama keinginan para reader, masih kependekan atau terlalu monoton, tapi saya sudah berusaha semampu saya kok hehehe
Silahkan review kalau mau kritik atau saran. Sangat ditunggu oleh saya ;D
