Sebelum kisah ini dimulai, marilah kita memutar waktu sejenak—
Biarlah dua orang di sana bercakap dalam gelapnya malam. Tinggalkanlah mereka, sementara kita tinjau ulang sebuah memori.
Silakan duduk, Tuan-tuan dan Nyonya-nyonya. Kita lingkarkan diri di hadapan sebuah proyektor yang siap menampilkannya;

Serpihan ingatan seorang Etherland. Bertahun-tahun yang lalu.

….

ZRAASSHH

Hujan turun deras. Tubuhnya terasa mati, dan deru nafasnya begitu kuat. Saat kelopak matanya terbuka perlahan, samar-samar ia melihat pepohonan. Segalanya gelap, kabur, dingin dan sakit—Owh, ia tidak melupakan bau anyir yang sedari tadi menusuk penciumannya.

Dalam potongan kesadaran terakhir, yang ia ingat adalah...

….

...

Musik jazz mengiringi perjalanan pulang Etherland dari villa rekannya. Sudah berjam-jam ia mengarungi jalanan beraspal di pegunungan, menembus malam dan kabut dengan kecepatan bak kura-kura; 30 km per jam. Hanya Tuhan dan dirinya sendirilah yang tahu apakah ia mengantuk atau memang sengaja ingin semalaman berkendara di pegunungan.

Berkendara semalaman? Hei, memangnya apa yang menarik dari jalanan di pegunungan yang dingin? Tidak ada objek menarik untuk di nikmati kecuali pepohonan di sana-sini. Bukankah lebih baik ngebut membelah angin dan menikmati secangkir cokelat panas di hotel yang nyaman? Mengendarai mobil terus-menerus itu melelahkan, Kawan!

Ah, kenapa ia harus berlama-lama di sini?
Etherland akhirnya tersadar dan mulai memacu kecepatan mobilnya lebih cepat. Semakin cepat dalam hitungan detik. Sigh, ia harus cepat pulang, sekarang!

Ngomong-ngomong, kenapa ia menolak tawaran menginap? Apa sih yang ada dalam pikirannya?! Padahal tidak ada salahnya menghabiskan malam di villa… yang tampak mahal itu.

Jalanan gelap dan lampu penerangan hanya bersinar redup, kesunyian benar-benar menguasai alam di bawah gantungan bulan yang bersinar pucat. Bulu kuduknya merinding. Bah! Apa yang ia pikirkan? Etherland menarik senyum ironis. Bodoh sekali ia berpikiran seperti itu—ia tidak percaya. Apa ia mengharapkan sesuatu muncul….dari pepohonan di sana misalnya?

Tunggu! Apa dia mengharapkan adanya sensasi horror untuk di bawa pulang ke Amsterdam? Apa dia sedang berharap menghabiskan waktu untuk membeberkan kisah seram pada rekan kerja nanti? Halooo, masih dengan Etherland Neftmmel? Tokoh utama kita terpengaruh dengan hal mistis… tidak biasa. Ayolah, mana Etherland yang selalu berpikir logis?

Duh, aku ini mikir apa sih?!

Cahaya mobilnya menembus kegelapan. Warna kuning sedikit menciprati pepohonan di sisi jalan, dan music jazz berhenti mendadak, rusak di makan usia. Ketenangan pun mendadak menyelimuti tempat itu.

…Kisah horror.

Cukup. Cukup. Ia muak dengan hawa tidak enak seperti ini! Tangan kirinya meraba dashboard, mencari handphone-nya di sana. Pencahayaan kecil benda elektronik itu menimpa wajahnya, matanya kembali mencuri pandang ke jalanan—

….

BATS! BATS! BATS!

"What the—"

….

Ada sesuatu yang terbang ke arahnya, dengan kecepatan tinggi. Jumlahnya semakin banyak dan menyebar di antara mobilnya, membuat pupil matanya mengecil ketika mendapati sosok itu di sela makhluk hidup yang terbang—berdiri hanya beberapa sentimeter dari bibir mobil…

Tuk

Tuk

—Secara refleks Etherland membanting setir dan jantungnya terasa berhenti mendadak.

"Fucking Hell!"

Wanita.

Tuan..., Tuan...

Sosok itu tertangkap dalam pencahayaan mobil. Wajahnya…, wajah yang…TIDAK! Rasa takut seketika menyentaknya, dan untuk pertama kali dalam hidupnya ia melihat—melihat… Mijn God! Ia tidak…

.

BRAK

.

Innova warna silver menabrak pembatas jalan, ...dan ketika kesadarannya kembali, kendaraan bermesin itu terjun bebas menyelam dalam lautan bintang dan kelamnya malam.

Bahkan untuk makhluk stoik seperti Etherland, masih ada momen di mana ia bisa berteriak nyaring. Harapan pertolongan yang melambung tinggi itu perlahan luluh lantak bersamaan dengan jatuhnya mobil itu ke jurang. Kemudian pandangannya menggelap.

Begitulah.

Etherland kini berusaha untuk bangkit, namun gravitasi seolah tak bergeming, membungkam pria Belanda yang berlumur tanah dan darah itu dalam rengkuhan hujan.

Apa ia akan mati di sini?

Klise. Sungguh.

Etherland hanya bisa mengambil nafas dalam-dalam dalam kebekuan.
Ia diam. Memucat. Mengingat kembali apa yang baru saja ia lihat...

Sosok dengan pakaian putih, bertopeng mengerikan, penuh bercak darah—atau jangan-jangan itu wajah asli? Wanita berambut panjang itu menatapnya dengan intens di tengah jalan, memanggilnya dengan suara pilu. Apakah dia... memang menunggunya?

"Ahh… aku kalah taruhan."

Suara seorang gadis memecah keheningan. Etherland melemparkan pandangannya yang buram ke arah sumber suara; seorang gadis cantik berkulit sawo matang dengan jas hujan warna putih. Bibir kecil itu mengucapkan sesuatu di hadapannya.

"Cuma taruhan Indomie rasa kari, sih, sama Fajar." Kembali Etherland mendengar suaranya.

"Tapi kok spekulasi dia tentang mobil jatuh tepat? Jangan-jangan Fajar punya indra keenam lagi! Ah, sudahlah—kau baik-baik saja, Tuan?"

Memangnya aku terlihat baik-baik saja?! Etherland berteriak dalam hati. Ia mencoba mengucapkan sesuatu pada gadis polos (atau lemot?) itu. Ah, walau sedikit membuatnya kesal, gadis itu...

Manis.

"Sebentar, biar kutelponkan seseorang." Ujar sosok itu dengan senyum lembut.
Etherland mendadak merasa hanyut. Menawan. Jari-jari lentik itu menekan keypad di ponsel, "Aish! Hape butut! Nggak ada sinyal lagi!"

Rasa kesal Etherland lenyap di gantikan dengan dengusan geli dalam batin. Namanya siapa, ya?

Ia harus tahu. Gadis itu penolongnya, penyelamatnya, dan membuktikan bahwa Tuhan masih sayang padanya. Jika nanti mereka sudah berada di tempat yang lebih layak; ia ingin berkenalan dengannya.

Oh, sepertinya tidak sekarang.

Gadis itu menjadi dua dalam pandangannya. Menjadi tiga. Menjadi empat, hingga kabur, saling bertubrukan satu sama lain. Pandangannya kacau dan perlahan tapi pasti menggelap bagaikan cakrawala hitam yang membentang sekarang. Meredup, meredup, redup... nafasnya melambat….

Haha, apa ini artinya ia akan mati?

Ia bisa mendengar krasak-krusuk di dekatnya. Entah apa yang gadis itu lakukan. Tubuh Etherland sudah mati rasa, sementara hujan masih mengguyur tubuhnya yang melengket dengan pakaian, bersama darah dan noda tanah. Hanya satu-dua huruf yang mampu ia tangkap dari gumanan gadis itu sebelum semuanya gelap… gelap.

Keramaian Jakarta Fair bersemarak. Jantung Etherland serasa terhenti sejenak, bersamaan dengan letup pola meriah kembang api di angkasa. Pandangannya tak beralih dari seorang gadis—titisan dewi dalam kesunyian relung hati Etherland, sang perjaka…tua?

Manik cokelat gelap yang sama. Bersinar terang memancarkan tekad kuat meski itensitas kegelapan berbeda dengan beberapa tahun silam kala dirinya nyaris di ambang maut. Wajah yang terpatri samar dalam otaknya itu tak berubah.

Spontan saja roda ingatan Etherland berputar kembali.
Kala itu, tahu-tahu ia terbangun di sebuah ruang VIP rumah sakit dengan rentetan perlengkapan medis di sisinya. Gadis yang menolongnya hilang tanpa jejak. Ia hanya diberitahu, memang ada gadis berambut hitam yang mengantarnya ke rumah sakit—tapi tak ada yang tahu nama gadis tersebut.

Pandangan, dan senyuman yang sama— tak akan tergantikan di dunia. Hanya ada satu orang dalam memori Etherland yang memiliki sebuah lekuk senyum eksotis seperti itu.

Sang Penolong.

Jika dulu gadis itu adalah dewi penolongnya…, tak salah bukan jika Etherland yang kini melindunginya?

Ia tak ingin lagi membiarkannya lepas…, menghilang tanpa jejak dan menyisakan sebuah perasaan terpendam. Ia pun berlari menembus kerumunan, mengabaikan teriakan adiknya di sana—karena ia percaya bahwa takdir akan mempertemukan dengan gadis itu kembali.

Ia percaya bahwa gadis itu akan merubah dunianya, melengkapi setiap helaan nafasnya.

'INDISCHE! SAYA… ERR—AKU! KITA PERNAH BERTEMU SEBELUMNYA, KAN?!'

...

Katakan, apakah melindungi orang seperti Kartini adalah hal yang hina?

Dan dijadikan-Nya diantara kamu rasa kasih dan sayang.

Bukankah hak setiap manusia menerima rasa sayang dan perhatian?

...Tapi apakah itu menjadi alasan untukmu melawan takdir yang digariskan?


Brocken


Hetalia Axis Power © Hidekaz Himaruya

.

Brocken © Me

#

AU. Kata-kata kasar. Deskripsi dan diksi nyeleneh, riset jumpalitan dll

Kesamaan tempat, nama, merek hanyalah bentuk keisengan tanpa ada maksud apapun.

Fanfic ini mutlak tidak terkait dengan peristiwa sebenarnya.

Rating bisa naik sewaktu-waktu

.

Happy Reading

Don't like don't read


Gerard Doulaan 2, Amstelveen : 08.45 a.m

Sret

Sret

Sret

"Aw." Etherland Neftmmel meringis kesakitan, melepaskan pena hitam dari pegangannya sejenak. Alis tebal lapis enam (bukan) miliknya itu saling bertautan sembari iris emerald-nya kembali mengecek lembar ke seratus dalam beberapa jam terakhir. Mulutnya membentuk garis lengkung ke bawah—dia kesal, kesal.

"Apa?"

Etherland melempar pandangan mencela sejenak ke arah Roderich Edelstein, namun dengan setengah hati ia merespon pertanyaan menyebalkan itu dengan senyum tipis dan gelengan kepala secara sopan untuk meyakinkan pria Austria bahwa tidak-ada-sesuatu-yang-salah.

Walau sesungguhnya jiwa tokoh utama kita ini ingin sekali berteriak pada sang atasan—jarinya mau patah dengan setumpuk pekerjaan tak sedap, pagi ini.

"Arthur Kirkland, tinggal 4 jam lagi dari sekarang—tujuh ratus lembar atau detensimu kutambah."

Tuh, kan?

Oh, yeah.Terima kasih sudah mengingatkanku, Tuan Detensi.

"Arthur Kirkland."

"Ja, Herr—salinan ke-102." Etherland menyahut—melaporkan perkembangannya dalam menit terakhir dan jarinya bergerak lincah dalam dunia rangkaian kata. Sesaat ia melempar pandangan sinis ke sosok itu. Detensi. Detensi. Detensi. Oh, adakah yang lebih buruk daripada kehidupan kacau dengan…detensi?

"Penghancuran properti , pengacaubalauan setengah café dalam waktu beberapa jam." Guman Roderich, mengingatkan insiden 'taruhan' semalam.

"Wang Yao sudah memberikan kami—"

"Peringatan. Yah, aku tahu itu." Roderich memotong perkataan Etherland dengan dingin, "Dan itu terlalu lembek untuk tingkat kekacauan seperti ini."

Etherland menatap tajam Roderich, pandangan mereka bertemu di satu titik yang sama dalam percikan listrik statis bak efek komikal. "Dia penyayang, Herr—dan Anda tidak seharusnya menghukum saya seorang tanpa adanya persetujuan dari dia."

"Dan melupakan fakta bahwa kau—sebagai ketua, membolos untuk bersenang-senang?"

"Bukan saya yang mendalangi ini."

"...Kemudian membiarkan dirimu diseret seenaknya oleh anak buah sendiri, tanpa adanya tindakan serius dan penegasan aturan?"

"Itu tidak terpikirkan oleh saya."

"Oh." Roderich berguman singkat, "Apakah ini pernyataan tegas bahwa Arthur Kirkland, salah satu pentolan kepolisian di Belanda, mengalami sesuatu bernama… konslet?"

Bangsat! Etherland bersumpah serapah dalam hati, beritanya sudah menyebar rupanya…

"Meski kau berada dalam pengaturan seorang hoofdagen seperti pria China itu, bukan berarti seorang hoofdofficier seperti aku tidak bisa memberikan hukuman padamu jika kau melakukan kesalahan. Ingat, Kirkland. Aku kepala jaksa dan aku bertanggung jawab untuk penyelidikan tim kalian, juga tim lainnya dalam kepolisian ini. Yao hanya seorang kepala agen—bawahanku, paham?" Roderich berkata dengan nada menusuk yang semakin mencekik ulu hati Etherland

"Tidak hanya aku, Kirkland. Tapi Natalya, ataupun Toris bisa saja memberikan detensi ini padamu. Aku bisa saja membuat laporan kepada mereka dan dalam waktu satu menit kau akan di tendang dari sini."

Cukup, Brengsek! Kau tidak perlu membeberkan sampai sepanjang ini seolah-olah aku ini junior idiot kepolisian.

"Jadi tinggal—"

PRRTT PRRRTT

Roderich menghentikan kata-katanya, merogoh saku celana dan mendapati handphone layar sentuh miliknya bergetar menandai adanya panggilan dari seseorang. Dengan elegan Roderich mengangkat telepon dan berinteraksi sembari mengambil jarak. Lima belas menit kemudian Roderich kembali ke dekat Etherland, menyuruhnya tetap meneruskan detensi yang diterimanya dan harus selesai ketika Roderich kembali nanti.

BLAM

Baik, kini Etherland ditinggalkan sendirian.
Kemana para kolega sialan-nya?! Oh, tidak… sumpahannya barusan tak di tujukan untuk Lukas Si Kawan Tunangannya, makhluk hitam kelewat riang dari Kuba, Gupta, serta pria berkaca mata entah-siapa-namanya. Siapa lagi yang di maksud kalau bukan trio kondang korps Amsterdam-Amstelland?

Tiga orang itu biang permasalahan ini—kenapa malah dirinya yang kena imbas?

'Kau pilih mana? Menulis 700 lembar atau gajimu terpotong bulan ini?'

Sial—kalau saja bukan karena pilihan gaji terpotong Etherland tak akan mau menulis sepanjang ini. Jika 20 menit lagi Gilbert Beilschmidt dan Francis Bonnefoy tidak datang, ia akan mencekik seseorang di Personalia untuk memotong gaji mereka.

Yah, walau ia tahu sebaiknya tidak berurusan dengan bagian P & O.Seseorang bernama Natalya Arlovskaya yang bertugas di sana itu menyeramkan—lebih dari Lukas ataupun Roderich.

Jangan tanya kondisi rumah, karena sama buruknya dengan di sini. Semenjak kedoknya dibongkar oleh bocah antena bernama Alfred F. Jones, dunia terasa makin tak nyaman untuk di nikmati. Etherland terdiam sejenak, pandangannya mengawang-awang di udara.

Suara-suara Alfred itu masih terngiang di kepalanya. Tentu saja Etherland ingat betul kejadian menyebalkan tadi pagi—

….

Ini hari kedua Etherland Neftmmel terbangun dalam tubuh orang lain, terbangun dalam diri seorang Arthur Kirkland.

Pandangannya masih kabur dan terasa berat, tubuhnya lelah. Ia ingin sekali tertidur lagi dan menghabiskan hari ini dengan merenggangkan otot—bebas dari aktifitas kepolisian yang kacau dengan kolega tak karuan.

Tidak seharusnya ia melakukan semua ini; memerankan orang lain.

KRIIIIEEET

Pintu terbuka, Alfred melonjak masuk dengan riang dan melompat ke kasurnya. HUP. Tubuhnya terasa mau remuk mendadak oleh bobot mengerikan bocah itu. Ya Tuhan….Arthur Kirkland, siapapun dirimu, kau harus mencermati lagi makanan apa yang kau berikan ke anak ini! Dia berat sekali!

"Pagi Iggy~!"Alfred berseru riang dengan penuh semangat, "Ayo sarapan! HERO sudah sangat lapaaar!"

Etherland sempat ragu untuk menyuarakan pertanyaan sebelum akhirnya memberanikan diri "Al, kenapa—"

Kenapa masih memanggilnya dengan sebutan 'Iggy'? Bukankah...

"Apa? Aku tidak dengar?" Kini bocah itu balik bertanya dengan polos, walau dari sorot matanya, Etherland sadar bahwa dia berpura-pura.Alfred berpaling sejenak kepada sosok di depan pintu yang menunggu dengan sabar, "Come'on Iggy! Aku dan Mattie sudah lapar nih."

Oh, ya. Etherland baru menyadari sosok Matthew ada di ambang pintu. Tapi tetap saja, kehadiran orang itu membuat tak membuat Alfred bertingkah seolah-olah terjadi sesuatu semalam. Semua berjalan normal—ehm, walau 'normal' itu masih di pertanyakan dalam diri Etherland.

"Tolong jangan bikin Lady Pink lagi, please."

Seketika mood Etherland kembali jelek.

"Kenapa? Nggak suka?"Etherland menyahut, menurunkan Alfred dari tubuhnya.

"Nggak ada yang lebih buruk dari bayam berlendir pink-abu-abu, Iggy."

Etherland bisa melihat keterkejutan pada wajah Matthew, bocah itu tampak kaget dengan komentar kakaknya. Tidak biasanya Alfred begitu jujur mengatakan bahwa masakan Arthur nggak enak, karena biasanya…yaaah, bocah itu selalu bilang enak pada scone buatan kakak asuhnya.

"Ta-tapi menurutku enak kok, Kak Iggy…"Matthew berkomentar dengan halus.Yah, baginya Lady Pink lebih enak daripada Scone yang biasa…

Hening.

Sudah di duga. Matthew hanya bisa tersenyum kecut di garis belakang. Alfred kembali bercakap dengan 'Arthur', sementara dirinya tertinggal di belakang. Ia bisa mendengar kakaknya yang tertawa lepas begitu nyaring...

"Namanya lucu sekali Iggy! Aku baru dengar nama makanan…, se-se… apa, Iggy?"

"Sego kucing."Jawab Etherland dengan lugas. Oh, tentu saja ia ingat makanan Indonesia yang satu itu.Bidadarinya—Kartini pernah membuatnya. Makanan yang simpel, iya kan?

"Waw, kaya'nya enak!"Alfred berkata penuh semangat, tak mengetahui bahwa di balik senyum tipis tubuh Arthur Kirkland, Etherland tengah tertawa penuh nista.

Yaah, Etherland tidak bilang kalau makanan itu memiliki porsi sedikit layaknya pakan untuk kucing. Untuk kucing, para pembaca budiman.Tentu saja sajian itu irit, irit sekali. Hanya terdiri dari nasi, tempe,dan teri goreng—kalau tidak salah? Entahlah, Etherland agak lupa. Semoga saja anak itu tidak protes.

Dan, Oh Tuhan… ia akan melakukan ekspresimen masakan, lagi.

"Minggu ini kita kemana?"

Etherland menghentikan langkah.

"Apa?" Pandangannya tertuju pada bocah kecil di sampingnya. Frekuensi nafasnya melambat sejenak, Adakah yang salah?

"...Kak Arthur?"Kali ini Matthew datang bergabung, ia terdiam sejenak dengan ekspresi tak terbaca. Iris matanya mendadak menjadi sendu, "Apa minggu ini…"

Ya Tuhan, Etherland nyaris menepuk jidatnya. Jangan-jangan Arthur adalah tipe kakak baik yang selalu meluangkan waktu minggu dengan adik-adiknya? Sungguh... gentleman.

Dan, dirinya tak mampu harus berkata atau bereaksi seperti apa. Sedari tadi isyarat minta-penjelasannya tak di jawab oleh Alfred yang mendadak sibuk menenangkan adiknya,

"Jangan khawatir, Matt~, kita akan naik bianglala!"

What—

"Iya kan, Iggy? Ya, kan? Ya, kan?"Alfred menatapnya dengan penuh harap. Tunggu—tunggu—ia tidak siap untuk ini. Jangan Al…

"Kita akan beli es krim yang besaaar banget! Ukuran jumbo! Ya kan, Iggy? Nahahaha!"

Crrriing

Apa kalian mendengar suara gemerincing uang? Oh, ya. Mata Etherland mendadak tajam mendengar kata jumbo.

TIDAK AKAN!

Etherland menepis tangan Alfred secara halus, tersenyum ironis, dan berjongkok menyesuaikan perbedaan tinggi mereka. "Maaf." Ujarnya dengan nada (sok)menyesal, "Kita tunda dulu ya jalan-jalannya."

"EH?!"

"Aku sibuk, kasusku semakin—WAA!"

Keterkejutan Etherland lepas kontrol lantaran tarikan mendadak dari Alfred.Pelarian keduanya berakhir di dapur,lagi-lagi meninggalkan Matthew yang bingung di lorong sendirian.

"Kau harusnya mengiyakan perkataanku, Eth!"Nah, untuk pertama kalinya dalam hari ini, ia mendengar seseorang memanggil namanya—bukan dengan nama Iggy atau Arthur Kirkland. Sebentar, bukan ini masalahnya.

"Kau tidak bilang, Alfred."Etherland membalas ketus sebelum melanjutkan kembali, "Ingat, aku ini Etherland. Bukan Arthur. Dan kau tahu hal itu atau jangan-jangan—"

Wajah Alfred bersemu merah mendadak dan buru-buru memotong, "Apa?! Maksudmu aku lupa?! HAH! HERO nggak mungkin lupa!"

"Bilang aja lupa, kok ribet sih?"Etherland menjawab dengan datar, "Tidak perlu malu"

"Pokoknya kita harus jalan-jalan hari ini! Kau juga berpikir begitu kan, Matt?"Alfred buru-buru memotong perkataan Etherland dan menatap Matthew yang baru muncul di ambang pintu. Sungguh, sekilas ia merasa Alfred itu seperti Bella umur tujuh tahun yang ngotot minta di belikan cokelat plus jalan-jalan dengannya dan si Luxie. "Tapi Alfred, hari ini aku…"Etherland berbisik di telinga Alfred, mencoba memberikan penjelasan bahwa hari ini…

"Ahahaha, tidak apa-apa Iggy! Iggy pasti kuat naik roller-coaster!"

BUKAN ITU!

Hari ini ia punya kesibukan tersendiri; mengusut kasus di kepolisian. Dan menyelamatkan Kartini, tentu saja.Well, ia memang belum memikirkan cara yang tepat untuk... penyelamatan Kartini. Tapi tetap saja, kan? Bukan berarti ia boleh bersenang-senang sementara pekerjaan yang seharusnya di garap Arthur dan misi penyelematannya di telantarkan. Sudah cukup dengan kehidupan mengurus anak-anak seperti ini!

Dan tentu saja,bicara soal rekreasi, pasti pengeluaran uang membengkakmenurut pandangan Etherland. Untuk apa ia membelikan mereka berdua es krim jumbo dan hamburger? Toh, dia bukan kakak yang sebenarnya! Hemat!

"Alfred, aku tidak bisa. Aku sibuk. Kau dengar?"Etherland mencoba membujuk Alfred untuk menarik pernyataannya.

"Selama kau masih ada dalam tubuh Iggy, kau harus bertingkah seperti Iggy! Tak peduli kau sibuk atau apa." Bocah itu mengucapkan kalimatnya dengan berbisik, namun tajam. Cukup mengejutkan Etherland, ternyata bahwa bocah ini memiliki sisi seperti ia tidak suka di perintah seseorang—apalagi di paksa oleh seorang bocah kecil.

"Apakah hal itu penting sekali untukmu?"

"Ap—"Alfred hampir kehilangan kata-katanya saat Etherland mengucapkan kalimat itu.Dengan suara cukup nyaring yang pasti terjangkau dalam jarak dengar Matthew. Akhirnya Alfred memelankan suara, "Eth, ini melanggar kesepakatan kita. Matthew—"

"Aku tanya sekali lagi Jones, apa itu penting sekali?"Etherland memotong dengan cepat sebelum melanjutkan, "Aku tak peduli apa Matthew tahu atau tidak tentang 'kita'. Yang jelas, tidak ada rekreasi untuk hari ini. Kau boleh saja merengek tapi jangan denganku—mintalah pada Arthur Kirkland, kakakmu yang asli, right?"

"Tapi…."

"Kau belum paham juga, eh?"Etherland menghela nafas panjang, "Kau sudah tahu kedokku, Jones. Dan untuk apa aku berpura-pura lagi menjadi Arthur untukmu, hm? Aku bukanlah kakak baik hati yang penyayang seperti Arthur, jadi berhentilah merengut seperti itu. Kau bisa makan es krim jumbo nanti begitu urusanku selesai di sini, dan kakakmu kembali."

Tapi anehnya Alfred membungkam dengan pandangan menahan tangis.

"Kau orang paling jahat yang pernah kutemui."

Perkataan bocah Amerika itu mau tak mau mengena di hati Etherland.

"Kau tidak tahu apa itu arti sebuah kebersamaan dalam keluarga…."

...

"Masalah buatmu?"Etherland membalas ketus, tak mau kalah sengit. "Aku punya seorang gadis yang kucintai. Dan hanya dia."

"…."

"Hah! Menyerah kalah, Jones?"

Alfred terdiam sejenak dengan pandangan buram, "Aku tak peduli.Jika kau tak menghargai dan merasakan kasing sayang sebuah keluarga—Kau belum memiliki sesuatu yang benar-benar berharga!"

DEG

"Kak Arthur…"

"Shh, sudah, Matt.Tidak usah di pikirkan! Everything will be 'kay, right?"Lagi-lagi Alfred mengalihkan perhatian Matthew.Dua tangan manis itu saling bertautan,kemudian sang kakak menuntun adiknya yang canggung itu ke dapur,"Kau pasti sudah lapar sekali ya?"

Keheningan tercipta. Sarapan pagi itu pun menciptakan atmosfir tak nyaman. Sementara itu, perkataan Alfred entah mengapa masih terngiang dalam Etherland.

Memalukan.Ia dapat teguran dari bocah kecil yang sok menasihati dirinya tentang keluarga. Hah, tahu apa bocah seusia dia tentang hidup?

..

TRAK

TRAK

"Kalian mau kemana?"Etherland bertanya ketika menyadari bahwa kedua anak itu sudah selesai dan meninggalkan meja.

Alfred menoleh sejenak dengan pandangan yang tak terbaca, tertawa riang sembari berkata, "Haha,berjalan-jalan sebentar…ada game baru di rumahnya Mei-Mei!"

"Kalian ini…"Etherland mendengus kesal dengan pandangan menusuk, "Ini masih terlalu pagi untuk berkunjung dan bermain game di rumah orang!"

"Sudahlah Iggy! Urus saja kerjaanmu sana! Hahahahahaha!"

Bagi Etherland, balasan Alfred ini lebih bermaksud menyindir. Apa bocah ini mau mengibarkan perang?

"Kami mau kemana pun bukan urusanmu, kan? Sudahlah, cepat berangkat sana, nanti terlambat lho!"

Dan dua anak itu perlahan menghilang dari batas pandang Etherland. Mijn God, ia tidak bisa membiarkan hal ini! Buru-buru ia mengejar bocah itu. Tidak…, masalahnya anak itu…, ya, si Alfred sudah mempunyai kesepakatan denganku bahwa…

"Al—janji—"

Bahwa dia…

TEP

Alfred menoleh danmenyeringai tipis, "Kalau begitu, kurasa perjanjian kita batal."

Ya Tuhan! Hanya karena ia menolak ajakannya untuk liburan hari ini dia—

"Makanya aku tanya, sebegitu penting kah rekreasi itu bagimu?"

"…."

"Jones, jawab aku!"

"Bagimu yang terpenting hanyalah tunanganmu itu. Untuk apa aku memberitahumu, toh kau hanya memikirkan urusanmu sendiri, tak mau tahu soal Iggy ataupun kami."

BLAM

Satu—satu.Impas. Bagus sekali, Jones. Kau memberikan hantaman untuk pagiku yang cerah. Aku egois? Hah, kau yang terlalu kekanakan—oh, kau memang anak-anak!

Dan keheningan menyelimuti tempat itu seketika.

Ah, sudahlah! Buru-buru Etherland mencoba memperbaiki mood dengan bersiap-siap ke kantor. Entah mengapa kali ini ia merasa butuh trio konyol itu untuk menghiburnya. Setelah membereskan piring-piring, Etherland mengambil tasnya dan berjalan keluar apartemen.

Anehnya, kenapa hatinya tak mau tenang? Pandangan dan perkataan Alfred masih membekas jelas . Ada rasa sesal dan sedihtunggu, mereka berdua kan hanya anak-anak dan…

TAP

"Sial!"

Pertama kalinya Etherland bermasalah dengan 'keluarga'. Baru pertama kalinya ia merasakan gumpalan perasaan tak nyaman saat melihat raut dua bocah itu—'adik-adiknya'. Wajah merajuk itu mengingatkannya pada Bella.

Walau status'adik' sendiri itu hanyalah semu. Tapi tetap saja tak bisa membohongi perasaannya…, perasaan…

...

Terluka?

"Arrgghh!" Etherland mengacak-acak rambutnya, mengakhiri penuturan flashback di atas dan kembali berkutat. Sudah lembar keberapa dia menulis? Ah, sudahlah! Etherland tidak peduli—pokoknya ia ingin cepat-cepat menyelesaikan semua ini dan pulang ke dunia asalnya!

PLIK

Oh, ralat. Bukan kembali ke dunia asalnya—yah, tidak salah sih kalau pulang, tapi ia lebih berharap bisa menyelamatkan Kartini dan melanjutkan hidupnya dengan sang gadis pujaan...

TAP TAP TAP

Suara langkah kaki terdengar tergesa-gesa dari luar, kemudian mengetuk pintu ruangan. Si Roderich sudah datang? Belum juga satu jam—Sial, kenapa juga orang itu harus kembali?

TOK TOK TOK

Tunggu. Apa mungkin si Tuan Aristokrat mengetuk pintu ruangannya sendiri? Etherland melangkah untuk menyambut gagang pintu. Pembukaan itu menimbulkan suara berderit halus, dan betapa terkejutnya ketika ia tak mendapati seorang pun di luar.

BATS

Sesuatu berkelebat di ujung lorong, sosok yang tak jelas dalam pandangan Etherland. Rasa penasannya terusik oleh kehadiran sosok mistis itu.

"Siapa di sana?"

Tidak ada yang menjawab.

Etherland memperlambat langkah, matanya menyipit penuh selidik seolah sewaktu-waktu ada yang melompat dan menangkapnya dari belakang. Apa ini artinya ada seorang pelaku? Penjahat yang kabur? Atau jangan-jangan pembunuh yang diincar timnya sekarang?

Banyak pertanyaan yang menggantung dalam pikiran Etherland. Ia meraba pelan Polish P-83 Wanad yang tersarung manis di wadahnya, bersiap untuk memuntahkan beberapa peluru jika memang ada orang mencurigakan masuk dalam kepolisian. Haha, khayalan Etherland memang tinggi, sejak kapan ada orang tak berkepentingan masuk ke sini tanpa izin? Terlebih lagi penjahat—Etherland akan memberi empat jempol jika memang ada penjahat yang nekat masuk di sarang beruang ini.

TEP

Etherland kini berdiri di sebuah perempatan, memadang sekeliling . Apa ini artinya Etherland sedang mengalami situasi-situasi seperti di dalam film, di mana sang tokoh berkejaran dengan seseorang, kemudian bertemu dan saling menembak?

"Sialan." Etherland mengumpat kesal, menyadari kebodohannya. Untuk apa ia mengincar sesuatu yang bahkan tak terlihat ujung hidungnya? Lah, memangnya siapa yang tadi mengetuk pintu kalau bukan—

BATS!

Sesuatu menangkap Etherland yang sudah berbalik untuk pulang. Penyergapan mendadak itu mau tak mau membuat Etherland berontak dengan penuh tenaga, namun perlawannya seakan tak berarti apa-apa dengan tangan dan mulut yang terkunci. Ia pun memilih untuk menginjak kaki berbalut sepatu hitam itu dengan penuh tenaga, membuat sang penyergap menjerit kesakitan dan refleks melepaskan tangkapannya. Etherland buru-buru menjauh dan mengambil jarak, kakinya membentuk kuda-kuda sebelum akhirnya tercengang sendiri melihat siapa yang—

"MEIN GOTT! Sakit banget, tau nggak?! Sumpah, lu makhluk paling jelek yang tega nginjek kaki gua yang ganteng, handsome lagi awesome ini!"

Kalian semua pasti tahu siapa yang mengucapkan gerutuan kekesalan bernada narsisme itu.

"Jelek apaan. Lagian kenapa juga sih kau main sergap-sergap segala?! Kalau mau minta tanda tangan nggak usah kaya gitu kali!"

"Heh? Tanda tangan? Nggak awesome banget sumpah, uhuk, sampai kapan pun nggak bakal ada yang mau minta tanda tangan sama alis ulat bulu macam kamu!" Gilbert membalas tak kalah sengit dari Etherland.

"Udah, berhenti bicarain hal nonsense. Sekarang apa maumu?"

Gilbert merengut, "Jadi langsung saja ya, kita harus pergi sekarang untuk menangani kasus!"

Mendengar kata 'kasus', Etherland langsung tergerak. "Oke. Kalau gitu kamu gantiin aku nulis detensi dari Roderich. Biar aku yang ke lokasi kejadian." Ujarnya datar.

"IIHHH! Ngapain juga sih ngerjain detensi super nggak awesome dari makhluk macam dia?" Ekspresi Gilbert terlihat mual mendengar kata 'detensi', "Nggak penting amat, buat apa nulis panjang-panjang kalau nantinya juga bakal dibakar!"

"Apa?"

"Sudah, ah!" Gilbert tak mau tahu dan buru-buru menyeret Etherland untuk bergegas pergi, "Nggak perlu banyak mikir, pokoknya kita harus pergi sekarang!"

"Sebentar! ID card ku—"

"Tinggal aja ID Card-nya napa? Kita bisa langsung masuk! Si muka es jaga di TKP, lagian kita kan emang udah terkenal, banyak yang tahu! Yaah…, walau cuma aku saja yang awesome sih. Kamu dan alismu nggak."

"Sialan kau, Beilschmidt."

"Bukan sialan, tapi awesome—Hei, omong-omong ada korban baru lho, Arthur!"

Gilbert menjelaskan sepanjang jalan, merusak kesunyian tempat itu dengan suara besarnya, "Kau harus liat, kuharap kau tidak memuntahkan sarapanmu."

"Seseorang menemukannya?"

"Seorang cleaning service menemukannya di bak sampah. Kini ia tengah ditanyai oleh Gupta." Jawab Gilbert dengan tegas, "Kau ingat si Heracles? Itu lho—politievrijwilliger yang terobsesi dengan kucing, dia yang menelponku tentang penemuan mayat ini tadi."

Tunggu dulu... Etherland terdiam sejenak dan menatap penuh selidik.

"Hola, Arthur… Alles goed?"

Iris emerald itu meredup dan Etherland menghela nafas panjang ,"Kalau begitu kenapa yang di telpon pertama kali adalah kamu, Gilbert? Aku ini Leiter, pemimpin kalian, kenapa kamu yang di telpon?"

"Karena gua awesome!"

"Gilbert Beilschmidt."

"Oh, oke, oke. Karena dia punya nomerku yang sangat awesome ini."

Etherland ingin sekali rasanya melempar pemuda di depannya ini ke suatu tempat. "Bego! Sama aja!" Umpatnya ketus, "Nggak masuk akal, Gil. Kalau dia jalan-jalan dan mendapati laporan mayat, yang pertama kali di telponnya pasti adalah Yao atau Sadiq selaku pengawas. Kalau sudah begitu aku tak akan menghabiskan 15 menitku barusan dengan menulis detensi—sementara ada korban lagi dalam kasus kita."

"Selalu saja berargumen." Gilbert menyahut dengan menggelengkan kepala, "Oh, apa ini artinya kau sembuh dari konslet?"

"Gilbert, kau berbohong kan?"

"…."

"Gilbert?"

TUT TUT TUT

Gilbert tak menghiraukan perkataan Etherland dan menekan tombol ponselnya dengan lincah. Sesaat kemudian, handphone tersebut sudah menempel di telinganya,

"Francis, siasatmu gagal—boleh ku seret paksa si Alis sekarang?"

"APA?!"

"Shh—jangan keras-keras! Ayo ikut aku!"

Pupil mata Etherland membeliak dan sebelum ia sempat protes, tangannya telah di tarik kuat-kuat, menyeret dirinya menuju keluar kantor, "HEEEII! APA MAKSUDMU, GIL?!"

"Nanti juga tahu, pokoknya kita harus berangkat sekarang, kesesesesesesse!"

...

"Mon Dieu, Abang hampir mati kebosanan menunggu kalian ~!"

"Si Alis kebanyakan bacot." Komentar Gilbert di parkiran. Tiba-tiba saja ia mendorong tubuh mungil Arthur Kirkland untuk masuk ke dalam mobil warna hitam yang pintunya terbuka, membuat tubuh sang Briton menimpa seseorang dan menciptakan keluh kesakitan. Oke, Etherland tidak ragu lagi untuk menulis laporan tak sedap tentang kelakuan koleganya ini pada P & O nanti—

"Iggy, badanmu berat! Sakit niihh~!"

EH?!

Etherland seketika mendongakkan kepala, dan betapa terkejutnya ia ketika mendapati bahwa Jones tengah duduk di jok tengah, bersama dengan Matthew dan Antonio yang berada di pojok.

"ALFRED! MATTHEW!" Serunya, seakan tak percaya bahwa dua bocah itu berada dalam satu mobil dengannya.

"Gil, Francis, apa maksud kalian ini?"

"Honhonhon, tentu kita harus bersenang-senang untuk minggu yang cerah ini!" Francis angkat bicara dengan kedipan menjijikan, "Capek harus mengurusi kasus yang sama setiap hari."

"Lah, terus kenapa mereka berdua harus diseret juga?" Etherland membalas ketus dengan menunjuk 'adik-adiknya', kemudian ia beralih kepada makhluk clueless di sana, "Ini juga kenapa Antonio di bawa-bawa, hah?!"

"Ssshh, Iggy jangan gitu doong~, Kak Francis udah baik-baik ngajakin kita ke Dam Square, iya kan, Kak?"

"Tentu, Sayang. Abang dengan senang hati mengantarkan kalian kemanaaa saja!" Dan, telah jelas bahwa Francis Bonnefoy telah berkoordinasi dengan Alfred dalam menyusun hal ini.

"Artie~, masa' kau lupa janjiku beberapa hari lalu?"

Ya jelaslah aku nggak tahu, dasar Kodok!

"Ulang tahunnya Francis, Arthur." Gilbert menerangkan dengan seringai lebar di wajahnya, "Kasus yang kita usut ini menghalangi terus~, yah, walau telat tapi kita harus tetap merayakannya dengan gembira!"

"Terus kenapa?"

"Yaa, kan masih Juli! Kita harus merayakannya!"

Etherland memutar bola mata dengan malas dan melempar pandangan sesaat ke balik jendela di mana mobil hitam bergerak ke arah Govert Flincklaan di sebelah timur Gerard Doulaan. Bangunan-bangunan yang rapi itu berjajar manis dengan sinar matahari yang menembus sela dedaunan pepohonan musim panas...

"Lagian Alfred juga pastinya belum di kasih kado oleh si Konslet Arthur, kan? Dari kemarin dia konslet mulu."

Sialan.

"Nahahaha, dia memang konslet, Kak Gilbert~!"

Perempatan menyembul di pelipis saat mendengar penuturan Alfred. Etherland melemparkan pandangan sebal ke arah Alfred. Hh, ia berharap dua anak ini tidak mengucapkan hal yang macam-macam apalagi dengan tiga makhluk menjengkelkan ini.

"Keluarkan kami dari sini, Francis. Kalian tidak perlu repot-repot menghamburkan uang untuk kami—aku bisa mengajak mereka sendiri kalau mau." Etherland akhirnya bersuara setelah jeda keheningan.

Kenapa di saat hubungannya dengan dua anak itu tak baik, ia malah di seret ke dalam hal seperti ini?

"Duuuh, Arthur~! Jangan terburu-buru dong. Alfred bakal menangis jika tak mendapatkan hadiah di bulan spesialnya tahun ini." Antonio ikut dalam pembicaraan dengan wajah cerianya, dan entah kenapa hal itu membuatnya semakin menyebalkan di mata Etherland.

"Aku sudah memberinya kado ulang tahun, Antonio."

"BOHOOONG!" Alfred dan Matthew menyahut kompak, walau dalam hal ini suara nyaring Alfred F. Jones jelas lebih mendominasi. Keduanya menunjukan ekspresi sungguh-sungguh seperti layaknya anak-anak yang tengah meyakinkan seseorang bahwa cokelat buatannya aman untuk di konsumsi. "IGGY BELOM KASIH KADO!"

"Bloody Hell! Aku sudah kasih hadiah!" Etherland mengelak dengan kebohongan yang nyata, ia hanya ingin tak di seret dalam hal semacam ini, "Kalian bertiga jangan percaya apa kata—"

"Naah, benar, kan? Kamu jahat sekali loh, Arthur~! Anak-anak menunggu hadiah darimu, iya kan?"Antonio memotong dengan suara yang lembut, sembari mengelus kepala dua orang bocah yang menjawab dengan dengan anggukan pasti.

Kenapa kalian tidak memihakku saja? Etherland membatin dongkol. Ini pasti karena masalah rekseasi itu! Anak itu menuntut balas rupanya.

"Jadi kalian terlambat ke kantor hanya untuk menculik adik-adikku?"

"Bukan menculik, Arthur!" Gilbert menyangkal dengan tegas, "Kamu ketus banget sih. Kita ketemu mereka di luar apartemen!"

"Cih." Etherland menggerutu, sembari kembali memusatkan perhatian pada ruas jalan di Rozenoord.

"Hoi, kau marah, Sayang?"

Etherland diam saja, mengacuhkan pertanyaan Francis dan membiarkan seisi mobil dalam kesunyian perjalanan. ...Ia tidak tahu lagi harus berkata apa untuk mengungkapkan kekesalan teramat sangat ini.

"Hah..., tidak ada gunanya aku terus mengomel setelah jarak sejauh ini dari Amstelveen."

YES!

Kegaduhan kembali menyeruak. Etherland hanya bisa senyum hambar melihat betapa gembiranya penghuni mobil tersebut mendengar kata-katanya, seolah-olah apa yang ia ucapkan itu menandakan sesuatu yang spektakuler. Antonio menarik cengiran lebar dan Gilbert tampak melepas penyumpal telinga sembari menghela nafas lega, "Ya Tuhan, aku berpikir akan mengenakan benda tak awesome ini selama satu jam ke depan untuk menghadapi sumpah serapahmu seperti biasa!"

"Mon cheer~, kau cepat berubah mood ya!" Komentar Francis sembari menyetir, "Tidak biasanya kau tak bersumpah serapah, Sayang~"

"Masalah?" balas Etherland dengan ketus, "Ingat, bukan berarti aku menyukai rencana ini."

"Selalu tak jujur, Arthur."Antonio bergabung dengan pembicaraan lagi dan tanpa diduga mengulurkan sebuah handphone pada Etherland.

Raut Etherland langsung berubah, alisnya bertautan, "Apa maksudmu?"

"Ayolah, telpon dan pesankan tempat untuk di Madame Tussauds~"

"Kau sendiri saja." Etherland menjawab dengan singkat.

"Jangan pernah suruh si Tomat untuk menelpon, Alis!" Gilbert buru-buru menyela, menolehkan kepala dan menatap keempat orang di jok tengah, "Bicaranya nggak bakal pernah selesai!"

"Honhonhon, bukan begitu Gilbo~, Antonio hanya ingin mengungkapkan betapa manisnya Lovino pada semua orang di dunia~"

"Maka dari itu omongannya nggak pernah selesai!"

"Ka-kalian! Jangan—" Mendadak semburat merah melekat di pipi Antonio. Aksen Spanyol itu tiba-tiba saja menjadi terpatah-patah, iris emerald sang Hispanic menatap cemas ke arah dua orang anak kecil di tengahnya.

"Oh… homo?"

Dan sialnya, Alfred dengan polosnya lebih dulu menangkap maksud pembicaraan ngawur empat orang pria dewasa dalam mobil tersebut, "Hahahaha! Hero tidak keberatan, kok! Santai saja, Buddy~!"

"Ehem," Etherland menyela pembicaraan, "maaf jika aku menganggu pembicaraan ini, tapi aku tak akan membiarkan adik-adikku terlalu banyak tahu dan teracuni oleh otak mesum kalian bertiga."

Francis terlihat kecewa karena tidak lagi dapat membuka topik soal hal seperti itu—dengan adanya Arthur yang menjaga ketat sekarang, "Terlalu kaku,"gumamnya, "cobalah biarkan adik-adikmu mengetahui hal itu untuk bekal ke masa depan… iya kan, Al? Abang dengan senang hati mengajarkanmu…"

"Dan menceritakan mimpi basah kalian pada adik-adikku? T-I-D-A-K." Etherland membalas sengit, "Francis, mereka bukan remaja yang gemar nongkrong di depan situs porno. Mereka masih terlalu kecil—sangat. Basisonderwijs."

"Tidak aman menyerahkan dua anak baik-baik ini pada Francis, ." Antonio mengangguk dan tak menghiraukan raut kekalahan di wajah Francis.

"Sebenarnya aku tidak ingin mengatakan ini, Antonio. Tapi kata-katamu benar." Etherland berkomentar jujur dan pria Spanyol menarik senyum cerah.

"Ngomong-ngomong, aku sudah memesankan tiket. 2 orang dewasa 2 anak-anak, kan?"

"¿qué?" Antonio tampak bingung dan menatap sosok Arthur Kirkland yang mengembalikan handphone-nya."Arthur…Terus aku gimana?"

"Nggak usah ikut." Dengan santai Etherland menjawab, "Dan kau juga Francis, kalian jaga mobil saja. Aku tak ingin bersama dengan kalian dan menghadapi masalah yang kalian buat."

"CRUELLE! Mon Dieu, ini nggak seperti aku akan macam-macam pada Angelina Jolie, Arthur! Kan sudah ku bilang cuma Jeanne yang ada di hatiku."

Gilbert tak mempedulikan yang lain dan tertawa penuh kemenangan.

"Oh, kalau seperti itu kau tidak usah juga Gilbert."

Sedetik kemudian, Gilbert Beilschmidt langsung membisu, suara berisiknya mendadak lenyap di udara.

"…Bohong, kok." Akhirnya Etherland mengaku dengan cengiran jahil, "Semua punya tiket."

Seisi mobil kecuali dirinya menghela nafas lega dan terlihat tenang.

"Dan kalian sungguh boros dengan mengeluarkan 21 Euro hanya untuk menatap wajah seksi Doutzen Kroes di Catwalk. Padahal kalian bisa mendapatkan promosi dan pangkat hanya dengan bekerja keras, apalagi untuk mengusut kasus di kepolisian" Etherland berkomentar tajam mengenai pengeluaran 21 Euro per orang dewasa dan di tambah dengan 32 Euro untuk dua adiknya ini. Ia memang sensi jika membahas tentang keuangan.

"Soal itu nggak usah di pikirin, Sayang~"ujar Francis dengan kedipan mautnya, "Apalah artinya uang untuk berbagi kebahagiaan dan kasih sayang?"

"Terlalu puitis." Itu respon Etherland dengan malas. Tak lama, iris emerald-nya akhirnya bisa menjangkau sebuah bangunan dengan antrian panjang. Madame Tussauds memang ramai apalagi untuk musim panas seperti ini, keenam orang tersebut keluar dengan penuh semangat. Etherland bisa melihat betapa antusiasnya ketiga sahabat karib itu seolah-olah mereka akan bermain permainan paling menakjubkan sepanjang abad.

"AYO CEPAT ~! MADAME TUSSAUDS TUTUPNYA LEBIH CEPAT KALAU SEKARANG, LHO~!" Seruan Antonio yang tak tahu situasi memecah kedamaian musim panas di area parkir. Tawa melekat dalam rombongan kecil Etherland. Trio heboh berjalan lebih dulu dengan berapi-api, membuat Etherland harus berjalan lebih cepat agar tak tertinggal, dan Alfred sedari tadi di dekatnya mengoceh berbagai hal…

"Eh, Matthew mana?"

Pertanyaan Alfred mau tak mau menyadarkannya akan situasi, tak lama berselang ia pun ikut bingung ketika mendapati bocah mungil berambut pirang panjang tak berada di dekatnya. Kemana dia? Apa jangan-jangan…

"Mattiee~, kamu itu lucuu, walau lebih lucu Lovino sih..."

"Kesesesesese, Antonio, dia lebih manis menurutku~, kita harus cepat! Matthew, kamu suka Justin Timberlake atau Brad Pitt? Atau aku yang awesome ini?"

NOOOOO!

Etherland terperanjat mendapati bocah itu ada di tangan trio berbahaya itu, oh tidak…MIJN GOD! APA YANG DIA LAKUKAN?! DIA TELAH MENJUAL ADIKNYA KEPADA SETAN!

Dia memandang Alfred dalam kebisuan, tak tahu harus berkata seperti apa untuk merespon peristiwa di luar dugaan ini. Alfred sendiri mengangkat bahu enteng, menandakan bahwa itu bukan hal yang perlu di khawatirkan begitu dalam, walau Etherland bisa merasakan bahwa sosok sang kakak tetap mengkhawatirkan keselamatan adiknya di tangan tiga orang mesum itu.

"Ayo cepat, Eth."

Etherland mengangguk asal dan ia melemparkan pandangan pada sembarang tempat untuk sekedar di jadikan pengalih kebosanan. Sigh, apa yang dia harapkan dari acara rekreasi dengan Alfred… ? Hei, padahal hubungannya kan sedang…

DEG!

Jantungnya mencelos dan dunianya terhenti sejenak sebelum akhirnya kembali dengan lekuk senyum puas. Alfred berbalik menatapnya dengan bingung,

"Etherland?"

"Huh?" Etherland akhirnya merespon setelah beberapa saat, kemudian memberikan senyum tipis pada anak itu, "Tidak apa-apa."

(***)

Sepanjang jalan, ruang itu dijejali beberapa orang. Kilatan blitz semakin memperheboh suasana dan senyum merekah sepanjang kamera mengabadikan kebersamaan. Tentu saja, tak ketinggalan, rombongan kepolisian kocak yang bolos di hari Minggu ini ikut sibuk berfoto ria dengan jejeran patung realistik tokoh-tokoh populer.

Bisa dikatakan bahwa kumpulan Etherland ini terkesan… katrok, atau norak sekalian, heboh, dan penuh senda gurau sembari diselingi lelucon jorok dan menjurus ke arah yang tidak senonoh. Mereka menjadi pusat perhatian, termasuk Francis—lihat bagaimana dia berpose dengan meraba-raba lekuk tubuh aktris seksi Marilyn Monroe, ditambah dengan ekspresi mesum tingkat kuadrat berhawa tak nyaman. Oho! Jangan lupakan tawa spesialnya dengan penuh cinta, sesuatu yang membuat Etherland harus menutup mata kedua adik-adiknya.

"Ada apa, Art?" Gilbert menyadari raut berbeda Arthur Kirkland. "Kau yakin tidak ingin berfoto dengan pose gokil? Ayolah—sekali saja kau memiliki kenangan spektakuler dan awesome seperti ini. Kesesesse."

"Aku tidak segila dirimu yang berfoto sembari bertekuk lutut sok gentle di bawah Princess Diana."

"Antonio lebih parah dengan mencium kaki Queen Beatrix."

"Terserah." Etherland menanggapi malas sesi foto Antonio yang (terlalu) fantastis, "Kau pasti akan menguploadnya ke Twitter ya? Roderich akan marah sekali nanti."

"Hu-um, tidak akan, Alis. Aku terlalu awesome untuk dimarahi," Gilbert mengelak dengan santai, "Nih, tolong fotokan diriku yang awesome ini, oke?"

Dan dalam satu jepretan lagi. Gilbert Beilschmidt berpose lincah—seolah-olah replika Justin Bieber tidak ada artinya dibandingkan betapa keren dan awesome-nya dia.

"Bisakah kau berhenti menyebut dirimu awesome, Gilbert? Aku bosan mendengarnya."

"NEIIN! Tidak ada yang bosan mendengar kata-kata awesome ku!" Bantah Gilbert dengan berapi-api, "Kau pasti cuma iri saja dengan diriku! Memang orang ganteng nan awesome ini banyak yang ngiri."

Hah. Di luar hal ini, Etherland mencuri pandang ke sekeliling sesaat sembari tetap memantau arloji yang melingkar di pergelangannya.

Sebentar lagi

Kartini….

"Iggy! Ayo kita foto bareng!"

CKREK

Etherland tak terlalu menanggapi dirinya yang ditarik secara mengejutkan untuk berfoto bersama Alfred. Ia tak mau ambil pusing hanya untuk bersumpah serapah mengenai hal tidak penting. Pikiran itu kembali melayang dalam otaknya. Benar. Kartini. Ya Tuhan…Sampai kapan ia harus bersandiwara seperti ini? Ia ingin menemui Kartini—bukannya menghabiskan waktu seperti ini. Ia…

GUITS!

"Yo, Arthur~, kau ini mau kemana sih?! Jangan kepisah, dong!" Gilbert merangkulnya dengan cengiran lebar. "Ngomong-ngomong dari tadi liatin siapa sih di belakang? Gue yang awesome kan di sampingmu, kesesese~"

Terlalu pede, batin Etherland dengan facepalm. Memangnya siapa yang berpikir bahwa kamu itu awesome?

"Eh, Alis. Masuk ke bagian Pirates yok!"

Sampai kapan ia harus menanggapi ocehan orang-orang ini?

"Hoiii, Alis? Aliiis?"

"Berisik, ah." Etherland menjawab ketus dengan cemberut, mood yang sedang dibangunnya mendadak runtuh dengan obrolan tak tentu arah Gilbert. "Aku Arthur, bukan Alis. Lagian kalau mau masuk, masuk aja sendiri. Nggak usah ngajak-ngajak aku."

"Cih, tapi nggak seru kalau tidak ramai! Nyesel, lho! Kan sayang tuh buang uang tapi tidak bersama dengan diriku yang awe—"

"Stop deh, Gil. Ajakin aja noh si Francis atau Antonio. Yang penting Alfred dan Matthew nggak boleh masuk ke sana."

"Dedek lo ntar aja urusannya. Liat, mereka lagi asik sama dua orang itu. Ayo deh, sayang kalau semuanya nggak maen."

Anehnya Etherland hanya bungkam. Hah.., semoga ia akan baik-baik saja beberapa waktu ke depan bersama Gilbert. Oh, ditambah lagi; ia harus bertahan dengan suara-suara dan aktraksi bagian Pirates yang memekakan telinga, pasti.

"Ecieee~, Gilbo nih yaa, licik nih! Mau cari kesempatan berduaan sama Arthur!" Francis berkomentar dengan suara nyaring, di sertai sorakan menggoda darinya. Etherland tak tahu apakah ia sekarang memerah karena malu atau marah.

"GILBO~! Jahat nih, berpaling dari Eli~, kamu udah bosan ngejar cewek ya? Bisa jadi trending topic nih!"

AARRRGGGGHHH!

"Tentu saja nggak!" Gilbert mengelak dari tuduhan kawannya, "Kalau gitu temenin aku yang awesome ini ke bagian Pirates, napa! Jangan sibuk sendiri!"

"Sebenarnya aku mau sih, Gil. Tapi anak ini terlalu imut untuk di tinggalkan, fusosososo~" balas Antonio jujur sembari mencubit gemas pipi Alfred, "Kamu sama Arthur juga nggak papa, kita nggak bakal ganggu~ iya kan, Francis?"

Tak henti-hentinya Etherland mengutuk dan bersumpah serapah dalam hati. Rasanya ia ingin meledak saat ini juga untuk menghilangkan rasa malu yang bergelut dalam hati. Kemana raut stoiknya? Mana kontrol diri yang ia bangga-banggakan selama ini? Ah, lupakan soal itu, lidahnya kelu dan mati rasa. Siapa yang tidak malu dituding dengan hal begitu di depan umum, dengan sorakan nyaring seolah-olah ia dan Gilbert sungguh-sungguh—

"Ahahahaha," Cekikikan terdengar dari segala arah. Orang-orang tersenyum maklum, tak ingin mengganggu… pasangan homo dadakan pagi ini. Uhuk, seseorang ada yang mau tolong Etherland? Dia sudah terlalu panas sekarang.

"Biasa aja lagi, Alis!" Gilbert menegur dengan wajah enteng seolah tak terjadi apa-apa, "Mereka emang nggak awesome. Ayo deh buruan, entar kita kelamaan."

….

"Kau puas menghancurkan pamorku?" Etherland merengut, "Kita di anggap pasangan homo dan kau malah santai saja seolah tak terjadi apapun."

"Heh, kau masih kepikiran ya?" Gilbert menjawab enteng dan menarik lengan Arthur untuk mengikutinya berjalan, "Nggak usah dipikirin yang begituan, kita nggak bakal mati juga gara-gara itu."

Sayangnya aku ini menjunjung tinggi harga diri, Beilschmidt, kata Etherland, menangis dalam hati.

Suara hingar bingar bergelora dan para pemain mengaktraksikan pertunjukan mereka di panggung yang penuh kelap kelip cahaya, membentuk siluet para penonton di tengah keremangan ruangan.

Sigh, apa yang ia pikirkan sih?! Ia harus pergi dan keluar dari sini! Ia harus mengejar Kartini—! Waktu terus berjalan.

Etherland menutup mata. Ia harus memikirkan cara untuk menyingkirkan orang-orang pengganggu ini dan berbicara pada Kartini…, dan mungkin juga dirinya di masa lalu, mengenai apa yang akan terjadi di masa depan. Why, Why, Why, rentetan kalimat bergemuruh. Ia menggigit bawah bibirnya, pertunjukan di depan amat tidak ada artinya dan terasa menjemukan.

Tapi akankah Kartini percaya? Etherland terdiam dan meraba sakunya, mendapati sebuah pisau lipat kecil yang tajam. Jantungnya mencelos memikirkan konsekuensi terburuk dari permainan waktu ini.

Teriakan wanita melengking membuat pikiran Etherland berjengit, teringat akan hal itu. Peluh menetes dingin dari pelipisnya. Iris emerald-nya membeliak seakan-akan seonggok tubuh itu hadir lagi di hadapannya. Darah menetes di lantai apartemen, sosok Rizal yang tergeletak—Dan juga...

"Hei, kau kenapa?" Gilbert menyadari adanya aura aneh di dekat Arthur, lantas memastikan bahwa kawannya baik-baik saja.

Apakah ini maksudnya kenapa ia terpindah ke masa lalu dalam tubuh orang lain—membuatnya dalam posisi sulit karena waktu dan takdir yang ia lawan…

Kekuasaan Tuhan yang ia coba bantah…

Memintanya untuk membuktikan seberapa besar pengorbanannya untuk hal yang menjadi obsesi?

Seberapa jauh dirinya mampu membuktikan omongannya untuk mengembalikan Kartini untuk tetap hidup?

"Arthur!"

Etherland tersentak dan ia terfokus kembali pada Gilbert. Pikirannya bubar secara serentak dan detak jantungnya masih lambat dan berat. "Geez, kau ini kenapa sih? Kau sakit, ya? Atau kau malah sakit gara-gara insiden yang sumpah tak awesome itu?"

Etherland tidak menjawab dan menghela nafas panjang, tidak—hentikan kegalauan ini. Kau harus berpikir matang dan bertindak dengan tenang, Etherland.

"Alis, kau sedang dalam masalah?"

"Aku baik-baik saja. Urus saja urusanmu sendiri."

Ia tidak ingin lagi mengorbankan darah—ia harus memikirkan cara untuk menyelesaikan semua ini tanpa darah.

"Art—"

"Aku baik-baik saja—"

GUITS!

"Bohong!"

DEG

"Arthur….Aku yang awesome ini tahu kau sedang menyembunyikan sesuatu!"

Ia tidak bisa mengikutsertakan kawan-kawan Arthur Kirkland ini…

"…."

"Jangan-jangan kau frustasi karena insiden tak awesome itu ya?" Gilbert menebak dengan antusias, "Haaah, Arthur, Arthur…"

Dia bisa merasakan tangan itu mengacak-acak rambutnya, mendadak saja Etherland melemparkan tatapan jengkel sekaligus menunjukan perempatan yang sudah bermunculan—berkontradiksi dengan semburat merah yang masih melekat otomatis di pipinya.

"Nggak peduli apapun pandangan dunia tentang kita, kamu tetap sahabat dan bosku."

"Gil, jangan sok puitis. Lagian siapa yang ingat tentang insiden itu?"

"Nah! Makanya kau harus ceritakan kenapa kau makin tidak awesome hari ini, Arthur! Kan sudah kubilang kita ini teman!"

Ia tidak bisa membocorkan semuanya segampang ini….

"Nih." Gilbert menepuk bahunya, dengan pandangan serius, "Jika kau tidak bisa bilang apa masalahmu, menangis saja di bahuku—asal jangan ingusan saja. Itu tidak awesome. Kesesesesesesese."

Suasana dramatis lansung buyar, Etherland tak mampu menahan lagi untuk tidak mengejar Gilbert yang kini meninggalkan bangku penonton. Ia bersumpah akan menjotos pria itu jika tertangkap, "SIAPA YANG MAU NANGIS DASAR SOK AWESOME! SAMPAI KAPANPUN AKU NGGAK MAU NANGIS!"

"Nggak usah ngelak gitu dong, Alis. Aku tahu kamu mau nangis."

"Bloody Hell! Berhenti, akan kutangkap kau!" Seruan Etherland tenggelam dalam riuhnya acara. Ia bisa melihat seringai lebar Beilschmidt yang sedang membentangkan tangan seakan menanti pelukan darinya.

"Coba tangkap dan pukullah aku yang awesome ini, heh." Pria itu berkata menantang dengan berani, membuat Etherland makin gemas saja untuk segera menggetok pria seenaknya itu—

"Dan tetaplah menjadi Arthur yang ku kenal!"

"….?"

"Hahaha! Pasti nggak tahu kan, maksud ku yang awesome ini?"

BUGH

"Jangan sembarangan ngomong," Etherland berkomentar singkat dan menjotos dada pemuda itu, "dasar menyebalkan."

Gilbert malah nyengir dikatai seperti itu, "Tidak usah berbelit-belit. Apapun masalah tak awesome mu, jangan biarkan itu merusak hidupmu. Ayolah, masalah bukan untuk ditangisi."

Waa

Waa

Waa

Kegaduhan bergemuruh bahkan ketika pertunjukan usai dan para pemain berbalik mundur ke belakang panggung. Dua tokoh yang kita kenal saat ini tengah melangkah di antara kerumunan massa. Etherland tampak tak fokus dan melayang entah kemana. Ini bukan berarti dirinya terhanyut dalam kata-kata maut Gilbert Beilschmidt atau menandakan munculnya sebuah pasangan baru.

Sekian lama hidup dalam lingkup ruang glamor penuh saingan bisnis dan kerja sama profesional nan formal, ia dipertemukan dengan sekeping persahabatan murni nan solid, persahabatan yang sungguh—dan sudah terkubur lama sekali. Etherland bahkan tak pernah menyimpan nomor teman sekolahnya dulu, ataupun kawan satu flat di Chicago, tempat ia kuliah setelah mendapat beasiswa hasil kerja kerasnya memeras otak.

Matanya menatap nanar sosok atletis Gilbert Beilschmidt.

Kau orang yang beruntung, Arthur.

.Ketika mereka ada di sampingmu dalam kegelapan, kau akan mengerti bagaimana penting dan berharganya seorang sahabat….

"Yo, Arthur~! Gilbo~!"

BETS

Ia bisa melihat 4 orang sudah menunggunya di sana, salah satunya melambaikan tangan secara mencolok, memanggil-manggilnya, dan keduanya saling pandang sebelum akhirnya menghampiri.

"Kesesese, kalian harus tahu hal ini!"Gilbert berkata dengan nada girang, "Si Alis mau nangis tadi di dalam!"

"Hee?"

"Jangan sembarangan ngomong!"Sanggah Etherland dengan sebal menyikut kawannya itu, mendelik kesal atas tuduhan tak benar itu.

"Mon cheer~~Gilbo, kau apakan dia memangnya, hm? Apa kau melakukan..."

"Stop."Etherland menengahi, "Francis, bisakah..."

"Hohohoho, ayolah, jujur, kau pasti melakukan sesuatu kaan?"Francis tampak tak mendengarkan dan sibuk dengan trionya. Perempatan menyembul di pelipis Etherland. Gilbert hanya tersenyum kecut kemudian berusaha mengalihkan topik yang di usut, "Kesesesesese, aku pasti akan mengambil potretnya kalau saja bagian pirates boleh bawa kamera~"

"Gilboo~~kau mengalihkan pembicaraan~~"

"Tapi seperti bukan Arthur saja, ya?"Ujar Antonio dengan jujur dan tidak nyambungnya sembari melempar pandangan polos pada Etherland, "Atau jangan-jangan benar, ya, ada yang tidak beres?"

"Oh jangan lagi!"Etherland memutar bola mata bosan mendengarnya, "Aku tidak konslet, Antonio."

"Dan ngomong-ngomong~~"Francis menengahi, seringai mesumnya terlihat dan berusaha "Antonio, kau sadar tidak kalau tadi mereka bergandengan keluar? Honhonhonhon~~"

"Apa?"

"Tuh kaaan? Bener firasatku, honhonhonhon, Art..."

"Cukup."Etherland merasa gerah, "Aku keluar saja."

"Eh?"

Dan Etherland pun pergi dengan langkah sebal, oh ayolah, ia tidak ingin mendengar ocehan absurd tak berdasar seperti itu lebih lama. Kepalanya panas. Mereka membuang-buang waktu saja, lebih baik ia memikirkan sesuatu untuk menolong Kartini. Atau mencarinya di luar sana, itu lebih baik. Lagian, ia tidak senang jadi bahan gosip ada hubungan dengan si Gilbert. Mijn God...Mereka kekanakan.

"Heeii!"

Suara Antonio terdengar jelas di belakangnya, pemuda Spanyol itu serta merta mencengkram lengan rekannya yang main kabur seenaknya itu, dengan kasar Etherland melepaskan diri, "Untuk apa kau mengikutiku?!"

"Kau marah?"

"Menurutmu aku terlihat apa memangnya?!"

"Tidak tahu."Jawab Antonio dengan lugunya, membuat Etherland teringat dengan Bella. "Kau tidak terlihat seperti marah, Arthur."

"Aku marah."

"Masa'?"

"Ya, Tuan Carriedo."Kali ini Etherland menyahut dengan penuh penekanan, "Dan biarkan aku sendiri. Kau membuatku semakin gerah."

"He? Kau membuatku bingung. Jadi kau ini sebenarnya gerah atau marah sih?"

YA TUHAAAN!

Etherland tampak kehabisan nafas menghadapi pemuda itu. Entah bagaimana caranya dia bisa menyingkirkan makhluk clueless ini, dia tak tahu situasi ya?! Menyebalkan.

"Tapi sungguh deh, kau bahkan tidak terlihat marah sama sekali bagiku, ."Kata Antonio dengan ceria memandang Etherland dengan intens, "Kau terlihat seperti...hmmm..."

"Apa?"

"...Menghindar, mungkin?"Terka Antonio dengan ekspresi sungguh-sungguh.

SIIIINGG

"Lupakan saja."Jawab Etherland dengan dingin dan berbalik, "Aku hanya ingin mencari udara segar dari kalian yang sungguh menyebalkan."

"Kami menyebalkan?"

"Memangnya ada yang lain lagi?"

"Kau marah karena aku dan Francis mencurigai hubunganmu dengan Gilbo?"

"..."

"ARTHUR!"

"AP..."

BRUAGH

Etherland menabrak seseorang.

"ARTHUR!" Panggil Antonio sekali lagi, ia tadi ingin mengingatkan pemuda itu bahwa ada orang di depannya. Dia tidak liat-liat sih, Gilbert dan yang lain menyusulnya dari belakang. Mereka menghampiri pemuda beralis tebal yang meringis kesakitan, tampaknya benturannya keras sekali. Buru-buru mereka berusaha membangkitkan kawan mereka tersebut, dunia Etherland terasa berputar. Berpasang mata memandangi mereka.

Ketika Etherland mendongak dan mendapati orang yang di tabraknya, pupilnya mengecil. Jantungnya berdetak keras kala menyadari siapa yang ia tabrak,

"KARTINII!"

"Eh?"

Tiga sekawan itu berkata serempak dengan ekspresi bingung. Gadis berambut hitam itu tampak terkejut mendapati pemuda yang tak di kenalnya mengetahui namanya, keduanya berpandangan sesaat.

Gilbert dan yang lain tak bisa menyembunyikan keterkejutannya, rasa bingung dan ingin tahu menyelimuti mereka. Sesaat ia melemparkan pandangan pada gadis itu, rekan-rekannya mengerumbungi Arthur yang tampak terkesiap dan berbeda tersebut. Menutupi pandangan Arthur dari gadis itu.

Rasa curiga pun muncul.

"Siapa itu Kartini?"


Disc 3.0 Part 1 : Tulip Juga Bisa Speechless


Refrensi dan Trivia :

Madame Tussauds : Itu museum lilin yang realistik, menampilkan tokoh-tokoh populer mulai dari artis sampai tokoh dunia, Doutzen itu model~Princess Diana dan Queen Beatrix saya kurang tahu siapa mereka tapi pasti tokoh terkenal, saya rada lupa =w=[Sumber : Situsnya ada]

Politievrijwilliger : Ini adalah semacam polisi sukarelawan yang banyak ada di masyarakat, untuk membantu merekaa~

Jadi gini, ya, Yao itu kepala agen, biasanya dia tukang ngasih job+informasi buat detektif. Nah, Arthur yang dapet job itu akhirnya memutuskan untuk merekrut anggota-anggota macam Lukas etc. Untuk memudahkan mengusut tugasnya. Setau daku sistem di Belanda bisa begini. Cuma memperjelas aja, siapa tau Anda bingung#dilempar Tapi dia atas mereka semua ada Roderich yang kuasanya lebih besar, penanggung jawab juga...*DOR

P & O : Ini bagian personalia, daku lupa nama Belandanya, data dalam leppie daku ilang. Mereka menangani masalah personal dalam kepolisian, seperti kalau ada polisi bermasalah, anggaran gaji, perekrutan, pemecetan dsb.


Play : Ab to Forever - Ta Ra Rum [India Song]

+Reich Private Corner+

.

Yo, mungkin nggak ya BTT di kasih tau soal Kartini itu? Mungkin nggak? Hehehe, jumpa lagi dengan saya selaku author dari fict sederhana ini. Oh, Saya harap Anda tidak keberatan dengan lagu Indianya#dilempar lagi asik denger lagu-lagunya*DOR

Sebelumnya maafkan Author yang telat update ini, tepat ya sebelum liburan berakhir*nyengir*Banyak yang terjadi ya dalam proses fict ini~~saya harap kualitasnya lebih oke dan bisa memuaskan Anda#dogeza
. Mohon kritik, saran dan komentar Anda~~

Terima kasih buat semua pihak yang udah partisipasi di sini, baik yang ngasih review, baca, terutama buat Kak Chii selaku Beta-reader yang bela-belain ngedit dan ngasih saya masukan#peyuk

Sekali lagi, mohon saran dan kritik Anda. Maaf kalau kurang memuaskan bagi Anda =w=
btw, selamat tahun baru!*telat

ReichAkira