Instant Princess

Pair and Cast:

Kim Namjoon (Rap Monster) x Kim Seokjin (Jin)

Kim Taehyung (V)

Jeon Jungkook (Jungkook)

Park Jimin (Jimin)

Min Yoongi (Suga)

Jung Hoseok (J-Hope) x Lee Jihoon (Woozi)

Rated: T

Length: Chaptered

Summary:

Seokjin yakin dia adalah orang yang 'cukup' baik, dia rajin bekerja, membantu orang tuanya, dan tidak keberatan memiliki adik cerewet dan suka gossip seperti Jungkook. Tapi kenapa Tuhan memberikannya cobaan yang amat sangat berat seperti menjadi istri dari Kim Namjoon, sang Putera Mahkota Korea Selatan? / NamJin, slight! Other couple, GS, AU.

Warning:

Fiction, AU, GS! for Seokjin, Jungkook, Yoongi, and Jihoon. Inspired by Princess Hours.

.

.

.

Enjoy!

.

.

.

Chapter 2

Keesokkan harinya, Seokjin mau tidak mau harus kembali ke universitasnya. Untungnya dia hanya memiliki jadwal satu kelas untuk hari ini dan kelasnya diadakan siang hari. Seokjin berjalan dengan langkah lesu, dia berjalan sendirian karena Jungkook sibuk dengan kelasnya sendiri.

Seokjin dan Jungkook memang hanya memiliki perbedaan umur yang sedikit, 2 tahun. Makanya mereka berdua bisa sangat akrab satu dengan yang lainnya walaupun kepribadian mereka sangat berbeda.

Jungkook memiliki wajah yang manis dan imut, berbeda dengan Seokjin yang memiliki wajah yang terlalu cantik hingga terkesan dia memiliki wajah yang angkuh. Jungkook memiliki kepribadian layaknya gadis remaja pada umumnya, dia adalah fans berat kelinci dan penggila patbingsu.

Sementara Seokjin cenderung cuek, dia tidak terlalu peduli pada penampilannya tapi dia memiliki fashion sense yang cukup bagus. Dan Seokjin adalah penyuka segala jenis makanan (hal ini yang membuat Jungkook iri karena sebanyak apapun Seokjin makan, tubuhnya tetap tidak bertambah gemuk). Hanya satu hal yang mampu membuat Seokjin menjerit-jerit layaknya fangirl, hal itu adalah.. Mario Bros.

Seokjin berbelok di koridor, sebelah tangannya digunakan untuk mengusap matanya yang agak berkantung karena kurang tidur. Nanti malam dia tidak akan tinggal di rumahnya lagi, dia akan pindah ke istana dan dia yakin setelah dia menjadi Puteri Mahkota, dia akan semakin jarang pulang ke rumah.

"Hei, Kim Seokjin!"

Seokjin mengangkat kepalanya dan dia melihat seorang gadis bertubuh mungil dengan kulit putih pucat tengah menatapnya dengan pandangan garang. Seokjin mengerutkan dahinya karena dia tidak mengenal gadis itu.

Gadis itu berjalan cepat ke arahnya, "Kau! Kau sudah merebut Namjoonku!"

Seokjin mengerjap, "Maaf?"

Gadis itu mengulurkan tangannya dan kelihatannya dia hendak menarik rambut Seokjin, tapi tangan seorang pemuda menahannya.

"Nona Yoongi.." tegurnya.

Yoongi meronta keras, "Lepaskan aku, Jimin! Aku akan menghajar gadis iniii!"

Seokjin refleks melompat mundur saat Yoongi hendak menerjang ke arahnya seperti kucing liar. Wajah Seokjin terlihat luar biasa bingung.

Pemuda bernama Jimin itu terus menahan tubuh Yoongi yang masih meronta heboh, sementara Seokjin hanya terpaku di posisinya karena dia benar-benar tidak tahu harus berbuat apa.

"Ada apa ini?"

Suara berat seseorang yang berasal dari belakangnya membuat Seokjin berbalik dan dia langsung berhadapan dengan Putera Mahkota mereka yang terlihat menampilkan wajah bosan.

"Namjoon! Apa-apaan ini?! Kenapa tiba-tiba kau mau menikah dengan gadis seperti dia!" jerit Yoongi kesal.

Seokjin menatap Namjoon dan Yoongi bergantian. Dia benar-benar merasa salah tempat sekarang.

Jimin memeluk leher Yoongi dari belakang, "Nona Min, tenanglah. Anda masih kelelahan karena jet lag."

Mendengar ucapan penuh nada lembut dari Jimin berhasil membuat Yoongi tenang. Dia menyandarkan tubuhnya ke Jimin, "Aaah, aku pusing."

Seokjin semakin bingung sekarang. Sumpah demi dunia dan seluruh isinya, dia tidak kenal orang-orang yang saat ini mengelilinginya.

"Hei, apa kau baik-baik saja?"

Seokjin menoleh ke arah asal suara dan dia melihat seorang pemuda tengah bertanya padanya, "Aku.. baik. Kurasa."

Pemuda itu tersenyum, "Maafkan Yoongi, dia adalah fans nomor satu Namjoon. Makanya dia histeris seperti itu."

"Aaah.."

"Kuharap kau tidak sedang flirting dengan calon istriku, Jung Hoseok?"

Pemuda yang tadi berbicara pada Seokjin menoleh ke belakang, "Aku hanya menenangkan calon istrimu, Yang Mulia." Hoseok terkekeh pelan, "Oya, kenalkan, aku Jung Hoseok."

"Kim Seokjin.." ujar Seokjin pelan.

Seokjin menoleh ke arah Namjoon dengan ragu, "Yang Mulia.." sapanya pelan.

"Hn.." balas Namjoon sekenanya.

Seokjin menahan dirinya untuk tidak mencakar Namjoon karena dia bersumpah itu adalah pertama kalinya Seokjin bersikap ramah dengan menyapa orang lain!

Setelah menceburkannya dalam dunia kerajaan secara instan, si Putera Mahkota ini juga tidak bersikap baik padanya. Apa Seokjin boleh membunuhnya sekarang?

Namjoon menatap Yoongi, "Yoongi-ah, seperti yang kau lihat di berita. Aku akan menikah."

"Kenapa dengan dia?!" protes Yoongi.

Namjoon merangkul bahu Seokjin, "Karena aku ingin."

Seokjin dan Yoongi membulatkan mata karena shock. Sementara Hoseok terkekeh pelan dan Jimin tetap diam.

"Apa?! Karena ingin?! Kim Namjoon! Kau seharusnya memilih aku!"

"Yoongi, aku tidak bisa melakukan itu."

"Dan kenapa kau tidak bisa?!"

"Karena.." Namjoon melirik Jimin dan Jimin menggeleng pelan, "Karena aku tidak bisa."

Sebenarnya bukan itu yang ingin dikatakan Namjoon, Namjoon ingin sekali mengatakan pada Yoongi kalau Jimin begitu mencintainya. Tapi karena Jimin tidak setuju, maka Namjoon memutuskan untuk diam.

Yoongi menggeram kesal, dia menarik lengan Jimin. "Ayo, kita pergi dari sini, Jim! Aku mau beli banyak cokelat."

"Nona Yoongi.." tegur Jimin.

Yoongi berdecak, "Oke! Tidak akan terlalu banyak. Kau yang pilihkan cokelatnya."

"Baiklah, Nona.."

Setelah Jimin dan Yoongi berlalu, tanpa sadar Seokjin menghela nafas lega.

"Itu Yoongi dan.. asistennya, Jimin." Namjoon menjelaskan pada Seokjin dengan nada santai.

"Kupikir gadis tadi akan membunuhku." Seokjin berujar pelan seraya mengelus dadanya.

Namjoon tertawa, "Kurasa Yoongi memang berniat melakukan itu. Ayo, Hoseok."

Seokjin menatap Namjoon dengan tatapan shock, dia menoleh ke arah koridor tempat Yoongi pergi dan punggung Namjoon yang melangkah menjauh.

Seokjin menatap punggung Namjoon kemudian mendengus kesal, "Itu semua kan gara-gara kau! Dasar Putera Mahkota menyebalkan! Kalau aku mati, aku bersumpah akan menggentayangimu seumur hidupmu! Sialaaaan!"

Seokjin mengacak rambutnya dan menghentakkan kakinya meninggalkan tempat itu. Sungguh, dia tidak yakin dia mampu menjadi istri dari orang yang sangat menyebalkan seperti Namjoon.

.

.

.

.

.

.

.

Seokjin menatap pantulan dirinya di cermin. Dia sedang bersiap-siap untuk pergi memenuhi undangan istana untuk makan malam bersama. Ibunya memintanya memakai sebuah dress selutut berwarna peach dan ibunya juga menyisir rambutnya dan mendandaninya.

Seokjin benar-benar merasa dia akan dibuang ke istana. Dia tidak membawa pakaian sama sekali karena kemarin utusan di istananya mengatakan kalau istana sudah menyediakan pakaian dan seluruh perlengkapan untuk Seokjin, mereka juga sudah menyediakan tempat tinggal untuk Seokjin selama berada di istana.

Seokjin memang tidak akan tinggal di istana utama tempat Raja, Ratu dan Putera Mahkota berada. Seokjin belum menjadi bagian dari keluarga kerajaan, makanya dia tidak diizinkan tinggal di istana utama.

Ibunya tersenyum lembut seraya menatap pantulan wajah Seokjin, "Selesai. Kau terlihat sangat cantik, sayang."

Seokjin tersenyum kecil, "Terima kasih, Ibu."

"Kau baik-baik saja?"

"Ya, aku baik. Aku hanya akan menikah dengan Putera Mahkota, kan?"

"Seokjin.."

"Aku tidak apa-apa, Ibu. Mungkin memang sudah takdirku untuk menikah dengan seorang Putera Mahkota."

Ibunya mengangguk pelan, "Ibu akan sering mengunjungimu dan membawakan banyak makanan kesukaanmu."

Seokjin tertawa kecil, "Ibu.. jangan membuatku gendut."

"Kau tidak pernah gendut, Seokjin. Kau tahu itu."

Seokjin dan ibunya tertawa dan tawa mereka terhenti saat ada seseorang yang membuka pintu kamar Seokjin.

"Hmm? Apa kalian sudah siap? Ayah sudah menunggu." Jungkook berujar pelan seraya menyelipkan kepalanya di antara pintu kamar Seokjin yang hanya dia buka sedikit.

"Ya, kami sudah siap. Ayo, Seokjin."

.

.

.

.

.

.

.

Istana utama tempat mereka diundang merupakan sebuah bangunan yang amat sangat besar. Seokjin mendongak menatap bangunan itu dan mendesah pelan, dia tidak menyangka dia akan menjadi bagian dari orang-orang yang tinggal di tempat semewah istana ini.

Seorang dayang mengantar mereka ke ruang makan istana dan saat keluarga Seokjin melangkah masuk, mereka melihat ruangan itu sudah terisi oleh sang Raja, Ratu, dan juga seorang wanita yang sudah tua yang mereka kenali sebagai Ibu Suri.

Seokjin dan anggota keluarganya membungkuk sopan. Kemudian mereka berempat menempati alas duduk yang masih kosong. Dalam hati Seokjin merutuki pakaiannya yang mengenakan dress dengan panjang selutut. Sulit sekali harus duduk bersimpuh dengan pakaian semacam ini.

Ibu Suri menatap Seokjin dengan berbinar, "Apakah kau adalah Kim Seokjin?"

Seokjin mengangkat kepalanya, "Ya, Yang Mulia."

"Astaga, kau begitu cantik. Tidak heran cucuku tertarik padamu."

Seokjin tersenyum kecil, "Terima kasih, Yang Mulia."

Ibu Suri tersenyum lebar kemudian menatap sang Ratu, "Dimana Namjoon?"

"Dia akan segera ke sini, Yang Mulia."

Tepat setelah Ratu mengatakan itu, pintu geser ruang makan terbuka dan Namjoon melangkah masuk. Seokjin meliriknya dan mau tidak mau dia harus mengakui kalau Namjoon terlihat begitu tampan. Dia mengenakan setelan resmi yang berwarna hitam, dengan hiasan dasi berwarna biru gelap.

"Aah, itu dia. Cucuku.." ujar Ibu Suri senang.

"Tadi aku bertemu Taehyung di luar, makanya aku mengajaknya. Tidak apa, kan?" ujar Namjoon seraya menggeser tubuhnya dan di belakangnya munculah seorang pemuda dengan rambut coklat.

"Hai, Nenek!" sapa pemuda itu ceria.

"Taehyungie! Astaga, kau belum mengunjungi Nenek sejak kedatanganmu kemarin!"

Pemuda bernama Taehyung itu berjalan ke arah Ibu Suri dan memberinya pelukan ringan, dia juga menyapa Raja dan Ratu dengan senyum lebarnya. Taehyung membawa pandangannya ke sekeliling ruangan dan dia tersenyum lebar saat melihat Jungkook.

Jungkook yang menyadari tatapan Taehyung hanya bisa menunduk dengan wajah merona. Sejak perkenalan singkatnya dengan Pangeran Taehyung, Taehyung menyatakan kalau dia adalah teman Jungkook. Dan Jungkook tidak bisa berbuat banyak selain menuruti ucapan Taehyung untuk menjadi temannya.

"Nah, karena semuanya sudah berkumpul. Ayo kita mulai saja makan malam ini. Putera Mahkota, duduklah di sebelah calon istrimu."

Namjoon menuruti ucapan ayahnya dan duduk di sebelah Seokjin. Seokjin meliriknya dengan pandangan kesal, dia masih emosi karena ditinggalkan begitu saja setelah serangan dari Yoongi tadi siang.

Namjoon yang menyadari lirikan Seokjin menoleh untuk menatapnya dan tersenyum kecil. Seokjin mencibir pelan dan kembali menatap ke depan, mengacuhkan Namjoon.

Setelah acara makan malam dan penentuan tanggal pernikahan, Seokjin mengantar orangtuanya keluar dari istana bersama Namjoon.

Tadinya Seokjin ingin mengantar mereka sendiri, tapi Namjoon memutuskan untuk ikut. Dan Seokjin menahan dirinya untuk tidak memutar bola matanya, sepanjang makan malam tadi, Namjoon sangat menarik perhatian kedua orangtuanya. Namjoon benar-benar terlihat seperti calon menantu idaman.

Seokjin memberikan pelukan ringan pada adiknya, "Jaga Mario untukku." bisik Seokjin.

Jungkook memutar bola matanya, "Eonnie, sudah kubilang sebaiknya kau bawa Mario-mu."

Namjoon menaikkan sebelah alisnya, 'Mario?'

"Aku sengaja meninggalkan Mario agar aku memiliki alasan untuk sering pulang."

Jungkook menghela nafas pelan, "Ya, ya. Terserahmu saja. Aku akan menjada Mario kesayanganmu itu."

Seokjin tersenyum lebar, "Terima kasih, Kookie.."

Kemudian setelah itu Seokjin memberikan pelukan untuk kedua orang tuanya dan keluarganya pun pergi dari istana. Seokjin menghela nafas pelan saat mobil orangtuanya sudah menghilang dari pandangannya.

"Ayo, dayangmu akan mengantar ke tempat tinggalmu sebelum menjadi istriku."

Seokjin mendelik ke arah Namjoon, "Tidak bisakah kau berhenti menggunakan kata 'istri' padaku? Kau membuatku kesal."

"Kenapa? Kau memang akan menjadi istriku."

Seokjin mendesis, "Tapi aku tidak mau menjadi istrimu!"

Namjoon terperangah, tapi kemudian dia menyeringai. "Hoo, benarkah?"

Seokjin mengangguk mantap.

Namjoon melangkah mendekati Seokjin, dia memutar tubuh Seokjin sehingga dia terhempas ke dinding istana sementara Namjoon mengurungnya dengan kedua lengannya.

"Kau yakin kau tidak mau menjadi istriku? Seluruh wanita single di Korea Selatan menginginkanku untuk menjadi miliknya."

Seokjin mendongak menatap Namjoon, "Aku yakin, Yang Mulia."

Seringaian Namjoon menjadi bertambah lebar, "Kau tahu, kalau kau menjadi istriku, kau akan mendapatkan ini setiap harinya."

"Mendapatkan ap.."

Seokjin gagal menyelesaikan kalimatnya karena Namjoon membungkam bibirnya dengan bibir Namjoon sendiri. Seokjin membulatkan matanya.

Astaga, dia menciumnya.

Kim Namjoon menciumnya!

Seorang Putera Mahkota menciumnya!

Duh, apa Seokjin boleh membunuh orang ini sekarang?

Seokjin sudah hendak berontak dan mendorong Namjoon, tapi gagal karena Namjoon langsung melepas ciuman mereka saat ada kilatan cahaya seperti blitz menerpa mereka. Seokjin menatap ke samping dan dia mendengar ada suara ribut-ribut dari balik tembok pagar istana disusul dengan beberapa penjaga yang berlari keluar gerbang.

"Yang Mulia, sebaiknya anda segera masuk."

Namjoon menoleh ke arah penjaga yang baru saja menghampirinya, "Hn, baiklah." Namjoon menjauhkan tubuhnya dari Seokjin dan menarik tangan Seokjin. "Ayo."

"Apa itu tadi?" tanya Seokjin.

"Wartawan, mereka memang sering menyelinap ke wilayah istana. Tapi kau tenang saja, penjaga akan mengusir wartawan itu."

"Apa, apa dia baru saja memotret kita?"

"Ya, mungkin besok foto ciuman kita akan menjadi headline di semua surat kabar dan majalah."

Seokjin merasa rahangnya jatuh mendengar ucapan Namjoon yang terdengar begitu santai. "Apa kau tidak panik?"

"Untuk apa? Aku sudah biasa mendapatkan sorotan wartawan." Namjoon menoleh ke arah Seokjin, "Lagipula, bukankah foto itu akan menimbulkan sensasi yang sangat besar? Publik pasti ingin kita segera menikah."

Seokjin menggeram rendah dan mengangkat sebelah kakinya yang terbalut wedges untuk menginjak kaki Namjoon keras-keras.

"Argh! Sakit!" ujar Namjoon seraya mengangkat kakinya yang baru saja menjadi korban penganiayaan oleh Seokjin.

"Kau! Mati saja kau! Dasar Putera Mahkota mesum!" Seokjin menjerit kesal seraya berjalan pergi dengan menghentakkan kakinya.

"Hei, calon Puteri Mahkota! Kau mau ke mana?" teriak Namjoon.

"Pulang!"

"Kalau kau berjalan ke arah sana kau akan tiba di ruang makan tadi, Princess. Jalan menuju ke istana tempat kau tinggal ada di sebelah kanan."

Seokjin menghentikan langkahnya dan menggigit bibirnya karena malu. Sial, dia baru ingat kalau dia tidak hafal wilayah istana. Seokjin berbalik dan menatap Namjoon dengan garang, walaupun pipinya sudah diselimuti rona kemerahan karena malu.

"Kemana arahnya?"

Namjoon tersenyum lebar, "Makanya jangan meninggalkan aku, Princess. Dayangmu menunggu di arah sana." ujar Namjoon seraya menunjuk ke arah kanan.

Seokjin menoleh ke arah yang ditunjuk Namjoon dan langsung berjalan ke sana tanpa mengucapkan terima kasih.

Namjoon terkekeh pelan, dia mencoba melangkah dan langsung meringis kesakitan. "Aah sial, injakannya lumayan juga."

Sementara itu Seokjin melangkah dengan langkah yang menghentak karena emosi. "Sialsialsial, dasar Putera Mahkota brengsek mesum sialan! Dia mencuri ciuman pertamaku! Aaarrggghhh!"

To Be Continued

.

.

.

Hi!

Sorry for this late update. I'm super busy with my real life.

Untuk yang menanyakan, pasangannya J-Hope itu Woozi Seventeen.

Kenapa aku pilih dia? Karena dia mirip Suga dan cocok untuk peran sebagai adik Suga. Hahaha XD

Kuharap kalian tidak kecewa dengan crack-pair terbaru ini. Hehe

Btw, your reviews is my moodbooster! Review dari kalian lucu-lucu sekali. Aku jadi tertawa sendiri saat membaca review kalian. ^^

Karena itu, tolong tinggalkan review kalian lagi ya!

.

.

.

Thanks